Chapter Twenty Nine
Pasar Malam di Alun-Alun
POV: Rania
Cianjur ternyata lebih hijau dari yang kubayangkan.
Si Siput merayap di jalan berliku melewati Puncak, tiga puluh kilometer per jam, diklakson bus-bus pariwisata dan truk sayur. Aku tidak peduli. Aku membuka jendela dan membiarkan udara dingin masuk, membawa bau teh dan tanah basah dan sesuatu yang manis seperti bunga yang tidak kukenal namanya.
Rumah Mak di ujung kampung, rumah panggung kayu dengan halaman penuh kangkung, cabai, dan ayam-ayam yang berkeliaran bebas. Begitu Si Siput berhenti di depan pagar bambu, aku melihat kerumunan.
Bukan Mak. Tetangga.
Lima belas, mungkin dua puluh orang. Ibu-ibu dengan kerudung yang disampirkan asal-asalan. Bapak-bapak bersarung. Anak-anak kecil yang memanjat pagar. Semuanya berdiri di halaman Mak, memandangi Si Siput dengan antusiasme orang yang menunggu artis turun dari mobil.
“Mas,” kataku pelan. “Itu siapa?”
Ia memandangi kerumunan itu dengan wajah pasrah. “Tetangga Mak.”
“Kenapa banyak banget?”
“Mak cerita ke Bi Iyah. Bi Iyah cerita ke semua orang.”
Begitu aku turun dari mobil, kerumunan itu bergerak maju seperti ombak.
“Ieu?! Ieu pamajikan si Fajar?!” Ini istri Fajar?!
“Nu tukang siaran téa?! Nu sok aya dina radio?!” Yang penyiar itu?! Yang suka ada di radio?!
“Geulis pisan, euy! Leuwih geulis ti dina sora!” Cantik banget! Lebih cantik dari suaranya!
“Kumaha bisa si Fajar meunang nu kieu?!” Gimana bisa Fajar dapat yang begini?!
Yang terakhir itu ditanyakan oleh seorang nenek bergigi tiga, dengan nada keheranan yang sangat tulus. Ia, di sampingku, menunduk dan menggaruk tengkuknya.
Lalu Mak menyeruak dari tengah kerumunan, mendorong tetangga-tetangganya ke kiri dan kanan dengan siku, dan memelukku. Pelukannya kuat dan bau kayu bakar dan minyak kelapa.
“Neng Geulis,” bisiknya di bahuku. “Akhirnya datang ka Mak.”
Haji Dadang datang setengah jam kemudian, membawa seekor kambing.
Kambing sungguhan. Putih, berjanggut, dengan tali di lehernya. Haji Dadang menyerahkan talinya padaku dengan khidmat.
“Hadiah selamat datang, Neng. Ti urang.” Dari saya.
Aku memandangi kambing itu. Kambing itu memandangiku. Ia mengunyah sesuatu dengan santai, lalu mengembik.
“Ji,” kata Mak dengan nada berbahaya. “Embé deui? Geus dibéjaan, urang ogé boga embé!” Kambing lagi? Sudah dibilang, kami juga punya kambing!
“Ieu lain keur Euis! Ieu keur Neng!” Ini bukan buat Euis! Ini buat Neng!
Mereka bertengkar selama sepuluh menit. Kambing itu akhirnya diikat di pohon jambu di halaman Mak, dan Haji Dadang pulang dengan wajah orang yang kalah lagi.
Aku tertawa. Di sampingku, ia tidak tertawa, tapi aku melihat sudut matanya berkerut.
Malam itu, setelah makan nasi liwet dengan ikan asin dan sambal oncom, makanan yang kuminta Mak buatkan tanpa ia tahu kenapa aku memintanya, dan yang membuatnya berhenti di ambang pintu dapur dengan wajah seperti orang yang baru dipanggil namanya oleh seseorang yang sudah lama ia tunggu, Mak duduk di sampingku di balai-balai bambu.
Ia sedang di dalam, membantu tetangga mengangkat panci. Mak memandang ke pintu, memastikan anaknya tidak dengar, lalu merendahkan suara.
“Neng geus apal, nya? Soal sawah?” Neng sudah tahu, ya? Soal sawah?
Aku mengangguk.
Mak menghela napas panjang. Ia mengambil sesuatu dari balik balai-balai: sebuah caping tua, bolong di pinggir, warnanya sudah cokelat gelap karena usia. Ia meletakkannya di pangkuanku.
“Ieu capingna Bapak.” Ini caping Bapak.
Aku memegangnya. Ringan. Rapuh. Di dalamnya, di anyaman bambu yang paling dalam, masih ada bekas keringat yang menghitam.
“Bapakna téh hayang pisan si Fajar nyieun kebon bibit di sawah éta,” kata Mak. Bapaknya pengin banget Fajar bikin kebun bibit di sawah itu. “Waktu Fajar enam belas, Bapak gambar denahnya di tanah. Di sini pembibitan. Di sini rumah kaca kecil. Di sini saung buat Mak.” Mak tersenyum, tapi matanya basah. “Setahun kemudian Bapak meninggal. Fajar teh dari dulu nabung. Nabung buat rumah kaca kecil itu. Mak tahu. Mak lihat kaleng biskuitnya.”
Mak memandangku. Lama.
“Anak Mak mah teu pernah menta, Neng. Ti leutik. Sakalina hayang hiji hal, sakalina boga impian…” Suara Mak pecah. “…dijual keur Neng.”
Anak Mak nggak pernah meminta. Dari kecil. Sekalinya ingin satu hal, sekalinya punya mimpi… dijual untuk Neng.
Aku menekan caping itu ke dadaku.
Dari dalam rumah, aku mendengar suaranya. Rendah, tenang, menolak dengan sopan ketika seorang tetangga menawarinya rokok. Lalu tawa tetangga itu. Lalu bunyi panci diletakkan.
Ia tidak tahu kami sedang membicarakannya. Ia tidak pernah tahu.
Sore berikutnya, ia mengantarku ke sawah.
Jalannya pematang sempit di antara petak-petak hijau. Aku berjalan di depan, ia di belakang, kadang-kadang menahan sikuku ketika pematangnya licin. Langit di barat mulai berubah warna, oranye, lalu merah muda, lalu ungu, dan Gunung Gede di kejauhan berdiri gelap seperti bayangan raksasa yang sedang tidur.
Lalu ia berhenti.
“Di sini,” katanya.
Sawah itu tidak kelihatan berbeda dari sawah-sawah lain di sekitarnya. Padi setinggi pinggang, hijau tua, bergoyang pelan ditiup angin dari gunung. Hijau daun padi. Bukan umur tiga minggu; lebih tua dari itu. Di ujung petak ada gubuk kecil dengan atap yang sudah diperbaiki, gentengnya baru.
“Haji Dadang yang benerin,” katanya, mengikuti arah mataku. “Atapnya. Dia jaga baik.”
Aku mengeluarkan sesuatu dari tas kecilku. Foto lama dengan ujung yang melengkung. Anak kecil berlumpur dengan dua gigi ompong, mengangkat bibit padi seperti piala, dan laki-laki bercaping yang tertawa di belakangnya.
Jar & Bapak, tandur, 2004.
Aku mengangkat foto itu, menyejajarkannya dengan pemandangan di depanku. Gubuk yang sama. Gunung yang sama di latar belakang. Petak yang sama.
Ia melihat apa yang kulakukan. Ia tidak bilang apa-apa. Ia hanya berdiri di sampingku, di pematang, memandangi sawah yang dulu miliknya.
Lalu ia bicara. Pelan. Bukan padaku.
“Bapak. Ieu Rania. Pamajikan abdi.”
Bapak. Ini Rania. Istri saya.
Angin bertiup. Padi-padi merunduk, semuanya ke arah yang sama.
“Hapunten kebonna teu acan aya,” lanjutnya. Maaf kebunnya belum ada. “Tapi Bapak tingali. Anjeunna tos seuri deui.” Tapi Bapak lihat. Dia sudah tertawa lagi.
Aku tidak bisa menahannya lagi.
Ia tidak menangis. Ia berdiri tegak di pematang itu, tenang, berpamitan dengan sawah bapaknya seperti orang yang berpamitan dengan teman lama yang pindah ke kota lain. Akulah yang menangis. Akulah yang berlutut di pematang, memeluk foto lama itu di dada, menangis untuk seorang laki-laki yang tidak pernah kukenal dan anaknya yang memberikan segalanya tanpa pernah meminta apa-apa.
Ia berjongkok di sampingku. Tidak menyentuhku. Hanya ada di sana.
“Ra,” katanya setelah lama. “Ada satu yang belum kubilang.”
Aku mengangkat wajah.
“Dua belas bunga matahari di bawah jendelamu.” Ia memandangi tanah di depan kakinya. “Waktu aku jual sawah ini, bulan Juli, aku ambil segenggam tanah dari petak paling ujung. Tempat Bapak selalu nyemai bibit pertama.” Ia diam sebentar. “Kucampur ke tanah di bawah jendelamu.”
Tanahnya bagus di sini.
Aku memandangnya. Aku tidak tahu harus berkata apa. Tidak ada kata yang cukup.
Jadi aku tidak berkata apa-apa.
Malamnya ada pasar malam di alun-alun.
Lampu-lampu warna-warni berkelip di atas tenda-tenda. Bau jagung bakar dan arumanis dan minyak goreng. Musik dangdut dari pengeras suara yang terlalu keras. Anak-anak berlarian dengan balon. Bianglala tua berputar pelan di tengah alun-alun, lampu-lampunya berkedip seperti bintang yang turun terlalu rendah.
Ia mencoba permainan lempar gelang di salah satu tenda. Ia gagal tujuh kali. Di percobaan kedelapan, gelangnya masuk ke leher botol paling ujung, yang hadiahnya paling jelek: sebuah boneka beruang berwarna ungu dengan satu mata yang jahitannya lepas dan senyum yang miring.
Penjaga tenda menyerahkannya dengan wajah iba. Ia menyerahkannya padaku dengan wajah bangga.
“Jelek banget,” kataku.
“Iya.”
“Matanya satu.”
“Iya.”
Aku memeluk boneka itu erat-erat dan tidak melepaskannya sepanjang malam. Seorang anak kecil di dekat tenda arumanis menunjuk boneka itu dan bilang ke ibunya bahwa bonekanya serem. Ibunya menyuruhnya diam. Aku memeluk boneka itu lebih erat lagi.
Kami berhenti di dekat bianglala. Lampu-lampunya menyala dan berkedip, merah, kuning, hijau, biru, memantul di wajahnya. Ia sedang memandang ke atas, ke kursi-kursi bianglala yang berputar pelan, dan di bawah cahaya itu, wajahnya yang biasa, wajah yang tidak akan diingat siapa pun kalau berpapasan di pasar, tiba-tiba terlihat sangat tidak biasa.
Laki-laki yang menimbang garam dengan timbangan lab. Yang meminyaki engsel pintu sebelum aku datang. Yang tidur di tikar tiga puluh malam. Yang menjual sawah bapaknya dan mencampurkan segenggam tanahnya ke bawah jendelaku.
Aku tidak memikirkannya. Kalau aku memikirkannya, aku tidak akan melakukannya.
Aku berjinjit, menarik kerah kemeja kotak-kotaknya, dan menciumnya.
Bibirnya hangat, dan kaget, dan tidak bergerak. Satu detik. Dua detik. Lalu, pelan sekali, seperti orang yang takut sesuatu akan pecah, bibirnya bergerak membalas.
Di atas kami, bianglala berputar. Lampu-lampu berkedip. Musik dangdut berganti lagu.
Lalu aku tersadar.
Aku menarik diri. Cepat. Terlalu cepat. Aku mundur selangkah, dua langkah, boneka ungu bermata satu terjepit di dadaku, dan aku memandangnya dengan napas yang tidak teratur.
Ia berdiri membeku. Bibirnya sedikit terbuka. Matanya lebar, memandangku seperti orang yang baru saja melihat sesuatu yang mustahil.
“Lupakan,” kataku. Suaraku gemetar. “Tolong. Lupakan.”
Aku tahu kenapa aku mengatakannya. Aku tahu persis.
Mama. Aku mencintai Mama, dan Mama pergi ketika aku dua belas tahun.
Gilang. Aku mencintai Gilang, dan Gilang pergi dua hari sebelum pernikahan kami, di jalan tol yang licin.
Papa. Aku mencintai Papa, dan Papa pergi sehari kemudian, di pagi yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidupku.
Tiga kali. Setiap orang yang kucintai, pergi. Aku sudah bersumpah di pagi hari ketiga puluh: tidak akan ada yang keempat. Mencintai adalah cara paling pasti untuk kehilangan.
Kalau aku mencintainya, aku akan kehilangannya.
Dan aku tidak sanggup. Aku tidak sanggup kehilangan laki-laki ini. Bukan dia. Bukan yang ini.
Jadi aku bilang lupakan, karena kalau ia melupakannya, mungkin aku juga bisa. Mungkin aku bisa kembali ke tempat yang aman, tempat di mana aku tidak mencintai siapa-siapa, dan tidak ada yang bisa diambil dariku.
Ia memandangku lama. Lalu ia mengangguk. Sekali. Pelan.
“Iya,” katanya.
Hanya itu. Ia tidak bertanya kenapa. Ia tidak pernah bertanya kenapa. Dan malam itu, untuk pertama kalinya, aku membenci bagian dirinya yang itu. Aku ingin ia bertanya. Aku ingin ia menolak. Aku ingin ia bilang tidak, aku tidak mau lupa. Tapi ia hanya bilang iya, seperti selalu.
Kami pulang ke Bogor malam itu juga. Mak memeluk kami di pagar bambu, memandangi wajah kami berdua bergantian dengan curiga, tapi tidak bertanya apa-apa.
Si Siput merayap di jalan berliku melewati Puncak dalam gelap. Tiga puluh kilometer per jam. Lampu-lampu kota di kejauhan berkelip di bawah kabut.
Kami tidak bicara. Tidak satu kata pun. Boneka ungu bermata satu duduk di pangkuanku. Di sampingku, kedua tangannya di kemudi, sepuluh dan dua, persis seperti di buku panduan mengemudi, dan matanya lurus memandang jalan.
Itu jalan paling panjang yang pernah kutempuh dalam hidupku. Lebih panjang dari jalan ke makam Gilang. Lebih panjang dari tiga puluh hari di balik pintu.
- 1 Request dari Pak Tani
- 2 Jumat yang Tidak Selesai
- 3 Permintaan dari Ranjang Nomor Empat
- 4 Akad di Ruang ICU
- 5 Rumah dengan Halaman Penuh Bibit
- 6 Tiga Ketukan
- 7 Frekuensi 98,7
- 8 Mak Datang Membawa Labu Siam
- 9 Sawah Bapak
- 10 Hari Ketiga Puluh
- 11 Istri yang Baik, Versi Robot
- 12 Empat Puluh Hari dan Satu Surat Bank
- 13 Yang Dibayar Diam-Diam
- 14 Yang Mekar di Bawah Jendela
- 15 Mikrofon yang Tidak Mau Kupegang
- 16 Seratus Hari
- 17 Nama yang Bukan Namaku
- 18 Tangan Siapa
- 19 Tiga Puluh Kilometer per Jam
- 20 Nama Papa di Layar
- 21 Sup yang Rasanya Seperti Mama
- 22 Pesan Suara yang Tidak Terkirim
- 23 Tawa yang Kembali
- 24 Pak Tani
- 25 Ketukan dari Arah Sebaliknya
- 26 Tanggal di Balik Cincin
- 27 Surat dari Wageningen
- 28 Siapa yang Membayar Rumah Matahari
- 29 Pasar Malam di Alun-Alun reading
- 30 Lupakan
- 31 Semua yang Kucintai
- 32 Janji Ketiga
- 33 Bunga Matahari di Rumah Papa
- 34 Surat yang Ditulis Tujuh Kali
- 35 Jurnal Kebun
- 36 Api di Rumah Kaca
- 37 Ranjang Nomor Empat
- 38 Untuk Pak Tani
- 39 Satu Request Lagi
- 40 Kamar Kita
- 41 Epilog — Pagi Riang dari Negeri Jauh