Chapter Two
Jumat yang Tidak Selesai
POV: Rania
Kiki menamai playlist-nya Menuju Pelaminan, dan lagu pertamanya tentang perempuan yang ditinggal kawin.
“Ki.”
“Apa?”
“Ini lagu orang ditinggal nikah.”
“Iya, kan nyambung. Ada kata nikahnya.”
Lagu kedua tentang cinta yang tidak direstui orang tua. Lagu ketiga tentang mantan yang menikahi sahabat sendiri. Lagu keempat, entah kenapa, lagu perjuangan.
“Itu buat semangat,” kata Kiki. “Menikah itu perjuangan, Ran. Nyokap gue yang bilang. Sebelum cerai.”
Aku tertawa sampai harus menekan tombol mute. Di balik kaca, Pak Bonar menggeleng-geleng sambil memegang kotak tart kecil bertuliskan SELAMAT JALAN, PENYIAR KAMI. Menurut Kiki tulisannya salah. Menurut Pak Bonar sudah benar, “karena kau kan mau jalan ke pelaminan.”
Jumat, tanggal tiga belas. Siaran terakhirku sebelum cuti. Pagi itu Bogor cerah, hal yang langka, seperti kota ini sengaja berdandan untukku. Aku membacakan ucapan selamat, memutar lagu-lagu galau pilihan Kiki dengan pengantar yang makin lama makin absurd, dan merasa hidupku sedang berada di tengah kalimat yang panjang dan bahagia.
Pendengar mengirim request untuk pernikahanku. Seorang bapak di Cibinong minta lagu dangdut “biar Neng Rania goyang di pelaminan”. Ibu-ibu arisan di Tajur minta lagu kasidah. Kiki membacakan puisi perpisahan yang ia tulis sendiri semalam, delapan baris, semuanya berakhir dengan kata “pagi” karena ia tidak tahu kata lain yang berima. Pak Bonar menangis di balik kaca untuk kedua kalinya minggu itu.
Pukul tujuh lewat dua menit, ponsel jadul di ujung meja berbunyi tit-tit.
“Pak Tani,” kata Kiki dan aku bersamaan.
Aku membacanya di udara, seperti biasa. Lalu aku berhenti di tengah kalimat, karena isinya tidak seperti biasa.
“Selamat menempuh hidup baru, Mbak. Semoga bahagia selamanya. Ini request terakhir saya: Kemesraan.“
Itu saja. Tidak ada lelucon.
“Lho.” Aku tertawa ke mikrofon. “Pak Tani kok kayak pamitan? Request terakhir apa maksudnya? Aku cuma cuti dua minggu, Pak! Terus mana leluconnya? Nggak ada lelucon, nilainya nol, ya!”
Kiki ikut tertawa. Pak Bonar mengacungkan jempol dari balik kaca.
“Kita telepon Pak Tani, yuk! Siapa tahu hari ini mau ngomong.” Kiki menekan nomor itu dari telepon studio dengan pengeras suara menyala, seperti yang sudah puluhan kali kami lakukan sebagai lelucon. Biasanya nada sambungnya berbunyi sampai habis dan tidak pernah diangkat. Pagi itu, untuk pertama kalinya, yang menjawab suara perempuan rekaman: nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.
“Yah,” kata Kiki ke mikrofon. “Pak Tani ngambek.”
Aku tertawa.
Aku memutar lagunya. Lagu lama itu mengalun ke seluruh kota, ke angkot-angkot, ke warung kopi, ke dapur-dapur, dan entah ke sawah mana tempat Pak Tani mendengarkan. Aku memandangi layar ponsel jadul itu sebentar. Ada perasaan aneh yang lewat, kecil, seperti pintu yang ditutup pelan di rumah tetangga. Lalu lagu habis, Kiki menyanyikan jingle dengan nada yang salah, dan aku lupa.
Aku tidak tahu, pagi itu, bahwa seseorang baru saja berpamitan padaku untuk selamanya, di udara, di depan seluruh kota. Dan aku menertawakannya.
Siangnya aku pulang sebentar ke Rumah Matahari untuk mengambil sepatu yang akan dicocokkan dengan kebaya. Papa tertidur di sofa ruang tengah, masih memakai kemeja kantor, kacamata miring di hidung. Papa tidak pernah tidur siang. Tiga puluh tahun mengajar, katanya, dan tidak sekali pun ia tidur siang, karena tanaman juga tidak tidur siang.
Aku melepas kacamatanya pelan-pelan. Ia terbangun.
“Neng.” Wajahnya pucat. “Jam berapa?”
“Jam satu. Papa sakit?”
“Capek. Semalam begadang.” Ia duduk, merapikan rambut, lalu menunjuk map di meja dengan bangga. “Sambutan Papa buat hari Minggu sudah jadi. Tiga halaman.”
“Tiga halaman, Pa? Tamunya keburu lapar.”
“Dua setengah halaman tentang bunga matahari.”
“Papa!”
“Setengah halaman sisanya tentang kamu.” Papa tersenyum. “Itu yang penting.”
Di jalan menuju butik, ponselku berbunyi. Foto dari Gilang: seekor anak kucing belang tiga tidur di atas helm proyek. Dia balik lagi, Nia. Tukang-tukang kasih nama Nia juga, soalnya galak. Kayaknya dia mau ikut ke nikahan.
Aku membalas dengan dua puluh emoji tertawa dan satu emoji marah. Lalu satu emoji kucing, supaya adil. Gilang membalas dengan stiker pengantin pria yang sedang berlari, entah dari mana ia dapat.
Fitting terakhir pukul empat sore. Bu Lilis harus mengecilkan pinggang kebaya lagi karena, katanya, aku turun dua senti sejak Senin. “Itu stres, Neng. Semua calon pengantin begitu.”
Lalu Bu Lilis bercerita tentang pernikahannya sendiri tiga puluh tahun lalu, waktu suaminya datang terlambat dua jam karena motornya mogok di Ciawi dan ia harus mendorongnya sampai bengkel memakai beskap. “Sampai sekarang kalau berantem, Ibu masih ungkit itu,” katanya. “Laki-laki mah memang begitu, Neng. Telat terus. Tapi yang penting datang.”
Aku tertawa. Gilang pasti datang. Telat, tapi datang.
Asisten Bu Lilis memasangkan selendang tipis di kepalaku dan memotretku di depan cermin. Aku mengirim fotonya ke Gilang dengan pesan: Jangan dibuka sekarang. Pamali. Buka hari Minggu. Pesan itu terkirim pukul empat lewat tiga puluh. Centangnya abu-abu. Gilang memang penurut untuk hal-hal yang tidak penting.
Pukul empat lewat empat puluh, langit di luar butik berubah warna. Hujan Bogor datang seperti biasa, tanpa diundang. Ponselku berdering. Gilang.
“Nia.” Suaranya bercampur bunyi wiper. “Jangan marah.”
“Kamu di mana?”
“Jagorawi. Hujannya gila, kayak dituang. Aku pelan-pelan, ya. Mungkin telat setengah jam.”
“Setengah jam versi kamu atau versi manusia normal?”
Ia tertawa. “Versi aku yang sudah insaf. Jangan ngambek, ya, Nia. Ketawa dulu, biar aku tenang.”
Aku memutar mata, tapi aku tertawa juga. Sengaja keras. Sengaja jelek. Bu Lilis menoleh dari mesin jahitnya.
“Nah,” kata Gilang. Aku bisa mendengar senyumnya. “Itu. Aku suka banget yang itu.”
“Eh, Nia,” katanya lagi. “Aku latihan ijab kabul dari tadi. Mau dengar?”
“Di jalan tol? Fokus nyetir, Lang.”
“Bisa sambil nyetir. Dengar, ya.” Ia berdeham gaya penyiar. “Saya terima nikah dan kawinnya Rania Adi… Adiwijaya binti… Hartono… Adi… eh, sebentar.” Ia tertawa sendiri. “Kenapa sih nama kalian panjang-panjang? Kayak nama jalan.”
“Nanti kalau belepotan, Papa nggak mau nikahin.”
“Hari Minggu pasti lancar. Aku latihan terus sampai rumah. Biar sekali tarikan napas.” Ia diam sebentar. “Nia. Habis nikah, kita tanam bunga matahari juga, ya, di rumah kita. Biar Papa nggak kangen kamu.”
“Hati-hati, Lang.”
“Iya. Sampai ketemu.”
Panggilan berakhir pukul empat lewat empat puluh tiga. Aku ingat karena setelahnya aku melihat jam, menghitung berapa lama lagi harus menunggu. Aku duduk di kursi rotan butik, masih memakai setengah kebaya, mencoret nama-nama di daftar tamu yang belum konfirmasi.
Pukul lima lewat dua belas, ponselku berdering lagi. Nomor tidak dikenal.
Aku hampir tidak mengangkatnya. Calon pengantin yang menikah dua hari lagi terlalu sering ditelepon nomor tidak dikenal: vendor dekorasi, tukang tenda, sales asuransi, saudara jauh yang minta dijemput di stasiun.
“Halo?”
“Selamat sore. Dengan Ibu Rania Adiwijaya? Kami dari kepolisian. Apakah Ibu mengenal Saudara Gilang Prasetya?”
Aku berdiri. Entah kenapa aku berdiri.
Laki-laki di seberang bicara dengan sangat hati-hati, seperti seseorang yang sudah terlalu sering mengucapkan kalimat ini dan tetap tidak terbiasa. Sebuah truk di depan mobil Gilang kehilangan kendali di jalan yang licin. Mobilnya tidak sempat menghindar. Ia meninggal di tempat.
Aku mendengar setiap kata. Aku mengerti setiap kata. Tapi kata-kata itu tidak mau tersusun menjadi kalimat di kepalaku.
“Maaf,” kataku. “Tapi dia lagi di jalan. Dia bilang telat setengah jam.”
Bu Lilis berhenti menjahit.
Aku menutup telepon itu. Di layar, foto kebaya yang kukirim tadi masih bercentang abu-abu. Aku menekan nomor Gilang. Sekali. Dua kali. Tujuh kali. Nada sambung berbunyi sampai habis. Gilang selalu mengangkat teleponku, bahkan saat rapat, bahkan saat memanjat tiang proyek untuk menolong kucing. Bu Lilis memelukku dari belakang. Aku tidak merasakan pelukannya. Aku hanya terus menekan nomor itu, menunggu ia mengangkat dan bilang, Nia, jangan marah.
Akhirnya aku menelepon Papa. Aku tidak ingat apa yang kukatakan. Aku hanya ingat suara Papa di seberang, tenang dan cepat, suara yang sama seperti waktu Mama masuk rumah sakit empat belas tahun lalu.
“Neng, dengar Papa. Jangan nyetir sendiri. Tunggu di situ. Papa ke sana sekarang.”
Aku tidak ingat bagaimana aku sampai di rumah sakit. Aku ingat hujan. Aku ingat kakiku basah karena aku berlari dari parkiran tanpa payung, masih memakai kain kebaya di bawah jaket jins. Aku ingat bau karbol di lorong dan lampu neon yang berkedip di atas pintu bertuliskan KAMAR JENAZAH.
Bu Ratih, ibu Gilang, sudah di sana. Begitu melihatku, ia berdiri, membuka mulut, lalu jatuh. Orang-orang berlari. Seseorang berteriak memanggil perawat. Aku berdiri saja di tengah lorong, menetes.
Lalu Papa datang.
Papa berjalan cepat, terlalu cepat untuk laki-laki seusianya, dan memelukku dengan seluruh tubuhnya. Ia tidak berkata apa-apa. Papa selalu tahu kapan tidak boleh berkata apa-apa.
Ada seseorang di belakang Papa. Aku tidak melihat wajahnya. Seseorang menyampirkan jaket ke bahuku yang basah. Jaket abu-abu, tebal, berbau sabun batang dan sesuatu seperti tanah sehabis hujan. Kukira Papa yang memakaikannya. Lalu sebuah gelas plastik diselipkan ke tanganku. Teh manis. Hangatnya pas, tidak panas, tidak dingin, persis seperti yang kusuka. Aku memegangnya dan tidak meminumnya.
Hujan masih terdengar dari ujung lorong. Aku berpikir, dengan sangat jernih dan sangat bodoh, bahwa Gilang belum menyelesaikan latihannya. Bahwa namaku masih belepotan di mulutnya.
Mereka mengizinkanku masuk sebentar.
Aku tidak mau mengingat apa yang kulihat di dalam. Aku hanya ingat satu hal: punggung tangan kanannya masih ada tiga garis merah bekas cakaran kucing.
Saat itulah aku tertawa.
Satu kali. Keras. Bunyinya seperti kambing keselek, persis seperti yang ia suka. Semua orang di ruangan menoleh padaku dengan wajah ngeri.
“Dia telat lagi,” kataku. “Katanya setengah jam.”
Bu Ratih, yang baru siuman, memandangiku dari kursi roda di sudut ruangan. Ia tidak marah. Ia mengulurkan tangannya padaku. Aku tidak menyambutnya. Aku tidak tahu caranya.
Setelah itu aku tidak tertawa lagi. Aku juga tidak menangis. Aku hanya diam, dan diam itu terasa seperti seseorang memadamkan lampu di dalam diriku satu per satu, mulai dari ruangan paling ujung.
Malam sudah turun ketika kami keluar dari kamar jenazah. Keluarga Gilang mengurus kepulangan jenazah untuk dimakamkan besok pagi. Aku duduk di kursi tunggu plastik, masih memeluk jaket abu-abu itu, gelas teh yang sudah dingin masih di tanganku.
Jaket itu tidak berbau seperti Papa. Papa selalu berbau minyak kayu putih. Jaket ini berbau sabun batang dan tanah sehabis hujan, dan kerahnya dijahit agak miring. Sebagian kecil diriku bertanya-tanya sejak kapan Papa punya jaket seperti ini. Sebagian besar diriku terlalu lelah untuk peduli. Aku menarik jaket itu lebih rapat dan berhenti bertanya.
Papa berdiri di ujung lorong, bicara dengan petugas. Seseorang berdiri setengah langkah di belakangnya. Aku melihat mereka dari jauh. Di tengah kalimat, Papa berhenti. Tangannya naik ke dada kiri, menekan di sana sebentar. Wajahnya memucat di bawah cahaya neon.
Aku berdiri. “Pa?”
Papa menurunkan tangannya. Menoleh padaku. Tersenyum, senyum yang terlalu cepat dipasang.
“Papa nggak apa-apa, Neng,” katanya. “Cuma capek.”
Dan aku, yang baru saja kehilangan separuh hidupku, memercayainya. Karena aku tidak sanggup memikirkan kemungkinan yang lain.
- 1 Request dari Pak Tani
- 2 Jumat yang Tidak Selesai reading
- 3 Permintaan dari Ranjang Nomor Empat
- 4 Akad di Ruang ICU
- 5 Rumah dengan Halaman Penuh Bibit
- 6 Tiga Ketukan
- 7 Frekuensi 98,7
- 8 Mak Datang Membawa Labu Siam
- 9 Sawah Bapak
- 10 Hari Ketiga Puluh
- 11 Istri yang Baik, Versi Robot
- 12 Empat Puluh Hari dan Satu Surat Bank
- 13 Yang Dibayar Diam-Diam
- 14 Yang Mekar di Bawah Jendela
- 15 Mikrofon yang Tidak Mau Kupegang
- 16 Seratus Hari
- 17 Nama yang Bukan Namaku
- 18 Tangan Siapa
- 19 Tiga Puluh Kilometer per Jam
- 20 Nama Papa di Layar
- 21 Sup yang Rasanya Seperti Mama
- 22 Pesan Suara yang Tidak Terkirim
- 23 Tawa yang Kembali
- 24 Pak Tani
- 25 Ketukan dari Arah Sebaliknya
- 26 Tanggal di Balik Cincin
- 27 Surat dari Wageningen
- 28 Siapa yang Membayar Rumah Matahari
- 29 Pasar Malam di Alun-Alun
- 30 Lupakan
- 31 Semua yang Kucintai
- 32 Janji Ketiga
- 33 Bunga Matahari di Rumah Papa
- 34 Surat yang Ditulis Tujuh Kali
- 35 Jurnal Kebun
- 36 Api di Rumah Kaca
- 37 Ranjang Nomor Empat
- 38 Untuk Pak Tani
- 39 Satu Request Lagi
- 40 Kamar Kita
- 41 Epilog — Pagi Riang dari Negeri Jauh