Chapter Six

Tiga Ketukan

POV: Rania

Di kamar itu tidak ada jam.

Aku baru menyadarinya entah di hari keberapa. Tidak ada detak, tidak ada angka. Hanya cahaya yang berganti di balik gorden: kelabu, putih, jingga, gelap, lalu kelabu lagi. Aku berbaring menghadap dinding dan membiarkan cahaya itu berganti tanpa menghitungnya.

Kamar itu sederhana. Kasur dengan seprai biru polos yang masih kaku karena baru. Lemari kayu dua pintu yang engselnya tidak berbunyi. Meja kecil di bawah jendela, kursi plastik, dan rak buku penuh judul yang tidak kumengerti: Fisiologi Benih, Dasar-Dasar Agronomi, Hama dan Penyakit Tanaman Pangan. Di dinding di atas lemari ada sebatang paku yang tidak menggantung apa-apa. Aku memandanginya setiap hari tanpa benar-benar melihatnya.

Ini kamar orang lain. Aku tidur di kasur orang lain, di rumah orang lain, dengan cincin orang lain di jariku. Pikiran itu seharusnya membuatku takut. Ternyata tidak. Ternyata tidak ada lagi yang tersisa di dalam diriku untuk merasa takut.

Ponselku mati di hari kedua. Sebelum mati, layarnya penuh pesan dari Kiki.

Ran.

Ran, gue tahu lo nggak bakal bales. Gapapa.

Gue siaran sendirian tadi pagi. Gue ngomong sama mixer beneran. Mixernya nggak jawab. Kayak lo.

Itu bercanda. Maaf. Gue nggak tahu harus ngomong apa.

Pak Bonar nangis lagi. Kayaknya dia butuh terapi.

Tadi ada pendengar nanya Kak Rania ke mana. Gue bilang lo lagi cuti. Dia nanya, “cuti dari kebahagiaan?” Gue blokir.

Ran. Gue sayang lo.

Aku membaca semuanya dan tidak membalas satu pun. Lalu layar itu menghitam, dan aku tidak mencari charger. Dunia di dalam ponsel itu terlalu ramai. Aku tidak sanggup mendengarnya.


Setiap pagi ada tiga ketukan.

Tok. Tok. Tok.

Tidak keras. Tidak buru-buru. Jarak antara ketukan pertama dan kedua sama persis dengan jarak antara yang kedua dan ketiga, seperti orang yang mengetuk sambil menghitung dalam hati. Lalu bunyi sesuatu diletakkan di atas bangku kayu di depan pintu. Lalu langkah kaki menjauh.

Aku menunggu sampai langkah itu hilang sepenuhnya sebelum memutar kunci, lalu membuka pintu sedikit saja. Cukup untuk menarik nampan ke dalam.

Isinya selalu sama, dengan variasi kecil. Nasi. Lauk. Sayur. Segelas teh manis. Termos besar berisi air panas, buat campuran mandi, airnya dingin, tulisnya di hari pertama. Dan secarik kertas yang dilipat dua.

Catatan yang pertama kubaca datang di hari kedua.

Selamat pagi.

Cuaca: mendung. Mungkin hujan sore, seperti biasa.

Nasinya agak keras. Maaf. Besok kucoba lagi.

Tebak-tebakan: sayur apa yang paling sabar? Bayam. Dicabut pun tidak protes.

Kalau butuh apa-apa, ketuk dinding. Aku dengar.

Aku membacanya, melipatnya lagi, dan meletakkannya di meja. Aku tidak makan nasinya. Aku tidak makan apa pun hari itu. Aku hanya minum setengah gelas teh, karena tenggorokanku kering dari menangis semalaman dan teh itu ada di sana.

Hangatnya pas. Tidak panas. Tidak pernah panas.

Aku tidak bertanya-tanya kenapa. Aku tidak bertanya-tanya tentang apa pun.

Tebak-tebakan itu jelek sekali. Di kehidupanku yang dulu, aku akan memberinya nilai dua di udara, dan Kiki akan tertawa sampai tersedak kopi. Di kehidupan yang ini, aku hanya memandangi tulisan tangan yang kecil dan rapi itu, huruf-hurufnya condong ke kanan seperti tanaman yang mencari cahaya, dan tidak merasakan apa-apa.


Catatan hari ketiga:

Cuaca: cerah pagi, hujan jam tiga. Kota ini tidak pernah ingkar janji.

Nasinya sudah tidak keras. Kayaknya.

Tebak-tebakan: kenapa tomat warnanya merah? Karena malu dilihatin petani terus.

Di samping gelas teh ada sesuatu yang baru: setangkai bunga matahari dalam gelas bening berisi air. Kelopaknya kuning tua, sedikit kecokelatan di ujung, batangnya dipotong miring dengan rapi.

Aku tahu bunga itu. Aku tahu dari halaman mana ia dipotong. Hanya ada satu tempat di Bogor yang menanam bunga matahari sebesar itu, dengan pinggir kelopak yang kecokelatan karena terlalu sering kehujanan.

Rumah Matahari. Halaman Papa.

Aku memandanginya lama sekali. Lalu aku menaruhnya di ambang jendela, di balik gorden, menghadap ke luar. Tiba-tiba aku tidak sanggup bunga itu memandangku.

Aku tidak tahu hari apa itu. Di kamar tanpa jam, semua hari sama.

Pagi berikutnya, samar-samar dari suatu tempat di rumah itu, aku mendengar jingle yang kukenal lebih baik dari suaraku sendiri. Swara Pakuan, sembilan delapan koma tujuh. Lalu suara Kiki, sendirian, terlalu ceria, membuka Pagi Riang.

Aku menutup telinga dengan bantal. Aku menekannya sampai kepalaku sakit.

Beberapa detik kemudian suara itu hilang. Bukan dikecilkan pelan-pelan. Hilang, seperti dimatikan dengan tergesa-gesa oleh seseorang yang baru sadar suaranya tembus sampai ke kamar ini.

Sejak pagi itu, aku tidak pernah mendengarnya lagi.


Catatan hari keempat lain dari biasanya.

Hari ini tahlilan tujuh hari Papa di Rumah Matahari.

Kalau kamu mau ikut, ketuk dua kali. Aku tunggu di ruang tengah sampai jam empat.

Kalau tidak, tidak apa-apa. Aku yang datang. Nanti kusampaikan salammu.

Aku duduk di tepi kasur memegang kertas itu sampai cahaya di balik gorden berubah jingga. Dari ruang tengah tidak terdengar apa-apa. Tidak ada langkah mondar-mandir, tidak ada dehaman tidak sabar. Hanya sunyi, sunyi orang yang menunggu dengan sungguh-sungguh.

Aku tidak mengetuk. Aku tidak tahu apakah itu karena aku tidak mau, atau karena aku tidak bisa. Di titik ini, dua hal itu sudah tidak ada bedanya.

Akhirnya aku mendengar pintu depan dibuka dan ditutup dengan sangat pelan. Bunyi mesin mobil. Lalu sunyi lagi, sunyi yang lain.

Ia pulang larut malam. Catatan keesokan paginya:

Tahlilannya ramai. Pak RT datang. Tante masak rendang terlalu banyak, aku disuruh bawa pulang satu rantang. Ada di nampan.

Salammu sudah kusampaikan ke Papa.

Bunga matahari Papa sudah kusiram semua.

Aku membaca baris terakhir itu, dan sesuatu di dadaku retak.

Bunga matahari Papa. Jangan lupa disiram.

Itu permintaan terakhir Papa padaku. Pukul dua pagi, di ranjang nomor empat, dengan mata terpejam. Aku bilang iya. Lalu aku lupa. Aku lupa sama sekali. Seminggu aku mengurung diri di kamar orang asing, sementara bunga-bunga Papa berdiri di halaman yang kosong, menunggu air dari seseorang yang sudah berjanji.

Laki-laki itu tidak tahu tentang janji itu. Tidak ada yang tahu. Ia hanya pergi ke sana, melihat bunga-bunga yang kehausan, dan menyiramnya.

Aku menekan kertas itu ke dadaku dan menangis sampai cahaya di balik gorden berganti lagi.

Hari itu aku makan sepotong rendang Tante. Hanya sepotong, dingin, langsung dari rantang, dengan tangan. Rasanya persis rendang Tante setiap Lebaran: terlalu banyak santan, terlalu sedikit cabai, karena Tante tahu aku tidak tahan pedas.

Catatan-catatan berikutnya kembali seperti biasa.

Tebak-tebakan: kenapa jagung punya rambut? Biar kelihatan rapi kalau dipanen.

Tebak-tebakan: buah apa yang paling setia? Sebentar. Aku lupa jawabannya. Maaf. Besok.

Untuk pertama kalinya, sesuatu di sudut bibirku berkedut. Tidak sampai tersenyum. Hanya berkedut, seperti otot yang lupa caranya dan mencoba mengingat. Lalu berhenti.


Malam-malam, aku mendengar sesuatu di luar pintu.

Bunyi pelan, seperti kain bergesekan dengan lantai. Seperti napas yang ditahan. Kukira hujan. Di Ciapus hujan turun hampir setiap malam, dan bunyinya di atap seng dapur seperti seribu jari yang mengetuk tanpa irama.

Sekali, di tengah tangisku, aku berhenti untuk mengatur napas, dan dalam jeda itu aku mendengar sesuatu yang bukan hujan. Bunyi halus, sangat dekat, seperti seseorang membalik halaman buku. Aku menempelkan telinga ke pintu. Sunyi. Hanya sunyi, dan bau tanah basah yang merembes dari celah di bawah pintu. Kucing, pikirku. Atau angin. Aku kembali ke kasur dan tidak memikirkannya lagi.

Pada malam yang paling dingin, dingin pegunungan yang merambat naik dari lantai tegel, aku membuka pintu untuk menaruh nampan kosong dan menemukan selimut tebal terlipat di atas bangku. Aku mengambilnya. Aku tidak bertanya.

Kadang, dari balik dinding, terdengar suara-suara yang bukan miliknya.

“Jar, ini sambel apa racun tikus?”

“Dod. Pelan.”

“Ini pelan, Jar. Ini versi akustik.”

Lalu bunyi seseorang bernyanyi dangdut dengan suara cempreng, dipotong di tengah bait oleh desisan panjang, ssst, lalu tawa tertahan, lalu sunyi lagi. Aku tidak tahu siapa Dod. Aku tidak ingin tahu.

Hari kelima aku mandi untuk pertama kalinya.

Aku mencampur air dari termos dengan air bak yang dinginnya menusuk. Di rak ada sampo botol hijau. Begitu aku membuka tutupnya, wangi teh hijau memenuhi kamar mandi kecil itu, dan untuk sesaat aku berada di Rumah Matahari, di kamar mandi lantai atas, dengan Papa mengetuk pintu dan berteriak bahwa nasi gorengnya sudah dingin.

Aku menangis di bawah guyuran gayung sampai air termosnya habis.

Aku tidak bertanya kenapa sampo di kamar mandi itu sama persis dengan sampoku. Aku tidak bertanya kenapa sabunnya batang kuning wangi jeruk, kenapa kaus kaki di lemari ukurannya pas. Di kamar ini aku tidak bertanya apa-apa. Bertanya berarti peduli, dan aku sudah berhenti.


Duka ternyata tidak datang sekaligus. Ia datang bergantian, seperti tamu yang tahu diri.

Ada jam-jam yang milik Gilang. Suaranya di telepon, ketawa dulu, biar aku tenang. Tiga garis merah di punggung tangannya. Foto kebaya yang centangnya tidak akan pernah berubah biru. Cincin tunangannya masih ada di saku jaket abu-abu yang tidak pernah kulepas, dan setiap malam aku memegangnya dari luar kain, memastikan ia masih di sana, seperti lidah yang terus meraba lubang bekas gigi tanggal.

Aku pertama kali bertemu Gilang empat tahun lalu, di studio. Ia jadi narasumber segmen Kabar Kota untuk membicarakan jembatan baru di Cisadane, dan ia telat dua puluh menit karena, katanya, ada bapak-bapak yang motornya mogok di tengah jalan dan ia tidak tega tidak mendorong. Aku menyindirnya di udara. Ia membalas di udara. Pendengar mengirim SMS menyuruh kami pacaran. Seminggu kemudian kami benar-benar pacaran, dan sampai sekarang Kiki mengklaim itu jasanya.

Empat tahun. Empat tahun yang sekarang muat di dalam satu cincin, di dalam saku jaket.

Ada jam-jam yang milik Papa. Senyum dulu, Neng. Bunyi monitor yang berubah menjadi satu nada panjang. Sambutan tiga halaman yang tidak pernah dibacakan, dua setengah halamannya tentang bunga matahari.

Ada juga jam-jam yang milik Mama, yang sudah empat belas tahun pergi tapi entah kenapa ikut datang, seolah duka yang baru membukakan pintu untuk duka yang lama.

Aku berbaring di antara mereka semua dan memutar-mutar cincin perak yang longgar di jari manisku. Cincin itu berputar terlalu mudah. Seperti tidak benar-benar milikku.

Kadang, di tengah malam, aku mencoba mengingat wajah laki-laki yang memasangkan cincin itu. Aku tidak bisa. Yang kuingat hanya tangannya yang hangat dan bau sabun batang, dan suaranya yang bilang maaf untuk sesuatu yang bukan salahnya. Wajahnya tidak pernah mau muncul. Mungkin karena aku tidak pernah benar-benar melihatnya. Mungkin karena aku tidak mau.


Catatan hari ketujuh tidak ada tebak-tebakannya.

Cuaca: hujan dari subuh. Sepertinya seharian.

Hari ini tidak ada tebak-tebakan. Aku kehabisan. Besok kucari lagi.

Kemarin tehnya habis. Terima kasih.

Aku membaca baris terakhir itu, lalu membacanya sekali lagi.

Terima kasih. Untuk segelas teh yang ia seduh sendiri, ia antar sendiri, dan ia letakkan sendiri di depan pintu yang tidak pernah dibukakan untuknya.

Laki-laki itu berterima kasih padaku karena aku meminumnya.