Chapter Thirty Four

Surat yang Ditulis Tujuh Kali

POV: Fajar

Kantor notaris itu di lantai dua sebuah ruko di Jalan Suryakencana, di atas toko obat Cina yang baunya naik sampai ke tangga.

Notarisnya perempuan setengah baya dengan kacamata berantai emas. Ia membaca berkas-berkas yang kubawa dengan teliti: akta kematian Prof, akta kematian Bu Laras, surat keterangan waris, akta nikah kami, surat keterangan lunas dari bank, sertifikat lama Rumah Matahari atas nama Hartono Adiwijaya.

“Bapak mau balik nama ke atas nama ahli waris tunggal,” katanya. “Ibu Rania Adiwijaya.”

“Iya, Bu.”

“Bapak sendiri tidak dicantumkan.”

“Tidak, Bu. Itu rumah dia.”

Notaris itu memandangku dari atas kacamatanya. “Bapak yang melunasi kreditnya, kan? Saya lihat di dokumen bank.”

“Iya.”

“Dan Bapak tidak mau namanya ada di sertifikat. Sama sekali.”

“Tidak, Bu.”

Ia diam lama. Lalu ia menandatangani berkas pertama dengan stempel yang berbunyi keras, dok, dan menyerahkannya padaku untuk diparaf.

“Istri Bapak beruntung,” katanya.

Aku tidak menjawab. Aku memaraf berkas itu, dan berkas berikutnya, dan berkas berikutnya.

Dua minggu kemudian sertifikat baru selesai. Aku memandangi nama di halaman pertama itu lama, di dalam Si Siput yang diparkir di depan toko obat. Satu nama. Bukan namaku. Begitulah seharusnya. Rania Adiwijaya. Satu nama. Sertifikat itu kumasukkan ke amplop cokelat besar, bersama satu lembar kertas lain: tiket pesawat. Jakarta–Amsterdam. Lima September. Satu orang.


Aku menulis surat itu tujuh kali.

Draf pertama, aku menulisnya di lab, di sela-sela mengamati cawan petri. Terlalu panjang. Tiga halaman. Aku menjelaskan semuanya. Prof, ranjang nomor empat, tiga syarat. Sawah. Handuk. Enam tahun. Semuanya. Aku membacanya ulang dan merobeknya. Terlalu banyak. Ia akan merasa berutang lebih banyak lagi.

Draf kedua, terlalu pendek. Tiga baris. Ra, aku dapat S3 di Belanda. Rumah Matahari atas namamu. Kamu bebas. Aku membacanya ulang dan merobeknya. Terlalu dingin. Seperti surat dari bank.

Draf ketiga, aku menulisnya di teras, malam hari, ketika ia sudah tidur. Lebih baik. Lebih jujur. Aku sampai di paragraf terakhir, dan tanganku menulis sendiri, tanpa kuminta:

Aku nggak ke mana-mana, Ra.

Aku memandangi kalimat itu lama sekali.

Kalimat yang kuucapkan di pagi hari ketiga puluh, di depan pintu kamarnya. Kalimat yang kuucapkan di rumah sakit, menjawab nama yang bukan namaku. Kalimat yang ia larang di bawah hujan. Jangan bilang kamu nggak ke mana-mana.

Kalimat itu tidak benar lagi. Lima September, aku akan pergi jauh sekali. Aku akan ke Amsterdam, lalu ke Wageningen, lalu ke laboratorium yang dingin di negeri yang tidak pernah kulihat, dan aku akan berada sebelas ribu kilometer dari rumah ini.

Aku mencoretnya. Satu garis. Lalu satu lagi. Lalu lagi, sampai kalimat itu menjadi kotak hitam yang tidak terbaca.

Lalu aku merobek draf itu juga.

Draf keempat, kelima, keenam. Di lab, di Si Siput, di kasur lipat yang terlalu pendek. Setiap draf lebih pendek dari yang sebelumnya. Setiap draf aku merobek lebih banyak kalimat yang tidak boleh kukatakan.

Draf ketujuh, akhirnya, cukup.

Aku tidak menulis tentang tiga syarat dengan panjang. Aku hanya menyebutnya. Aku tidak menulis tentang enam tahun. Aku tidak menulis tentang empat tahun lalu, karena itu bukan milikku untuk diceritakan, dan Prof sudah berjanji, dan aku juga.

Tapi ada satu kalimat yang tidak bisa kurobek. Satu kalimat yang kutulis di setiap draf, dari yang pertama sampai yang ketujuh, dan yang selalu kubiarkan. Satu kalimat yang tidak pernah kukatakan dengan suara, tidak pernah kuketik di SMS, tidak pernah selesai di empat puluh tujuh draf di ponsel lama.

Di draf ketujuh, kalimat itu ada di sana. Hitam di atas putih. Dengan tanganku sendiri.

Aku tidak membacanya ulang. Aku takut kalau aku membacanya ulang, aku akan merobeknya juga.


Sidang S2-ku dijadwalkan tanggal tiga Juni, pukul sembilan pagi.

Aku tidak memberitahunya. Aku tidak mau ia merasa harus datang. Tapi Dodi, yang masih marah padaku tapi tidak bisa menahan mulutnya, memberitahu Kiki, dan Kiki memberitahunya, dan pukul sembilan kurang lima, ketika aku berdiri di depan ruang sidang dengan map di tangan dan keringat dingin di punggung, aku melihatnya.

Ia duduk di bangku lorong. Memakai baju kurung abu-abu dan karet rambut kuning. Di pangkuannya ada termos kecil dan kotak makan.

“Kamu nggak bilang,” katanya.

“Aku… nggak mau ngerepotin.”

Ia memandangku dengan mata yang setengah kesal, setengah sesuatu yang lain. Lalu ia berdiri, membetulkan kerah kemejaku, kemeja putih yang ia setrika semalam tanpa kutahu, dan menepuk dadaku dua kali.

“Sana,” katanya. “Jangan grogi. Kalau grogi, bayangin penguji-pengujinya pakai jas hujan kodok.”

Aku masuk ke ruang sidang dengan wajah yang tidak bisa berhenti tersenyum.


Sidangnya dua jam. Tiga penguji, satu menggantikan Prof. Mereka bertanya tentang dormansi, tentang kulit biji yang terlalu keras, tentang hormon dan suhu dan kelembapan. Tentang biji-biji bunga matahari tua dari Rumah Matahari yang, setelah sebelas bulan kucoba dengan segala cara, akhirnya, dua minggu lalu, tiga di antaranya berkecambah.

Tiga dari tiga ratus. Satu persen. Bukan dari amplop paling tua. Bukan Bunga pertama Laras; amplop itu belum kusentuh, belum berani kusentuh. Tapi dari amplop bertahun 1998. Dua puluh delapan tahun tertidur. Dan bangun.

Penguji tertua, kolega Prof selama tiga puluh tahun, memandang foto kecambah-kecambah itu di layar lama sekali. Lalu ia melepas kacamatanya.

“Hartono pasti bangga,” katanya pelan.

Aku harus menunduk.

Pukul sebelas, mereka memintaku keluar sebentar. Lima menit kemudian, aku dipanggil masuk lagi. Lulus. Dengan pujian.

Aku keluar dari ruang sidang dengan map di tangan dan kepala yang kosong.

Lalu aku mendengarnya.

“YEEEAAAH! LULUUUS! FAJAR NUGRAHA, MAGISTER SAINS! TEPUK TANGAN, BOGOR!”

Suara penyiar. Keras. Riang. Menggema di sepanjang lorong fakultas, membuat mahasiswa-mahasiswa yang lewat menoleh, membuat seorang dosen menjatuhkan bukunya, membuat satpam di ujung lorong melongok dengan wajah curiga.

Dia berdiri di tengah lorong dengan kedua tangan di udara, bertepuk tangan, tertawa. Tawa yang jelek, keras, kambing keselek. Kiki di sampingnya meniup terompet kertas yang entah dibawa dari mana. Dodi, masih pura-pura marah, bertepuk tangan dengan wajah datar tapi mata merah.

“Pagi Riang mengucapkan selamat!” teriaknya lagi, ke arah langit-langit, ke arah seluruh fakultas. “Dari Bu Tani untuk Pak Tani!”

Aku berdiri membeku di depan pintu ruang sidang.

Bu Tani.

Ia berlari ke arahku dan memelukku. Bukan pelukan di makam, pelukan orang yang tenggelam. Pelukan yang lain. Pelukan yang erat dan hangat dan tertawa, tangannya melingkar di leherku, kakinya sedikit terangkat dari lantai.

“Selamat, Mas,” bisiknya di telingaku. “Selamat. Papa pasti bangga.”

Aku memeluknya balik. Pelan. Hati-hati. Aku tidak bisa bicara.

Di dalam dadaku, sesuatu remuk. Bukan karena sedih. Karena bahagia. Kebahagiaan yang terlalu besar, terlalu tiba-tiba, seperti hujan deras di tanah yang sudah setahun kering. Tanahnya tidak sanggup menampungnya. Tanahnya retak.

Waktunya aku pergi, kataku pada diriku sendiri, dengan wajahku di bahunya dan wangi teh hijau dari rambutnya.

Tiga bulan lagi.

Malam itu, kami pulang dari kampus lebih dulu, berdua, sementara Dodi dan Kiki tinggal untuk merayakan dengan cara mereka sendiri. Begitu sampai, ia menyuruhku mandi. Ketika aku keluar dari kamar mandi, rumah berbau kayu bakar.

Bukan kayu bakar sungguhan. Bau nasi liwet. Nasi yang dimasak dengan santan dan serai dan daun salam di kastrol, di atas kompor dengan api sangat kecil, sampai bagian bawahnya berkerak keemasan. Bau yang tidak pernah tercium di rumah ini. Bau rumah Mak.

Di meja makan, di atas daun pisang, ada nasi liwet. Ikan asin peda goreng. Lalapan. Dan semangkuk kecil sambal oncom, merah kecokelatan, wanginya sampai ke pintu.

Aku berdiri di ambang pintu kamar mandi dengan handuk di leher.

“Selamat lulus,” katanya, dari dapur, tanpa menoleh. Ia sedang mencuci kastrol. “Resepnya dari Mak. Aku telepon kemarin. Bahannya kusiapkan dari pagi, sebelum sidang. Mak marah-marah satu jam, katanya oncomnya harus oncom merah dari pasar Cianjur, bukan dari Bogor. Aku nggak sempat ke Cianjur. Jadi rasanya pasti beda.”

Aku tidak bisa bergerak.

Makanan kesukaan? Sendok sayur. Wawancara di dapur. Nasi liwet Mak. Pakai ikan asin. Sama sambal oncom.

Ia ingat.

Aku duduk dan makan. Rasanya memang beda. Oncomnya terlalu asam, nasinya sedikit terlalu lembek. Aku menghabiskan tiga piring. Ia memperhatikanku makan dengan dagu bertumpu di tangan.

“Enak?” tanyanya, akhirnya menoleh.

“Delapan,” kataku. Suaraku keluar serak. “Dari sepuluh.”

Ia tertawa. Pelan, tapi tertawa. “Kamu bukan penyiar, Pak. Delapan itu sudah dermawan.”

Aku menunduk ke piringku supaya ia tidak melihat wajahku.


Sementara itu, Dodi dan Kiki bertemu di warung pecel lele dekat kampus, katanya untuk merayakan kelulusanku.

Aku tahu apa yang terjadi di warung itu karena Dodi menceritakannya padaku keesokan harinya, dengan wajah seperti orang yang baru selamat dari perang.

Dodi tahu rencanaku. Belanda. September. Surat.

Kiki tahu rencananya. Aku tidak tahu apa itu. Dodi juga tidak. Tapi Kiki tahu.

Dan mereka berdua sudah disumpah untuk diam.

“Gue nggak bisa bilang apa-apa,” kata Dodi pada Kiki, menurut ceritanya, sambil menunjuk Kiki dengan tulang lele. “Tapi temen gue bego.”

“Gue juga nggak bisa bilang apa-apa,” kata Kiki. “Tapi temen gue lebih bego.”

“Nggak mungkin. Temen gue paling bego sedunia. Dia mau—“ Dodi menutup mulutnya sendiri.

“Mau apa?”

“Nggak mau apa-apa. Temen lo mau apa?”

“Nggak mau apa-apa. Pokoknya temen gue lebih bego!”

“Nggak, temen GUE lebih bego!”

Mereka bertengkar sampai pemilik warung mengusir mereka karena mau tutup. Di parkiran, menurut Dodi, Kiki menangis. Dodi juga. Mereka tidak tahu kenapa yang satu menangis, dan tidak boleh bertanya.

“Jar,” kata Dodi padaku keesokan harinya, dengan suara serak. “Gue mohon. Sekali ini aja. Tanya dia.”

Aku tidak menjawab. Aku tidak bisa. Kalau aku bertanya, dan jawabannya bukan aku, aku tidak tahu apa yang tersisa.


Aku menulis satu hal lagi sebelum menyegel amplop itu.

Bukan surat. Catatan. Satu lembar kertas bergaris, dengan judul yang kutulis rapi di atasnya: Cara Merawat Bunga Matahari.

Siram pagi, jangan siang. Tanahnya jangan sampai becek.

Kalau ada ulat di daun, ambil pakai tangan. Jangan pakai obat; bunganya sensitif.

Panen bijinya kalau kepala bunganya sudah merunduk dan bagian belakangnya kuning kecokelatan. Keringkan seminggu di tampah. Sangrai pakai api kecil (kata Mak: LEUTIK).

Simpan sebagian bijinya untuk ditanam lagi. Selalu simpan sebagian.

Tanam di sebelah barat rumah, kalau mau mereka menghadap ke kamu.

Aku memandangi baris terakhir itu lama. Lalu aku melipat kertas itu dan menyimpannya di laci dapur, di bawah charger cadangan, di tempat yang akan ia temukan suatu hari nanti, setelah aku pergi, ketika bunga-bunga di bawah jendelanya butuh disiram dan tidak ada lagi yang mengingatkan.

Lalu aku duduk di meja ruang kerja, dengan radio Bapak dan bingkai kecil Makasih, dan menyegel amplop cokelat besar itu. Sertifikat. Tiket. Surat draf ketujuh.

Di bagian depan, dengan tulisan tangan yang kecil dan condong ke kanan, aku menulis:

Untuk Ra.

Dibuka 14 Juni.

Aku memasukkannya ke tas punggungku, di kantong paling dalam, dan menutup ritsletingnya.