Chapter Seventeen
Nama yang Bukan Namaku
POV: Fajar
Satu ketukan. Lemah, nyaris tidak terdengar.
Aku sedang di ruang kerja, mendengarkan siaran malam Swara Pakuan dengan earphone sambil mengetik laporan. Aku mencabut earphone itu dan mendengarkan. Sunyi. Lalu bunyi lain: gemeletuk gigi. Aku mengenali bunyi itu. Aku pernah mendengarnya di rumah Mak, dua belas tahun lalu, ketika Bapak demam tinggi sebulan sebelum jatuh di sawah.
Aku mengetuk pintunya. “Ra?”
Tidak ada jawaban.
“Ra. Aku masuk, ya.”
Pintunya tidak dikunci. Sudah beberapa minggu tidak dikunci; aku tahu karena aku tidak pernah lagi mendengar bunyi klik di malam hari. Aku tidak pernah memanfaatkan itu. Malam ini aku membukanya.
Dia meringkuk di bawah selimut tebal, memakai jaket abu-abuku di atas piyama, menggigil hebat. Wajahnya merah. Keningnya, ketika kusentuh dengan punggung tangan, panas seperti tutup panci.
Dia membuka mata sedikit. Tidak benar-benar melihatku. “Dingin,” bisiknya.
Aku membangunkan Dodi, yang malam itu kebetulan menginap. Kami membawanya ke rumah sakit dengan Si Siput. Dodi duduk di jok belakang memeluknya supaya tidak terguncang. Malam itu, untuk pertama kalinya sejak janji yang kubuat di dalam mobil ini, aku menyetir lebih dari tiga puluh kilometer per jam. Tidak terlalu cepat. Tapi cukup.
Aku melanggar janji itu karena janji yang lebih besar.
Di meja pendaftaran IGD, petugas menyodorkan formulir. Nama pasien. Tanggal lahir. Nama penanggung jawab. Hubungan dengan pasien.
Aku memandangi kolom terakhir itu lama. Lalu aku menulis, dengan huruf-huruf yang sedikit gemetar: Suami.
Itu pertama kalinya aku menuliskan kata itu. Di formulir KUA dulu, petugasnya yang mengisi. Lima bulan menjadi suaminya, dan baru malam ini aku menuliskannya sendiri, dengan tangan sendiri, di kertas yang akan dibuang ke laci arsip rumah sakit dan tidak akan dibaca siapa pun.
Demam berdarah. Trombositnya delapan puluh ribu malam itu, enam puluh ribu besok paginya, empat puluh tiga ribu sore harinya. Dokter jaga yang masih muda menjelaskan fase kritis dengan wajah serius dan memintaku memastikan dia minum sebanyak mungkin.
Dia dirawat di bangsal kelas dua. Enam ranjang dalam satu ruangan, dipisahkan tirai hijau yang tidak pernah bisa ditutup rapat. Di ranjang sebelah, seorang nenek mengigau dalam bahasa Jawa. Di ranjang seberang, seorang anak kecil menangis setiap kali perawat datang membawa jarum.
Aku tidur di kursi plastik di samping ranjangnya. Kursi itu terlalu pendek untuk punggungku dan terlalu keras untuk pinggulku, dan setiap kali aku tertidur, kepalaku jatuh ke depan dan membangunkanku lagi. Itu tidak apa-apa. Aku tidak berniat tidur nyenyak.
Di bawah lampu neon bangsal yang pucat, dengan selang infus di tangan dan rambut kusut di bantal yang terlalu tipis, dia tetap cantik. Aku tidak tahu kenapa aku selalu menyadari itu di saat-saat yang paling tidak pantas. Bulu matanya panjang dan basah. Bibirnya pecah-pecah karena demam. Lesung pipinya tidak kelihatan karena ia tidak tersenyum, tapi aku tahu letaknya. Aku hafal letaknya.
Mak datang di hari kedua, naik travel subuh dari Cianjur, membawa termos besar berisi jamu dan kantong plastik penuh daun jambu biji.
“Rebus ieu, inumkeun,” katanya pada perawat yang sedang memasang infus. Rebus ini, minumkan. “Daun jambu. Keur trombosit.”
Perawat itu, perempuan berjilbab yang kelihatannya sudah lama bekerja dan sudah lama tidak tidur, memandangi kantong plastik itu dengan sabar. “Ibu, maaf, pasien nggak boleh minum yang dari luar tanpa izin dokter.”
“Ieu lain ti luar! Ieu ti Cianjur!”
“Cianjur kan di luar, Bu.”
Mak memandangnya dengan tatapan yang dulu membuat seluruh kampung takut, termasuk kepala desa. Perawat itu memandang balik dengan tatapan yang sudah menghadapi seribu Mak. Akhirnya mereka bersepakat: daun jambunya direbus Mak di rumah dan diminumkan setelah dokter visite. Mak menganggap itu kemenangan. Perawat itu juga.
Dodi datang membawa jus jambu. Bukan segelas. Satu jeriken lima liter, dibeli dari penjual jus langganan di depan kampus yang, menurut Dodi, “sudah gue ancam buat bikin yang paling kental”.
“Kenapa jeriken, Dod?”
“Biar nggak bolak-balik.”
Dia minum dua gelas hari itu. Sisanya diminum oleh Mak, Dodi, nenek di ranjang sebelah, dan dua perawat jaga.
Sore itu, dia membuka mata cukup lama untuk melihat Mak yang sedang mengupas jeruk di ujung ranjang. Mereka belum pernah bertemu langsung. Selama ini hanya pintu, lalu layar ponsel yang terlalu dekat.
“Mak,” bisiknya.
Mak menjatuhkan jeruknya. Lalu Mak menangis, tanpa suara, dan menggenggam tangan menantunya yang tidak diinfus dengan dua tangan, seperti menggenggam burung kecil yang baru jatuh dari sarang.
“Geulis,” bisik Mak. “Geulis-geulis teuing, mani gering kieu.” Cantik-cantik begini, kok sakit.
Malam kedua adalah tanggal dua Oktober.
Aku tidak mengingatnya sampai Mak, yang tidur di kursi lipat di ujung ranjang, terbangun pukul sebelas malam, memandangi ponselnya, lalu memandangku dengan mata yang tiba-tiba basah.
“Jar.” Mak berbisik. “Ayeuna tanggal dua.”
Aku tahu. Aku menempelkan telunjuk ke bibir.
“Wilujeng mil—“
“Mak.” Pelan. “Ulah. Engké wé.”
Jangan. Nanti saja.
Mak menatapku lama. Lalu ia memandang perempuan yang tertidur gelisah di ranjang itu, infus di tangan kiri, wajah pucat di bantal yang terlalu tipis. Mak tidak bilang apa-apa lagi. Ia hanya mengulurkan tangan dan mengusap rambutku, sekali, seperti dulu ketika aku masih kecil, lalu kembali bersandar di kursinya.
Tengah malam, aku turun ke lobi. Mesin penjual otomatis di sudut berdengung pelan. Aku memasukkan selembar uang lima ribu dan menekan tombol roti cokelat. Roti itu jatuh dengan bunyi pelan.
Aku makan di bangku lobi yang kosong, di bawah lampu neon yang berkedip. Rotinya agak keras. Cokelatnya terlalu manis.
Tiga puluh tahun. Tidak ada yang perlu dirayakan malam ini. Yang perlu hanya satu: trombositnya naik besok pagi.
Aku menghabiskan roti itu dan kembali ke atas. Di tangga, aku berpapasan dengan perawat jaga yang membawa termometer. Ia bertanya aku dari mana. Kubilang dari lobi, makan malam. Ia melirik jam di dinding, pukul dua belas lewat, dan tidak bertanya lagi.
Malam ketiga, demamnya kembali naik. Bukan pertanda baik, kata perawat. Trombositnya tiga puluh satu ribu. Mak tidur di rumah malam itu, karena punggungnya tidak kuat lagi di kursi lipat. Dodi pulang ke kos untuk mandi. Tinggal aku.
Pukul dua dini hari, dia mulai mengigau.
Kata-katanya tidak jelas. Potongan kalimat, nama-nama tempat, angka-angka yang tidak bermakna. Tangannya bergerak gelisah di atas selimut, mencari sesuatu. Keningnya basah oleh keringat dingin.
Lalu tangannya menemukan tanganku.
Ia menggenggamnya. Erat. Jauh lebih erat dari yang kusangka mungkin untuk seseorang yang trombositnya tiga puluh satu ribu.
“Gilang,” bisiknya.
Aku diam.
“Gilang… jangan pergi.” Matanya setengah terbuka, tapi tidak melihat apa-apa. Tidak melihatku. “Nia takut. Jangan pergi. Kamu bilang setengah jam. Kamu bilang…”
Aku bisa menyebut namaku sendiri. Aku bisa bilang, ini aku, Ra. Fajar. Itu bukan kebohongan. Itu kebenaran.
Tapi kebenaran itu tidak akan membuatnya tidur. Kebenaran itu akan membuatnya terbangun di rumah sakit pukul dua pagi, demam tinggi, dan sadar sekali lagi bahwa laki-laki yang ia panggil sudah tiga bulan di dalam tanah.
Aku menggenggam tangannya balik. Pelan.
“Aku nggak ke mana-mana,” bisikku.
Genggamannya mengendur sedikit. Napasnya, yang tadi pendek-pendek, melambat. Keningnya yang berkerut perlahan melunak.
“Janji?” bisiknya.
“Janji.”
Ia tertidur. Tangannya masih di tanganku.
Aku tidak bergerak.
Satu jam. Dua jam. Lenganku, yang terjulur dari kursi ke ranjang dalam sudut yang canggung, mulai kesemutan, lalu kebas, lalu tidak terasa sama sekali, seperti lengan orang lain yang ditempelkan ke bahuku. Punggungku pegal. Leherku kaku. Nenek di ranjang sebelah terbangun, menatapku lama dalam gelap, lalu tertidur lagi.
Aku tidak bergerak.
Tiga jam. Empat jam. Langit di luar jendela berubah dari hitam ke abu-abu. Azan subuh terdengar dari masjid di seberang jalan. Aku tidak bisa salat dengan tangan seperti ini. Aku berdoa di dalam hati, dalam posisi duduk, dan berharap Tuhan mengerti.
Malam itu aku menjadi laki-laki lain, supaya dia bisa tidur.
Kalau harus begitu, aku rela. Aku tidak keberatan dipanggil dengan nama yang bukan namaku. Aku sudah dipanggil Farid selama enam tahun; Gilang tidak jauh berbeda. Yang penting bukan nama yang ia sebut. Yang penting tangannya berhenti gemetar.
Enam jam. Pukul delapan pagi, perawat datang mengganti infus, dan dia bergerak dalam tidurnya, melepaskan tanganku untuk memeluk bantal.
Aku menarik lenganku pelan-pelan. Tidak bisa merasakannya sama sekali. Aku harus mengangkatnya dengan tangan yang lain dan meletakkannya di pangkuanku seperti barang.
Perawat itu memandangiku, lalu memandangi lenganku, lalu memandangiku lagi. “Mas semalaman begitu?”
“Iya.”
Ia menggeleng pelan dan tidak berkata apa-apa. Tapi sebelum pergi, ia meninggalkan segelas teh manis panas di meja kecil di sampingku.
Ponselku bergetar pukul sembilan, ketika kesemutan di lenganku akhirnya mulai berubah menjadi rasa sakit yang menusuk.
Nomor tidak dikenal. Aku keluar ke lorong untuk mengangkatnya.
“Mas Fajar? Ini Ahong, Glodok.”
Aku berdiri tegak.
“Chip-nya sudah saya bongkar,” kata Koh Ahong. Suaranya berat dan hati-hati, seperti dokter yang menyampaikan hasil lab. “Rusak parah. Tapi ada sebagian data yang kayaknya masih bisa diselamatkan. Kayaknya. Belum pasti. Harus pakai alat yang lebih mahal. Saya mesti kirim ke teman saya di Singapura.”
“Berapa, Koh?”
Ia menyebut angka. Angka yang lebih besar dari sisa uangku. Jauh lebih besar.
Aku memandang melalui kaca pintu bangsal. Di ranjang keempat dari pintu, dia tertidur memeluk bantal, rambutnya berantakan di sarung bantal rumah sakit, satu tangan terkulai di pinggir ranjang, di tempat tanganku tadi berada.
Gilang… jangan pergi.
Kalau di dalam chip itu ada sesuatu dari Gilang, apa pun, sepotong suara, sebaris pesan, dia berhak mendapatkannya. Dia berhak mendengar Gilang sekali lagi dengan suara Gilang sendiri, bukan dengan suaraku yang menyamar.
“Lanjutkan, Koh,” kataku. “Saya cari uangnya.”
Siang itu, dari lorong rumah sakit, aku menelepon Pak Wawan, pengepul bibit di Cisarua yang sudah lama menawar seluruh stok di halamanku dengan harga rendah. Selama ini aku menolak. Bibit-bibit itu kujual satu-satu ke petani langganan dengan harga yang adil.
“Semua, Pak,” kataku. “Cabai, tomat, terong. Ambil semua. Harga Bapak.”
Pak Wawan diam sebentar, curiga, lalu setuju sebelum aku berubah pikiran.
Malam Minggu itu, dari kursi plastik yang sama, aku mengirim laporan untuk Kiki. Demam berdarah. Dirawat. Trombosit 31 ribu tadi malam, 48 ribu pagi ini. Sudah lewat masa kritis kata dokter. Dia minum jus jambu dua gelas. Kiki membalas dengan telepon, menangis selama sepuluh menit, dan menutupnya dengan, jangan tidur di kursi plastik terus, punggung lo nanti kayak pisang.
Aku kembali ke kursi plastik itu dan memejamkan mata. Bukan untuk tidur. Aku terlalu lelah untuk tidur. Aku hanya ingin mengistirahatkan mata sebentar.
Tak lama, aku mendengar seprai bergemerisik. Dia bangun.
Aku tetap memejamkan mata. Entah kenapa. Mungkin karena aku tidak tahu harus berkata apa kalau dia bertanya kenapa tangannya ada di tanganku semalaman. Mungkin karena aku takut dia ingat.
Lama tidak ada bunyi apa-apa. Aku merasakan dia memandangiku. Lalu bunyi napas yang ditarik pelan, ragu-ragu.
Lalu suaranya. Serak, lemah, sangat pelan, nyaris hanya gerak bibir.
“Maaf.”
- 1 Request dari Pak Tani
- 2 Jumat yang Tidak Selesai
- 3 Permintaan dari Ranjang Nomor Empat
- 4 Akad di Ruang ICU
- 5 Rumah dengan Halaman Penuh Bibit
- 6 Tiga Ketukan
- 7 Frekuensi 98,7
- 8 Mak Datang Membawa Labu Siam
- 9 Sawah Bapak
- 10 Hari Ketiga Puluh
- 11 Istri yang Baik, Versi Robot
- 12 Empat Puluh Hari dan Satu Surat Bank
- 13 Yang Dibayar Diam-Diam
- 14 Yang Mekar di Bawah Jendela
- 15 Mikrofon yang Tidak Mau Kupegang
- 16 Seratus Hari
- 17 Nama yang Bukan Namaku reading
- 18 Tangan Siapa
- 19 Tiga Puluh Kilometer per Jam
- 20 Nama Papa di Layar
- 21 Sup yang Rasanya Seperti Mama
- 22 Pesan Suara yang Tidak Terkirim
- 23 Tawa yang Kembali
- 24 Pak Tani
- 25 Ketukan dari Arah Sebaliknya
- 26 Tanggal di Balik Cincin
- 27 Surat dari Wageningen
- 28 Siapa yang Membayar Rumah Matahari
- 29 Pasar Malam di Alun-Alun
- 30 Lupakan
- 31 Semua yang Kucintai
- 32 Janji Ketiga
- 33 Bunga Matahari di Rumah Papa
- 34 Surat yang Ditulis Tujuh Kali
- 35 Jurnal Kebun
- 36 Api di Rumah Kaca
- 37 Ranjang Nomor Empat
- 38 Untuk Pak Tani
- 39 Satu Request Lagi
- 40 Kamar Kita
- 41 Epilog — Pagi Riang dari Negeri Jauh