← Papa Pinjaman

Chapter Nine

Gerbang TK

POV: Irvan

Senin pagi, pukul enam empat puluh, aku berdiri di depan cermin kamar sayap timur dan tidak mengenali diriku sendiri.

Kemeja putih. Celana bahan hitam. Sepatu kulit cokelat yang dibelikan Bu Clara semalam lewat aplikasi, dikirim kurir pukul sembilan malam dengan ongkos kirim yang tidak ingin kuketahui. Rambut yang disisir dengan pomade milik Darren, yang dia lempar ke kamarku tadi pagi dengan pesan, “Pakai. Gue malu kalau lo ke sekolah kayak orang baru bangun.”

Satu-satunya yang tetap sama adalah kacamata. Retaknya masih di pojok kiri bawah.

Aku terlihat seperti orang yang mau melamar kerja di bank dan akan ditolak di tahap wawancara.

Pintu diketuk. Lily masuk tanpa menunggu jawaban, dengan seragam kuning-biru, kuncir dua yang rapi karena Bi Inah, dan tas kelinci. Dia berhenti di ambang pintu dan memandangiku dari bawah ke atas.

“Om Kacamata?”

“Iya.”

“Om kayak Om-Om kantor.”

“Jelek?”

Lily berpikir dengan serius. “Nggak jelek. Tapi aneh. Kayak Pak Mentega pakai dasi.”

“Pak Mentega pakai dasi?”

“Aku bayangin barusan.” Dia mengernyit. “Aneh, kan?”

Aku tidak bisa membantah.


Bu Clara menunggu di samping mobil sedan putih di halaman depan. Pak Karto berdiri di sebelahnya, tapi hari ini Bu Clara sendiri yang akan menyetir. Keputusan yang diumumkan di sarapan dan disambut Pak Karto dengan wajah seperti pensiunan yang baru diberi hari libur tak terduga.

Dia memakai setelan kerja berwarna abu-abu arang. Blazer dengan potongan pas di pinggang, blus sutra putih dengan kerah sedikit terbuka, rok pensil sampai lutut. Sanggul rendah lagi, dengan satu helai rambut yang, aku mulai curiga, memang sengaja dibiarkan lolos di pelipis kanan. Anting mutiara kecil. Lipstik merah bata. Dan kacamata hitam besar yang dia dorong ke atas kepala waktu melihatku keluar pintu.

Pagi ini matahari rendah dan jatuh miring ke halaman. Cahayanya menangkap wajahnya dari samping. Tulang pipi yang tinggi, garis rahang yang tegas, dan tahi lalat kecil itu, yang dari jarak lima meter terlihat seperti titik koma di akhir kalimat yang indah.

Dia melihatku. Kemeja putih, celana hitam, sepatu cokelat, rambut ber-pomade. Dia tidak bicara selama tiga detik penuh.

“Kenapa?” tanyaku. “Aneh, ya? Lily bilang kayak Pak Mentega pakai dasi.”

“Kamu nggak pakai dasi.”

“Nggak punya.”

Dia berjalan mendekat. Heels-nya berbunyi di paving. Dia berhenti di depanku, sangat dekat, mengangkat tangan, dan membuka satu kancing teratas kemejaku yang sudah kukancingkan sampai leher.

“Kamu bukan pegawai bank,” katanya pelan. Jarinya tertinggal di kerahku sebentar. “Jangan dikancing sampai atas. Kamu kelihatan tercekik.”

“Saya memang tercekik.”

“Karena kancingnya?”

“Bukan.”

Dia menatapku. Aku menatap anting mutiaranya karena itu satu-satunya tempat yang aman di wajahnya.

Lalu tangannya naik ke kacamataku. Dia membetulkannya, mendorongnya sedikit ke atas pangkal hidung, padahal kacamata itu tidak melorot sama sekali. Ujung jarinya menyentuh pelipisku.

“Lebih baik,” katanya, dan berbalik ke mobil.

Di belakang kami, Pak Karto batuk-batuk dengan sangat tidak meyakinkan.


Di mobil, Lily duduk di kursi anak di belakang, bernyanyi lagu tentang balonku ada lima dengan lirik yang dia ubah sendiri: “Balonku ada lima, rupa-rupa warnanya, ada Om Kacamata, ada Mama, ada Pak Mentega...”

“Pak Mentega bukan balon, Neng.”

“Di lagu aku, dia balon.”

Bu Clara menyetir dengan satu tangan di kemudi, satu tangan di tuas persneling. Dia menyetir seperti dia berjalan: lurus, tidak terburu-buru, seolah jalan itu miliknya.

“Nanti di gerbang,” katanya tanpa menoleh, “kita turun berdua. Aku di kanan, kamu di kiri. Lily di tengah.”

“Siap.”

“Kita antar sampai pintu kelas. Kamu bicara sebentar dengan Bu Ratna, karena mulai hari ini kamu yang terdaftar sebagai penjemput. Aku sudah urus surat kuasanya.”

“Siap.”

“Lalu kita jalan balik ke mobil.”

“Siap.”

“Berdua.”

“Siap.”

“Bergandengan.”

“Si...” Aku berhenti. “Bergandengan?”

Dia melirikku sekilas, lalu kembali ke jalan. Sudut bibirnya naik sedikit, di sisi yang ada tahi lalatnya.

“Bu Vanya akan ada di sana,” katanya. “Ibu-ibu grup WhatsApp akan ada di sana. Kalau kita jalan dengan jarak satu meter seperti rekan kerja yang bertengkar, besok siang seluruh Jakarta Selatan akan tahu aku menyewa pacar.”

“Ibu memang menyewa pacar.”

“Calon suami, Irvan. Tolong naikkan pangkatmu sendiri.”


TK Pelangi Kecil pukul tujuh lewat lima belas pagi adalah medan perang yang tidak pernah kulihat dari bangku minimarket. Siang hari, tempat ini tenang: anak-anak keluar satu per satu, penjemput menunggu dengan sabar. Pagi hari, tempat ini seperti pintu tol saat mudik. Mobil-mobil mahal berjejer di jalan kecil, ibu-ibu dengan kacamata hitam dan tas berkilau, pengasuh berseragam putih-putih, dan beberapa ayah yang terlihat seperti baru disuruh ikut.

Bu Clara memarkir mobil di depan minimarket. Tempat yang sama. Aku melihat Mas Ucup di balik kaca, dan Mas Ucup melihatku. Dia membeku dengan kemoceng di tangan, menatap kemeja putihku, lalu perlahan mengangkat ponselnya dan memotretku.

Aku menunjuknya. Dia menunjuk dirinya sendiri dengan wajah polos. Siapa, saya?

Kami turun. Lily di tengah. Bu Clara menggenggam tangan kanannya, aku menggenggam tangan kirinya. Kami berjalan ke gerbang.

Seluruh gerbang menoleh.

Aku pernah membaca tentang efek packet flooding dalam jaringan, saat ribuan permintaan datang bersamaan dan servernya kewalahan. Itu yang kurasakan di gerbang TK Pelangi Kecil pukul tujuh lewat delapan belas. Tatapan dari kiri, dari kanan, dari depan. Ibu-ibu berhenti di tengah kalimat. Seorang pengasuh menjatuhkan botol minum. Bisik-bisik yang tidak berusaha disembunyikan.

“Itu yang kemarin...”

“Yang pakai hoodie?”

“Itu? Ganteng juga kalau pakai kemeja...”

“Beneran calonnya Bu Clara?”

Bu Clara tidak menoleh ke mana pun. Dia berjalan lurus dengan dagu sedikit terangkat, seolah tatapan-tatapan itu hanya udara.

Kami mengantar Lily sampai pintu kelas. Bu Ratna menyambut kami dengan senyum lebar dan mata yang bergerak dari Bu Clara ke aku, ke Lily, lalu kembali ke aku. Dia menandatangani surat kuasa penjemput yang disodorkan Bu Clara dan berbisik padaku, “Mas Irvan, saya udah curiga dari lama. Selamat, ya.”

“Curiga apa, Bu?”

Bu Ratna hanya mengedipkan mata.

Lily memelukku, lalu memeluk ibunya, lalu memelukku lagi. “Nanti jemput, ya, Om.”

“Jam tiga lima belas.”

“Tugasnya belum beres sebelum jemput.”

“Belum beres.”

Dia masuk ke kelas. Di ambang pintu, dia menoleh sekali dan melambai dengan dua tangan.


Kami berjalan kembali ke gerbang. Lily tidak lagi di tengah. Ada jarak satu meter di antara kami, persis seperti rekan kerja yang bertengkar.

Lalu Bu Clara mengulurkan tangan tanpa menoleh.

Aku memandangi tangan itu. Jari-jari panjang. Kuku nude. Jam tangan perak tipis di pergelangan. Tangan yang kemarin malam menyeka sambal dari sudut bibirku dengan ibu jari, dan membuatku tidak tidur sampai pukul empat pagi. Bukan karena Rotterdam.

Aku menggenggamnya.

Tangannya lebih kecil dari yang kubayangkan. Hangat dan kering. Jari-jarinya menyelip di antara jari-jariku, bukan genggaman biasa, tapi genggaman yang saling mengunci, seperti yang dilakukan pasangan di film-film yang ditonton Oma.

“Itu pasal berapa?” bisikku.

“Pasal lima,” jawabnya tanpa menoleh, dengan nada rapat direksi. “Kontak fisik yang diperlukan untuk kepentingan sandiwara.”

“Genggaman yang kayak gini perlu?”

“Sangat perlu. Bu Vanya jam dua belas.”

Aku melirik. Di arah jam dua belas, di dekat gerbang, Bu Vanya berdiri dengan Kenzo dan kacamata hitam besarnya, memandangi kami dengan wajah seseorang yang menonton kenyataan yang tidak sesuai skenario.

Bu Clara mengeratkan genggamannya sedikit.

Kami melewati Bu Vanya. Bu Clara tersenyum padanya, senyum yang sangat sopan, sangat sempurna, dan sangat dingin, jenis senyum yang dipakai direktur untuk mengucapkan selamat pada kompetitor yang baru saja kalah tender.

“Pagi, Bu Vanya.”

“Pagi... Bu Clara.” Mata Bu Vanya berhenti di tangan kami yang saling mengunci. “Wah. Mesra, ya.”

“Masih baru,” kata Bu Clara. “Maklum.”

“Oh... Pak...” Bu Vanya menatapku, menunggu nama.

“Irvan,” kataku.

“Pak Irvan kerja di mana, ya?”

“Di rumah, Bu.”

Bu Vanya berkedip. “Di... rumah?”

“Freelance, Bu. Klien saya di Belanda.”

“Oh.” Aku melihatnya mengkalkulasi ulang lagi, cepat sekali. Freelance. Belanda. “Oh, konsultan internasional, ya?”

Aku membuka mulut untuk bilang bukan, aku cuma orang yang benerin server, tapi Bu Clara meremas tanganku.

“Sesuatu seperti itu,” katanya dengan senyum yang sama. “Permisi, Bu Vanya. Kami ada janji.”

Kami berjalan melewatinya. Aku bisa merasakan tatapan Bu Vanya di punggungku seperti sinar laser.

“Janji apa?” bisikku.

“Janji jalan ke mobil tanpa lepas tangan.”


Di dekat gerbang, seseorang menarik ujung kemejaku.

Aku menoleh ke bawah. Kenzo. Rambut penuh gel, seragam rapi, dan mata yang, dari dekat, ternyata tidak semengancam kemarin. Mata anak lima tahun biasa. Sedikit merah di pinggirnya.

“Om,” katanya. “Om bukan papanya Lily.”

Bu Clara berhenti. Tangannya mengencang di tanganku.

Aku berjongkok, tangan kananku masih menggenggam tangan Bu Clara, sampai mataku sejajar dengan mata Kenzo.

“Kenapa kamu bilang gitu?”

“Soalnya Lily sendiri bilang. Tadi pagi di kelas. Aku tanya, ‘Itu papa kamu?’ Terus Lily bilang, ‘Bukan. Itu Om Kacamata. Yang jemput aku setiap hari.’”

Aku mendengar Bu Clara menahan napas di atasku.

Lily tidak berbohong. Persis seperti yang kuminta. Dan sekarang semua sandiwara ini bisa runtuh karena kejujuran anak lima tahun.

“Terus?” tanyaku pada Kenzo.

Kenzo menunduk. Dia memainkan tali tas punggungnya yang bergambar mobil balap.

“Papa aku,” katanya pelan, “nggak jemput aku setiap hari.”

Aku diam.

“Papa aku jemput aku nggak pernah. Papa aku di Surabaya terus. Kata mama, papa sibuk.” Dia menendang kerikil kecil di paving. “Tapi di acara Hari Ayah dia dateng. Pakai jas. Terus pulang lagi ke Surabaya malemnya.”

Anak-anak kayak Kenzo biasanya nggak berhenti di ngambil. Aku sendiri yang bilang begitu pada Bu Clara kemarin. Aku salah. Anak-anak seperti Kenzo bukan tidak berhenti. Mereka tidak tahu cara berhenti, karena tidak pernah ada yang menunjukkan caranya.

“Kenzo,” kataku. “Kamu tahu kenapa Om jemput Lily setiap hari?”

Dia menggeleng.

“Soalnya Om nggak ada kerjaan,” kataku. “Om duduk di minimarket terus. Jadi Om punya waktu.”

Kenzo mengerjap.

“Papa kamu sibuk. Jadi waktunya sedikit. Tapi dia pakai waktunya yang sedikit itu buat dateng ke Hari Ayah pakai jas. Terbang dari Surabaya. Itu jauh, lho.”

Kenzo memandangiku. Mulutnya sedikit terbuka.

“Iya?”

“Iya. Pesawat. Lama. Terus malemnya terbang lagi. Capek, kan?”

“Capek,” ulang Kenzo pelan. Lalu matanya bergerak ke tangan kananku, yang masih menggenggam tangan Bu Clara. “Om. Om sama mamanya Lily pacaran?”

Aku melirik ke atas. Bu Clara memandangiku dengan ekspresi yang belum pernah kulihat. Bukan ekspresi direktur, bukan ekspresi menggoda. Sesuatu yang lebih mentah. Lebih lembut.

“Om lagi usaha,” kataku.

“Usaha apa?”

“Usaha nggak takut sama dia.”

Kenzo tertawa. Tawa anak kecil yang tiba-tiba, keluar tanpa izin. Dari seberang gerbang, Bu Vanya memanggil namanya dengan nada tajam, dan Kenzo berlari kembali pada ibunya. Tapi di tengah jalan, dia menoleh dan melambai padaku.

Aku berdiri.

Bu Clara tidak langsung berjalan. Dia berdiri di sana, masih menggenggam tanganku, memandangiku dengan mata almond yang sedikit berkilau di bawah matahari pagi.

“Kamu bicara dengan anak yang merobek gambar Lily,” katanya, “seperti bicara dengan Lily.”

“Dia juga anak kecil, Bu.”

“Clara.”

“Dia juga anak kecil... Bu Clara.”

Dia menghela napas, panjang dan dramatis. Lalu dia melakukan sesuatu yang membuat seluruh gerbang TK Pelangi Kecil, termasuk Bu Vanya, termasuk Bu Ratna di ambang pintu kelas, termasuk Mas Ucup yang aku yakin sedang merekam dari balik kaca minimarket, berhenti bergerak.

Dia mengangkat tangan kami yang saling menggenggam, sampai ke dadanya, dan berkata pelan, cukup pelan untuk hanya didengar olehku:

“Nggak usah takut sama aku, Mas.”

Lalu dia tersenyum. Senyum yang bukan senyum direktur, bukan senyum sopan untuk Bu Vanya. Senyum dengan dua sudut bibir, yang membuat tahi lalat kecil itu terangkat dan mata almondnya menyipit di ujung.

“Kecuali kamu mau.”


Dia mengantarku pulang ke rumah Moris, lalu berangkat ke kantor. Di mobil, dia tidak bicara sama sekali. Dia menyalakan radio dan bersenandung pelan mengikuti lagu yang tidak kukenal. Di lampu merah, aku meliriknya, dan dia meliriku di saat yang sama, lalu kami berdua memalingkan wajah ke jendela masing-masing seperti dua anak SMP yang ketahuan.

Di depan pintu rumah, sebelum aku turun, dia berkata tanpa menoleh:

“Tanganmu dingin tadi.”

“Saya gugup, Bu.”

“Besok lebih hangat, ya.”

“Kenapa?”

“Karena besok kita gandengan lagi.”


Pukul tiga lewat sepuluh, aku duduk di bangku besi depan minimarket dengan hoodie abu-abu dan celana tidur motif awan. Aku menolak memakai kemeja dua kali dalam sehari. Itu melanggar hak asasi programmer.

Mas Ucup keluar dan meletakkan dua susu kotak stroberi di meja. Gratis. Dia tidak pernah memberiku apa pun gratis dalam tiga tahun.

“Ini apa, Mas?”

“Selamatan, Mas Ir.” Dia duduk di sebelahku dengan wajah seorang kakak bangga. “Naik pangkat. Dari penghuni bangku jadi calon suami direktur.”

“Mas Ucup, itu nggak seperti yang...”

“Mas Ir, tadi pagi, di depan gerbang, disaksikan dua puluh tiga ibu-ibu, empat belas pengasuh, dan satu kasir,” Mas Ucup menunjuk dirinya dengan jempol, “Mas digandeng kayak gini.” Dia menyelipkan jarinya di antara jari-jariku sendiri untuk mendemonstrasikan. “Terus diangkat ke dada. Terus disenyumin.”

“Mas Ucup rekam?”

“Resolusi tinggi, Mas. Udah saya kirim ke Mbak Sinta.”

Aku menutup wajah dengan kedua tangan.

Bel sekolah berbunyi. Anak-anak berhamburan keluar. Lily keluar paling akhir, seperti biasa, dan berlari ke arah minimarket seperti biasa.

Tapi hari ini, di tengah jalan, dia berhenti. Dia berbalik ke arah gerbang dan berteriak dengan suara paling keras yang pernah kudengar dari anak lima tahun:

“KENZO! ITU OM KACAMATA AKU! YANG JEMPUT AKU SETIAP HARI!”

Di gerbang, Kenzo melambai. Bukan mengejek. Hanya melambai.

Lily melanjutkan larinya ke bangku besi, naik dengan susah payah, lalu mengambil satu susu kotak dan menyerahkan satunya padaku.

“Om, tadi pagi Mama senyum-senyum terus pas nganter aku,” katanya sambil menusukkan sedotan. “Om tahu kenapa?”

“Nggak tahu, Neng.”

“Aku tahu.”

“Kenapa?”

Lily menyedot susunya sampai pipinya kempis, lalu berkata dengan kebijaksanaan anak lima tahun yang tidak bisa dibantah:

“Soalnya tangan Om sekarang ada yang pegang.”

Aku menatap tanganku sendiri. Tangan yang tadi pagi dingin, dan yang, entah bagaimana, masih terasa hangat di telapak, di tempat jari-jari panjang itu menyelip dan mengunci.

“Tugas Om hari ini,” kataku pelan, “belum beres.”

“Belum. Kan belum sampai rumah.”

“Iya. Belum sampai rumah.”

Kami duduk di bangku besi dan menunggu mobil Pak Karto. Untuk pertama kalinya, aku tidak buru-buru ingin mobil itu datang.