← Papa Pinjaman

Chapter Ten

Menantu Idaman Berhoodie

POV: Clara

Pukul sepuluh lewat empat belas pagi, di tengah rapat evaluasi portofolio dengan sebelas kepala divisi, ponselku bergetar dua puluh tiga kali dalam satu menit.

Aku mengabaikannya. Aku selalu mengabaikan ponsel di rapat. Itu aturan yang kubuat sendiri dan kutegakkan dengan ketat, sampai-sampai pernah ada manajer yang tidak berani membuka ponsel meskipun istrinya sedang melahirkan. Aku menyuruhnya pulang dengan sopir kantor waktu itu, dan sejak itu aku melonggarkan aturannya sedikit. Tapi hanya untuk kelahiran.

Pintu ruang rapat terbuka. Sinta masuk dengan langkah cepat, wajah tenang, dan tablet di tangan. Dia berjalan mengitari meja panjang, membungkuk ke telingaku, dan berbisik dengan suara yang terlalu terkendali untuk hal yang biasa:

“Bu. Oma viral.”

Aku menatapnya. “Apa?”

“TikTok, Bu. Dua juta tayangan dalam empat jam.”

“Oma selalu posting TikTok. Tidak pernah lebih dari tiga ratus tayangan.”

Sinta menyodorkan tablet. Tanpa suara.

Di layar, sebuah video diputar tanpa suara. Meja makan keluarga Moris, pagi hari, dengan cahaya jendela yang jatuh dari samping. Lily duduk di kursi tingginya, menolak membuka mulut untuk sendok bubur. Di sebelahnya, Irvan dengan hoodie abu-abu yang sudah pudar dan rambut yang belum disisir, membuat pesawat terbang dari sendok itu. Pesawat itu berputar-putar di udara, jatuh, bangun lagi, lalu mendarat darurat di mulut Lily yang akhirnya terbuka karena tertawa.

Lalu Irvan tertawa juga, mengambil tisu, dan menyeka bubur di pipi Lily dengan kehati-hatian seseorang yang membersihkan lensa kamera mahal.

Wajah Lily sudah diburamkan. Wajah Irvan tidak.

Tulisan di atas video, dengan huruf tebal merah muda yang bergerak-gerak dan emoji hati berjatuhan dari atas:

CALON MANTU IDAMAN 😍 PAKAI HOODIE TAPI HATINYA KAYAK JAS 💕 #CucuOmaBahagia #MenantuIdaman

Di bawahnya, akun Oma: @OmaLusi_Joget. Pengikut: 2,1 juta. Kemarin pagi masih 412.

Aku menatap layar itu. Lalu menatap sebelas kepala divisi yang menatapku dengan kewaspadaan orang-orang yang sadar sesuatu sedang terjadi.

“Rapat ditunda lima belas menit,” kataku.


Di ruanganku, Sinta memproyeksikan tablet ke layar besar. Darren sudah duduk di sofa, kakinya di meja kaca, tertawa sampai air matanya keluar.

“Kak. Kak. Komentarnya. Baca komentarnya.”

Aku membaca.

Mana ada cowok hoodie celana tidur tapi sabar begitu ke anak kecil, AKU MAU SATU

Oma tolong, anaknya punya kakak laki-laki nggak

ITU KACAMATANYA RETAK YA??? kok malah makin ganteng

Aku ngeliatin tangannya pas nyeka pipi anaknya. Lembut banget. Aku udah nggak kuat

Keluarga siapa ini? Rumahnya kayak istana

Ini keluarga MORIS bukan sih? Yang Moris Investment? Itu kan meja makannya sama kayak di foto wawancara Pak Hendra di majalah bisnis tahun lalu

MORIS??? Terus menantunya siapa??? Direkturnya kan janda???

Plot twist: direktur Moris Investment dapet cowok hoodie. Aku percaya cinta lagi

Aku berhenti membaca di komentar ke-empat puluh tujuh. Komentar itu hanya bertuliskan: Senyumnya berbahaya.

“Sinta,” kataku, “kamu yang tulis komentar ini?”

“Tidak, Bu.” Sinta terlihat tersinggung. “Saya tidak akan pernah menggunakan kosakata profesional saya di media sosial.”

“Itu komentar favorit gue,” kata Darren. “Ada dua ribu like.”

Ponselku bergetar lagi. Nomor Pak Wiratmaja, komisaris independen yang berusia tujuh puluh tahun dan tidak pernah membuka media sosial seumur hidupnya.

Aku mengangkatnya.

“Clara.” Suara Pak Wiratmaja terdengar seperti gerbang kastil yang berderit. “Cucu saya menunjukkan sebuah video. Siapa pria dengan pakaian tidur itu?”

“Calon suami saya, Pak.”

Hening.

“Ah,” katanya. “Calon suami. Pakai pakaian tidur.”

“Hoodie, Pak.”

“Hoodie.” Dia mengulangi kata itu seperti mengulangi nama penyakit tropis. “Baik. Saya hanya ingin memastikan. Cucu saya bilang dia... ganteng. Saya tidak tahu apakah itu relevan untuk rapat pemegang saham.”

“Tidak relevan, Pak.”

“Baik. Baik.” Jeda. “Tapi cucu saya bilang saya harus menyampaikan satu hal.”

“Apa, Pak?”

“Katanya, ‘Bilang ke Tante Clara, jangan dilepas.’”

Dia menutup telepon.

Darren terjatuh dari sofa karena tertawa.


Sinta sudah menyiapkan presentasi dalam sebelas menit. Tentu saja.

Slide pertama: STRATEGI MITIGASI KRISIS: #HOODIEGATE

“Sinta, kamu kasih nama krisisnya?”

“Media akan memberinya nama, Bu. Lebih baik kita duluan.” Klik. “Ada tiga opsi. Opsi A: Take down. Kita minta Oma menghapus videonya. Risiko: Oma sedih, netizen curiga ada yang disembunyikan, video sudah diunduh dan diunggah ulang oleh tiga ratus akun lain.”

“Tiga ratus?”

“Tiga ratus dua belas, Bu. Per sepuluh menit lalu.” Klik. “Opsi B: Pernyataan resmi. Kita konfirmasi hubungan Ibu dengan Mas Irvan secara singkat dan elegan. Risiko: Mas Irvan jadi figur publik. Wajahnya dikenali di minimarket. Mas Ucup mungkin menjual informasi ke media gosip.”

“Mas Ucup tidak akan...”

“Mas Ucup menjual rekaman CCTV ke saya seharga dua bungkus rokok, Bu.”

Aku tidak bisa membantah.

Klik. “Opsi C: Diam. Biarkan viralnya mereda sendiri. Siklus viral di Indonesia rata-rata tujuh puluh dua jam sebelum digantikan oleh artis yang bercerai atau kucing yang bisa bilang ‘mama’.”

“Rekomendasimu?”

Sinta menurunkan clicker. Dia menatapku lama, lalu berkata dengan suara yang lebih pelan, bukan suara sekretaris:

“Rekomendasi saya, Bu, tanya Mas Irvan dulu. Ini wajahnya.”

Aku terdiam.

Selama lima tahun, aku sudah menghadapi krisis humas. Rumor merger yang gagal. Skandal salah satu manajer investasi kami. Berita tentang perceraianku sendiri, yang sempat muncul di portal gosip ekonomi selama dua hari sebelum tertimbun berita lain. Aku selalu memutuskan sendiri, cepat, tanpa bertanya pada siapa-siapa.

Tapi Sinta benar. Ini bukan wajahku. Ini wajahnya.

Aku mengambil ponsel dan menelepon Irvan untuk pertama kalinya.

Dia mengangkat pada dering keempat. Suaranya serak, suara orang yang baru bangun setelah bekerja sampai subuh.

“Halo?”

“Irvan. Ini aku.”

Hening. Suara sesuatu jatuh. Kacamata, mungkin. Atau dia sendiri.

“Bu Clara? Ada apa? Lily kenapa?”

“Lily baik. Kamu yang kenapa-kenapa.”

“Saya?”

“Kamu belum lihat TikTok?”

“Saya nggak punya TikTok, Bu.”

“Oma punya,” kataku. “Dan sekarang kamu terkenal.”


Aku pulang lebih awal. Pukul empat sore. Aku bilang pada diriku sendiri itu karena krisis humas. Itu bukan karena aku ingin melihat wajahnya saat dia tahu. Tentu saja bukan.

Aku menemukan mereka di ruang keluarga. Oma duduk di sofa dengan ponsel di pangkuan dan wajah yang merah, bukan karena malu, tapi karena bahagia. Irvan duduk di lantai di dekat kaki Oma dengan laptop terbuka dan ekspresi seseorang yang sedang menjinakkan bom.

“Clara!” Oma melambai. “Clara, lihat! Oma dua juta! Dua juta, Clara! Tadi ada yang DM Oma dari brand kerudung, mau endorse!”

“Oma...”

“Oma nggak nyangka. Oma cuma mau pamer calon mantu. Terus Nak Irvan ajari Oma bikin tulisan gerak-gerak, terus Oma coba, terus...” Oma merentangkan tangan seperti meniru ledakan. “Duar!”

Aku menatap Irvan. Irvan menatap laptopnya.

“Kamu yang mengajari Oma bikin tulisan gerak-gerak,” kataku.

“Saya dijanjikan. Tadi malam. Di meja makan.”

“Kamu tahu Oma akan mempostingnya?”

“Saya kira Oma cuma mau kirim ke grup arisan.” Dia mengusap wajah. “Saya nggak tahu grup arisan Oma dua juta orang.”

“Grup arisan Oma dua puluh tiga orang, Nak,” kata Oma dengan bangga. “Yang dua juta itu fans.”

Aku duduk di lengan sofa dan menghela napas.

“Irvan, soal ini. Sinta menyiapkan tiga opsi. Kita bisa minta videonya diturunkan, atau kita buat pernyataan, atau kita diam saja. Tapi ini wajahmu. Aku mau tanya kamu dulu.”

Dia akhirnya mendongak dari laptopnya. Matanya merah karena kurang tidur. Ada garis bantal di pipi kirinya. Rambutnya berdiri di satu sisi.

“Wajah saya nggak apa-apa, Bu,” katanya.

“Kamu yakin? Orang-orang bisa mengenalimu. Di minimarket. Di jalan. Kamu jadi...”

“Wajah Lily,” katanya, memotong. “Wajah Lily udah diburamkan?”

Aku berhenti.

“Sudah,” kata Oma. “Oma nggak tahu cara ngeburamin, tapi tadi pagi...”

“Tadi pagi saya yang buramin, Bu,” kata Irvan. “Pas Oma mau posting, saya minta Oma tunggu sebentar. Saya buramin muka Lily dulu. Saya juga matiin lokasi di videonya, sama hapus data EXIF-nya. Biar orang nggak bisa lacak rumah ini dari videonya.”

Aku menatapnya.

“Terus kenapa wajahmu nggak kamu buramin?”

Dia mengangkat bahu. “Nggak kepikiran.”

Tidak kepikiran. Dia memikirkan wajah Lily, lokasi rumah, dan metadata foto yang bahkan aku tidak tahu ada. Tapi dia tidak terpikir untuk melindungi dirinya sendiri.

“Saya udah pantau dari tadi,” katanya, memutar laptopnya ke arahku. Layarnya penuh dengan tab dan grafik yang tidak kupahami. “Sentimennya delapan puluh tujuh persen positif. Nggak ada yang nyebut nama Lily. Ada dua akun yang coba nebak alamat rumah, tapi salah semua, satu malah nebak ke Bintaro. Ada tiga ratus dua puluh akun yang unggah ulang, tapi semuanya pakai versi yang udah diburamin.”

“Kamu memantau ini sejak kapan?”

“Sejak Ibu telepon.” Dia menguap. “Kerjaan saya kan memang ini, Bu. Jaga supaya nggak ada yang bocor.”

Oma meletakkan tangan di kepala Irvan dan mengelus rambutnya yang berdiri. Seperti mengelus cucu. Seperti mengelus Darren waktu kecil.

“Anak baik,” bisik Oma. “Anak baik sekali.”

Irvan memerah. Kali ini sampai ke leher.


Kami memilih opsi C. Diam.

Sinta menerima keputusan itu dengan anggukan profesional dan helaan napas kecewa, karena dia sudah menyiapkan pernyataan resmi setebal tiga halaman dengan kutipan dari Kahlil Gibran.

Keesokan harinya, portal gosip ekonomi menulis artikel pendek berjudul “Direktur Moris Investment Dikabarkan Dekat dengan Konsultan IT Internasional”. Mereka salah menyebut Irvan sebagai lulusan Belanda. Irvan membacanya dan tertawa sampai tersedak kopi sachet.

“Konsultan IT internasional,” katanya. “Bu Vanya pasti bangga dia yang bikin istilah itu duluan.”


Malam itu, pukul sebelas lewat dua puluh, aku berbaring di ranjang dengan ponsel di tangan.

Aku menonton video itu lagi.

Aku bilang pada diriku sendiri aku menonton untuk memeriksa. Memastikan wajah Lily benar-benar buram. Memastikan tidak ada yang bisa melacak lokasi. Aku sudah memeriksa semuanya sembilan kali.

Ini tontonan kesepuluh.

Di layar, Irvan membuat pesawat dari sendok. Pesawat itu berputar di udara. Tangannya bergerak dengan presisi yang aneh untuk seorang pria yang tidak bisa mengancingkan kemeja dengan benar. Dia membuat suara mesin pesawat dengan mulutnya, ngeeeeng, dan suaranya sedikit sumbang. Lily tertawa, membuka mulut, dan pesawat itu mendarat. Lalu Irvan tertawa.

Aku menghentikan video di detik ketujuh.

Di detik ketujuh, dia sedang tertawa dengan kepala sedikit mendongak, matanya menyipit di balik kacamata, lesung pipi di sisi kiri terlihat jelas. Cahaya jendela jatuh di separuh wajahnya. Rambutnya berantakan. Hoodie-nya pudar. Ada remah roti lagi di bahunya, aku baru menyadarinya di tontonan kelima.

Dia tidak terlihat seperti pria di sampul majalah. Dia terlihat seperti pria yang bisa kau bangunkan jam tiga pagi dan dia akan tetap tersenyum seperti itu.

Aku memutar ulang dari awal.

Pintu kamarku diketuk.

Aku menjatuhkan ponsel ke dada. Video itu masih berputar, suaranya masih keluar dari pengeras suara: ngeeeeng, lalu tawa Lily, lalu tawa Irvan.

“Bu?” Suara Irvan dari balik pintu. “Maaf ganggu. Saya cuma mau kembaliin charger Ibu yang ketinggalan di ruang keluarga.”

Aku meraba ponsel untuk mematikan suaranya. Ponselnya jatuh ke samping ranjang. Suara tawa Irvan di video terus keluar dari lantai kamar, lebih keras karena memantul di lantai kayu.

Hening di balik pintu.

“Bu?” katanya lagi, lebih pelan. “Itu... suara saya?”

Aku memejamkan mata.

Aku punya dua pilihan. Aku bisa berpura-pura tidur. Aku bisa bilang aku sedang memeriksa sentimen publik untuk keperluan humas. Aku bisa mengarang sepuluh alasan yang masuk akal dalam lima detik, keahlian yang kuasah di ratusan rapat.

Aku memungut ponsel, mematikan videonya, lalu berjalan ke pintu dengan kaus oversized dan celana piyama satin, rambut tergerai, wajah tanpa riasan. Aku membukanya.

Irvan berdiri di sana dengan charger di tangan dan wajah seseorang yang tidak tahu harus melihat ke mana.

“Iya,” kataku. “Itu suara kamu.”

“Ibu... lagi nonton...”

“Aku lagi nonton kamu.” Aku mengambil charger itu dari tangannya. Jari kami bersentuhan. “Masalah?”

Dia membuka mulut. Menutupnya. Kacamatanya, yang retak di pojok kiri, berembun di sudut bawah. Aku tidak tahu kacamata bisa berembun di rumah yang ber-AC. Tapi itu terjadi, persis di depan mataku.

“Nggak... nggak masalah, Bu.”

“Bagus.”

“Tapi... kenapa?”

Aku bersandar ke kusen pintu dan menyilangkan tangan. Aku memandangnya dari ujung rambut yang berantakan sampai kaki telanjang yang berdiri tidak nyaman di lantai kayu dingin.

“Dua juta orang menonton kamu hari ini,” kataku. “Aku cuma mau tahu apa yang mereka lihat.”

“Terus... apa yang mereka lihat?”

Pertanyaan itu keluar polos. Terlalu polos. Dia benar-benar tidak tahu.

Aku mencondongkan tubuh sedikit ke depan. Tidak banyak, hanya cukup untuk membuat napasnya berhenti.

“Mereka lihat,” kataku pelan, “cowok hoodie yang sabar sama anak kecil.”

“Oh.”

“Tapi aku lihat yang lain.”

“Apa?”

Aku mengulurkan tangan dan mengambil sesuatu dari bahunya. Remah roti. Selalu ada remah roti.

“Aku lihat orang yang nggak pernah kepikiran melindungi dirinya sendiri,” kataku. “Dan itu bikin aku kesal.”

Dia menatapku. Kacamatanya masih berembun. Di baliknya, matanya bergerak dari mataku ke bibirku, lalu cepat-cepat kembali ke mataku, seolah ketahuan melanggar sesuatu.

“Pasal tujuh, Bu,” bisiknya.

“Aku tahu pasalnya. Aku yang tulis.” Aku menegakkan tubuh dan membuang remah roti itu ke lantai. “Selamat malam, Irvan.”

“Selamat malam... Bu.”

Aku menutup pintu.

Aku bersandar di baliknya dengan charger di tangan dan jantung yang berdetak dengan ritme yang tidak pernah kurasakan sejak aku dua puluh empat tahun.

Dari balik pintu, aku mendengar dia tidak langsung pergi. Ada jeda panjang. Lalu langkah kaki telanjang di lantai kayu, pelan, menjauh ke sayap timur.

Lalu, samar-samar, dari ujung lorong, suara seseorang yang membenturkan kepalanya pelan ke dinding.

Satu kali. Dua kali.

Aku menggigit bibir supaya tidak tertawa.

Lalu aku kembali ke ranjang, mengambil ponsel, dan menonton video itu sekali lagi. Tontonan kesebelas. Kali ini dengan suara dikecilkan sampai hampir tidak terdengar, supaya tidak ada yang tahu.

Tapi aku tahu.

Dan itu, menurut kontrak yang kutulis sendiri, sudah jadi masalah.