Chapter Seven

Frekuensi 98,7

POV: Fajar

Aku bangun pukul setengah lima setiap pagi.

Bukan karena alarm. Tubuhku sudah terbiasa sejak kecil, sejak Bapak membangunkanku dengan menggoyang ujung kakiku untuk ikut ke sawah sebelum embun kering. Sekarang alasannya lain, tapi tubuhku tidak tahu bedanya.

Menanak nasi. Nasiku sudah tidak keras lagi sejak hari ketiga; ternyata rice cooker tua di rumah ini butuh air satu ruas jari lebih banyak dari garis di panci. Menggoreng lauk. Merebus sayur. Mengisi termos sampai penuh. Menyeduh teh dengan air mendidih, lalu menambahkan sedikit air dingin, sampai hangatnya pas di punggung tanganku.

Lalu aku menyiapkan meja makan. Dua piring, dua sendok, dua gelas. Satu untukku. Satu untuk kalau-kalau.

Dodi, yang tiga hari terakhir menginap dengan alasan “membantu”, memandangi meja itu sambil menggaruk perut. “Dia kan nggak keluar, Jar.”

“Iya.”

“Terus ngapain piringnya dua?”

“Kalau-kalau.”

“Kalau-kalau apa?”

Aku tidak menjawab. Siang nanti piring itu akan kucuci lagi, walaupun tidak kotor, dan besok pagi kuletakkan lagi di tempat yang sama.

Pukul enam kurang lima aku membawa nampan ke depan pintu kamarnya, meletakkannya di bangku, dan mengetuk tiga kali. Tidak lebih, supaya tidak terdengar memaksa. Tidak kurang, supaya dia tahu itu aku. Lalu aku pergi. Aku tidak pernah menunggu di depan pintu setelah mengetuk. Tidak ada orang yang mau membuka pintu kalau tahu ada yang menunggu di baliknya.

Pukul tujuh aku berangkat ke lab. Pukul dua belas aku pulang sebentar untuk melihat nampan. Teh habis setengah. Nasi utuh. Aku mencatatnya di kepala, seperti mencatat daya kecambah benih: hari ini sekian persen, besok semoga lebih.

Di lab, meja Prof masih seperti terakhir kali ia tinggalkan. Cangkir bergambar ayam jago dengan ampas kopi yang sudah mengerak. Kalender meja yang berhenti di bulan Juni. Mahasiswa-mahasiswa yang lewat menepuk bahuku tanpa kata, dan aku membalas dengan anggukan yang sama setiap kali.

Riset terakhir Prof ada di lemari pendingin: tiga puluh dua amplop kertas berisi biji bunga matahari dari berbagai tahun panen, masing-masing berlabel tulisan tangannya yang miring. H. annuus, Rumah Matahari, 1998. H. annuus, Rumah Matahari, 2003. Pertanyaannya sederhana dan keras kepala, seperti Prof sendiri: berapa lama benih bisa tidur sebelum ia benar-benar mati? Dan bisakah benih yang tidur terlalu lama dibangunkan lagi?

Aku menyiapkan cawan-cawan petri baru. Mengamplas kulit biji dengan kertas pasir halus, satu per satu. Merendamnya dalam larutan hormon dengan konsentrasi yang Prof tulis di buku catatannya. Pekerjaan yang membosankan dan butuh kesabaran. Aku pandai dalam hal itu.


Radio tua di ruang kerjaku peninggalan Bapak. Kotak kayu cokelat dengan kenop yang harus diputar sambil dipukul pelan, antenanya disambung kawat jemuran. Jarumnya tidak pernah pindah dari angka yang sama sejak enam tahun lalu.

Sembilan delapan koma tujuh.

Sudah lebih dari seminggu Pagi Riang dibawakan Kiki sendirian. Kiki berusaha keras. Ia membacakan ucapan pendengar, memutar lagu, tertawa di tempat-tempat yang tepat. Tapi setiap pagi ada jeda kecil setelah ia membuka siaran, sepersekian detik, seolah ia masih menunggu suara lain menyambung kalimatnya.

Separuh kota ini mendengar jeda itu. Aku salah satunya.

Enam tahun lalu, pada sore yang hujan, aku datang ke Rumah Matahari untuk mengantar berkas Prof. Aku basah kuyup dari ujung rambut sampai ujung kaus kaki. Pintu dibuka seorang perempuan dua puluh tahun dengan kaus kebesaran dan rambut diikat asal. Ia melemparkan handuk pink berlogo Swara Pakuan ke arahku dan tertawa, keras, jelek, indah.

“Mas kayak kucing kecemplung got.”

Aku tidak pernah mengembalikan handuk itu. Sampai sekarang handuk itu ada di lemariku, terlipat di rak paling atas, sudah pudar karena terlalu sering dicuci, tapi logonya masih terbaca.

Malam itu, di kamar kos, aku menyalakan radio dan mendengar suaranya di udara untuk pertama kali. Jam siaran sepi. Ia membacakan kabar lalu lintas dengan suara mengantuk dan meminta pendengar mengirim apa saja. Apa saja, Bogor. Temani aku. Aku kesepian di studio. Aku memandangi ponselku lama sekali. Lalu aku mengetik lelucon paling bodoh yang pernah terpikir olehku.

Kenapa padi selalu menunduk? Karena lagi cari sinyal.

Ia membacanya tiga kali di udara, tertawa sampai terbatuk, dan memberinya nilai satu dari sepuluh. Aku tertawa sendirian di kamar kos sampai tetangga sebelah menggedor dinding.

Aku menulis nama pengirim Pak Tani karena hanya itu yang terpikir. Aku memang anak petani. Dan aku tidak pernah cukup berani untuk menulis namaku sendiri.

Sejak itu, setiap pagi, selama enam tahun: satu request lagu lawas dan satu lelucon. Hanya itu yang kuberikan. Hanya itu yang berani kuberikan. Di folder draf ponsel lama itu ada pesan-pesan lain, pesan-pesan yang dimulai dengan Mbak, sebenarnya saya… dan tidak pernah selesai. Tidak satu pun pernah kukirim.

Jumat itu aku mengirim SMS terakhir. Dia akan menikah dengan laki-laki yang baik. Pendengar radio tidak punya tempat di rumah tangga orang. Setelah lagunya diputar, aku mematikan ponsel itu, mencabut kartunya, dan menyimpannya di laci paling bawah, di samping kotak biru.

Kupikir aku sedang melepaskannya. Aku tidak tahu, pagi itu, bahwa sore harinya dunia akan runtuh, dan bahwa sehari kemudian aku akan berdiri di depan penghulu, mengucapkan namanya dalam satu tarikan napas.

Aku hafal nama itu. Sudah enam tahun aku hafal.


Hari keempat, tahlilan tujuh hari Prof.

Pagi itu aku menulis di catatan bahwa aku akan menunggu sampai jam empat. Lalu aku duduk di kursi ruang tengah dengan kunci mobil di tangan, menghadap lorong, dan menunggu.

Jam tiga. Jam setengah empat. Jam empat.

Aku menunggu tujuh menit lagi, untuk berjaga-jaga. Kalau-kalau jam di ruang tengah terlalu cepat. Kalau-kalau dia sedang memakai kerudung. Kalau-kalau.

Pintu itu tidak terbuka. Tidak ada ketukan dua kali.

Aku berangkat sendirian. Di Rumah Matahari, setelah tamu-tamu pulang dan Tante Ratna sibuk membungkus rendang, aku keluar ke halaman. Bunga-bunga matahari Prof merunduk, tanahnya retak di sana-sini. Seminggu tidak ada yang menyiram. Aku menyambung selang yang bocor di tengah dan menyiram semuanya, barisan demi barisan, sampai langit gelap dan nyamuk-nyamuk berpesta di betisku.

Sebelum pulang, aku berdiri di depan barisan itu dan memutuskan sesuatu. Jumat kemarin, tepat seminggu setelah Gilang pergi, aku memotong satu tangkai dari sini untuk nampannya. Aku akan melakukannya setiap Jumat. Jumat tidak boleh hanya menjadi hari itu. Jumat juga harus menjadi hari bunga.


Kiki membuka siaran hari Senin dengan pengumuman yang membuatku berhenti mengaduk teh. Sejak pagi ketiga, aku mendengarkan dengan earphone; aku baru sadar suara radio tua itu tembus sampai ke kamarnya.

“Pak Bonar bilang, kalau sampai Agustus belum ada kabar, slot ini bakal diisi penyiar baru.” Suara Kiki naik setengah nada. “Gue nggak setuju. Gue mau demo. Gue udah bikin spanduk. Spanduknya jelek, tapi niatnya bagus.”

Siang itu aku tidak pulang untuk melihat nampan. Aku pergi ke Jalan Pajajaran.

Studio Swara Pakuan lebih kecil dari bayanganku. Dindingnya penuh poster artis yang sudah lama tidak terkenal, dan ruang tunggunya berbau kopi sachet. Pak Bonar keluar dari ruangannya, dan badannya memang sebesar lemari, persis seperti yang pernah dia katakan di udara.

“Kau siapa?”

“Fajar, Pak. Suaminya Rania.”

Pak Bonar menatapku. Lalu matanya membesar. “Suaminya? Yang nikah di ICU itu? Satu Bogor sudah tahu, Lae! Tukang parkir depan pun cerita!”

“Saya tidak bisa janji kapan dia kembali, Pak. Mungkin lama sekali. Mungkin dia tidak kembali sama sekali.” Aku menelan ludah. “Tapi tolong. Jangan berikan kursinya ke orang lain. Kalau suatu hari dia siap, dia butuh tempat untuk pulang.”

Pak Bonar diam. Lalu ia melepas kacamatanya dan mengusap mata dengan ujung dasi.

“Kau tahu sudah berapa kali aku menangis bulan ini?”

“Tidak, Pak.”

“Empat. Ini lima.” Ia memakai kacamatanya lagi dan menepuk bahuku keras sekali, sampai aku terhuyung. “Kursi itu tidak kuberikan ke siapa pun. Kalau direktur tanya, kubilang kursinya rusak.”

Di pintu keluar, seseorang mencegatku. Perempuan berambut pendek dengan mata sembap dan kaus bertuliskan PAGI RIANG.

“Lo Fajar.” Itu bukan pertanyaan. “Gue Kiki. Gimana dia?”

Aku menceritakan yang bisa kuceritakan. Teh setengah gelas. Nasi utuh. Kiki mendengarkan dengan bibir gemetar.

“Gue nggak boleh ke sana, ya?”

“Belum. Tapi saya kabari kamu tiap Minggu. Boleh?”

Minggu malamnya aku mengirim laporan pertama.

Hari ini minum teh satu gelas penuh. Makan dua sendok nasi. Tidak menangis jam dua.

Balasan Kiki datang dalam tiga detik: lima belas emoji menangis, lalu makasih, fajar. lo aneh. tapi makasih.


Dodi menemukanku di malam ketiga dia menginap.

Ia terbangun karena haus, keluar ke lorong dengan sarung melorot, dan hampir menginjakku. Aku tidur di atas tikar pandan tipis di lantai depan pintu kamar utama, berselimut sarung, berbantal jaket yang digulung.

“Jar.” Dodi berbisik keras. “Lo ngapain?”

“Tidur.”

“Lo punya kamar.”

“Dia nangis tiap jam dua.”

Dodi memandangiku lama sekali dalam gelap. “Lo tidur di lantai depan pintu kayak satpam kos.”

“Pelan, Dod.”

“Terus kenapa lo nggak pakai sandal? Lantai ini dingin banget.”

“Sandalku bunyi.”

Itu benar. Lantai rumah ini tegel tua, dan sandal jepitku berbunyi plak-plak di setiap langkah. Sejak malam pertama, setiap lewat pukul sembilan, aku melepasnya.

Malam-malam di tikar itu aku tidak banyak tidur. Aku mendengarkan. Kapan tangisnya mulai, kapan berhenti, kapan napasnya berubah teratur. Kalau tangisnya terlalu lama, aku membaca buku dengan senter kecil dan membalik halamannya pelan-pelan, supaya ada yang terjaga bersamanya, walaupun dia tidak tahu.

Dodi tidak bertanya lagi. Ia kembali ke ruang kerjaku, dan malam itu dengkurnya lebih pelan dari biasanya. Esok paginya ia bangun lebih dulu dariku, dan untuk pertama kalinya dalam delapan tahun persahabatan kami, ia mencuci piringnya sendiri.

Sorenya ia pulang ke kos karena dosen pembimbingnya mengembalikan tesisnya untuk revisi kesebelas. “Kesebelas, Jar,” katanya di pintu, dengan wajah orang yang baru ditinggal kawin. “Gue udah nggak tahu lagi bedanya revisi sama hukuman.”


Surel itu datang di hari kesembilan, pukul sebelas malam, saat aku sedang menyalin catatan lapangan Prof.

Wageningen University & Research. Aku diterima di program doktoral. Beasiswa penuh. Berangkat September. Di bagian bawah, calon promotorku menambahkan satu kalimat: surat rekomendasi Profesor Hartono adalah yang terkuat yang mereka terima dalam bertahun-tahun.

Prof menulis surat itu tiga bulan lalu. Ia tidak pernah bilang isinya.

Aku membalas dengan satu kalimat. Dengan berat hati, saya mengundurkan diri.

Lalu aku menekan tombol kirim dan duduk lama sekali memandangi layar, sampai kokok ayam tetangga mengingatkanku bahwa beras untuk besok belum dicuci.

Besok pagi, cawan-cawan petri di lab akan menunggu. Biji-biji tua Prof yang belum mau bangun. Aku akan memeriksanya lagi, seperti setiap pagi, dan mencatat angka nol yang sama dengan sabar. Itu satu-satunya hal yang masih bisa kulakukan untuknya.

Aku pernah hampir bicara pada Prof tentang sesuatu. Sekali. Hanya sekali. Setelah itu aku belajar diam, dan ternyata aku pandai melakukannya.

Enam tahun aku mendengarkan seorang perempuan tertawa setiap pagi, dan tidak pernah sekali pun berani mengatakan apa artinya tawa itu bagiku. Sekarang dia tinggal di balik satu pintu, di rumahku sendiri, dan dia tidak tertawa lagi. Aku masih tidak berani mengatakannya. Bedanya, sekarang aku tahu aku memang tidak boleh.


Hari kedua belas, aku pulang siang seperti biasa.

Nampan di bangku depan pintu. Teh habis. Itu sudah biasa sekarang. Tapi di piring, di gundukan nasi yang setiap hari kembali utuh dan setiap hari kubuang dengan perasaan yang sama, ada cekungan kecil bekas sendok.

Tiga suap. Mungkin empat.

Aku membawa nampan itu ke dapur, meletakkannya di meja, lalu duduk di lantai, bersandar ke kaki meja, memandangi cekungan kecil itu seperti memandangi kecambah pertama yang menembus tanah.