Chapter Seven
Dua Kardus dan Satu Monitor
POV: Irvan
Seluruh hidupku muat dalam dua kardus bekas mi instan dan satu monitor dua puluh tujuh inci.
Aku tidak menyadari betapa sedikitnya barangku sampai Sinta datang hari Sabtu pagi dengan mobil van yang cukup besar untuk memindahkan satu keluarga beserta lemari jatinya. Dia turun dengan setelan kasual yang tetap terlihat seperti setelan kantor, papan klip di tangan, dan kacamata hitam di kepala.
Dia menatap dua kardus di depan pintu kontrakanku. Lalu menatap ke dalam kontrakan yang sudah kosong, kecuali kasur lipat yang kukembalikan ke Bu Haji Romlah dan kipas angin yang terkenal itu.
“Ini semuanya, Mas?”
“Sama monitor.”
“Lemari?”
“Punya Bu Haji.”
“Kasur?”
“Punya Bu Haji.”
“Kipas angin?”
“Itu punya saya, tapi saya kasih ke Bu Haji. Beliau suka.”
Sinta mencatat sesuatu di papan klipnya. Dari sudut mataku, aku sempat membaca: Subjek: minimalis ekstrem / bisa juga miskin estetika. Perlu observasi.
Bu Haji Romlah berdiri di teras dengan mukena masih terpasang dan mata berkaca-kaca. “Mas Irvan, beneran pindah? Nanti yang benerin wifi sini siapa?”
“Saya udah pasang repeater baru, Bu. Kalau mati, cabut terus colok lagi.”
“Terus yang ngangkat galon siapa?”
“Mas Ucup, Bu. Saya udah titip.”
Bu Haji menggenggam tanganku dengan dua tangan dan berbisik, cukup keras untuk didengar Sinta, “Mas, kalau di sana ada apa-apa, pulang aja ke sini. Kamar nggak Ibu sewain dulu sebulan.”
Aku tidak tahu harus bilang apa. Aku cuma mengangguk.
Di dalam van, Sinta menyerahkan sebuah map. Map lagi. Aku mulai curiga seluruh keluarga Moris dan orang-orang di sekitarnya berkomunikasi dengan map.
“Ini, Mas. Wajib dibaca sebelum Minggu malam.”
Sampulnya bertuliskan: SKENARIO HUBUNGAN v3.2 — SOP SANDIWARA KELUARGA MORIS (RAHASIA)
“Versi tiga koma dua?”
“Versi satu sampai tiga koma satu sudah saya revisi berdasarkan masukan Bu Clara, Mas. Beliau menolak cerita kita ketemu di acara amal. Katanya terlalu klise.” Sinta memasang kacamata hitam. “Sekarang ceritanya, Mas dan Bu Clara bertemu delapan bulan lalu di kafe dekat kantor. Mas konsultan IT yang dipanggil karena sistem kafenya error. Bu Clara terkesan. Kalian diam-diam dekat karena Bu Clara ingin memastikan dulu sebelum mengenalkan ke Lily dan keluarga.”
“Saya nggak pernah benerin sistem kafe dekat kantor Ibu Clara.”
“Sudah, Mas. Tanggal dua belas Februari. Kafe Seduh Sembilan. Saya sudah koordinasi dengan pemiliknya. Kalau ada yang tanya, beliau akan bilang Mas pernah datang.” Sinta tersenyum manis. “Beliau adik ipar tante saya.”
“Sinta.”
“Ya, Mas?”
“Kamu nggak capek?”
“Mas,” katanya dengan kesungguhan yang membuatku sedikit takut, “ini proyek terpenting dalam karier saya.”
Rumah keluarga Moris ada di kawasan Pondok Indah, di jalan yang sepi dan lebar dengan pohon-pohon besar di sepanjang trotoar. Pagarnya hitam, tinggi, dan otomatis. Halamannya luas dengan air mancur kecil di tengah. Rumahnya dua lantai bercat putih gading, dengan jendela-jendela tinggi dan pintu kayu besar yang terlihat lebih tua dari umurku.
Aku menatap rumah itu dari balik kaca van dan merasa seperti programmer junior yang tiba-tiba diminta presentasi di depan dewan direksi.
“Pak Hendra dan Bu Lusiana sedang di Bandung sampai besok sore, Mas,” kata Sinta. “Pak Darren di luar kota, futsal antar-kantor. Jadi hari ini Mas punya waktu untuk adaptasi. Makan malam keluarga besok jam tujuh. Mohon hafalkan SOP.”
“Siap.”
“Dan Mas,” Sinta menoleh, tatapannya berubah serius, “Pak Hendra itu... teliti. Beliau pernah membatalkan akuisisi senilai dua triliun karena CEO-nya salah menyebut nama istrinya sendiri.”
Aku menelan ludah.
Pintu kayu besar itu terbuka sebelum van berhenti sepenuhnya.
Sesuatu yang kecil, berkuncir dua, dan bersuara seperti peluit kereta api melesat keluar.
“OM KACAMATAAAA!”
Lily menabrak kakiku begitu aku turun dari van. Dia memeluk lututku dengan kedua lengan dan mendongak dengan wajah yang bersinar-sinar seperti lampu bohlam seratus watt.
“Om beneran dateng! Om beneran tinggal di sini! Kata Mama, Om tinggal di sini setiap hari!”
“Setiap hari,” kataku. Kata itu terasa besar di mulutku.
“Kamar Om di sebelah perpustakaan Opa! Ada jendelanya gede! Terus ada kamar mandinya sendiri! Terus Pak Mentega juga udah pindah ke kamar Om!”
“Pak Mentega pindah?”
“Soalnya dia kucing laki-laki. Dia maunya sama laki-laki.” Lily menarik tanganku. “Ayo! Ayo! Aku tunjukin semuanya!”
Lily memberiku tur yang tidak pernah bisa ditandingi agen properti mana pun.
“Ini ruang tamu. Jangan duduk di sofa yang itu, itu sofanya Opa, kalau duduk di situ nanti Opa ngeliatin.” “Ini ruang makan. Mejanya panjang banget, kayak di film raja-raja.” “Ini dapur. Ini Bi Inah.” “Ini kulkas. Ada susu stroberi. Aku minta Bi Inah beli banyak buat Om.”
Bi Inah berdiri di dapur dengan celemek bermotif bunga, memandangiku dari ujung rambut sampai sandal jepit dengan intensitas seorang agen imigrasi.
“Jadi ini,” katanya pelan, “calonnya Non Clara.”
“Selamat pagi, Bi. Irvan.”
“Hmm.” Bi Inah mendekat, mengendus udara di sekitarku seperti anjing pelacak, lalu mengangguk. “Wangi sabun batang. Bukan parfum. Bagus. Laki-laki yang pakai parfum kebanyakan itu nyembunyiin sesuatu.”
“Ma-makasih, Bi?”
“Suka sambal?”
“Suka, Bi.”
“Pedes banget?”
“Sepedes-pedesnya.”
Bi Inah menyipitkan mata. “Kita lihat besok.”
Lalu dia berbalik ke kompor, dan aku tidak tahu apakah aku baru saja lulus ujian atau baru saja mendaftar untuk ujian yang jauh lebih berat.
Lily menarikku ke tangga. “Terus di atas ada kamar aku, kamar Mama, kamar Om Darren, sama kamar Om. Tapi kamar Om jauh. Mama bilang, sayap timur. Aku nggak tahu sayap timur itu apa. Rumahnya kan nggak punya sayap.”
“Itu cuma nama buat bagian rumah.”
“Kenapa bagian rumah dikasih nama sayap?”
“Biar kedengarannya mahal.”
Lily tertawa, dan di puncak tangga, seseorang ikut tertawa. Pelan dan rendah.
Aku mendongak.
Bu Clara berdiri di puncak tangga dengan satu tangan di pegangan kayu.
Dan dia bukan Bu Clara yang kukenal.
Dia memakai kaus oversized putih yang terlalu besar, sampai salah satu bahunya melorot dan memperlihatkan tulang selangka dan kulit putih langsat yang halus di bawahnya. Celana piyama satin berwarna abu-abu muda. Kakinya telanjang, kukunya dicat merah muda pucat. Rambutnya dicepol asal di puncak kepala dengan jepit rambut besar berwarna cokelat, beberapa helai lolos dan jatuh di leher dan pipinya.
Wajahnya tanpa riasan sama sekali.
Aku pernah membaca di suatu tempat bahwa riasan itu seperti framework: mempermudah, tapi yang menentukan tetap kode dasarnya. Kode dasar Bu Clara tidak membutuhkan framework. Tanpa lipstik merah bata, bibirnya berwarna merah muda alami, lebih lembut, sedikit kering di tengah seperti baru bangun. Kulitnya bersih, dengan semburat merah samar di pipi. Alisnya tetap tegas tanpa pensil. Bulu matanya tetap panjang tanpa maskara. Matanya sedikit sembap di bawah, tanda tidur yang terlalu pendek, dan entah kenapa itu membuatnya terlihat lebih manusia, lebih dekat, lebih... bisa disentuh.
Dan tahi lalat kecil di dekat sudut bibir kirinya terlihat lebih jelas daripada kapan pun, karena tidak ada warna merah bata yang bersaing dengannya.
Dia terlihat sepuluh tahun lebih muda dan seribu kali lebih berbahaya.
“Kamu datang,” katanya.
“Saya... datang, Bu.”
Dia turun dua anak tangga, pelan. Aku tidak bergerak. Lily menarik-narik tanganku, tapi otakku sedang sibuk menjalankan proses yang tidak bisa dihentikan dengan Ctrl+C.
“Kenapa kamu lihatin aku kayak lihatin bug?” tanyanya.
“Saya... nggak lihatin, Bu.”
“Kamu lihatin.” Dia berhenti satu anak tangga di atasku, jadi mata kami hampir sejajar. Wangi vanila itu ada lagi, lebih samar, bercampur wangi sampo dan sesuatu seperti teh. “Kenapa? Nggak pernah lihat perempuan tanpa make-up?”
“Pernah. Ibu saya.”
Sunyi sebentar.
Lalu dia tertawa, tawa pendek yang sama seperti di kantornya, tawa yang dia tutup dengan punggung tangan seolah malu ketahuan. Bahu kausnya melorot sedikit lagi. Aku mengalihkan pandangan ke lukisan di dinding tangga, lukisan pemandangan gunung yang, aku yakin, sangat mahal dan sangat tidak menarik dibandingkan bahu itu.
“Om Kacamata merah,” kata Lily dengan nada informatif.
“Kepanasan, Neng.”
“Rumahnya dingin, Om. AC-nya nyala semua.”
“AC-nya... fluktuatif.”
Bu Clara berhenti tertawa. Dia menatapku, dan di matanya aku melihat bahwa dia ingat. Fluktuatif. Kata yang dia simpan di bangku minimarket untuk dipakai lagi nanti.
“Bi Inah,” katanya tanpa memalingkan tatapan dariku, “tolong kecilkan AC di tangga. Mas Irvan kepanasan.”
“Nggak usah, Bu...”
“Mas,” katanya lagi, pelan, dan kata itu, cara dia mengucapkannya, satu suku kata dengan nada yang turun di ujung, membuatku lupa bahwa aku sedang memegang tangan anak lima tahun, “kamarmu di sayap timur. Pintu ketiga dari kanan. Kalau butuh apa-apa, kamarku di sayap barat.”
Dia turun melewatiku. Bahunya menyentuh lenganku sebentar, singkat sekali, dan dia terus berjalan ke dapur seolah tidak terjadi apa-apa.
“Om,” bisik Lily, menarik tanganku sampai aku harus membungkuk, “Om sama Mama berantem, ya?”
“Nggak, Neng.”
“Terus kenapa muka Om kayak abis dimarahin?”
Aku tidak punya jawaban untuk itu.
Malam itu, setelah makan malam yang dimasak Bi Inah dengan sambal yang jelas sengaja dibuat tiga kali lebih pedas dari seharusnya, dan setelah aku menghabiskannya tanpa minum sampai Bi Inah mengangguk dengan hormat yang enggan, Bu Clara dan aku duduk di meja dapur.
Di antara kami ada dua cangkir teh dan map SOP versi tiga koma dua.
“Kafe Seduh Sembilan,” katanya. “Tanggal dua belas Februari. Kamu datang jam berapa?”
“Jam... dua siang?”
“Salah. Jam sebelas pagi. Aku sedang meeting dengan klien dan sistem pembayaran kafenya mati.”
“Kenapa saya yang dipanggil?”
“Karena pemiliknya kenal kamu dari...” Dia membalik halaman. “Dari tetangga sepupunya. Ya ampun, Sinta.”
“Terus Ibu... terkesan?”
“Aku terkesan karena kamu memperbaiki sistem dalam lima belas menit dan menolak dibayar.” Dia berhenti. Lalu tersenyum kecil. “Itu bagian yang ditambahkan Sinta. Dan menurutku itu bagian paling masuk akal.”
Aku meneguk teh. Terlalu panas. Aku tidak peduli.
“Terus kita... gimana? Pertama kali?”
“Pertama kali apa?”
“Pertama kali... dekat. Kalau Opa nanya.”
Dia menutup map dan menatapku dari seberang meja. Lampu dapur yang kuning menyorot wajahnya dari atas, membuat bayangan lembut di bawah tulang pipinya.
“Coba panggil aku ‘Sayang’,” katanya.
Teh di tenggorokanku berbelok ke arah yang salah.
“Uhuk... Bu...”
“Kalau Opa tanya, kamu harus bisa panggil aku ‘Sayang’ tanpa tersedak.” Dia menopang dagu dengan satu tangan. “Latihan.”
“Saya... nggak bisa, Bu.”
“Kenapa?”
“Karena... pasal tujuh.”
Alisnya terangkat. “Memanggil ‘Sayang’ itu jatuh cinta?”
“Buat saya iya.”
Dia diam.
Aku sadar apa yang baru saja kukatakan satu detik setelah kalimat itu keluar. Terlambat. Kode sudah di-push ke produksi, dan tidak ada tombol rollback.
Bu Clara memandangiku lama. Ekspresinya tidak terbaca, tapi ujung jarinya mengetuk-ngetuk cangkir teh dengan ritme pelan. Satu. Dua. Tiga.
“Kalau begitu,” katanya akhirnya, “panggil aku ‘Clara’ saja.”
“Itu... masih terlalu...”
“Irvan.” Suaranya lembut sekarang. Lebih lembut dari yang pernah kudengar. “Satu tahun. Kamu mau panggil aku ‘Bu’ di depan Opa selama satu tahun?”
“Saya... usahakan belajar.”
“Kapan?”
“Nanti.”
“Kapan nanti?”
“Kalau saya udah nggak takut sama Ibu.”
Dia tertawa lagi. Tawa ketiga hari ini. Aku menghitungnya, dan aku tidak tahu kenapa aku menghitungnya.
Kamar di sayap timur lebih besar dari seluruh kontrakanku. Ranjang king size dengan seprai putih yang terlalu rapi untuk ditiduri, meja kerja besar di bawah jendela, dan lemari yang isinya hanya lima kaus, dua celana tidur, satu celana jins, satu kemeja batik untuk kondangan, dan satu hoodie abu-abu.
Aku memasang monitor di meja. Menyambungkan laptop. Mengecek koneksi internet, yang cepatnya membuatku hampir menangis.
Ponselku bergetar. Ibu.
“Le? Wis tekan?”
“Sampun, Bu.”
“Rumahnya bagus? Majikanmu baik?”
Aku bilang pada Ibu aku pindah karena dapat proyek jangka panjang di rumah klien. Bukan bohong. Hanya tidak lengkap. Seperti pasal sembilan yang kutulis dengan pensil.
“Baik, Bu. Anaknya lucu.”
“Oalah, ada anaknya? Sing sabar, Le. Anak kecil itu kayak sulaman, nggak bisa ditarik-tarik.”
“Iya, Bu.”
Jeda. Aku mendengar suara mesin jahit berhenti di latar belakang.
“Le, Om Darto nanyain terus. Katanya kapan pulang. Katanya bengkelnya mau dicat ulang, mau minta pendapatmu warnanya.”
Aku diam.
“Le?”
“Salam balik buat Om Darto, Bu.”
“Kamu masih...” Ibu menghela napas. “Yo wis. Nanti Ibu sampaikan.”
Setelah telepon ditutup, aku duduk di tepi ranjang yang terlalu besar dan memandangi dinding. Om Darto ingin mendengar pendapatku soal warna cat bengkel. Om Darto, yang dulu mengajariku membongkar karburator di bengkel yang sama, yang dulu kupanggil “Bapak” di depan teman-teman sekolahku sampai hari dia pergi tanpa pamit.
Aku belum pernah menanyakan kenapa dia pergi. Aku tidak perlu bertanya. Aku sudah tahu jawabannya. Karena bapak asliku pulang, dan pengganti tidak dibutuhkan lagi.
Itu masuk akal. Itu yang benar. Itu yang akan kulakukan kalau aku di posisinya.
Itu yang kutulis di pasal sembilan.
Pukul sebelas malam, pintu kamarku diketuk tiga kali. Pelan.
Aku membukanya. Lily berdiri di sana dengan piyama kelinci, rambut berantakan, dan kedua tangan terkatup di depan dada, seolah sedang memegang sesuatu yang tidak kelihatan.
“Om,” bisiknya, “Pak Mentega takut sendirian.”
Aku melirik tangannya yang kosong. “Pak Mentega?”
“Iya. Dia baru pindah. Dia belum kenal kamarnya. Dia nangis.” Lily menatapku dengan mata besar yang sangat serius. “Boleh Pak Mentega tidur di sini? Sama aku? Sebentar aja?”
Aku berjongkok. “Neng, Pak Mentega kucing laki-laki. Kucing laki-laki harus berani.”
“Tapi dia masih kecil.”
“Tadi siang katanya dia kucing dewasa. Punya harga diri.”
Lily cemberut. Bibir bawahnya maju. “Itu tadi siang.”
Di ujung lorong, sebuah pintu terbuka. Cahaya kuning dari kamar di sayap barat jatuh ke lantai kayu, dan Bu Clara muncul dengan kaus oversized yang sama, rambut kini tergerai sepenuhnya sampai ke punggung, hitam dan bergelombang dan berkilau di bawah lampu lorong yang temaram.
Dia berjalan menyusuri lorong dengan kaki telanjang tanpa suara, lalu berhenti di belakang Lily. Dia memandangiku, memandangi Lily, memandangi tangan Lily yang kosong, dan memahami semuanya dalam dua detik.
“Lily,” katanya. “Pak Mentega biar di sini sama Om. Kamu sama Mama.”
“Tapi Pak Mentega...”
“Om Kacamata akan jaga Pak Mentega.” Bu Clara menatapku. “Iya, kan, Om?”
“Iya. Om jaga.” Aku mengulurkan kedua tanganku, telapak ke atas. Lily memindahkan kucing khayalan itu ke tanganku dengan kehati-hatian seseorang yang menyerahkan bayi. Aku menangkupkan tanganku seolah menerima sesuatu yang berbulu dan bernapas. “Om taruh di kasur. Di bantal yang empuk.”
“Dia suka diusap kepalanya.”
“Om usap.”
“Dan dia takut gelap.”
“Om nyalain lampu meja.”
Lily mengangguk puas, lalu memeluk leherku dengan tiba-tiba. Erat. Wangi stroberi.
“Selamat malam, Om Kacamata.”
“Selamat malam, Neng.”
Bu Clara menggandeng Lily kembali ke lorong. Tapi setelah tiga langkah, dia menoleh dari balik bahu. Rambutnya jatuh ke satu sisi, memperlihatkan leher jenjangnya, dan dia tersenyum dengan satu sudut bibir saja, sudut yang ada tahi lalatnya.
“Selamat datang di rumah,” katanya pelan, “Om Kacamata.”
Lalu dia pergi.
Aku berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan masih tertangkup di depan dada, memegang kucing yang tidak ada.
Dari balik pintu kamar di ujung lorong, aku mendengar Lily bertanya dengan suara mengantuk, “Ma, kenapa Mama senyum-senyum?”
Aku menutup pintu kamarku sebelum sempat mendengar jawabannya.
Lalu aku menaruh Pak Mentega di bantal, mengusap kepalanya, dan menyalakan lampu meja. Karena aku sudah berjanji.
- 1 Gambar Tanpa Papa
- 2 Proyek P.A.P.A.
- 3 Om Kacamata
- 4 Laporan Intelijen Sinta
- 5 Tawaran di Bangku Minimarket
- 6 Pasal Sembilan
- 7 Dua Kardus dan Satu Monitor reading
- 8 Makan Malam Keluarga Moris
- 9 Gerbang TK
- 10 Menantu Idaman Berhoodie
- 11 Skakmat
- 12 Rapat Orang Tua
- 13 Jam Tiga Pagi
- 14 Hampir
- 15 Darren Menantang
- 16 Hari Orang Tersayang
- 17 Lily Demam
- 18 Hoodie Abu-Abu
- 19 Pasal yang Mau Kulanggar
- 20 Kacamata Berembun
- 21 Ulang Tahun Opa
- 22 Yang Tidak Setara
- 23 Ciuman Pertama
- 24 Pulang ke Yogya
- 25 Cerita Om Darto
- 26 Kepala Keluarga Sementara
- 27 Perpanjangan Kontrak
- 28 Tamu dari Toronto
- 29 Papa Beneran
- 30 Proposal Kerja Sama
- 31 Dua Kursi di Pentas Seni
- 32 Papa Boleh Dua?
- 33 Pasal Sembilan Berlaku
- 34 Rumah Tanpa Hoodie
- 35 Pergi demi Kebaikan
- 36 Om Darto
- 37 Operasi Jemput Papa
- 38 Belum Beres
- 39 Tanpa Pasal
- 40 Papa
- 41 Epilog — Tugas yang Tak Pernah Beres