Chapter Three
Permintaan dari Ranjang Nomor Empat
POV: Fajar
Gerimis turun sejak subuh, halus, seolah kota ini tidak tega menurunkan hujan sungguhan di pemakaman laki-laki yang meninggal karena hujan.
Aku berdiri paling belakang. Di antara saudara-saudara Gilang, teman kantornya yang masih berseragam proyek, dan tetangga yang datang bersandal jepit, tempatku memang di belakang. Aku murid Prof. Hartono. Hanya itu alasanku ada di sini.
Dia berdiri di tepi liang lahat, di samping ibu Gilang. Di seberang mereka, seorang tukang proyek berompi oranye menangis paling keras sambil memeluk kardus kecil. Dari lubang di kardus itu menyembul kepala seekor anak kucing belang tiga.
Aku tahu tidak pantas memikirkannya, tapi dia cantik, bahkan pagi ini. Kerudung hitam pinjaman, wajah pucat tanpa riasan, mata yang tidak berkedip memandangi tanah merah. Kecantikannya tidak hilang. Ia hanya padam, seperti lampu jalan di pagi hari: masih di sana, tapi tidak menyala lagi.
Bahunya masih terbungkus jaket abu-abuku.
Jaket itu jahitan Mak, dari kain yang dibeli di pasar Cianjur waktu aku pertama berangkat kuliah. Kerahnya miring karena Mak menjahitnya malam-malam di bawah lampu teplok. Waktu memberikannya, Mak bilang, “Jaket mah lain keur gaya, Jar. Keur nu tiris.” Jaket bukan untuk gaya. Untuk yang kedinginan. Semalam aku menyampirkannya ke bahunya karena dia menggigil dan tidak sadar dirinya menggigil. Aku juga yang membeli teh manis di kantin rumah sakit dan meminta penjualnya mencampur air panas dengan sedikit air dingin.
Dia tidak suka minuman panas. Lidahnya gampang melepuh.
Aku tahu banyak hal tentang dia yang tidak seharusnya kuketahui.
Gerimis menebal. Payung-payung terbuka, tapi semua sibuk memayungi ibu Gilang, yang sudah dua kali hampir pingsan. Dia berdiri sendirian, air menetes dari ujung kerudungnya, dan tidak peduli.
Aku menyelinap di antara orang-orang, berdiri tepat di belakangnya, dan membuka payungku di atas kepalanya. Dia tidak menoleh. Dia tidak tahu, atau tidak peduli, siapa yang memegang payung itu. Tidak apa-apa.
Ada hal-hal yang tidak boleh dipikirkan seorang laki-laki di pemakaman tunangan orang lain. Jadi aku hanya memikirkan satu hal: bagaimana memegang payung agar tidak ada setetes pun yang jatuh ke bahunya.
Gilang orang baik. Beberapa kali aku bertemu dengannya di Rumah Matahari. Dia selalu telat, selalu membawa alasan aneh, dan selalu membuat dia tertawa. Aku tidak pernah bisa membencinya. Bagaimana bisa membenci orang yang membuat dia tertawa seperti itu?
Doa terakhir dibacakan. Tanah ditimbun. Orang-orang mulai bubar.
Lalu Prof jatuh.
Tidak ada suara. Itu yang paling kuingat. Payung hitam Prof terlepas dan berguling di tanah merah, dan Prof ikut turun bersamanya, pelan, seperti daun.
“PAPA!”
Aku tidak ingat berlari. Tahu-tahu aku sudah berlutut di samping Prof, dua jari di lehernya. Nadinya ada tapi kacau. Napasnya pendek-pendek. Tangannya mencengkeram kemeja di dada kiri.
“Jar,” katanya. Hanya itu.
Ambulans tidak akan cepat sampai ke pemakaman di ujung kampung ini. Aku menggendong Prof. Prof tidak ringan, dia laki-laki besar yang suka kerupuk, tapi saat itu aku tidak merasakan beratnya. Aku berjalan secepat mungkin di jalan setapak yang becek. Sandal kiriku putus. Aku tidak berhenti.
Dia berlari di sampingku, memegangi kepala ayahnya.
Aku membaringkan Prof di jok belakang mobilnya. Dia masuk tanpa diminta, memangku kepala Prof, dan menangis untuk pertama kalinya sejak kemarin, dengan suara yang membuat dadaku sakit.
Aku pernah menyetir seperti ini satu kali, dua belas tahun lalu, memakai pikap tetangga, dengan Bapak terbaring di bak belakang. Waktu itu aku terlambat.
Kali ini aku menyetir lebih cepat dari yang pernah kulakukan seumur hidup. Menyalip angkot, menerobos lampu kuning, menekan klakson di setiap tikungan. Yang kupedulikan hanya napas pendek di jok belakang dan bisikan dia yang tidak berhenti: Papa, jangan, Papa.
Itu terakhir kalinya aku ngebut dengan dia di dalam mobil. Saat itu aku belum tahu.
ICU. Ranjang nomor empat, di dekat jendela.
Serangan jantung. Pembuluh utama tersumbat. Mereka akan memasang ring kalau kondisinya stabil. Kalau. Dokter bicara dengan istilah yang kupahami separuh dan raut wajah yang kupahami sepenuhnya.
Tante Ratna, adik Prof, datang tergopoh-gopoh dengan sanggul setengah jadi, lalu langsung menginterogasiku. “Kamu siapa?”
“Fajar, Bu. Murid Prof.”
Ia memandangku dari ujung rambut sampai kakiku yang cuma bersandal sebelah. “Murid yang mana?”
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
“Kerja apa?”
“Asisten riset Prof, Bu. Sambil jual bibit.”
“Bibit apa?”
“Cabai, tomat, terong.”
“Jadi kamu tukang sayur.”
“Bibitnya, Bu. Belum jadi sayur.”
Tante Ratna memandangku seperti sedang menimbang apakah aku sedang melucu. Aku tidak sedang melucu. Ia mendengus dan duduk sejauh mungkin dariku.
Siang merambat lambat. Aku turun ke kantin dan membeli nasi bungkus: ayam goreng, sayur labu, sambalnya dipisah. Dia tidak tahan sambal yang terlalu pedas. Aku meletakkannya di kursi kosong di sampingnya. Dia tidak melihatnya. Aku membiarkannya di sana. Kadang yang bisa dilakukan seseorang hanya meletakkan sesuatu di dekat orang lain, lalu berharap.
Asar, aku turun ke musala rumah sakit. Lantainya dingin, sajadahnya tipis dan berbau apak. Di sampingku seorang bapak tua menangis tanpa suara sambil memegang tasbih.
Aku tidak tahu harus berdoa apa. Aku bukan siapa-siapa di keluarga itu. Aku tidak punya hak meminta apa pun atas nama mereka. Jadi aku hanya meminta hal-hal yang sederhana. Biarkan Prof bertahan. Biarkan dia makan, walaupun sedikit. Biarkan dia tidak sendirian malam ini.
Untuk diriku sendiri, aku tidak meminta apa-apa. Sudah lama aku berhenti meminta untuk diriku sendiri. Rasanya lebih aman begitu.
Waktu aku kembali, nasi bungkus itu masih di kursi, belum tersentuh. Tapi tutup botol air mineral di sebelahnya sudah terbuka, dan isinya berkurang sedikit. Aku memutuskan itu cukup untuk hari ini.
Sore hari, Prof sadar. Ia meminta kami bertiga masuk sekaligus: dia, Tante Ratna, dan aku.
Prof terlihat sepuluh tahun lebih tua dari kemarin. Selang oksigen di hidung, kabel-kabel di dada. Monitor di sampingnya berbunyi teratur, tit, tit, tit, seperti sesuatu yang sedang menghitung mundur.
“Neng,” katanya. Suaranya tipis.
Dia menggenggam tangan ayahnya. “Papa jangan ngomong dulu.”
“Papa harus ngomong sekarang. Papa nggak tahu masih ada nanti atau nggak.” Prof menarik napas, susah payah. “Papa nggak akan tenang, Neng. Kalau belum lihat kamu ada yang jaga.”
Tante Ratna berhenti mengipasi diri dengan map.
“Ada orang yang Papa percaya. Yang akan jaga kamu. Yang akan bikin kamu bahagia, walaupun kamu belum percaya sekarang.”
“Siapa, Pa?”
Prof memalingkan wajah, pelan sekali, ke arahku.
“Fajar.”
Dia menoleh. Untuk pertama kalinya dalam enam tahun, dia benar-benar melihatku. Matanya bengkak dan merah, dan di dalamnya ada sesuatu yang tidak bisa kubaca. Bukan marah. Bukan kaget. Seperti orang yang baru sadar ada sebuah kursi di rumahnya sendiri, yang sudah lama sekali berdiri di sana.
“MAS.” Tante Ratna yang lebih dulu bersuara. “Mas sudah gila? Rania baru kehilangan tunangannya kemarin! Dan anak ini, maaf ya, Nak, kita nggak kenal keluarganya, nggak tahu asal-usulnya…”
“Ratna.” Prof tidak meninggikan suara. Ia tidak perlu. “Aku kenal dia. Delapan tahun.”
Tante Ratna terdiam.
Dia memandangku. Lalu ayahnya. Lalu monitor yang berbunyi tit, tit, tit.
“Kalau itu bikin Papa tenang,” katanya. Datar. Seperti orang yang menandatangani sesuatu tanpa membacanya.
Aku ingin bilang padanya bahwa dia boleh menolak. Bahwa aku tidak akan tersinggung, tidak akan menyalahkan siapa pun. Tapi monitor itu terus berbunyi, dan aku tahu dia tidak sedang memilih aku. Dia sedang memilih ayahnya.
Aku menutup mulut. Kalau ini satu-satunya cara aku bisa menolongnya, aku akan menerimanya dengan cara itu.
Prof meminta Tante Ratna membawa dia keluar sebentar. Tinggal kami berdua, dan monitor itu.
“Duduk, Jar.”
Aku duduk di kursi plastik. Prof memandangi langit-langit lama sekali.
“Kamu tahu kenapa aku pilih kamu.” Itu bukan pertanyaan. “Ada satu hal yang aku tahu dan Rania tidak. Aku sudah janji tidak akan cerita. Aku pegang janji itu sampai mati. Mungkin sebentar lagi.”
“Prof, jangan bilang begitu.”
Prof tersenyum sedikit. “Tapi aku minta tiga hal.”
Aku menunggu.
“Satu. Jangan minta dia mencintaimu. Jangan pernah. Dia tidak punya itu sekarang. Kalau kamu minta, dia akan merasa berutang, dan dia sudah terlalu banyak kehilangan untuk menanggung utang.”
Aku mengangguk.
“Dua. Jaga dia sampai dia bisa tertawa lagi. Tawa yang jelek itu. Kamu tahu yang mana.”
Aku tahu yang mana. Tawa yang membuat orang di sekitarnya ikut tertawa tanpa tahu apa yang lucu. Tawa yang kemarin sore, di kamar jenazah, keluar satu kali dan membuat semua orang ngeri.
“Tiga.” Suara Prof turun, hampir berbisik. “Kalau suatu hari dia ingin pergi, lepaskan. Jangan tahan. Itu yang paling berat, Jar. Aku tahu.”
Di luar jendela, langit Bogor kembali menurunkan hujan.
“Sebentar lagi dia akan kelihatan seperti orang mati. Jangan percaya. Kamu ahli benih, kan?” Prof menatapku. “Rania itu bukan mati, Jar. Dia dorman. Benih dorman cuma butuh waktu, air, dan orang yang sabar.”
Aku menunduk. Mataku panas. Aku tidak boleh menangis di depan Prof.
“Kamu sanggup?”
“Prof, dia tidak mau saya.”
“Aku tidak tanya apa dia mau. Aku tanya apa kamu sanggup.”
Aku mengangkat kepala. Menatap laki-laki yang delapan tahun lalu menerima anak petani dari Cianjur yang datang ke ruangannya dengan sepatu bolong dan nilai pas-pasan, lalu memberinya pekerjaan, ilmu, dan tempat duduk di meja makannya.
“Sanggup, Prof.”
Prof memejamkan mata. Lega.
“Ibumu,” katanya kemudian, matanya masih terpejam. “Kabari dia.”
“Nanti, Prof.”
“Dia akan marah tidak diundang.”
“Pasti.”
Sudut bibir Prof terangkat sedikit. “Bilang, besannya minta maaf.”
Aku keluar dan bersandar ke dinding lorong. Tanganku gemetar. Aku memandanginya sampai berhenti.
Ada sesuatu yang sudah lama kusimpan tanpa pernah berani kunamai. Hari ini sesuatu itu diserahkan kepadaku dengan cara yang paling tidak pernah kuinginkan: di samping kuburan yang masih basah, dari ranjang seorang laki-laki yang mungkin tidak akan bangun lagi, untuk seorang perempuan yang bahkan tidak ingat namaku.
Aku tidak boleh bahagia. Aku tahu itu. Jadi aku tidak membiarkan diriku merasakan apa pun selain satu hal: ada yang harus diurus. Penghulu. Saksi. Izin rumah sakit. Berkas. Malam ini juga.
Yang pertama kutelepon Dodi.
“Dod. Aku mau nikah. Malam ini.”
Hening panjang. Lalu bunyi sesuatu jatuh, kedengarannya seperti panci.
“Lo… nikah? Malam ini? Sama siapa?”
“Rania.”
“Sama DIA? Rania Pagi Riang? Rania yang—“ Dodi berhenti, mengganti kalimatnya. “Jar. Lo serius?”
“Pinjam batikmu. Aku cuma punya kemeja kotak-kotak.”
“Batik gue cuma satu, Jar. Gambar ikan lele.”
“Nggak apa-apa.”
“Lele, Jar! Lo mau ijab kabul pakai lele? Terus saksinya siapa? Gue? Gue aja belum tentu sah jadi manusia, Jar. Tesis gue direvisi sebelas kali.”
“Dod.”
“Terus mas kawinnya apa? Lo punya duit?”
“Ada di dompet.”
“Berapa?”
“Cukup.”
Dodi menghela napas, napas seorang sahabat yang sudah delapan tahun menyerah menghadapiku. “Oke. Gue bawa. Apa lagi?”
Aku memandang pintu ICU. Di baliknya, dia duduk di samping ayahnya, punggungnya masih terbungkus jaket abu-abu itu.
“Di laci mejaku, paling bawah. Ada kotak kecil warna biru. Bawa sekalian.”
Dodi diam. Lalu suaranya berubah.
“Kotak yang itu? Yang lo simpen dari—“
“Iya,” kataku. “Yang itu.”
- 1 Request dari Pak Tani
- 2 Jumat yang Tidak Selesai
- 3 Permintaan dari Ranjang Nomor Empat reading
- 4 Akad di Ruang ICU
- 5 Rumah dengan Halaman Penuh Bibit
- 6 Tiga Ketukan
- 7 Frekuensi 98,7
- 8 Mak Datang Membawa Labu Siam
- 9 Sawah Bapak
- 10 Hari Ketiga Puluh
- 11 Istri yang Baik, Versi Robot
- 12 Empat Puluh Hari dan Satu Surat Bank
- 13 Yang Dibayar Diam-Diam
- 14 Yang Mekar di Bawah Jendela
- 15 Mikrofon yang Tidak Mau Kupegang
- 16 Seratus Hari
- 17 Nama yang Bukan Namaku
- 18 Tangan Siapa
- 19 Tiga Puluh Kilometer per Jam
- 20 Nama Papa di Layar
- 21 Sup yang Rasanya Seperti Mama
- 22 Pesan Suara yang Tidak Terkirim
- 23 Tawa yang Kembali
- 24 Pak Tani
- 25 Ketukan dari Arah Sebaliknya
- 26 Tanggal di Balik Cincin
- 27 Surat dari Wageningen
- 28 Siapa yang Membayar Rumah Matahari
- 29 Pasar Malam di Alun-Alun
- 30 Lupakan
- 31 Semua yang Kucintai
- 32 Janji Ketiga
- 33 Bunga Matahari di Rumah Papa
- 34 Surat yang Ditulis Tujuh Kali
- 35 Jurnal Kebun
- 36 Api di Rumah Kaca
- 37 Ranjang Nomor Empat
- 38 Untuk Pak Tani
- 39 Satu Request Lagi
- 40 Kamar Kita
- 41 Epilog — Pagi Riang dari Negeri Jauh