Chapter Twenty Three

Tawa yang Kembali

POV: Fajar

Seminggu setelah makam, aku masih flu. Bukan flu berat. Hanya hidung tersumbat dan suara serak yang membuat Dodi bilang aku terdengar seperti penyiar radio jam tiga pagi.

Tapi setiap malam selama seminggu itu, ada segelas wedang jahe di meja makan ketika aku pulang dari lab. Jahe merah, gula aren, serai. Hangatnya pas. Tidak ada catatan. Tidak ada yang bilang apa-apa. Hanya gelas itu, menunggu.

Aku meminumnya setiap malam pelan-pelan, sampai tetes terakhir, dan setiap malam aku mencuci gelasnya sendiri dan meletakkannya kembali di rak, persis di tempat yang sama. Aku tidak tahu cara lain untuk berterima kasih tanpa membuatnya merasa harus menjawab.

Lalu Mak mengirim ayam lewat travel.

Bukan ayam potong. Bukan ayam ungkep. Ayam hidup, betina, berbulu cokelat keemasan dengan jengger merah kecil, dimasukkan ke dalam kardus mi instan yang dilubangi di empat sisi dan diikat tali rafia. Di atas kardus itu, dengan spidol hitam, Mak menulis: KEUR KALDU. KEUR NENG. ULAH DIPELIHARA.

Untuk kaldu. Untuk Neng. Jangan dipelihara.

Sopir travel menyerahkannya di depan gang dengan wajah orang yang sudah menempuh perjalanan dua jam di samping kardus yang berkotek.

“Bu Euis titip pesan,” katanya. “Katanya, potong hari ini, jangan kelamaan, nanti kalian sayang.”

Aku membawa kardus itu ke halaman belakang. Dodi, yang hari Sabtu itu datang untuk “membantu menyiram” yang artinya numpang makan siang, mengintip ke dalam lubang kardus.

“Jar. Gue nggak bisa motong ayam.”

“Aku juga belum pernah.”

“Lo anak petani!”

“Petani padi, Dod. Bukan petani ayam.”

Kami berdiri di depan kardus itu, dua laki-laki dewasa bergelar sarjana pertanian, memandangi seekor ayam betina yang memandangi kami balik lewat lubang kardus dengan mata bulat yang tidak berkedip.

Dodi memotong tali rafianya. “Kita keluarin dulu. Biar kelihatan. Biar mental kita siap.”

Itu kesalahan.


Ayam itu meledak keluar dari kardus seperti peluru cokelat.

Ia terbang setengah meter, mendarat di atas rak bambu, menendang tiga polybag bibit cabai yang baru kutanam ulang bulan lalu, lalu melompat ke tanah dan berlari ke arah barisan tomat dengan kecepatan yang tidak masuk akal untuk hewan berkaki dua.

“TANGKAP, JAR!”

Aku menerjang. Ayam itu berbelok. Aku mencium tanah.

Dodi menerjang dari arah lain. Ayam itu melompat ke atas punggung Dodi, menggunakannya sebagai batu loncatan, dan mendarat di atas tumpukan pupuk kandang. Dodi tersungkur ke ember berisi air rendaman benih.

Kami mengejarnya mengelilingi halaman tiga kali. Lewat barisan terong. Lewat rak bambu yang roboh. Lewat jemuran, dan Dodi tersangkut di salah satu sarungku dan berlari dua putaran dengan sarung di kepala seperti ninja yang kalah perang. Aku terpeleset di tanah becek sisa hujan semalam dan jatuh terduduk tepat di genangan lumpur, dan ayam itu berdiri di atas pot di depanku, memiringkan kepala, dan berkotek. Satu kali. Dengan nada yang sangat jelas mengejek.

Lalu aku mendengarnya.

Dari ambang pintu belakang.

Tawa.

Keras. Pecah. Jelek. Seperti kambing yang keselek. Tawa yang meledak dari perut, yang tidak bisa ditahan, yang membuat orang yang tertawa harus membungkuk dan memegangi kusen pintu supaya tidak jatuh.

Aku berhenti bergerak.

Dia berdiri di ambang pintu belakang dengan celemek dan sendok sayur di tangan, membungkuk, bahunya terguncang. Wajahnya merah. Matanya berair. Lesung pipi di sebelah kiri dalam sekali. Dan dari mulutnya keluar bunyi itu, bunyi yang selama enam tahun kudengar setiap pagi dari radio, bunyi yang hilang di bulan Juni, bunyi yang kukira tidak akan pernah kudengar lagi seumur hidupku.

Dia tertawa.

Dodi masih berlari dengan sarung di kepala. Ayam itu masih berkotek di atas pot. Aku duduk di genangan lumpur, basah sampai ke pinggang, dan tidak bergerak. Aku tidak mau bergerak. Kalau aku bergerak, mungkin bunyi itu berhenti.

Aku hanya duduk di sana dan mendengarkan.

Jaga dia sampai dia bisa tertawa lagi. Tawa yang jelek itu. Kamu tahu yang mana.

Aku tahu yang mana, Prof. Aku tahu. Aku sudah enam tahun menunggu bunyi ini kembali, dan sekarang bunyi itu ada di halaman belakangku, karena seekor ayam.


Tawanya berlangsung lama. Setiap kali ia hampir berhenti, ia melihat Dodi, atau melihatku di genangan lumpur, atau melihat ayam itu, dan tawanya meledak lagi. Ia sampai harus duduk di anak tangga belakang, memeluk lutut, napasnya terengah-engah.

Akhirnya ayam itu berhenti sendiri, karena capek, di samping kaki Dodi yang terkapar di rumput. Dodi menangkapnya dengan dua tangan dan mengangkatnya tinggi-tinggi seperti piala. Ayam itu tidak melawan lagi. Ia hanya berkotek pelan, seperti mengeluh. Bulu-bulunya acak-acakan. Dodi juga. Aku juga. Hanya ayam itu yang kelihatan seperti pemenang.

“Dapet!” Dodi terengah. “Jar! Pisau! Mana pisau!”

Dia berdiri dari anak tangga. Masih tersengal karena tawa. Lalu dia berkata, dengan suara yang masih bergetar oleh sisa tawa:

“Jangan.”

Kami berdua menoleh.

“Jangan dipotong.” Dia mengusap air mata dari sudut matanya. “Dia… dia lucu banget. Dia ngalahin kalian berdua.”

Dodi memandangi ayam di tangannya. Ayam itu memandangi Dodi. “Tapi Mak bilang buat kaldu, Mbak. Ada tulisannya. Ulah dipelihara.“

“Kalau gitu namanya Kaldu,” katanya. “Si Kaldu. Biar Mak nggak marah. Namanya tetap kaldu.”

Aku memandangnya dari genangan lumpur. Dia tidak sedang bercanda. Dia sungguh-sungguh ingin ayam ini hidup, karena ayam ini membuatnya tertawa.

Tentu saja ayam itu hidup. Kalau ayam itu yang membuatnya tertawa, aku akan membangunkan kandang emas untuknya.

“Iya,” kataku. “Si Kaldu.”

Dodi mengirim foto Si Kaldu ke Mak sore itu, dengan keterangan Mbak Rania yang kasih nama. Mak menelepon dua menit kemudian, dan aku bisa mendengar teriakannya dari seberang halaman.

“NAHA TEU DIPEUNCIT?! Éta hayam keur kaldu! Mak geus nulis dina kardus!” Kenapa nggak dipotong?! Itu ayam buat kaldu! Mak sudah tulis di kardus!

“Dia ketawa, Mak,” kataku. “Ayamnya bikin dia ketawa.”

Mak diam. Lama sekali, untuk ukuran Mak.

“Ketawa?” tanyanya akhirnya, pelan. “Si Neng ketawa?”

“Iya, Mak. Keras. Kayak dulu di radio.”

Di seberang, Mak menarik napas yang gemetar. “Nya enggeus,” katanya. Ya sudah. “Pelihara. Pelihara nu bener. Mun paéh, Mak nu ngubur.”


Aku membuatkan kandang dari sisa bambu rak yang roboh. Dodi membantu, yang artinya ia memegang palu dan memberi komentar. Dia duduk di anak tangga, memperhatikan kami, sesekali tertawa lagi ketika Dodi memukul jarinya sendiri.

Setiap kali tawa itu terdengar, aku harus berhenti memaku. Aku tidak bisa memaku dan mendengarkan sekaligus. Tanganku gemetar.

“Jar.” Dodi menyikutku, berbisik. “Lo kenapa? Muka lo kayak orang mau nangis.”

“Lumpur.”

“Lumpur di mata?”

“Iya.”

Dodi memandangiku lama. Lalu ia menyeringai, dan aku tahu sesuatu yang buruk akan terjadi.

“Mbak,” katanya keras-keras ke arah anak tangga. “Mbak tahu nggak, waktu bunga-bunga matahari di bawah jendela Mbak mekar pertama kali, bulan September itu, dia nangis di balik gudang.”

“Dod.”

“Sesenggukan, Mbak. Pundaknya naik-turun. Gue kira dia alergi serbuk sari. Gue kasih dia obat alergi, dia minum. Terus dia masih nangis. Ternyata bukan alergi.”

“DOD.”

“Gue cuma ngasih data, Jar!”

Aku ingin mengubur diriku di genangan lumpur itu. Aku merasakan seluruh wajahku memanas sampai ke ubun-ubun. Aku memandangi paku di tanganku dengan konsentrasi penuh, seolah paku itu masalah ilmiah paling penting abad ini.

Dari anak tangga, tidak terdengar apa-apa. Lalu langkah kaki mendekat.

Dia berdiri di depanku. Aku tidak berani mengangkat wajah. Aku melihat sandal jepitnya. Kaus kaki kuning di dalam sandal itu, karena dia selalu memakai kaus kaki, bahkan di siang hari.

Lalu tangannya terulur dan menyentuh pipiku.

Ibu jarinya mengusap sesuatu di tulang pipiku, pelan, dari dekat hidung ke arah telinga. Lumpur. Ada lumpur di wajahku. Aku lupa. Aku lupa segalanya.

“Kotor banget,” katanya. Suaranya pelan. Sudut bibirnya bergerak. “Kayak kucing kecemplung got.”

Aku lupa bernapas.

Tangannya sudah menjauh, dia sudah berbalik dan kembali ke anak tangga, dan aku masih berjongkok di sana dengan paku di tangan dan pipi yang terasa terbakar di tempat ibu jarinya tadi lewat. Aku tidak tahu apakah dia ingat. Aku tidak tahu apakah kalimat itu keluar dari ingatannya, atau hanya kebetulan.

Mas kayak kucing kecemplung got.

Enam tahun lalu. Handuk pink. Hujan.

Dodi menyikutku lagi. “Napas, Jar.” Lalu ia menambahkan, berbisik, “Dan tutup mulut lo. Lalat masuk.”

Aku bernapas. Napas yang panjang dan gemetar, seperti napas pertama setelah lama menyelam.


Malam itu, setelah semuanya tidur, aku duduk di ruang kerja dengan radio yang tidak menyala.

Syarat pertama. Jaga dia sampai dia bisa tertawa lagi. Sudah. Hari ini. Di halaman belakang, karena seekor ayam dan dua laki-laki bodoh.

Aku seharusnya bahagia. Aku memang bahagia. Tapi di bawah kebahagiaan itu, ada sesuatu yang dingin, seperti air tanah di bawah sawah yang baru dibajak.

Syarat kedua sedang berjalan. Syarat ketiga…

Kalau suatu hari dia ingin pergi, lepaskan.

Aku memandangi bingkai kecil di samping radio. Makasih. Lalu aku mematikan lampu dan tidak memikirkan syarat ketiga lagi. Belum. Tidak malam ini.

Aku memikirkan hal lain. Hari Minggu di makam. Bunyi yang keluar dari tenggorokannya ketika rekaman itu selesai. Dan dia, berbalik, memelukku, wajah di dadaku, tangan mencengkeram kemejaku di punggung.

Aku tidak pernah dipeluk seperti itu oleh siapa pun selain Mak. Aku tidak tahu harus berbuat apa dengan tanganku. Aku hanya tahu satu hal: jangan bergerak terlalu banyak, jangan bilang apa-apa yang salah, dan pegang payung itu setegak mungkin.

Dia menangis untuk Gilang di dadaku. Aku tahu itu. Aku tidak keberatan. Aku tidak akan pernah keberatan.


Seminggu kemudian, Si Kaldu sudah punya kandang, nama, dan kebiasaan mengikuti dia ke mana pun di halaman seperti anak ayam mengikuti induknya. Dodi mengirim foto Si Kaldu ke Mak. Mak membalas dengan pesan suara sepanjang dua menit yang isinya hanya omelan dan, di detik terakhir, tawa yang ditahan.

Minggu pagi itu, aku sedang memanggang roti di dapur, dan dia sedang menyiram tomat di halaman, dan Si Kaldu berkotek di kandangnya, dan dari radio dapur terdengar lagu lawas, dan matahari masuk lewat jendela, dan untuk satu saat yang terlalu sempurna, semuanya terasa seperti rumah yang sebenarnya.

Aku terlalu bahagia. Itu masalahnya. Kalau terlalu bahagia, aku lupa diri.

Dia masuk dari halaman, mencuci tangan di bak cuci piring, dan aku, sambil membalik roti, tanpa berpikir, dengan nada yang sama yang sudah enam tahun kupakai setiap pagi di layar ponsel lama:

“Kenapa padi selalu menunduk?”

Bunyi air dari keran berhenti.

Aku menoleh. Dia berdiri di depan bak cuci piring, tangan masih basah, membeku. Senyumnya, senyum sisa tawa yang sejak minggu lalu sering muncul di wajahnya, hilang.

Dia memandangku. Lama sekali. Dengan mata yang tidak bisa kubaca.

Aku tidak mengerti. Aku tidak tahu apa yang salah. Itu hanya tebak-tebakan. Tebak-tebakan jelek, seperti ratusan tebak-tebakan jelek lain yang sudah kuberikan padanya.

“Ra?” tanyaku pelan. “Kenapa?”

Dia tidak menjawab. Air menetes dari ujung jarinya ke lantai. Satu tetes. Dua tetes. Tiga.