Chapter Forty One
Epilog — Pagi Riang dari Negeri Jauh
POV: Fajar
Pukul dua belas lewat empat puluh malam, waktu Wageningen, aku menuang air mendidih ke atas irisan jahe dan menunggu.
Bukan menunggu tehnya matang. Menunggu tehnya dingin.
Dapur apartemen kami selebar kamar mandi Rumah Matahari. Kompornya dua tungku, salah satunya hanya mau menyala kalau diajak bicara baik-baik. Jendelanya menghadap kanal kecil dan deretan sepeda yang diparkir rapat seperti gigi. Di luar, Juni sudah membuat langit di negeri ini tidak pernah benar-benar gelap. Hanya biru tua, lalu biru yang lebih tua, lalu pagi lagi.
Aku memasukkan satu es batu ke cangkir. Satu. Bukan dua. Dua es batu membuat tehnya terlalu dingin dan ia akan cemberut, tapi ia tidak akan bilang apa-apa, dan ia akan meminumnya juga, dan aku akan tahu dari caranya meniup yang sebenarnya tidak perlu ditiup.
Setahun cukup untuk mempelajari banyak hal. Dua tahun, ternyata, cukup untuk mempelajari satu es batu.
“Mas.” Suaranya dari meja makan, yang malam ini juga meja siaran. “Laptopnya nggak mau nyambung ke mikrofon.”
“Kabelnya yang biru.”
“Semua kabelnya biru.”
“Yang biru tua.”
Hening. Lalu: “Oh.”
Aku membawa cangkir itu ke meja. Ia duduk di kursi lipat kami, satu-satunya kursi yang tidak berderit, dengan headphone besar di leher dan rambut dikuncir karet kain kuning. Selimut di pangkuannya. Dan kaus kaki. Kaus kaki tebal bergaris yang dirajut Mak dan dikirim lewat pos dengan ongkos kirim yang lebih mahal dari kaus kakinya.
Ia tidak suka dingin. Aku sudah tahu itu empat tahun sebelum ia tahu aku ada.
“Satu es batu?” tanyanya tanpa melihat.
“Satu.”
Ia meniup tehnya. Tidak perlu ditiup. Ia tetap meniupnya. Lalu meminum seteguk, dan memejamkan mata sebentar, dan aku tahu tehnya pas.
Di layar laptop, jam digital menunjukkan dua zona waktu. 00.52 Wageningen. 05.52 Bogor.
Delapan menit lagi, di sebuah kota yang jauhnya satu hari penerbangan, di ruang siaran lantai dua yang karpetnya bau kopi, Pak Bonar akan menekan tombol, dan suara istriku akan keluar dari radio-radio di dapur, di angkot, di warung, di pos satpam fakultas.
Pagi Riang dari Negeri Jauh. Edisi khusus. Hari jadi kedua.
Aku punya satu hal lagi untuk dibawa ke meja.
Baki itu kusimpan di atas lemari es sejak sore, ditutup kain lap supaya ia tidak melihat. Prof. de Vries menandatangani izin membawanya pulang semalam dengan alis terangkat dan satu kalimat dalam bahasa Inggris yang terdengar seperti nasihat dari seorang ayah: Some things should not be announced in a laboratory.
Aku mengangkat baki itu. Kecil, dari plastik putih, berisi enam sel. Lima sel kosong, hanya tanah gelap yang lembap.
Satu sel berisi kecambah.
Dua daun lembaga, hijau pucat, masih sedikit melengkung seperti dua telapak tangan yang baru belajar membuka. Batangnya setinggi ruas jariku. Rapuh. Hidup.
Aku meletakkannya di depannya, di samping cangkir teh, dan menarik kain lapnya.
Ia memandanginya. Lalu memandangku. Lalu kecambah itu lagi.
“Ini…” katanya.
“Amplop paling tua,” kataku. “Bunga pertama Laras. Jangan dibuang.“
Tangannya naik ke mulut.
Delapan bulan aku mencobanya. Enam biji dari amplop itu, lebih dari tiga puluh tahun umurnya, disimpan Prof di kotak kayu, diselamatkan dari api dengan jaket Mak. Lima biji menolak. Aku mencoba larutan yang berbeda, suhu yang berbeda, lampu yang berbeda. Aku menulis dua bab laporan tentang biji-biji yang tidak mau bangun. Prof. de Vries bilang, dengan sopan, bahwa tidak ada orang waras yang mengharapkan biji setua itu tumbuh.
Biji yang keenam bangun sembilan hari lalu.
Aku tidak memberitahunya. Aku menunggu. Menunggu sampai daunnya membuka, sampai aku yakin ia tidak akan layu besok pagi dan membuat istriku kehilangan satu hal lagi. Aku sudah cukup lama hidup bersamanya untuk tahu bahwa harapan yang dicabut lebih kejam daripada harapan yang tidak pernah diberikan.
“Benih yang tertidur nggak pernah mati,” kataku. “Itu kata Prof. Dia cuma nunggu.”
“Nunggu apa?”
“Nunggu ada yang sabar.”
Lampu merah kecil di sudut layar menyala. Kami sudah mengudara.
Ia tidak sempat membuka siaran dengan salam. Hal pertama yang didengar seluruh Bogor pagi itu dari Pagi Riang dari Negeri Jauh adalah suara penyiarnya menangis.
Lalu, dari speaker laptop, suara Pak Bonar, panik: “Ran? Rania? Itu kenapa? Siaran, Ran. Siaran!”
Ia tertawa di tengah tangisnya, menyeka hidung dengan ujung selimut, dan menarik mikrofon mendekat.
“Selamat pagi, Bogor,” katanya. Suaranya basah. “Maaf. Penyiarnya lagi cengeng. Barusan suami saya bawa pulang bunga pertama Mama saya. Bunga yang Papa saya kasih tiga puluh tahun lalu. Dia tumbuh lagi. Di Belanda. Di dapur yang kompornya cuma mau nyala kalau dirayu.”
Di jendela obrolan siaran, pesan-pesan mulai mengalir. Ratusan. Ya Allah. Aku nangis di angkot. Teteh, pagi-pagi udah bikin banjir. Dan satu pesan dari akun yang fotonya lambang fakultas: Pak Asep di pos ikut nangis, Neng.
Ponselku bergetar pukul satu lewat tujuh.
Satu-satunya orang di dunia yang akan menelepon pukul satu pagi waktu Belanda dengan keyakinan penuh bahwa itu jam yang wajar.
“Assalamualaikum, Mak.”
“Jar!“ Suara Mak memenuhi dapur, dan Rania langsung mengecilkan volume mikrofon dengan wajah orang yang tahu apa yang akan terjadi. “Mak ngadéngé radio. Mak ceurik. Kembangna hirup deui?“ Mak dengar radio. Mak nangis. Bunganya hidup lagi?
“Hirup, Mak.”
“Alhamdulillah.“ Hening sebentar. Lalu nadanya berubah, persis nada yang ia pakai setiap kali meneleponku sejak kami menikah. “Ari incu iraha?“ Terus cucu kapan?
Aku melihat ke arah meja. Rania sedang membaca pesan pendengar dengan suara lembut, tapi matanya melirikku. Ia mengangguk sekali. Kecil.
Kami sudah sepakat akan memberi tahu Mak minggu depan, dengan rencana yang matang, video, mungkin kue. Rencana itu baru saja dibatalkan oleh satu anggukan.
“Sabar, Mak,” kataku. “Tujuh bulan lagi.”
Hening.
Hening yang panjang. Hening yang membuatku menjauhkan ponsel dari telinga, karena aku sudah tiga puluh satu tahun menjadi anak Mak dan aku tahu apa yang datang setelah hening seperti itu.
Jeritan Mak keluar dari ponselku dan memenuhi dapur. Lalu, di belakangnya, suara lain. Panik. Berkotek-kotek. Sayap mengepak.
“Mak? Itu Si Kaldu?”
“Si Kaldu reuwas!“ Mak menjerit sambil tertawa. Si Kaldu kaget! “Mak ngagorowok, manéhna ngapung kana hateup! Jar! JAR! Incu!“
Di meja, Rania menyerah. Ia membuka mikrofonnya lagi, karena separuh Bogor sudah pasti mendengar Mak lewat mikrofon yang hanya dikecilkan, bukan dimatikan.
“Bogor,” katanya, tertawa, menangis lagi. “Itu tadi mertua saya. Dan ayam kesayangan beliau. Yang dulu kami kira jantan. Ternyata sekarang sudah nenek.” Ia berhenti. Menarik napas. “Dan iya. Kalian dengar yang barusan. Tujuh bulan lagi.”
Jendela obrolan meledak.
Pak Bonar, dari speaker laptop, hanya bisa berkata: “Ran. Ran. Kiki jatuh dari kursi.”
Pukul satu lewat dua puluh, dua foto masuk hampir bersamaan.
Yang pertama dari Tante. Kebun di belakang Rumah Matahari, di bawah langit pagi Bogor yang masih abu-abu. Rak-rak bibit berjajar rapi. Di petak paling depan, bunga matahari setinggi orang dewasa, dan di antaranya, papan kayu hijau dengan tulisan putih: Kebun Benih Dua Bapak. Di bawah foto, Tante menulis, dengan tanda baca yang seperti biasa tidak ia pedulikan: Tiga sekolah datang minggu ini. Anak2 nanam biji dari amplop Papamu. Tante yang galak2in. Fajar, rak nomor 3 bocor lagi, Tante sudah panggil tukang, jangan sok pulang buat benerin.
Aku tertawa. Rania bertanya kenapa. Aku menunjukkan kalimat terakhir. Ia ikut tertawa, karena kami berdua tahu, dua tahun lalu, perempuan yang sama menuduhku menikahi keponakannya demi sebuah rumah.
Foto kedua dari Dodi. Dua tangan di atas meja warung pecel lele, saling menggenggam. Di jari manis tangan yang lebih kecil, cincin perak sederhana. Di bawahnya: Gue udah ngelamar. Dia nerima. Dia nangis. Gue juga nangis. Pecel lelenya dingin. JANGAN DIBACAIN DI SIARAN.
Rania membacakannya di siaran.
Lengkap dengan huruf besarnya.
Pukul satu lewat empat puluh, siaran tinggal lima menit.
“Sebelum tutup,” kata Rania ke mikrofon, “masih ada satu kebiasaan lama. Pendengar setia kita, yang dulu kirim SMS tiap pagi, sekarang nggak perlu kirim SMS lagi. Dia duduk di sebelah saya. Pakai sandal jepit di Belanda. Di bulan Juni. Malu-maluin.” Ia menoleh padaku. “Leluconnya, Pak Tani.”
Aku mendekat ke mikrofon. Dua tahun, dan aku masih belum terbiasa mendengar suaraku sendiri keluar dari radio orang lain.
“Kenapa bunga matahari nggak pernah bohong?”
Ia menunggu.
“Karena dia selalu menghadap yang benar.”
Hening sebentar. Di jendela obrolan, seseorang menulis wkwkwk jelek. Seseorang lagi: jelek tapi aku nangis.
Rania memandangku lama. Lalu ia mendekat ke mikrofon dan memberi nilai, seperti dulu, seperti setiap pagi selama enam tahun yang tidak pernah kuketahui ia dengarkan dengan begitu sungguh-sungguh.
“Sebelas,” katanya.
“Skalanya sampai sepuluh.”
“Skalanya aku yang bikin.” Ia tersenyum ke mikrofon. “Request terakhir pagi ini, dari Bu Tani, untuk Pak Tani. Sampai Ujung Usia. Selamat hari jadi kedua, Mas. Bogor, sampai minggu depan.”
Lagu itu mulai. Lampu merah padam.
Setelah siaran, ia memberiku hadiah.
Dua buku. Sampul biru, logo Swara Pakuan yang sudah memudar di yang satu dan masih tajam di yang lain. Diikat karet kain kuning.
“Kamu yang tanya dulu,” katanya. “Daftar apa itu. Aku bilang nanti. Hari jadi kedua.” Ia mendorong buku itu ke arahku. “Ini nanti.”
Aku membuka buku pertama.
Halaman-halaman depannya penuh rundown siaran lama, tulisan tangannya yang miring ke kanan, jam, judul lagu, nama sponsor. Lalu halaman-halaman kosong. Lalu, di bagian belakang, judul yang ditulis dengan tinta hitam:
Hal-Hal yang Tidak Kulihat.
1. Dia menyetir 30 km/jam kalau ada aku.
Aku membaca. Nomor dua. Nomor tiga. Tikar di depan pintu. Teh yang tidak pernah panas. Sup Tante yang bukan buatan Tante. Jam yang kucopot. Engsel yang kuminyaki. Air yang kumasak setiap pukul setengah lima.
Aku tidak tahu kapan aku mulai menangis. Aku hanya tahu bahwa di nomor dua puluh empat, Alasannya: aku nggak suka dingin, ia meletakkan tangannya di punggungku, di atas bekas luka yang sekarang hanya terasa seperti kain kusut di bawah kemeja, dan membiarkannya di sana.
Lalu aku melihat sampulnya lagi. Benar-benar melihatnya. Sudut kanan bawah yang tertekuk. Noda teh berbentuk bulan sabit di halaman rundown terakhir.
Aku mengenal buku ini.
Dua tahun lalu, di minggu pertama, ketika ia masih di balik pintu yang terkunci, aku membereskan kardus-kardus yang dibawa dari kamar kosnya. Buku ini ada di dasar salah satu kardus. Aku tidak membukanya. Aku hanya memindahkannya ke tas kecil yang biasa ia bawa ke studio, dengan satu pikiran sederhana: mungkin suatu hari dia ingin menulis lagi.
Ia memang menulis lagi.
Ia menulis tentang aku.
“Kamu yang naruh di tasku,” katanya pelan, membaca wajahku. “Aku tahu. Mak yang bilang. Telat setahun juga.”
Aku membuka buku kedua. Buku yang kubelikan tanpa tahu isinya akan seperti apa. Nomor empat puluh. Empat puluh tujuh, Dia berlari ke dalam api untuk sebuah buku, karena aku menangis, dengan tinta yang luntur di satu titik, seperti pernah kena air.
Lalu, dengan tinta yang berbeda, biru, lebih baru:
48. Teh jahe jam satu pagi. Satu es batu. Dia hitung.
49. Dua lapis gorden di kamar. Yang dalam dia jahit sendiri. Jahitannya miring kayak jaket Mak.
50. Dia belajar bahasa Belanda cuma tiga kalimat. Semuanya buat nanya ke apoteker.
51. Di dokter kandungan, waktu dengar detak jantungnya, dia nangis. Terus bilang kelilipan. Di ruangan tertutup. Nggak ada angin.
52. Dia sekarang mau dikasih. Kemarin aku bikinin dia kaldu. Dia habisin. Dia bilang terima kasih. Dia nggak cuci piringnya duluan.
53. Dia nunggu sembilan hari buat kasih tahu soal bunga Mama. Biar aku nggak kehilangan apa-apa lagi. Aku tahu dari hari ketiga. Dia nyanyi di kamar mandi.
Aku tertawa, basah, tidak karuan.
Halaman berikutnya kosong, kecuali satu kalimat di tengah, ditulis pelan, hurufnya rapi, tidak miring sama sekali:
Daftar ini nggak akan selesai.
Di luar, langit Wageningen mulai memucat. Seekor burung di tepi kanal mencoba bernyanyi, terlalu pagi, dan berhenti, malu.
Aku menutup buku itu dan meletakkannya di samping baki kecambah. Lalu aku mengambil tangannya, tangan yang dulu dingin di atas handuk di rumah kaca, tangan yang mengetuk punggung tanganku tiga kali setiap jam di ranjang nomor empat, dan meletakkannya di atas baki itu. Di samping dua daun kecil yang baru belajar membuka.
Tanganku di atas tangannya. Tangannya di atas tanah. Di bawah tanah itu, akar yang menunggu tiga puluh tahun.
Di dalam dirinya, sesuatu yang lebih kecil lagi, menunggu tujuh bulan.
Seumur hidupku, aku hanya tahu cara memberi. Memberi itu mudah. Memberi tidak membutuhkan siapa pun untuk melihatmu. Yang sulit adalah duduk di dapur sempit pukul dua pagi dan membiarkan seseorang membacakan untukmu, satu per satu, semua hal yang kau kira tidak pernah dilihat.
Dan menerimanya.
Ia bersandar ke bahuku. Kaus kakinya bergesekan dengan sandal jepitku di bawah meja.
“Mas,” bisiknya. “Januari nanti, kalau dia lahir, kita di sini dulu?”
Aku memandangi kecambah itu. Benih yang tertidur, yang tidak pernah mati. Yang hanya menunggu seseorang cukup sabar.
“Di mana pun,” kataku. “Kita nggak ke mana-mana.”
Ia mengetuk punggung tanganku tiga kali.
Tok. Tok. Tok.
Pintu terbuka.
TAMAT
- 1 Request dari Pak Tani
- 2 Jumat yang Tidak Selesai
- 3 Permintaan dari Ranjang Nomor Empat
- 4 Akad di Ruang ICU
- 5 Rumah dengan Halaman Penuh Bibit
- 6 Tiga Ketukan
- 7 Frekuensi 98,7
- 8 Mak Datang Membawa Labu Siam
- 9 Sawah Bapak
- 10 Hari Ketiga Puluh
- 11 Istri yang Baik, Versi Robot
- 12 Empat Puluh Hari dan Satu Surat Bank
- 13 Yang Dibayar Diam-Diam
- 14 Yang Mekar di Bawah Jendela
- 15 Mikrofon yang Tidak Mau Kupegang
- 16 Seratus Hari
- 17 Nama yang Bukan Namaku
- 18 Tangan Siapa
- 19 Tiga Puluh Kilometer per Jam
- 20 Nama Papa di Layar
- 21 Sup yang Rasanya Seperti Mama
- 22 Pesan Suara yang Tidak Terkirim
- 23 Tawa yang Kembali
- 24 Pak Tani
- 25 Ketukan dari Arah Sebaliknya
- 26 Tanggal di Balik Cincin
- 27 Surat dari Wageningen
- 28 Siapa yang Membayar Rumah Matahari
- 29 Pasar Malam di Alun-Alun
- 30 Lupakan
- 31 Semua yang Kucintai
- 32 Janji Ketiga
- 33 Bunga Matahari di Rumah Papa
- 34 Surat yang Ditulis Tujuh Kali
- 35 Jurnal Kebun
- 36 Api di Rumah Kaca
- 37 Ranjang Nomor Empat
- 38 Untuk Pak Tani
- 39 Satu Request Lagi
- 40 Kamar Kita
- 41 Epilog — Pagi Riang dari Negeri Jauh reading