← Papa Pinjaman

Chapter Four

Laporan Intelijen Sinta

POV: Clara

“Kamu yakin ini laporan, bukan fanfiksi?”

Sinta berdiri di depan mejaku dengan kedua tangan terkatup di depan perut seperti pelayan hotel bintang lima. Map biru tipis yang dia serahkan sepuluh menit lalu terbuka di depanku. Di sampulnya tertempel label cetak:

DOSIR KANDIDAT #24 — KODE: KACAMATA
Sangat Rahasia. Bakar Setelah Dibaca (Kiasan).

“Itu laporan, Bu. Seratus persen fakta. Saya hanya menambahkan interpretasi profesional.”

Aku membaca ulang halaman pertama.


NAMA LENGKAP: Irvan Oktovan
USIA: 31 tahun
DOMISILI: Kontrakan dua petak, Gang Mawar III, 200 meter dari TK Pelangi Kecil. Pemilik kontrakan (Bu Haji Romlah) menyatakan beliau “bayar tepat waktu, nggak pernah bawa perempuan, cuma suka nyalain kipas angin kenceng banget”.
ASAL: Yogyakarta. Ibu kandung (Ibu Wati) menjalankan usaha jahit rumahan. Ayah: data tidak tersedia.
PENDIDIKAN: S1 Teknik Informatika, universitas negeri di Yogyakarta. Lulus dengan predikat cumlaude. Skripsi tentang keamanan sistem (saya tidak paham judulnya, Bu, ada kata “kriptografi” dan “asimetris”).
PEKERJAAN: Freelance backend & security engineer. Klien tetap: satu perusahaan logistik di Rotterdam, Belanda, dan satu fintech di Singapura. Pernah bekerja kantoran empat tahun di Jakarta, lalu resign dan memilih jalur lepas.
PENGHASILAN: Estimasi layak. Lebih dari cukup untuk hidup nyaman. Jauh di bawah standar keluarga Moris (catatan: semua orang jauh di bawah standar keluarga Moris, Bu).
CATATAN KRIMINAL: Nihil.
CATATAN UTANG: Nihil.
MEDIA SOSIAL: Hampir nihil. Satu akun GitHub (aktif, isinya kode, saya tidak paham). Satu akun Instagram dengan 3 unggahan: foto kucing tetangga (2019), foto mesin jahit ibunya (2021), foto semangkuk bakso (2022). Tidak ada foto perempuan. Tidak ada foto diri sendiri.
STATUS HUBUNGAN: Lajang (berdasarkan observasi Bu Haji Romlah dan ketiadaan foto perempuan).
KEBIASAAN: Nongkrong di minimarket sebelah TK setiap hari pukul 12.00–16.00 WIB. Membeli dua kopi sachet dan dua susu kotak stroberi. Pakaian: hoodie abu-abu (1 buah, kondisi pudar), celana tidur (2 buah, motif kotak-kotak biru dan motif awan), sandal jepit (1 pasang, merek tidak teridentifikasi).


“Sinta.”

“Ya, Bu?”

“Kamu mewawancarai ibu kosnya?”

“Pemilik kontrakan, Bu. Saya menyamar sebagai petugas survei kepuasan penghuni.”

“Survei kepuasan penghuni itu tidak ada.”

“Bu Haji Romlah tidak tahu itu, Bu.”

Aku membalik ke halaman kedua. Halaman ini lebih pendek, dan jelas ditulis dengan lebih banyak semangat.


PENILAIAN SUBJEKTIF (INTERPRETASI PROFESIONAL)

Ancaman terhadap harta keluarga Moris: Rendah. Subjek tidak tahu cara memakai sepatu, apalagi merencanakan penipuan.
Ancaman terhadap Bu Clara: Tidak terdeteksi (anomali statistik, perlu observasi lanjutan).
Kemampuan dengan anak: Tinggi. Menurut Bu Ratna (guru), Lily “jadi anak yang beda” sejak tiga minggu terakhir.
Tingkat kerapian: Memprihatinkan.
Senyum: Berbahaya.


“Berbahaya,” ulangku.

“Saya sudah melihat foto-fotonya, Bu.”

“Kamu memotretnya?”

“Dari jarak aman, Bu. Dengan lensa tele. Saya pinjam kamera dari divisi marketing dengan alasan pemotretan produk.” Dia menyodorkan amplop kecil. “Silakan kalau Ibu ingin konfirmasi.”

Aku tidak mengambilnya.

Aku tidak perlu. Kemarin aku sudah melihatnya sendiri dari jarak satu setengah meter: rambut berantakan, kacamata bingkai hitam tipis dengan retak kecil di pojok lensa kiri, rahang yang tidak dicukur dua hari, dan senyum yang miring ke kiri sampai muncul satu lesung pipi di sisi yang sama. Senyum yang hilang begitu aku bertanya Anda siapa, digantikan wajah orang yang baru ketahuan mencuri mangga tetangga.

“Satu hal lagi, Bu,” kata Sinta. Nadanya berubah. Tidak ada lagi semangat, yang tersisa hanya hati-hati. “Ada di halaman tiga. Saya tidak menulis interpretasi di sana.”

Aku membalik halaman.

Halaman tiga hanya berisi satu paragraf dan satu foto buram yang jelas diambil dari kamera CCTV.


KEJADIAN, 3 minggu lalu, pukul 15.22 WIB.
Sumber: CCTV minimarket (diperoleh dengan izin kasir, Sdr. Ucup, nama lengkap tidak bersedia disebutkan, dengan kompensasi dua bungkus rokok. Bu, saya ganti dengan reimburse, tidak apa-apa ya).
Lily keluar melalui celah pagar sekolah untuk mengejar kucing. Sebuah motor melaju dari arah tikungan. Subjek melompat dari bangku, menarik Lily, dan keduanya jatuh ke trotoar. Motor lewat dengan jarak kurang dari satu meter. Subjek mengalami luka lecet di siku, kacamata retak. Lily tidak terluka.
Sopir, Pak Karto, tiba dua menit setelah kejadian. Pak Karto meminta subjek tidak melaporkan kejadian ini kepada Bu Clara.


Foto CCTV itu kabur dan hitam-putih. Tapi aku bisa melihatnya: sosok pria dengan hoodie, tubuhnya melingkar di trotoar, satu tangan melindungi kepala anak kecil berkuncir dua. Di pinggir foto, di jalan, sebuah motor yang tampak seperti noda gelap berkecepatan tinggi.

Aku menatap foto itu lama.

Ruanganku di lantai dua puluh tiga tiba-tiba terasa terlalu sunyi. Aku bisa mendengar dengung pendingin udara, bunyi ketikan samar dari luar pintu, dan detak jantungku sendiri yang terlalu keras.

Tiga minggu. Tiga minggu anakku hampir mati di depan sekolahnya, dan aku tidak tahu. Tiga minggu aku menandatangani kontrak, memeriksa laporan kuartal, menghadiri makan malam dengan investor. Tiga minggu aku pulang malam dan mencium kening Lily yang sudah tertidur, tanpa tahu bahwa di bawah rambut yang wangi stroberi itu ada kepala yang tiga minggu lalu hampir menghantam aspal.

Dan yang menyelamatkannya adalah pria yang kemarin kutanya “Anda siapa” dengan nada seolah dia tersangka.

“Bu,” kata Sinta pelan.

“Panggil Pak Karto.”

“Bu, beliau...”

“Panggil beliau ke sini, Sinta. Sekarang.”


Pak Karto berdiri di depan mejaku dengan topi di tangan. Dia meremas topi itu sampai bentuknya tidak jelas lagi.

Aku tidak memarahinya.

Aku ingin. Ada bagian dari diriku yang ingin berdiri, menunjuk foto CCTV itu, dan bertanya dengan suara yang membuat direktur cabang mengundurkan diri. Tapi pria di depanku ini yang dulu menggendongku ke UGD waktu aku jatuh dari sepeda di umur sembilan tahun. Pria yang menunggu di luar ruang bersalin selama empat belas jam waktu aku melahirkan Lily sendirian, karena suamiku ada di benua lain dan Opa sedang di Tokyo.

“Kenapa, Pak?” tanyaku. Hanya itu.

Pak Karto menunduk. “Bapak takut, Non.”

“Takut aku pecat?”

“Itu juga.” Dia mengusap matanya dengan punggung tangan. “Tapi lebih takut Non sedih. Non sudah sedih sendiri lima tahun. Bapak lihat Non pulang malam terus, kerja terus. Bapak pikir... kalau Non tahu Neng hampir celaka gara-gara Bapak telat, Non bakal nyalahin diri sendiri. Soalnya Non selalu begitu. Nyalahin diri sendiri duluan sebelum nyalahin orang lain.”

Aku tidak menjawab.

“Maafin Bapak, Non. Bapak salah. Kalau Non mau ganti sopir, Bapak ngerti.”

Aku berdiri dan mengitari meja. Pak Karto mundur selangkah, seolah menyiapkan diri untuk dipukul. Aku berhenti di depannya dan meluruskan topi yang sudah remuk di tangannya.

“Pak Karto nggak dipecat,” kataku. “Mulai besok, Pak Karto berangkat lima belas menit lebih awal. Lewat Antasari, bukan Fatmawati. Dan kalau ada apa pun terjadi sama Lily, sekecil apa pun, aku mau jadi orang pertama yang tahu. Bukan orang terakhir.”

“Siap, Non.” Suaranya pecah. “Siap.”

“Satu lagi.”

“Ya, Non?”

“Pria itu. Mas Irvan.” Nama itu terasa aneh di lidahku. “Dia minta apa dari Pak Karto? Uang? Imbalan?”

Pak Karto menggeleng dengan cepat. “Nggak minta apa-apa, Non. Bapak mau kasih uang buat ganti kacamatanya, dia nggak mau. Katanya, ‘Nggak usah, Pak. Masih bisa dipakai.’ Terus dia balik lagi ke laptopnya kayak nggak ada apa-apa.”

Kacamata dengan retak kecil di pojok lensa kiri. Aku melihatnya kemarin. Aku kira itu tanda orang yang tidak peduli penampilan.

Ternyata itu tanda sesuatu yang lain.


Keesokan harinya, aku duduk di mobil di bawah pohon ketapang yang sama. Kali ini ada Sinta di kursi penumpang dengan teropong kecil di pangkuan.

“Sinta, singkirkan itu.”

“Ini untuk efisiensi observasi, Bu.”

“Kita tidak sedang mengintai buronan.”

“Bu Clara duduk di mobil di seberang jalan, dengan kacamata hitam, mengamati seorang pria selama dua puluh menit. Secara teknis, Bu, ini definisi mengintai.”

Aku tidak menjawab karena dia benar, dan karena di seberang jalan, Lily baru saja berlari ke bangku besi.

Hari ini Pak Karto tidak telat. Mobil hitamnya sudah terparkir di depan gerbang sejak pukul tiga lewat lima. Tapi Lily tetap berlari ke minimarket dulu, dan Pak Karto, yang pasti sudah menerima pesan dariku semalam untuk membiarkannya, hanya berdiri di samping mobil dan menonton dari jauh.

Irvan menutup laptop. Hari ini celananya motif awan. Aku tidak tahu kenapa aku memperhatikan itu.

Lily menyerahkan selembar kertas. Irvan membukanya, memandanginya lama, lalu tertawa. Bukan tawa keras, cuma bahu yang bergerak dan kepala yang menunduk. Dia menunjuk sesuatu di kertas itu, Lily menjelaskan dengan tangan yang bergerak ke mana-mana, dan Irvan mengangguk-angguk dengan serius seperti sedang mendengar presentasi direksi.

“Itu gambar apa, Bu?” Sinta mengangkat teropong. “Ya ampun.”

“Apa?”

“Ada kucing bawa koper.”

Aku merebut teropong itu. Aku tidak peduli lagi soal martabat.

Gambar krayon. Seorang pria dilihat dari belakang, dengan hoodie abu-abu yang diwarnai tidak rata, menggendong anak kecil berkuncir dua di punggungnya. Mereka berjalan menjauh ke arah matahari yang sinarnya miring. Di belakang mereka, jauh tertinggal, ada seekor kucing oranye berjalan dengan dua kaki sambil menyeret sebuah koper.

Lily menggambar papa. Dari belakang, tanpa wajah, supaya tidak bisa dibilang bohong.

Dan hoodie di gambar itu berwarna abu-abu.

Aku menurunkan teropong perlahan.

“Bu?” Sinta menoleh padaku. “Bu, Ibu nggak apa-apa?”

“Kacamata hitamku kekecilan,” kataku. “Mataku perih.”

Sinta, yang sudah tiga tahun menjadi sekretarisku, cukup pintar untuk tidak menjawab.

Di seberang jalan, Lily turun dari bangku. Dia menarik tangan Irvan, dan dengan heran aku melihat Irvan membiarkan dirinya ditarik sampai ke gerbang sekolah, sampai ke samping mobil Pak Karto. Dia berjongkok setinggi Lily dan mengatakan sesuatu. Lily mengangguk, masuk ke mobil, lalu menjulurkan kepala dari jendela.

Dari sini aku tidak bisa mendengar. Tapi aku melihat Irvan berdiri, meletakkan dua jari di pelipis, dan memberi hormat dengan cara yang sangat tidak meyakinkan.

Tugas Om Kacamata udah beres.

Mobil Pak Karto melaju. Irvan berdiri di trotoar sampai mobil itu hilang di tikungan. Dia tidak langsung kembali ke bangku. Dia menunggu beberapa detik lebih lama, persis seperti orang yang memastikan sesuatu yang berharga benar-benar sudah sampai dengan selamat.

Lalu dia menguap, lebar sekali, merentangkan tangan ke atas sampai hoodie-nya terangkat dan memperlihatkan sepotong perut yang lebih rata dari yang kuduga dari seorang pria yang makan siang dengan kopi sachet. Dia membetulkan kacamata. Dia menggaruk kepala. Lalu dia berjalan kembali ke bangku dengan langkah santai seorang pria yang tidak tahu dirinya sedang ditonton dua perempuan dengan teropong.

Senyumnya masih tertinggal di wajahnya waktu dia duduk. Miring ke kiri. Satu lesung pipi.

“Berbahaya,” gumam Sinta.

“Diam, Sinta.”

“Saya cuma mengulang laporan saya sendiri, Bu.”

Aku menyalakan mesin mobil. Tanganku di kemudi lebih erat dari yang diperlukan.

Selama lima tahun, aku sudah membangun sistem pertahanan yang sangat baik. Aku tahu cara membaca pria yang mengincar uang, pria yang mengincar wajahku, dan pria yang mengincar nama belakangku. Aku tahu cara menolak mereka semua sebelum mereka sempat menyelesaikan kalimat pertama.

Tapi pria di bangku besi itu tidak mengincar apa-apa. Dia menyelamatkan anakku dan menolak dibayar. Dia menemani anakku setiap hari tanpa pernah bertanya siapa ibunya. Dia mengajari anakku menggambar papa dari belakang, supaya tidak ada yang bisa bilang itu bohong.

Dan sistem pertahananku tidak punya protokol untuk itu.

“Sinta.”

“Ya, Bu?”

“Siapkan kontrak.”

Sinta sudah membuka tablet sebelum aku menyelesaikan kalimat. “Standar, Bu? Satu tahun, kerahasiaan, kompensasi bulanan, tempat tinggal...”

“Tempat tinggal?”

“Di rumah keluarga Moris, Bu. Kalau dia jadi papa Lily, dia harus ada di sarapan dan di dongeng sebelum tidur. Pak Hendra bisa membedakan sandiwara dari jarak sepuluh meter. Kita harus meyakinkan.”

Aku ingin membantah. Tapi aku melihat gambar di kepalaku, pria dengan hoodie abu-abu dari belakang, anak kecil di punggungnya, dan aku tahu Sinta benar.

“Kamar terpisah,” kataku.

“Tentu, Bu. Sayap timur. Jauh dari kamar Ibu.” Dia mengetik. Lalu, dengan suara yang terlalu polos, dia menambahkan, “Atau Ibu ingin lebih dekat?”

“Sinta.”

“Sayap timur, Bu. Sudah saya ketik. Huruf kapital.”

Mobil berbelok keluar dari bawah pohon ketapang. Di spion, bangku besi itu mengecil, lalu hilang.

Aku tidak tahu apakah pria itu akan menerima. Dari laporan Sinta, dia bukan jenis orang yang bisa dibeli. Justru karena itu aku harus datang sendiri.

“Besok,” kataku, “aku yang bicara dengannya.”

“Mau saya siapkan naskahnya, Bu?”

“Tidak perlu.”

Sinta menatapku dari samping. Aku tahu dia melihat sesuatu di wajahku, sesuatu yang bahkan aku sendiri belum mau menamainya.

“Baik, Bu,” katanya. “Tapi saya sarankan Ibu bawa susu stroberi.”