Chapter Fifteen
Mikrofon yang Tidak Mau Kupegang
POV: Rania
Kiki datang hari Sabtu pukul sembilan pagi, naik ojek dari Bogor, membawa denah tulisan tangan di satu tangan dan kotak kue besar di tangan lain.
“Denahnya akurat banget,” katanya begitu turun dari motor, sebelum bilang halo. “Ada skalanya, Ran. Satu banding lima ribu. Ada tanda panah utara. Ada keterangan pohon rambutan yang dahannya patah, belok kiri. Gue nyasar ke kampus pertanian aja nggak pernah sesukses ini.”
Lalu ia melihatku dengan benar, dan wajahnya berubah. Kotak kue itu hampir jatuh. Ia meletakkannya sembarangan di kursi teras dan memelukku, lama, sangat lama, tanpa bicara.
“Lo masih kurus,” bisiknya di bahuku. “Tapi mata lo udah nggak kosong lagi.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa, jadi aku menepuk-nepuk punggungnya.
Kotak kue itu dari Pak Bonar. Bolu kukus empat puluh buah, warna-warni, dengan kartu bertuliskan: Untuk penyiar kami. Cepat sehat. Kursimu menunggu. — Bonar (yang menangis setiap hari).
“Dia nulis sendiri tanda kurungnya,” kata Kiki. “Gue udah larang.”
Kiki minta melihat kamarku. Ia berdiri di tengahnya dan memandangi segalanya: kasur dengan seprai biru, rak buku pertanian, jendela dengan dua belas bunga matahari di luarnya. Lalu meja kecil di bawah jendela. Foto Papa. Bunga di gelas. Dan foto lama yang sudah melengkung ujungnya, anak kecil berlumpur dengan dua gigi ompong, mengangkat bibit padi seperti piala.
“Ini siapa?”
“Dia.”
Kiki mengangkat foto itu, memandanginya dari dekat, lalu memandangku. “Lo majang foto masa kecil laki lo di meja?”
“Ibunya yang ngasih. Aku cuma nggak tahu harus ditaruh di mana.”
“Ran.” Kiki meletakkan foto itu kembali dengan sangat hati-hati, persis di posisinya semula. “Laci ada. Lemari ada. Kolong kasur ada.”
Aku tidak menjawab. Kiki tidak mendesak. Tapi ia tersenyum dengan cara yang membuatku ingin melempar bantal ke kepalanya.
Kiki menjelajahi rumah itu seperti inspektur.
Ia membuka toples-toples di dapur dan membaca labelnya keras-keras. Ia membuka TERASI (JANGAN DIBUKA DI DEKAT DODI) dan langsung menutupnya lagi dengan wajah pucat. Ia menyentuh tumpukan kaus kaki yang licin di keranjang dan memandangku lama.
“Lo nyetrika kaus kaki?”
“Kadang.”
“Ran.” Kiki duduk di kursi makan dengan wajah serius. “Itu tanda-tanda. Gue baca di internet. Itu tanda-tanda lo butuh pelukan, bukan setrika.”
Lalu ia keluar ke halaman dan berhenti di depan barisan polybag. Ia membaca papan-papan kayu kecil itu satu per satu, dan suaranya naik makin tinggi di setiap papan.
“Cabe Pagi Riang. Tomat Kabar Kota. Terong Lagu Lawas.“ Ia berbalik padaku. “Ran. Ini apaan? Lo jadi merek cabe sekarang?”
“Semua orang Bogor dengar Swara Pakuan, Ki.”
“Ran.” Kiki memandangku seperti memandang orang yang baru bilang bumi itu datar. “Semua orang Bogor dengar Swara Pakuan. Tapi nggak semua orang Bogor namain terong pakai nama segmen lo.”
Aku tidak menjawab. Aku pura-pura membetulkan papan Kangkung Sapa Pendengar yang sedikit miring.
Kiki memandangiku lama, lalu menggeleng dan tidak melanjutkan. Kiki tahu kapan harus berhenti mendesak. Itu salah satu alasan kami bersahabat sejak SMA.
Kami duduk di teras dengan teh dan bolu kukus. Kiki baru mengatakan maksud kedatangannya setelah bolu ketiga.
“Pak Bonar nitip pesan.” Ia meletakkan bolunya. “Rating Pagi Riang turun, Ran. Turun banget. Bukan salah gue, ya, gue udah usaha, gue udah nyanyi, gue udah bikin kuis, gue udah bacain horoskop padahal gue nggak percaya horoskop. Tapi pendengar kangen lo. Tiap hari ada yang nanya. Tukang parkir. Ibu-ibu pasar. Anak SMA yang dulu patah hati itu.”
Aku memandangi tehku.
“Pak Bonar nggak ngasih kursi lo ke siapa-siapa. Tiap pagi gue bacain SMS pendengar yang nanyain lo. Kemarin dari anak SMA yang dulu patah hati itu. Dia bilang, Kak Rania, aku udah naik kelas dua belas. Kakak kapan naik siaran lagi? Direktur udah dua kali minta audisi penyiar baru. Pak Bonar bilang kursinya rusak.” Kiki menggeleng. “Padahal nggak rusak. Gue dudukin tiap hari. Aneh banget orangnya.”
“Ki.”
“Gue nggak maksa. Sumpah, Ran, gue nggak maksa. Gue cuma nyampein.”
“Aku nggak bisa.” Suaraku keluar lebih pelan dari yang kumaksud. “Suara itu… suara Pagi Riang… itu suara orang yang udah nggak ada, Ki. Perempuan itu ketawa tiap pagi karena hidupnya nggak pernah ada yang salah. Papa di dapur. Gilang telat tapi pasti datang. Perempuan itu udah meninggal di kamar jenazah bulan Juni. Aku nggak tahu siapa aku sekarang, tapi yang jelas bukan dia.”
Kiki tidak menjawab lama. Lalu ia mengulurkan tangan dan menggenggam tanganku di atas meja.
“Oke,” katanya. “Oke. Kursinya tetap di sana. Kalau suatu hari lo mau, kursinya di sana.”
Dodi datang pukul sebelas dengan alasan mengembalikan obeng.
Aku tidak tahu ia akan datang. Kiki juga tidak. Mereka bertemu di ambang pintu dapur dan berhenti saling memandang dengan ekspresi dua kucing yang bertemu di atas genteng yang sama.
“Lo,” kata Kiki.
“Kamu,” kata Dodi.
“Risoles.”
“Separuh yang lebih kecil itu punyaku secara hukum.”
Lima menit kemudian, mereka sudah bertengkar soal kopi. Dodi menyeduh kopi sachet tiga-dalam-satu untuk semua orang, tanpa ditanya, dan Kiki menyesapnya seperti menyesap racun.
“Ini bukan kopi,” kata Kiki. “Ini gula yang dikasih harapan.”
“Itu kopi.”
“Itu minuman manis yang pernah dengar kata kopi dari jauh.”
“Di bungkusnya tulisannya kopi!”
“Di bungkus rokok tulisannya membunuhmu, lo tetap percaya?”
Dodi membuka mulut, menutupnya, lalu menoleh ke dapur dengan putus asa. “Jar! Bilangin dia, Jar, ini kopi!”
Dari dapur, suara tenang: “Itu kopi, Dod. Kopi yang sangat manis.”
“Tuh, kan!”
“Sangat manis,“ ulang Kiki penuh kemenangan.
“Kamu nggak ada sopan-sopannya sama tuan rumah,” gerutu Dodi.
“Lo bukan tuan rumah. Lo tamu yang kebetulan bisa bikin kopi sachet.”
“Saya tamu tetap. Saya punya sikat gigi di sini.”
Kiki menoleh padaku dengan wajah ngeri. “Ran. Dia punya sikat gigi di rumah lo?”
“Kadang dia nginep,” kataku.
“Ya Allah. Rumah tangga lo bertiga.” Dari dapur terdengar batuk kecil yang kedengarannya sangat mirip tawa yang ditahan.
Aku memandangi mereka berdua bertengkar, dan sesuatu di dadaku terasa sedikit lebih ringan. Seperti jendela yang dibuka di ruangan yang terlalu lama tertutup.
Makan siang dimasak olehnya. Sayur asem, ikan asin, sambal yang lagi-lagi ia letakkan jauh dari jangkauanku. Kiki memperhatikannya bolak-balik antara dapur dan meja makan dengan tatapan juri lomba masak.
“Dia masak?” bisik Kiki.
“Tiap hari.”
“Dia nyuci piring?”
“Tiap hari.”
“Dia nyetrika?”
“Nggak. Itu aku. Kaus kaki.”
Kiki menyendok sayur asem, mencicipinya, dan diam lama. “Ran,” katanya serius. “Ini lebih enak dari sayur asem nyokap gue. Jangan bilang nyokap gue.”
Menjelang siang, ketika ia dan Dodi sedang membereskan rak bambu di halaman belakang, Kiki bersandar padaku di kursi teras dan merendahkan suaranya.
“Ran. Laki lo aneh. Tapi anehnya bagus.”
“Maksudnya?”
“Lo tahu nggak, dua hari setelah akad, dia nelepon gue. Nomor gue dari Pak Bonar. Lo tahu dia nanya apa?” Kiki menunggu efek dramatis. “Merek sampo lo.”
Aku menoleh.
“Merek sampo. Merek sabun. Sikat gigi bulu lembut atau keras. Gue kira dia mau jualan. Gue kira dia sales MLM. Gue hampir blokir.” Kiki menggeleng. “Terus tiap Minggu malem, Ran, tiap Minggu, dia kirim laporan ke gue. Hari ini minum teh satu gelas. Hari ini makan dua sendok. Hari ini tidak menangis jam dua. Kayak wali kelas lapor ke orang tua murid. Udah tiga bulan. Nggak pernah bolos sekali pun.”
Aku tidak bisa bicara.
Sampo botol hijau. Wangi teh hijau yang membuatku menangis di bawah guyuran gayung di hari kelima, karena baunya seperti rumah. Aku tidak pernah bertanya kenapa sampo itu ada di sana. Aku pikir kebetulan. Aku pikir semua ini kebetulan.
Tidak menangis jam dua.
Bagaimana ia tahu aku menangis jam dua?
Aku memandang ke halaman belakang, ke punggung berkemeja kotak-kotak yang sedang membungkuk mengangkat rak bambu bersama Dodi. Ia tidak tahu aku sedang memandanginya. Ia tidak pernah tahu.
Kiki menyesap kopi sachetnya, mengernyit, lalu menyesapnya lagi.
“Oh, satu lagi,” katanya, nadanya berubah ringan. “Pak Tani. Inget Pak Tani?”
“Inget.”
“Dia berhenti, Ran. Sejak Jumat itu. Hari terakhir lo siaran. Nggak ada SMS lagi. Sama sekali. Tiga bulan. Gue sampai telepon nomornya, tetap nggak aktif. Pendengar-pendengar lain pada nanya, Pak Tani ke mana, Pak Tani sakit, Pak Tani meninggal.” Kiki menghela napas. “Kayaknya Pak Tani juga patah hati, Ran. Kayak satu kota.”
Aku teringat SMS terakhirnya. Ini request terakhir saya. Aku menertawakannya di udara. Aku bilang ia kayak pamitan, lalu memberinya nilai nol karena tidak ada leluconnya. Pagi itu aku terlalu bahagia untuk mendengar bahwa seseorang sedang berpamitan sungguhan.
Enam tahun ia menemaniku setiap pagi, dan aku tidak pernah tahu siapa dia. Sekarang aku tidak akan pernah tahu.
Dari dapur, ada bunyi logam jatuh ke lantai tegel. Nyaring. Klontang.
“Jar!” Dodi berteriak dari halaman belakang. “Sendoknya!”
Rupanya ia sudah masuk ke dapur untuk mengambil minum. Aku melihatnya lewat jendela, membungkuk memungut sendok dari lantai, pelan-pelan, terlalu pelan, lalu berdiri dan berbalik ke arah bak cuci piring, membelakangi kami.
“Kenapa dia?” tanya Kiki.
“Nggak tahu,” kataku. “Kecapekan, mungkin.”
Kiki pulang pukul tiga. Langit sudah mendung, seperti biasa di jam-jam itu, dan ketika aku mengantarnya ke teras, aku melihat sesuatu yang sudah lama ada di sana tapi baru hari itu benar-benar kulihat.
Dua payung.
Bersandar di dinding di samping pintu depan. Satu payung hitam besar, gagangnya kayu dan sudah aus. Satu lagi payung kecil berwarna kuning, gagangnya masih berbalut plastik, jelas baru dibeli. Payung kuning itu ada di sana sejak aku keluar kamar. Mungkin sejak sebelum itu. Setiap kali aku keluar rumah, entah ke warung depan atau ke halaman, ia menyodorkannya padaku sebelum aku sempat berpikir apakah akan hujan.
Aku tidak pernah bertanya dari mana payung kuning itu datang.
Kiki naik ojek dan melambai sampai tikungan. Sebelum motornya jalan, ia menarik tanganku dan berbisik cepat, “Ran. Lo boleh sedih selamanya. Tapi lo juga boleh nggak. Dua-duanya boleh. Oke?” Aku berdiri di teras dengan payung kuning di tanganku, tidak dibuka, memandangi langit yang menggelap.
Malam itu, setelah makan, aku menemukannya di ruang tengah, membaca jurnal ilmiah dengan pensil di tangan. Aku berdiri di ambang pintu lama sebelum bicara.
Ada banyak pertanyaan di ujung lidahku. Kenapa kamu nanya merek sampo aku. Kenapa kamu lapor ke Kiki tiap Minggu. Bagaimana kamu tahu aku menangis jam dua. Payung kuning itu dari mana. Aku memandangi punggungnya yang membungkuk di atas jurnal, pensil yang bergerak pelan membuat garis di bawah kalimat-kalimat, dan aku tidak menanyakan satu pun.
Bukan karena aku tidak peduli. Aku mulai curiga justru sebaliknya. Dan itu membuatku takut.
“Tanggal dua puluh,” kataku.
Ia mengangkat wajah.
“Seratus harinya Gilang.” Aku menggenggam ujung jaket abu-abu itu. “Antar aku, ya.”
Ia menutup jurnalnya. Tidak bertanya apa-apa. Tidak bilang kamu yakin? atau kamu kuat?
“Iya,” katanya. Lalu, setelah jeda: “Pagi?”
“Pagi.”
“Aku siapkan payung.”
- 1 Request dari Pak Tani
- 2 Jumat yang Tidak Selesai
- 3 Permintaan dari Ranjang Nomor Empat
- 4 Akad di Ruang ICU
- 5 Rumah dengan Halaman Penuh Bibit
- 6 Tiga Ketukan
- 7 Frekuensi 98,7
- 8 Mak Datang Membawa Labu Siam
- 9 Sawah Bapak
- 10 Hari Ketiga Puluh
- 11 Istri yang Baik, Versi Robot
- 12 Empat Puluh Hari dan Satu Surat Bank
- 13 Yang Dibayar Diam-Diam
- 14 Yang Mekar di Bawah Jendela
- 15 Mikrofon yang Tidak Mau Kupegang reading
- 16 Seratus Hari
- 17 Nama yang Bukan Namaku
- 18 Tangan Siapa
- 19 Tiga Puluh Kilometer per Jam
- 20 Nama Papa di Layar
- 21 Sup yang Rasanya Seperti Mama
- 22 Pesan Suara yang Tidak Terkirim
- 23 Tawa yang Kembali
- 24 Pak Tani
- 25 Ketukan dari Arah Sebaliknya
- 26 Tanggal di Balik Cincin
- 27 Surat dari Wageningen
- 28 Siapa yang Membayar Rumah Matahari
- 29 Pasar Malam di Alun-Alun
- 30 Lupakan
- 31 Semua yang Kucintai
- 32 Janji Ketiga
- 33 Bunga Matahari di Rumah Papa
- 34 Surat yang Ditulis Tujuh Kali
- 35 Jurnal Kebun
- 36 Api di Rumah Kaca
- 37 Ranjang Nomor Empat
- 38 Untuk Pak Tani
- 39 Satu Request Lagi
- 40 Kamar Kita
- 41 Epilog — Pagi Riang dari Negeri Jauh