Chapter Twenty Eight

Siapa yang Membayar Rumah Matahari

POV: Rania

Aku naik angkot ke Rumah Matahari pagi itu, sendirian. Ia menawarkan mengantar; aku menolak. Aku tidak tahu kenapa. Mungkin karena suara Tante di telepon semalam, yang menyebut suamimu dengan nada yang belum pernah kudengar, membuatku takut akan mendengar sesuatu yang tidak bisa kudengar di depannya.

Tante Ratna menungguku di ruang kerja Papa dengan mata bengkak dan setumpuk kertas di pangkuannya.

Aku belum pernah melihat Tante seperti ini. Tante yang selalu tegak. Tante yang sanggulnya tidak pernah miring, bahkan di pemakaman. Tante yang lidahnya bisa membekukan santan. Pagi itu sanggulnya setengah lepas, kacamatanya diletakkan di meja, dan di tangannya ada tisu yang sudah lecek.

“Duduk,” katanya.

Aku duduk di kursi Papa. Kursi kayu yang dudukannya cekung.

“Tante tidak bisa tidur dua minggu ini,” kata Tante. “Sejak Tante ke bank.”

“Ke bank? Kenapa?”

“Karena Tante penasaran.” Tante tertawa kecil, tawa yang pahit. “Rumah ini lunas bulan Agustus. Tante pikir itu keajaiban. Bank bilang dibayar pihak keluarga. Tante bukan. Kamu bukan. Asuransi Papamu tidak menanggung kredit seperti ini, Tante sudah cek. Jadi siapa?”

Aku diam. Di kepalaku, sebuah suara pelan: Prof memang orang yang selalu memikirkan semuanya. Ia tidak menjawab waktu itu. Aku baru menyadarinya sekarang. Ia tidak pernah bilang iya, asuransi. Ia hanya bilang sesuatu tentang Papa, dan membiarkan aku menyimpulkan sendiri.

“Tante minta salinan bukti setor. Pakai surat kuasa, pakai akta waris, pakai muka melas.” Tante menyodorkan selembar kertas. “Ini.”

Slip setoran. Tanggal awal Agustus. Jumlahnya membuat mataku berkunang-kunang.

Nama penyetor: Fajar Nugraha.

“Tante telusuri lagi,” lanjut Tante, suaranya mulai pecah. “Tante telepon ibunya. Ibunya Fajar. Bu Euis. Tante bilang Tante tantenya Rania, Tante cuma mau tahu uangnya dari mana. Tante kira Fajar pinjam rentenir. Tante kira dia terjerat utang. Tante kira…”

Ia berhenti. Menekan tisu ke matanya.

“Sawah, Rania. Dia jual sawah bapaknya. Di Cianjur. Setengah hektare. Warisan satu-satunya. Ibunya cerita sambil nangis di telepon. Katanya dulu almarhum suaminya mau Fajar bikin kebun benih di sana. Itu mimpinya dari kecil.”

Aku tidak bisa bergerak. Kertas itu bergetar di tanganku.

Bunga-bunganya belum panen.

Hari empat puluh Papa. Aku bilang biar saja rumah ini diambil bank. Ia berdiri di ambang pintu ruangan ini, memegang kursi lipat, dan bilang jangan dulu. Lalu ia pergi ke halaman, meletakkan tangan di batang bunga matahari Papa, dan bibirnya bergerak.

Seperti berjanji.

Ia sudah memutuskannya waktu itu. Mungkin jauh sebelum itu. Ia sudah memutuskan untuk menjual satu-satunya hal yang ia miliki dari bapaknya, untuk menyelamatkan satu-satunya hal yang aku miliki dari Papa. Dan ia tidak bilang apa-apa. Ia membiarkanku mengira asuransi. Ia membiarkanku berterima kasih pada Papa yang sudah meninggal.


“Bukan cuma itu,” kata Tante.

Aku mengangkat wajah.

“Vendor-vendor pernikahanmu. Gedung, katering, dekorasi, semuanya. Kamu pernah tanya Tante, siapa yang batalin. Tante bilang sudah beres.” Tante menggeleng. “Bukan Tante, Rania. Dia. Tante cuma kasih daftarnya. Dia telepon satu-satu, dari garasi rumah ini, tiga malam berturut-turut, sampai subuh. Enam belas vendor. Dia yang jelasin ke mereka kenapa pernikahanmu batal. Supaya kamu tidak perlu.”

Aku menutup mulut dengan tangan.

“Kebayamu masih di butik Bu Lilis. Tante tanya Bu Lilis minggu lalu. Sisa ongkosnya sudah lunas. Dia yang bayar. Katanya, simpan dulu, nanti kalau kamu sudah sanggup, kamu yang memutuskan.” Tante menarik napas yang gemetar. “Penghulu di ICU. Izin rumah sakit. Surat kematian papamu. Ambulans. Kamu cuma tanda tangan satu kertas, kan? Itu karena dia yang urus semuanya. Tante lihat sendiri. Tante cuma diam saja, karena Tante pikir…”

Tante tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia menangis. Tante Ratna, yang tidak pernah menangis di depan siapa pun selain di lantai lorong ICU pagi itu, menangis di kursi tamu ruang kerja Papa dengan tisu lecek di tangan.

“Tante maki-maki dia, Rania. Waktu tahlilan. Tante bilang dia mengincar rumah ini. Tante bilang Tante tidak bodoh. Waktu dia minta resep sup, Tante bilang dia potong wortel kayak potong kayu. Tante bilang dia orang Cianjur yang masak pakai timbangan. Sembilan bulan Tante awasi dia kayak awasi maling.” Tante tersedu. “Dan dia tidak pernah sekali pun mengadu ke kamu. Tidak pernah sekali pun membela diri. Dia cuma bilang terima kasih. Setiap kali Tante maki, dia bilang terima kasih.”

Aku berdiri. Kakiku gemetar. Aku berjalan ke jendela dan memandang halaman. Bunga-bunga matahari Papa sedang mekar lagi, musim kedua sejak Papa pergi. Tegak. Segar. Rumput di sela-selanya bersih.

Selang yang bocor di tengah masih di sana, tergulung rapi di dekat keran.

Aku turun ke halaman. Aku berjalan menyusuri barisan bunga matahari sampai ke batang yang paling tinggi, si sulung, yang di hari empat puluh Papa disentuh tangannya, dan bibirnya bergerak.

Batang yang sama sudah lama dipanen dan ditanam ulang. Ini generasi berikutnya, tumbuh dari biji si sulung yang lama. Tapi aku meletakkan telapak tanganku di batangnya, di tempat yang sama, dan memejamkan mata.

Apa yang kamu janjikan waktu itu, Mas?

Aku tahu jawabannya sekarang. Ia berjanji pada Papa. Pada bunga-bunga ini. Bahwa rumah ini tidak akan diambil siapa pun.

Dan ia menepatinya, dengan harga yang tidak pernah ia sebutkan.


Ia pulang dari lab pukul empat sore. Aku menunggunya di meja makan dengan slip setoran itu di depanku.

Ia melihatnya dari ambang pintu, dan wajahnya berubah. Bukan kaget. Bukan marah. Lelah, seperti orang yang sudah lama tahu hari ini akan datang.

Ia meletakkan tas punggungnya. Duduk di seberangku. Kedua tangannya terkatup di atas meja, seperti di pagi ketika aku meletakkan ponsel jadul dan handuk pink di tempat yang sama.

“Kamu jual sawah bapakmu,” kataku.

“Iya.”

Satu kata. Selalu satu kata. Ia tidak pernah berbohong padaku; ia hanya tidak pernah bicara.

“Buat bayar rumah Papa.”

“Iya.”

“Kenapa nggak bilang?”

Ia memandangiku lama. Di luar, Si Kaldu berkotek.

“Karena kamu akan merasa berutang,” katanya pelan. “Dan ini bukan utang.”

“Itu warisan bapakmu, Mas!” Suaraku pecah. “Itu mimpi kamu dari kecil! Mak bilang ke Tante! Kebun benih! Kamu mau bikin kebun benih di sana!”

“Kebunnya bisa nanti.”

“Kapan? Pakai apa? Sawahnya udah nggak ada!”

Ia tidak menjawab.

“Kenapa?” Aku tidak bisa berhenti. “Kenapa kamu lakuin semua ini? Vendor. Kebaya. Penghulu. Ambulans. Sawah. Kenapa?”

Ia memandang tangannya sendiri. Lalu, sangat pelan:

“Rumah itu tempat kamu tumbuh. Tempat Papa nulis jurnal tiga puluh tahun. Tempat Mama nanam bunga matahari pertama.” Ia diam sebentar. “Sawah bisa dibeli lagi. Rumah itu tidak.”

“Terus kamu punya apa sekarang?” tanyaku, dengan suara yang pecah. “Sawahnya nggak ada. Motornya kamu jual. Tabunganmu habis buat ponsel Gilang. Bibitmu kamu jual semua waktu aku sakit. Kamu punya apa, Mas?”

Ia berpikir. Ia benar-benar berpikir, seperti pertanyaan itu soal ujian yang harus dijawab dengan jujur.

“Si Siput,” katanya. “Si Kaldu. Kamu—“

Ia berhenti.

Aku berhenti bernapas.

“Kebun,” katanya cepat, terlalu cepat, matanya beralih ke jendela. “Kebun di halaman. Bibit yang baru. Itu maksudku.”

Ia tidak memandangku lagi. Telinganya merah sampai ke leher.

Kamu.

Ia tidak menyelesaikan kalimat itu. Ia tidak perlu. Aku mendengarnya. Seluruh tubuhku mendengarnya.

Aku menangis. Aku tidak bisa berhenti. Dan ia duduk di seberangku, tidak bergerak, tidak mencoba menyentuhku, hanya mendorong segelas air ke arahku di atas meja, pelan, dan menunggu.


Tante datang malam itu, membawa kue.

Kue bolu pandan, katanya, kue perdamaian. Bentuknya sempurna seperti semua kue Tante: bundar, hijau, permukaannya halus mengilap. Rasanya, seperti semua kue Tante, seperti spons cuci piring yang direndam air pandan.

Tante meletakkan kue itu di meja makan. Lalu, di depan kami berdua, Tante Ratna yang tegak, Tante Ratna yang lidahnya tajam, Tante Ratna yang sembilan bulan mengawasi laki-laki di depannya seperti mengawasi maling, membungkuk.

Membungkuk dalam-dalam, dari pinggang, seperti orang Jepang di film-film.

“Nak Fajar. Saya minta maaf.”

Ia berdiri dari kursinya dengan begitu cepat sampai kursi itu terjungkal ke belakang.

“Bu—Tante—jangan—Tante, berdiri—“

“Saya menuduh kamu mengincar rumah itu. Ternyata kamu yang menyelamatkannya.” Tante masih membungkuk. “Saya memaki kamu sembilan bulan. Kamu tidak pernah membalas sekali pun. Saya minta maaf.”

“Tante, tolong berdiri. Tante, saya… saya yang nggak enak—“

Ia mengulurkan tangan, ragu, tidak tahu apakah boleh menyentuh bahu Tante, lalu menariknya lagi, lalu mengulurkannya lagi. Wajahnya merah padam sampai ke leher. Ia kelihatan seperti orang yang lebih memilih dimaki seratus kali daripada dimintai maaf satu kali.

Akhirnya Tante menegakkan badan. Matanya basah, tapi sanggulnya sudah dirapikan lagi. Tante mengusap ujung matanya dengan sangat anggun, lalu menunjuk kue di meja.

“Makan,” perintahnya. “Itu kue perdamaian. Kalau tidak dimakan, perdamaiannya batal.”

Ia memotong sepotong besar. Memasukkannya ke mulut. Mengunyahnya.

Aku melihat wajahnya berubah. Sangat sedikit. Hanya otot di rahangnya yang menegang, dan matanya yang berkedip dua kali lebih cepat dari biasanya.

“Enak, Tante,” katanya.

Aku menendang kakinya di bawah meja.

Ia tidak menoleh. Ia memotong sepotong lagi. “Enak sekali, Tante.”

Aku menendang lebih keras.

“Boleh saya bawa sisanya ke lab, Tante? Buat teman-teman.”

Tante tersenyum. Senyum pertama Tante untuknya, senyum yang benar-benar senyum. “Bawa semua.” Lalu Tante menoleh padaku dengan alis terangkat. “Dan kamu, Rania. Berhenti nendang kaki suamimu. Tante lihat.”

Aku membeku. Ia tersedak bolu.

Setelah Tante pulang, aku menemukannya di dapur, minum tiga gelas air berturut-turut.

“Kamu nggak harus makan semuanya,” kataku.

“Kue perdamaian,” katanya, terengah. “Kalau nggak dimakan, perdamaiannya batal.”

Aku tertawa sampai harus duduk di lantai dapur. Ia memandangiku dari atas, gelas air di tangan, bibir masih sedikit hijau oleh pandan. Lalu ia ikut duduk di lantai, di sampingku, punggung menempel ke pintu lemari dapur. Kami duduk di sana lama, tidak bicara, sampai tawaku habis dan yang tersisa hanya napas kami yang pelan.


Malam itu buku biru terasa terlalu kecil.

30. Dia jual sawah bapaknya. Setengah hektare. Mimpinya dari kecil. Buat bayar utang rumah Papa.

31. Dia biarin aku ngira asuransi Papa.

32. Dia batalin enam belas vendor. Dari garasi. Tiga malam. Sampai subuh.

33. Kebayaku masih di butik Bu Lilis. Dia yang bayar sisanya. “Nanti dia yang memutuskan.”

34. Penghulu, izin ICU, surat kematian Papa, ambulans. Aku cuma tanda tangan satu kertas.

35. Tante maki dia sembilan bulan. Dia nggak pernah ngadu. Dia bilang terima kasih.

Aku berhenti menulis. Tanganku gemetar terlalu keras. Aku menutup buku itu dan duduk lama sekali di meja di bawah jendela, memandangi dua belas batang bunga matahari muda di luar, yang ia tanam lagi bulan lalu dari benih panen pertama. Mereka baru setinggi lutut. Menoleh ke arah jendela.

Malam itu, di kasur, Guling Perbatasan masih di lantai. Ia berbaring menghadap pintu, seperti penjaga. Aku berbaring di sisiku, memandangi punggungnya.

“Mas,” bisikku.

“Hm?”

“Antar aku ke Cianjur.”

Ia membalik badan. Dalam cahaya samar dari lorong, aku melihat wajahnya yang bingung.

“Aku mau lihat sawahnya,” kataku.