Chapter Twenty One

Sup yang Rasanya Seperti Mama

POV: Rania

Dapur berasap pukul sepuluh pagi, dan tetangga sebelah datang membawa ember.

“Neng! Neng! Kebakaran?!”

“Bukan, Bu! Sup!”

Bu Imas, tetangga yang rumahnya menempel dengan dapur kami, berdiri di ambang pintu belakang dengan ember air di tangan dan daster yang dipakai terbalik. Ia memandangi panci di atas kompor, yang mengeluarkan asap hitam dan bau gosong yang sangat tidak mirip sup. Lalu memandangku, dengan celemek penuh noda dan rambut yang berantakan.

“Ini sup apa, Neng?”

“Sup ayam.”

Bu Imas mengintip ke dalam panci. Keningnya berkerut. “Ayamnya di mana?”

Aku juga tidak tahu. Ayamnya ada di sana tadi.

Sejak aku keluar kamar, aku memasak setiap hari, dan semuanya biasa saja. Tapi pagi itu aku ingin membuat sesuatu yang tidak biasa. Aku ingin membuat sup Mama. Sup yang di hari kedua puluh enam membuatku menangis di lantai kamar dan menghabiskan setiap tetesnya. Aku ingin membuatnya untuk dia, sebagai ucapan terima kasih yang tidak bisa kuucapkan, karena aku tidak tahu cara mengucapkannya.

Aku tidak punya resepnya. Aku hanya punya ingatan lidahku. Dan ternyata ingatan lidah tidak bisa mengajari tangan berapa lama ayam harus direbus sebelum ia berubah menjadi arang.

Bu Imas membantuku membuang isi panci ke tempat sampah dan membuka semua jendela. Asapnya keluar perlahan ke halaman. Dari atas pagar, kucing belang milik tetangga menatapku dengan jijik, lalu melompat pergi seolah tidak mau ikut terlibat. “Neng mah geulis, tapi masaknya…” Ia tidak menyelesaikan kalimatnya, menepuk bahuku dengan iba, dan pulang.


Sore itu Tante Ratna datang tanpa kabar.

Ia membawa toples kue nastar yang, seperti semua kue buatan Tante, bentuknya sempurna dan rasanya seperti tepung yang sedang marah. Ia mengendus udara di ruang tengah begitu masuk.

“Bau gosong.”

“Aku mau bikin sup Mama, Tante.”

Tante berhenti melepas sepatu. Memandangku lama.

“Kenapa?”

“Mau aja.” Aku memainkan ujung celemek. “Dulu, waktu aku di kamar, Tante pernah kirim sup itu. Hari kedua puluh enam. Rasanya persis sup Mama. Aku cuma mau… bikin sendiri.”

Tante tidak menjawab. Ia meletakkan toples nastar di meja, duduk di kursi makan, dan memandangku dengan ekspresi yang belum pernah kulihat di wajahnya. Seperti orang yang sedang memutuskan apakah akan membuka sebuah pintu.

“Tante tidak pernah kirim sup itu, Rania.”

Aku berhenti memainkan celemek.

“Suamimu datang ke rumah Tante. Bulan Juli. Minta resep.” Tante melepas kacamata dan memijit pangkal hidungnya. “Tante maki-maki dia. Tante bilang dia potong wortel kayak potong kayu bakar. Tante bilang dia numis bawang kayak orang dendam. Dia bilang terima kasih setiap kali Tante maki. Dia bawa timbangan dari lab, Rania. Timbangan. Dia timbang garam. Empat koma dua gram.”

Aku duduk. Kakiku tiba-tiba tidak kuat.

“Wortelnya,” bisikku. “Wortelnya bentuk bunga.”

“Tante yang ajari. Sekali saja. Tante kira dia tidak akan bisa.” Tante memakai kacamatanya lagi. “Bu Imas tetanggamu cerita ke Tante bulan lalu, waktu Tante ke sini. Katanya bulan Juli dia lihat suamimu di dapur sampai malam, motong wortel satu-satu, sambil ngomel sendiri. Sembilan wortel dibuang. Bu Imas yang mungut, dibikin bakwan.”

Aku menutup mulut dengan tangan.

Sup itu. Sup yang kukira Tante kirimkan. Sup yang membuatku menangis karena rasanya seperti tangan Mama. Ia membuatnya sendiri. Ia belajar sendiri, dimaki Tante, menimbang garam dengan timbangan lab, merusak sembilan wortel, supaya seorang perempuan yang mengunci diri di kamarnya bisa makan sesuatu yang rasanya seperti rumah.

Dan ia tidak pernah bilang. Bahkan ketika aku keluar kamar. Bahkan ketika aku menyebut-nyebut sup itu di depannya, dan bilang Tante pasti yang bikin. Ia hanya diam, dan membiarkanku berterima kasih pada orang lain.

Tante memandangku lama.

“Tante masih belum tahu maunya dia apa, Rania,” katanya pelan. “Tante sudah enam bulan mengawasi. Belum ketemu juga.”


Tante mengajariku sore itu. Bukan dengan makian. Dengan sabar yang aneh, sabar yang tidak pernah ia tunjukkan padaku sebelumnya, seolah sup ini sesuatu yang suci.

Ketika ia pulang dari lab, dapur penuh uap bening yang wangi, bukan asap hitam. Aku sedang memotong wortel di talenan, dan potongan-potongannya kelihatan seperti bunga yang dihantam truk.

Ia berdiri di ambang dapur, memandang panci, memandang talenan, memandang Tante yang duduk di kursi makan sambil makan nastarnya sendiri.

“Sini,” kataku, tanpa memandangnya. “Bantu. Kamu kan lebih jago.”

Ia mencuci tangan dan berdiri di sampingku. Mengambil sebatang wortel dan pisau kecil. Tangannya bergerak pelan, mengukir lima lekukan di sepanjang batang, lalu mengiris. Bunga. Lima kelopak. Hampir rata.

Aku mencoba menirunya. Bahu kami bersentuhan. Aku tidak menjauh. Ia juga tidak. Kami memotong dua belas wortel seperti itu, berdampingan, tanpa bicara, dan bunga-bunga oranye kecil menumpuk di talenan seperti kelopak yang berguguran.

Di kursi makan, Tante mengunyah nastar dengan sangat keras.

Setelah sup jadi, Tante mencicipinya satu sendok, lama, dengan mata terpejam. Lalu ia meletakkan sendoknya dan berdiri.

“Pala-nya kebanyakan sedikit,” katanya. Lalu, sambil memakai sepatu di teras, tanpa menoleh: “Tapi kakak ipar saya juga selalu kebanyakan sedikit.”

Ia pergi sebelum kami sempat menjawab. Aku berdiri di ambang pintu, memandangi punggungnya yang menjauh di gang, dan mengerti bahwa Tante baru saja memberi kami berdua sesuatu yang sangat berharga.

Kami makan sup itu berdua malam itu. Ia menghabiskan tiga mangkuk. Ia tidak bilang enak. Ia bilang terima kasih, tiga kali, setiap kali menambah.


Seminggu kemudian, aku masuk ke ruang kerjanya untuk pertama kalinya.

Bukan sengaja. Ia lupa membawa flashdisk ke lab dan meneleponku dari kampus. Di meja, Ra, sebelah radio. Yang warna merah. Aku membuka pintu ruang kerja itu, yang tidak pernah dikunci, dan berdiri di ambangnya lama sebelum masuk.

Ruangan itu sesempit yang kuingat. Kasur lipat yang terlalu pendek masih di lantai, sarungnya terlipat rapi di ujung. Di sinilah ia tidur setiap malam, sementara aku tidur di kasur besar di kamar sebelah.

Di meja, di samping tumpukan jurnal ilmiah dan cawan-cawan petri kosong, ada radio tua. Kotak kayu cokelat dengan kenop besar dan antena yang disambung kawat jemuran. Aku mengenali jenisnya; Papa dulu punya yang seperti ini. Jarumnya menunjuk satu angka.

98,7.

Swara Pakuan.

Seutas kabel earphone tertancap di lubang samping radio itu. Earphone putih yang sudah menguning, kabelnya digulung rapi.

Aku teringat pagi itu, di hari ketiga atau keempat di balik pintu, ketika jingle Swara Pakuan terdengar samar dari suatu tempat di rumah ini dan aku menutup telinga dengan bantal. Lalu suara itu hilang. Dimatikan dengan tergesa-gesa. Dan sejak itu, tidak pernah terdengar lagi.

Ia tidak berhenti mendengarkan. Ia hanya memastikan aku tidak ikut mendengar.

Di samping radio itu, dalam bingkai kayu murah, ada selembar kertas yang lusuh di lipatannya. Aku mendekat.

Makasih.

Tulisan tanganku. Huruf-huruf besar, seperti anak SD. Di balik catatan cuaca hari kedua puluh sembilan.

Ia membingkainya.

Aku berdiri di sana, memegang flashdisk merah yang sudah kutemukan, memandangi satu kata yang kutulis setengah tahun lalu dengan tangan gemetar, dan merasakan sesuatu di dadaku yang tidak bisa kupura-purakan tidak ada.

Di dinding di atas meja, tergantung jam. Jam dinding murah dengan bingkai plastik putih. Jarumnya diam di angka sepuluh lewat tujuh belas. Tidak berdetak.

Aku mengenali jam itu. Bentuknya, warnanya, retakan kecil di kacanya. Aku memandanginya lama, lalu tiba-tiba aku tahu di mana aku pernah melihat ruang kosong seukuran jam itu.

Paku di dinding kamarku. Di atas lemari. Yang tidak menggantung apa-apa.


Malamnya, aku bertanya. Bukan dengan nada menuduh. Aku hanya ingin tahu.

“Jam di ruang kerjamu,” kataku, saat kami mencuci piring bersama. “Itu dari kamarku, ya?”

Tangannya berhenti di dalam busa sabun.

“Iya.”

“Kenapa dicopot?”

Ia diam lama. Air mengalir dari keran. Lalu ia menjawab dengan suara pelan, tanpa memandangku.

“Detaknya mirip monitor di ICU.”

Aku tidak bisa bicara.

Hari pertama. Sebelum aku datang. Ia berdiri di kamar itu, mendengarkan jam berdetak, dan memikirkan bunyi monitor di samping ranjang nomor empat, dan memikirkan aku yang akan tidur di sana, dan mencopotnya. Supaya aku tidak harus mendengar bunyi itu setiap malam. Supaya kamar itu sunyi.

Kamar tanpa jam. Kukira itu kebetulan.


Akhir Januari, ia mengajakku makan soto di warung dekat pasar. Warung kecil, enam meja, radio tua di atas lemari kaca yang memutar lagu-lagu lama dengan suara kemerosok.

Kami sedang makan ketika denting piano itu terdengar.

Aku mengenalinya dari nada pertama. Semua orang di Bogor mengenalinya; lagu itu diputar di setiap pernikahan tahun ini. Sampai Ujung Usia. Lagu yang Gilang pilih untuk pernikahan kami. Lagu yang seharusnya mengiringi kami berjalan ke pelaminan.

Napasku berhenti.

Tapi sebelum bait pertama dimulai, ia sudah berdiri. Ia mengeluarkan dompet, meletakkan selembar uang di meja tanpa menunggu kembalian, dan mengulurkan tangan padaku.

“Ayo,” katanya. “Keburu hujan.”

Langit di luar cerah. Tidak ada awan sama sekali.

Ia menuntunku keluar dari warung, ke Si Siput, dan menyalakan mesin. Di dalam mobil, tanpa radio, tanpa lagu, aku duduk diam dan memandanginya.

Radio dapur. Dua kali seminggu. Ia melompat dari kompor dan memutar kenop dengan tergesa-gesa, tepat ketika denting piano tertentu mulai terdengar. Kukira ia alergi lagu itu.

Ia tidak alergi. Ia hafal intronya. Ia hafal nada pertamanya, supaya bisa mematikannya sebelum aku mendengar.

“Mas,” kataku.

Ia menoleh. Telinganya memerah.

Aku tidak tahu apa yang mau kukatakan. Jadi aku hanya bilang, “Sotonya belum habis.”

“Nanti kubelikan lagi,” katanya. “Bungkus.”


Malam itu, di meja di bawah jendela, aku membuka laci dan mengeluarkan buku biru.

8. Dia belajar sup Mama dari Tante. Dimaki-maki. Nimbang garam pakai timbangan lab. Sembilan wortel dibuang. Dia biarin aku ngira Tante yang bikin.

9. Jam di kamarku dia copot sebelum aku datang. Detaknya mirip monitor ICU.

10. Dia dengerin Pagi Riang pakai earphone. Biar aku nggak ikut dengar.

11. Dia bingkai catatan “Makasih” dariku.

12. Dia hafal intro lagu pernikahanku. Biar bisa dimatikan sebelum aku dengar.

Aku berhenti. Memandangi gelas di samping foto Papa. Bunga matahari di dalamnya masih segar. Datang tadi pagi, seperti biasa, diletakkan di meja makan bersama sarapan. Seperti setiap minggu.

Setiap minggu. Aku menghitung mundur di kepalaku. Minggu lalu. Minggu sebelumnya. Hari di bulan Juni ketika bunga pertama muncul di nampan, dan aku tidak tahu hari apa itu.

Hari ini Jumat.

Gilang meninggal hari Jumat.

13. Bunga matahari dari halaman Papa datang tiap Jumat. Biar Jumat bukan cuma hari itu.

Aku menutup buku itu dan menekannya ke dadaku, lama.

Di luar, aku mendengar Si Siput masuk ke halaman. Lalu langkahnya di teras. Lalu ketukan di pintu kamarku yang terbuka. Tiga kali.

Ia berdiri di ambang pintu, memegang sebuah amplop kecil berwarna cokelat. Wajahnya serius, lebih serius dari yang pernah kulihat sejak malam di ICU.

“Ra,” katanya. “Aku punya sesuatu. Buat kamu.” Ia diam sebentar. “Kamu boleh nggak dengar sekarang. Kamu boleh nggak dengar sama sekali.”