← Papa Pinjaman

Chapter Thirty Two

Papa Boleh Dua?

POV: Clara

Aku mencarinya di aula selama sepuluh menit setelah pertunjukan selesai.

Barisan paling belakang, kursi plastik oranye di sebelah Pak Karto: kosong. Pintu samping: kosong. Halaman sekolah, dekat ayunan: kosong. Pak Karto bilang Mas Irvan keluar sebelum penutupan. Bu Ratna bilang dia melihat Mas Irvan bicara dengan Kenzo di halaman. Kenzo, dengan kardus rumah yang sudah penyok, bilang Om Kacamata duduk di bangku minimarket.

Waktu aku sampai di bangku minimarket, bangku itu kosong. Dua susu kotak stroberi di atas meja kecil yang catnya mengelupas. Belum dibuka. Sedotannya masih terbungkus plastik.

Mas Ucup keluar dari minimarket.

“Mas Ir udah pulang, Bu. Naik ojek.”

“Kapan?”

“Lima menit lalu.” Mas Ucup menatap dua susu kotak itu. Lalu menatapku. Wajahnya tidak lagi seperti penonton sinetron. Wajahnya seperti orang yang menonton sesuatu yang dia tidak mau tonton sampai habis. “Bu. Mas Ir tadi nggak minum susunya.”

“Iya.”

“Mas Ir nggak pernah nggak minum susunya. Tiga bulan lebih. Setiap hari. Kecuali hari ini.”

Aku mengambil dua kotak susu itu. Aku tidak tahu kenapa. Aku memasukkannya ke tas, di sebelah ponsel dan dompet dan kartu nama Reza yang tidak pernah kubuang.


Lily tidak berhenti bicara di mobil.

Reza sudah pulang. Dia pamit di parkiran dengan memeluk Lily dan menjanjikan akan datang lagi hari Minggu. Lily melambai padanya sampai mobil sedan hitam itu menghilang di tikungan, dengan buket bunga matahari yang diberikan Reza di pangkuannya dan koper merah di kakinya.

“Mama lihat aku jadi Pak Mentega? Mama lihat aku nggak lupa dialog?”

“Mama lihat, Sayang. Kamu hebat.”

“Tadi aku lupa sebentar. Tapi terus aku lihat Om Kacamata. Terus Om kasih hormat. Terus aku inget lagi.”

Tanganku di kemudi mengencang.

“Terus Papa gendong aku tinggi banget, Ma! Tinggi kayak papanya Rafi! Hampir kena balon!”

“Iya, Sayang.”

Lily diam sebentar. Aku melihatnya di spion. Dia menatap bunga matahari di pangkuannya. Keningnya berkerut.

“Ma. Om Kacamata kok pulang duluan?”

“Om Kacamata ada kerjaan.”

“Rotterdam?”

“Rotterdam.”

“Rotterdam kan hari Sabtu libur. Kata Om Kacamata, orang Belanda libur hari Sabtu sama Minggu.”

Aku tidak menjawab.


Irvan tidak turun untuk makan malam.

Bi Inah mengetuk pintunya, dan dia bilang dia sudah makan. Bi Inah tidak percaya. Bi Inah meninggalkan sepiring nasi, tempe goreng, dan sambal di depan pintunya dengan tudung saji. Dua jam kemudian, piring itu masih di sana. Tidak disentuh.

Di meja makan, tidak ada yang bicara banyak. Oma menatap kursi kosong di sebelah Lily dengan mata merah. Darren menusuk makanannya tanpa makan. Opa makan dengan pelan, sangat pelan, dan tidak membaca koran.

Setelah makan malam, Lily duduk di karpet ruang keluarga dengan kotak krayon dan selembar kertas.

Aku duduk di sofa dengan laptop terbuka dan laporan yang tidak kubaca. Aku menatap Lily dari atas layar. Dia menggambar dengan konsentrasi penuh, lidah sedikit menjulur, kumis pensil alis di pipinya yang belum dihapus sepenuhnya.

Setengah jam kemudian, dia berdiri dan membawa kertas itu padaku.

“Mama. Gambar baru.”

Aku menaruh laptop.

Rumah dengan atap merah. Matahari di pojok. Seekor kucing oranye dengan koper merah. Seorang perempuan berambut panjang dengan bibir merah. Seorang anak kecil berkuncir dua, di tengah.

Dan di kiri dan kanan anak kecil itu, dua sosok pria.

Di kiri, seorang pria dengan rambut yang berdiri di dua arah, kacamata dengan garis kecil miring di lensa kiri, dan senyum yang miring ke kiri. Hoodie abu-abu.

Di kanan, seorang pria yang lebih tinggi, dengan jas biru, dan senyum yang sangat lebar. Senyum yang sama dengan senyum anak kecil di tengah. Di tangannya, sebuah lingkaran kecil berwarna kuning. Koin.

Di atas gambar, dengan huruf besar-kecil yang miring-miring: KELUARGAKU.

Aku menatap gambar itu. Aku menatapnya lama sekali.

“Mama,” kata Lily. Suaranya kecil. Ragu-ragu. Seperti waktu dia bertanya apakah boleh menggambar papa khayalan. “Papa boleh dua nggak?”

Aku tidak bisa bernapas.

“Soalnya,” lanjut Lily, menatap gambarnya sendiri, “Papa yang ini bisa sulap koin. Terus gendongnya tinggi banget. Terus senyumnya kayak aku, kata Oma.” Dia menunjuk sosok di kanan. Lalu jarinya bergerak ke sosok di kiri. “Tapi Om Kacamata yang ngajarin aku gambar papa dari belakang. Yang nolongin aku dari motor. Yang jagain aku pas demam. Yang kasih hormat pas aku lupa dialog.”

Jarinya berhenti di kacamata dengan garis kecil miring.

“Aku nggak mau milih,” katanya. “Kata Om Kacamata, anak kecil nggak boleh disuruh milih. Om bilang gitu ke Kenzo waktu Kenzo bingung mau main sama siapa.”

Aku menutup mulutku dengan tangan.

Anak kecil nggak boleh disuruh milih.

Om Darto, subuh-subuh, pamit hanya pada Bu Wati. Irvan, dengan pensil di tanganku, di ruang rapat lantai dua puluh tiga. Tetap tulis.

“Mama?”

Aku tidak bisa menjawab. Aku tidak tahu jawabannya. Aku direktur Moris Investment. Aku sudah menjawab ribuan pertanyaan dari investor, dewan komisaris, regulator, wartawan. Aku tidak bisa menjawab satu pertanyaan dari anak lima tahun dengan kumis pensil alis di pipinya.

“Mama kenapa?” Lily menatapku dengan mata besar. “Mama nangis lagi?”

“Nggak, Sayang.”

“Keringetnya telat lagi?”

Aku menariknya ke pangkuanku. Aku memeluknya dengan gambar itu masih di tangannya, terjepit di antara kami.

“Boleh,” bisikku di rambutnya. “Kamu boleh sayang sama siapa aja, Sayang. Sebanyak apa pun.”

“Tapi papa boleh dua?”

Aku tidak menjawab.

Aku hanya memeluknya, dan di balik bahunya, di ujung lorong yang menuju tangga, aku melihat seseorang berdiri di kegelapan.

Kaus putih. Celana tidur motif awan. Kacamata.

Dia berdiri di sana, di anak tangga paling bawah, dengan satu tangan di pegangan kayu. Dia menatap kami. Menatap gambar di tangan Lily. Aku tidak tahu sudah berapa lama dia di sana.

Mata kami bertemu.

Dia tidak tersenyum. Dia hanya menatapku, lama, dengan wajah yang tidak bisa kubaca.

Lalu dia berbalik dan naik tangga. Pelan. Tanpa suara.


Aku menidurkan Lily. Aku membacakan cerita, dan Lily tertidur di tengah cerita dengan gambar keluarga di bawah bantalnya. Dia menyelipkannya di sana sendiri, seperti gambar pertama, lima bulan lalu. Tapi kali ini aku tidak tahu apakah dia menyembunyikannya karena malu, atau karena ingin menyimpannya.

Aku keluar dari kamar Lily dan berdiri di lorong.

Malam ini. Aku sudah bilang pada diriku sendiri di teras lantai tiga puluh dua. Nanti malam. Tiga minggu lalu. Dan tiga minggu itu lewat dengan pintu yang tidak dibuka, pesan yang disimpan di draf, dan ciuman di pipi yang semakin singkat.

Tiga kata. Malam ini.

Aku berjalan ke sayap timur. Pintu kamarnya tertutup. Tidak ada cahaya di bawah pintu.

Aku mengetuk. Tidak ada jawaban.

Aku membuka pintunya sedikit. Kamar itu gelap dan kosong. Ranjangnya rapi. Laptop tertutup di meja. Lampu untuk Pak Mentega mati.

Aku turun ke dapur. Kosong. Teras belakang. Kosong. Ruang keluarga. Kosong.

Lalu aku melihat cahaya dari bawah pintu perpustakaan.


Dia duduk di kursi kulit berlengan, kursi yang biasa diduduki Opa, di depan papan catur marmer. Sendirian. Lampu meja berkap hijau menyala. Bidak-bidak tersusun di papan, putih dan hitam, dalam posisi di tengah permainan yang tidak dimainkan siapa pun.

Dia sedang memegang satu bidak. Memutarnya pelan di antara jari-jarinya.

Pion hitam.

Dia mendongak waktu aku masuk. Dia tidak terkejut. Seolah dia sudah menunggu.

“Clara.”

“Kamu nggak makan.”

“Nggak lapar.”

“Kamu nggak minum susunya tadi siang. Di bangku.”

Dia diam. Dia meletakkan pion hitam itu di papan. Di baris ketujuh. Satu langkah dari ujung.

Aku menarik kursi kulit yang satunya dan duduk di seberangnya. Papan catur di antara kami. Seperti di hari Kamis, waktu dia main dengan Opa dan memilih kuda, bukan menteri.

“Lily gambar dua papa,” kataku.

“Saya lihat.”

“Dia tanya, papa boleh dua nggak.”

“Saya dengar.”

“Aku nggak bisa jawab.”

Dia menatap papan catur. Lampu hijau membuat wajahnya terlihat pucat, dan bayangan kacamatanya jatuh di pipi.

“Nggak ada yang bisa jawab itu, Clara,” katanya pelan. “Itu pertanyaan yang nggak seharusnya ditanyain anak lima tahun.”

“Tapi dia tanya.”

“Iya.” Dia mengangkat kepala. “Makanya harus ada yang bikin supaya dia nggak perlu tanya lagi.”

Aku tidak mengerti. Atau, aku tidak mau mengerti. Aku menatapnya dan menunggu dia menjelaskan, dan dia tidak menjelaskan.

“Irvan,” kataku. “Aku mau bilang sesuatu.”

“Saya juga.”

Aku berhenti. “Kamu duluan?”

Dia menatapku lama. Lalu dia tersenyum. Senyum kecil. Senyum yang, untuk pertama kalinya dalam tiga minggu, menampakkan lesung pipi. Sangat samar. Tapi ada.

“Besok,” katanya. “Saya mau bicara soal map. Yang Clara kasih di restoran.”

Jantungku melompat.

Map. Adendum. Pasal 9: DIHAPUS.

“Kamu udah baca?”

Dia tidak menjawab langsung. Dia menatap papan catur, pion hitam di baris ketujuh.

“Saya udah mutusin,” katanya.

Dia sudah memutuskan. Dia akan bicara soal map. Dan dia tersenyum dengan lesung pipi untuk pertama kalinya dalam tiga minggu.

Aku merasakan lega yang begitu besar sampai dadaku sakit. Dia sudah membacanya. Dia sudah melihat Pasal 9: DIHAPUS. Tiga minggu ini dia diam karena dia sedang memikirkannya, karena dia pria yang membaca kontrak dengan pensil dan anotasi di pinggir halaman, karena dia tidak pernah memutuskan sesuatu dengan terburu-buru.

Dan dia tersenyum.

“Aku juga mau bicara,” kataku. Suaraku gemetar. “Soal sesuatu yang harusnya aku bilang di restoran. Yang nggak jadi aku bilang.”

“Besok,” katanya lagi. “Saya duluan, ya. Besok pagi.”

“Besok pagi aku ke Singapura.”

Dia berkedip. “Singapura?”

“Rapat regulator. Dua hari. Pesawat jam enam pagi. Aku udah bilang minggu lalu di meja makan.” Aku ragu. “Aku bisa batalin. Aku bisa suruh Darren yang berangkat...”

“Jangan.”

Dia mengatakannya terlalu cepat. Aku menatapnya.

“Jangan dibatalin,” katanya lagi, lebih pelan. “Itu penting. Kerjaan Clara penting.”

“Kamu juga penting.”

Dia diam.

“Pulangnya kapan?” tanyanya.

“Senin malam.”

“Senin malam.” Dia mengangguk pelan, seperti mencatat. “Oke. Pas Clara pulang aja. Kita bicara.”

“Kamu yakin? Aku bisa...”

“Saya yakin.” Dia tersenyum lagi. “Saya udah nunggu tiga minggu. Dua hari lagi nggak apa-apa.”


Aku berdiri. Aku mengitari papan catur, tiga langkah, dan berhenti di sampingnya. Dia duduk di kursi kulit Opa. Aku berdiri. Seperti di bangku minimarket, hari aku pertama kali mencium pipinya.

Aku membungkuk. Aku berniat mencium pipinya. Seperti biasa. Seperti setiap malam.

Dia mengangkat tangan dan menyentuh pipiku, menahanku di tempat.

Lalu dia berdiri. Pelan. Sampai dia lebih tinggi dariku. Tangannya di pipiku bergerak ke rahang, ke tengkuk, ke rambutku. Tangan satunya melepas kacamatanya dan meletakkannya di sebelah papan catur, di sebelah pion hitam di baris ketujuh.

Dia menciumku.

Bukan seperti di taman hotel, di mana dia butuh tiga detik untuk membalas. Bukan seperti di gang sempit Kotagede, di mana dia ragu di awal lalu tidak ragu lagi. Dia menciumku seperti orang yang sudah memutuskan sesuatu. Pelan. Dalam. Sangat, sangat pelan, seolah dia ingin mengingat setiap detiknya. Tangannya di tengkukku tidak menarik. Hanya menahan. Ibu jarinya bergerak di sepanjang garis rahangku, dari telinga ke dagu, lalu kembali, seperti orang yang membaca huruf braille.

Aku berpegangan di kausnya. Wangi sabun batang. Aku merasakan jantungnya di bawah telapak tanganku, dan jantungnya berdetak pelan. Tidak cepat seperti di taman hotel. Tidak berlari seperti di gang sempit. Pelan, dan berat, dan teratur.

Seperti jantung orang yang tidak lagi takut.

Waktu dia menarik diri, dia tidak langsung melepaskanku. Dia menempelkan dahinya di dahiku dan diam di sana, dengan mata tertutup, napasnya di bibirku.

“Clara,” katanya pelan.

“Hm.”

Dia tidak melanjutkan. Dia hanya menyebut namaku sekali lagi, lebih pelan, hampir tidak terdengar.

“Clara.”

Lalu dia melepaskanku. Dia mengambil kacamatanya dari sebelah papan catur dan memakainya. Dia menatapku dengan jelas, dari balik lensa yang retak di pojok kiri.

“Hati-hati di Singapura,” katanya.

“Kamu juga. Di sini.”

Dia tersenyum. “Saya nggak ke mana-mana.”


Aku kembali ke kamarku dengan bibir yang masih hangat dan jantung yang tidak mau pelan.

Aku berbaring di ranjang dengan hoodie abu-abunya dan menatap langit-langit. Aku memikirkan senyumnya dengan lesung pipi. Saya udah mutusin. Saya nggak ke mana-mana.

Dia sudah membaca adendum itu. Dia sudah melihat pasal sembilan dihapus. Dia sudah memutuskan. Dan dia menciumku seperti orang yang tidak lagi takut.

Senin malam. Aku akan pulang dari Singapura, dan dia akan bicara duluan, dan setelah dia selesai, aku akan mengatakan tiga kata itu. Langsung. Di depannya. Tanpa pesan singkat. Tanpa map.

Aku memejamkan mata dan tersenyum dalam gelap.

Di meja samping ranjangku, dua gambar krayon. Yang lama, dengan ruang kosong di sebelah kiri. Yang di tengah, dengan sosok berkacamata retak yang tersenyum miring ke kiri.

Aku belum menaruh gambar yang ketiga di sana. Gambar dengan dua papa. Gambar itu masih di bawah bantal Lily.

Aku tidak tahu, malam itu, bahwa ciuman di perpustakaan bukan ciuman orang yang tidak lagi takut.

Itu ciuman orang yang berpamitan.