Chapter Thirty Five

Jurnal Kebun

POV: Rania

Papa bilang aku boleh membaca Jurnal Kebun kalau sudah tua.

Aku belum tua. Tapi setahun ini aku merasa sudah hidup tiga kali. Dan tanggal delapan Juni, tujuh hari sebelum setahun Papa pergi, aku duduk di lantai loteng Rumah Matahari dengan jurnal itu di pangkuan, dan membukanya.

Loteng itu berdebu dan pengap, penuh kardus-kardus barang lama yang tidak pernah dibuang Papa. Aku membawa jurnal itu ke sana dari ruang kerja karena entah kenapa aku tidak sanggup membacanya di kursi Papa. Terlalu dekat. Di loteng, di antara kotak-kotak mainan masa kecilku dan kebaya Mama yang terlipat di kardus, terasa lebih aman.

Sampul kulitnya dingin dan halus. Halaman pertamanya sudah kuning.

Tulisan tangan Papa. Lebih muda. Lebih rapi. Bertahun tiga puluh tiga tahun lalu.

Hari ini Laras menanam biji yang kuberikan di pot depan kosnya. Ia tidak tahu itu dariku; kutitipkan lewat temannya. Aku tidak tahu apakah akan tumbuh. Aku tidak tahu apakah ia akan pernah memandangku. Tapi aku akan menunggu.

Aku menutup mulut dengan tangan. Papa. Papa yang pendiam. Papa yang menunggu dengan sabar.


Aku membaca semuanya. Pelan. Halaman demi halaman. Jam demi jam.

Bunga pertama Mama mekar. Ia memandangku hari ini. Sungguh-sungguh memandang. Bunga itu sebesar wajahnya.

Pernikahan mereka. Rumah ini, yang Papa beli dengan semua tabungannya. Bunga matahari pertama di halaman.

Kelahiranku. Anak perempuan. Tiga kilo dua ons. Ia menangis keras sekali, seperti kambing. Laras bilang itu dariku. Aku bilang itu darinya. Kami tertawa sampai perawat menegur.

Aku tertawa, dan air mataku jatuh ke halaman itu. Aku buru-buru mengelapnya dengan ujung baju.

Mama sakit. Mama di rumah sakit. Halaman-halaman yang tulisannya makin pendek, makin miring, makin tidak beraturan.

Lalu satu halaman yang hanya berisi satu baris:

Laras pergi pukul 03.20. Neng memegang tangannya.

Lalu halaman-halaman kosong. Berbulan-bulan. Lalu tulisan Papa kembali, lebih tua, lebih berat:

Neng tertawa pagi ini. Keras. Karena kartun di televisi. Aku ikut tertawa di dapur. Pertama kali sejak Laras. Kurasa anak ini sedang menyelamatkanku.

Aku memeluk jurnal itu dan menangis lama, di loteng yang berdebu, di antara kebaya Mama dan kotak-kotak mainan masa kecilku.


Aku membaca lebih jauh.

Tahun-tahun berganti. Catatan tentang bunga, tentang hama, tentang cuaca. Tentang aku: masuk SMA, lulus kuliah, mulai siaran di radio. Neng siaran pertama malam ini. Suaranya gemetar. Aku mendengarkan dari ruang kerja sampai jam dua belas. Tidak tidur.

Lalu, beberapa bulan setelah hari handuk:

Fajar ditawari kerja di perusahaan benih di Jakarta. Gajinya tiga kali gaji asisten. Ia menolak. Katanya mau meneruskan riset dormansi bersamaku. Aku bilang ia bodoh. Ia bilang, “Iya, Prof.” Lalu ia tetap tidak berangkat. Aku curiga alasannya bukan dormansi.

Lalu, enam tahun lalu. Bulan Maret. Hujan.

Fajar datang mengantar berkas. Basah kuyup. Neng melempar handuk dan bilang ia seperti kucing kecemplung got. Neng sudah lupa lima menit kemudian. Anak itu tidak. Ia berdiri di teras memegang handuk itu seperti baru diberi hadiah. Aku curiga.

Aku berhenti bernapas.

Aku curiga. Papa melihatnya. Enam tahun lalu, di teras ini, Papa melihat seorang mahasiswa basah kuyup memegang handuk pink seperti memegang sesuatu yang berharga. Dan Papa tahu.

Halaman-halaman berikutnya, nama itu muncul lebih sering.

Fajar memperbaiki talang di atas jendela kamar Neng. Tidak ada yang menyuruh. Aku bertanya kenapa. Ia bilang kemarin hujan dan ia lihat ada ember di bawah jendela.

Fajar memperbaiki talang yang sama. Lagi. Kena dahan rambutan yang patah. Ia naik ke genteng sebelum aku sempat memanggil tukang.

Aku membalik halaman. Tiga tahun kemudian.

Talang kamar Neng bocor lagi. Fajar naik lagi. Ketiga kalinya dalam empat tahun. Neng tidak pernah tahu. Neng memanggilnya Farid.

Aku tertawa dan menangis sekaligus, dan tidak bisa membedakan mana yang mana.

Ada satu halaman lagi, tiga tahun lalu, yang tulisannya pendek:

Neng bilang Gilang akan melamar bulan depan. Aku menceritakannya pada Fajar di lab. Ia tersenyum dan bilang, “Syukurlah, Prof. Gilang orang baik.” Lalu ia pamit pulang lebih cepat. Katanya ada bibit yang harus disiram. Hari itu tidak ada bibit yang harus disiram.

Aku memandangi kalimat terakhir itu sampai hurufnya kabur.


Lalu aku menemukan halaman tentang rumah ini.

Tulisannya lebih baru. Tahun lalu. Januari. Tinta yang sedikit bergetar.

Kardiolog di Jakarta bilang jantungku tidak bagus. Aku tidak akan bilang Neng. Ia sedang bahagia. Ia akan menikah bulan Juni dengan anak baik yang selalu telat.

Aku menggadaikan rumah ini hari ini. Untuk pesta Neng. Ratna akan marah kalau tahu. Biar.

Rumah ini dibangun untuk melihat dia bahagia. Biar.

Aku menekan halaman itu ke dadaku.

Biar.

Papa menggadaikan rumah tempat ia menulis jurnal ini selama tiga puluh tahun. Untuk satu hari. Untuk melihatku bahagia satu hari. Dan hari itu tidak pernah datang.

Tapi seseorang menebusnya. Dengan sawah bapaknya sendiri. Dan sekarang rumah ini atas namaku, dan aku duduk di lotengnya, membaca biar Papa, dengan tangan yang gemetar.


Aku membalik ke halaman-halaman yang lebih awal lagi. Empat tahun lalu. Aku mencari sesuatu yang tidak kutahu apa.

Lalu aku menemukannya.

Satu halaman penuh. Tulisan Papa rapi, lebih rapi dari biasanya, seperti ia menulisnya dengan sangat hati-hati.

Halaman itu dibuka dengan satu nama.

Fajar.

Lalu, di bawahnya:

Anak itu datang hari ini membawa kotak cincin.

Aku berhenti.

Tanganku gemetar terlalu keras. Aku memandangi kalimat itu, dan kalimat-kalimat di bawahnya yang tidak berani kubaca, dan ingatan-ingatan di kepalaku mulai bergerak sendiri. Empat tahun lalu. Bulan apa? Hari apa? Aku tidak tahu. Empat tahun lalu adalah tahun aku pertama kali membawa Gilang ke rumah ini.

Kotak cincin.

Cincin perak di jariku. Ukiran tanggal handuk di baliknya. Kotak kecil warna biru yang Dodi ambil dari laci di malam akad. Kotak yang itu? Yang lo simpen dari—

Aku menutup jurnal itu.

Bukan karena takut. Karena aku tidak mau membaca ini dari jurnal Papa. Aku tidak mau menemukannya dari laci, dari lemari, dari orang lain, seperti semua hal lain yang kutemukan tentang dia setahun ini.

Aku mau mendengarnya dari dia.

Aku menyelipkan selembar daun bunga matahari kering di halaman itu, sebagai penanda, dan menutup jurnal pelan-pelan. Di luar jendela loteng, hujan mulai turun. Hujan Bogor, tepat pukul tiga, tidak pernah ingkar janji.

Aku mau, untuk pertama kalinya dalam pernikahan ini, bertanya. Bukan mencari. Bertanya. Dan menunggu jawabannya.


Aku menghabiskan dua hari berikutnya di Rumah Matahari, menyelesaikan kebun di halaman belakang bersama Tante, Pak Jaja, dan Dodi. Rangka rumah kaca kecil sudah berdiri. Papan KEBUN BENIH DUA BAPAK sudah dicat, menunggu dipasang. Dodi masih bertingkah aneh. Ia memandangku seperti orang yang mau mengatakan sesuatu, lalu memalingkan wajah dan sibuk dengan obeng.

Malam di buku biru yang baru:

40. Dia jaga kursi siaranku. Bulan Juni tahun lalu. Waktu aku masih di kamar. Pak Bonar yang bilang.

41. Dua belas bunga matahari di bawah jendelaku nggak kebetulan. Dia tanam di sebelah barat. Biar mereka menghadap aku.

42. Dia naik ke genteng Rumah Matahari tiga kali dalam empat tahun buat benerin talang kamarku. Aku manggil dia Farid.

43. Papa curiga dari hari handuk.

Tanggal sepuluh Juni, sore hari, langit Bogor menghitam lagi.

Prakiraan cuaca bilang badai. Lebih besar dari yang di bulan Mei. Aku mengirim pesan padanya. Mas, di mana?

Kali ini balasannya datang dalam satu menit. Di rumah kaca, Ra. Atapnya belum diperbaiki kampus. Aku amankan benih Papa dulu. Pulang malam. Baterai 80%.

Aku tersenyum melihat angka itu. Ia belajar. Setahun, dan akhirnya ia ingat mengecas ponselnya sendiri.

Aku memandangi Jurnal Kebun di pangkuanku. Halaman empat tahun lalu, ditandai dengan selembar daun bunga matahari kering.

Aku tidak mau menunggu sampai ia pulang. Aku tidak mau menunggu sampai tanggal empat belas. Aku sudah menunggu terlalu lama untuk banyak hal.

Aku membungkus jurnal itu dengan plastik, dua lapis, dan memasukkannya ke tas.


Ojek yang kupesan datang pukul tujuh malam, dalam hujan yang mulai deras. Pengemudinya laki-laki paruh baya dengan jas hujan biru dan helm yang retak di pinggir.

“Kampus pertanian, Pak. Dramaga. Rumah kaca riset.”

Ia menoleh padaku. Membeku. Memandangiku lama dari balik kaca helm yang berembun.

“Mbak…” Suaranya bergetar. “Mbak Rania? Pagi Riang?“

Aku mengangguk.

“Ya Allah.” Ia melepas helmnya, di tengah hujan, dan memandangku seperti memandang hantu yang ramah. “Saya Ujang, Mbak. Kang Ujang. Saya dengerin Mbak tiap pagi dari tahun pertama. Tiap pagi, Mbak, di pangkalan ojek Baranangsiang. Saya yang dulu minta jatah nasi kotak waktu Mbak mau nikah.” Ia mengusap matanya dengan punggung tangan yang basah. “Saya nangis waktu Mbak berhenti siaran. Sumpah, Mbak. Istri saya sampai ngetawain.”

“Makasih, Kang,” kataku. Suaraku serak. “Makasih udah dengerin.”

Kang Ujang memakai helmnya lagi, menegakkan punggung, dan memegang setang motor dengan dua tangan seperti memegang sesuatu yang sangat berharga.

“Saya bawa pelan-pelan, Mbak,” katanya. “Pelan banget. Mbak penumpang paling penting yang pernah saya bawa.”

Ia membawaku menembus badai dengan kecepatan dua puluh lima kilometer per jam. Pelan. Sangat pelan. Diklakson angkot, disalip motor-motor lain, dimaki sopir truk. Kang Ujang tidak peduli. Setiap kali melewati lubang, ia memperlambat lagi dan menoleh ke belakang. “Aman, Mbak?”

Aku memeluk tas berisi jurnal Papa dan tersenyum di balik masker yang basah. Di setiap lampu merah, Kang Ujang bercerita tentang segmen-segmen favoritnya. Kabar Kota hari Selasa. Lagu Lawas hari Kamis. Lelucon-lelucon Pak Tani yang garing.

“Pak Tani ke mana, ya, Mbak?” tanyanya di lampu merah terakhir. “Udah setahun nggak ada. Saya kangen leluconnya. Jelek, tapi kangen.”

“Pak Tani baik-baik aja, Kang,” kataku. “Dia ada di dekat sini.”

Ada dua laki-laki di kota ini yang menyetir pelan untukku. Aku baru tahu malam ini.


Rumah kaca riset berdiri di ujung kompleks fakultas, terpisah dari gedung-gedung lain, dikelilingi pohon-pohon besar yang dahannya menari ditiup angin. Dindingnya kaca dan plastik tebal. Atapnya, di dua tempat, ditambal terpal biru yang berkibar.

Lampu di dalamnya menyala. Ungu dan merah, lampu tanam.

Kang Ujang menurunkanku di depan pintu dan menolak dibayar. “Simpen aja, Mbak. Bayar pakai siaran lagi, ya. Suatu hari.”

Aku berdiri di bawah atap kecil di depan pintu rumah kaca, basah, memeluk tas, dan memandang ke dalam lewat dinding kaca yang berembun.

Ia di sana.

Duduk di meja kerja panjang di tengah rumah kaca, di bawah lampu tanam ungu, dengan Kotak Benih Papa terbuka di depannya. Ia sedang mencatat sesuatu di buku besar. Amplop demi amplop. Mengangkatnya ke cahaya, membaca label tulisan tangan Papa, mencatatnya, meletakkannya kembali dengan sangat hati-hati. Rambutnya masih miring di sebelah kiri, bekas guntinganku. Jaket abu-abu jahitan Mak tersampir di bahunya.

Di pojok ruangan, di samping rak paling atas, sebuah pemanas tua berdengung.

Lampu tanam di atas kepalanya berkedip. Sekali. Lalu sekali lagi.