Chapter Forty

Kamar Kita

POV: Rania

Lima belas Juni, setahun Papa pergi, aku tidak ke makam.

Aku tidak bisa meninggalkan ranjang nomor empat. Jadi Tante yang pergi. Pukul tujuh pagi, ponselku bergetar. Video call dari Tante, dan di layar, bukan wajah Tante, tapi dua nisan berdampingan di bawah pohon kamboja. Hartono Adiwijaya. Larasati. Di antara keduanya, sebatang bunga matahari kecil yang ditanam setahun lalu oleh seseorang yang tidak pernah bilang apa-apa, sekarang tingginya hampir sedada, kepala bunganya kuning dan besar.

Tante meletakkan seikat bunga matahari dari halaman Rumah Matahari di depan nisan Papa. Lalu ia membalik kamera ke wajahnya sendiri. Matanya bengkak.

“Mas,” kata Tante ke nisan, tidak ke kamera. “Anak Mas sudah bahagia. Menantu Mas lari ke dalam api. Saya sudah minta maaf ke dia. Kuenya dia habiskan.” Tante diam sebentar. “Mas memilih orang yang benar.”

Aku memegang ponsel itu ke arah ranjang, supaya ia bisa melihat. Ia memandangi layar, memandangi bunga matahari di antara dua nisan itu, dan matanya basah lagi.

Ia menangis dengan mudah sekarang. Setahun ia menahannya; sekarang bendungannya jebol, dan ia tidak lagi mencoba memperbaikinya.

Aku tidak keberatan. Aku tidak akan pernah keberatan.


Tiga minggu setelah kebakaran adalah tiga minggu terpanjang dan terpendek dalam hidupku.

Mereka melakukan cangkok kulit dua kali. Mengambil kulit dari pahanya untuk menutup luka di punggung dan lengan. Ia tidak mengeluh. Ia tidak pernah mengeluh. Setiap kali perawat datang mengganti perban dan aku melihat wajahnya memucat dan rahangnya mengeras, ia hanya bilang nggak apa-apa dan tersenyum padaku seperti aku yang sedang kesakitan.

Lalu suatu pagi, perawat mengajariku cara mengganti perbannya sendiri. Untuk persiapan pulang, katanya. Aku belajar dengan teliti, mencatat semuanya di buku biru yang baru, di halaman yang bukan Daftar. Salep. Kassa. Arah membalut. Jangan terlalu kencang.

Pertama kali aku melakukannya sendiri, tanganku gemetar. Punggungnya di depanku, kulit yang merah dan berkerut dan mengilap, dari bahu kanan sampai pinggang. Bekas luka yang tidak akan pernah hilang. Peta dari malam itu, terpahat di tubuhnya selamanya.

Aku membalutnya pelan-pelan. Sangat pelan. Seperti ia dulu memasangkan cincin di jariku, seolah jariku terbuat dari kaca.

“Sakit?” tanyaku.

“Nggak.”

“Bohong.”

“…Sedikit.”

Aku menempelkan dahiku di bahu kirinya, yang tidak terluka, dan diam di sana sebentar. Ia tidak bergerak. Ia membiarkanku.


Pada minggu kedua, ia membicarakan tiket itu.

“Aku mau batalin,” katanya. Ia duduk di ranjang dengan punggung bersandar pada tumpukan bantal, hati-hati, lengan kanan di gendongan. “Beasiswanya. Aku tulis ke Profesor de Vries minggu ini.”

“Nggak.”

Ia memandangku.

“Nggak,” ulangku. Aku meletakkan apel yang sedang kukupas. “Kamu nggak batalin.”

“Ra, aku nggak mungkin ninggalin kamu—“

“Kamu nggak ninggalin aku.” Aku menarik napas. “Kamu sudah menolak mimpimu dua kali buat aku, Mas. Sawah bapakmu. Beasiswa ini, tahun lalu. Dua kali.” Aku mengangkat dua jari, seperti di wawancara sendok sayur. “Yang ketiga, aku yang ikut.”

Ia tidak bergerak.

“Aku udah email Profesor de Vries,” kataku. “Sama Dodi. Dua minggu lalu, waktu kamu masih dibius. Dodi yang nerjemahin bahasa Inggrisku yang belepotan. Aku ceritain semuanya. Kebakaran. Benih. Jurnal. Aku minta keberangkatanmu ditunda. Februari.” Aku mengambil ponsel dan menunjukkan layarnya. “Dia balas kemarin. Dia setuju. Katanya, any man who runs into a fire for his professor’s seeds is a man I want in my lab.“

Ia memandangi layar itu. Lalu memandangku.

“Dan aku?” katanya, suaranya hampir tidak keluar. “Kerjamu? Kursimu?”

“Pak Bonar nawarin segmen baru. Streaming. Seminggu sekali. Dari mana aja. Pagi Riang dari Negeri Jauh, namanya. Kiki yang bikin judulnya. Jelek. Tapi aku suka.”

Ia tidak bicara lama sekali.

“Kamu yakin?” tanyanya akhirnya. “Belanda dingin, Ra.”

“Aku pakai kaus kaki,” kataku. “Selalu. Bahkan pas kemarau.”

Ia tertawa. Pelan, serak, dengan punggung yang masih sakit. Tapi tertawa.


Ia keluar dari rumah sakit pada pertengahan Juli.

Tapi kami tidak langsung pulang ke Ciapus. Aku meminta Dodi menyetir Si Siput ke Bogor Tengah dulu, ke rumah bercat putih dengan jendela-jendela tinggi dan halaman penuh bunga matahari.

“Ra? Kenapa ke sini?”

Aku tidak menjawab. Aku membantunya turun dari mobil, pelan, tangannya di bahuku. Kami berjalan melewati teras, melewati sandal Papa yang masih di rak sepatu, melewati ruang tengah dan dapur, sampai ke pintu belakang.

Lalu aku membukanya.

Halaman belakang Rumah Matahari tidak lagi ditumbuhi rumput liar setinggi lutut. Tanahnya sudah diolah, dibagi menjadi petak-petak rapi. Di sini, barisan polybag di atas rak bambu. Di sana, sebuah rumah kaca kecil, rangkanya besi, dindingnya plastik bening yang baru. Di pojok, sebuah saung bambu dengan atap rumbia, dengan bangku panjang menghadap kebun.

Di sini pembibitan. Di sini rumah kaca kecil. Di sini saung buat Mak, supaya Mak bisa istirahat sambil melihat kita bekerja.

Dan di gerbang kecil antara halaman dan kebun itu, tergantung sebuah papan kayu, dicat hijau. Hijau daun padi umur tiga minggu. Dengan tulisan putih:

KEBUN BENIH DUA BAPAK.

Ia berhenti berjalan.

Aku merasakan tangannya di bahuku mengencang. Lalu gemetar.

“Tante yang bantu biayanya,” kataku pelan. “Sama Dodi, sama Pak Jaja. Mak yang kasih tahu denahnya. Papa kamu gambar di tanah, waktu kamu enam belas. Mak ingat semuanya.” Aku menelan ludah. “Sawahnya memang nggak bisa kembali, Mas. Tapi tanahnya bisa. Kebunnya bisa. Di sini. Di rumah Papa. Buat dua bapak.”

Ia tidak bicara.

“Selama kita di Belanda, Tante sama Dodi yang rawat,” lanjutku. “Dodi udah janji. Dia bilang ini satu-satunya hal yang dia rawat yang bukan tesis.”

Ia masih tidak bicara.

Aku menoleh. Ia memandangi papan hijau itu dengan mata yang basah dan bibir yang bergerak tanpa suara, dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, laki-laki yang selalu tahu harus bilang terima kasih tidak bisa mengatakan apa-apa.

Ia tidak tahu caranya menerima. Seumur hidup ia memberi, dan ia tidak pernah belajar caranya menerima.

Jadi aku menunggu. Seperti ia menungguku tiga puluh hari di depan pintu.

Akhirnya, setelah sangat lama, ia mengangguk. Sekali. Pelan. Dan ia berjalan masuk ke kebun itu, ke petak pertama, berjongkok dengan susah payah, dan menyentuh tanahnya dengan tangan kiri.

Ia menerimanya.


Kami pulang ke Ciapus sore itu.

Si Kaldu menyambut kami di halaman dengan kotekan nyaring, diikuti tiga anak ayam kuning yang menetas minggu lalu. Dodi bilang ia tidak tahu dari mana Si Kaldu mendapatkan pejantan. Mak bilang tidak perlu ditanyakan.

Di bawah jendela kamar, dua belas bunga matahari dari benih panen pertama sudah mekar lagi. Menghadap ke timur. Menghadap ke jendela.

Aku menuntunnya masuk. Melewati ruang tengah. Melewati lorong yang lampunya selalu menyala. Ia berbelok ke kiri, ke arah ruang kerja, ke kasur lipat yang terlalu pendek. Kebiasaan.

Aku menahan tangannya.

“Bukan di situ.”

Ia memandangku bingung.

Aku membuka pintu kamar utama. Kamar dengan kasur besar dan seprai biru. Di sisi kanan kasur, sisi yang dekat dengan pintu, bantalnya sudah ada. Sarungnya terlipat di ujung. Jam beker kecilnya di meja samping. Radio kayu Bapak di atas lemari, di samping paku yang dulu tidak menggantung apa-apa dan sekarang menggantung jam dinding tanpa baterai, yang tidak berdetak.

Tidak ada guling di tengah kasur.

Guling Perbatasan sudah kupindahkan ke kandang Si Kaldu. Anak-anak ayam suka tidur di atasnya.

“Kamar kita,” kataku.

Ia berdiri di ambang pintu.

Aku memegang gagang pintu. Pintu yang dulu kukunci tiga puluh hari dengan kunci kuningan bertali rafia, satu-satunya, yang ia letakkan di telapak tanganku di hari pertama. Kunci itu sekarang tergantung di paku di dinding, di samping bingkai foto kami di Cianjur.

“Pintunya,” kataku, “nggak akan pernah kukunci lagi.”


Malam itu aku melepas cincin perak dari jari manisku untuk mencuci tangan, dan memasangnya lagi.

Cincin itu tidak turun ke pangkal jari. Tidak berputar sendiri.

Pas.

Aku memandanginya lama di bawah lampu kamar mandi. Berat badanku sudah kembali; Mak memastikannya dengan tiga minggu kiriman rendang dan nasi liwet ke rumah sakit. Jari-jariku tidak lagi kurus. Dan cincin yang dibeli empat tahun lalu, untuk perempuan yang belum mencintainya, akhirnya pas di jari perempuan yang sekarang mencintainya.

Ia sedang duduk di tepi kasur ketika aku keluar dari kamar mandi. Hati-hati, punggung tegak, lengan kanan di pangkuan. Ia mengecas ponselnya, aku memperhatikan. Lalu ia melihatku mengecas ponselnya juga, sekalian, di colokan yang sama, dan ia tersenyum.

“Kamu sekarang yang ngecas,” katanya.

“Tiap malam,” kataku. “Biar adil.”

Aku duduk di sampingnya. Bahu kami bersentuhan.

“Mas.”

“Hm?”

“Di rumah sakit, kamu mau bilang sesuatu. Aku suruh simpan. Sampai kamu bisa berdiri.”

Ia diam.

“Kamu sudah bisa berdiri,” kataku. “Tadi. Di kebun.”

Ia menoleh padaku. Di bawah lampu kamar yang kuning, wajahnya yang biasa, wajah yang tidak akan diingat siapa pun kalau berpapasan di pasar, adalah wajah yang paling ingin kulihat setiap pagi selama sisa hidupku.

Ia mengangkat tangan kirinya dan menyentuh pipiku. Ibu jarinya mengusap tulang pipiku, pelan, seperti aku dulu mengusap lumpur dari wajahnya.

Enam tahun. Empat puluh tujuh draf. Satu surat perpisahan.

“Aku mencintaimu, Ra,” katanya.

Suaranya tidak gemetar. Kalimat itu tidak berhenti di tengah.

“Dari handuk pertama.”


Aku menciumnya.

Bukan seperti di bawah bianglala, cepat dan takut. Bukan seperti di ranjang nomor empat, ringan dan asin. Aku menciumnya pelan, dalam, dengan tangan di wajahnya dan tangannya di rambutku, menarik karet kain kuning itu lepas sampai rambutku jatuh ke bahu. Ia membalasku dengan cara yang sama ia melakukan segalanya: hati-hati, sabar, seolah ia punya seluruh waktu di dunia.

Kami punya seluruh waktu di dunia.

Di luar jendela, dua belas bunga matahari merunduk dalam gelap, beristirahat. Di halaman, Si Kaldu berkotek pelan dalam tidurnya. Di lorong, lampu tetap menyala, seperti selalu.

Pintu kamar kami tertutup malam itu.

Tidak dikunci.


Paginya aku terbangun karena cahaya.

Matahari masuk lewat celah gorden. Di luar jendela, dua belas wajah kuning sudah mendongak lagi, menghadap ke timur, menghadap ke arah kami. Ia tidur di sampingku, miring ke kiri, menjaga punggungnya, napasnya pelan dan teratur. Tangannya di pinggangku.

Aku memandangi wajahnya lama. Lalu aku mengambil buku biru dari laci meja samping. Membuka halaman setelah nomor empat puluh tujuh.

Daftar ini belum selesai. Aku tahu itu sekarang. Mungkin tidak akan pernah selesai.

Ia membuka mata, setengah, memandangku menulis.

“Daftar apa itu?”

Aku menutup buku itu dan memeluknya di dada.

“Nanti,” kataku. “Hari jadi kedua.”

Ia tersenyum dan memejamkan mata lagi.

Lalu, dari pintu depan, terdengar sesuatu.

Tok. Tok. Tok.

Lalu, tanpa jeda, sebelum kami sempat bergerak, suara yang kami berdua kenal lebih baik dari suara alarm mana pun di dunia:

“JAR! NENG! IEU MAK! MAK MAWA HAYAM DEUI, KEUR KALDU, NU IEU MAH BENER-BENER KEUR KALDU!”

Ini Mak! Mak bawa ayam lagi, buat kaldu, yang ini benar-benar buat kaldu!

Ia menarik selimut sampai ke kepala. Aku tertawa sampai perutku sakit.