Chapter Thirty Nine
Satu Request Lagi
POV: Fajar
Gelap.
Bukan gelap yang hitam. Gelap yang lembut, berat, hangat, seperti berbaring di dasar kolam yang dalam. Tidak ada atas. Tidak ada bawah. Tidak ada sakit. Hanya gelap, dan sunyi, dan sesekali bunyi yang datang dari sangat jauh, seperti suara dari permukaan air.
Tit. Tit. Tit.
Aku mengenal bunyi itu. Aku tidak tahu dari mana.
Lalu bunyi lain.
Pelan. Hampir tidak terdengar. Lima nada, naik-turun, ceria.
Swara Pakuan, sembilan delapan koma tujuh.
Aku mengenal bunyi itu juga. Aku mengenalnya lebih baik dari suaraku sendiri.
Suaranya datang seperti cahaya yang menembus air.
Selamat pagi, Kota Hujan.
Serak. Lelah. Tapi itu suaranya. Suara yang selama enam tahun kudengar setiap pagi, pukul enam tepat, dari radio kayu Bapak. Suara yang hilang di bulan Juni, setahun lalu, dan tidak pernah kembali ke udara.
Ini Pagi Riang. Dan aku Rania.
Di dalam gelap, sesuatu bergerak. Gambar-gambar. Datang dan pergi seperti ikan di air keruh.
Hujan. Pintu terbuka. Handuk pink terbang ke arahku. Mas kayak kucing kecemplung got. Tawa yang keras dan jelek dan indah.
Kamar kos. Radio. Jempolku di tombol ponsel. Kenapa padi selalu menunduk?
Ruang kerja Prof. Kotak biru di meja. Jendela. Dia, di antara bunga matahari, tertawa bersama laki-laki lain. Tidak jadi, Prof. Dia sudah bahagia.
ICU. Kerudung putih Bu Laras. Saya terima nikah dan kawinnya Rania Adiwijaya. Satu tarikan napas. Enam tahun aku menghafal nama itu.
Ada laki-laki yang selama enam tahun mendengarkan acara ini setiap pagi.
Suaranya lagi. Dari permukaan. Aku mencoba berenang ke arahnya, tapi tubuhku tidak bergerak. Tubuhku berat seperti batu.
Dia nyetir tiga puluh kilometer per jam kalau ada aku di mobil.
Aku mendengarkan.
Dia tidur di tikar di depan pintu kamarku tiga puluh malam.
Aku mendengarkan, dan sesuatu di dadaku, di bawah gelap, mulai sakit dengan cara yang bukan luka bakar.
Dia masak air setiap jam setengah lima pagi. Dia nimbang garam pakai timbangan lab. Dia ngecas ponselku tiap malam.
Dia tahu.
Dia tahu semuanya. Semua yang kukira tidak terlihat. Semua yang kulakukan diam-diam, supaya dia tidak merasa berutang. Dia melihat semuanya. Dia menghitungnya. Dia menulisnya.
Ada empat puluh tujuh hal di daftar ini.
Buku biru. Buku siaran yang kupindahkan ke tasnya di hari terakhir di Rumah Matahari. Buku yang ia tulisi setiap malam, yang kukira naskah siaran. Buku baru yang kubelikan karena yang lama hampir penuh.
Ia menulis tentang aku. Di buku yang kubelikan. Tanpa aku tahu.
Empat puluh tujuh pesan yang nggak pernah kamu kirim. Empat puluh tujuh hal yang nggak pernah kamu bilang.
Sepuluh, Pak Tani. Sepuluh dari sepuluh.
Enam tahun. Nilai tertinggiku empat. Dan tujuh, karena kasihan.
Sepuluh.
Kalau Tuhan mengirimkan malaikat ke bumi ini, maka dialah malaikat itu.
Tidak. Bukan aku. Aku hanya anak petani dari Cianjur dengan kemeja kotak-kotak yang itu-itu saja. Aku hanya laki-laki yang terlalu takut untuk menyelesaikan satu kalimat pun selama enam tahun.
Dan aku istrinya.
Di dalam gelap, aku berhenti berenang.
Aku istrinya.
Bukan aku dinikahkan dengannya. Bukan aku terpaksa. Bukan Papa memintaku.
Aku istrinya. Diucapkan di udara, di depan seluruh kota, dengan suara yang sama yang dulu memberi nilai satu pada lelucon padi.
Pak Tani. Kalau kamu dengar. Pulang, ya.
Pintunya nggak kukunci.
Aku mendengar.
Aku mendengar, dan aku tidak bisa menjawab, tidak bisa bicara, tidak bisa membuka mata. Tubuhku terkunci di dasar kolam yang gelap.
Tapi ada sesuatu di tangan kiriku. Sesuatu yang kukenal. Sentuhan ujung jari di punggung tanganku, berkali-kali sepanjang malam, setiap kali aku setengah sadar di permukaan gelap itu. Tiga kali. Selalu tiga kali.
Tok. Tok. Tok.
Aku mengumpulkan semua yang tersisa dari diriku. Semua tenaga. Semua napas yang tidak bisa kuambil sendiri. Dan aku memusatkannya di satu tempat.
Jari telunjuk tangan kiriku.
Aku menggerakkannya. Sedikit. Sangat sedikit. Di atas selimut rumah sakit.
Sekali. Dua kali. Tiga kali.
Di suatu tempat yang sangat jauh, aku mendengar seseorang berteriak. Suara laki-laki. Panik dan bahagia. Dok! Dok! Jarinya gerak! Jarinya—Mak! Mak, bangun!
Dodi.
Pukul tiga sore, mereka melepas selang dari tenggorokanku.
Rasanya seperti menarik tali yang terbuat dari api. Aku terbatuk. Batuk yang panjang dan menyakitkan, yang membuat punggungku menjerit di bawah perban. Tapi aku bernapas. Sendiri. Udara rumah sakit yang berbau alkohol dan karbol, masuk ke paru-paruku, dan rasanya seperti udara sawah di pagi hari.
Aku membuka mata.
Langit-langit. Putih. Lampu neon. Jendela di sebelah kiri, dengan langit Bogor yang kelabu di luarnya.
Ranjang nomor empat.
Aku tahu tanpa perlu diberi tahu. Aku mengenal jendela itu. Aku pernah duduk di samping ranjang ini, di kursi plastik ini, setahun lalu, dan mendengar Prof meminta tiga hal.
Mak di ujung ranjang, menangis. Dodi di sampingnya, menangis lebih keras. Perawat yang memeriksa monitor, dan dokter muda dengan mata lelah yang tersenyum padaku untuk pertama kalinya.
Dia tidak ada.
Aku mencoba bertanya. Suaraku tidak keluar. Hanya bunyi serak, seperti engsel yang tidak pernah diminyaki.
Dodi mengerti. “Siaran, Jar,” katanya, mengusap hidung dengan lengan baju. “Dia siaran tadi pagi. Terus dia ke Ciapus, ngurus Si Kaldu sama ganti baju. Dia udah dikabarin. Dia lagi di jalan.” Dodi melirik jam. “Naik ojek. Kang Ujang. Kayaknya kali ini nggak dua puluh lima kilometer per jam.”
Pintu ICU terbuka dua puluh menit kemudian.
Dia berlari. Di lorong rumah sakit, melewati perawat yang mencoba menghentikannya, melewati tanda DILARANG BERLARI. Rambutnya basah oleh hujan, menempel di wajah. Karet kain kuning di ujung kuncirnya. Napasnya terengah-engah. Di tangannya, buku biru, dua buah, dipeluk di dada.
Dia berhenti di samping ranjang. Memandangku.
Matanya merah dan bengkak dan basah. Pipinya cekung karena dua malam tidak tidur. Bibirnya gemetar. Dan dia cantik. Dia lebih cantik dari hari aku melihatnya pertama kali, basah kuyup di ambang pintu Rumah Matahari. Lebih cantik dari pagi dia keluar dari kamar di hari ketiga puluh. Lebih cantik dari malam di bawah bianglala.
Aku membuka mulut. Suaraku keluar serak, pecah, hampir tidak terdengar, tenggorokanku seperti pasir.
“Boleh…”
Dia membungkuk mendekat.
“Boleh… request satu lagu lagi?”
Dia memandangku. Dua detik. Tiga detik.
Lalu dia tertawa.
Tawa yang pecah di tengah, bercampur tangis. Keras. Jelek. Kambing keselek. Tawa yang membuat perawat di ujung ruangan menoleh dan Mak menutup mulut dan Dodi tersedak air liurnya sendiri. Dia tertawa sambil menangis, dengan dua buku biru dipeluk di dada, sampai dia harus duduk di kursi plastik karena kakinya tidak kuat.
Aku memandanginya tertawa. Aku tidak mau melewatkan satu detik pun.
“Maaf,” kataku, setelah tawanya mereda sedikit. Aku harus mengatakannya. Aku harus. “Maaf… beberapa halaman jurnal Papa… terbakar. Yang di belakang.”
Tawanya berhenti.
Dia memandangku dengan wajah yang tidak bisa kubaca. Lalu wajah itu berubah, retak, seperti tanah kering di bawah hujan pertama.
“Bodoh,” bisiknya. “Kamu bodoh, Mas. Kamu bodoh banget.”
Dia mengulurkan tangan dan memegang tangan kiriku. Tangan yang tidak dibalut. Dia mengangkat jarinya, dan mengetuk punggung tanganku. Pelan.
Tok. Tok. Tok.
“Aku nggak ke mana-mana,” katanya.
Kalimatku. Kalimat yang kuucapkan di pagi hari ketiga puluh. Kalimat yang kuucapkan di rumah sakit, menjawab nama yang bukan namaku. Kalimat yang kucoret di draf ketiga surat itu, karena tidak benar lagi.
Dia mengembalikannya padaku.
“Aku jatuh cinta sama kamu, Pak Tani,” katanya. Air matanya jatuh ke punggung tanganku. “Telat setahun.”
Aku menangis.
Aku tidak bisa menahannya. Aku tidak mencoba menahannya. Setahun aku menahannya di depannya. Di bawah hujan di makam Gilang. Di halaman ketika bunga-bunga mekar. Di kursi plastik rumah sakit sampai lenganku mati rasa. Di sidang S2 ketika dia memelukku di lorong. Setahun aku membalik badan, menunduk, pura-pura bersin, pura-pura kena lumpur, pura-pura silau oleh lampu tanam.
Hari ini aku tidak bisa membalik badan. Punggungku terbakar. Aku terbaring miring di ranjang nomor empat dengan selang infus di tangan dan perban di separuh tubuhku, dan aku menangis di depannya, terang-terangan, tanpa sembunyi.
Dia tidak memalingkan wajah. Dia memandangiku menangis, dan menggenggam tanganku lebih erat.
Aku membuka mulut. Ada sesuatu yang harus kukatakan. Sesuatu yang selama enam tahun berhenti di tengah, di empat puluh tujuh draf, di setiap pagi di depan pintunya. Sesuatu yang hanya pernah kutulis sekali, di surat yang seharusnya tidak dibuka sebelum hari ini.
“Ra, aku—“
Dia menempelkan jarinya di bibirku.
“Simpan,” bisiknya. “Bilang kalau kamu sudah bisa berdiri.”
Lalu dia membungkuk, sangat pelan, menghindari perban dan selang dan semua kabel, dan menciumku.
Pelan. Ringan. Seperti kecupan kening di teras, tapi di bibir. Bibirnya asin karena air mata. Bibirku pecah-pecah karena selang.
Itu ciuman paling indah yang pernah ada di dunia.
“ALHAMDULILLAH YA ALLAH!”
Mak menerobos tirai seperti badai, kerudung terbalik, kedua tangan terangkat ke langit-langit. “Alhamdulillah! Gusti Nu Agung! Budak abdi hirup! Hirup!” Anak saya hidup!
Perawat di ujung ruangan menempelkan telunjuk ke bibir. Mak tidak peduli.
Lalu Mak berhenti di samping ranjang, memandangiku, dan wajahnya berubah dari syukur menjadi murka dalam satu detik.
“BODO!” Mak memukul kakiku. Kaki, karena itu satu-satunya bagian yang tidak diperban. “Bodo, Jar! Lumpat ka jero seuneu! Keur buku! Mun manéh paéh, Mak kumaha?! Si Neng kumaha?! Si Kaldu kumaha?!” Lari ke dalam api! Demi buku! Kalau kamu mati, Mak gimana?! Neng gimana?! Si Kaldu gimana?!
“Mak,” bisikku. “Maaf.”
Mak menangis lagi. Lalu merogoh tas besarnya, mengeluarkan sesuatu yang dibungkus kain dengan sangat hati-hati, dan meletakkannya di meja kecil di samping ranjang.
Sebutir telur ayam. Cokelat muda. Masih utuh.
“Ieu endogna Si Kaldu,” kata Mak dengan bangga, mengusap mata. “Nu kahiji. Keur nu gering.” Ini telurnya Si Kaldu. Yang pertama. Buat yang sakit.
Rania tertawa lagi. Aku juga, dan tawaku berubah menjadi batuk, dan batukku membuat punggungku menjerit, dan perawat datang dengan wajah tidak senang.
Di ujung ranjang, Dodi berdeham keras.
“Mumpung semua lagi di sini,” katanya, wajahnya merah sampai ke telinga. “Dan mumpung Fajar nggak bisa lari.” Ia menarik napas. “Gue sama Kiki. Jadian. Resmi. Udah dari bulan April, sebenernya. Kita mau bilang. Tapi lo berdua sibuk saling bego.”
Hening.
Lalu Rania menjerit dan memukul lengan Dodi, dan Mak bertanya jadian téh naon?, dan dari lorong, Kiki, yang ternyata sudah berdiri di balik tirai sejak tadi, menerobos masuk dan memukul Dodi lebih keras karena “lo ngumumin tanpa gue!”
Aku berbaring di ranjang nomor empat, di tengah semua keributan itu, dan memandangi langit-langit, dan tidak pernah merasa sehidup ini.
Malam itu, ketika semua orang sudah pulang dan hanya dia yang tersisa di kursi plastik di samping ranjang, dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
Amplop cokelat besar. Yang sudah dibuka.
Dia mengeluarkan selembar kertas tipis dari dalamnya. Tiket pesawat. Jakarta–Amsterdam. Lima September. Satu penumpang.
Dia memandanginya lama. Lalu memandangku.
“Ini,” katanya, pelan, mengangkat tiket itu di antara dua jari, “kita bicarakan nanti.”
- 1 Request dari Pak Tani
- 2 Jumat yang Tidak Selesai
- 3 Permintaan dari Ranjang Nomor Empat
- 4 Akad di Ruang ICU
- 5 Rumah dengan Halaman Penuh Bibit
- 6 Tiga Ketukan
- 7 Frekuensi 98,7
- 8 Mak Datang Membawa Labu Siam
- 9 Sawah Bapak
- 10 Hari Ketiga Puluh
- 11 Istri yang Baik, Versi Robot
- 12 Empat Puluh Hari dan Satu Surat Bank
- 13 Yang Dibayar Diam-Diam
- 14 Yang Mekar di Bawah Jendela
- 15 Mikrofon yang Tidak Mau Kupegang
- 16 Seratus Hari
- 17 Nama yang Bukan Namaku
- 18 Tangan Siapa
- 19 Tiga Puluh Kilometer per Jam
- 20 Nama Papa di Layar
- 21 Sup yang Rasanya Seperti Mama
- 22 Pesan Suara yang Tidak Terkirim
- 23 Tawa yang Kembali
- 24 Pak Tani
- 25 Ketukan dari Arah Sebaliknya
- 26 Tanggal di Balik Cincin
- 27 Surat dari Wageningen
- 28 Siapa yang Membayar Rumah Matahari
- 29 Pasar Malam di Alun-Alun
- 30 Lupakan
- 31 Semua yang Kucintai
- 32 Janji Ketiga
- 33 Bunga Matahari di Rumah Papa
- 34 Surat yang Ditulis Tujuh Kali
- 35 Jurnal Kebun
- 36 Api di Rumah Kaca
- 37 Ranjang Nomor Empat
- 38 Untuk Pak Tani
- 39 Satu Request Lagi reading
- 40 Kamar Kita
- 41 Epilog — Pagi Riang dari Negeri Jauh