Chapter Five
Tawaran di Bangku Minimarket
POV: Irvan
Pukul dua belas lewat dua puluh, seorang perempuan duduk di bangku besi di seberangku dan meletakkan dua susu kotak stroberi di meja.
Aku sedang di tengah membaca log error dari server Rotterdam. Baris-baris merah di layarku berhenti bergerak di kepalaku. Yang bergerak sekarang cuma satu hal: pergelangan tangan ramping dengan jam tangan perak tipis, dan jari-jari panjang dengan kuku berwarna nude yang mendorong satu kotak susu ke arahku.
“Selamat siang, Irvan.”
Aku mendongak.
Bu Clara Moris hari ini tidak memakai blazer. Dia memakai kemeja sutra berwarna hijau zaitun yang lengannya digulung sampai siku, celana panjang putih berpotongan lurus, dan sepatu loafers cokelat. Rambutnya tidak disanggul. Rambut itu digerai, hitam dan panjang, jatuh melewati bahu sampai ke punggung dengan gelombang lembut di ujungnya. Angin dari pintu otomatis minimarket mengangkat beberapa helai dan menjatuhkannya kembali di atas bahunya dengan cara yang terlihat seperti diatur sutradara.
Tanpa sanggul, wajahnya terlihat lebih muda. Lebih lembut di pinggiran, tapi mata almond itu tetap tajam, dan bibir merah bata itu tetap berani. Tahi lalat di dekat sudut bibirnya masih di sana. Tentu saja masih di sana. Tahi lalat tidak pindah dalam dua hari. Aku tidak tahu kenapa aku lega melihatnya.
“Selamat siang, Bu,” kataku, lalu menyadari aku masih memakai headset. Aku melepasnya dengan canggung. Kabelnya tersangkut di kacamata, dan kacamataku miring.
Bu Clara memperhatikan seluruh proses itu dengan ketenangan seorang penonton opera.
“Saya mengganggu?”
“Tidak, Bu. Server-nya yang mengganggu saya.”
“Server di Rotterdam?”
Aku berhenti membetulkan kacamata. “Ibu tahu dari mana?”
“Saya tahu banyak hal.” Dia menyilangkan kaki. “Saya tahu kamu lulusan cumlaude, bayar kontrakan tepat waktu, punya tiga foto di Instagram, dan salah satunya bakso.”
“Itu... bakso yang enak, Bu.”
“Saya tidak meragukannya.”
Aku menatapnya. Dia menatapku balik dengan wajah datar yang sempurna. Tapi di sudut bibirnya, di dekat tahi lalat itu, ada sesuatu yang bergerak sangat sedikit. Dia sedang menahan tawa. Aku tidak tahu harus merasa tersinggung atau tersanjung.
“Ibu menyelidiki saya.”
“Sekretaris saya yang menyelidiki. Saya cuma membaca.” Dia mendorong susu kotak itu sedikit lagi. “Diminum. Saya dengar itu minuman favoritmu.”
“Itu favorit Lily.”
“Saya tahu. Tapi kamu yang membeli dua tiap hari.”
Aku mengambil susu kotak itu karena tidak tahu harus melakukan apa lagi dengan tanganku.
Di dalam minimarket, Mas Ucup berdiri di balik mesin kasir, pura-pura menata rak rokok. Rak rokok itu sudah dia tata tiga kali dalam lima menit terakhir.
“Saya datang untuk dua hal,” kata Bu Clara. “Yang pertama, terima kasih.”
Nada suaranya berubah. Masih rendah, masih tenang, tapi ketajaman yang tadi hilang. Dia menatap meja besi yang catnya mengelupas, lalu menatapku lagi.
“Pak Karto sudah cerita. Soal tiga minggu lalu. Soal motor, dan siku kamu, dan kacamata kamu.” Matanya turun ke retak kecil di pojok lensa kiriku. “Saya baru tahu kemarin lusa.”
“Pak Karto nggak salah, Bu. Beliau cuma...”
“Saya tidak datang untuk membahas Pak Karto.” Dia berhenti. Aku melihat tangannya di atas meja mengepal pelan, lalu terbuka lagi. “Saya datang karena anak saya masih hidup, dan itu karena kamu. Dan saya tidak tahu harus bilang apa selain terima kasih, yang rasanya terlalu kecil untuk hal sebesar itu.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Orang-orang biasanya berterima kasih padaku karena server mereka hidup lagi, atau karena data mereka tidak bocor. Tidak ada yang pernah berterima kasih padaku dengan mata seperti itu, sedikit lebih basah dari yang seharusnya, dan menolak untuk berkedip.
“Sama-sama, Bu,” kataku. “Saya cuma kebetulan dekat.”
“Semua orang di trotoar itu kebetulan dekat. Cuma kamu yang lompat.”
“Saya lompatnya juga jelek, Bu. Jatuhnya nggak keren.”
Sudut bibirnya naik. Kali ini sungguhan, bukan senyum yang dibatalkan. Senyum kecil, sebentar, dan tahi lalat itu ikut terangkat. Dadaku melakukan sesuatu yang tidak masuk akal secara anatomis.
“Kacamatanya kenapa tidak diganti?” tanyanya.
“Masih kelihatan, Bu.”
“Retaknya kelihatan.”
“Itu juga.”
Dia memiringkan kepala sedikit, memandangku seolah aku adalah laporan keuangan yang angkanya tidak cocok, dan dia menikmati mencari di mana selisihnya.
“Yang kedua,” katanya.
Dia mengeluarkan map tipis berwarna krem dari tasnya dan meletakkannya di atas meja, di antara dua susu kotak.
Aku membaca tulisan di sampulnya:
PERJANJIAN KERJA SAMA PRIBADI
Pihak Pertama: Clara Florentina Moris
Pihak Kedua: Irvan Oktovan
Aku menatap map itu. Lalu menatapnya.
“Bu, ini apa?”
“Tawaran.”
Dia menjelaskannya dengan cara yang pasti biasa dia pakai untuk mempresentasikan akuisisi perusahaan. Ringkas, terstruktur, tanpa satu kata pun yang terbuang.
Satu tahun. Aku berperan sebagai ayah Lily. Mengantar dan menjemput sekolah. Hadir di acara-acara. Tinggal di rumah keluarga Moris, di kamar terpisah, di sayap yang berbeda. Kompensasi bulanan yang angkanya dia sebutkan dengan datar, dan yang membuatku tersedak susu stroberi.
“Uhuk... Bu, itu... itu gaji saya empat bulan.”
“Saya tahu. Sekretaris saya sudah menghitungnya.”
“Sekretaris Ibu tahu gaji saya?”
“Estimasi. Dia bilang kamu terlalu jujur di pajak.” Dia mengangkat bahu kecil. “Itu nilai tambah, omong-omong.”
Aku menaruh susu kotak di meja. Tanganku sedikit lengket.
“Bu Clara.”
“Hm?”
“Kenapa saya?”
“Karena Lily sudah memilih.”
“Lily juga suka Pak Mentega, Bu. Pak Mentega itu kucing khayalan.”
“Pak Mentega tidak bisa datang ke rapat orang tua murid.” Dia bersandar sedikit ke belakang dan memandangku dari ujung rambut sampai meja. “Kamu bisa. Setelah mandi.”
“Saya mandi, Bu.”
“Saya tidak bilang kamu tidak mandi.” Senyum kecil itu lagi. “Saya bilang setelah.”
Telingaku panas. Aku bisa merasakannya, panas yang menjalar dari cuping sampai ke leher. Pendingin udara yang bocor dari pintu minimarket sama sekali tidak membantu.
“Kamu selalu merah begini kalau diajak bicara perempuan,” tanyanya dengan nada yang sama persis dengan nada saat menyebutkan kompensasi bulanan, “atau cuma aku?”
Dia beralih memakai “aku”. Aku menyadarinya, dan aku yakin dia tahu aku menyadarinya.
“Ini AC minimarket, Bu.”
“AC minimarket membuat telinga merah?”
“AC-nya bocor. Suhunya... fluktuatif.”
“Fluktuatif,” ulangnya pelan, seolah menyimpan kata itu untuk dipakai lagi nanti. Lalu dia mencondongkan tubuh ke depan. Tidak banyak, hanya beberapa sentimeter, tapi jarak di antara kami di atas meja kecil itu memang sudah tidak banyak. Aku mencium sesuatu, vanila dan sesuatu yang lebih hangat, seperti kayu. Tangannya terulur ke arah wajahku.
Aku membeku.
Jarinya menyentuh rambutku, di atas telinga kiri, lalu mundur lagi sambil menjepit sesuatu.
“Remah roti,” katanya, menunjukkannya padaku. “Sejak tadi.”
“Oh.” Suaraku keluar satu oktaf lebih tinggi. “Terima kasih, Bu.”
“Sama-sama, Irvan.”
Dia bersandar lagi dengan tenang, seolah tidak ada yang terjadi, lalu membuang remah roti itu ke tempat sampah di sebelah meja dengan jentikan jari yang presisi.
Di dalam minimarket, Mas Ucup menjatuhkan satu slop rokok.
Aku perlu beberapa detik untuk menemukan otakku lagi. Aku menemukannya di suatu tempat di bawah meja, bersama harga diriku.
“Bu,” kataku, “saya menghargai tawarannya. Serius. Tapi saya tidak bisa.”
Dia tidak terlihat terkejut. Dia hanya menunggu, seperti orang yang tahu negosiasi baru saja dimulai.
“Kenapa?”
“Saya bukan untuk disewa, Bu.”
“Semua orang bisa disewa. Pertanyaannya cuma harganya.”
“Bukan soal harga.” Aku melepas kacamata dan mengusap mata. Tanpa kacamata, wajahnya jadi buram, dan itu membuatku lebih mudah bicara. “Anak-anak nggak ngerti kontrak, Bu. Lily nggak ngerti ‘satu tahun’. Dia cuma ngerti orang yang tinggal dan orang yang pergi. Setahun lagi saya pergi. Terus apa? Dia kehilangan papa dua kali?”
Hening.
Aku memakai kacamata lagi. Wajahnya kembali jelas. Dan untuk pertama kalinya sejak dia duduk di bangku ini, ekspresinya tidak terkendali. Hanya sepersekian detik, sesuatu lewat di matanya, seperti jendela yang terbuka lalu dibanting lagi.
“Kamu bicara seperti orang yang tahu rasanya,” katanya pelan.
Aku tidak menjawab.
Aku tahu rasanya. Om Darto menggendongku di punggungnya di pasar malam waktu aku enam tahun. Om Darto datang ke acara tujuh belasan di sekolahku dan ikut lomba makan kerupuk. Om Darto pergi diam-diam di suatu pagi waktu aku sepuluh tahun, karena bapakku pulang, dan katanya aku lebih pantas punya bapak asli. Bapak asli itu bertahan dua tahun.
Tapi itu bukan urusan direktur perusahaan triliunan di bangku minimarket.
“Saya cuma nggak mau Lily sedih, Bu.”
“Lily sudah sedih.” Suaranya tetap tenang, tapi ada sesuatu di bawahnya, seperti arus di bawah permukaan air. “Setiap hari dia pulang dan bertanya kenapa dia nggak punya papa. Setiap hari ada anak laki-laki bernama Kenzo yang bilang dia ditinggal karena nakal. Kamu mau bilang aku harus membiarkannya begitu, karena nanti dia mungkin sedih?”
“Saya nggak bilang begitu.”
“Lalu kamu bilang apa?”
Aku membuka mulut, dan tidak ada yang keluar. Dia benar. Dan dia juga salah. Dua-duanya sekaligus, dan aku tidak punya kode untuk menyelesaikan kontradiksi itu.
Bu Clara memandangku lama. Lalu dia melakukan sesuatu yang tidak kuduga: dia tersenyum. Bukan senyum menggoda seperti tadi. Senyum lelah, sedikit miring, seperti senyum seseorang yang baru kalah satu ronde tapi tahu pertandingannya masih panjang.
“Kamu keras kepala,” katanya.
“Ibu juga.”
“Aku direktur. Keras kepala itu deskripsi pekerjaanku.” Dia berdiri, merapikan kemeja sutranya, dan meninggalkan map krem itu di atas meja. “Kamu apa?”
“Saya... freelance.”
“Freelance keras kepala.” Dia mengambil tasnya. “Kombinasi yang jarang.”
“Bu, mapnya.”
“Simpan. Baca. Kalau kamu mau menolak, tolak setelah membaca pasal-pasalnya. Aku tidak suka ditolak oleh orang yang belum membaca proposal.”
“Saya nggak akan berubah pikiran, Bu.”
“Mungkin.” Dia menyampirkan tas di bahu. Rambutnya bergerak lagi, dan wangi vanila itu lewat sekali lagi. “Tapi aku jemput Lily sendiri besok. Dan lusa. Dan hari-hari setelahnya. Jadi aku akan duduk di bangku ini lagi, dan kamu masih punya waktu untuk berubah pikiran.”
“Ibu nggak ada rapat?”
“Aku baru sadar,” katanya, “rapat bisa dipindah. Jam tiga lewat lima belas tidak.”
Aku tidak punya jawaban untuk itu.
Dia berjalan dua langkah menuju trotoar, lalu berhenti dan menoleh dari balik bahu. Cahaya siang menangkap wajahnya dari samping: garis rahang yang tegas, bulu mata yang panjang, bibir merah bata yang tersenyum dengan satu sudut saja.
“Oh, satu lagi, Irvan.”
“Ya, Bu?”
“Celana awan kamu lucu.”
Lalu dia pergi. Loafers cokelatnya berbunyi pelan di aspal. Dia tidak menoleh lagi.
Mas Ucup keluar dari minimarket dengan langkah yang terlalu santai untuk jadi kebetulan. Dia duduk di bangku yang tadi ditempati Bu Clara, meletakkan dagu di tangan, dan memandangiku dengan mata berbinar-binar.
“Mas Ir.”
“Jangan.”
“Mas Ir, tadi remah roti itu...”
“Mas Ucup, jangan.”
“...ada di rambut Mas sejak pagi. Saya lihat. Saya sengaja nggak bilang.” Dia menepuk dadanya. “Saya berjasa, Mas.”
“Mas Ucup menjatuhkan rokok satu slop.”
“Itu reaksi alami tubuh, Mas. Tubuh saya nggak siap.” Dia menunjuk map krem di meja. “Itu apa? Surat lamaran? Undangan nikah?”
“Bukan urusan Mas Ucup.”
“Mas Ir, saya sudah tiga tahun jagain colokan listrik buat Mas. Saya pura-pura nggak lihat waktu Mas numpang wifi toko. Saya yang kasih rekaman CCTV ke sekretaris cantik yang kemarin. Semuanya urusan saya.”
Aku menatapnya. “Mas Ucup yang kasih rekaman CCTV?”
“Dikasih rokok dua bungkus.” Dia tersenyum bangga. “Tapi saya bakal kasih gratis juga, Mas. Sekretarisnya cantik. Saya lemah.”
Aku menghela napas panjang dan memandangi map itu.
Map itu tebalnya tidak lebih dari sepuluh halaman. Kertasnya tebal, jenis kertas yang dipakai kantor-kantor mahal. Namaku tercetak di sampulnya dengan huruf yang rapi, di bawah nama lengkap seseorang yang tadi mengambil remah roti dari rambutku seolah itu hal paling wajar di dunia.
Aku tidak membukanya.
Aku memasukkannya ke dalam tas laptop, di antara charger dan buku catatan, dan berkata pada diri sendiri bahwa aku akan mengembalikannya besok, belum dibaca, dengan penolakan yang sopan.
Malam itu, pukul tiga pagi, setelah server Rotterdam akhirnya stabil dan kopi sachet ketiga habis, aku duduk di lantai kontrakan dengan punggung bersandar ke dinding.
Kipas angin berputar kencang, seperti keluhan Bu Haji Romlah. Di layar ponselku ada pesan dari Ibu yang belum kubalas sejak sore: Le, sudah makan? Om Darto titip salam. Katanya kapan pulang.
Map krem itu tergeletak di lantai di sebelahku.
Aku bilang pada diri sendiri, aku cuma akan membaca halaman pertama. Supaya penolakanku besok bisa lebih spesifik. Supaya aku bisa bilang, “Saya sudah baca, Bu, dan jawabannya tetap tidak.”
Aku membaca halaman pertama. Lalu halaman kedua.
Di halaman terakhir, di bawah semua pasal tentang jangka waktu, kompensasi, dan kerahasiaan, ada satu baris tambahan yang ditulis tangan dengan tinta biru. Tulisannya miring dan rapi, seperti ditulis oleh seseorang yang terbiasa menandatangani dokumen senilai miliaran.
Lily menggambarmu dari belakang. Itu satu-satunya gambar papa yang dia punya. Aku tidak meminta kamu jadi ayahnya. Aku meminta kamu tetap jadi Om Kacamata, hanya lebih dekat. — C.
Aku membaca kalimat itu tiga kali.
Lalu aku menaruh map itu di atas dadaku, memandangi kipas angin yang berputar di langit-langit, dan tidak tidur sampai azan subuh.
- 1 Gambar Tanpa Papa
- 2 Proyek P.A.P.A.
- 3 Om Kacamata
- 4 Laporan Intelijen Sinta
- 5 Tawaran di Bangku Minimarket reading
- 6 Pasal Sembilan
- 7 Dua Kardus dan Satu Monitor
- 8 Makan Malam Keluarga Moris
- 9 Gerbang TK
- 10 Menantu Idaman Berhoodie
- 11 Skakmat
- 12 Rapat Orang Tua
- 13 Jam Tiga Pagi
- 14 Hampir
- 15 Darren Menantang
- 16 Hari Orang Tersayang
- 17 Lily Demam
- 18 Hoodie Abu-Abu
- 19 Pasal yang Mau Kulanggar
- 20 Kacamata Berembun
- 21 Ulang Tahun Opa
- 22 Yang Tidak Setara
- 23 Ciuman Pertama
- 24 Pulang ke Yogya
- 25 Cerita Om Darto
- 26 Kepala Keluarga Sementara
- 27 Perpanjangan Kontrak
- 28 Tamu dari Toronto
- 29 Papa Beneran
- 30 Proposal Kerja Sama
- 31 Dua Kursi di Pentas Seni
- 32 Papa Boleh Dua?
- 33 Pasal Sembilan Berlaku
- 34 Rumah Tanpa Hoodie
- 35 Pergi demi Kebaikan
- 36 Om Darto
- 37 Operasi Jemput Papa
- 38 Belum Beres
- 39 Tanpa Pasal
- 40 Papa
- 41 Epilog — Tugas yang Tak Pernah Beres