Chapter Fourteen
Hampir
POV: Irvan
Hujan turun pukul delapan malam seperti seseorang di langit menumpahkan ember raksasa.
Awalnya hanya gerimis. Aku sedang di ruang keluarga, duduk di karpet bersama Lily, menyusun menara dari balok kayu sampai setinggi dagunya. Oma di sofa sedang merekam kami untuk TikTok, yang sudah kularang berkali-kali dan selalu diabaikan dengan senyum manis. Darren di kursi malas, bermain gim di ponsel sambil sesekali menyumbang komentar tidak berguna tentang struktur menara kami. Opa di kursinya sendiri, membaca buku tebal bersampul kulit.
Bu Clara belum pulang. Rapat dengan investor Jepang, katanya. Selesai jam sembilan.
Lalu gerimis menjadi hujan. Hujan menjadi badai. Angin mengguncang jendela-jendela tinggi. Pohon-pohon di halaman bergoyang seperti orang mabuk.
Lalu petir.
Bunyinya seperti langit dirobek dari ujung ke ujung. Kilatnya putih menyilaukan dan membuat seluruh ruang keluarga terang seperti siang selama sepersekian detik.
Lalu semuanya gelap.
“AAAAAAAAAA!”
Jeritan pertama datang dari Darren. Bukan Lily. Darren.
“Dar, jangan teriak,” kata Opa dari kegelapan dengan nada yang sama sekali tidak berubah.
“Mati lampu, Opa! Mati lampu! Gue lagi ranked!”
“Generator nyala dalam lima menit.”
“Lima menit itu lama banget! Tim gue bakal lose streak!”
Di sebelahku, di karpet, sesuatu yang kecil dan gemetar menabrak dadaku dengan kecepatan penuh. Lily. Dia memanjat ke pangkuanku, melingkarkan kedua lengan di leherku, dan membenamkan wajahnya di hoodieku.
“Om,” bisiknya. Suaranya kecil sekali. “Om. Om. Om.”
“Om di sini.”
“Gelap.”
“Iya. Gelap sebentar.”
Petir lagi. Lily mengencangkan pelukannya sampai aku hampir tidak bisa bernapas. Menara balok di depan kami, yang pasti kutabrak waktu Lily melompat, runtuh dengan bunyi berderak di lantai.
“Menaranya jatuh,” isak Lily.
“Nanti kita bikin lagi. Lebih tinggi.”
“Setinggi Om?”
“Setinggi Opa.”
Dari kegelapan di arah kursi Opa, aku mendengar dengusan kecil.
Cahaya muncul dari arah sofa. Kecil, putih, bergetar. Senter ponsel. Oma.
“Oma live,” kata Oma dengan nada gembira. “Halo, guys, Oma lagi mati lampu. Lihat, gelap. Ada cucu Oma sama calon mantu Oma. Lihat, Lily-nya takut, dipeluk Om Kacamata...”
“Oma, jangan diarahkan ke Lily,” kataku.
“Oh, iya.” Senter itu bergeser dan menyorot langsung ke wajahku. Aku menyipitkan mata. “Ini Om Kacamata-nya aja. Lihat, guys, kacamatanya retak. Iya, beneran retak. Kata dia masih kelihatan.”
Darren tertawa di kegelapan.
Opa menyalakan sesuatu. Korek api. Cahaya kuning kecil muncul di tangannya, dan dia menyalakan lilin tinggi di atas meja samping kursinya. Lilin itu pasti sudah ada di sana sejak lama, lilin darurat yang hanya dipakai orang-orang yang sudah hidup cukup lama untuk tahu listrik bisa mati kapan saja.
Cahaya lilin menerangi wajah Opa dari bawah. Dia terlihat seperti tokoh dalam lukisan tua.
“Lusiana,” katanya, “matikan siaran langsungmu.”
“Tapi penontonnya udah seribu, Hen.”
“Matikan.”
Oma cemberut, tapi mematikannya.
Generator menyala tujuh menit kemudian. Bukan lima. Lampu-lampu utama tidak kembali. Hanya lampu darurat di lorong dan dapur, lampu kecil berwarna putih kebiruan yang membuat semua orang terlihat seperti sedang di rumah sakit.
Lily sudah tidak gemetar, tapi dia menolak melepas leherku.
“Nggak mau turun.”
“Neng, kaki Om kesemutan.”
“Nggak mau.”
Aku berdiri, menggendong Lily di depan dadaku. Dia melingkarkan kakinya di pinggangku seperti anak koala.
“Om bawa Neng ke kamar, ya?”
“Kamar gelap.”
“Kamar Mama?”
Lily berpikir. “Kamar Mama ada lampu tidur bintang-bintang. Pakai baterai.”
“Oke. Kamar Mama.”
Aku membawanya naik ke sayap barat. Lorong itu remang-remang dengan lampu darurat di ujung. Pintu kamar Bu Clara terbuka sedikit. Aku belum pernah masuk. Tiga minggu tinggal di rumah ini, dan aku belum pernah melewati ambang pintu itu.
Aku berhenti di depannya.
“Om, kok berhenti?”
“Om nggak boleh masuk kamar Mama, Neng.”
“Kenapa?”
“Pasal... aturan.”
“Aturan siapa?”
“Aturan... orang dewasa.”
Lily mendesah panjang, desahan anak kecil yang lelah dengan logika orang dewasa. “Om, Pak Mentega aja boleh tidur di kamar Om. Masa Om nggak boleh ke kamar Mama?”
Aku tidak punya jawaban untuk itu.
Kamar Bu Clara wangi vanila. Seluruh kamar, dari lantai sampai langit-langit. Wangi yang sama yang biasanya hanya kurasakan saat dia lewat di sebelahku, sekarang memenuhi udara dan membuatku merasa seperti orang yang masuk ke tempat yang tidak seharusnya.
Kamarnya rapi. Sangat rapi. Ranjang besar dengan seprai abu-abu muda, rak buku yang disusun berdasarkan warna sampul, meja rias dengan beberapa botol kecil yang berjajar lurus seperti prajurit. Di dinding, bingkai-bingkai foto: Lily bayi, Lily di hari pertama TK, Lily dengan kue ulang tahun yang lilinnya berbentuk angka lima. Tidak ada satu pun foto Bu Clara sendiri. Tidak ada satu pun foto pria.
Di meja samping ranjang, lampu tidur berbentuk bintang, dan di sebelahnya, selembar kertas yang dilipat dua.
Aku mengenali kertas itu. Gambar krayon. Keluargaku. Rumah dengan atap merah, matahari yang tidak rata, dan ruang kosong di sebelah kiri.
Dia menyimpannya di samping tempat tidur.
Aku menyalakan lampu bintang. Cahaya kuning-keemasan memancar ke langit-langit dalam bentuk bintang-bintang kecil yang berputar pelan. Lily menghembuskan napas lega di leherku.
Aku membaringkannya di ranjang. Sisi kiri, yang bantalnya lebih kecil dan ada boneka kelincinya. Aku menarik selimut sampai dagunya.
“Om jangan pergi.”
“Om di sini sampai Mama pulang.”
“Om duduk di sini.” Dia menepuk sisi ranjang.
Aku ragu. Lalu aku duduk di lantai di samping ranjang, dengan punggung bersandar di rangka kayu. Itu kompromi. Aku di kamar Mama, tapi tidak di ranjang Mama. Pasal tujuh akan bangga.
Lily mengulurkan tangan dari balik selimut dan menggenggam lengan hoodieku.
“Om cerita.”
“Cerita apa?”
“Pak Mentega. Kalau mati lampu, Pak Mentega ngapain?”
Aku berpikir. “Pak Mentega punya senter.”
“Kucing punya senter?”
“Senter khusus kucing. Kecil. Diikat di kepala, kayak penambang.”
“Terus?”
“Terus dia keliling rumah, ngecek semua orang. Opa aman. Oma aman. Om Darren teriak-teriak, tapi aman. Bi Inah aman, lagi makan kerupuk diam-diam di dapur.”
Lily terkikik dengan mata setengah tertutup. “Terus?”
“Terus dia ngecek Neng. Neng aman. Soalnya ada Om.”
“Terus dia ngecek Mama?”
“Mama lagi di jalan. Pak Mentega nunggu di depan pintu. Pakai senter. Biar Mama nggak nyasar.”
“Pak Mentega baik.”
“Pak Mentega kucing paling baik se-Jakarta Selatan.”
Lily bergumam sesuatu yang tidak jelas. Genggamannya di lengan hoodieku mengendur. Napasnya melambat, panjang, teratur.
Aku duduk di lantai di bawah bintang-bintang yang berputar di langit-langit dan mendengarkan hujan.
Bu Clara pulang pukul sepuluh lewat dua puluh.
Aku mendengar mobilnya di halaman, pintu depan dibuka, suara Bi Inah yang melaporkan segalanya dalam satu tarikan napas: “Mati lampu, Non, generator cuma nyala setengah, Mas Darren teriak kayak perempuan, Nyonya live TikTok, Neng takut petir, terus digendong Mas Irvan ke kamar Non...”
Langkah kaki di tangga. Cepat. Heels yang berbunyi di lantai kayu.
Pintu kamar terbuka.
Bu Clara berdiri di ambang pintu dengan setelan kerja yang basah di bahu dan ujung rok, tas masih tergantung di lengan, dan rambut yang, untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, tidak rapi. Sanggulnya longgar. Beberapa helai basah menempel di pipi dan lehernya. Lipstik merah batanya sudah memudar di tengah bibir, tinggal warna di pinggiran.
Dia melihat Lily tidur di ranjangnya. Lalu dia melihatku, duduk di lantai, bersandar di rangka ranjang, dengan lengan hoodie yang masih digenggam tangan kecil Lily.
Dia tidak bicara. Dia hanya berdiri di sana, memandangi kami di bawah cahaya bintang-bintang yang berputar, dan aku melihat sesuatu terjadi di wajahnya. Seperti bendungan yang retak sedikit, dan air yang merembes dari celahnya.
“Maaf, Bu,” bisikku. “Saya tahu nggak boleh masuk. Tapi Lily minta lampu bintang, terus...”
Dia mengangkat tangan. Diam.
Lalu dia meletakkan tasnya di lantai, melepas heels-nya satu per satu, dan berjalan ke arahku tanpa suara. Dia berjongkok di depanku. Pelan-pelan, hati-hati, dia melepaskan jari-jari Lily dari lengan hoodieku, satu per satu, dan memasukkan tangan kecil itu ke balik selimut.
Lalu dia mengulurkan tangan padaku.
Aku menerimanya. Dia menarikku berdiri.
Dia tidak melepaskan tanganku.
Balkon di ujung lorong sayap barat menghadap ke taman belakang. Hujan sudah reda, tinggal gerimis tipis yang hampir tidak terlihat, seperti debu cahaya di bawah lampu taman yang menyala dengan daya generator. Kolam ikan di bawah memantulkan cahaya kuning. Udara dingin dan basah, wangi tanah dan daun.
Bu Clara bersandar di pagar balkon. Dia sudah melepas blazernya yang basah dan melemparnya ke kursi rotan di pojok. Blus satin putihnya sedikit transparan di bahu, tempat air hujan tadi meresap. Dia melepas jepit sanggulnya dan membiarkan rambutnya jatuh, hitam dan panjang dan sedikit bergelombang karena lembap, sampai ke punggungnya.
Dia menggeleng pelan, dan beberapa titik air dari rambutnya terlempar ke udara, berkilau di bawah lampu taman.
Aku berdiri satu meter darinya. Pasal tujuh, pasal lima, pasal sembilan. Aku menghafal semuanya seperti orang menghafal doa sebelum naik pesawat.
“Dia takut petir,” kata Bu Clara tanpa menoleh. “Sejak bayi. Waktu umur dua tahun, ada badai besar dan aku di Singapura. Dia nangis semalaman. Bi Inah bilang dia manggil ‘Mama’ sampai suaranya habis.”
“Sekarang dia nggak nangis, Bu.”
“Karena ada kamu.”
Aku tidak menjawab.
“Aku nyetir pulang dari Kuningan dalam badai,” lanjutnya. “Jalan tergenang. Lampu merah mati. Aku nyetir sambil mikir, Lily pasti ketakutan, pasti manggil aku, pasti nangis sampai suaranya habis lagi. Aku ngebut. Aku hampir nabrak ojek di Mampang.” Dia tertawa pelan, tapi tawanya tidak terdengar seperti tawa. “Terus aku sampai rumah. Terus Bi Inah bilang Neng udah tidur. Digendong Mas Irvan. Didongengin soal kucing yang punya senter.”
“Bi Inah nguping?”
“Bi Inah selalu nguping.”
Dia akhirnya menoleh.
Di bawah lampu taman, dengan rambut basah dan lipstik yang pudar dan mata yang berkilau, dia bukan direktur. Dia bukan perempuan yang membuat investor Jepang menandatangani kontrak dan membuat Bu Vanya menurunkan kacamata hitamnya. Dia perempuan yang menyetir dalam badai karena takut anaknya menangis, dan menemukan anaknya tidur tenang di bawah bintang-bintang.
Dan dia cantik. Ya Tuhan, dia cantik. Bukan cantik yang dirias dan disusun. Cantik yang berantakan dan nyata dan dingin karena hujan. Bulu matanya basah. Pipinya merah karena udara dingin. Tahi lalat kecil itu ada di sana, di dekat sudut bibir yang warnanya tinggal separuh, dan aku tidak bisa berhenti melihatnya.
“Irvan.”
“Ya.”
“Kamu kedinginan.”
“Nggak, Bu.”
“Bibir kamu gemetar.”
Aku menyentuh bibirku. Memang gemetar. Aku tidak menyadarinya.
Dia melangkah mendekat. Satu meter menjadi setengah. Setengah menjadi sejengkal. Wangi vanila dan hujan dan tanah basah. Dia mengangkat tangan dan meletakkan telapaknya di dadaku, di atas hoodie, di tempat jantungku sedang melakukan denial of service attack pada seluruh sistem tubuhku.
“Jantung kamu cepat,” katanya pelan.
“AC...”
“Kita di luar, Irvan. Nggak ada AC.”
Aku tidak punya alasan lagi. Tidak ada kode yang bisa kutulis untuk keluar dari situasi ini. Tidak ada celah.
Dia menatapku. Tangannya naik dari dadaku ke leherku, ke rahangku, ke pipiku. Jari-jarinya dingin dan sedikit basah. Ibu jarinya menyentuh tulang pipiku, di bekas lecet yang hampir hilang.
“Ini dari trotoar?” bisiknya.
“Iya.”
“Waktu nyelametin Lily?”
“Iya.”
Ibu jarinya mengusap bekas itu, sekali, pelan. Lalu dia mengangkat tangan satunya dan melepas kacamataku. Lagi. Tapi kali ini dia tidak membersihkannya. Dia memegangnya di tangan, di sisi tubuhnya, dan menatapku tanpa ada apa-apa di antara kami.
Wajahnya buram di depanku. Tapi aku bisa melihat bentuknya. Aku bisa melihat dia mendekat. Aku bisa merasakan napasnya, hangat di tengah udara dingin, beberapa sentimeter dari bibirku.
Pasal tujuh. Pasal tujuh. Pasal tujuh.
Aku tidak mundur.
Dia berhenti, sangat dekat, sangat-sangat dekat, cukup dekat untuk hidung kami bersentuhan. Aku merasakan ujung hidungnya yang dingin di ujung hidungku. Aku mendengar dia menarik napas, pendek dan bergetar, seperti orang yang mau melompat dari tempat tinggi.
Aku menutup mata.
“Om...”
Suara kecil. Mengantuk. Dari dalam kamar di ujung lorong.
“Om... Pak Mentega... senternya mati...”
Kami berdua membeku.
Bu Clara tidak bergerak. Aku tidak bergerak. Hidung kami masih bersentuhan. Napas kami masih bercampur. Aku bisa merasakan dia gemetar, entah karena dingin atau karena hal lain.
“Om... Pak Mentega takut...”
Lily. Mengigau. Suaranya naik sedikit, mulai terdengar gelisah.
Bu Clara menarik diri. Pelan. Satu sentimeter. Dua. Lima. Dia menarik napas panjang, sangat panjang, dan menghembuskannya ke samping, ke arah taman, seperti orang yang baru muncul dari dalam air.
Lalu dia memasangkan kacamataku kembali. Kali ini tidak pelan. Agak asal. Gagang kirinya tidak masuk ke belakang telinga dengan benar, dan kacamata itu miring.
Aku melihatnya dengan jelas lagi. Pipinya merah. Merah sekali. Bukan karena udara dingin.
“Anakmu,” katanya. Suaranya serak. “Manggil kamu.”
Anakmu.
Dia tidak menyadarinya. Atau dia menyadarinya dan tidak peduli. Dia berjalan melewatiku ke pintu balkon, cepat, tidak menoleh.
Aku berdiri di balkon sendirian dengan kacamata miring dan jantung yang belum berhenti menyerang.
Dari dalam kamar, aku mendengar suaranya, lembut dan sangat terkendali: “Lily, Sayang, ini Mama. Pak Mentega aman. Senternya udah Mama ganti baterai.”
“Om mana?”
“Om di luar.”
“Om nggak pergi?”
Jeda. Panjang.
“Nggak,” kata Bu Clara. “Om nggak pergi.”
Aku tidak tidur malam itu.
Aku kembali ke kamar sayap timur, duduk di depan laptop, dan menatap layar yang penuh baris kode Rotterdam tanpa membaca satu pun. Kursor berkedip. Aku menghapus satu baris dan mengetiknya ulang persis sama.
Pukul dua pagi, aku menyerah dan berbaring di ranjang king size yang terlalu besar. Pak Mentega ada di bantal sebelah. Maksudnya, bantal kosong yang kusediakan untuk kucing yang tidak ada.
Aku menatap langit-langit dan mengulang semuanya. Hidungnya yang dingin di hidungku. Napasnya yang bergetar. Ibu jarinya di bekas lecet di pipiku. Anakmu.
Sepuluh detik. Kalau Lily mengigau sepuluh detik lebih lambat, aku sudah melanggar pasal tujuh.
Aku menunggu diriku merasa lega. Seharusnya aku lega. Pasal tujuh ada untuk melindungiku. Untuk melindungi Lily. Untuk memastikan setahun lagi, saat semua ini selesai, tidak ada yang lebih hancur dari yang seharusnya.
Aku menunggu sampai pukul empat.
Rasa lega itu tidak pernah datang.
Pukul empat lewat lima belas, ponselku bergetar. Satu pesan. Dari nomor yang kusimpan dengan nama “Bu Clara (Operasional)”.
Kacamatamu tadi miring. Maaf.
Aku menatap pesan itu lama. Lalu aku mengetik: Nggak apa-apa, Bu. Masih kelihatan.
Tiga titik muncul. Menghilang. Muncul lagi. Menghilang lagi.
Lalu satu pesan terakhir:
Senternya Pak Mentega. Beneran perlu diganti baterai, nggak?
Aku tertawa sendirian di kamar yang gelap, dengan wajah ditutupi bantal, sampai Pak Mentega pasti terbangun.
- 1 Gambar Tanpa Papa
- 2 Proyek P.A.P.A.
- 3 Om Kacamata
- 4 Laporan Intelijen Sinta
- 5 Tawaran di Bangku Minimarket
- 6 Pasal Sembilan
- 7 Dua Kardus dan Satu Monitor
- 8 Makan Malam Keluarga Moris
- 9 Gerbang TK
- 10 Menantu Idaman Berhoodie
- 11 Skakmat
- 12 Rapat Orang Tua
- 13 Jam Tiga Pagi
- 14 Hampir reading
- 15 Darren Menantang
- 16 Hari Orang Tersayang
- 17 Lily Demam
- 18 Hoodie Abu-Abu
- 19 Pasal yang Mau Kulanggar
- 20 Kacamata Berembun
- 21 Ulang Tahun Opa
- 22 Yang Tidak Setara
- 23 Ciuman Pertama
- 24 Pulang ke Yogya
- 25 Cerita Om Darto
- 26 Kepala Keluarga Sementara
- 27 Perpanjangan Kontrak
- 28 Tamu dari Toronto
- 29 Papa Beneran
- 30 Proposal Kerja Sama
- 31 Dua Kursi di Pentas Seni
- 32 Papa Boleh Dua?
- 33 Pasal Sembilan Berlaku
- 34 Rumah Tanpa Hoodie
- 35 Pergi demi Kebaikan
- 36 Om Darto
- 37 Operasi Jemput Papa
- 38 Belum Beres
- 39 Tanpa Pasal
- 40 Papa
- 41 Epilog — Tugas yang Tak Pernah Beres