Chapter Six
Pasal Sembilan
POV: Clara
Aku datang ke TK Pelangi Kecil pukul tiga tepat, lima belas menit sebelum bel pulang. Kali ini aku tidak parkir di bawah pohon ketapang. Aku parkir tepat di depan minimarket.
Bangku besi itu kosong.
Aku duduk di mobil dengan mesin menyala dan memeriksa ponsel tiga kali. Tidak ada pesan. Tentu saja tidak ada. Aku tidak memberinya nomorku. Aku memberinya kontrak sepuluh halaman dan satu kalimat tulisan tangan yang kutulis jam satu pagi dan kusesali jam satu lewat lima menit.
Mungkin dia membacanya dan menganggapku gila. Perempuan asing mengambil remah roti dari rambutnya lalu menawarkan jabatan papa. Kalau aku di posisinya, aku sudah pindah kontrakan.
Pintu otomatis minimarket terbuka. Mas Ucup, kasir yang kukenali dari laporan Sinta, keluar membawa sapu. Dia melihat mobilku, melihatku di balik kaca, lalu dengan sangat tidak halus mengangkat dua jempol dan mengangguk-angguk. Aku tidak tahu itu artinya apa. Aku memilih untuk tidak mencari tahu.
Bel sekolah berbunyi.
Anak-anak keluar seperti biasa, riuh dan warna-warni. Aku turun dari mobil dan berjalan ke gerbang. Hari ini aku memakai setelan kerja lengkap karena ada rapat pukul lima yang tidak bisa dipindah: blazer biru tua, rok pensil senada, sanggul rendah. Beberapa ibu yang menjemput menoleh dua kali. Seorang ayah muda menabrak tiang gerbang. Aku sudah terbiasa. Aku melewati mereka seperti melewati papan reklame.
Lily keluar paling akhir, seperti biasa. Tapi hari ini dia tidak berlari.
Dia berjalan pelan dengan kepala menunduk, tas kelincinya menyeret di satu bahu. Di belakangnya, dua langkah di belakang, ada Kenzo. Kenzo tinggi untuk umurnya, rambutnya diberi gel sampai berdiri kaku, dan dia memegang selembar kertas.
Aku mengenali kertas itu. Gambar krayon. Pria berhoodie dari belakang, menggendong anak kecil. Kucing oranye membawa koper.
“Ini bohong,” kata Kenzo, cukup keras untuk didengar semua orang di sekitar gerbang. “Papa kamu nggak ada. Ini cuma gambar orang lewat.”
“Kembaliin,” kata Lily.
“Nggak mau. Kata mama aku, anak yang papanya kabur itu anak yang nggak diinginkan.”
Langkahku berhenti.
Di belakang Kenzo, dengan kacamata hitam besar dan tas yang berkilau, Bu Vanya tertawa kecil. Bukan tawa keras. Tawa pendek yang ditutup dengan telapak tangan, seolah dia terkejut anaknya bisa selucu itu.
“Kenzo, ih, jangan gitu,” katanya, dengan nada yang jelas-jelas tidak melarang.
Lily merebut kertasnya. Kenzo menariknya balik. Kertas itu robek di tengah, tepat di antara pria berhoodie dan kucing oranye.
Semuanya berhenti.
Lily memandangi setengah gambar di tangannya. Dia tidak menangis. Dia menggigit bibir bawahnya keras-keras, persis seperti yang kulakukan kalau tidak mau menangis di depan orang, dan aku merasakan sesuatu di dalam diriku retak, lebih bersih dan lebih dalam daripada robekan kertas itu.
Aku melangkah maju. Aku belum tahu apa yang akan kukatakan pada Bu Vanya, tapi aku tahu itu akan jadi kalimat yang dibahas di grup WhatsApp orang tua murid selama satu semester.
Seseorang mendahuluiku.
Dia datang dari arah minimarket. Hoodie abu-abu, celana tidur kotak-kotak, sandal jepit yang berbunyi di paving. Aku tidak melihatnya datang. Dia pasti ada di dalam minimarket, di balik rak, di tempat yang tidak terlihat dari jalan.
Irvan tidak melihat Kenzo. Dia tidak melihat Bu Vanya. Dia berjongkok di depan Lily sampai matanya sejajar dengan mata anakku, lalu mengulurkan tangan.
“Boleh Om lihat?”
Lily menyerahkan setengah gambar itu tanpa bicara.
Irvan memandanginya. Lalu dia menoleh ke Kenzo, masih berjongkok, dan mengulurkan tangan lagi. Tidak marah. Tidak mengancam. Hanya tangan terbuka, telapak ke atas.
“Yang setengahnya, boleh?”
Kenzo mundur selangkah dan menatap ibunya. Bu Vanya menurunkan kacamata hitamnya sedikit, menilai hoodie pudar dan celana tidur itu dengan tatapan yang sudah kukenal, tatapan yang menghitung harga.
“Maaf, Anda siapa?” tanyanya.
Aku menunggu. Semua orang di gerbang menunggu. Aku bisa merasakan puluhan pasang mata, ibu-ibu, pengasuh, Bu Ratna di ambang pintu kelas, Pak Karto di samping mobil hitam.
Irvan tidak langsung menjawab. Dia menerima setengah gambar dari tangan Kenzo, karena Kenzo, di bawah tatapan pria dewasa yang tenang, akhirnya menyerahkannya. Dia menyatukan dua potongan itu. Dia merogoh saku hoodie dan mengeluarkan... selotip. Selotip bening kecil, jenis yang dipakai di kantor untuk menempel label kabel.
Dia menempelkan robekan itu dengan hati-hati. Satu potong, dua potong, tiga potong. Pria berhoodie dan kucing oranye tersambung lagi. Sambungannya tidak sempurna. Ada garis mengilap di tengah, dan pinggirnya sedikit tidak rata.
“Nah,” katanya pada Lily. “Sekarang ada bekas lukanya. Jadi kelihatan lebih keren.”
Lily menatap gambar itu, lalu menatapnya.
Irvan berdiri dan akhirnya menoleh ke Bu Vanya.
“Saya yang ada di gambar ini, Bu,” katanya. Suaranya tetap datar, tetap sopan. “Kalau Ibu mau tahu.”
Bu Vanya membuka mulut. Menutupnya lagi. Lalu matanya bergerak melewati bahu Irvan dan menemukanku, berdiri tiga langkah di belakang dengan blazer biru tua, dan aku melihat wajahnya melakukan perhitungan ulang yang sangat cepat.
“Oh,” katanya. “Bu Clara. Ini... suami Ibu?”
Irvan menoleh. Dia baru sadar aku di sana. Matanya melebar di balik kacamata yang retak, lalu, untuk sepersekian detik, aku melihatnya memutuskan sesuatu.
Tapi aku yang bicara lebih dulu.
“Calon,” kataku. Aku berjalan melewati Bu Vanya dan berdiri di samping Irvan. Dekat. Bahuku hampir menyentuh lengannya. “Maaf, Bu Vanya, kami buru-buru. Lily, ayo.”
Lily menggenggam gambar tempelannya di satu tangan, lalu mengulurkan tangan satunya. Bukan padaku. Pada Irvan.
Irvan memandangi tangan kecil itu seperti memandangi sesuatu yang sangat berat. Lalu dia menggenggamnya.
Kami berjalan ke mobil. Bertiga. Aku tidak menoleh ke belakang, tapi aku bisa merasakan tatapan Bu Vanya di punggungku seperti matahari siang. Dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun, rasanya tidak panas. Rasanya hangat.
Pak Karto membawa Lily pulang. Aku menyuruhnya membeli es krim di jalan, dua scoop, cokelat dan stroberi, dan menyuruhnya tidak bilang pada Bi Inah.
Lalu aku berdiri di trotoar di depan minimarket bersama Irvan. Kami tidak duduk. Kami berdiri seperti dua orang yang baru saja ikut perampokan bank tanpa perencanaan.
“Calon,” katanya akhirnya.
“Kamu yang bilang ‘saya yang ada di gambar ini’.”
“Itu bukan bohong. Hoodie-nya memang hoodie saya.”
“Dan ‘calon’ juga bukan bohong.” Aku menatapnya. “Kalau kamu tanda tangan, kamu memang calon.”
Dia menggaruk tengkuk. Telinganya mulai merah lagi, dan kali ini tidak ada pendingin udara minimarket yang bisa disalahkan.
“Kenapa kamu bawa selotip?” tanyaku.
“Buat kabel. Kebiasaan.”
“Kamu keluar dari minimarket bawa selotip.”
“Saya lihat Kenzo ambil gambarnya dari jauh. Saya pikir... mungkin bakal robek.” Dia mengangkat bahu. “Anak-anak kayak Kenzo biasanya nggak berhenti di ngambil.”
Aku memandanginya lama. Pria ini melihat anakku akan disakiti dari balik rak minimarket, dan yang dia persiapkan bukan kemarahan. Yang dia persiapkan selotip.
“Map kamu,” kataku. “Sudah dibaca?”
Dia mengangguk.
“Dan?”
Irvan melepas kacamata dan mengusap matanya. Itu kebiasaannya, aku mulai menyadarinya, saat dia perlu bicara jujur tapi tidak mau melihat terlalu jelas.
“Saya terima,” katanya. “Dengan syarat.”
Kami bicara di ruanganku, di lantai dua puluh tiga, pukul tujuh malam setelah rapat pukul lima. Aku menyuruh Sinta menjemputnya dengan mobil kantor.
Satpam di lobi menahannya selama sepuluh menit karena, menurut laporan Sinta, “Subjek datang dengan sandal jepit dan satpam mengira beliau kurir yang salah gedung.” Sinta harus menunjukkan kartu identitasnya sendiri dan mengucapkan “Beliau tamu pribadi Bu Direktur” dengan cukup keras sampai seluruh lobi mendengarnya. Kabarnya besok pagi sudah akan sampai di pantry lantai dua puluh.
Irvan duduk di kursi tamu di depan mejaku dengan canggung, seperti anak SMA dipanggil ke ruang kepala sekolah. Hoodie-nya kontras sekali dengan sofa kulit Italia dan lukisan abstrak seharga rumah di dinding belakangku. Sinta berdiri di pojok dengan tablet, siap mencatat.
“Syaratnya,” kataku.
Dia mengeluarkan map krem dari tas laptopnya. Map itu penuh coretan pensil. Dia sudah membacanya dengan cermat, bahkan memberi anotasi di pinggir halaman, seperti sedang me-review kode.
“Pertama, pasal enam. Kompensasi.” Dia menunjuk angkanya. “Setengah saja, Bu.”
Sinta berhenti mengetik.
“Kamu minta dikurangi?”
“Saya masih kerja buat klien saya. Saya nggak kehilangan penghasilan. Saya cuma pindah tempat tinggal.” Dia menatap kertas itu, bukan aku. “Dan saya nggak mau Lily jadi pekerjaan.”
“Irvan, itu bukan cara negosiasi.”
“Saya bukan orang negosiasi, Bu. Saya orang yang nyari celah.” Dia menulis sesuatu di pinggir kertas. “Setengah.”
Aku menatap Sinta. Sinta menatapku dengan mata yang jelas mengatakan anomali statistik.
“Setengah,” kataku. “Lanjut.”
“Kedua. Lily harus tahu.”
“Tahu apa?”
“Kalau ini sandiwara.” Dia akhirnya mendongak. “Nggak usah pakai kata ‘sandiwara’. Dia lima tahun. Tapi dia harus tahu saya Om Kacamata yang tinggal di rumahnya dan antar-jemput dia. Bukan papanya yang tiba-tiba muncul dari luar negeri. Saya nggak mau bohong sama dia. Ke orang lain terserah Ibu. Ke Lily, jangan.”
Ruangan hening sesaat.
Aku memikirkan semua skenario yang sudah Sinta susun. Naskah perkenalan untuk Lily. Cerita tentang “Papa yang selama ini kerja jauh”. Tiga versi dialog, dengan tingkat keharuan berbeda.
Lalu aku memikirkan Lily yang menyembunyikan gambar di bawah bantal karena takut dibilang bohong.
“Setuju,” kataku.
Sinta menghapus sesuatu di tabletnya dengan helaan napas kecil. Tiga versi naskah hilang begitu saja.
“Ketiga.” Irvan membalik ke halaman terakhir. “Saya mau tambah pasal.”
“Kamu mau menambah?”
“Satu aja.”
Dia menyodorkan map itu padaku. Di bawah pasal delapan, di bawah kalimat tulisan tanganku dengan tinta biru yang membuatku ingin menarik diri dari kursi dan menghilang, dia menulis dengan pensil. Tulisannya kecil, rapi, dan miring ke kanan, tulisan seseorang yang lebih terbiasa mengetik.
Pasal 9: Apabila ayah kandung anak kembali dan berniat mengambil peran, Pihak Kedua mengundurkan diri.
Aku membacanya dua kali.
“Kenapa?”
“Karena kalau papanya pulang, Lily nggak butuh saya.”
“Ayah kandungnya tidak akan pulang.”
“Mungkin.” Dia menatap kertas itu. “Tapi kalau pulang, saya nggak mau jadi alasan dia bingung harus milih siapa. Anak kecil nggak boleh disuruh milih.”
Suaranya berubah waktu mengucapkan kalimat terakhir. Hanya sedikit. Seperti ada kerikil di dalamnya. Aku menunggu dia melanjutkan, tapi dia tidak melanjutkan.
“Kamu bicara lagi seperti orang yang tahu rasanya,” kataku.
Dia tersenyum tipis, tanpa lesung pipi. “Semua orang tahu rasanya disuruh milih, Bu. Minimal milih nasi padang atau nasi goreng.”
Itu mengelak. Aku tahu, dan dia tahu aku tahu. Tapi aku tidak menekan. Ada pintu-pintu yang hanya boleh dibuka dari dalam.
“Kalau Reza pulang,” kataku, dan nama itu terasa asam di mulutku setelah sekian lama tidak kuucapkan, “aku sendiri yang akan menendangnya keluar dari pagar.”
“Tetap tulis, Bu.”
“Irvan...”
“Tetap tulis.”
Aku memandangi pria keras kepala di depanku, dengan hoodie pudarnya dan kacamata retaknya dan anotasi pensil di kontrak senilai ratusan juta. Lalu aku mengambil pena dan menulis ulang pasal sembilan dengan tinta biru, tepat di atas tulisan pensilnya, persis seperti yang dia minta.
“Sinta, ketik ulang.”
“Siap, Bu.”
“Kalau begitu,” kataku sambil menutup pena, “aku juga mau menambah satu pasal.”
Irvan mengangkat alis.
Aku mengambil map itu kembali dan menulis di bawah pasal enam, di ruang kosong yang memang sengaja kusisakan. Aku menulisnya perlahan, dengan tulisan tangan terbaikku, lalu memutar map itu ke arahnya.
Pasal 7: Para Pihak dilarang saling jatuh cinta.
Irvan membacanya. Lalu membacanya lagi. Telinganya, yang sempat kembali ke warna normal selama pembahasan pasal sembilan, kini berubah merah dari cuping sampai ke pangkal rambut.
“Bu.”
“Ya?”
“Ini... perlu?”
“Sangat perlu.” Aku bersandar ke kursi dan menyilangkan kaki. Pelan. “Kita akan tinggal serumah. Sarapan bersama. Menjemput anak bersama. Bergandengan tangan di depan ibu-ibu yang suka menilai. Secara statistik, risikonya tinggi.”
“Risiko... siapa?”
“Kamu, tentu saja.”
Dia menatapku. Aku menatapnya balik dengan wajah paling datar yang pernah kupakai di rapat dewan komisaris.
“Kenapa saya?”
“Karena,” kataku, “aku sudah pernah menikah. Aku sudah kebal. Kamu yang tiga foto Instagram-mu kucing, mesin jahit, dan bakso.”
Di pojok ruangan, Sinta tersedak ludahnya sendiri dan harus berbalik menghadap jendela.
Irvan membuka mulut, menutupnya, lalu membukanya lagi. “Bu Clara.”
“Ya, Irvan?”
“Bakso itu... bakso yang enak.”
“Kamu sudah bilang.”
“Saya cuma mau menegaskan.”
Aku tertawa. Aku tidak berniat tertawa. Tawa itu keluar begitu saja dari suatu tempat yang sudah lama tidak kubuka, pendek dan tidak anggun, dan aku harus menutup mulut dengan punggung tangan. Irvan memandangiku dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca. Kaget, mungkin. Atau sesuatu yang lebih lembut dari kaget.
“Pasal tujuh tetap ada,” kataku setelah tawaku reda. “Tidak bisa ditawar.”
“Saya nggak mau nawar.”
“Bagus.”
“Saya cuma nggak yakin,” katanya pelan sambil mengambil pena yang kusodorkan, “yang harus dilindungi pasal ini cuma saya.”
Pena itu berhenti di atas kertas selama satu detik, sebelum dia menandatangani namanya di bawah namaku. Satu detik yang cukup panjang untuk membuat pertanyaannya menggantung di udara ruangan ber-AC ini seperti asap.
Aku tidak menjawab. Aku menandatangani salinan kedua dengan tangan yang, secara mengejutkan, tidak sepenuhnya stabil.
Sinta mengantarnya turun. Aku berdiri di jendela lantai dua puluh tiga dan memandangi Jakarta malam, lampu-lampu mobil yang mengalir seperti sungai merah dan putih di jalan Sudirman.
Ponselku bergetar. Nomor tidak dikenal.
Bu, ini Irvan. Sinta kasih nomor Ibu. Katanya “untuk keperluan operasional”.
Lalu satu pesan lagi.
Soal pasal 7. Saya akan berusaha sebaik mungkin, Bu.
Aku menatap layar itu lama. Lalu aku mengetik balasan, menghapusnya, mengetik lagi, dan menghapusnya lagi.
Akhirnya aku menulis:
Aku tahu. Makanya aku menulisnya.
Aku menekan kirim sebelum aku sempat berpikir bahwa kalimat itu bisa dibaca dengan dua cara, dan aku tidak yakin cara mana yang kumaksud.
- 1 Gambar Tanpa Papa
- 2 Proyek P.A.P.A.
- 3 Om Kacamata
- 4 Laporan Intelijen Sinta
- 5 Tawaran di Bangku Minimarket
- 6 Pasal Sembilan reading
- 7 Dua Kardus dan Satu Monitor
- 8 Makan Malam Keluarga Moris
- 9 Gerbang TK
- 10 Menantu Idaman Berhoodie
- 11 Skakmat
- 12 Rapat Orang Tua
- 13 Jam Tiga Pagi
- 14 Hampir
- 15 Darren Menantang
- 16 Hari Orang Tersayang
- 17 Lily Demam
- 18 Hoodie Abu-Abu
- 19 Pasal yang Mau Kulanggar
- 20 Kacamata Berembun
- 21 Ulang Tahun Opa
- 22 Yang Tidak Setara
- 23 Ciuman Pertama
- 24 Pulang ke Yogya
- 25 Cerita Om Darto
- 26 Kepala Keluarga Sementara
- 27 Perpanjangan Kontrak
- 28 Tamu dari Toronto
- 29 Papa Beneran
- 30 Proposal Kerja Sama
- 31 Dua Kursi di Pentas Seni
- 32 Papa Boleh Dua?
- 33 Pasal Sembilan Berlaku
- 34 Rumah Tanpa Hoodie
- 35 Pergi demi Kebaikan
- 36 Om Darto
- 37 Operasi Jemput Papa
- 38 Belum Beres
- 39 Tanpa Pasal
- 40 Papa
- 41 Epilog — Tugas yang Tak Pernah Beres