Chapter Twenty Six
Kepala Keluarga Sementara
POV: Irvan
Telepon itu datang hari Jumat, pukul sebelas lewat empat puluh malam. Bukan ke ponselku. Ke ponsel Darren, yang sedang duduk di sofa ruang keluarga bersamaku, bermain gim sepak bola untuk ketiga puluh kalinya dalam dua minggu.
Darren mengangkat. “Ya, Pak Gun?”
Lalu wajahnya berubah.
Aku melihat warna turun dari wajahnya seperti air dari bak yang sumbatnya dicabut. Controller di tangannya jatuh ke karpet. Di layar televisi, pemain yang dia kendalikan berlari lurus ke luar lapangan tanpa arah.
“Semua?” tanya Darren. “Semua server? Data klien juga?”
Aku menaruh controller-ku.
“Pak Gun, tenang. Tenang. Vendor keamanan udah dihubungi? ...Nggak angkat? Jumat malam? Ya Tuhan.” Darren berdiri. Dia berjalan mondar-mandir di depan televisi. “Berapa lama sampai... Oke. Oke. Saya ke sana.”
Dia menutup telepon dan menatapku. Tangannya gemetar.
“Bang. Server kantor kena.”
“Kena apa?”
“Ransomware. Semua file kekunci. Ada pesan di layar semua komputer. Minta tebusan dalam kripto. Batasnya empat puluh delapan jam.” Darren menelan ludah. “Dan Senin pagi kita tanda tangan akuisisi sama Takahashi Holdings. Tiga koma delapan triliun. Semua dokumen due diligence ada di server itu. Semua data klien. Semua.”
Aku sudah berdiri.
Clara turun tangga dengan kaus oversized, hoodie abu-abuku yang tidak pernah dia kembalikan di atasnya, dan wajah yang sudah dalam mode direktur. Opa di belakangnya, dengan kemeja batik yang dikancingkan asal dan kacamata baca di tangan.
“Vendornya?” tanya Clara.
“Nggak angkat, Kak. Kontrak mereka cuma sampai jam sepuluh malam untuk hari Jumat. Layanan darurat mereka baru bisa datang besok siang.”
“Besok siang.” Clara memijat pelipis. “Pak Gunawan bisa tangani?”
“Pak Gun kepala IT, Kak. Tapi timnya cuma tiga orang dan semuanya ngurusin helpdesk. Nggak ada yang pernah ngadepin ini.”
Clara diam. Aku melihat dia berpikir. Aku melihat seluruh wajahnya menghitung: kerugian, waktu, konsekuensi, reputasi. Aku melihat dia sampai di kesimpulan yang sama denganku. Lalu aku melihat dia ragu.
Dia menatapku.
Dia tidak bicara. Dia tidak meminta. Tapi aku bisa membaca pertanyaan di matanya, dan aku bisa membaca juga kenapa dia ragu. Aku bukan pegawai Moris. Aku orang luar. Memberiku akses ke server perusahaan senilai triliunan sama saja dengan menyerahkan kunci brankas pada tamu.
“Saya bisa coba,” kataku.
Clara tidak menjawab. Dia menoleh ke Opa.
Opa memakai kacamata bacanya. Dia menatapku dari balik lensa. Lama. Tatapan yang sama seperti di perpustakaan, di atas papan catur marmer, waktu pion hitamku sampai di ujung papan.
“Darren,” katanya. “Kasih dia akses. Semuanya.”
“Opa, itu...”
“Semuanya, Darren.”
Ruang server Moris Investment ada di lantai basement gedung di Sudirman. Ruangan dingin dengan lampu putih, rak-rak server berderet seperti lemari es, dengan lampu-lampu kecil hijau dan kuning yang berkedip. Dan pada malam itu, merah. Banyak merah.
Pak Gunawan, pria lima puluhan dengan kemeja yang sudah basah keringat meskipun ruangan itu delapan belas derajat, menyambut kami dengan wajah orang yang baru melihat hantu.
“Pak Darren. Syukurlah. Saya udah coba restart, udah coba...”
“Jangan restart lagi, Pak,” kataku.
Pak Gunawan menatapku. Hoodie... bukan, aku tidak pakai hoodie. Kaus hitam, celana tidur motif kotak-kotak, dan sandal jepit. Aku tidak sempat ganti.
“Ini siapa, Pak Darren?”
“Bang Irvan. Dia... security engineer.”
“Freelance,” kataku, sambil sudah menyalakan laptopku di meja kerja dekat rak. “Pak, tolong jangan sentuh server apa pun sampai saya bilang. Kalau di-restart, jejaknya bisa hilang.”
“Jejak?”
“Jejak masuknya dari mana.”
Lima jam pertama adalah investigasi.
Aku menelusuri log akses satu per satu. Server surel, server berkas, server aplikasi internal. Pola-pola yang tidak wajar. Jam masuk yang aneh. Alamat IP yang tidak dikenal. Seperti membaca buku harian seseorang yang ditulis dalam bahasa yang hanya setengah kupahami, mencari satu kalimat yang tidak cocok.
Darren duduk di sebelahku dengan secangkir kopi yang tidak dia minum. Dia menatap layarku yang penuh baris-baris teks bergerak, dan setiap sepuluh menit dia bertanya, “Udah ketemu?”
“Belum.”
“Sekarang?”
“Dar.”
“Maaf. Maaf, Bang.”
Pukul empat pagi, aku menemukannya.
Sebuah surel. Tiga hari lalu. Dikirim ke staf divisi keuangan dengan subjek “PENTING: Pembaruan Slip Gaji Oktober”, dari alamat yang dibuat sangat mirip dengan alamat divisi SDM, hanya berbeda satu huruf. Di dalamnya, sebuah tautan.
Satu orang mengkliknya. Satu orang memasukkan nama pengguna dan kata sandinya di halaman palsu yang terlihat persis seperti portal karyawan Moris.
Aku melihat nama akunnya dan berhenti.
“Kenapa, Bang?”
Aku memutar layar ke arah Darren. Darren membaca nama itu dan menutup wajah dengan kedua tangan.
yusuf.rahmadi@morisinvest.co.id
Pak Yusuf. Staf senior divisi keuangan. Kandidat ketiga Proyek P.A.P.A., yang takut pingsan kalau harus menggandeng tangan Clara.
Pukul empat lewat tiga puluh, Pak Yusuf datang ke ruang server. Darren meneleponnya dan dia datang dalam dua puluh menit, dengan kemeja yang dikancingkan salah dan wajah pucat seperti di hari wawancara.
Dia melihat layar laptopku. Dia melihat surel itu. Dia melihat namanya sendiri.
Dia jatuh berlutut di lantai ruang server yang dingin.
“Pak Darren. Pak... Mas... siapa pun. Saya minta maaf. Saya minta maaf. Saya kira itu dari SDM. Logonya sama. Warnanya sama. Saya dua belas tahun di sini, saya nggak pernah salah input angka, saya nggak pernah telat, saya...”
“Pak Yusuf,” kataku.
Dia mendongak padaku dengan mata basah.
“Bapak bukan satu-satunya yang ngeklik. Ada empat orang lain yang buka tautan itu. Bapak cuma satu-satunya yang masukin kata sandi.” Aku berjongkok di depannya. “Tapi ini bukan salah Bapak sepenuhnya. Surel palsunya bagus banget. Yang bikin ini profesional. Dan sistem keamanan surel kantor ini nggak punya penyaring untuk domain yang mirip. Itu bukan salah Bapak. Itu celah sistem.”
Pak Yusuf menatapku. Lalu, pelan-pelan, dia mengenali wajahku.
“Mas... Mas yang di TikTok. Yang... yang calon suami Bu Direktur.”
“Iya, Pak.”
“Mas yang... gantiin saya.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Di belakangku, Darren menahan tawa yang sangat tidak pantas untuk jam empat pagi dan situasi krisis triliunan.
“Saya butuh bantuan Bapak,” kataku. “Bapak hafal struktur folder divisi keuangan, kan? Semua dokumen due diligence Takahashi?”
“Hafal, Mas. Dua belas tahun.”
“Kalau gitu, bantu saya.”
Pukul lima, aku mengisolasi server yang terinfeksi. Pukul enam, aku menemukan bahwa pelakunya gagal mengenkripsi satu server cadangan, karena server itu, entah kenapa, dijadwalkan untuk pemeliharaan pada malam serangan dan sedang offline. Pak Gunawan menatap layar itu seperti menatap mukjizat.
“Itu server yang saya jadwalin maintenance karena kipasnya bunyi,” katanya. “Saya hampir batalin. Soalnya males.”
“Bapak menyelamatkan perusahaan karena males,” kata Darren.
“Saya nggak tahu harus bangga atau malu, Pak.”
Pukul tujuh, dengan Pak Yusuf menunjukkan folder mana yang paling penting, dan Pak Gunawan menyiapkan server bersih, dan Darren membawa kopi setiap tiga puluh menit meskipun tidak ada yang meminta, aku mulai memulihkan data.
Pukul sembilan pagi, Sabtu, pintu ruang server terbuka.
Clara masuk dengan dua kantong kertas cokelat berisi sarapan, rambut dicepol, wajah tanpa riasan, dan hoodie abu-abuku di atas kaus. Dia tidak tidur sama sekali. Aku bisa melihatnya dari lingkaran gelap di bawah matanya, lebih gelap dari milikku.
Dia berhenti di ambang pintu dan menatap kami berempat. Aku di depan laptop. Darren tertidur di kursi dengan mulut terbuka. Pak Gunawan memindahkan kabel. Pak Yusuf duduk di lantai di sebelahku dengan kertas catatan berisi daftar folder, kemejanya masih dikancingkan salah.
“Pak Yusuf?” kata Clara.
Pak Yusuf melompat berdiri. “Bu Direktur! Selamat pagi! Saya... saya bisa jelaskan...”
“Irvan sudah jelaskan lewat pesan.” Clara meletakkan kantong sarapan di meja. “Duduk, Pak Yusuf. Makan.”
“Ta-tapi, Bu, saya yang...”
“Bapak juga yang nemenin Irvan sampai pagi.” Clara mengeluarkan kotak nasi dari kantong. “Duduk. Makan.”
Pak Yusuf duduk. Tangannya gemetar saat menerima kotak nasi dari Clara. Dia menatap kotak itu seolah Clara baru menyerahkan medali.
Clara menarik kursi dan duduk di sebelahku. Dia meletakkan kotak nasi di depanku. Dia membuka tutupnya. Dia mengambil sendok. Dia menyendokkan nasi dan telur dadar, lalu mengangkatnya ke depan mulutku.
“Buka.”
“Clara, saya lagi...”
“Kamu bisa ngetik pakai satu tangan. Aku lihat kamu ngetik sambil makan remah roti di minimarket selama tiga bulan.” Dia tidak menurunkan sendoknya. “Buka.”
Aku membuka mulut.
Pak Gunawan menjatuhkan kabel. Pak Yusuf tersedak nasinya dan batuk-batuk sampai Clara menepuk punggungnya.
Pukul tiga sore, Sabtu, semua data sudah pulih. Semua server bersih. Dokumen due diligence untuk Takahashi Holdings utuh di server baru, tidak ada satu pun yang hilang atau bocor. Tidak ada tebusan yang dibayar. Aku menulis laporan lengkap untuk Pak Gunawan: dari mana serangan masuk, bagaimana dihentikan, dan dua belas rekomendasi untuk memperbaiki sistem keamanan surel dan akses karyawan. Aku menyerahkannya dalam bentuk dokumen tiga puluh halaman.
Pak Gunawan membacanya. Lalu dia menatapku. “Mas. Kerja di sini, Mas. Saya mohon.”
“Saya freelance, Pak.”
“Kontrak freelance juga bisa! Saya bilang ke Pak Darren!”
Darren, yang baru bangun dengan bekas lengan kursi di pipinya, mengangkat tangan. “Gue udah bilang ke Opa jam enam pagi tadi. Opa bilang, ‘Nanti.’”
Aku tidur di sofa ruang tunggu lantai dua puluh tiga. Clara membangunkanku pukul enam sore dengan menepuk pipiku.
“Opa di sini.”
Aku langsung duduk tegak. Kacamataku di meja. Aku meraihnya dan memakainya.
Opa berdiri di depan sofa dengan kemeja batik cokelat dan tongkat jalan yang jarang dia pakai. Dia menatapku lama. Lalu menatap Clara. Lalu kembali menatapku.
“Clara,” katanya. “Tinggalkan kami sebentar.”
Clara ragu. Lalu dia mengangguk dan keluar. Tapi di ambang pintu, dia menoleh padaku. Tatapannya bilang jangan takut. Lalu pintu tertutup.
Opa duduk di kursi di seberang sofa. Pelan. Lututnya berbunyi. Dia meletakkan tongkatnya di lengan kursi.
“Pak Gunawan bilang kamu menyelamatkan tiga koma delapan triliun,” katanya.
“Datanya aja, Pak. Dealnya masih harus ditandatangani.”
“Tanpa data, tidak ada deal.”
Aku tidak menjawab.
“Darren bilang kamu tidak menyalahkan Yusuf.”
“Pak Yusuf nggak salah, Pak. Sistemnya yang ada celah.”
“Semua orang menyalahkan orang, bukan sistem. Lebih mudah.” Opa menatapku. “Kamu tidak.”
“Saya kerja di sistem, Pak. Saya tahu sistem bisa bikin orang baik kelihatan bodoh.”
Opa diam lama. Dia menatap jendela, ke arah Jakarta yang mulai gelap, lampu-lampu yang menyala satu per satu seperti bintang yang turun ke bumi.
“Clara ayahnya meninggal waktu dia enam belas,” katanya tanpa menoleh. “Richard. Anak saya satu-satunya. Kecelakaan. Darren sepuluh tahun. Sejak itu saya yang jadi kepala keluarga lagi. Di umur yang seharusnya sudah pensiun.”
Aku tidak tahu itu. Clara tidak pernah bercerita soal ayahnya.
“Dua puluh tahun saya menjaga rumah itu. Perusahaan itu. Dua cucu. Lalu satu cicit.” Opa menoleh padaku. “Saya sudah tua, Irvan. Tujuh puluh tujuh. Lutut saya bunyi kalau naik tangga. Tangan saya gemetar kalau memegang cangkir terlalu lama. Saya tidak bisa menjaga semuanya selamanya.”
“Pak...”
“Tadi malam, jam sebelas lewat empat puluh, rumah saya diserang dari luar. Saya tidak bisa melakukan apa-apa. Darren tidak bisa. Clara tidak bisa. Pak Gunawan tidak bisa.” Opa mengetuk tongkatnya sekali di lantai. “Kamu bisa.”
Aku menatap lantai.
Opa berdiri. Lututnya berbunyi lagi. Dia berjalan ke arahku dan berdiri di depan sofa. Lalu dia mengulurkan tangan dan menepuk bahuku. Satu kali. Tepukan yang sama yang dia berikan di perpustakaan, setelah skakmat.
Tapi kali ini, tangannya tetap di sana.
“Kamu main bagus,” katanya pelan. “Bukan untuk orang yang disewa. Untuk orang di rumah ini.”
Aku tidak bisa bicara. Sesuatu naik di tenggorokanku, dan aku menahannya di sana, di belakang gigi.
Aku mengangkat tangan. Aku meletakkan dua jari di pelipis. Hormat asal-asalan, yang biasanya kuberikan pada Lily di depan minimarket.
“Tugas Om Kacamata udah beres, Pak.”
Opa menatapku. Alisnya terangkat sedikit.
“Om?”
Wajahku langsung panas. “Maaf, Pak. Kebiasaan. Sama Lily.”
Opa memandangiku lama. Lalu, untuk kedua kalinya sejak aku mengenalnya, dia tersenyum. Senyum kecil, di satu sudut bibir. Senyum Clara.
“Kamis ini,” katanya sambil mengambil tongkatnya. “Kamu yang pegang putih.”
Dia berjalan ke pintu. Di ambangnya, dia berhenti tanpa menoleh.
“Dan, Irvan.”
“Ya, Pak?”
“Jangan panggil saya Pak lagi. Lily memanggil saya Opa. Clara memanggil saya Opa.” Dia membuka pintu. “Kamu sudah makan di meja saya tiga bulan. Kamu sudah main catur di perpustakaan saya. Kamu sudah menjaga rumah saya tadi malam.”
Pintu terbuka lebar. Di baliknya, di koridor, Clara berdiri, pura-pura membaca sesuatu di ponselnya. Opa melewatinya tanpa melirik.
“Opa,” katanya pada udara, pada koridor, pada siapa pun yang mendengar. “Panggil saya Opa.”
Clara masuk ke ruangan dan duduk di sebelahku di sofa. Dia tidak bicara. Dia hanya menatapku.
“Clara dengar?” tanyaku.
“Aku nggak nguping.”
“Ponselnya layar mati.”
Dia menatap ponselnya. Layarnya memang gelap. Dia tidak membela diri.
“Opa nggak pernah minta orang panggil dia Opa,” katanya pelan. “Kevin Adiwangsa manggil dia ‘Om Hendra’ di gala, dan Opa diam aja tiga menit sampai Kevin sendiri yang ganti jadi ‘Pak’.”
Aku menatap tanganku di pangkuan. Tangan yang tadi malam mengetik kode sampai pagi. Tangan yang sekarang gemetar sedikit, bukan karena kurang tidur.
Untuk orang di rumah ini.
Aku tidak tahu apa yang kurasakan. Aku mencoba menamainya, seperti menamai variabel di kode. Lega. Bangga. Takut. Semuanya sekaligus, dan tidak satu pun cocok.
Yang paling dekat adalah ini: untuk pertama kalinya sejak aku menandatangani kontrak itu, aku merasa punya tempat.
Bukan tempat yang disewa. Bukan kamar di sayap timur. Bukan bangku di meja makan yang disediakan karena kontrak. Tempat yang diberikan. Oleh orang yang tidak pernah memberikan apa pun dengan mudah.
Dan itu yang membuatku takut. Karena pion yang merasa punya tempat di papan, biasanya pion yang paling sakit waktu dikorbankan.
Clara menyandarkan kepalanya di bahuku.
“Kamu mikir terlalu keras,” katanya. “Aku bisa dengar dari sini.”
“Dengar apa?”
“Kipas prosesor otakmu. Bunyinya kayak server yang kipasnya rusak.”
Aku tertawa. Tawa pelan, lelah, dan jujur.
“Tidur,” katanya. “Aku jagain.”
“Clara juga belum tidur.”
“Nanti gantian. Kamu dulu.”
Aku memejamkan mata. Kepalanya berat dan hangat di bahuku. Wangi vanila dan sabun batang dari hoodie yang dia pakai.
Sebelum tertidur, aku mendengar dia berbisik, sangat pelan, seperti bicara pada dirinya sendiri:
“Opa udah kasih tempat. Sekarang giliranku.”
Aku tidak tahu apa maksudnya. Aku terlalu lelah untuk bertanya.
Aku seharusnya bertanya.
- 1 Gambar Tanpa Papa
- 2 Proyek P.A.P.A.
- 3 Om Kacamata
- 4 Laporan Intelijen Sinta
- 5 Tawaran di Bangku Minimarket
- 6 Pasal Sembilan
- 7 Dua Kardus dan Satu Monitor
- 8 Makan Malam Keluarga Moris
- 9 Gerbang TK
- 10 Menantu Idaman Berhoodie
- 11 Skakmat
- 12 Rapat Orang Tua
- 13 Jam Tiga Pagi
- 14 Hampir
- 15 Darren Menantang
- 16 Hari Orang Tersayang
- 17 Lily Demam
- 18 Hoodie Abu-Abu
- 19 Pasal yang Mau Kulanggar
- 20 Kacamata Berembun
- 21 Ulang Tahun Opa
- 22 Yang Tidak Setara
- 23 Ciuman Pertama
- 24 Pulang ke Yogya
- 25 Cerita Om Darto
- 26 Kepala Keluarga Sementara reading
- 27 Perpanjangan Kontrak
- 28 Tamu dari Toronto
- 29 Papa Beneran
- 30 Proposal Kerja Sama
- 31 Dua Kursi di Pentas Seni
- 32 Papa Boleh Dua?
- 33 Pasal Sembilan Berlaku
- 34 Rumah Tanpa Hoodie
- 35 Pergi demi Kebaikan
- 36 Om Darto
- 37 Operasi Jemput Papa
- 38 Belum Beres
- 39 Tanpa Pasal
- 40 Papa
- 41 Epilog — Tugas yang Tak Pernah Beres