Chapter Twenty Four

Pak Tani

POV: Rania

“Lanjutannya?” tanyaku.

Suaraku keluar datar. Terlalu datar. Air menetes dari jariku ke lantai dapur, satu-satu, dan aku tidak mengelapnya.

Ia memandangiku dengan wajah bingung. Spatula di tangannya. Roti di wajan mulai berasap di satu sisi.

“…Karena lagi cari sinyal,” katanya.

Aku mengangguk pelan. “Gosong.”

“Apa?”

“Rotinya. Gosong.”

Ia menoleh ke wajan, terkejut, dan buru-buru mengangkat roti itu. Ketika ia berbalik lagi, aku sudah tidak di dapur.


Aku tidak bilang apa-apa hari itu.

Aku makan siang seperti biasa. Aku menyiram tomat. Aku memberi makan Si Kaldu. Aku menonton Dodi kalah main catur dari ayam itu, karena Si Kaldu mematuk bidaknya sampai jatuh dan Dodi menganggap itu skak. Aku tertawa di tempat-tempat yang tepat.

Tapi di kepalaku, satu kalimat berputar-putar tanpa henti, seperti kaset yang kusut.

Kenapa padi selalu menunduk? Karena lagi cari sinyal.

Enam tahun lalu. Malam hari. Jam siaran sepi. Aku penyiar junior yang kesepian di studio, meminta pendengar mengirim apa saja. Lalu bunyi tit-tit dari ponsel jadul di ujung meja, dan lelucon paling garing yang pernah kubaca. Aku membacanya tiga kali di udara. Aku memberinya nilai satu.

Sejak itu, setiap pagi.

Lelucon itu tidak pernah diulang. Pak Tani tidak pernah mengirim lelucon yang sama dua kali; itu salah satu hal yang membuatnya legendaris. Kalimat itu hanya ada di dua tempat di dunia: di ponsel Pak Tani, dan di ingatan orang-orang yang mendengar siaranku malam itu. Kiki. Pak Bonar. Beberapa ratus pendengar insomnia.

Dan dia.

Bisa saja dia salah satu pendengar itu. Semua orang Bogor dengar Swara Pakuan. Bisa saja dia mendengar lelucon itu dari radio, enam tahun lalu, dan mengingatnya, dan mengulangnya pagi ini tanpa maksud apa-apa.

Bisa saja.

Cabe Pagi Riang. Tomat Kabar Kota. Terong Lagu Lawas.

Radio tua dengan jarum di angka 98,7.

Tehku yang tidak pernah panas.

Malam itu aku menunggunya tidur.


Pukul satu dini hari, aku berdiri di depan pintu ruang kerjanya.

Ia tidur di sana sekarang. Aku tahu, karena aku mendengar kasur lipat yang terlalu pendek itu berderit setiap kali ia membalikkan badan. Pintunya tidak dikunci. Tidak pernah dikunci.

Aku tidak masuk ke ruang kerja. Aku pergi ke lemari di lorong, lemari kayu tempat ia menyimpan pakaian dan barang-barangnya yang tidak muat di ruang kerja. Aku membuka pintu lemari itu pelan-pelan.

Aku tidak tahu apa yang kucari. Aku hanya tahu aku harus mencari.

Rak paling bawah: sarung, kaus oblong, kemeja kotak-kotak yang semuanya kusetrika dengan lipatan miring. Rak tengah: buku-buku pertanian, map-map berisi kertas. Rak paling atas, yang harus kujangkau dengan berjinjit:

Handuk.

Satu handuk, terlipat rapi menjadi empat, terpisah dari handuk-handuk lain. Warnanya pink, sudah pudar menjadi hampir putih karena terlalu sering dicuci. Di sudutnya, logo yang benangnya sudah lepas sebagian tapi masih terbaca.

Swara Pakuan 98,7 FM.

Aku menurunkannya dengan tangan gemetar.

Handuk ini. Aku ingat handuk ini. Handuk merchandise studio, yang dibagikan di acara ulang tahun radio bertahun-tahun lalu. Aku punya tiga. Satu hilang. Aku tidak pernah tahu ke mana.

Di bawah handuk itu, di sudut rak, ada ponsel. Ponsel jadul, model lama, dengan tombol-tombol karet yang sudah aus. Baterainya mati. Tidak ada kartu SIM di dalamnya.

Aku membawa ponsel itu ke kamarku, mencari charger lama di laci yang kebetulan cocok, dan menunggu sampai layarnya menyala.


Pesan terkirim. Ribuan.

Semuanya ke satu nomor. Nomor lama SMS Swara Pakuan. Nomor yang sudah dilupakan semua orang kecuali satu.

Aku menggulirnya ke bawah, ke yang paling lama. Enam tahun lalu. Malam hari.

Kenapa padi selalu menunduk? Karena lagi cari sinyal. —Pak Tani

Aku menggulir naik. Pelan. Satu per satu.

Request: Chrisye, yang mana saja. Tebak-tebakan: Kenapa bebek jalannya goyang? Karena dengerin Pagi Riang. —Pak Tani

Mbak, tadi Mbak bilang lidah kucing, nggak bisa minum yang panas-panas. Saya juga. Request lagu lawas buat semua orang lidah kucing. —Pak Tani

Selamat ulang tahun, Mbak. Nggak usah dibacakan. —Pak Tani

Mbak, hari ini suara Mbak serak. Banyak minum air hangat. Jangan yang panas. —Pak Tani

Selamat menempuh hidup baru, Mbak. Semoga bahagia selamanya. Ini request terakhir saya: Kemesraan.

Yang terakhir itu tanpa nama. Tanpa —Pak Tani. Seolah orang yang mengirimnya sudah memutuskan, saat itu juga, untuk berhenti menjadi Pak Tani.

Aku menutup mulut dengan tangan.

Lalu aku membuka folder draf.

Empat puluh tujuh pesan. Tidak satu pun terkirim. Tanggalnya tersebar di sepanjang enam tahun, kadang berbulan-bulan jaraknya, kadang tiga dalam satu malam.

Mbak Rania, sebenarnya saya

Mbak Rania, sebenarnya saya bukan bapak-bapak. Saya

Mbak, saya yang kemarin datang ke rumah Prof. Yang Mbak kasih handuk. Sebenarnya saya

Mbak Rania, sebenarnya

Mbak, sebenarnya saya

Semuanya berhenti di tengah. Empat puluh tujuh kali ia mencoba mengatakan sesuatu padaku. Empat puluh tujuh kali ia berhenti sebelum selesai.

Aku duduk di lantai kamarku, memeluk handuk pink yang pudar itu, ponsel jadul di pangkuan, dan menangis tanpa suara sampai subuh.


Pagi itu, aku menunggunya di meja makan.

Ponsel jadul itu di atas meja. Handuk pink terlipat di sampingnya.

Ia keluar dari ruang kerja, melihat meja, dan berhenti.

Untuk waktu yang lama, tidak ada yang bicara. Si Kaldu berkotek di halaman. Radio dapur mati.

Ia tidak lari. Ia tidak menyangkal. Ia berjalan ke meja, menarik kursi di seberangku, dan duduk. Kedua tangannya di atas meja, terkatup, seperti orang yang menunggu vonis.

“Kamu Pak Tani,” kataku.

Bukan pertanyaan.

“Iya,” katanya.

Satu kata. Ia tidak berbohong. Ia memang tidak pernah berbohong padaku; aku baru menyadari itu sekarang. Ia hanya tidak pernah menjawab pertanyaan yang tidak pernah kuajukan.

“Sejak kapan?”

Ia menunduk ke tangannya. “Sejak handuk.”

“Handuk yang mana?” Aku menunjuk handuk pink di meja. “Ini?”

“Yang pertama.” Suaranya pelan. “Enam tahun lalu. Aku datang ke Rumah Matahari, antar berkas Prof. Hujan. Aku basah. Kamu buka pintu, lempar handuk itu, terus ketawa.” Ia diam sebentar. “Kamu bilang aku kayak kucing kecemplung got.”

Aku tidak ingat. Aku sama sekali tidak ingat. Enam tahun lalu, seorang mahasiswa basah kuyup datang ke rumahku, dan aku melemparkan handuk tanpa melihat wajahnya, dan bilang sesuatu yang lucu, dan langsung melupakannya.

Dia tidak melupakannya. Enam tahun. Seminggu lalu, di halaman belakang, aku mengusap lumpur di pipinya dan bilang hal yang persis sama, dan aku bahkan tidak sadar kalimat itu datang dari mana.

“Kenapa nggak pernah bilang?” Suaraku pecah. “Enam tahun. Kamu ke rumahku tiap minggu. Kamu ngobrol sama Papa di ruang kerja. Kamu benerin talang kamarku. Kenapa nggak pernah bilang?”

Ia mengangkat wajah, dan memandangku dengan mata yang sangat tenang.

“Kamu sudah bahagia,” katanya. “Itu cukup.”

Aku tidak bisa bicara.

Kamu sudah bahagia. Itu cukup.

Seorang laki-laki mendengarkan aku tertawa setiap pagi selama enam tahun, dan memutuskan bahwa itu cukup. Bahwa ia tidak perlu apa-apa lagi. Bahwa tawaku saja, dari radio, dari jauh, untuk orang lain, sudah cukup.

“Kenapa berhenti?” tanyaku akhirnya. “Jumat itu. Request terakhir. Kenapa?”

Ia memandangi ponsel jadul di meja.

“Kamu mau menikah,” katanya. “Sama orang baik. Pendengar radio nggak punya tempat di rumah tangga orang.”

“Jadi kamu matikan nomornya.”

“Kartunya kucabut.” Ia diam sebentar. “Biar nggak ada godaan.”

Godaan. Untuk mengirim satu lelucon lagi. Satu request lagi. Satu pagi lagi.

Aku teringat Kiki yang menelepon nomor itu di udara, pagi itu. Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif. Aku tertawa. Aku bilang Pak Tani ngambek.


Kiki menjerit di telepon selama empat puluh detik penuh.

“PAK TANI?! LAKI LO PAK TANI?!” Bunyi sesuatu jatuh di studio. Suara Pak Bonar di latar belakang: Ada apa, Kiki?! “PAK BONAR! PAK TANI ITU LAKINYA RANIA! YANG NIKAHIN DI ICU! ENAM TAHUN, PAK!”

Dari jauh, aku mendengar Pak Bonar mulai menangis.

Dodi datang siang itu, tidak tahu apa-apa, membawa sebungkus gorengan. Ia melihat ponsel jadul dan handuk pink di meja makan, dan wajahnya berubah pucat seperti kertas.

“Mbak,” katanya. “Mbak, gue bisa jelasin—“

“Kamu tahu?”

“Gue disumpah, Mbak!” Dodi mengangkat kedua tangan. “Gue disumpah pakai tesis! Dia bilang kalau gue bocorin, tesis gue nggak akan pernah lulus! Mbak lihat sendiri, revisi lima belas kali! Mungkin itu kutukannya!”

“Aku nggak pernah nyumpahin pakai tesis,” katanya dari dapur.

“Lo nyumpahin pakai tatapan, Jar! Tatapan lo itu sumpah!”

“Sejak kapan kamu tahu?” tanyaku pada Dodi.

Dodi menghitung dengan jari. Lalu menyerah. “Sejak semester tiga, Mbak. Gue sekamar kos sama dia. Tiap pagi jam tujuh dia nyalain radio, ngetik SMS, terus senyum-senyum sendiri kayak orang kesurupan. Gue kira dia ikut kuis.” Dodi menggeleng. “Enam tahun, Mbak. Gue enam tahun nyimpen rahasia ini. Gue berhak dapat penghargaan.”

Aku tertawa. Aku tidak bisa menahannya. Tawa yang basah dan aneh, bercampur sisa tangis semalam, tapi tawa.


Sore itu aku memasak di dapur. Ia memotong sayuran di sampingku, diam, sesekali melirikku seperti orang yang menunggu hukuman yang belum dijatuhkan.

Aku mengaduk sayur di panci. Lalu, tanpa menoleh, dengan suara penyiar yang sudah delapan bulan tidak kupakai:

“Pak Tani. Request lagu apa hari ini?”

Pisau di tangannya berhenti.

Ia tidak menjawab lama. Lalu, sangat pelan, seperti takut kalau ia bicara terlalu keras, semua ini akan hilang:

“Chrisye. Yang mana saja.”

Aku menyanyikannya. Di dapur, sambil mengaduk sayur, dengan suara yang fals dan serak dan tidak sesuai nada sama sekali. Aku tidak hafal liriknya. Aku menggantinya dengan na-na-na di bagian yang lupa, yang ternyata hampir semuanya.

Di sampingku, ia berdiri diam dengan pisau di tangan dan bawang yang belum selesai dipotong. Aku tidak berani menoleh. Tapi aku melihat dari sudut mataku, tangannya yang memegang pisau gemetar, dan ia menunduk sangat dalam, dan bahunya naik turun.

Aku tidak berhenti menyanyi. Aku menyanyi sampai lagu itu selesai, dengan na-na-na yang paling fals sepanjang sejarah Swara Pakuan.

Lalu aku bilang, “Nilainya berapa, Pak Tani?”

Ia mengusap matanya dengan punggung tangan. “Sepuluh.”

“Bohong.”

“Sepuluh,” ulangnya. Dan kali ini aku percaya.


Malam itu badai datang. Petir, angin yang membuat pohon rambutan di depan rumah berderak, hujan yang menghantam atap seng dapur seperti batu.

Aku tidak bisa tidur. Bukan karena petir. Karena terlalu banyak hal di dadaku, berdesakan, tidak muat. Aku duduk di meja di bawah jendela dengan buku biru terbuka.

17. Dia Pak Tani. Enam tahun. Tiap pagi.

18. Empat puluh tujuh draf yang nggak pernah dia kirim. Semuanya berhenti di “sebenarnya saya”.

19. Dia tahu aku lidah kucing dari siaranku sendiri. Empat tahun lalu. Dia ingat.

Aku memandangi angka sembilan belas lama sekali. Petir menyambar di luar, dan untuk sesaat, dua belas batang bunga matahari yang sudah kering di bawah jendela terlihat jelas dalam cahaya putih, merunduk seperti padi yang mencari sinyal.

Lalu gelap lagi. Dan aku masih tidak bisa tidur.