Chapter Fourteen

Yang Mekar di Bawah Jendela

POV: Rania

Semalam hujan berhenti lebih cepat dari biasanya. Aku tahu karena aku terjaga, seperti setiap malam, mendengarkan atap seng dapur yang tiba-tiba diam, lalu jangkrik, lalu sunyi yang panjang. Aku tertidur menjelang subuh dan bangun ketika cahaya sudah menembus gorden.

Pagi itu aku membuka gorden seperti biasa, dan dunia di luar jendelaku berwarna kuning.

Bukan kuning yang samar. Kuning yang terang, keras kepala, kuning yang membuat mataku menyipit. Dua belas kepala bunga matahari, sebagian sudah mekar penuh, sebagian masih membuka kelopaknya satu per satu, berdiri di bawah jendela kamarku setinggi kepalaku sendiri.

Dan semuanya, kedua belas bunga itu, menghadap ke arahku.

Matahari pagi naik di belakang rumah, di timur, dan bunga-bunga itu menoleh ke sana, ke arah cahaya, yang kebetulan juga arah jendelaku. Wajah-wajah kuning dengan lingkaran cokelat di tengahnya, mendongak padaku seperti penonton yang menunggu pertunjukan dimulai.

Aku merasakan sesuatu di wajahku.

Butuh beberapa detik sampai aku mengerti apa itu. Sudut-sudut bibirku tertarik ke atas. Pipiku terangkat. Lesung pipi di sebelah kiri, yang sudah tiga bulan tidak dipakai, kembali ke tempatnya.

Aku tersenyum.

Hanya satu detik. Mungkin kurang. Lalu aku menyadarinya, dan senyum itu hilang secepat datangnya, seperti burung yang kaget. Aku menyentuh bibirku dengan ujung jari, tidak percaya.

Lalu, seperti biasa, rasa bersalah datang menyusul. Apakah Gilang akan marah? Tiga bulan, dan aku sudah tersenyum. Pada bunga. Di rumah laki-laki lain.

Tapi yang terdengar di kepalaku bukan suara marah. Yang terdengar adalah suaranya di telepon, di jalan tol yang licin, beberapa menit sebelum semuanya berakhir. Ketawa dulu, biar aku tenang.

Aku tersenyum. Pada sekelompok bunga. Tiga bulan setelah semua orang yang kucintai pergi.

Aku tidak tahu apakah aku harus merasa bersalah, atau lega. Aku merasakan keduanya sekaligus, dan itu membuatku harus duduk di tepi kasur sebentar.


Aku keluar ke halaman samping tanpa alas kaki. Rumputnya masih basah embun.

Ia sudah di sana, memegang gembor kaleng yang catnya mengelupas, menyiram pangkal-pangkal batang bunga matahari itu satu per satu. Ia mendengar langkahku dan menoleh, dan untuk sesaat wajahnya kelihatan seperti anak kecil yang tertangkap basah.

Aku berdiri di samping bunga yang paling tinggi. Kelopaknya lebih lebar dari wajahku.

“Kamu yang tanam?”

“Iya.”

“Kapan?”

Ia menurunkan gembornya. “Hari pertama.”

“Hari pertama?”

“Malam pertama kamu di sini. Hujan.” Ia mengusap tengkuknya. “Bijinya dari halaman Papa. Tante yang izinkan.”

“Kenapa dua belas?”

“Dua belas lubang. Dua biji tiap lubang.” Ia memandangi bunga-bunga itu, bukan aku. “Biar kalau yang satu nggak tumbuh, masih ada yang lain.”

“Semuanya tumbuh?”

“Semuanya.” Ia diam sebentar. “Dua puluh empat biji, dua puluh empat tumbuh. Yang dobel kucabut, kupindah ke polybag. Tanahnya bagus di sini.”

Aku tidak tahu apa-apa soal tanah. Tapi cara ia mengatakan tanahnya bagus terdengar seperti seseorang yang menyimpan sesuatu di balik kalimat itu.

Aku tidak tahu harus berbuat apa dengan jawaban itu.

Malam pertama. Malam ketika aku mengunci pintu dan menangis ke bantal sampai subuh, ia berada di luar jendela ini, di bawah hujan, menanam biji-biji dari halaman Papa. Tiga bulan sebelum ia tahu apakah aku akan keluar kamar. Tiga bulan sebelum ia tahu apakah aku akan masih di sini untuk melihatnya.

Aku ingin bertanya kenapa. Kata itu sudah di ujung lidahku. Tapi bertanya berarti peduli, dan aku masih belum siap peduli. Jadi aku hanya memandangi bunga-bunga itu, dan berpikir: pasti kebetulan, mereka menghadap jendelaku. Bunga matahari memang selalu menghadap timur. Dan jendelaku kebetulan di timur bunga-bunga itu. Kebetulan.

“Bagus,” kataku akhirnya. Satu kata.

“Terima kasih,” katanya. Seolah aku yang memberinya sesuatu.

Aku kembali ke dalam. Dari jendela kamar, sambil menyisir rambut, aku masih bisa melihatnya. Ia berdiri di depan bunga-bunga itu dengan gembor di tangan. Lalu tiba-tiba ia berbalik, membelakangi rumah, membelakangi jendelaku, dan bahunya bergerak naik turun. Sekali. Dua kali. Tangannya naik ke wajah.

Bersin, pikirku. Serbuk sari bunga matahari memang bikin bersin. Gilang dulu alergi juga; setiap kali ke Rumah Matahari di musim mekar, ia bersin sepuluh kali berturut-turut dan Papa menertawakannya.

Ia berdiri membelakangi rumah lama sekali, untuk ukuran orang yang bersin.


Pagi itu, untuk pertama kalinya, kami sarapan di satu meja.

Bukan karena direncanakan. Aku keluar kamar ketika ia sedang menata piring, dan ia hendak membawa piringnya ke teras seperti biasa, seperti yang ia lakukan setiap pagi sejak aku keluar kamar, memberiku meja makan untuk diriku sendiri. Kali ini aku menarik kursi di depan piring kedua.

“Duduk saja,” kataku. “Di sini.”

Ia berhenti dengan piring di tangan. Lalu duduk, pelan-pelan, di kursi seberangku, seolah kursi itu terbuat dari kaca.

“Mau teh atau kopi?” tanyanya sebelum duduk.

“Teh.”

Ia membuatkannya di dapur. Aku mendengar dua kali bunyi air dituang, satu dari termos, satu dari teko. Lalu ia meletakkan gelas itu di depanku. Hangatnya pas. Seperti setiap teh selama tiga bulan ini.

Kami makan tanpa bicara. Nasi uduk dari warung depan gang, telur balado, kerupuk. Bunyi sendok di piring. Bunyi ayam tetangga. Bunyi radio dapur yang memutar lagu lawas pelan-pelan.

Aku melihatnya memindahkan mangkuk sambal dari tengah meja ke sisinya sendiri, jauh dari jangkauanku. Tanpa kata, tanpa melirik. Seperti gerakan yang sudah ia pikirkan sebelumnya. Aku tidak suka sambal; aku tidak tahan pedas. Tapi aku tidak pernah bilang padanya.

Mungkin kebetulan juga.

Di tengah makan, aku mengajukan pertanyaan pertamaku tentang dirinya. Aku tidak merencanakannya. Pertanyaan itu keluar begitu saja, seperti air yang menemukan celah.

“Kamu kerja di lab tiap hari?”

Ia mengangkat wajah, kaget. “Iya.”

“Ngerjain apa?”

“Meneruskan riset Papa.” Ia meletakkan sendoknya. “Benih yang tidur terlalu lama. Apakah masih bisa dibangunkan.”

“Bisa?”

“Belum tahu.” Ia memandangi piringnya. “Sudah dua bulan. Belum ada satu pun yang berkecambah. Tapi Papa yakin bisa. Jadi aku juga yakin.”

Aku memandangnya. Ia tidak memandangku balik. Telinganya merah lagi.

Aku tidak bertanya apa-apa lagi pagi itu. Tapi kalimat itu tinggal di kepalaku sepanjang hari, seperti biji yang jatuh ke tanah dan diam di sana: Benih yang tidur terlalu lama. Apakah masih bisa dibangunkan.

Setelah makan, aku mengambil gunting dari laci dapur dan kembali ke halaman. Aku memilih satu bunga yang paling kecil, yang tumbuh agak miring di ujung barisan, dan memotongnya dengan batang yang panjang.

Di kamarku, di meja di bawah jendela, ada foto Papa yang kubawa dari Rumah Matahari: Papa di halaman, celana digulung, selang bocor di tangan, tertawa ke arah kamera. Aku meletakkan bunga itu di gelas di samping foto Papa.

“Pa,” bisikku. “Mekar.”

Papa tetap tertawa di dalam foto itu. Kelopak bunga di sampingnya bergoyang sedikit tertiup angin dari jendela.

Aku duduk di kursi, memandangi mereka berdua: Papa dan bunganya. “Papa yang nyuruh dia, ya?” bisikku. “Papa yang bilang ke dia, tanam bunga buat Neng.”

Papa tidak menjawab. Tapi kalau Papa yang menyuruhnya, kenapa ia menanamnya di malam pertama, di bawah hujan, ketika Papa sudah tidak bisa lagi menyuruh siapa-siapa?


Siangnya, ponselnya berdering di meja makan. Video call. Aku melihat nama di layar: Mak.

Ia menerimanya di halaman, dan entah karena sinyal di dalam rumah memang jelek atau karena ia ingin pamer, ia mengarahkan kamera ke bunga-bunga matahari itu.

“Ieu, Mak. Tos kembangan.”

Suara Mak melengking keluar dari speaker, cukup keras untuk didengar sampai ke dapur. “Ieu kembang naon? Badag-badag pisan! Bisa didahar?” Ini bunga apa? Gede-gede banget! Bisa dimakan?

“Bunga matahari, Mak. Bijina tiasa.”

“Bijina?! Éta kuaci, Jar! Kuaci! Tong dipiceun! Di warung mah mahal, sabungkus lima rébu ngan saeutik!” Bijinya?! Itu kuaci! Jangan dibuang! Di warung mahal, sebungkus lima ribu cuma sedikit!

Mak lalu memberikan kuliah sepuluh menit tentang cara mengeringkan, menyangrai, dan membumbui biji bunga matahari, termasuk takaran garam yang menurutnya “sacukupna”, secukupnya. Ia mengangguk-angguk sabar. Aku mendengarkan dari ambang pintu dapur, setengah bersembunyi di balik kusen.

Lalu ia memutar badan untuk mencari sinyal yang lebih baik, dan untuk sepersekian detik, kamera ponselnya menangkap ambang pintu dapur.

Menangkap aku.

Hening. Lalu:

“JAR! JAR! Saha éta?! Éta minantu Mak?! Puter deui kaméra! PUTER DEUI!” Siapa itu?! Itu menantu Mak?! Putar lagi kameranya!

Ia memandangiku dengan wajah panik, ponsel di tangan. Aku menggeleng cepat. Ia mengangguk dan menurunkan ponselnya ke arah tanah.

“Sinyalna awon, Mak.”

“Ulah bohong ka Mak! Mak ningali! Bikeun ka manéhna! Mak hayang ngobrol!” Jangan bohong sama Mak! Mak lihat! Kasih ke dia! Mak mau ngobrol!

Ia memandangku lagi, kali ini dengan wajah memohon maaf. Ia tidak mendekat. Ia tidak menyodorkan ponsel itu. Ia hanya berdiri di halaman dan menunggu aku memutuskan.

Aku teringat suara Mak di balik pintu. Ayun Ambing pukul dua pagi. Labu siam dalam tujuh bentuk.

Aku berjalan ke halaman dan mengulurkan tangan. Ia menyerahkan ponselnya.

Layar dipenuhi wajah Mak, terlalu dekat, hidungnya mendominasi. Matanya sudah basah.

“Assalamualaikum, Mak,” kataku.

Mak menutup mulutnya dengan dua tangan. Kamera jatuh ke pangkuannya, menampilkan motif daster bunga-bunga. Dari balik daster itu terdengar isakan, lalu suara Mak yang pecah: “Waalaikumsalam… geulis… geulis pisan, Neng… sarua jeung dina radio…” Cantik… cantik sekali… sama seperti di radio…

Kamera terangkat lagi. Mak mengusap matanya dengan ujung kerudung. Lalu, tanpa jeda, dengan nada orang yang menanyakan cuaca:

“Incu iraha?”

Cucu kapan?

Ia tersedak udara.

Aku mendengar diriku sendiri mengeluarkan bunyi. Bunyi kecil, pendek, lewat hidung. Bukan tawa. Belum. Tapi sesuatu yang dulu, di kehidupan yang lain, akan menjadi awal dari tawa.

Ia menoleh ke arahku. Matanya lebar, telinganya merah sampai ke ujung. Dari ponsel, Mak masih bicara tanpa henti, menyebut-nyebut nama-nama bayi dan harga popok di pasar Cianjur.

Aku cepat-cepat mengembalikan ponselnya, masuk ke dapur, dan pura-pura mencuci gelas yang sudah bersih.


Sore itu aku berdiri lagi di jendela kamar, memandangi dua belas bunga itu dalam cahaya yang memudar.

Menjelang magrib, kepala-kepala kuning itu mulai merunduk. Pelan sekali, nyaris tidak terlihat, tapi pasti. Bunga matahari selalu begitu di senja hari; Papa pernah menjelaskannya padaku, sesuatu tentang batang dan cahaya, tapi aku sudah lupa penjelasannya. Yang kuingat hanya kalimat Papa: mereka bukan sedih, Neng, mereka cuma istirahat.

Dua belas kepala menunduk di bawah jendelaku, seperti padi di sawah.

Seperti padi yang sedang mencari sinyal, pikirku tiba-tiba, dan aku tidak tahu dari mana pikiran itu datang. Lelucon lama dari kehidupan yang lain. Aku menggeleng dan menutup gorden. Lalu aku membukanya lagi sedikit, cukup untuk melihat mereka sampai gelap.


Malamnya, untuk pertama kalinya sejak keluar kamar, aku membaca pesan-pesan yang menumpuk di ponselku. Ratusan. Aku menggulirnya tanpa membalas, sampai aku tiba di yang paling baru, dari Kiki, terkirim lima menit yang lalu.

Ran. Gue ke rumah lo Sabtu. Gak terima penolakan. Gue udah minta alamat ke laki lo. Dia ngasih. Dia juga ngasih denah. Pakai legenda. Ada skala-nya. Laki lo kenapa sih.