Chapter Three
Om Kacamata
POV: Irvan
Klien di Rotterdam baru bangun jam dua siang waktu Jakarta. Klien di Singapura sudah makan siang jam dua belas dan biasanya baru membalas email jam empat sore. Di antara keduanya, ada jendela waktu yang kusebut “jam kosong”, dan jam kosong itu kuhabiskan di bangku besi depan minimarket.
Alasannya sederhana. Kontrakanku di gang belakang punya wifi yang putus tiap kali tetangga sebelah menyalakan mesin cuci. Minimarket ini punya pendingin udara yang bocor keluar lewat pintu otomatis, colokan listrik di bawah meja yang entah kenapa tidak pernah ditegur, dan Mas Ucup.
“Mas Ir,” kata Mas Ucup dari balik mesin kasir tanpa mengangkat kepala. “Kopi sachet yang biasa udah abis. Tinggal yang latte. Tapi latte-nya palsu.”
“Semua latte sachet itu palsu, Mas.”
“Iya, tapi yang ini palsunya lebih ngaku.”
Aku membeli dua. Juga dua susu kotak stroberi dari lemari pendingin paling bawah, yang letaknya sejajar dengan tinggi anak lima tahun, karena Mas Ucup bilang itu strategi pemasaran. Ini kebiasaan tiga minggu terakhir. Mas Ucup sudah hafal. Kadang dia menaruh dua kotak itu di meja kasir sebelum aku sampai.
“Si Neng Lily dateng hari ini?”
“Kalau sopirnya telat, ya.”
“Sopirnya pasti telat.” Mas Ucup memindai kopiku. “Pak Karto itu orangnya baik, tapi rutenya lewat Fatmawati. Fatmawati jam segini kayak antrean sembako.”
Aku bertemu Lily tiga minggu lalu dengan cara yang tidak ingin kuulang.
Hari itu aku sedang di tengah panggilan video dengan tim di Rotterdam, mengenakan headset, ketika seekor kucing oranye melompat dari tembok sekolah ke trotoar. Seorang anak perempuan berkuncir dua mengejarnya lewat celah pagar yang seharusnya dikunci, lurus ke arah jalan, tepat saat sebuah motor ojek melaju dari tikungan.
Aku tidak ingat berdiri. Yang kuingat, headset-ku sudah terlempar, tanganku mencengkeram kerah seragam kecil itu, dan kami berdua jatuh ke arah trotoar. Sikuku menghantam aspal. Kacamataku lepas dan membentur pinggiran got.
Motor itu lewat. Pengemudinya menoleh, berteriak sesuatu, dan terus melaju.
Anak itu tidak menangis. Dia duduk di trotoar, menatapku dengan mata besar, lalu berkata, “Om, kucingnya kabur.”
“Iya,” kataku, masih terengah dan mencari kacamata. “Iya, kucingnya kabur. Kamu nggak apa-apa?”
“Om berdarah.”
Memang. Sikuku lecet parah. Kacamataku retak kecil di pojok kiri bawah lensa, cukup kecil untuk tetap kupakai, cukup besar untuk selalu kulihat.
Mas Ucup keluar membawa kotak P3K. Bu Ratna, guru TK yang wajahnya pucat seperti kertas, berlari keluar pagar. Satpam sekolah menyusul. Sopir tua berbatik yang baru turun dari mobil hitam terlihat seperti mau pingsan. Semua orang bicara bersamaan. Anak itu hanya memandangiku seolah akulah bagian paling menarik dari seluruh kejadian itu.
“Om pakai kacamata,” katanya.
“Iya.”
“Kacamatanya pecah.”
“Retak sedikit.”
“Om Kacamata.”
Nama itu melekat sejak detik itu.
Sopirnya, Pak Karto, memohon padaku dengan tangan dikatupkan di depan dada. “Mas, tolong, jangan bilang Non Clara, ya. Bapak yang salah, Bapak telat. Kalau Non tahu, Bapak bisa... Bapak sudah tua, Mas. Bapak masih punya cucu tiga.”
Aku tidak kenal Non Clara. Aku tidak punya alasan untuk mengadu pada siapa pun. Aku hanya mengangguk, dan Pak Karto menyalami tanganku berkali-kali.
Keesokan harinya, anak itu muncul lagi di bangku besi. Pak Karto telat lagi. Bu Ratna mengizinkannya duduk di sana karena bangku itu terlihat langsung dari pos satpam, dan karena, katanya, “Mas Irvan yang benerin wifi sekolah waktu itu, kan? Saya percaya.”
Aku membelikan anak itu susu kotak stroberi karena itu satu-satunya minuman anak-anak yang kutahu. Dia bilang itu kesukaannya. Aku tidak tahu apakah itu benar atau dia cuma sopan. Besoknya aku membeli dua.
Namanya Lily. Umurnya lima tahun, katanya “lima setengah kurang sedikit”. Dia punya kucing khayalan bernama Pak Mentega, seorang Opa yang galak tapi suka memberi uang saku diam-diam, seorang Oma yang “suka joget di HP”, seorang paman bernama Om Darren yang “jago main game tapi kalah terus sama aku”, dan seorang Mama.
“Mama aku cantik banget,” katanya di hari keempat. “Tapi capek terus.”
Dia tidak pernah menyebut papa.
Aku tidak bertanya.
Hari ini Lily datang dengan langkah seperti biasa, tas punggung bergambar kelinci yang terlalu besar untuk tubuhnya memantul-mantul di punggung. Dia menaiki bangku dengan susah payah. Aku menutup laptop.
“Om Kacamata.”
“Neng Lily.”
Aku menyerahkan susu stroberi. Dia menusukkan sedotan dengan konsentrasi seorang ahli bedah, lalu menyedotnya sampai pipinya kempis.
“Hari ini gimana?”
“Hari ini Kenzo nggak ngomong sama aku.”
“Bagus, dong.”
“Nggak bagus. Dia nggak ngomong, tapi dia bisik-bisik sama Rafi, terus Rafi lihat aku, terus ketawa.” Lily meletakkan susunya dengan keras di meja. “Itu lebih jahat daripada ngomong.”
Dia benar. Anak lima tahun sering lebih pintar dalam hal-hal yang tidak diajarkan di sekolah.
“Terus Neng ngapain?”
“Aku lihatin mereka kayak gini.” Dia menyipitkan mata, mengerutkan hidung, dan memajukan bibir bawah. Wajahnya lebih mirip anak ayam kebingungan daripada tatapan mengancam.
Aku menahan tawa. “Terus?”
“Terus Rafi ketawa lagi.”
“Mungkin lihatinnya kurang serem.”
“Om bisa lebih serem?”
Aku melepas kacamata, menyipitkan mata, dan memasang wajah yang kupelajari dari atasan lamaku di kantor pertama saat server mati di hari Jumat sore.
Lily menatapku. Lalu dia berkata dengan jujur yang brutal, “Om kalau nggak pakai kacamata kayak orang ngantuk.”
“Om memang ngantuk. Om tidur jam empat pagi.”
“Kenapa?”
“Soalnya kerjaan Om ada di Belanda. Orang Belanda bangunnya pas kita tidur.”
“Kenapa orang Belanda nggak bangun pas kita bangun aja?”
“Om juga udah tanya. Belum dijawab.”
Dia berpikir. Lalu dia bercerita tentang semalam: Mama pulang malam lagi, tapi Mama duduk di karpet, lihat gambarnya, dan peluk dia sampai tertidur.
“Gambar yang kemarin?” tanyaku.
Kemarin dia datang dengan mata merah dan tidak mau bicara selama sepuluh menit penuh. Lalu dia menunjukkan selembar kertas terlipat dari tasnya dan menangis dengan wajah ditekan ke lengan hoodieku sampai lengannya basah. Soal Hari Ayah. Soal Kenzo. Soal gambar yang tidak punya papa.
Aku bukan orang yang tepat untuk urusan itu. Aku sendiri tumbuh dengan gambar yang tidak punya papa, lalu dengan gambar yang punya dua, lalu dengan gambar yang tidak punya siapa-siapa lagi selain Ibu. Aku tidak tahu harus mengatakan apa kemarin, jadi aku bilang sesuatu tentang celana yang kekecilan dan hati yang sempit. Entah kenapa itu berhasil.
“Mama bilang aku boleh gambar papa khayalan,” kata Lily sekarang. “Kayak Pak Mentega.”
“Terus Neng gambar?”
“Nggak jadi. Aku nggak tahu mukanya.”
“Hmm.” Aku berpikir. “Kalau nggak tahu mukanya, gambar punggungnya aja.”
Lily mengerjap. “Punggung?”
“Iya. Gambar papa lagi jalan di depan, lagi gendong Neng di punggung. Jadi mukanya nggak kelihatan. Kenzo nggak bisa bilang itu bohong, soalnya dia juga nggak tahu mukanya.”
Lily memandangiku lama. Lalu matanya melebar dengan kekaguman yang biasanya disimpan anak-anak untuk pesulap atau orang yang bisa menggerakkan telinga.
“Om pinter.”
“Om kerja di komputer. Tiap hari nyari celah.”
“Celah itu apa?”
“Lubang kecil yang orang lain nggak lihat.”
“Kayak lubang di pagar sekolah?”
“Persis. Tapi yang itu jangan dipakai lagi buat ngejar kucing.”
Dia mengangguk dengan serius. Lalu, tanpa peringatan, dia bertanya, “Om, Pak Mentega itu kucing laki-laki. Kalau aku gambar papa lagi gendong aku, Pak Mentega digendong siapa?”
“Pak Mentega jalan sendiri. Dia kucing dewasa. Punya harga diri.”
“Tapi kakinya pendek.”
“Makanya jalannya lama. Makanya di gambar dia paling belakang. Ngos-ngosan. Bawa koper.”
“Kucing bawa koper?”
“Dia mau ikut liburan. Isinya ikan asin sama sandal cadangan.”
Dan di situ Lily tertawa.
Tawa yang membuatnya membungkuk, menendang udara, dan hampir menjatuhkan susu kotaknya. Tawa yang begitu keras sampai Mas Ucup muncul di pintu minimarket untuk memastikan tidak ada yang terluka. Tawa anak yang dua hari lalu menangis sampai lengan hoodieku basah.
Aku ikut tertawa. Aku tidak bisa menahannya.
Beberapa detik kemudian, Mas Ucup berdeham keras dari pintu.
“Mas Ir.”
“Hm?”
Mas Ucup memberi isyarat dengan dagunya ke seberang jalan. Wajahnya aneh, campuran antara kagum dan takut, seperti orang yang melihat pesawat mendarat darurat di jalan tol.
Aku menoleh.
Seorang perempuan menyeberang jalan ke arah kami.
Hal pertama yang kuperhatikan adalah caranya berjalan. Lurus dan tidak terburu-buru, dengan heels hitam yang berbunyi tegas di aspal, seolah jalan itu miliknya dan mobil-mobil yang berhenti hanya menunggu giliran. Dia memakai blazer krem di atas blus sutra putih dan rok pensil abu-abu yang membuat kakinya terlihat lebih panjang dari seharusnya. Sebuah tas kulit hitam tergantung di lengannya.
Lalu wajahnya.
Aku bukan orang yang pandai mendeskripsikan wajah. Pekerjaanku membaca kode, bukan manusia. Tapi ada wajah yang memaksa siapa pun jadi penyair, dan wajah ini salah satunya.
Rambutnya hitam, disanggul rendah di tengkuk dengan rapi. Satu helai lolos dan jatuh di pelipis kanan, satu-satunya bagian dirinya yang tidak patuh. Kulitnya putih langsat, halus, dan menangkap cahaya sore dengan cara yang membuat trotoar kusam di belakangnya terlihat seperti latar yang salah pilih. Lehernya jenjang. Alisnya tegas dan rapi. Matanya besar, berbentuk almond dengan ujung sedikit terangkat, dengan bulu mata lentik yang membuat tatapannya terlihat tajam sekaligus mengantuk. Dan saat ini tatapan itu diarahkan lurus padaku.
Bibirnya penuh, berwarna merah bata yang berani. Di dekat sudut bibir kirinya ada tahi lalat kecil, satu titik gelap yang entah kenapa langsung jadi tempat mataku berhenti dan tidak mau pindah.
Dia cantik dengan cara yang membuat orang lupa bahwa dirinya punya mulut untuk bicara.
Di sebelahku, Lily melompat dari bangku.
“MAMA!”
Oh.
Mama aku cantik banget. Tapi capek terus.
Anak itu tidak berlebihan. Yang pertama jelas benar. Yang kedua juga. Di bawah matanya ada bayangan samar yang tidak sepenuhnya tertutup riasan, dan ada garis tegang di rahangnya yang terlihat sudah lama menetap.
Lily memeluk pinggang ibunya. Perempuan itu meletakkan satu tangan di kepala anaknya tanpa melepaskan tatapannya dariku.
“Lily,” katanya. Suaranya rendah dan tenang, suara yang terbiasa membuat ruangan diam. “Pulang.”
“Mama jemput? Beneran? Mama nggak rapat?”
“Mama nggak rapat.” Tatapannya turun dari wajahku ke hoodieku, ke celana tidur kotak-kotakku, ke sandal jepitku, lalu naik lagi. Aku merasa sedang dipindai seperti barang di mesin kasir Mas Ucup, dan harganya belum ketemu. “Anda siapa?”
Aku berdiri. Sandal jepitku berbunyi di lantai keramik teras.
“Irvan, Bu.” Suaraku keluar lebih serak dari yang kuharapkan. “Saya... sering di sini.”
“Om Kacamata!” kata Lily, seolah itu menjelaskan segalanya.
“Om Kacamata,” ulang ibunya. Perlahan, seperti sedang mencocokkan data. Matanya berhenti di kacamataku, di retak kecil di pojok lensa kiri, lalu kembali ke wajahku.
“Ibu mamanya Lily?” tanyaku, karena otakku tampaknya sedang dalam mode memproduksi pertanyaan bodoh.
Satu alisnya naik. Hanya sedikit. Tapi itu cukup untuk membuatku merasa seperti murid yang baru menanyakan apakah bumi itu bulat.
“Clara,” katanya. “Clara Moris.”
Dia tidak mengulurkan tangan. Aku juga tidak. Tanganku berkeringat dan bau kopi sachet.
“Lily banyak cerita soal Anda,” katanya. “Tadi malam.”
Aku tidak tahu apakah itu pujian atau tuduhan. Dari nadanya, bisa dua-duanya.
“Lily juga banyak cerita soal Ibu.”
“Oh ya? Apa katanya?”
Cantik banget, tapi capek terus.
“Katanya Ibu kerja keras,” kataku.
Sudut bibirnya bergerak. Bukan senyum, tapi seperti senyum yang dibatalkan di tengah jalan. Tahi lalat kecil itu ikut bergerak.
“Lily,” katanya, “pamit sama Om.”
Lily melepaskan pinggang ibunya dan berbalik padaku. Dia mengambil susu kotak yang tinggal separuh, memeluknya di dada, dan membungkuk sedikit. Salam pamit yang pasti diajarkan Oma-nya.
“Makasih, Om Kacamata. Besok ketemu lagi?”
Aku melirik ibunya. Wajah Bu Clara tidak memberi petunjuk apa pun.
“Kalau sopirnya telat,” kataku.
“Pak Karto pasti telat,” kata Lily dengan keyakinan penuh. Di sampingnya, Bu Clara menyipitkan mata sedikit, dan aku langsung menyesal membawa-bawa nama Pak Karto.
Lily menarik tangan ibunya. Mereka berjalan ke arah zebra cross. Setelah beberapa langkah, Lily menoleh ke belakang dan berteriak, “Om! Tugas Om hari ini udah beres belum?”
Itu permainan kami. Tugasku adalah menemaninya sampai jemputan datang. Tiap hari, di detik mobil hitam Pak Karto muncul di tikungan, aku selalu mengucapkan kalimat yang sama, dan tiap hari dia selalu tertawa seolah itu lelucon baru.
Aku mengangkat tangan dan memberi hormat ala tentara yang asal-asalan.
“Tugas Om Kacamata udah beres.”
Lily terkikik dan melambai. Ibunya tidak menoleh. Tapi di tengah zebra cross, tepat sebelum mereka sampai di mobil sedan putih di bawah pohon ketapang, aku melihat dia melirik ke belakang.
Satu kali. Singkat. Tatapannya lurus padaku, tajam dan tidak terbaca.
Lalu pintu mobil tertutup.
Mas Ucup muncul di sebelahku dengan kemoceng di tangan, pura-pura membersihkan meja yang tidak berdebu.
“Mas Ir.”
“Hm.”
“Itu tadi mamanya Neng Lily?”
“Kayaknya.”
“Mas Ir tahu nggak itu siapa?”
“Katanya Clara Moris.”
Mas Ucup menghentikan kemocengnya. “Moris. Moris yang itu?”
“Moris yang mana?”
“Mas Ir kerja di komputer tiap hari, masa nggak tahu Moris?” Mas Ucup menunjuk ke arah jalan besar, ke arah gedung-gedung tinggi yang terlihat dari atas atap rumah-rumah. “Moris Investment. Gedung kaca yang ada tulisannya segede truk. Yang kalau malam lampunya biru. Itu punya keluarganya.”
Aku duduk kembali di bangku besi. Laptopku masih tertutup. Susu stroberiku belum kuminum.
“Terus?”
“Terus, Mas Ir barusan diliatin dari ujung rambut sampai ujung sendal jepit sama direktur perusahaan triliunan,” kata Mas Ucup dengan nada puas seseorang yang menonton sinetron dan mendapat adegan terbaik. “Pakai celana tidur.”
Aku menatap celana tidurku. Motif kotak-kotak biru tua. Ada noda kopi kecil di lutut kiri yang tidak kusadari sampai detik ini.
“Terus Mas Ir ditanya, ‘Anda siapa?’” lanjut Mas Ucup, menirukan suara rendah Bu Clara dengan hasil yang mengerikan. “Terus Mas Ir jawab, ‘Saya sering di sini.’”
“Mas Ucup.”
“Iya, Mas?”
“Mas Ucup nggak ada kerjaan di dalam?”
“Ada.” Dia berbalik ke pintu, lalu berhenti. “Tapi Mas Ir, tadi pas Mas lagi bikin Neng ketawa sampai nyungsep itu, mamanya udah berdiri di seberang jalan hampir lima menit. Nggak nyeberang. Cuma lihatin.”
Pintu otomatis terbuka, embusan pendingin udara lolos keluar, lalu menutup lagi.
Aku membuka laptop. Rotterdam sudah mengirim tiga pesan. Singapura mengirim satu. Kursor berkedip di layar, menunggu.
Aku tidak mengetik apa pun selama beberapa menit.
Yang ada di kepalaku bukan kode, bukan deadline. Yang ada di kepalaku adalah lirikan singkat di tengah zebra cross, dan satu titik gelap kecil di dekat sudut bibir yang tidak tersenyum.
- 1 Gambar Tanpa Papa
- 2 Proyek P.A.P.A.
- 3 Om Kacamata reading
- 4 Laporan Intelijen Sinta
- 5 Tawaran di Bangku Minimarket
- 6 Pasal Sembilan
- 7 Dua Kardus dan Satu Monitor
- 8 Makan Malam Keluarga Moris
- 9 Gerbang TK
- 10 Menantu Idaman Berhoodie
- 11 Skakmat
- 12 Rapat Orang Tua
- 13 Jam Tiga Pagi
- 14 Hampir
- 15 Darren Menantang
- 16 Hari Orang Tersayang
- 17 Lily Demam
- 18 Hoodie Abu-Abu
- 19 Pasal yang Mau Kulanggar
- 20 Kacamata Berembun
- 21 Ulang Tahun Opa
- 22 Yang Tidak Setara
- 23 Ciuman Pertama
- 24 Pulang ke Yogya
- 25 Cerita Om Darto
- 26 Kepala Keluarga Sementara
- 27 Perpanjangan Kontrak
- 28 Tamu dari Toronto
- 29 Papa Beneran
- 30 Proposal Kerja Sama
- 31 Dua Kursi di Pentas Seni
- 32 Papa Boleh Dua?
- 33 Pasal Sembilan Berlaku
- 34 Rumah Tanpa Hoodie
- 35 Pergi demi Kebaikan
- 36 Om Darto
- 37 Operasi Jemput Papa
- 38 Belum Beres
- 39 Tanpa Pasal
- 40 Papa
- 41 Epilog — Tugas yang Tak Pernah Beres