Chapter Thirty Eight

Untuk Pak Tani

POV: Rania

Fajar.

Anak itu datang hari ini membawa kotak cincin.

Kotak kecil warna biru. Ia meletakkannya di meja kerjaku dan duduk di kursi di depanku dengan punggung tegak seperti mau sidang skripsi. Ia bilang, dengan suara yang gemetar, bahwa ia ingin meminta izinku untuk mendekati Neng. Bukan melamar. Belum. Hanya mendekati. Ia bilang ia tahu ia tidak punya apa-apa. Ia bilang ia anak petani dan gajinya kecil. Ia bilang ia akan bekerja lebih keras.

Di dalam kotak itu ada cincin perak polos. Di baliknya ia mengukir tanggal. Tanggal hari Neng melempar handuk padanya. Dua tahun lalu. Dan sebuah bunga matahari kecil.

Aku belum sempat menjawab ketika Neng pulang.

Neng tidak sendirian. Ia membawa seorang laki-laki muda yang tertawa keras, yang memuji bunga-bunga di halaman, yang bilang ia insinyur dan terlambat karena menolong kucing. Gilang. Neng memperkenalkannya padaku di teras dengan wajah yang belum pernah kulihat. Wajah perempuan yang sedang jatuh cinta.

Fajar melihat mereka dari jendela ruang kerja. Neng dan Gilang berdiri di antara bunga matahari, tertawa. Neng tertawa keras, seperti kambing keselek, seperti biasa. Gilang memandanginya seperti orang yang baru menang undian.

Fajar memandangi mereka lama. Lalu ia menutup kotak itu dan memasukkannya ke saku.

“Tidak jadi, Prof,” katanya. “Dia sudah bahagia. Itu cukup.”

Ia memintaku berjanji untuk tidak pernah menceritakan ini pada Neng. Tidak sekarang, tidak nanti. Ia bilang ia tidak mau Neng merasa bersalah karena bahagia. Aku berjanji.

Lalu ia pulang lewat pintu belakang, supaya tidak perlu melewati teras.

Aku duduk lama di ruang kerja setelah itu. Aku sudah mengenal anak itu empat tahun. Aku tahu ia akan menepati janjinya untuk diam. Aku tahu ia akan tetap datang setiap minggu, tetap membawa berkas, tetap memperbaiki talang di atas jendela kamar Neng tanpa diminta. Aku tahu ia tidak akan pernah meminta apa-apa lagi.

Kalau suatu hari aku harus memilih siapa yang menjaga putriku, aku akan memilih anak itu.

Bukan karena ia mencintai Rania.

Tapi karena ia sanggup mencintai Rania tanpa perlu Rania tahu.


Aku menutup jurnal itu.

Lalu aku membukanya lagi dan membacanya sekali lagi, karena aku tidak percaya. Lalu sekali lagi.

Lalu aku memandangi tanganku. Jari manis kiri. Cincin perak polos yang longgar, yang setahun ini berputar terlalu mudah, yang jatuh ke saluran wastafel, yang ukiran di baliknya baru kutemukan bulan Maret.

09 · 03 · 20.

Bukan dibeli di malam akad. Bukan dibeli setelah Papa memintanya menikahiku.

Empat tahun lalu.

Empat tahun ia menyimpan cincin ini di laci paling bawah, di dalam kotak biru, di samping ponsel jadul berisi empat puluh tujuh draf yang tidak pernah terkirim. Empat tahun ia menyimpannya sambil melihatku jatuh cinta pada orang lain. Sambil mendengarkan aku tertawa di radio setiap pagi. Sambil memperbaiki talang kamarku. Sambil bilang syukurlah, Prof, Gilang orang baik dan pulang lebih cepat karena bibit yang tidak perlu disiram.

Dan di malam akad, di ICU, ketika Papa memintanya, ia menyuruh Dodi mengambil kotak itu dari laci.

Kotak yang itu? Yang lo simpen dari—

Iya. Yang itu.

Ia memasangkannya di jariku dengan sangat hati-hati, seolah jariku terbuat dari kaca. Cincin yang ia beli untukku empat tahun sebelumnya. Dan cincin itu longgar, dan ia minta maaf, dan aku tidak tahu.

Aku memeluk jurnal Papa yang hangus di pinggir, di lorong ICU pukul satu dini hari, dan menangis sampai Pak Asep datang lagi dengan tisu, dan Mak terbangun dari kursi lipat dan memelukku tanpa bertanya apa-apa.


Pukul empat pagi, aku berdiri.

Mak memandangku dari kursi lipat. “Ka mana, Neng?” Mau ke mana?

“Siaran, Mak.”

Mak memandangku lama. Lalu ia mengangguk, seperti mengerti sesuatu yang tidak kujelaskan.

Dodi mengantarku ke tempat parkir. Di tangannya ada radio tua. Kotak kayu cokelat dengan kenop besar dan antena yang disambung kawat jemuran. Ia mengambilnya dari ruang kerja di Ciapus semalam, menembus sisa badai dengan motor.

“Gue udah izin perawat,” katanya. “Volume pelan. Taruh di samping ranjang. Katanya pasien yang dibius kadang masih bisa dengar.” Dodi memandang radio itu. “Jarumnya nggak usah diputer, Mbak. Udah di situ dari enam tahun lalu.”

98,7.


Studio Swara Pakuan pukul lima pagi masih gelap.

Pak Bonar sudah di sana. Ia membuka pintu untukku dengan mata merah dan kemeja yang kancingnya salah. Kiki di belakangnya, memeluk termos kopi, wajahnya sembap. Mereka tidak bertanya apa-apa. Mereka sudah tahu semuanya dari Dodi.

Kursiku masih di sana.

Kursi kain berwarna biru tua dengan busa yang mulai mengempis di satu sisi. Ada stiker kecil di sandarannya, stiker bunga matahari yang kutempel di tahun pertama siaran. Setahun tidak ada yang mendudukinya. Pak Bonar bilang rusak.

Aku duduk.

Di meja di depanku, mikrofon. Headphone. Ponsel jadul studio di ujung meja, yang tidak berbunyi selama setahun. Dan di sampingnya, aku meletakkan buku biru. Dua buku biru. Yang lama, berlogo Swara Pakuan, penuh. Yang baru, sampul polos, terisi sebagian.

Aku membuka buku yang baru di halaman terakhir yang terisi. Mengambil pulpen. Menulis.

47. Dia berlari ke dalam api untuk sebuah buku, karena aku menangis.

Empat puluh tujuh.

Pukul enam kurang dua menit. Kiki duduk di kursi di sampingku, memasang headphone, tangannya di atas mixer. Ia memandangku. Matanya bilang: lo yakin?

Aku mengangguk.

Lampu ON AIR menyala merah.


“Selamat pagi, Kota Hujan.”

Suaraku keluar serak. Aku belum tidur dua malam. Aku menelan ludah dan mencoba lagi.

“Selamat pagi. Masih di Swara Pakuan, sembilan delapan koma tujuh. Ini Pagi Riang.” Aku berhenti. “Dan aku Rania.”

Di balik kaca, Pak Bonar menutup wajahnya dengan dua tangan.

“Sudah setahun aku nggak di sini. Banyak yang nanya aku ke mana. Ceritanya panjang. Hari ini aku cuma mau cerita satu bagian. Hari ini satu tahun pernikahanku. Dan aku mau cerita tentang laki-laki yang kunikahi.”

Aku membuka buku biru yang lama di halaman pertama Daftar.

“Ada laki-laki,” kataku, “yang selama enam tahun mendengarkan acara ini setiap pagi. Setiap pagi dia kirim satu request lagu lawas dan satu lelucon. Leluconnya jelek. Selalu jelek. Kalian kenal dia. Kalian semua kenal dia.”

Aku menelan ludah.

“Namanya Pak Tani.”

Kiki menahan napas di sampingku.

“Setahun lalu, dua hari sebelum aku menikah dengan orang lain, Pak Tani kirim SMS terakhir. Selamat menempuh hidup baru, Mbak. Ini request terakhir saya. Aku ketawain. Aku bilang dia kayak pamitan. Aku nggak tahu dia memang pamitan.”

Aku membaca dari buku biru. Satu per satu.

“Dia nyetir tiga puluh kilometer per jam kalau ada aku di mobil. Dia nggak pernah lewat tol Jagorawi, empat puluh menit lebih jauh, setiap kali. Dia tidur di tikar di depan pintu kamarku tiga puluh malam, waktu aku nggak mau keluar. Dia ketuk pintuku tiga kali setiap pagi, tiga puluh hari, dan nggak pernah sekali pun nunggu di depannya.”

Aku membalik halaman.

“Dia masak air setiap jam setengah lima pagi selama delapan bulan, karena nggak ada pemanas air di rumah, dan dia nggak mau aku kedinginan. Dia belajar masak sup almarhumah mamaku. Dimaki-maki tanteku. Dia nimbang garam pakai timbangan lab. Dia ngecas ponselku tiap malam selama setahun, dan lupa ngecas ponselnya sendiri.”

Suaraku pecah. Aku berhenti. Kiki menggenggam tanganku di bawah meja.

“Dia jual sawah bapaknya. Satu-satunya warisan. Mimpinya dari kecil. Buat bayar utang rumah papaku. Dan dia nggak bilang. Dia biarin aku ngira asuransi.”

Aku membalik ke buku yang baru. Ke halaman terakhir.

“Dan tiga hari lalu,” kataku, dan suaraku hampir tidak keluar, “dia lari ke dalam rumah kaca yang terbakar. Buat ngambil jurnal papaku dan biji bunga matahari almarhumah mamaku. Karena aku nangis. Karena aku bilang jurnal Papa. Sekarang dia di ICU. Di ranjang nomor empat. Ranjang yang sama tempat papaku meninggal setahun lalu.”

Hening di studio. Di balik kaca, Pak Bonar menangis tanpa suara. Kiki menangis dengan suara.

“Ada empat puluh tujuh hal di daftar ini,” kataku. “Empat puluh tujuh hal yang dia lakukan dan nggak pernah dia bilang. Aku baru tahu tadi malam, dia juga punya empat puluh tujuh draf SMS buat aku, di ponsel lamanya. Semuanya berhenti di tengah. Nggak satu pun dia kirim.”

Aku menutup buku itu.

“Empat puluh tujuh pesan yang nggak pernah kamu kirim. Empat puluh tujuh hal yang nggak pernah kamu bilang.”


Aku mengambil ponsel jadul studio dari ujung meja. Yang lama. Yang tidak berbunyi setahun.

Aku sudah memasukkan kartu SIM dari ponsel jadul miliknya semalam. Dodi yang mengambilnya dari laci, bersama radio.

Aku membuka folder pesan terkirim. Dan aku membacanya di udara. SMS-SMS lama. Enam tahun.

“Mbak, tadi Mbak bilang lidah kucing. Saya juga.“

“Mbak, hari ini suara Mbak serak. Banyak minum air hangat. Jangan yang panas.“

“Selamat ulang tahun, Mbak. Nggak usah dibacakan.“

Lalu aku menggulir ke yang paling bawah. Yang paling lama. Enam tahun lalu.

“Dan ini,” kataku, “yang pertama. Malam hari. Waktu aku masih penyiar junior yang kesepian di studio, minta pendengar kirim apa saja.”

Aku membacanya pelan.

“Kenapa padi selalu menunduk? Karena lagi cari sinyal.“

Kiki tertawa di tengah tangisnya. Pak Bonar juga.

“Waktu itu aku kasih nilai satu,” kataku. “Hari ini aku revisi.”

Aku mendekatkan mulut ke mikrofon.

“Sepuluh, Pak Tani. Sepuluh dari sepuluh.”


Lalu aku bicara. Tidak dari buku. Tidak dari naskah. Dari tempat yang selama setahun kukunci rapat-rapat.

“Papaku bilang dia anak baik. Malam sebelum Papa meninggal. Kamu nggak harus percaya Papa sekarang. Nanti kamu lihat sendiri. Aku nggak ngerti waktu itu. Sekarang aku ngerti.”

Aku menarik napas.

“Kalau Tuhan mengirimkan malaikat ke bumi ini,” kataku, pelan, ke seluruh kota, ke angkot-angkot dan warung kopi dan pangkalan ojek dan dapur-dapur, ke ruang ICU di rumah sakit di ujung kota, ke radio kayu tua di samping ranjang nomor empat, “maka dialah malaikat itu.”

Aku menutup mata.

“Dan aku istrinya.”

Hening.

“Pak Tani,” bisikku. “Kalau kamu dengar. Pulang, ya.”

Aku membuka mata.

“Pintunya nggak kukunci.”


Kiki memutar lagunya. Chrisye. Yang mana saja. Aku tidak ingat yang mana. Aku menangis dengan wajah di atas meja, di samping dua buku biru.

Telepon studio mulai berdering bahkan sebelum lagu itu selesai. Lalu tidak berhenti.

Ibu-ibu Pasar Bogor. Bapak-bapak ojek. Anak SMA yang dulu patah hati, sekarang sudah lulus. Seorang dosen pertanian yang bilang ia mengajar Fajar di semester satu. Bu Imas, tetangga sebelah, menangis sampai tidak bisa bicara.

Dan Kang Ujang, menelepon dari pangkalan ojek Baranangsiang, dengan suara yang pecah total.

“Mbak,” isaknya. “Mbak, saya yang nganter Mbak malam itu. Ke rumah kaca. Ya Allah, Mbak. Satu pangkalan nangis, Mbak. Satu pangkalan.”

Kiki mencoba mengatur volume di mixer, tapi tangannya gemetar terlalu keras, dan lagu berikutnya terputar dua kali lebih cepat, suara penyanyinya jadi seperti tupai. Ia menjerit, panik, menekan tombol yang salah, dan jingle Pagi Riang terputar di tengah-tengah lagu.

Pak Bonar menerobos masuk ke studio, mengambil alih mixer dengan tangan yang juga gemetar, dan berhasil mematikan semuanya. Lalu ia berdiri di sana, di tengah studio yang tiba-tiba sunyi, memandangiku dengan wajah basah.

“Sudah berapa kali kau menangis bulan ini, Pak?” tanya Kiki dengan suara serak.

“Aku sudah berhenti menghitung, Kiki,” kata Pak Bonar. “Aku sudah berhenti menghitung.”


Pukul tujuh lewat lima belas, ponsel Kiki bergetar.

Ia membacanya. Lalu menatap layarnya lama sekali, dengan mulut terbuka.

Lalu ia menyodorkan ponsel itu padaku. Tangannya gemetar.

Pesan dari Dodi. Dua kata.

Jarinya gerak.