← Papa Pinjaman

Chapter Thirty Nine

Tanpa Pasal

POV: Clara

Pesawat mendarat di Yogyakarta pukul tujuh lewat dua belas. Aku keluar dari pintu kedatangan pukul tujuh lewat dua puluh, tanpa koper, hanya dengan tas kecil yang dikemas Oma. Aku naik taksi pertama yang ada di antrean.

“Kotagede, Pak. Secepatnya.”

Sopir taksi itu, bapak tua dengan peci hitam, menatapku di spion. Hoodie abu-abu yang terlalu besar. Rambut tergerai tanpa disisir dengan benar. Mata bengkak. Wajah tanpa riasan.

“Ada yang sakit, Mbak?”

“Nggak, Pak.”

“Ada yang meninggal?”

“Nggak, Pak.”

“Terus kok buru-buru?”

Aku menatap jalan di depan. Sawah. Pohon kelapa. Matahari pagi yang miring.

“Ada yang mau pergi, Pak,” kataku. “Aku mau bilang sesuatu sebelum dia pergi.”

Sopir taksi itu tidak bertanya lagi. Dia menginjak gas lebih dalam.


Gang sempit di Kotagede pukul tujuh lewat empat puluh tiga. Sepi. Hanya seorang ibu yang menyapu teras, seekor kucing yang tidur di atas tembok, dan suara mesin jahit dari rumah dengan cat hijau pucat di ujung gang.

Aku berjalan menyusuri gang itu. Aku tidak berlari. Aku tidak bisa berlari. Kakiku terlalu lemas.

Di tembok sebelah kanan, samar-samar dalam cahaya pagi, coretan kapur itu masih ada. Huruf I dan O, dengan panah di antaranya. Mengarah ke sebuah bengkel.

Aku berhenti.

Bengkel itu tidak lagi hijau tua. Dindingnya abu-abu. Pintu rolling-nya abu-abu. Papan nama berkarat yang disandarkan di tiang juga sudah dicat abu-abu, dengan huruf-huruf putih yang baru: BENGKEL DARTO.

Abu-abu. Warna hoodie yang sedang kupakai.

Aku menatap bengkel itu lama. Lalu aku menoleh ke rumah dengan cat hijau pucat di seberangnya. Mesin jahit di dalam berhenti.

Pintu terbuka.

Bu Wati berdiri di ambang pintu dengan daster batik cokelat dan kacamata baca di ujung hidung. Dia melihatku. Dia tidak terkejut. Dia melihatku dengan tatapan penjahit yang sudah mengukur ribuan tubuh, dan yang tahu persis ukuranku, dari bahu sampai hati.

“Nduk,” katanya.

“Bu. Irvan...”

“Tugu.” Bu Wati menatap jam di dinding ruang tamunya. “Barusan. Sama Darto. Keretanya jam delapan lewat sepuluh.”

Aku melihat jam di pergelangan tanganku. Tujuh lewat empat puluh lima.

Dua puluh lima menit.

Taksi yang mengantarku sudah pergi. Gang ini terlalu sempit untuk mobil. Jalan besar ada di ujung gang, lima menit berjalan kaki. Mencari taksi lagi, lima menit. Kotagede ke Stasiun Tugu, dua puluh menit kalau lancar. Tiga puluh kalau tidak.

Tidak cukup.

Aku berdiri di tengah gang sempit Kotagede, dengan hoodie abu-abu dan jepit rambut perak dan tas kecil yang dikemas Oma, dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak punya rencana cadangan. Tidak ada Sinta. Tidak ada Pak Karto. Tidak ada opsi A sampai H.

Aku terlambat. Lagi. Seperti Hari Ayah di TK. Seperti Hari Orang Tersayang. Seperti setiap acara sekolah yang kulewatkan karena rapat.

Aku menutup wajah dengan tangan.

Suara mesin motor.

Dari ujung gang, sebuah motor bebek tua masuk dengan pelan. Pengendaranya pria tua dengan kaus oblong abu-abu yang penuh noda cat dan helm hitam yang terlalu kecil untuk kepalanya. Di stang motor tergantung satu helm lagi. Helm anak-anak. Biru muda, dengan stiker bintang yang sudah pudar.

Om Darto berhenti di depanku. Dia menatapku. Hoodie abu-abu. Wajah tanpa riasan. Mata bengkak.

Dia tidak bertanya siapa aku. Dia tidak perlu.

“Naik, Nduk,” katanya.


Aku belum pernah naik motor seumur hidupku.

Aku tiga puluh tahun, direktur perusahaan investasi triliunan, lulusan universitas terbaik di negeri ini dengan predikat cumlaude. Aku pernah naik jet pribadi ke Tokyo. Aku pernah naik helikopter di atas Bali untuk survei proyek resort. Aku tidak pernah naik motor bebek.

Om Darto memasangkan helm anak-anak biru muda dengan stiker bintang di kepalaku. Helm itu terlalu kecil. Menekan pelipisku. Kaitannya tidak bisa dikunci di bawah daguku, jadi Om Darto mengikatnya dengan karet gelang yang dia ambil dari saku celananya.

“Pegangan,” katanya.

“Di mana, Om?”

“Di Om.”

Aku memeluk pinggang pria tua yang baru pertama kali kutemui, yang dulu mengajari Irvan membaca kata karburator, dan yang mengirim wesel pos tanpa nama pengirim setiap bulan selama tiga tahun.

Motor bebek tua itu melaju.

Om Darto menyetir seperti orang yang hafal setiap lubang di setiap jalan Kotagede. Dia menyelip di antara becak dan andong. Dia memotong lewat gang-gang yang lebih sempit dari gang rumah Bu Wati. Dia melewati pasar pagi dengan ibu-ibu yang menjerit dan menarik keranjang sayur mereka ke pinggir. Dia melewati lampu merah yang, aku yakin, sudah merah.

“Om! Lampunya merah!”

“Kuning, Nduk!”

“Merah, Om!”

“Kuning tua!”

Rambutku terbang di belakang helm anak-anak. Hoodie abu-abu mengembang seperti layar. Aku berpegangan di pinggang Om Darto dengan kedua tangan dan memejamkan mata, dan untuk sesaat, di tengah jalan Yogyakarta pukul delapan pagi, dengan angin di wajahku dan helm anak-anak yang diikat karet gelang, aku tertawa.

Aku tertawa seperti orang gila.


Stasiun Tugu. Delapan lewat empat.

Om Darto tidak berhenti di tempat parkir. Dia berhenti tepat di depan pintu masuk, di atas trotoar, di antara porter berseragam oranye dan penjual gudeg dalam besek. Satpam stasiun meniup peluit.

Aku melompat turun. Helm anak-anak masih di kepalaku, diikat karet gelang. Aku tidak sempat melepasnya.

“Peron berapa?” teriakku.

“Tiga!” teriak Om Darto.

Aku berlari.

Pintu masuk. Mesin tiket. Aku tidak punya tiket. Aku tidak punya tiket peron. Petugas di gerbang, perempuan muda dengan seragam biru, mengangkat tangan menghalangiku.

“Mbak, tiketnya?”

“Aku nggak punya tiket. Aku cuma mau...”

“Mbak nggak bisa masuk tanpa...”

“Anak saya!” teriak suara di belakangku. Om Darto, terengah, dengan helm hitam di tangan. “Itu anak saya di peron tiga! Mau pergi! Mantu saya mau ngejar!”

Petugas itu menatap Om Darto. Menatapku, dengan helm anak-anak biru muda berstiker bintang yang diikat karet gelang, dan hoodie abu-abu, dan wajah yang basah. Dia menatap jam di dinding. Delapan lewat lima.

Dia menurunkan tangannya.

“Cepetan, Mbak,” bisiknya. “Keretanya udah dateng.”


Peron tiga. Kereta berhenti di sepanjang peron, gerbong-gerbong biru dan putih, pintu-pintu terbuka. Orang-orang naik dengan koper dan tas ransel. Porter mengangkat barang. Petugas kereta berdiri di dekat lokomotif dengan peluit di mulut.

Aku berdiri di ujung peron dan mencari.

Gerbong satu. Dua. Tiga. Wajah-wajah asing. Koper. Tas ransel.

Gerbong empat.

Seorang pria dengan kaus putih dan celana jins. Tas selempang di bahu. Kotak bekal di satu tangan. Helm hitam di tangan lain. Rambut hitam yang berdiri di dua arah.

Dia mengangkat satu kaki ke tangga kereta.

“IRVAN!”

Suaraku pecah di tengah. Serak. Keras. Lebih keras dari yang pernah keluar dari mulutku seumur hidup. Semua orang di peron tiga menoleh. Porter. Penumpang. Petugas kereta dengan peluit di mulut.

Pria di gerbong empat berhenti.

Dia menurunkan kakinya dari tangga kereta.

Dia berbalik.


Kami berdiri di ujung peron yang berbeda. Dua puluh meter. Orang-orang di antara kami, dengan koper dan tas ransel, berhenti bergerak. Seperti gerbang TK Pelangi Kecil di hari pertama.

Dia menatapku. Aku bisa melihatnya bahkan dari dua puluh meter. Kacamata dengan bingkai hitam tipis. Retak kecil di pojok kiri bawah lensa kiri. Matanya yang melebar di baliknya.

Dia menatap helm anak-anak di kepalaku. Biru muda. Stiker bintang. Karet gelang.

Aku melihat bibirnya bergerak. Tanpa suara.

Helm saya.

Aku berjalan ke arahnya.

Tidak berlari. Aku tidak bisa berlari lagi. Kakiku gemetar. Aku berjalan pelan di sepanjang peron tiga, melewati penumpang yang minggir, melewati porter yang berhenti mengangkat koper, melewati ibu-ibu penjual gudeg yang menatapku dengan mulut terbuka.

Dia tidak bergerak. Dia berdiri di depan pintu gerbong empat, dengan kotak bekal dan helm hitam, dan menungguku.

Aku berhenti di depannya. Satu langkah.

Aku melepas helm anak-anak dari kepalaku. Karet gelangnya putus. Rambutku jatuh berantakan di bahu, di atas hoodie abu-abunya.

“Clara,” katanya. Suaranya serak. “Kenapa di sini? Lily...”

“Sama ayahnya.”

“Reza?”

“Dia dateng jam enam. Tepat waktu. Aku minta dia.” Aku menarik napas. Napasku masih terengah. “Dia janji. Dia dateng.”

Dia menatapku. Aku melihat sesuatu bergerak di wajahnya. Seperti pion yang bergerak satu langkah.

“Kamu naik motor,” katanya.

“Om Darto.”

“Clara nggak pernah naik motor.”

“Sekarang udah.”

“Pakai helm saya.”

“Cuma itu yang ada.”

Dia tertawa. Tawa pendek, pecah, basah. Tawa yang langsung berubah jadi sesuatu yang lain di tengah jalan. Matanya merah di balik kacamata.


“Irvan,” kataku. “Kamu nggak baca mapnya.”

Dia diam. Lalu dia menggeleng. Pelan.

“Nggak.”

“Pasal sembilan udah aku hapus.”

Dia membeku.

“Lima minggu lalu,” kataku. “Di adendum. Halaman dua. Pasal 9: DIHAPUS. Huruf kapital. Tebal. Pasal tujuh juga. Dua-duanya.”

Wajahnya berubah. Pelan-pelan. Dari tenang, ke bingung, ke sesuatu yang runtuh.

“Dan di pinggirnya,” lanjutku, “aku tulis pakai pensil. Kalau kamu baca sampai sini, ketuk pintuku malam ini. Aku mau bilang sesuatu yang nggak bisa aku tulis.”

Dia menatapku.

“Kamu nggak pernah ngetuk,” kataku. Suaraku bergetar. “Lima minggu. Tiap malam aku nanya udah dibaca belum. Tiap malam kamu bilang belum. Dan aku nggak pernah bilang isinya. Karena aku mau kamu baca sendiri. Aku mau kamu milih sendiri. Aku takut kalau aku bilang langsung, kamu tinggal karena aku minta. Bukan karena kamu mau.”

“Clara...”

“Aku salah.” Air mataku jatuh. Aku tidak mengusapnya. “Aku nyembunyiin kalimat paling penting dalam hidupku pakai pensil. Di pinggir halaman dua. Di dalam map. Kayak anak kecil yang nyembunyiin gambar di bawah bantal.”

Dia melepas kacamatanya. Dia mengusap matanya dengan punggung tangan. Dia memakainya lagi.

“Saya bego,” katanya pelan.

“Darren udah bilang.”

“Mas Ucup juga.”

“Semua orang bilang.”

Dia tertawa lagi. Basah. Lalu dia berhenti tertawa. Dia menatapku dengan wajah yang sangat serius. Wajah yang dia pakai waktu menghitung empat puluh persen di rapat orang tua. Wajah yang dia pakai waktu mencari celah di log server jam empat pagi.

“Clara,” katanya. “Saya mau tanya satu hal.”

Pertanyaan yang sama. Di taman hotel. Nggak jadi.

“Tanya,” kataku.

Dia menarik napas. Aku melihat dadanya naik di balik kaus putih.

“Clara butuh saya,” katanya pelan, “atau butuh papa buat Lily?”


Aku tidak menjawab dengan cepat.

Aku bisa. Aku sudah latihan. Dua hari di Singapura. Semalaman di pesawat. Di taksi. Di atas motor bebek Om Darto dengan helm anak-anak di kepala.

Tapi aku ingin menjawabnya dengan benar. Tanpa daftar. Tanpa Lily, Opa, Oma, Darren, Bi Inah, Pak Gunawan, Tuan Takahashi. Tanpa kompensasi naik. Tanpa dan aku, lalu berhenti.

“Lily butuh kamu,” kataku. “Itu benar. Tapi itu urusan Lily. Lily udah bilang sendiri. Dia teriak ke HP-ku sampai speakernya berderak.” Aku menarik napas. “Opa butuh kamu. Darren butuh kiper. Oma butuh orang yang ngajarin tulisan gerak. Itu juga benar. Tapi itu urusan mereka.”

Dia menunggu.

“Aku nggak butuh papa buat Lily,” kataku. Suaraku tidak lagi bergetar. “Lily udah punya ayah. Aku nggak butuh suami buat status. Aku udah pernah punya, dan status itu nggak bikin aku berhenti duduk di lantai kamar mandi jam dua pagi. Aku nggak butuh penjaga server. Aku nggak butuh pria pakai tuksedo di gala.”

Di belakang kami, petugas kereta meniup peluit. Panjang.

“Aku butuh kamu,” kataku. “Yang pakai celana tidur motif awan. Yang Instagram-nya isinya bakso. Yang telinganya merah kalau aku ngomong. Yang tidur jam empat pagi karena Rotterdam. Yang bilang sistemnya crash. Yang bawa selotip ke gerbang sekolah.”

Dia tidak bergerak.

“Irvan.” Aku mengulurkan tangan. Tidak ke wajahnya. Ke tangannya. Tangan yang memegang kotak bekal. Aku menyentuh jarinya. “Jangan pergi.”

Dia menatapku.

Lalu, dengan suara yang sangat pelan, dengan nada yang sama seperti di gerbang TK, dengan tangan yang saling mengunci, lima bulan lalu:

“Itu pasal berapa?”

Aku tersenyum. Air mata di pipiku. Helm anak-anak biru muda di tanganku. Jepit rambut perak di rambutku yang berantakan.

“Nggak ada pasal,” kataku. “Nggak ada kontrak. Cuma aku.”

Aku menarik napas. Tiga kata. Aku sudah mencobanya di depan cermin kamar mandi. Di pesan singkat yang kuhapus tujuh kali. Di restoran atap dengan lampu gantung. Di draf yang kusimpan tiga minggu dan kuhapus semalam.

Aku mengucapkannya.

“Aku cinta kamu.”


Petugas kereta meniup peluit lagi. Pintu-pintu gerbong mulai menutup.

Seorang kondektur muda muncul di pintu gerbong empat, di belakang Irvan, dengan papan klip di tangan. “Mas. Naik nggak?”

Irvan tidak menoleh. Dia menatapku.

“Nggak, Pak,” katanya.

“Tiketnya hangus lho, Mas.”

“Nggak apa-apa, Pak.”

Kondektur itu menatap kami. Pria dengan kotak bekal dan helm hitam. Perempuan dengan helm anak-anak berstiker bintang dan hoodie abu-abu kebesaran. Dia tersenyum sedikit, menggeleng, dan menutup pintu gerbong.

Kereta mulai bergerak di belakang Irvan. Pelan. Gerbong-gerbong meluncur satu per satu. Angin dari kereta yang lewat menerbangkan rambutku.

Dia tidak menoleh ke kereta. Dia menatapku.

“Clara,” katanya.

“Hm.”

“Saya juga.”

“Juga apa?”

Dia meletakkan kotak bekal di bangku peron di sebelahnya. Dia meletakkan helm hitam di atasnya. Tangannya kosong.

“Saya cinta Clara,” katanya. Suaranya bergetar. Tapi tidak berhenti. “Dari hari kedua. Di bangku minimarket. Waktu Clara bilang ‘celana awan kamu lucu’.”

Aku tertawa. Menangis. Dua-duanya sekaligus.

“Itu hari kedua?”

“Hari kedua. Saya pulang, baca kontrak sampai jam tiga pagi, terus baca kalimat tulisan tangan di halaman terakhir. Tetap jadi Om Kacamata, hanya lebih dekat.” Dia melangkah maju. Satu langkah. Tidak ada jarak lagi. “Saya jatuh di situ. Sebelum tanda tangan. Sebelum pasal tujuh ditulis.”

“Kamu melanggar pasal tujuh sebelum pasalnya ada?”

“Saya nyari celah,” katanya. “Itu kerjaan saya.”


Dia mengangkat tangan dan menyentuh wajahku. Kedua tangannya. Di rahangku. Ibu jarinya menyusuri pipiku, menghapus air mata. Lalu berhenti di sudut bibir kiriku.

Di tahi lalat kecil itu.

“Yang ini,” katanya pelan. “Dari hari pertama. Selalu kelihatan.”

Aku mengangkat tangan. Aku melepas kacamatanya. Pelan. Dari depan. Gagangnya kutarik dari balik telinganya yang panas.

Dia berkedip. Tanpa kacamata, matanya tidak fokus, lembut, dan sangat dekat.

“Clara, saya nggak bisa lihat.”

“Aku tahu.”

Aku memasukkan kacamatanya ke saku hoodie abu-abu. Hoodie miliknya. Dibeli dengan gaji pertama. Yang tidak pernah kukembalikan.

“Nanti aku kembalikan,” kataku. “Mungkin.”

“Mungkin?”

“Kamu punya satu hoodie. Aku ambil. Kamu punya satu kacamata. Aku ambil juga.” Aku berjinjit. “Satu-satunya yang kamu punya sekarang ada di aku.”

Dia menciumku.

Di peron tiga Stasiun Tugu, pukul delapan lewat dua belas pagi, dengan kereta ke Jakarta yang baru saja pergi tanpa dia. Di depan porter berseragam oranye dan penjual gudeg dan penumpang-penumpang yang berhenti dengan koper di tangan. Di depan Om Darto, yang berdiri di pintu masuk peron dengan helm di tangan dan wajah yang basah.

Dia menciumku tanpa bisa melihat. Tangannya di rahangku, lalu di tengkukku, lalu di rambutku yang berantakan, jari-jarinya menyelinap di antara helai-helai dan menemukan jepit rambut perak dengan ukiran melati. Dia tidak ragu. Tidak sedetik pun. Bibirnya menekan bibirku dengan kepastian seseorang yang sudah menunggu terlalu lama, dan aku membuka bibirku, dan dia memperdalam ciuman itu, pelan, dan dalam, dan sangat, sangat lama.

Aku berpegangan di kaus putihnya. Wangi sabun batang. Wangi kopi sachet. Wangi cat abu-abu yang belum hilang dari kulitnya.

Jantungnya berdebar di bawah telapak tanganku. Keras. Cepat. Tidak teratur. Seperti di taman hotel. Seperti di gang sempit Kotagede.

Bukan seperti di perpustakaan. Bukan jantung yang pelan dan berat, jantung orang yang berpamitan.

Jantung orang yang pulang.

Di sekitar kami, seseorang mulai bertepuk tangan. Porter berseragam oranye. Lalu penjual gudeg. Lalu penumpang-penumpang yang menunggu kereta berikutnya. Lalu seluruh peron tiga.

Aku tidak peduli. Aku tidak mendengar.

Waktu akhirnya dia menarik diri, dahinya bersandar di dahiku. Napasnya terengah di bibirku. Matanya, tanpa kacamata, basah dan buram dan tersenyum.

“Clara,” bisiknya.

“Hm.”

“Boleh sekali lagi? Mumpung nggak bisa lihat. Biar nggak malu.”

Aku tertawa. Di bibirnya. Di peron tiga. Dengan seluruh stasiun bertepuk tangan.

“Boleh,” kataku. “Sebanyak apa pun.”


Om Darto mengantar kami kembali ke Kotagede. Bertiga di atas motor bebek tua. Tidak boleh, kata satpam stasiun. Om Darto bilang, “Kuning tua, Pak,” dan pergi sebelum satpam itu bisa membantah.

Aku duduk di tengah, di antara Om Darto dan Irvan, dengan helm anak-anak biru muda yang diikat ulang pakai karet gelang baru. Irvan di belakang, dengan helm hitam yang label harganya belum dicopot, dan lengannya melingkar di pinggangku.

Dia masih tidak memakai kacamata. Kacamatanya di saku hoodie. Aku belum mengembalikannya.

“Clara,” katanya di telingaku, di atas suara mesin motor.

“Hm?”

“Saya nggak bisa lihat jalan.”

“Kamu nggak perlu lihat. Om Darto yang nyetir.”

“Terus saya lihat apa?”

Aku menoleh ke belakang. Pelan. Supaya helm anak-anak tidak jatuh.

“Aku,” kataku.

Dia tidak bisa melihatku dengan jelas. Tapi dia tersenyum. Senyum miring ke kiri, dengan lesung pipi.

Di tembok gang sempit Kotagede, coretan kapur itu masih ada. Huruf I dan O, dengan panah di antaranya.

Kami melewatinya dari arah yang berlawanan kali ini. Dari arah jalan besar. Ke arah bengkel abu-abu dan rumah dengan cat hijau pucat.

Mengikuti panahnya.

Pulang.