Chapter Sixteen
Seratus Hari
POV: Rania
Pagi itu aku berganti baju tiga kali. Gamis hitam terasa terlalu seperti pemakaman. Kemeja putih terasa terlalu seperti tidak terjadi apa-apa. Akhirnya aku memakai baju kurung abu-abu yang dulu dibelikan Gilang di Pasar Baru, satu-satunya baju darinya yang masih muat di badanku yang menyusut.
Ia menunggu di teras tanpa sekali pun mengetuk pintu kamar atau melihat jam. Ketika aku keluar, ia menyodorkan payung kuning, lalu sebuah handuk kecil yang terlipat rapi.
“Buat rambut,” katanya. “Nanti kalau kena hujan.”
Aku memasukkan handuk itu ke tas tanpa bertanya.
Hujan turun sejak kami keluar dari gang.
Bukan hujan sore Bogor yang biasa, yang datang tepat pukul tiga dan pergi sebelum magrib. Ini hujan pagi yang malas, gerimis yang menebal pelan-pelan sampai wiper Si Siput harus bekerja dengan kecepatan penuh, berdecit setiap kali melintasi kaca, ngiik, ngiik, seperti mengeluh.
Aku duduk di jok depan memeluk tas kecil berisi Yasin, botol air mawar, dan sebungkus kembang yang kubeli kemarin di pasar. Jaket abu-abu itu menutup bahuku. Aku belum pernah ke makam Gilang sejak hari ia dikuburkan. Seratus hari. Seratus hari aku tidak sanggup.
Hari ini aku harus sanggup.
Di persimpangan sebelum Ciawi, sebuah truk pasir melintas di jalur sebelah. Besar, tinggi, rodanya menyemburkan air cokelat ke kaca samping kami. Bunyinya, gemuruh mesin diesel dan desis ban di aspal basah, memenuhi seluruh mobil.
Napasku berhenti.
Aku tidak tahu apa yang terjadi pada tubuhku. Tanganku mencengkeram tas sampai buku-buku jariku memutih. Dadaku menyempit seperti diikat tali. Aku bisa mendengar jantungku sendiri, keras dan cepat, dan di balik bunyi jantung itu, ada bunyi lain yang tidak pernah kudengar tapi selalu kubayangkan: bunyi rem yang terlambat, bunyi logam yang remuk, di jalan tol yang licin, pukul lima sore lewat sedikit.
Ia tidak bicara. Ia menyalakan lampu sein, menepi pelan ke bahu jalan, dan mematikan mesin.
Wiper berhenti. Hujan mengetuk atap. Truk itu sudah lama lewat.
Ia tidak menyentuhku. Ia tidak bilang tenang atau nggak apa-apa. Ia hanya duduk di kursinya, tangan di pangkuan, memandang lurus ke depan ke kaca yang perlahan buram oleh hujan. Menunggu. Seolah kami punya seluruh waktu di dunia, seolah duduk di bahu jalan dalam hujan dengan mesin mati adalah hal paling biasa yang bisa dilakukan dua orang di pagi hari.
Lima menit. Mungkin sepuluh. Napasku pelan-pelan kembali.
“Sudah,” kataku akhirnya. Suaraku serak.
Ia menyalakan mesin. Kami berangkat lagi.
Pelan. Sangat pelan. Jarum spidometer tidak pernah melewati angka tiga puluh. Sebuah angkot di belakang kami mengklakson panjang, lalu menyalip sambil sopirnya melongok dan meneriakkan sesuatu yang tidak sopan. Motor-motor melewati kami seperti kami sedang parkir. Seorang anak kecil di boncengan sepeda motor menoleh dan melambai pada kami dengan wajah iba.
Ia tidak mempercepat. Ia tidak menggerutu. Ia bahkan tidak melirik ke spion untuk melihat siapa yang mengklakson. Seolah dunia di luar mobil ini tidak ada, dan satu-satunya yang penting hanyalah jarak aman antara kami dan apa pun yang lebih besar dari kami. Ia hanya menyetir, tiga puluh kilometer per jam, kedua tangan di kemudi, seperti membawa sesuatu yang bisa tumpah.
Jalannya juga terasa lebih jauh dari seharusnya. Makam keluarga Gilang di daerah Cibubur, dan setahuku jalan tercepat ke sana lewat tol. Tapi kami tidak masuk tol. Kami berbelok ke jalan-jalan kecil yang tidak kukenal, melewati Parung, melewati kebun-kebun dan pasar-pasar kecil dan deretan ruko yang belum selesai dibangun.
Aku heran. Tapi aku tidak bertanya. Mungkin ia tidak suka jalan tol. Mungkin Si Siput tidak kuat di jalan tol. Mungkin.
Bu Ratih sudah menunggu di gerbang makam dengan payung hitam dan wajah yang lebih kurus dari terakhir kali kulihat.
Ia memelukku. Aku membalas pelukannya kali ini. Badannya kecil dan bergetar, dan ia berbau minyak telon dan bunga sedap malam.
“Akhirnya,” bisiknya. “Akhirnya kamu datang, Nia.”
Kami berjalan bersama menyusuri jalan setapak di antara nisan-nisan. Ia berjalan di belakang kami dengan payung hitamnya, menjaga jarak, cukup jauh sehingga ia tidak terlihat seperti bagian dari rombongan, cukup dekat sehingga aku tahu ia ada.
Lalu aku melihat makam itu.
Gilang Prasetya bin Hendra Prasetya. Nisannya sudah diganti dari kayu menjadi marmer abu-abu. Tanggal lahir. Tanggal wafat. Tiga belas Juni.
Aku berhenti. Kakiku berhenti sendiri, seperti di depan pagar rumah Bu Ratih dulu.
Tapi kali ini aku melihat sesuatu yang membuat kakiku bergerak lagi.
Makam itu bersih. Sangat bersih. Tidak ada satu helai rumput liar pun di atas tanahnya. Bunga di botol air mawar masih segar, kelopaknya belum layu. Kembang tujuh rupa ditaburkan rapi, belum kering. Di pinggir makam, ada batu-batu kecil yang disusun berjajar, membentuk batas, seperti seseorang dengan sabar membuat pagar mini dari kerikil sungai.
Makam-makam di sekitarnya ditumbuhi rumput setinggi mata kaki. Hanya makam Gilang yang seperti ini.
“Bu Ratih yang rawat?” tanyaku.
Bu Ratih menggeleng pelan. Ia memandang melewati bahuku, ke arah laki-laki berpayung hitam yang berdiri jauh di belakang, di bawah pohon kamboja.
“Nak Fajar,” katanya. “Tiap bulan ke sini. Tiap tanggal tiga belas. Ibu pernah ketemu sekali, bulan Agustus. Dia lagi jongkok nyabutin rumput. Ibu tanya kenapa. Dia bilang, dia belum sanggup ke sini, Bu. Gilang nggak boleh sendirian sampai dia sanggup.“
Aku tidak bisa bicara.
Bu Ratih menggenggam tanganku. “Dan Nia. Makasih kirimannya, ya. Tiap bulan. Buah, kue. Ibu nggak sempat bilang makasih langsung.”
Aku memandangnya, bingung. “Kiriman?”
“Parsel. Tiap bulan, dari awal Agustus.” Bu Ratih tersenyum. Senyum yang sedih dan lembut dan sangat, sangat tahu. “Kartunya tulisan Rania. Tapi itu bukan tulisanmu, kan, Nak? Ibu hafal tulisanmu. Kamu dulu sering nulis surat buat Gilang, ditempel di kulkas. Tulisanmu besar-besar, kayak anak SD. Yang ini kecil dan miring.”
Aku menoleh.
Ia masih berdiri di bawah pohon kamboja. Payung hitam di tangan, kemeja kotak-kotak di bawahnya, wajah menunduk ke tanah. Ia tidak mendekat. Ia tidak tahu kami sedang membicarakannya.
Aku berlutut di samping makam Gilang dan membaca Yasin dengan suara yang terputus-putus. Bu Ratih ikut membaca. Hujan menipis menjadi gerimis, lalu berhenti.
Setelah selesai, aku tidak langsung berdiri. Aku menempelkan telapak tanganku di tanah di atas makam itu, tanah yang bersih dan basah, dan berbisik, cukup pelan sehingga hanya Gilang yang bisa mendengar:
“Maaf aku baru datang.”
Aku diam lama. Lalu aku berbisik lagi, lebih pelan.
“Papa juga sudah pergi, Lang. Sehari setelah kamu. Mungkin kalian sudah ketemu. Kalau sudah, bilang ke Papa, bunganya masih ada yang nyiram.” Aku menelan ludah. “Aku menikah. Bukan sama kamu. Sama murid Papa. Aku nggak tahu kamu marah atau nggak. Aku nggak tahu aku harus minta maaf atau nggak.”
Angin bertiup di antara pohon-pohon kamboja. Sehelai daun jatuh di atas nisan.
“Dia yang bersihin makam kamu,” bisikku. “Tiap bulan. Aku baru tahu tadi.”
Rasanya aneh, menceritakan laki-laki itu pada Gilang. Tapi lebih aneh lagi kalau aku tidak menceritakannya.
Tanah itu dingin. Gilang tidak menjawab. Tapi untuk pertama kalinya sejak Juni, aku tidak merasa ia sendirian di sini. Seseorang sudah menemaninya setiap bulan, ketika aku tidak bisa.
Kami kembali ke gerbang. Bu Ratih memelukku sekali lagi, lalu, setelah ragu sebentar, memeluknya juga. Ia membalas pelukan itu dengan kaku, seperti orang yang tidak terbiasa dipeluk, tangannya menepuk punggung Bu Ratih dua kali dengan sangat sopan.
“Jaga dia, ya, Nak,” bisik Bu Ratih.
“Iya, Bu.”
Ia masuk ke Si Siput, memutar kunci, dan karena tangannya masih basah dan gugup, sikunya menyenggol klakson.
Selamat ulang tahun, kami ucapkan…
Melodi ulang tahun yang riang, nyaring, cempreng, berkumandang di gerbang pemakaman umum, di antara nisan-nisan dan peziarah yang sedang berdoa. Seorang bapak tua di dekat gerbang menoleh dengan wajah kaget. Penjaga makam menjatuhkan sapunya.
Ia membeku. Wajahnya merah padam dari leher sampai ke ujung telinga. Ia menekan klakson itu sekali lagi, entah kenapa, mungkin untuk menghentikannya, dan melodi itu malah berbunyi dari awal.
Di luar jendela, Bu Ratih menutup mulutnya dengan tangan. Bahunya bergetar. Aku tidak yakin apakah ia menangis atau menahan tawa. Kurasa keduanya.
Lalu aku mendengarnya, samar dari balik kaca: Bu Ratih tertawa. Tawa kecil yang pecah di tengah, seperti tawa yang sudah lama tidak dipakai.
“Gilang pasti ketawa,” katanya, mengusap mata. “Dia pasti ketawa paling keras.”
“Maaf,” katanya padaku, padanya, pada seluruh pemakaman. “Maaf. Klaksonnya… maaf.”
Kami pulang lewat jalan yang sama. Parung. Kebun-kebun. Pasar-pasar kecil. Tiga puluh kilometer per jam.
Di tengah jalan, aku memandang ke luar jendela dan bertanya, tanpa menoleh padanya, “Kenapa?”
Ia tidak bertanya kenapa apa. Ia tahu.
“Dia orang baik,” katanya. “Orang baik pantas dijaga, walaupun sudah nggak ada.”
“Kamu nggak kenal dia.”
“Kenal sedikit. Dia sering ke Rumah Matahari.” Ia diam sebentar. “Dia selalu telat. Alasannya selalu kucing. Dan dia selalu bikin kamu ketawa.”
Aku menoleh.
Ia tidak memandangku. Ia memandang jalan, kedua tangan di kemudi, jarum spidometer di angka tiga puluh.
“Orang yang bikin kamu ketawa kayak gitu,” katanya pelan, “nggak boleh dilupakan.”
Aku memalingkan wajah ke jendela lagi, karena tiba-tiba mataku panas dan aku tidak mau ia melihatnya.
Laki-laki ini merawat makam tunanganku. Mengirim buah atas namaku kepada ibu tunanganku. Menulis namaku di kartu-kartu itu dengan tulisan tangannya yang kecil dan miring, berbulan-bulan, tanpa pernah bilang padaku. Dan alasannya bukan untuk dirinya sendiri. Bukan untuk dipuji. Bukan untuk membuatku berutang.
Alasannya Gilang. Alasannya, karena Gilang pernah membuatku tertawa.
Aku tidak mengerti orang seperti apa yang bisa begitu.
Bahu kanannya basah kuyup. Aku baru menyadarinya sekarang. Sepanjang di makam ia memegang payung hitam itu sedikit miring ke arah aku dan Bu Ratih, walaupun ia berdiri jauh di belakang, dan bahunya sendiri dibiarkan kehujanan. Kemeja kotak-kotaknya menempel di kulit, menggelap di satu sisi.
Handuk kecil di tasku masih kering. Aku mengeluarkannya, ragu sebentar, lalu meletakkannya di pangkuannya, di atas kemudi.
Ia memandangi handuk itu, lalu jalanan di depan. “Terima kasih,” katanya. Tapi ia tidak memakainya. Ia membiarkannya di pangkuan sampai kami tiba di rumah, lalu melipatnya kembali, sangat rapi, dan meletakkannya di sandaran kursi teras.
Malam itu aku tidak bisa makan. Kukira karena kelelahan. Kepalaku berat, mataku perih, dan ada rasa pegal aneh di belakang lututku yang menjalar ke punggung.
Aku tidur lebih awal. Pukul sepuluh aku terbangun karena kedinginan. Aku menarik selimut tebal itu sampai ke dagu, dan masih kedinginan. Aku memakai jaket abu-abu di atas piyama, dan masih kedinginan.
Gigiku bergemeletuk. Tubuhku gemetar dari dalam, gemetar yang tidak bisa dihentikan, seperti tulang-tulangku sendiri sedang menggigil.
Kepalaku panas. Sangat panas.
Aku ingin memanggil seseorang, tapi aku tidak tahu siapa. Papa tidak ada. Gilang tidak ada. Kamar ini gelap dan berputar pelan, dan dari balik dinding, sangat jauh, aku mendengar bunyi radio yang dimatikan.
Aku mengangkat tangan yang gemetar dan mengetuk dinding. Sekali. Lemah sekali.
Lalu semuanya menjadi gelap dan panas.
- 1 Request dari Pak Tani
- 2 Jumat yang Tidak Selesai
- 3 Permintaan dari Ranjang Nomor Empat
- 4 Akad di Ruang ICU
- 5 Rumah dengan Halaman Penuh Bibit
- 6 Tiga Ketukan
- 7 Frekuensi 98,7
- 8 Mak Datang Membawa Labu Siam
- 9 Sawah Bapak
- 10 Hari Ketiga Puluh
- 11 Istri yang Baik, Versi Robot
- 12 Empat Puluh Hari dan Satu Surat Bank
- 13 Yang Dibayar Diam-Diam
- 14 Yang Mekar di Bawah Jendela
- 15 Mikrofon yang Tidak Mau Kupegang
- 16 Seratus Hari reading
- 17 Nama yang Bukan Namaku
- 18 Tangan Siapa
- 19 Tiga Puluh Kilometer per Jam
- 20 Nama Papa di Layar
- 21 Sup yang Rasanya Seperti Mama
- 22 Pesan Suara yang Tidak Terkirim
- 23 Tawa yang Kembali
- 24 Pak Tani
- 25 Ketukan dari Arah Sebaliknya
- 26 Tanggal di Balik Cincin
- 27 Surat dari Wageningen
- 28 Siapa yang Membayar Rumah Matahari
- 29 Pasar Malam di Alun-Alun
- 30 Lupakan
- 31 Semua yang Kucintai
- 32 Janji Ketiga
- 33 Bunga Matahari di Rumah Papa
- 34 Surat yang Ditulis Tujuh Kali
- 35 Jurnal Kebun
- 36 Api di Rumah Kaca
- 37 Ranjang Nomor Empat
- 38 Untuk Pak Tani
- 39 Satu Request Lagi
- 40 Kamar Kita
- 41 Epilog — Pagi Riang dari Negeri Jauh