Chapter Twenty Six
Tanggal di Balik Cincin
POV: Fajar
Dia menemukannya hari Minggu pagi, di wastafel kamar mandi, saat melepas cincin untuk mencuci tangan dengan sabun.
Aku sedang menyiram tomat di halaman ketika mendengar namaku dipanggil. Bukan Mas. Bukan kamu. Namaku, dengan nada yang belum pernah kudengar darinya: pelan, terkejut, sedikit gemetar.
“Mas Fajar.”
Aku meletakkan selang dan masuk. Dia berdiri di ambang pintu kamar mandi dengan cincin perak di telapak tangan, memiringkannya ke arah cahaya dari jendela kecil di atas wastafel.
“Ini apa?”
Aku tahu apa yang ia lihat sebelum aku sampai di sampingnya. Di bagian dalam cincin itu, di lekuk yang menempel ke kulit, ada ukiran kecil yang hanya terlihat kalau cincinnya dilepas dan dimiringkan ke arah yang tepat. Angka. Titik. Dan sebuah gambar kecil, setinggi butir beras, yang dipahat dengan jarum oleh tukang perak di Pasar Bogor yang matanya sudah rabun.
09 · 03 · 20. Dan bunga matahari.
Dia memandangi angka-angka itu. Lalu memandangiku.
“Ini enam tahun lalu,” katanya pelan. Aku melihat bibirnya bergerak, menghitung. “Bulan Maret. Hujan?”
Aku tidak menjawab.
“Ini tanggal handuk,” katanya. Bukan pertanyaan. “Tanggal aku ngelempar handuk ke kamu.”
“Iya.”
Ia memandangi cincin itu lama sekali. Aku menunggu pertanyaan berikutnya. Pertanyaan yang paling kutakutkan, pertanyaan yang tidak bisa kujawab tanpa membuka sesuatu yang sudah kujanjikan pada Prof untuk tetap tertutup.
Kapan kamu beli cincin ini?
Dia tidak menanyakannya. Ia hanya memasang cincin itu kembali di jari manisnya, pelan, dan cincin itu turun sampai ke pangkal jari, longgar seperti biasa.
Aku bersyukur. Aku bersyukur dengan cara yang membuatku malu. Ada hal-hal tentang cincin itu yang bukan milikku untuk diceritakan. Hal-hal yang sudah kujanjikan pada seseorang yang sekarang terbaring di samping Bu Laras, di bawah sebatang bunga matahari kecil.
Hari ini tanggal sembilan Maret.
Aku tidak tahu apakah dia menyadarinya. Enam tahun persis. Aku tidak merayakannya; aku tidak pernah merayakannya. Setiap tahun di tanggal ini aku hanya mengirim satu SMS ke nomor lama Swara Pakuan dengan tebak-tebakan yang sedikit lebih bagus dari biasanya, dan menunggu angkanya di radio. Tahun lalu dia memberiku empat. Itu nilai tertinggi yang pernah kudapat di luar hari Lebaran.
Tahun ini tidak ada SMS. Tahun ini dia berdiri di kamar mandi rumahku, memakai cincin yang tanggalnya sama, dan menatapku seperti menatap teka-teki yang belum selesai.
Aku kembali ke halaman. Aku menyiram tomat yang sama dua kali. Tomat itu tidak protes.
Malamnya, kami duduk di teras setelah makan. Itu sudah jadi kebiasaan sejak Februari: dia membawa dua gelas teh, aku membawa sepiring kuaci dari panen terakhir, dan kami duduk di bangku kayu menghadap halaman, mendengarkan jangkrik dan Si Kaldu yang berkotek dalam tidurnya.
Malam itu dia diam lebih lama dari biasanya. Aku tidak bertanya. Aku menunggu.
“Mas.”
“Hm?”
“Kamu nggak pernah nyium aku.”
Aku tersedak kuaci.
Butuh hampir satu menit sampai aku berhenti batuk. Dia menepuk-nepuk punggungku dengan wajah datar, menyodorkan teh, menunggu. Aku meminumnya. Tehnya hangat, pas. Ia sudah belajar takarannya dariku; aku tidak tahu kapan.
“Kening pun,” lanjutnya, seolah aku tidak baru saja hampir mati. “Sembilan bulan. Kening pun nggak pernah.”
Aku memandangi gelas di tanganku.
Satu. Jangan minta dia mencintaimu.
Aku tidak pernah meminta. Aku sudah memastikan aku tidak pernah meminta. Tidak dengan kata-kata, tidak dengan tangan, tidak dengan tatapan yang terlalu lama. Selama sembilan bulan, setiap sentuhan di antara kami datang darinya: genggaman di rumah sakit, cengkeraman di lengan bajuku saat petir, pelukan di makam, ujung kausku yang ia pegang di kasur lipat.
Aku tidak pernah mengulurkan tangan lebih dulu. Itu satu-satunya cara yang kutahu untuk menepati janji pada Prof.
“Aku…” Suaraku keluar aneh. “Aku nggak tahu boleh.”
Dia memandangku. Lama. Di bawah lampu teras yang kuning dan berkedip, matanya kelihatan gelap dan basah.
“Tanya,” katanya.
Aku tidak bisa bernapas. Aku meletakkan gelas teh di bangku dengan tangan yang tiba-tiba gemetar, dan memandangnya, dan bertanya dengan suara yang hampir tidak keluar:
“…Boleh?”
Dia mengangguk.
Aku tidak tahu cara melakukannya. Aku tidak pernah melakukannya. Aku condong ke arahnya, pelan sekali, seperti mendekati burung yang bisa terbang kapan saja, dan dia memejamkan mata, dan aku menempelkan bibirku di keningnya.
Kulitnya hangat. Rambutnya wangi teh hijau. Aku bisa merasakan napasnya di daguku.
Satu detik. Dua detik. Aku menjauh.
Tanganku gemetar. Seluruh tubuhku gemetar, seperti orang yang baru saja keluar dari air dingin. Aku menyembunyikan tanganku di bawah paha dan memandang ke halaman, ke barisan tomat yang gelap, ke kandang Si Kaldu, ke mana pun selain wajahnya.
Dia membuka mata. Memandangku dari samping. Aku tidak tahu apa yang ia lihat. Mungkin laki-laki yang sangat bodoh, yang gemetar karena mencium kening istrinya sendiri.
“Kamu gemetar,” katanya.
“Dingin.”
“Nggak dingin, Mas.”
“…Iya. Nggak dingin.”
Dia tidak tertawa. Tapi sudut bibirnya bergerak, dan lesung pipinya muncul, sebentar, lalu hilang. Dia mengambil gelas tehnya dan meminumnya, dan kami duduk diam sampai tehnya habis.
Malam itu aku tidak bisa tidur.
Guling Perbatasan masih di lantai, tempat ia jatuh seminggu lalu, dan tidak ada di antara kami yang memungutnya. Dia tidur menghadap dinding, napasnya pelan dan teratur. Aku berbaring memandangi langit-langit.
Aku seharusnya bahagia. Aku memang bahagia; kebahagiaan itu duduk di dadaku seperti burung kecil yang hangat. Tapi di bawahnya ada sesuatu yang lain. Pertanyaan yang tidak mau diam.
Apakah aku meminta?
Dia yang bilang tanya. Dia yang mengangguk. Tapi apakah dengan bertanya boleh, aku sudah meminta sesuatu yang Prof larang? Apakah dia mengangguk karena ingin, atau karena merasa berutang? Karena sup, karena payung, karena rekaman Gilang, karena sembilan bulan air hangat di ember?
Kalau kamu minta, dia akan merasa berutang.
Aku tidak tahu jawabannya. Aku memandangi langit-langit sampai subuh, dan tidak menemukannya.
Beberapa hari kemudian, Dodi datang ke lab dengan wajah orang yang akan melakukan sesuatu yang sangat bodoh.
“Jar. Gue butuh saran.”
“Soal tesis?”
“Soal Kiki.”
Aku berhenti mengamplas biji.
Dodi duduk di kursi di sebelahku, memutar-mutar pulpen, tidak memandangku. “Gue… gue mau ngajak dia keluar. Bukan buat nagih risoles. Beneran keluar. Tapi tiap gue ketemu dia, kita berantem. Soal kopi. Soal statistik. Soal apakah tahu bulat termasuk gorengan. Gue nggak ngerti cara ngomong sama dia tanpa berantem.”
Aku memikirkannya. Aku bukan orang yang tepat untuk dimintai saran soal ini. Aku menghabiskan enam tahun tanpa pernah menyelesaikan satu kalimat pun.
Tapi aku tahu satu cara yang berhasil.
“Kirim SMS ke radionya,” kataku.
Dodi memandangku lama. “Lo serius?”
“Dia nggak bisa berantem sama SMS.”
Besok paginya, pukul tujuh lewat lima, dari radio Bapak di ruang kerjaku yang sekarang tidak perlu lagi didengarkan dengan earphone, suara Kiki terdengar ke seluruh rumah:
“Oke, Bogor, ada SMS masuk. Dari… Pendengar Setia Yang Lebih Ganteng Dari Pak Tani.” Jeda. Suara Kiki berubah curiga. “Isinya: Mbak Kiki, request lagu apa saja yang bukan lagu galau. Tebak-tebakan: kopi apa yang paling romantis? Kopi sachet, karena dia rela larut demi orang lain.“
Hening di udara selama tiga detik.
“Ini Dodi, ya,” kata Kiki ke mikrofon. “Gue tahu ini Dodi. Cuma Dodi yang bela kopi sachet sampai segininya. Nilainya NOL, Dodi. NOL. Dan lagunya gue puterin lagu galau. Biar lo tahu rasa.”
Dari dapur, aku mendengar bunyi yang membuat seluruh dadaku hangat.
Dia tertawa. Keras. Jelek. Sampai harus berpegangan pada meja.
Lima menit kemudian, ponselku bergetar. Pesan dari Dodi. JAR. DIA BILANG NOL. TAPI DIA PUTERIN LAGUNYA. ITU ARTINYA APA, JAR.
Aku membalas: Artinya dia dengar.
Ada satu hal kecil lagi minggu itu.
Aku memperhatikan dia mengikat rambut setiap pagi di depan cermin lemari. Rambutnya panjang dan tebal, dan karet rambut yang ia pakai adalah karet gelang biasa, yang ia ambil dari laci dapur. Setiap kali ia melepasnya di malam hari, ia meringis. Beberapa helai rambut selalu ikut tercabut, tersangkut di karet itu.
Aku pergi ke toko di Pasar Bogor dan bertanya pada penjualnya karet rambut yang tidak menjambak. Penjualnya, ibu-ibu dengan rambut disanggul tinggi, memandangiku dari atas ke bawah dan tersenyum dengan cara yang membuatku ingin pulang.
“Buat istri, Mas?”
“Iya, Bu.”
“Ini.” Ia menyodorkan sebungkus karet rambut dari kain lembut, warna-warni. “Ini nggak nyabut rambut. Istri saya juga pakai ini. Eh, maksudnya saya.” Ia tertawa sendiri.
Aku meletakkan sebungkus karet itu di meja rias di kamar, di samping sisir, tanpa kata. Aku tidak tahu apakah dia akan memakainya. Aku tidak tahu apakah dia akan sadar dari mana datangnya.
Besok paginya, rambutnya diikat dengan karet kain berwarna kuning.
Dodi, yang datang siang itu untuk menumpang makan, memandanginya lama dari seberang meja.
“Mbak,” katanya. “Karet rambutnya lucu. Beli di mana?”
Dia mengangkat bahu. “Ada di meja rias.”
“Ada sendiri?”
“Ada sendiri.”
Dodi menoleh padaku dengan alis terangkat setinggi-tingginya. Aku memandangi nasi di piringku dengan konsentrasi penuh. Di bawah meja, Dodi menendang kakiku. Aku tidak membalas. Aku sibuk menyembunyikan wajahku yang terasa panas, dan sesuatu di dadaku yang terasa terlalu ringan.
Akhir Maret, malam hari, aku duduk di teras dengan dia setelah makan, seperti biasa.
Kuaci di piring. Teh di gelas. Bulan setengah di atas pohon rambutan.
Aku merasa terlalu bahagia lagi. Dan seperti biasa, ketika aku terlalu bahagia, mulutku bekerja lebih cepat dari kepalaku.
“Ra.”
“Hm?”
“Kenapa bunga matahari selalu menghadap ke timur?”
Dia memandangku curiga. “Kenapa?”
Aku memandang ke depan, ke halaman yang gelap, dengan wajah sedatar mungkin.
“Karena kalau menghadap ke kamu, silau.”
Hening.
Jangkrik berhenti berbunyi. Si Kaldu berhenti berkotek. Bahkan bulan, aku bersumpah, berhenti di tempatnya.
Aku tidak percaya aku mengatakannya. Enam tahun, ratusan tebak-tebakan, dan tidak sekali pun aku berani membuat yang seperti itu. Aku ingin menggali lubang di bawah bangku teras dan masuk ke dalamnya dan tidak pernah keluar lagi.
Lalu dia bicara. Pelan. Dengan suara penyiar yang dulu kudengar setiap pagi.
“Tujuh.”
Aku menoleh.
Dia tidak memandangku. Dia memandang halaman, gelas teh di tangan, dan telinganya, di bawah lampu teras yang kuning, merah sampai ke ujung.
“Tujuh dari sepuluh,” katanya. “Jangan GR. Itu karena kasihan.”
Tujuh. Enam tahun, dan nilai tertinggiku empat.
Aku memandangi kuaci di piring sampai mataku berhenti panas.
Akhir Maret juga, hari Kamis, aku pulang dari lab lebih cepat karena seminar dibatalkan.
Rumah sepi. Si Kaldu tidur di kandangnya. Pintu ruang kerjaku terbuka, dan dari ambang pintu, aku melihatnya.
Dia berdiri di depan mejaku. Sepertinya ia sedang membereskan tumpukan kertas, karena tumpukan itu sekarang rapi dan dipisah menurut warna mapnya. Di tangannya ada satu map. Map biru tua yang biasanya kusimpan di laci paling bawah, di bawah semua jurnal dan cawan petri.
Labelnya dalam bahasa Belanda.
Dia membuka map itu. Aku melihat bahunya menegang ketika ia membaca halaman pertama.
- 1 Request dari Pak Tani
- 2 Jumat yang Tidak Selesai
- 3 Permintaan dari Ranjang Nomor Empat
- 4 Akad di Ruang ICU
- 5 Rumah dengan Halaman Penuh Bibit
- 6 Tiga Ketukan
- 7 Frekuensi 98,7
- 8 Mak Datang Membawa Labu Siam
- 9 Sawah Bapak
- 10 Hari Ketiga Puluh
- 11 Istri yang Baik, Versi Robot
- 12 Empat Puluh Hari dan Satu Surat Bank
- 13 Yang Dibayar Diam-Diam
- 14 Yang Mekar di Bawah Jendela
- 15 Mikrofon yang Tidak Mau Kupegang
- 16 Seratus Hari
- 17 Nama yang Bukan Namaku
- 18 Tangan Siapa
- 19 Tiga Puluh Kilometer per Jam
- 20 Nama Papa di Layar
- 21 Sup yang Rasanya Seperti Mama
- 22 Pesan Suara yang Tidak Terkirim
- 23 Tawa yang Kembali
- 24 Pak Tani
- 25 Ketukan dari Arah Sebaliknya
- 26 Tanggal di Balik Cincin reading
- 27 Surat dari Wageningen
- 28 Siapa yang Membayar Rumah Matahari
- 29 Pasar Malam di Alun-Alun
- 30 Lupakan
- 31 Semua yang Kucintai
- 32 Janji Ketiga
- 33 Bunga Matahari di Rumah Papa
- 34 Surat yang Ditulis Tujuh Kali
- 35 Jurnal Kebun
- 36 Api di Rumah Kaca
- 37 Ranjang Nomor Empat
- 38 Untuk Pak Tani
- 39 Satu Request Lagi
- 40 Kamar Kita
- 41 Epilog — Pagi Riang dari Negeri Jauh