Chapter Forty One
Epilog — Tugas yang Tak Pernah Beres
POV: Clara
Setahun kemudian, pada hari Jumat pukul tiga lewat sepuluh sore, aku duduk di bangku besi di depan minimarket dengan map krem di pangkuan.
Aku tahu dia akan panik waktu melihatnya. Itu sebabnya aku membawanya.
Banyak yang berubah dalam setahun. Banyak juga yang tidak.
Kami menikah enam bulan lalu. Di Kotagede. Di gang sempit dengan tembok-tembok tinggi dan rumah bercat hijau pucat, dengan tenda sederhana yang dipasang di depan bengkel abu-abu. Aku menolak ballroom. Oma menangis dua hari karena itu. Lalu Oma melihat gang itu dihias janur kuning dan lampu-lampu kecil yang dipasang Om Darto di sepanjang tembok, dan dia menangis dua hari lagi, karena alasan yang berbeda.
Aku memakai kebaya brokat biru muda dengan kancing mutiara imitasi. Bahu tiga puluh sembilan. Bu Wati menjahitnya dua kali, karena setelah setahun di rumah keluarga Moris dengan roti segitiga dan tempe goreng Bi Inah dan mi instan jam tiga pagi, pinggangku bertambah dua senti. Bu Wati mengukurnya ulang tanpa berkomentar, dengan senyum miring ke kiri.
“Kebaya harus pas,” katanya waktu itu, sambil mengencangkan kancing terakhir di tengkukku. “Orang juga. Kalau udah pas, jangan dilepas.”
Opa yang menjadi wali. Dia berjalan dari rumah Bu Wati ke tenda di depan bengkel dengan tongkat dan kemeja batik cokelat, pelan, dengan lutut yang berbunyi, dan menolak dipapah siapa pun. Om Darto menjadi saksi dari pihak Irvan. Dia memakai kemeja batik yang dijahit Bu Wati, dan tangannya sudah digosok sabun colek tiga kali, tapi di bawah kukunya masih ada sisa oli.
Irvan tidak menggantinya. Dia bilang tangan kotor itu tanda kerja keras.
Darren menangis paling keras. Lebih keras dari Oma. Dia bilang itu karena asap sate. Tidak ada yang bakar sate.
Sinta menyusun rundown acara setebal empat belas halaman, dengan diagram alur dan rencana cadangan untuk hujan, gempa ringan, dan “kemungkinan Mas Irvan pingsan”. Irvan tidak pingsan. Tapi kacamatanya berembun sepanjang akad nikah, dan dia harus melepasnya untuk dibersihkan tiga kali. Dan setiap kali, aku yang membersihkannya. Dengan ujung selendang kebaya.
Lily membawa cincin. Di atas bantal kecil berbentuk kucing oranye, dengan koper merah dijahit di sampingnya. Dia berjalan di sepanjang gang dengan wajah paling serius yang pernah kulihat, seperti menyerahkan kunci sepuluh pada Om Darto di bengkel.
Di tembok gang, di sebelah coretan kapur yang tidak pernah dihapus selama dua puluh tahun, ada coretan baru. Lily yang membuatnya, pagi sebelum akad, dengan kapur jahit Bu Wati. Huruf-huruf besar-kecil yang miring-miring.
I dan O. Lalu, di sebelahnya, C. Lalu L. Lalu gambar kucing kecil dengan koper.
Dengan panah. Mengarah ke bengkel abu-abu. Ke rumah.
Reza datang ke pernikahan kami.
Dia duduk di barisan belakang tenda, sendirian, dengan kemeja batik dan wajah yang tenang. Dia tidak memakai cincin. Dia tidak memakai jam tangan mahal. Setelah akad, dia menyalami Irvan, lalu menyalamiku, lalu berjongkok di depan Lily dan mengeluarkan koin dari balik telinganya.
Setahun, dan Reza tidak pernah melewatkan satu hari Minggu pun. Tidak sekali. Setiap pukul sepuluh pagi, mobil sedan hitamnya berhenti di depan air mancur. Dia sudah pindah ke Jakarta enam bulan lalu. Northbridge membuka kantor regional, dan dia meminta posisinya. Proposal kemitraan itu diterima dewan, berdasarkan angka. Dia bekerja dengan Darren. Darren masih tidak memanggilnya Bang.
Lily memanggilnya Ayah. Dia menggambar Ayah di setiap gambar keluarga, di pojok kanan, dekat pagar, dengan koin kuning di tangan. Lebih kecil. Tapi selalu ada.
Suatu Minggu, bulan lalu, aku mendengar Lily bertanya pada Reza di teras, “Ayah, Ayah sedih nggak aku panggil Papa ke Papa?”
Reza diam lama. Lalu dia menjawab, “Ayah sedih karena Ayah telat. Bukan karena kamu punya Papa.”
Aku tidak tahu apakah itu jawaban yang benar. Tapi itu jawaban yang jujur. Dan Reza, setahun terakhir, belajar untuk jujur.
Lily hampir tujuh tahun sekarang. Kelas satu SD. Sekolahnya bukan TK Pelangi Kecil lagi, tapi SD di sebelahnya, dan dia masih memaksa lewat depan minimarket setiap pulang sekolah. Kenzo sekelas dengannya. Mereka duduk sebangku. Kenzo masih memakai gel rambut, tapi sekarang dia yang membagi Pulau Sulawesi saat main puzzle.
Papa Kenzo pindah kerja ke Jakarta tiga bulan lalu. Bu Vanya mengirim foto keluarga mereka di grup WhatsApp orang tua murid dengan caption sederhana: Akhirnya lengkap. Tanpa emoji. Aku mengiriminya balasan pribadi: Selamat, Bu. Dia membalas dengan satu emoji hati. Hanya satu.
Oma punya tiga koma dua juta pengikut sekarang. Dia mendapat endorse dari tujuh merek kerudung dan satu merek mesin jahit, yang dia hadiahkan untuk Bu Wati. Kertas post-it kuning dengan tulisan tangan Irvan masih tertempel di belakang ponselnya. Dia sudah ganti ponsel dua kali. Dia memindahkan kertas itu setiap kali.
Opa bermain catur dengan Irvan setiap Kamis malam. Opa menang empat puluh persen. Irvan menang empat puluh persen. Dua puluh persen sisanya remis. Opa bilang itu statistik terbaik yang pernah dia lihat. Pion hitam di barisan kedua sisi hitam punya goresan kecil di dasarnya sekarang. Huruf I dan O. Opa yang mengukirnya. Dengan obeng.
Darren menjuarai liga kantor. Kipernya kebobolan dua gol sepanjang musim. Dua-duanya gol bunuh diri dari staf IT yang dulu menangis di pinggir lapangan. Staf IT itu sekarang bekerja di bawah Irvan, di Divisi Keamanan Siber Moris Investment yang baru dibentuk. Divisi itu punya enam orang. Salah satunya Pak Yusuf, yang minta dipindahkan dari divisi keuangan, dan sekarang tidak pernah mengklik tautan apa pun tanpa bertanya pada Irvan dua kali.
Irvan masih mengerjakan proyek untuk klien di Rotterdam. Dua hari seminggu. Dari meja dapur, di bawah lampu kuning kecil, pukul tiga pagi.
Aku masih turun ke dapur pukul tiga pagi. Kadang karena haus. Kadang karena tidak.
Sinta sekarang menjabat Kepala Operasional Direktur. Jabatan yang tidak ada sebelumnya, yang kubuat khusus untuknya. Dia masih menamai setiap proyek. Dia masih membuat logo dalam sebelas menit. Pak Karto dan dia berjalan-jalan di Kota Tua setiap Minggu sore, katanya untuk “riset sejarah”. Tidak ada yang percaya.
Mas Ucup masih kasir. Kertas karton bertuliskan DIPESAN: MAS IR, BU CLARA, NENG LILY. SELAMANYA. dilaminating dan dipaku di sandaran bangku besi. Dia menolak dibayar untuk itu. Dia hanya minta satu hal: diundang ke pernikahan kami. Dia datang ke Kotagede dengan bus malam dan kemeja batik yang terlalu besar, dan dia yang pertama menangis waktu Irvan mengucapkan akad.
Bi Inah masih membuat sambal paling pedas di dunia. Dia masih membeli susu kotak stroberi setiap Senin. Dua puluh kotak. Rak paling bawah kulkas, sejajar dengan tinggi anak hampir tujuh tahun.
Irvan datang pukul tiga lewat dua belas. Dari kantor. Dengan kemeja biru muda yang lengannya digulung, celana bahan, dan sepatu kulit cokelat.
Dan hoodie abu-abu. Diikat di pinggang.
Bukan hoodie yang lama. Hoodie yang lama ada di lemariku. Aku memakainya setiap malam. Ini hoodie baru, abu-abu yang sama persis, yang kubelikan untuknya di minggu pertama setelah dia pulang. Dia bilang tidak perlu. Aku bilang dia butuh hoodie untuk dipakai waktu aku memakai hoodie-nya. Dia tidak bisa membantah logika itu.
Kacamatanya masih yang sama. Bingkai hitam tipis. Retak kecil di pojok kiri bawah lensa kiri.
Aku pernah membelikannya kacamata baru. Tiga bulan lalu, sebagai hadiah ulang tahun. Bingkai titanium yang ringan, lensa anti-silau, anti-gores. Dia memakainya seminggu. Lalu suatu pagi dia turun untuk sarapan dengan kacamata lama.
“Kenapa?” tanyaku.
“Yang baru terlalu jelas,” katanya sambil memotong roti Lily jadi segitiga. “Saya nggak bisa lihat retaknya.”
“Kamu mau lihat retaknya?”
“Retaknya ngingetin saya kenapa saya di sini.”
Aku tidak bisa membantah logika itu juga.
Dia duduk di sebelahku. Di bangku besi. Mas Ucup sudah menaruh tiga susu kotak stroberi di meja kecil. Dia tidak lagi mengangkat papan nilai. Dia hanya mengangkat jempol dari balik kaca, setiap hari, seperti ritual.
Irvan melihat map krem di pangkuanku.
Wajahnya berubah. Pelan-pelan. Dari tenang, ke waspada, ke panik yang sangat sopan.
“Clara,” katanya hati-hati. “Itu map.”
“Iya.”
“Map krem.”
“Iya.”
“Clara bilang nggak ada map lagi. Di Stasiun Tugu. Clara bilang nggak ada pasal, nggak ada kontrak.”
“Aku bilang begitu.”
“Terus kenapa...”
Aku menyerahkan map itu padanya. Dia menerimanya dengan dua tangan, seperti menerima sesuatu yang bisa meledak. Dia menatap sampulnya. Tidak ada tulisan. Map krem polos.
“Buka,” kataku.
“Clara...”
“Kali ini kamu harus buka. Aku nggak mau nunggu lima minggu lagi.”
Dia membukanya.
Di dalamnya hanya ada satu lembar. Bukan kertas kontrak. Kertas foto. Hitam-putih. Dengan gambar yang buram, abu-abu, seperti foto CCTV dari rekaman yang dibeli dengan dua bungkus rokok.
Di tengah gambar itu, sebuah bentuk kecil. Seperti kacang. Seperti koma di akhir kalimat yang indah.
Di pojok kanan bawah foto, dengan huruf cetak kecil: tanggal minggu lalu, dan nama rumah sakit ibu dan anak di Pondok Indah.
Irvan menatap foto itu.
Dia tidak bergerak. Sepuluh detik. Lima belas.
Lalu kacamatanya berembun.
Di luar ruangan. Di bawah matahari jam tiga. Di bangku besi yang dipaku kertas karton bertuliskan SELAMANYA.
“Clara,” katanya. Suaranya hilang di tengah.
“Hm.”
“Ini...”
“Itu pasal berapa?” tanyaku, sebelum dia sempat bertanya.
Dia menatapku. Kacamatanya berembun sampai dia tidak bisa melihat apa pun. Dia melepasnya. Tangannya gemetar sampai kacamatanya hampir jatuh ke paving.
Aku mengambilnya dari tangannya. Aku membersihkannya dengan ujung blus sutraku. Pelan. Hati-hati di bagian retak. Lalu aku memasangkannya kembali di wajahnya. Dari depan. Gagangnya kususupkan di balik telinganya yang panas.
“Sekarang kelihatan?” tanyaku.
Dia menatap foto itu. Lalu menatapku. Lalu, pelan-pelan, menatap perutku di balik blus sutra, yang belum terlihat berbeda sama sekali.
“Kelihatan,” bisiknya.
“Apa yang kelihatan?”
Dia tidak menjawab. Dia menutup map krem itu dengan hati-hati, seperti menutup sesuatu yang paling berharga di dunia, dan memeluknya di dada. Lalu dia menoleh padaku, dengan mata merah dan kacamata yang mulai berembun lagi, dan tersenyum.
Senyum miring ke kiri. Dengan lesung pipi.
“Crash,” katanya.
Bel sekolah berbunyi di seberang jalan.
Lily keluar paling akhir, seperti biasa. Dia masih selalu harus pamit ke semua mainan di kelas, meskipun kelas satu SD tidak punya banyak mainan. Tas punggungnya bukan kelinci lagi. Sekarang kucing oranye, dengan koper kecil yang dijahit Bu Wati di bagian depannya.
Dia berlari ke minimarket. Dia melihat kami di bangku. Wajahnya bersinar.
“PAPA! MAMA!”
Dia memanjat bangku dan duduk di tengah, di antara kami. Kakinya sekarang sampai ke tanah. Dia mengambil susu kotak dan menusukkan sedotan dengan konsentrasi seorang ahli bedah.
Dia melihat map krem di pelukan Irvan.
“Itu apa?”
Irvan menatapku. Aku mengangguk kecil.
Dia membuka map itu dan menunjukkan foto hitam-putih pada Lily. Lily menatapnya dengan kening berkerut. Kerutan Opa.
“Ini apa? Kacang?”
“Ini adik,” kataku.
Lily membeku. Sedotan masih di mulutnya.
Lalu dia melepaskan sedotan itu, menatapku, menatap Irvan, menatap foto itu lagi, dan menjerit. Jeritan yang membuat Mas Ucup menjatuhkan kemoceng di balik kaca, dan Kenzo, yang baru keluar dari gerbang sekolah bersama papanya, berhenti dan menoleh.
“ADIK?! ADIK BENERAN?! BUKAN KHAYALAN KAYAK PAK MENTEGA?!”
“Beneran,” kata Irvan. Suaranya masih bergetar.
“Laki-laki atau perempuan?”
“Belum tahu.”
“Kalau laki-laki, namanya Pak Mentega Dua!”
“Neng...”
“Kalau perempuan, namanya Bu Mentega!”
Irvan tertawa. Keras. Dengan kepala mendongak dan mata menyipit di balik kacamata yang berembun dan bahu yang berguncang. Tawa yang sama dengan detik ketujuh di video Oma, setahun lalu, yang kutonton sebelas kali di tengah malam dengan suara dikecilkan.
Aku tidak perlu menontonnya dari layar lagi.
Lily menyedot susunya sampai habis. Dia meletakkan kotaknya di meja. Dia menoleh pada Irvan, dengan wajah polos, dengan kebiasaan satu setengah tahun, dengan permainan yang mereka mainkan setiap hari sejak dia hampir tertabrak motor di trotoar ini.
“Papa! Tugas Papa hari ini udah beres belum?”
Irvan menatapnya. Lalu menatap map krem di pelukannya. Lalu menatapku.
Aku melihat sesuatu di wajahnya. Sesuatu yang sama dengan di teras lantai dua puluh tiga, waktu dia menyerahkan laporan audit keamanan. Sesuatu yang sama dengan di perpustakaan, waktu dia meletakkan pion hitam kembali di barisan kedua. Sesuatu yang sama dengan di peron tiga Stasiun Tugu.
Wajah seseorang yang tahu di mana rumahnya.
Dia tidak meletakkan dua jari di pelipis.
Dia merangkul Lily dengan satu tangan. Dia meraih tanganku dengan tangan satunya, dan menyelipkan jari-jarinya di antara jari-jariku. Genggaman yang saling mengunci, seperti di gerbang TK Pelangi Kecil satu setengah tahun lalu. Cincin perak dengan ukiran melati di jari manisku menekan jarinya.
“Nggak, Neng,” katanya.
Lily memiringkan kepala. “Belum beres?”
Irvan tersenyum. Miring ke kiri. Lesung pipi. Kacamata retak yang berembun di bawah matahari jam tiga.
“Tugas Papa,” katanya, “nggak akan pernah beres.”
Kami duduk di bangku besi sampai matahari mulai turun. Kami bertiga. Berempat, kalau menghitung yang di dalam map krem. Berlima, kalau menghitung Pak Mentega.
Mas Ucup menyalakan lampu teras minimarket. Kenzo melambai dari mobil papanya. Di seberang jalan, di bawah pohon ketapang, tempat aku pernah duduk di mobil dengan teropong Sinta dan mengintai seorang pria berhoodie dengan celana tidur motif awan, tidak ada siapa-siapa lagi.
Tidak perlu ada lagi.
Aku menyandarkan kepalaku di bahu suamiku. Dia menyandarkan kepalanya di atas kepalaku. Lily di tengah, bersandar di kami berdua, menggambar sesuatu di atas kertas dengan krayon yang dia ambil dari tas kucingnya.
Aku melirik gambarnya.
Rumah dengan atap merah. Matahari di pojok, dengan sinar yang rata. Kucing oranye dengan koper merah. Seorang perempuan dengan rambut panjang dan bibir merah. Seorang pria dengan kacamata dengan garis kecil miring di lensa kiri. Seorang anak perempuan berkuncir dua.
Dan di antara perempuan dan pria itu, sesuatu yang sangat kecil. Seperti kacang. Dengan senyum yang miring ke kiri.
Di pojok kanan, dekat pagar, pria dengan koin kuning. AYAH (HARI MINGGU).
Di atas gambar, huruf besar-kecil yang miring-miring, yang sudah jauh lebih rapi dari satu setengah tahun lalu:
KELUARGAKU.
Tidak ada ruang kosong di sebelah kiri.
Tidak ada yang digambar dari belakang.
Tamat.
- 1 Gambar Tanpa Papa
- 2 Proyek P.A.P.A.
- 3 Om Kacamata
- 4 Laporan Intelijen Sinta
- 5 Tawaran di Bangku Minimarket
- 6 Pasal Sembilan
- 7 Dua Kardus dan Satu Monitor
- 8 Makan Malam Keluarga Moris
- 9 Gerbang TK
- 10 Menantu Idaman Berhoodie
- 11 Skakmat
- 12 Rapat Orang Tua
- 13 Jam Tiga Pagi
- 14 Hampir
- 15 Darren Menantang
- 16 Hari Orang Tersayang
- 17 Lily Demam
- 18 Hoodie Abu-Abu
- 19 Pasal yang Mau Kulanggar
- 20 Kacamata Berembun
- 21 Ulang Tahun Opa
- 22 Yang Tidak Setara
- 23 Ciuman Pertama
- 24 Pulang ke Yogya
- 25 Cerita Om Darto
- 26 Kepala Keluarga Sementara
- 27 Perpanjangan Kontrak
- 28 Tamu dari Toronto
- 29 Papa Beneran
- 30 Proposal Kerja Sama
- 31 Dua Kursi di Pentas Seni
- 32 Papa Boleh Dua?
- 33 Pasal Sembilan Berlaku
- 34 Rumah Tanpa Hoodie
- 35 Pergi demi Kebaikan
- 36 Om Darto
- 37 Operasi Jemput Papa
- 38 Belum Beres
- 39 Tanpa Pasal
- 40 Papa
- 41 Epilog — Tugas yang Tak Pernah Beres reading