Chapter Thirty Six

Api di Rumah Kaca

POV: Fajar

Pukul tujuh lewat dua puluh, Dodi menelepon.

Aku sedang mencatat amplop keempat puluh tiga dari Kotak Benih Prof. H. annuus, Rumah Matahari, 2011. Di luar, angin menghantam dinding plastik rumah kaca sampai bergetar, dan terpal biru di atap berkibar seperti bendera. Hujan turun miring. Pemanas tua di pojok berdengung lebih keras dari biasanya.

“Jar.” Suara Dodi terdengar aneh. Antara panik dan takjub. “Jar, lo harus tahu sesuatu.”

“Si Kaldu kenapa?”

Dodi menginap di Ciapus malam itu. Ia bilang untuk menjaga rumah selama badai. Aku tahu ia sebenarnya menjaga Rania, karena ia tidak mau Rania sendirian di rumah kalau listrik padam lagi.

“Si Kaldu nggak apa-apa. Si Kaldu…” Dodi menarik napas. “Si Kaldu bertelur, Jar.”

Aku meletakkan pulpen.

“Satu. Di pojok kandang. Masih anget.” Dodi tertawa, tawa orang yang tidak percaya. “Jar. Sembilan bulan kita manggil dia Si Kaldu. Sembilan bulan gue kira dia jantan karena dia galak. Dia betina, Jar. Dia ibu-ibu.”

Aku tertawa. Sendirian di rumah kaca, di bawah lampu tanam ungu, aku tertawa sampai harus memegangi pinggiran meja.

“Mak harus tahu,” kataku.

“Udah gue kirim fotonya. Mak bales pakai emoji ayam tujuh belas biji. Terus ULAH DIDAHAR, KEUR INCU.” Dodi berhenti. “Jangan dimakan, buat cucu, katanya.”

Aku masih tertawa ketika Dodi menutup telepon. Aku memandangi ponselku. Baterai delapan puluh tiga persen. Di layar, pesan terakhir darinya, satu jam lalu: Hati-hati, Mas.

Aku tersenyum dan kembali ke amplop keempat puluh tiga.

Sebelum menulis, aku menyempatkan diri menengok rak di dekat pintu. Ada handuk kering di sana, terlipat, yang kuganti setiap Senin sejak malam badai bulan Mei, padahal tidak ada yang pernah memakainya. Di sampingnya, termos kecil berisi teh jahe yang kuseduh sore tadi, kalau-kalau ia menelepon minta dijemput dan kami harus menunggu hujan reda di sini. Ia tidak menelepon. Tidak apa-apa. Termos itu memang bukan untuk dipakai. Termos itu untuk berjaga.

Aku juga sudah mengirim pesan ke Pak Jaja agar besok pagi menutup lubang-lubang bunga matahari di depan jendela kamarnya dengan terpal, supaya hujan semalaman tidak mencabut akar mereka. Dua belas batang itu baru saja mulai menunduk ke barat setiap sore. Aku tidak mau ia bangun dan mendapati salah satunya patah.

Hal-hal kecil. Hal-hal yang tidak perlu ia tahu.

Itu saat terakhir malam itu yang terasa ringan.


Pintu rumah kaca terbuka pukul tujuh lewat empat puluh.

Aku menoleh, mengira satpam. Bukan satpam.

Dia berdiri di ambang pintu, basah kuyup dari kepala sampai kaki, rambut menempel di wajah, karet kain kuning masih bertahan di ujung kuncir. Di tangannya ada tas, dipeluk di dada seperti bayi.

“Ra?!” Aku berdiri terlalu cepat, kursiku terdorong ke belakang. “Kamu ngapain? Badai! Kamu ke sini naik apa?”

“Ojek.” Ia masuk, menutup pintu di belakangnya, mengusap air dari wajah dengan punggung tangan. “Kang Ujang. Pelan banget. Dua puluh lima. Lebih pelan dari kamu.”

Aku tidak tahu siapa Kang Ujang. Aku tidak peduli. Aku mengambil handuk dari rak dan meletakkannya di kepalanya, seperti malam badai di bulan Mei.

Kali ini ia tidak membiarkanku mengeringkan rambutnya. Ia memegang tanganku di atas handuk itu. Tangannya dingin.

“Mas. Aku mau tanya sesuatu.”

Ia membuka tasnya. Di dalamnya, terbungkus plastik dua lapis, ada buku bersampul kulit yang kukenal sejak delapan tahun lalu. Yang selalu ada di meja ruang kerja Prof. Yang tidak pernah kubaca, karena itu bukan milikku.

Jurnal Kebun.

Ia meletakkannya di meja kerja, di samping Kotak Benih yang masih terbuka. Membuka plastiknya pelan-pelan. Di antara halaman-halamannya, ada selembar daun bunga matahari kering yang menyembul, seperti penanda.

“Aku baca jurnal Papa,” katanya. Suaranya bergetar. “Semuanya. Hari handuk. Talang. Waktu Gilang mau melamar. Tapi ada satu halaman yang nggak kubaca sampai habis. Aku berhenti. Aku mau dengar dari kamu.”

Ia memandangku. Matanya basah, dan bukan karena hujan.

“Empat tahun lalu—“


Bunyinya seperti letupan kecil.

Pop.

Lalu bunyi desis, dan bau. Bau plastik terbakar, tajam, menusuk.

Aku menoleh. Di pojok, pemanas tua itu, pemanas yang sudah kulaporkan ke bagian sarana tiga kali dan selalu dijawab nanti, memercikkan api kecil dari kabelnya. Percikan oranye. Lalu satu lagi. Lalu api, kecil, merayap dari kabel ke dinding plastik di belakangnya.

Air hujan menetes dari terpal yang bocor tepat di atasnya.

Dalam satu detik, api kecil itu menjilat dinding plastik. Dalam dua detik, dinding plastik itu meleleh dan api naik ke rak di sampingnya, rak berisi karung-karung gambut kering untuk media semai. Gambut kering terbakar seperti kertas koran.

Dalam lima detik, pojok rumah kaca itu menjadi dinding api.

“Ra.” Suaraku keluar tenang. Aneh sekali, tenang. “Keluar.”

Ia membeku, memandangi api itu dengan mata lebar.

“KELUAR!”

Asap hitam mengepul dari plastik yang meleleh, naik ke atap, menyebar ke seluruh ruangan dalam hitungan detik. Mataku perih. Tenggorokanku terbakar. Lampu tanam berkedip, lalu mati, dan satu-satunya cahaya di rumah kaca itu adalah api.

Aku menyambar tangannya dan menariknya ke pintu. Ia tersandung. Aku menangkapnya. Aku setengah menyeretnya, setengah menggendongnya, melewati rak-rak yang mulai terbakar, menembus asap yang membuat dunia menjadi hitam dan panas.

Pintu. Aku mendorongnya terbuka dengan bahu. Udara dingin dan hujan menghantam wajah kami.

Kami jatuh di rumput basah di luar, terbatuk-batuk. Aku menariknya lebih jauh, sepuluh langkah, dua puluh langkah, sampai ke bawah pohon besar di tepi jalan setapak. Hujan mengguyur. Di belakang kami, rumah kaca itu menyala seperti lentera raksasa, dinding-dinding plastiknya meleleh, atapnya melengkung.

Ia aman. Ia di sini. Ia batuk-batuk, basah, berlutut di rumput, tapi ia di sini.

Lalu ia berbalik, memandangi rumah kaca yang terbakar, dan wajahnya berubah.

“Jurnal Papa.”


Aku melihat wajahnya.

Bukan wajah panik. Bukan wajah takut. Wajah yang lain. Wajah yang sudah kulihat di kamar jenazah, ketika ia tertawa satu kali lalu diam. Wajah di tepi liang lahat Gilang. Wajah di lorong ICU pukul lima lewat empat puluh. Wajah di lantai kamar tanpa jam. Wajah seseorang yang sedang menyaksikan satu lagi hal yang ia cintai diambil darinya, tepat di depan matanya, dan tidak bisa melakukan apa-apa.

Semua yang kucintai mati, Mas.

Jurnal Papa. Tiga puluh tahun tulisan tangan Prof. Kelahirannya. Kepergian Bu Laras. Bunga pertama. Biar.

Dan di sampingnya, di meja yang sama, Kotak Benih. Amplop paling tua. Bunga pertama Laras. Jangan dibuang.

Kalau itu terbakar, Prof benar-benar hilang. Bu Laras benar-benar hilang. Tidak ada lagi yang tersisa dari mereka, kecuali dia.

Aku sudah berjanji pada Prof di ranjang nomor empat. Bukan janji untuk menjadi suami yang baik. Janji yang lebih sederhana: jaga dia. Dan menjaga dia, malam ini, berarti menjaga apa yang tersisa dari orang-orang yang ia cintai.

Aku tidak berpikir. Aku tidak memutuskan. Tubuhku bergerak sendiri, seperti di pemakaman Gilang ketika Prof jatuh, seperti di malam pertama ketika aku keluar ke bawah hujan untuk menanam dua belas lubang.

Aku berlari.

“MAS! JANGAN!”

Aku mendengar suaranya di belakangku. Aku tidak berhenti.


Di dalam, dunia adalah panas dan hitam dan suara.

Bunyi api. Bunyi plastik meleleh dan menetes. Bunyi kaca pecah karena panas. Bunyi napasku sendiri, pendek dan tersengal, setiap tarikan membakar tenggorokan seperti menelan pasir panas.

Aku tidak bisa melihat. Aku merunduk serendah mungkin, hampir merangkak, dan bergerak dengan ingatan. Delapan tahun aku bekerja di rumah kaca ini. Aku tahu setiap rak. Setiap tiang. Lima langkah dari pintu, belok kanan. Tiga langkah lagi. Meja kerja.

Tanganku menyentuh pinggiran meja. Panas. Aku meraba. Kertas. Pulpen. Lalu, di bawah jariku, sampul kulit yang halus.

Jurnal.

Dan di sampingnya, kotak kayu. Tutupnya masih terbuka.

Aku melepas jaket abu-abu dari bahuku. Jaket jahitan Mak, dengan kerah yang miring. Jaket yang setahun lalu kusampirkan ke bahunya di kamar jenazah, yang ia pakai tiga puluh hari di balik pintu, yang ia kembalikan padaku terlipat rapi seperti sesuatu yang berharga.

Aku menutup Kotak Benih, meletakkan jurnal di atasnya, dan membungkus keduanya dengan jaket itu. Membalutnya dua kali, mengikat lengannya di atas. Memeluknya di dada.

Jaket mah lain keur gaya, Jar. Keur nu tiris.

Bukan untuk yang kedinginan, Mak. Malam ini untuk yang terbakar.

Aku berbalik ke arah pintu.

Di atas kepalaku, ada bunyi berderak. Panjang. Berat. Seperti tulang yang patah.

Rangka atap.


Aku tidak ingat bagaimana aku jatuh.

Aku ingat panas di punggungku. Bukan panas biasa. Panas yang hidup, yang menggigit, yang merambat dari bahu kanan ke tulang belikat ke pinggang. Aku ingat bau kain terbakar, dan menyadari itu kemejaku. Aku ingat lengan kananku di bawah sesuatu yang berat dan menyala, dan aku menariknya keluar, dan rasa sakitnya membuat dunia menjadi putih sesaat.

Aku ingat buntalan jaket di dadaku. Utuh. Aku melindunginya dengan tubuhku. Aku memastikannya.

Aku ingat, entah kenapa, tiga ketukan. Ketukan pelan di pintu kamarnya, setiap pagi selama tiga puluh hari, dengan nampan di lantai dan kaldu yang mengepul. Tok. Tok. Tok. Ia tidak pernah membuka pintu itu untukku. Tapi nampannya selalu kosong ketika aku kembali.

Di dalam asap dan panas itu, aku menghitung ketukan itu di kepalaku seperti menghitung langkah. Tok. Bangun. Tok. Merangkak. Tok. Pintu.

Karena di luar ada seseorang yang baru saja belajar memanggil namaku. Dan aku belum mendengar ia selesai mengucapkannya.

Lalu aku merangkak.

Lima langkah. Belok kiri. Tiga langkah. Aku tidak bisa bernapas. Setiap tarikan napas adalah asap. Lantai di bawah tanganku panas. Aku merangkak dengan satu tangan dan dua lutut, tangan kanan memeluk buntalan jaket ke dada, dan aku tidak tahu apakah aku bergerak ke arah yang benar, dan aku tidak berhenti.

Lalu udara dingin. Hujan. Rumput basah di bawah lututku.

Aku keluar.


Aku jatuh di rumput. Telentang. Hujan jatuh di wajahku, dingin, sangat dingin, dan untuk sesaat aku pikir itu hal paling indah yang pernah kurasakan.

Seseorang berlutut di sampingku. Tangannya di wajahku. Gemetar.

Dia.

Ia menangis. Ia berteriak sesuatu, ke arah lain, ke arah orang-orang yang berlari dari gedung fakultas, ke arah satpam dengan senter. Lalu ia menunduk ke arahku lagi, dan tangannya menyentuh pipiku, rambutku, dadaku, seperti orang yang memastikan sesuatu masih ada.

Aku mengangkat buntalan jaket itu. Pelan. Lenganku tidak mau menurut. Aku meletakkannya di pangkuannya.

“Jurnal Papa,” kataku. Suaraku tidak keluar. Hanya bisikan serak, seperti kertas yang diremas. “Sama biji Mama. Aman.”

Ia memandangi buntalan itu. Lalu memandangku. Wajahnya hancur.

“Bodoh,” bisiknya. “Kamu bodoh, Mas. Kamu bodoh.”

Untung dia tidak ikut masuk, pikirku. Itu satu-satunya pikiran yang jernih. Untung dia tidak ikut masuk. Untung dia di sini, di rumput, di bawah hujan, utuh.

Punggungku tidak terasa lagi. Lenganku tidak terasa lagi. Dunia mulai menggelap di pinggir-pinggirnya, seperti foto lama yang ujungnya terbakar.

Aku masih mendengarnya. Suaranya, dari jauh, makin jauh, memanggil namaku. Berulang-ulang.

Bukan Farid. Bukan Gilang. Bukan kamu.

Namaku. Nama yang benar.

Fa—