Chapter Thirteen
Yang Dibayar Diam-Diam
POV: Fajar
Haji Dadang membayar lunas pada minggu pertama Agustus.
Ia datang sendiri ke Ciapus membawa map tebal dan seorang notaris berkumis yang terus-menerus mengelap kacamata. Kami menandatangani akta di meja makan, di antara toples-toples berlabel tulisan tangan Rania. Haji Dadang membaca label TERASI (JANGAN DIBUKA DI DEKAT DODI) dengan kening berkerut, lalu memutuskan untuk tidak bertanya.
“Sawah éta alus, Jar,” katanya ketika semua sudah selesai. Sawah itu bagus. “Ku urang dijaga. Moal dijual ka saha-saha.” Akan kujaga. Tidak akan kujual ke siapa-siapa.
“Hatur nuhun, Ji.”
Rania sedang di halaman belakang, menjemur cucian. Ia tidak tahu siapa tamu-tamu itu. Kubilang urusan sawah, dan itu bukan kebohongan.
Besoknya aku ke bank di Jalan Juanda. Teller muda berjilbab biru memandangi angka di slip setoranku, lalu memandangi kemeja kotak-kotakku yang lengannya sudah berbulu di siku, lalu angka itu lagi.
“Pelunasan atas nama debitur almarhum Bapak Hartono Adiwijaya?”
“Iya, Mbak.”
“Bapak… keluarganya?”
“Menantu.”
Ia mengangguk, seperti itu menjelaskan sesuatu. Bank tidak peduli siapa yang membayar, selama angkanya cocok. Setengah jam kemudian aku keluar membawa tanda terima, dan berdiri lama di trotoar memandangi kertas itu. Empat ratus dua puluh juta, ditambah bunga dan denda. Sawah Bapak, setengah hektare, enam generasi, dalam satu lembar kertas tipis berstempel biru.
Aku melipatnya dan memasukkannya ke dompet, di belakang foto Mak.
Malamnya Mak menelepon. Tidak video call, telepon biasa, yang berarti Mak sedang di sawah atau di warung dan sinyalnya buruk.
“Haji Dadang geus melak,” lapor Mak. Haji Dadang sudah mulai tanam. “Ciherang. Mak ngawaskeun ti saung. Bener-bener dijaga, Jar. Galengan ogé dibenerkeun.” Mak awasi dari saung. Benar-benar dijaga. Pematangnya juga diperbaiki.
“Syukur, Mak.”
Mak diam sebentar. “Geus béja ka manéhna?” Sudah bilang ke dia?
“Teu acan. Moal.”
“Bodo,” kata Mak. Tapi suaranya tidak marah. Suaranya seperti suara orang yang menggelengkan kepala sambil tersenyum sedih.
Surat keterangan lunas dikirim ke alamat Rumah Matahari dua minggu kemudian. Tante Ratna menelepon Rania malam itu. Aku mendengar separuh percakapannya dari dapur.
“Lunas? Siapa yang—“ Jeda panjang. “Tante juga nggak tahu? Bank nggak bilang?”
Ia menutup telepon dan berdiri di ambang dapur, memandangiku yang sedang mencuci beras.
“Tante bilang utang rumah lunas,” katanya. Suaranya datar, tapi matanya tidak. “Bank bilang dibayar pihak keluarga. Tante nggak bayar. Aku nggak bayar.” Ia diam. “Mungkin asuransi Papa, ya?”
Aku menggosok beras di dalam baskom, pelan, sampai airnya keruh.
“Prof memang orang yang selalu memikirkan semuanya,” kataku.
Ia mengangguk perlahan, seperti menerima jawaban itu, lalu kembali ke ruang tengah.
Aku tidak berbohong. Aku cuma tidak menjawab. Aku sudah lama belajar bahwa ada perbedaan besar di antara keduanya, dan bahwa perbedaan itu bisa menjadi tempat berlindung yang sangat luas.
Setiap tanggal tiga belas, aku ke makam Gilang.
Tidak ada yang menyuruhku. Aku hanya tahu bahwa dia belum sanggup ke sana, dan bahwa makam yang tidak dikunjungi akan cepat ditumbuhi rumput liar, dan bahwa Gilang tidak pantas dilupakan hanya karena orang yang paling mencintainya sedang terlalu hancur untuk datang.
Aku mencabut rumput. Mengganti air di botol bunga. Menaburkan kembang tujuh rupa yang kubeli di pasar. Lalu aku duduk di tanah di samping nisannya dan bicara.
“Dia sudah keluar kamar,” kataku pada nisan itu, minggu itu. “Sudah makan setengah piring. Sudah mau bilang terima kasih. Belum ketawa.” Aku mencabut sehelai rumput yang terlewat. “Aku yang jaga dulu, ya. Sampai dia sanggup ke sini sendiri.”
Aku tidak tahu apakah Gilang mendengar. Aku tidak tahu apakah dia akan keberatan, laki-laki asing yang menikahi perempuannya dua hari setelah ia pergi, sekarang duduk di samping kuburnya dan memberi laporan seperti asisten riset. Tapi aku berharap dia mengerti. Kami berdua menginginkan hal yang sama: perempuan itu tertawa lagi.
Kunjungan kedua, bulan Agustus, aku tidak sendirian.
Aku sedang berjongkok mencabut rumput ketika bayangan seseorang jatuh di atas nisan. Bu Ratih berdiri di sana dengan keranjang bunga di tangan, memandangiku dengan mata yang membesar.
“Nak Fajar?”
Aku berdiri cepat-cepat, mengibas tanah dari lutut. “Bu.”
Ia memandang makam yang sudah bersih, botol bunga yang airnya baru, kembang tujuh rupa yang masih segar. Lalu memandangku lagi. “Kamu… sering ke sini?”
“Tiap tanggal tiga belas, Bu.”
“Kenapa?”
“Dia belum sanggup ke sini, Bu.” Aku menunduk. “Gilang tidak boleh sendirian sampai dia sanggup.”
Bu Ratih tidak berkata apa-apa lama sekali. Lalu ia meletakkan keranjangnya, berjongkok di sisi lain makam, dan ikut mencabut rumput bersamaku. Kami bekerja dalam diam sampai azan asar.
Sebelum pulang, aku memberanikan diri meminta izin soal ponsel itu. Ada tukang servis di Glodok. Mungkin ada yang bisa diselamatkan. Mungkin tidak.
“Kalau ada yang selamat,” kata Bu Ratih pelan, “itu buat Nia. Bukan buat Ibu. Gilang pasti mau begitu.”
Pulang dari makam, aku mampir ke toko buah di depan Pasar Bogor, memesan satu parsel kecil, dan menulis kartunya di atas kap mobil.
Untuk Ibu. Dari Rania.
Aku menulisnya tiga kali sebelum puas. Tulisan tanganku terlalu kecil dan terlalu miring untuk terlihat seperti tulisan seorang penyiar radio yang ceria. Akhirnya aku menyerah dan menulisnya serapi mungkin. Bu Ratih mungkin akan tahu. Bu Ratih mungkin tidak akan peduli. Yang penting, setiap bulan ada sesuatu yang datang ke rumah hijau di Tajur itu atas nama perempuan yang belum sanggup datang sendiri.
Aku menjual motorku pada pertengahan Agustus.
Motor itu menemaniku sejak S1, bebek tua dengan jok yang sudah ditambal tiga kali. Tapi Rania tidak bisa naik motor di bawah hujan Bogor. Ia tidak bisa naik motor sama sekali; kulihat bagaimana tubuhnya menegang setiap kali truk lewat di jalan depan rumah.
Uangnya, ditambah sisa tabunganku, cukup untuk sebuah Kijang tahun sembilan puluh tujuh berwarna hijau lumut. Catnya mengelupas di kap mesin. Jendela belakangnya harus diputar pakai tang. Klaksonnya, entah kenapa, berbunyi melodi lagu ulang tahun.
Dodi yang pertama mencobanya. Ia duduk di kursi sopir, menekan klakson, mendengar melodinya, dan tertawa sampai menangis.
“Jar. Lo beli mobil atau kue tart?”
“Mobil.”
“Mobil apa yang larinya maksimal lima puluh?”
“Mobil yang aman.”
Dodi mengelus dasbornya penuh kasih sayang. “Gue kasih nama Si Siput.”
Aku tidak keberatan. Siput tidak pernah terburu-buru, dan siput selalu sampai.
Hari Minggu pertama, aku mengantarnya ke pasar dengan Si Siput untuk membeli bumbu dapur. Tiga puluh kilometer per jam. Angkot di belakang kami mengklakson panjang, lalu menyalip sambil sopirnya melongok dan berteriak sesuatu tentang kura-kura. Dia duduk di jok depan, memandang ke luar jendela, dan tidak berkata apa-apa. Aku tidak tahu apakah dia sadar betapa pelannya kami. Kuharap tidak. Kuharap dia hanya merasa aman, tanpa tahu kenapa.
Malam itu, duduk sendirian di Si Siput di depan rumah, aku membuat janji pada diriku sendiri. Kalau dia ada di mobil ini, aku tidak akan menyetir lebih dari tiga puluh kilometer per jam. Tidak peduli diklakson angkot. Tidak peduli diteriaki tukang ojek. Dan aku tidak akan pernah, sekali pun, membawanya lewat tol Jagorawi. Jalan memutar lewat Parung empat puluh menit lebih lama. Itu tidak apa-apa. Aku punya waktu.
Ada hal-hal lain yang kulakukan bulan itu. Hal-hal kecil, yang tidak perlu dia tahu.
Aku memasak air setiap pukul setengah lima dan menuangnya ke ember di kamar mandi belakang, karena pemanas air di rumah ini sudah mati sejak aku mengontraknya, dan Ciapus terlalu dingin untuk mandi air pegunungan di pagi hari. Dia mengira ada pemanasnya. Biar saja.
Aku mengecas ponselnya setiap malam. Dia selalu meninggalkannya di tempat-tempat aneh dengan baterai sekarat. Aku mengambilnya, mengecasnya di ruang kerjaku, dan mengembalikannya sebelum subuh ke tempat yang sama persis, layar menghadap ke bawah, seperti yang ia tinggalkan.
Aku menandai kalender di dapur dengan titik pensil yang sangat kecil. Dua puluh September, seratus hari Gilang. Ulang tahun Gilang di bulan Desember, yang kuketahui dari nisannya. Hari wafat Bu Hartono, dari batu nisan di samping makam Prof. Ulang tahun Prof. Hari-hari yang akan berat untuknya. Di hari-hari itu, aku akan pulang sebelum asar. Dodi pernah bertanya titik-titik itu apa. Kubilang jadwal penyiraman. Dodi percaya.
Satu tanggal di bulan November kutandai dengan lingkaran kecil, bukan titik. Aku tahu tanggal itu dari formulir KUA. Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan di hari itu. Tapi aku melingkarinya.
Aku membeli bingkai foto kecil di pasar, bingkai kayu murah seharga lima belas ribu. Di dalamnya aku memasang selembar kertas yang sudah lusuh di lipatannya. Satu kata, ditulis dengan pulpen biru di balik catatan cuaca hari kedua puluh sembilan. Makasih. Aku meletakkannya di meja ruang kerjaku, di samping radio Bapak.
Dodi melihatnya dan membuka mulut. Aku memandanginya. Dodi menutup mulutnya lagi. Delapan tahun persahabatan mengajarinya kapan harus diam.
Ada dua hal besar terakhir bulan itu.
Yang pertama: dengan izin Bu Ratih, aku membawa ponsel Gilang ke Glodok. Seorang teknisi tua bernama Koh Ahong memandangi ponsel itu di bawah lampu pembesar dan menggeleng-geleng lama.
“Parah, ini. Chip memorinya mungkin selamat, mungkin nggak. Lama. Mahal. Bisa dua bulan, bisa tiga. Bisa juga nggak dapat apa-apa.”
“Coba, Koh.”
“Bayar di depan setengah.”
Aku membayar. Itu sisa tabunganku yang terakhir. Di perjalanan pulang aku memikirkan apa yang mungkin ada di dalam chip kecil itu. Foto-foto. Pesan-pesan. Suara. Sesuatu yang Gilang tinggalkan untuknya, sesuatu yang belum sempat sampai. Kalau ada, dia berhak mendapatkannya. Kalau tidak ada, setidaknya aku sudah mencoba.
Yang kedua: dengan izin Tante Ratna, aku memindahkan Kotak Benih Hartono dari Rumah Matahari ke rumah kaca riset di kampus. Kotak kayu itu terlalu berharga untuk disimpan di rumah tua yang lembap. Di rumah kaca, suhunya stabil, kelembapannya terjaga.
Aku membukanya sekali, hanya untuk mengecek. Di dasar kotak, di bawah puluhan amplop berlabel, ada amplop paling tua, kertasnya sudah kecokelatan dan rapuh. Tulisan tangan Prof di atasnya masih terbaca, walaupun tintanya sudah pudar:
Bunga pertama Laras. Jangan dibuang.
Aku menutup kotak itu pelan-pelan.
Sebelum pulang hari itu, aku mampir ke makam Prof dan menanam sebatang bibit bunga matahari kecil di samping nisannya, di tengah antara Prof dan Bu Laras. Aku membayar penjaga makam untuk menyiramnya dua hari sekali. Penjaga makam memandangiku dengan heran, lalu menerima uangnya dan berjanji.
Akhir Agustus, sore hari, aku pulang dari lab dan langsung ke halaman samping seperti biasa, untuk menyiram dua belas batang bunga matahari di bawah jendela kamarnya.
Batang-batang itu sekarang sudah setinggi dadaku. Daunnya lebar dan berbulu. Tanahnya hitam dan gembur, bercampur tanah dari sawah Bapak yang kutaburkan sebulan lalu.
Lalu aku melihatnya.
Di pucuk batang yang paling tinggi, di antara daun-daun teratas yang melingkar rapat, ada sesuatu yang belum ada kemarin. Kecil. Hijau. Rapat seperti kepalan tangan bayi.
Kuncup pertama.
Aku berdiri di sana dengan selang di tangan, air mengalir ke tanah yang sama berulang-ulang, sampai genangannya membasahi sandalku.
- 1 Request dari Pak Tani
- 2 Jumat yang Tidak Selesai
- 3 Permintaan dari Ranjang Nomor Empat
- 4 Akad di Ruang ICU
- 5 Rumah dengan Halaman Penuh Bibit
- 6 Tiga Ketukan
- 7 Frekuensi 98,7
- 8 Mak Datang Membawa Labu Siam
- 9 Sawah Bapak
- 10 Hari Ketiga Puluh
- 11 Istri yang Baik, Versi Robot
- 12 Empat Puluh Hari dan Satu Surat Bank
- 13 Yang Dibayar Diam-Diam reading
- 14 Yang Mekar di Bawah Jendela
- 15 Mikrofon yang Tidak Mau Kupegang
- 16 Seratus Hari
- 17 Nama yang Bukan Namaku
- 18 Tangan Siapa
- 19 Tiga Puluh Kilometer per Jam
- 20 Nama Papa di Layar
- 21 Sup yang Rasanya Seperti Mama
- 22 Pesan Suara yang Tidak Terkirim
- 23 Tawa yang Kembali
- 24 Pak Tani
- 25 Ketukan dari Arah Sebaliknya
- 26 Tanggal di Balik Cincin
- 27 Surat dari Wageningen
- 28 Siapa yang Membayar Rumah Matahari
- 29 Pasar Malam di Alun-Alun
- 30 Lupakan
- 31 Semua yang Kucintai
- 32 Janji Ketiga
- 33 Bunga Matahari di Rumah Papa
- 34 Surat yang Ditulis Tujuh Kali
- 35 Jurnal Kebun
- 36 Api di Rumah Kaca
- 37 Ranjang Nomor Empat
- 38 Untuk Pak Tani
- 39 Satu Request Lagi
- 40 Kamar Kita
- 41 Epilog — Pagi Riang dari Negeri Jauh