Chapter Forty
Papa
POV: Irvan
Kami tidak langsung pulang ke Jakarta.
Clara tertidur di kamarku di Kotagede pukul sepuluh pagi, di atas seprai bunga-bunga merah muda, dengan hoodie abu-abuku dan sepatu kets putih yang belum dilepas. Dia tidak tidur semalaman sebelum pesawat. Dia tidak tidur dua malam di Singapura. Dia tidak tidur, kata Bi Inah lewat pesan singkat yang masuk ke ponselku begitu aku menyalakannya, dengan layak sejak hari Senin seminggu yang lalu.
Aku duduk di lantai di samping ranjang, bersandar di rangka besi, seperti di malam badai di kamarnya. Aku tidak memakai kacamata. Kacamataku masih di saku hoodie yang dia pakai. Aku tidak memintanya kembali.
Ibu melihat kami dari ambang pintu. Dia tidak bicara. Dia menutup pintu pelan-pelan.
Pukul satu siang, aku keluar sebentar. Aku bilang pada Ibu aku mau ke pasar. Ibu hanya mengangguk, dengan senyum miring ke kiri yang tidak dia sembunyikan.
Perajin perak di pasar Kotagede masih di tempat yang sama. Pria tua dengan kaca pembesar di satu mata dan tangan yang gemetar tapi tidak pernah salah. Dia mengenaliku. “Mas yang beli jepit rambut melati,” katanya. “Buat mbak yang cantik.”
“Iya, Pak.”
“Sekarang beli apa?”
Aku menatap etalase kaca di depannya. Cincin-cincin perak. Polos. Berukir. Dengan batu. Tanpa batu.
“Yang cocok sama jepit rambut itu, Pak,” kataku.
Dia menatapku lewat kaca pembesarnya. Lama. Lalu dia tersenyum dan membuka laci di bawah etalase.
Kami terbang ke Jakarta pukul lima sore. Clara yang membelikan tiketnya. Dia juga membelikan satu tiket lagi, untuk Om Darto, yang menolak dengan keras, lalu menerima setelah Ibu menatapnya dari balik kacamata baca selama lima detik penuh.
“Nanti,” kata Om Darto di teras. “Om ke Jakarta. Nanti. Kalau waktunya.”
“Waktunya apa, Om?” tanyaku.
Om Darto dan Ibu saling menatap. Lalu mereka berdua tersenyum. Senyum yang miring ke kiri. Senyum keluarga kami.
Ibu menyerahkan sebuah bungkusan kain batik pada Clara. Diikat dengan pita rafia merah. Clara tidak membukanya. Dia tahu isinya. Aku juga tahu. Bahu tiga puluh sembilan.
“Belum waktunya dipakai,” kata Ibu. “Tapi bawa.”
Clara memeluk Ibu. Lama. Ibu menepuk punggungnya dua kali.
Rumah keluarga Moris pukul tujuh lewat lima belas malam.
Pagar hitam terbuka otomatis. Taksi berhenti di depan air mancur. Lampu taman menyala kuning. Semua jendela di lantai satu terang.
Aku turun dari taksi. Kacamataku sudah kembali di wajahku. Clara mengembalikannya di pesawat, waktu aku hampir menabrak troli pramugari. Retaknya masih di pojok kiri bawah.
Pintu kayu besar terbuka sebelum aku sampai di anak tangga.
Yang pertama keluar bukan Lily.
Reza.
Dia berdiri di ambang pintu dengan kemeja putih yang lengannya digulung dan celemek bunga-bunga milik Bi Inah di pinggangnya. Ada noda selai stroberi di celemek itu. Ada remah roti di kerahnya.
Dia menatapku. Aku menatapnya.
“Roti segitiga,” katanya. “Empat bagian. Berhasil.”
Aku tidak tahu harus bilang apa.
“Wortel diparut di telur dadar. Dia nggak sadar.” Reza melepas celemek itu dan melipatnya. “Muka anak ayam belum. Dia belum disuntik.” Dia mengulurkan tangan. “Makasih. Buat manualnya.”
Aku menjabat tangannya. Genggamannya tidak sekuat di gerbang sekolah. Lebih pelan. Lebih manusia.
“Dia di dalam,” kata Reza. “Nunggu dari jam lima. Nggak mau makan malam. Katanya mau makan bareng Om Kacamata.”
Dia turun anak tangga, melewatiku, dan berhenti di samping Clara. Dia menatapnya sebentar. Clara menatapnya balik.
“Minggu depan,” kata Reza. “Jam sepuluh.”
“Jam sepuluh,” kata Clara.
Reza berjalan ke mobil sedan hitam yang terparkir di dekat pagar. Di ambang pintu mobil, dia berhenti. Dia berbalik ke arah rumah dan melambai, ke jendela di lantai satu.
Di balik jendela itu, sebuah tangan kecil melambai balik.
“DADAH, AYAH!” teriak suara dari dalam rumah.
Reza tersenyum. Senyum Lily. Dan dia pergi.
Aku melangkah masuk.
Ruang tamu keluarga Moris penuh. Oma di sofa, dengan ponsel di tangan dan kertas post-it kuning yang masih tertempel di layarnya. Opa di sofanya sendiri, dengan koran yang tidak dibaca. Darren berdiri di dekat jendela dengan tangan terlipat, dan wajah yang merah. Bi Inah di ambang pintu dapur dengan spatula. Pak Karto di dekat pintu depan dengan topi diremas di tangan. Sinta di pojok, dengan tablet yang dipeluk di dada seperti bayi, dan mata yang sudah bengkak.
Dan di tengah ruangan, di atas karpet, dengan piyama kelinci dan kuncir dua yang miring, berdiri Lily.
Dia melihatku.
Dia tidak berlari.
Dia berdiri di sana, di atas karpet, dan menatapku dengan mata besar. Mata Clara. Boneka Pak Mentega jahitan Ibu di pelukannya. Bibirnya bergetar. Dia menggigit bibir bawahnya keras-keras. Kebiasaan yang dia pelajari dari ibunya.
Aku berjongkok. Di ambang pintu ruang tamu. Sampai mataku sejajar dengan matanya.
“Neng,” kataku.
Lily tidak menjawab.
“Om pulang.”
Lily menatapku. Lalu dia melepaskan Pak Mentega. Boneka itu jatuh ke karpet.
Dan dia berlari.
Dia menabrakku dengan kecepatan penuh. Aku jatuh terduduk di lantai kayu. Dia memeluk leherku dengan kedua lengan, sangat erat, sampai aku hampir tidak bisa bernapas, dan membenamkan wajahnya di bahuku. Wangi stroberi. Wangi sampo anak. Wangi rumah.
Dia menangis. Dengan suara. Keras. Tangisan anak lima tahun yang ditahan selama tujuh hari, lalu dilepas sekaligus di bahu seorang pria dengan kacamata retak.
Aku memeluknya. Aku menepuk punggungnya. Dua kali. Pelan.
“Maaf, Neng,” bisikku di rambutnya. “Om bohong. Tugas Om belum beres.”
Lily menangis lebih keras.
Lalu dia mengangkat kepala. Wajahnya basah dan merah dan berantakan. Dia menatapku dari jarak sangat dekat. Dia memegang wajahku dengan kedua tangan kecilnya, persis seperti Ibu memegang wajahku di teras Kotagede.
“Aku udah bilang ke Ayah,” katanya di sela isak. “Aku bilang, ‘Ayah, aku punya dua. Boleh nggak?’”
Aku tidak bisa bicara.
“Ayah bilang boleh. Ayah bilang, Ayah itu Ayah. Yang bisa sulap. Yang dateng hari Minggu.” Lily menarik napas. “Terus aku tanya, terus Om Kacamata apa? Terus Ayah bilang...”
Dia berhenti. Dia menatapku.
“Ayah bilang, ‘Tanya sendiri ke dia. Tapi Ayah rasa kamu udah tahu.’”
Seluruh ruang tamu hening. Oma menutup mulut. Darren memalingkan wajah ke jendela. Bi Inah menjatuhkan spatula. Sinta memeluk tabletnya lebih erat.
Lily menatapku. Tangan kecilnya masih di wajahku. Ibu jarinya menyentuh bingkai kacamataku. Di pojok kiri. Di retaknya.
“Papa,” katanya.
Aku tidak ingat apa yang terjadi setelah itu.
Aku ingat suara Oma menjerit. Aku ingat Darren menabrakku dari samping, memelukku dan Lily sekaligus, dan berteriak “KIPER GUE!” sampai telingaku berdenging. Aku ingat Bi Inah menangis di dapur dengan kran yang dinyalakan sangat keras. Aku ingat Pak Karto memeluk Sinta, dan Sinta tidak menolak, dan keduanya menangis seperti anak kecil.
Aku ingat Lily tidak melepaskan leherku.
“Papa,” katanya lagi. Lebih pelan. Di telingaku. Seperti mencoba kata baru. “Papa. Papa. Papa.”
Aku ingat aku menangis. Di lantai kayu ruang tamu keluarga Moris, dengan anak lima tahun di leherku yang memanggilku dengan kata yang tidak pernah kuucapkan untuk siapa pun sejak umur sepuluh.
Aku ingat Clara berdiri di ambang pintu di belakangku. Aku tidak melihatnya. Tapi aku merasakannya. Aku merasakan tangannya di bahuku. Aku merasakan dia berlutut di sebelahku, di lantai kayu, dan memeluk kami berdua.
Dan aku ingat Opa.
Opa tidak bangkit dari sofanya. Dia tidak menjerit, tidak memeluk, tidak menangis. Dia hanya melipat korannya. Rapi. Empat lipatan. Dan dia meletakkannya di pangkuan.
Lalu dia berkata, sangat pelan, cukup pelan hanya untuk orang yang mendengarkan:
“Pion yang sampai ujung papan bisa menjadi apa saja.”
Pukul sembilan malam, perpustakaan.
Lampu meja berkap hijau. Papan catur marmer. Bidak-bidak tersusun di posisi awal. Tujuh pion hitam di barisan kedua. Satu celah kosong.
Aku duduk di kursi kulit di seberang Opa. Aku merogoh saku celana. Aku mengeluarkan pion hitam dari marmer. Hangat. Sudah seminggu di saku, di tangan, di dada.
Aku meletakkannya di celah itu.
Barisan pion hitam lengkap lagi. Delapan.
Opa menatapnya lama. Lalu dia memutar papan catur. Pelan. Sampai bidak putih ada di sisiku.
“Kamu yang pegang putih,” katanya. “Janji Kamis.”
“Ini Selasa, Opa.”
“Saya sudah tujuh puluh tujuh. Saya tidak mau menunggu sampai Kamis.”
Kami bermain.
Aku bermain seperti aku bekerja. Mencari celah. Membangun posisi. Opa bermain seperti dia bicara. Lambat, sedikit, dan setiap langkah berbobot.
Di langkah ketiga puluh dua, aku menemukan celah. Menteri Opa tidak dijaga. Kalau aku memindahkan kudaku ke sana, lalu mengorbankan gajah, dalam lima langkah aku bisa...
Aku berhenti.
Opa mengangkat mata dari papan. Dia melihat apa yang kulihat. Sudut matanya bergerak ke arah menteri itu.
“Kenapa berhenti?” tanyanya.
“Saya masih mikir, Opa.”
“Kamu sudah selesai berpikir tiga detik lalu.” Opa bersandar ke kursinya. “Sekarang kamu sedang memutuskan apakah kamu boleh menang di rumah ini.”
Aku menatap papan.
“Sekarang kamu boleh berhenti pura-pura kalah, Irvan,” kata Opa. “Kamu bukan tamu lagi.”
Aku memindahkan kudaku.
Lima langkah kemudian, raja hitam Opa terkepung tanpa jalan keluar.
“Skakmat,” kataku pelan.
Opa menatap papan lama. Lalu dia tersenyum. Senyum yang bukan satu sudut bibir. Dua sudut. Lebar. Seperti senyum Clara ketika dia benar-benar tertawa.
“Akhirnya,” katanya.
Pukul sepuluh malam, dapur.
Lily sudah tertidur di pangkuanku di ruang keluarga. Dia menolak tidur di kamarnya. Dia bilang dia mau memastikan Papa tidak pergi lagi. Aku menggendongnya ke kamarnya dan dia terbangun sebentar di tangga, menatapku, dan berkata “Papa” dengan suara mengantuk, lalu tertidur lagi.
Clara menungguku di dapur. Lampu kuning kecil di atas meja. Dua cangkir teh. Dan di pintu kulkas, di antara magnet-magnet dan catatan belanja Bi Inah, sebuah gambar krayon yang baru.
Aku berdiri di depan kulkas dan menatapnya.
Rumah dengan atap merah. Matahari di pojok, dengan sinar yang rata. Kucing oranye dengan koper merah. Seorang perempuan dengan rambut panjang dan bibir merah, tersenyum. Seorang anak kecil berkuncir dua, di tengah.
Dan di sebelah kiri anak kecil itu, tepat di sebelahnya, seorang pria dengan rambut yang berdiri di dua arah, hoodie abu-abu, dan kacamata dengan garis kecil miring di lensa kiri. Tersenyum miring ke kiri.
Di pojok kanan gambar, lebih kecil, di dekat pagar rumah, seorang pria dengan jas biru dan senyum yang sangat lebar. Di tangannya, lingkaran kuning. Koin. Di atas kepalanya, Lily menulis dengan huruf kecil: AYAH (HARI MINGGU).
Dan di atas pria berkacamata di sebelah anak kecil itu, dengan huruf yang lebih besar dan lebih ditekan, sampai krayonnya hampir menembus kertas:
PAPA.
Di atas gambar: KELUARGAKU.
“Dia gambar itu jam lima,” kata Clara di belakangku. “Waktu nungguin kamu. Dia minta Bi Inah tempel di kulkas. Bukan di bawah bantal.”
Aku menyentuh garis kecil miring di kacamata pria di gambar itu.
“Di kulkas,” ulangku.
“Biar semua orang lihat.”
Keesokan harinya, pukul tiga lewat sepuluh sore, kami bertiga duduk di bangku besi di depan minimarket.
Kertas karton bertuliskan DIPESAN masih ada di atas bangku. Mas Ucup keluar dari minimarket waktu melihat kami datang. Dia menatapku. Lalu menatap Lily di tengah, yang menggenggam tanganku dan tangan Clara. Lalu menatap Clara.
Dia tidak bicara. Dia mengambil kertas karton itu dari bangku. Dia membaliknya.
Di baliknya, dengan spidol hitam yang sama, dengan huruf yang tidak rata:
DIPESAN: MAS IR, BU CLARA, NENG LILY. SELAMANYA.
“Saya tulis hari Mas Ir pergi,” kata Mas Ucup. Suaranya serak. “Malamnya. Saya tulis di belakang. Biar kalau Mas Ir pulang, saya tinggal balik.”
Aku tidak bisa bicara.
Mas Ucup meletakkan tiga susu kotak stroberi di meja kecil yang catnya mengelupas. Tiga. Bukan dua.
“Gratis,” katanya. “Hari ini aja.”
Dia kembali ke dalam. Aku melihatnya dari balik kaca. Dia langsung mengambil ponsel. Aku tahu dia mengirim pesan ke Sinta.
Lily duduk di tengah, di antara kami, dengan susu kotak di dua tangan. Dia menyedotnya sampai pipinya kempis. Clara duduk di kiri, dengan setelan kerja abu-abu arang dan jepit rambut perak Kotagede. Dia datang langsung dari kantor. Dia membatalkan rapat jam tiga.
Rapat bisa dipindah. Jam tiga lewat lima belas tidak.
Aku merogoh saku celanaku.
Kotak kecil dari karton. Diikat pita rafia merah. Sama seperti kotak jepit rambut.
Clara melihatnya. Dia berhenti menyedot susunya.
Aku tidak berlutut. Bangku besi terlalu sempit, dan lututku berbunyi kalau aku jongkok terlalu lama, dan Lily ada di tengah. Aku hanya membuka kotak itu di atas meja kecil, di antara tiga susu kotak stroberi.
Cincin perak. Polos. Dengan ukiran bunga melati kecil di satu sisi. Sama seperti jepit rambut di sisi kiri kepala Clara.
“Perajinnya sama,” kataku. “Dia udah bikin perak dari umur dua belas.”
Clara menatap cincin itu. Lama. Lalu menatapku. Matanya berkaca-kaca. Tapi di sudut bibirnya, di dekat tahi lalat kecil itu, ada sesuatu yang bergerak. Senyum yang ditahan.
“Itu pasal berapa?” tanyanya.
Pertanyaanku. Dia yang menanyakannya sekarang.
Aku menatapnya. Lalu menatap Lily, yang berhenti menyedot susunya dan menatap kami berdua dengan mata bulat.
“Pasal satu,” kataku. “Dari kontrak yang baru.”
“Kontrak baru?”
“Isinya cuma satu pasal.” Aku mengambil cincin itu dari kotaknya. “Pihak Pertama dan Pihak Kedua dilarang saling berhenti jatuh cinta.”
Clara tertawa. Tawa yang pecah, basah, keras, tidak ditutupi dengan punggung tangan. Di depan minimarket. Di depan Mas Ucup yang menempelkan wajahnya di kaca. Di depan gerbang TK Pelangi Kecil, di mana Bu Ratna dan Bu Vanya dan Kenzo dan papanya Kenzo berhenti dan menoleh.
“Jangka waktunya?” tanyanya di sela tawa.
“Tanpa batas waktu.”
“Kompensasinya?”
“Susu kotak stroberi. Tiap jam tiga.”
“Pasal sembilan?”
“Nggak ada pasal sembilan.”
Clara mengulurkan tangan kirinya. Jari-jarinya gemetar sedikit.
“Aku tanda tangan,” katanya.
Aku memasangkan cincin itu di jari manisnya. Pas. Aku sudah menebak ukurannya dari cara jarinya menyelip di antara jari-jariku di gerbang sekolah, lima bulan lalu. Aku programmer. Aku pandai menebak.
Lily menatap cincin itu. Lalu menatap ibunya. Lalu menatapku.
“Mama nikah sama Papa?”
“Iya, Sayang,” kata Clara.
Lily berpikir. Keningnya berkerut. Kerutan Opa.
“Terus Papa tinggal di rumah kita terus?”
“Terus,” kataku.
“Selamanya?”
“Selamanya.”
“Kayak tulisan Mas Ucup?”
“Kayak tulisan Mas Ucup.”
Lily mengangguk puas. Dia menyedot susunya lagi. Lalu dia berhenti, dan menoleh padaku dengan wajah polos, dengan kebiasaan lima bulan, dengan permainan yang kami mainkan setiap hari sejak dia hampir tertabrak motor di trotoar ini:
“Papa! Tugas Papa hari ini udah beres belum?”
Aku menatapnya. Aku menatap Clara, dengan cincin perak di jarinya dan air mata di pipinya. Aku menatap gerbang sekolah, dan minimarket, dan kertas karton bertuliskan SELAMANYA.
Aku tidak memberi hormat dua jari di pelipis.
“Belum, Neng,” kataku. “Baru mulai.”
- 1 Gambar Tanpa Papa
- 2 Proyek P.A.P.A.
- 3 Om Kacamata
- 4 Laporan Intelijen Sinta
- 5 Tawaran di Bangku Minimarket
- 6 Pasal Sembilan
- 7 Dua Kardus dan Satu Monitor
- 8 Makan Malam Keluarga Moris
- 9 Gerbang TK
- 10 Menantu Idaman Berhoodie
- 11 Skakmat
- 12 Rapat Orang Tua
- 13 Jam Tiga Pagi
- 14 Hampir
- 15 Darren Menantang
- 16 Hari Orang Tersayang
- 17 Lily Demam
- 18 Hoodie Abu-Abu
- 19 Pasal yang Mau Kulanggar
- 20 Kacamata Berembun
- 21 Ulang Tahun Opa
- 22 Yang Tidak Setara
- 23 Ciuman Pertama
- 24 Pulang ke Yogya
- 25 Cerita Om Darto
- 26 Kepala Keluarga Sementara
- 27 Perpanjangan Kontrak
- 28 Tamu dari Toronto
- 29 Papa Beneran
- 30 Proposal Kerja Sama
- 31 Dua Kursi di Pentas Seni
- 32 Papa Boleh Dua?
- 33 Pasal Sembilan Berlaku
- 34 Rumah Tanpa Hoodie
- 35 Pergi demi Kebaikan
- 36 Om Darto
- 37 Operasi Jemput Papa
- 38 Belum Beres
- 39 Tanpa Pasal
- 40 Papa reading
- 41 Epilog — Tugas yang Tak Pernah Beres