Chapter Twenty

Nama Papa di Layar

POV: Fajar

Dua dari sepuluh.

Aku memikirkannya selama tiga minggu.

Di lab, saat mengamplas biji-biji tua. Di Si Siput, saat terjebak macet di Dramaga. Di tikar, di lantai, sebelum tidur, walaupun aku sudah tidak lagi tidur di tikar sejak pintu kamarnya mulai dibiarkan terbuka. Kebiasaan lama. Kadang aku tetap berbaring di sana beberapa menit sebelum pindah ke ruang kerja, mendengarkan napasnya yang teratur.

Enam tahun lalu, dia memberi lelucon padiku nilai satu.

Enam tahun, setiap pagi, aku menunggu angka itu dari radio. Tiga. Dua. Empat, sekali, di hari Lebaran, ketika dia sedang baik hati. Nol, ketika aku lupa menulis lelucon. Itu satu-satunya percakapan yang pernah kami punya, dan aku menyimpan setiap angkanya.

Lalu angka-angka itu berhenti. Di bulan Juni, angka-angka itu berhenti bersama semua hal lain.

Dan tiga minggu lalu, di meja makan, tanpa radio, tanpa SMS, tanpa nama samaran, dia memberiku dua.

Aku tidak berani bertanya apakah dia sadar apa yang baru dia lakukan. Aku takut kalau aku bertanya, dia akan sadar, dan berhenti.


Paper terakhir Prof diterima di jurnal internasional pada awal Desember.

Ia menulisnya bersama aku dan dua kolega dari Belanda, setahun lalu, tentang dormansi benih bunga matahari dan cara-cara membangunkannya. Prof mengirimkannya dua minggu sebelum ia masuk ICU. Ia tidak sempat membaca surat penerimaannya.

Fakultas menggelar seminar in memoriam untuk Prof di aula utama. Dekan memintaku menyampaikan hasil penelitian itu, karena aku satu-satunya penulis yang tersisa di Bogor.

Aku tidak pandai bicara di depan orang. Aku pandai bicara pada tanaman, kata Mak. Tapi aku tidak bisa menolak. Bukan untuk Prof.

Pagi hari seminar, aku memberanikan diri mengetuk pintu kamarnya yang terbuka.

“Ra. Nanti siang ada seminar untuk Papa. Di kampus. Kalau kamu mau datang.”

Dia memandangku dari meja kecil di bawah jendela. Ia sedang memegang sebuah buku bersampul biru, yang langsung ia tutup dan masukkan ke laci ketika melihatku.

“Kamu yang presentasi?”

“Iya.”

Dia diam sebentar. “Aku datang.”


Sebelum ke kampus, dia minta mampir ke makam Papa.

Itu pertama kalinya dia ke sana sejak hari pemakaman. Aku tahu, karena setiap kali aku ke sana, rumput di depan nisan hanya diinjak satu pasang kaki: kakiku, dan penjaga makam yang kubayar.

Kami berjalan di jalan setapak yang becek. Dia di depan, aku di belakang, payung di tangan. Lalu dia berhenti.

Di antara dua nisan, nisan Prof dan nisan Bu Laras, sebatang bunga matahari kecil berdiri tegak. Batangnya kurus, tingginya baru sepinggang, tapi di puncaknya, satu kepala bunga kuning sudah mekar penuh, menghadap ke timur.

Dia memandangi bunga itu lama sekali.

Aku melihat bahunya naik turun. Aku melihat tangannya terangkat, menyentuh kelopak bunga itu dengan ujung jari, sangat pelan, seperti menyentuh pipi seseorang yang sedang tidur.

Lalu dia berbalik dan memandangku.

Lama. Sangat lama. Matanya basah, dan di dalamnya ada pertanyaan yang tidak ia ucapkan, dan jawaban yang sepertinya sudah ia temukan sendiri.

Aku tidak tahu harus berbuat apa dengan pandangan itu. Jadi aku hanya berdiri di sana, memegang payung, dan membiarkan dia memandangiku, untuk pertama kalinya, seperti seseorang yang benar-benar ada.


Aula utama penuh. Dosen-dosen senior, mahasiswa dari tiga angkatan, petani-petani binaan dari Cibungbulang yang datang dengan pikap seperti di hari pemakaman, dan dua profesor dari Wageningen yang ikut lewat layar daring.

Dodi menjadi moderator. Itu kesalahan pertama.

“Selamat siang, Bapak-Ibu sekalian,” katanya ke mikrofon, terlalu dekat, sehingga suaranya mendengung di seluruh aula. “Hari ini kita berkumpul untuk mengenang Prof. Dr. Hartono Adiwijaya, guru kita, panutan kita, yang telah… yang telah…” Ia melirik catatannya. Catatannya terbalik. Ia membaliknya. “Yang telah berpulang ke Rahmatullah pada tanggal lima belas Juli—“

“Juni,” bisikku dari kursi di sampingnya.

“Juni! Juni. Maaf. Juli itu bulan saya revisi.”

Seseorang di barisan belakang tertawa. Aku menoleh. Kiki, di barisan paling belakang, memakai kaus PAGI RIANG, membawa papan karton bertuliskan SEMANGAT DODI (WALAUPUN GAGAL TERUS).

Dodi melihat papan itu dan kehilangan konsentrasi sepenuhnya. Ia memperkenalkanku sebagai “Fajar Nugraha, S.P., M.Si.”, padahal aku belum lulus S2, lalu mengoreksinya menjadi “calon M.Si.”, lalu menjadi “calon M.Si. yang lebih cepat lulus dari saya”, dan aula itu tertawa lagi.

Prof pasti tertawa juga, pikirku. Prof selalu suka Dodi.

Aku berdiri dan berjalan ke podium.

Di layar besar di belakangku, slide pertama muncul. Judul penelitian, dalam bahasa Inggris. Dan di bawahnya, nama-nama penulis.

Nama pertama: Hartono Adiwijaya.

Aku tidak menyangka melihat nama itu di layar akan seperti ini. Aku sudah membuat slide ini sendiri, mengetik nama itu sendiri, memeriksanya sepuluh kali. Tapi melihatnya di sana, sebesar itu, di depan ratusan orang, sementara orangnya sudah enam bulan di bawah tanah, membuat tenggorokanku menyempit.

Aku menarik napas dan mulai bicara.

Aku menjelaskan tentang benih yang tidur. Tentang dormansi, mekanisme yang membuat benih menolak tumbuh walaupun kondisi di sekitarnya sudah baik. Tentang kulit biji yang terlalu keras. Tentang hormon yang tidak seimbang. Tentang biji-biji bunga matahari dari halaman Rumah Matahari, yang dikumpulkan Prof selama tiga puluh tahun, dan yang sebagian besarnya, setelah lima bulan kucoba dengan segala cara, belum juga mau berkecambah.

“Banyak orang mengira benih dorman adalah benih mati,” kataku. Aula itu sunyi. “Karena tidak tumbuh. Karena tidak bergerak. Karena diberi air, diberi cahaya, diberi waktu, tetap tidak ada apa-apa.”

Aku memandang ke arah aula yang gelap. Aku tidak bisa melihat wajah-wajah di sana, hanya bayangan-bayangan. Tapi aku tahu dia duduk di barisan ketiga, kursi paling ujung, dekat pintu, supaya bisa keluar kalau tidak sanggup.

“Prof Hartono tidak pernah percaya itu. Beliau selalu bilang: benih dorman bukan benih mati. Ia hanya menunggu. Menunggu kondisi yang tepat. Menunggu waktu yang tepat. Menunggu seseorang yang cukup sabar untuk tidak menyerah padanya.”

Aku menatap barisan ketiga.

“Penelitian ini belum selesai. Biji-biji itu belum tumbuh. Tapi saya akan terus mencobanya. Karena Prof yakin mereka bisa. Dan saya percaya pada Prof.”

Di barisan ketiga, di kursi paling ujung, aku melihat sebuah bayangan menunduk, dan bahunya bergetar.

Tepuk tangan setelahnya panjang. Di layar besar, dua profesor dari Wageningen ikut bertepuk tangan dari ruangan mereka yang jauh dan dingin. Salah satunya, Profesor de Vries, calon promotor yang suratnya kubalas dengan satu kalimat di bulan Juni, memandangku lewat kamera dengan wajah yang tidak bisa kubaca. Aku tahu kenapa ia memandang begitu. Aku menunduk dan tidak membalas tatapannya.


Di meja konsumsi, setelah seminar, ada piring-piring kecil berisi kuaci.

Kuaci itu dari dua belas bunga di bawah jendelanya.

Kami memanennya bersama dua minggu sebelumnya. Dia memegang tampah, aku memotong kepala-kepala bunga yang sudah kering dan merunduk. Kami mengeringkannya di halaman selama seminggu, lalu menyangrainya di wajan besar dengan garam, sambil Mak memberi instruksi lewat video call yang berlangsung empat puluh menit.

“Seuneuna leutik! Leutik, Jar!” Apinya kecil!

“Sudah kecil, Mak.”

“Leuwih leutik! ULAH GOSONG!”

Dia memegang ponsel, kameranya mengarah ke wajan. Setiap kali Mak berteriak, tangannya bergetar karena menahan sesuatu yang hampir menjadi tawa. Aku tidak pernah melihat tangannya bergetar karena itu sebelumnya. Aku mengaduk kuaci lebih lambat dari yang perlu, supaya sore itu tidak cepat selesai.

Di tengah-tengahnya, dia mencicipi satu dan bilang, “Keasinan.” Lalu mencicipi satu lagi. Lalu satu lagi.

Para dosen memakannya tanpa tahu dari mana asalnya. Seorang profesor tua mengambil segenggam dan bilang, “Enak ini. Beli di mana?”

“Tanam sendiri, Prof,” kataku.

Tante Ratna juga datang, duduk di barisan kedua dengan kebaya hitam dan wajah yang tidak bisa dibaca. Setelah seminar, ia melewatiku di meja konsumsi, mengambil segenggam kuaci, mengunyahnya dengan kening berkerut, lalu berkata tanpa memandangku:

“Lumayan.”

Lalu ia pergi. Aku memandangi punggungnya. Dalam bahasa Tante Ratna, kurasa itu pujian tertinggi yang pernah ia berikan pada siapa pun.

Dia berdiri di sampingku dengan piring kuaci di tangan. Aku merasakannya memandangku dari samping.


Kami keluar dari aula menjelang magrib. Hujan sudah turun, deras, seperti biasa di jam-jam ini.

Di tas punggungku ada dua payung: payung hitam besarku, dan payung kuning kecilnya. Aku selalu membawa keduanya. Aku membuka payung kuning dan menyodorkannya padanya, lalu membuka payungku sendiri.

Dia memandangi payung kuning di tanganku. Lalu memandangi payungku.

Lalu dia melakukan sesuatu yang tidak kusangka.

Dia menutup payung kuning itu, mengembalikannya ke tanganku, dan melangkah masuk ke bawah payung hitamku.

Aku membeku.

Payung itu tidak terlalu besar. Bahunya hampir menyentuh lenganku. Aku bisa mencium wangi teh hijau dari rambutnya. Sampo botol hijau.

“Mas Fajar,” katanya.

Aku tidak bisa bergerak.

Enam tahun. Enam tahun dia memanggilku Farid. Enam bulan dia memanggilku kamu. Dan sekarang, di bawah payung hitam, di tengah hujan Bogor, dengan suara yang pelan dan sedikit serak:

Mas Fajar.

Dua kata. Namaku. Yang selama ini kukira tidak akan pernah ia ucapkan dengan benar.

“Iya,” jawabku. Suaraku keluar aneh. Aku harus berdeham.

Dia diam sebentar, memandang hujan.

“Makasih,” katanya. “Untuk seminarnya. Untuk Papa.”

Aku tidak bisa menjawab. Aku hanya memiringkan payung itu sedikit ke arahnya, supaya bahunya tidak basah, dan membiarkan bahuku sendiri kena hujan sepanjang jalan ke parkiran.

Jalan dari aula ke parkiran hanya dua ratus meter. Aku berjalan sepelan mungkin. Aku tidak tahu apakah dia sadar. Hujan menetes dari ujung-ujung payung di sisiku, membasahi lengan kemejaku, merembes ke punggung. Aku tidak merasakannya. Yang kurasakan hanya bahu kecil di sampingku, yang sesekali, ketika kami melangkah di genangan, menyentuh lenganku, lalu menjauh, lalu menyentuh lagi.

Kami berjalan ke Si Siput berdua di bawah satu payung, sementara payung kuning tertutup di tanganku yang lain. Di belakang kami, aku mendengar Kiki menjerit tertahan dan Dodi bilang, “Sst! Sst! Jangan rusak momennya!”

Di dalam Si Siput, dia mengeluarkan bungkusan kecil dari tasnya. Kuaci, sisa dari meja konsumsi, yang ternyata diam-diam ia ambil segenggam. Ia mengupasnya satu-satu sepanjang jalan pulang, tiga puluh kilometer per jam, dan sesekali, tanpa bicara, meletakkan isinya di telapak tanganku yang terbuka di atas tuas persneling.

“Keasinan,” katanya, setelah butir kelima.

“Aku yang nyangrai,” kataku.

“Makanya,” katanya. Dan aku bersumpah, dalam gelap, aku mendengar sesuatu di suaranya yang hampir seperti senyum.


Malam itu, ponselku bergetar ketika aku sedang mengeringkan payung di teras.

Koh Ahong.

Aku mengangkatnya dengan tangan yang tiba-tiba dingin.

“Mas Fajar.” Suara Koh Ahong terdengar berbeda dari biasanya. Lebih pelan. Lebih hati-hati. “Teman saya di Singapura baru kirim hasilnya. Sebagian besar datanya hancur. Foto, chat, hampir semuanya hilang.”

Aku memejamkan mata.

“Tapi ada satu,” lanjutnya. “Satu file. Rekaman suara. Durasinya nggak sampai satu menit. Direkam tanggal tiga belas Juni, jam empat lewat lima puluh dua sore. Belum pernah terkirim.”

Pukul empat lewat lima puluh dua. Sembilan menit setelah telepon terakhirnya. Dua puluh menit sebelum truk itu.

“Mas mau dengar dulu?”

Aku memandang ke dalam rumah. Lampu kamarnya masih menyala. Pintunya terbuka.

“Tidak, Koh,” kataku. “Itu bukan untuk saya.”