← Papa Pinjaman

Chapter Fifteen

Darren Menantang

POV: Irvan

Futsal yang dijanjikan Darren tertunda dua minggu karena lapangannya kebanjiran. Sabtu ini, pukul tujuh pagi, aku berdiri di depan gawang di sebuah lapangan futsal indoor di Kemang, dengan jersey biru tua bertuliskan MORIS INVESTMENT FC di dada yang ukurannya dua nomor terlalu besar, dan sepatu futsal lama milikku yang solnya sudah hampir lepas di ujung kanan.

“Lo seriusan pakai sepatu itu?” Darren memandangi kakiku dengan wajah jijik.

“Ini sepatu saya satu-satunya.”

“Solnya ngangkat. Kayak buaya lagi nguap.”

“Masih bisa dipakai.”

Darren menatapku seolah aku baru saja mengaku makan kertas. “Lo selalu bilang ‘masih bisa dipakai’ buat semua barang lo yang udah rusak, ya? Kacamata, sepatu...”

“Hoodie juga.”

“Hoodie juga.” Dia menggeleng. “Kakak gue kok bisa suka sama lo.”

Dia mengatakannya dengan nada biasa, seperti fakta, lalu berlari ke tengah lapangan sebelum aku sempat bereaksi.

Kakak gue kok bisa suka sama lo.

Aku berdiri di depan gawang, dan untuk sesaat aku lupa bahwa aku harus menangkap bola.


Lawan kami pagi ini adalah tim dari sebuah firma akuntansi yang, menurut Darren, sudah mengalahkan Moris Investment FC tiga tahun berturut-turut. Mereka datang dengan jersey hijau neon, sepatu yang masih mengkilap, dan seorang pelatih yang membawa papan taktik.

“Mereka bawa pelatih?” tanyaku.

“Mereka akuntan,” kata Darren dengan getir. “Mereka merencanakan semuanya.”

Tim kami terdiri dari Darren, tiga analis investasi yang jelas-jelas lebih sering duduk di depan layar daripada berlari, dan satu staf IT kantor yang menatapku dengan mata penuh harap sejak mendengar aku “orang IT juga”.

“Bang, lo pernah main di liga?”

“Liga kampung. Waktu kuliah.”

“Menang?”

“Juara dua.”

“Juara dua!” Dia berbalik ke analis-analis lain. “Juara dua, guys!”

Mereka bertepuk tangan. Aku tidak tega bilang bahwa liga kampung itu hanya diikuti tiga tim.

Di tribun kecil di sisi lapangan, ada penonton.

Lily duduk di barisan paling depan dengan kaus kuning, dua pom-pom merah muda di tangan, dan kuncir dua yang diikat dengan pita biru. Di sebelahnya, Sinta berdiri memegang spanduk kain yang, aku yakin, dia buat semalam dengan cat akrilik. Tulisannya besar, miring, dan tidak rata:

SAVE! SAVE! OM KACAMATA!

Di bawahnya, lebih kecil: (dan Pak Darren juga, semangat)

Dan di sebelah Sinta, dengan kacamata hitam dan segelas kopi di tangan, duduk Bu Clara.


Aku belum bicara berdua dengan Bu Clara sejak malam di balkon.

Maksudku, kami bicara. Di meja sarapan, di mobil saat antar Lily, di lorong saat berpapasan. “Pagi, Bu.” “Pagi.” “Lily sudah makan?” “Sudah.” “Hari ini hujan?” “Katanya.” Percakapan yang sangat sopan, sangat normal, dan sangat tidak menyinggung fakta bahwa dua minggu lalu hidung kami bersentuhan di balkon, dan jika bukan karena senter Pak Mentega, aku sudah melanggar pasal tujuh.

Kami berdua pura-pura itu tidak terjadi. Kami sangat pandai berpura-pura. Kami sudah melakukannya di depan keluarga Moris, di depan Bu Vanya, di depan seluruh TK Pelangi Kecil. Berpura-pura di depan satu sama lain ternyata tidak sesulit itu.

Kecuali satu hal. Setiap pagi di mobil, dia tidak lagi membetulkan kacamataku. Dan setiap pagi aku menyadarinya.

Pagi ini, dari tribun, Bu Clara memakai kaus putih polos yang dimasukkan ke dalam celana legging hitam, dengan jaket denim yang disampirkan di bahu. Rambutnya diikat ekor kuda tinggi, bergoyang setiap kali dia menoleh. Tanpa lipstik merah bata. Hanya pelembap bibir yang membuat bibirnya berkilau samar. Kacamata hitam besar menutupi separuh wajahnya. Dari balik gawang, dari jarak dua puluh meter, dia terlihat seperti mahasiswi yang datang menonton pacarnya bertanding, bukan direktur perusahaan investasi triliunan.

Dia mengangkat gelas kopinya ke arahku. Sedikit. Seperti bersulang.

Aku mengangkat tangan membalas. Lalu bola datang dan menghantam wajahku.


“OM!”

Aku terbaring di lantai lapangan. Kacamataku terlempar entah ke mana. Hidungku berdenyut. Di atasku, langit-langit lapangan futsal yang putih dan terang berputar pelan.

Wajah Darren muncul di atasku. Buram. “Bang! Lo nggak apa-apa?”

“Kacamata...”

“Nih.” Darren menyodorkannya. “Aman. Masih retak di tempat yang sama.”

Aku memakainya. Dunia kembali jelas. Pemain sayap tim akuntan berdiri di dekat gawang dengan wajah menyesal. Wasit mendekat. Dan di tepi lapangan, melewati garis putih yang seharusnya tidak dilewati penonton, Bu Clara berlari ke arahku dengan kacamata hitam di kepala dan Lily di belakangnya.

“Irvan!”

Dia berjongkok di sebelahku. Tangannya langsung ke wajahku, ke hidung, ke pipi, ke dahi, memeriksa seperti dokter yang panik.

“Berdarah?”

“Nggak, Bu.”

“Hidungmu merah.”

“Kena bola.”

“Aku tahu kena bola. Aku lihat.” Suaranya tajam, tapi tangannya lembut. Ibu jarinya menyusuri tulang hidungku, pelan, memeriksa. “Kenapa kamu nggak nangkap?”

“Saya... lagi lambai tangan ke Ibu.”

Tangannya berhenti.

Dia menatapku. Aku menatapnya balik dari lantai lapangan. Di belakangnya, Darren memutar bola mata ke langit-langit. Lily berdiri di samping Bu Clara dengan pom-pom yang terkulai.

“Om Kacamata jatuh gara-gara lihatin Mama,” kata Lily dengan nada informatif kepada wasit.

Wasit, pria berusia empat puluhan dengan kumis tebal, menatap Bu Clara, lalu menatapku, lalu mengangguk dengan pengertian seorang pria yang pernah muda.

“Bisa lanjut, Mas?” tanyanya.

“Bisa.”

Bu Clara menarik tangannya dan berdiri. Dia merapikan ekor kudanya dengan satu gerakan cepat. Wajahnya kembali tenang, kembali terkendali.

“Fokus,” katanya padaku. “Jangan lihat tribun.”

“Siap, Bu.”

Dia berbalik. Tapi setelah dua langkah, dia berhenti dan menoleh dari balik bahu.

“Senternya udah diganti baterai,” katanya pelan, cukup pelan hanya untuk aku. “Pak Mentega nggak takut gelap lagi.”

Lalu dia kembali ke tribun sebelum aku sempat menjawab.


Kami kalah tiga-dua.

Aku menyelamatkan sebelas tendangan. Darren mencetak dua gol. Staf IT kantor mencetak gol bunuh diri di menit terakhir karena terlalu bersemangat merebut bola dan menendangnya ke arah yang salah, lurus melewati tanganku yang sudah terentang.

Dia menangis di pinggir lapangan. Darren menepuk bahunya. “Nggak apa-apa, Man. Tahun depan.”

“Tahun depan gue pensiun, Pak.”

“Tahun depan lo nggak usah jadi pemain. Lo jadi pemandu sorak.”

Lily berlari ke lapangan dan memelukku di pinggang. Keringatku membasahi pita birunya, dan dia tidak peduli.

“Om hebat! Om nangkep bola banyak banget! Aku hitung! Sebelas!”

“Neng bisa hitung sampai sebelas?”

“Sampai dua puluh. Tapi yang sebelas itu yang penting.”

Sinta menggulung spanduknya dengan hati-hati, seperti melipat bendera pusaka. “Mas Irvan, saya sudah rekam semua save-nya. Untuk arsip.”

“Arsip apa?”

“Arsip proyek, Mas.”

Bu Clara berjalan turun dari tribun dengan handuk kecil di tangan. Handuk putih, bersih, dengan bordiran logo hotel. Dia berhenti di depanku, di tengah lapangan, di depan tim akuntan yang sedang berfoto merayakan kemenangan, dan mengangkat handuk itu.

Dia mengelap keringat di dahiku.

Pelan. Dari dahi turun ke pelipis, ke pipi, ke rahang, ke leher. Dia berhenti di leher, dan handuknya diam di sana sebentar, di tempat nadiku sedang berlari maraton.

“Sebelas,” katanya.

“Tapi kalah.”

“Kalah tiga-dua. Tahun lalu tujuh-satu.” Dia menurunkan handuk. “Darren nggak bilang?”

“Nggak.”

“Darren nggak akan pernah bilang.” Dia mengambil botol minum dari tanganku, botol yang sudah setengah kuminum, lalu meminumnya. Langsung dari mulut botol. Di tempat mulutku tadi menempel.

Aku lupa cara berdiri.

Dia mengembalikan botol itu dan tersenyum dengan satu sudut bibir. “Haus.”

Di belakangku, aku mendengar Darren mengerang. “Kak. Di depan umum. Di lapangan futsal.”

“Kami tunangan,” kata Bu Clara tanpa menoleh.

“Tunangan?” Darren tersedak. “Sejak kapan tunangan?”

Bu Clara berkedip. Aku melihat, sangat cepat, sesuatu melintas di wajahnya. Seperti orang yang baru sadar dia mengatakan kalimat yang tidak ada di naskah.

“Calon tunangan,” katanya, lalu berbalik ke Lily. “Lily, ayo, kita beli es krim.”


Malam itu, Darren mengetuk pintu kamarku pukul sembilan dengan dua controller konsol di tangan.

“Lo main ini?”

Aku melirik judul gim di layar televisi besar di ruang keluarga. Gim sepak bola. Yang paling laris. Yang sudah kumainkan sejak SMA, di rental PlayStation di dekat bengkel Om Darto, dengan uang saku yang kutabung seminggu.

“Sedikit.”

“Lo selalu bilang ‘sedikit’.” Darren menyipitkan mata. “Opa bilang lo ‘sedikit’ main catur, terus bertahan empat puluh langkah. Lo bilang ‘sedikit’ main futsal, terus save sebelas kali.”

“Kali ini beneran sedikit.”

“Oke.” Darren menyerahkan satu controller. “Satu pertandingan. Kalau gue menang, lo nggak boleh deket-deket kakak gue sebulan.”

“Kalau saya menang?”

Darren berpikir. “Kalau lo menang, gue kasih lo sepatu futsal gue yang baru. Ukuran kita sama. Gue udah cek.”

“Kamu cek ukuran sepatu saya?”

“Lo taruh sepatu buaya itu di rak depan. Gue ukur pakai penggaris.” Dia duduk di sofa. “Main.”

Aku menang lima-nol.

Darren menatap layar dengan mulut terbuka. Lalu menatapku. Lalu menatap layar lagi.

“Lagi.”

Aku menang empat-nol.

“Lagi.”

Aku menang tiga-satu. Aku sengaja membiarkan satu gol masuk. Darren tahu. Dia melempar controller ke sofa.

“Lo sengaja kasih gue gol.”

“Nggak.”

“Lo sengaja. Kayak lo sengaja kalah dari Opa.” Dia bersandar ke sofa dan menatap langit-langit. “Kenapa lo selalu begitu? Lo bisa menang, tapi lo milih nggak menang.”

Aku tidak menjawab.


Kami berakhir di teras belakang dengan dua kaleng soda dan sebungkus keripik singkong yang Darren curi dari lemari Bi Inah. Kolam ikan berkilau di bawah lampu taman. Jangkrik berbunyi di rumput.

“Lo beneran suka kakak gue?” tanya Darren tiba-tiba.

Aku berhenti mengunyah.

“Maksud gue, gue tahu lo suka dia. Semua orang tahu. Oma bikin tiga video soal itu. Tapi beneran suka? Atau suka karena dia cantik dan kaya dan lo cowok hoodie yang hidupnya di minimarket?”

Darren tidak tahu soal kontrak. Tidak tahu soal pasal-pasalnya. Dia bertanya seperti adik yang melindungi kakaknya, dan aku tidak bisa menjawab dengan jujur tanpa membongkar semuanya.

Jadi aku menjawab dengan satu-satunya bagian yang jujur.

“Saya suka cara dia nyetir dalam badai,” kataku. “Karena takut anaknya nangis.”

Darren diam.

“Saya suka dia nyimpen gambar Lily di samping tempat tidurnya. Saya suka dia bilang ‘aku yang punya dapur, aku yang nentuin telurnya dibagi’. Saya suka dia minum dari botol saya di lapangan cuma buat bikin kamu kesel.”

“Dia bukan bikin gue kesel.”

“Terus?”

Darren menatapku lama. Lalu dia tertawa pendek, menggeleng, dan meneguk sodanya.

“Lo bego, ya,” katanya. “Pinter, tapi bego.”

Aku tidak membantah.

Darren meletakkan kalengnya di anak tangga. Wajahnya berubah. Tidak ada lagi seringai, tidak ada lagi nada meremehkan. Dia terlihat lebih muda tiba-tiba, dan lebih serius.

“Gue dua puluh satu waktu Reza pergi,” katanya. “Reza ngajarin gue main catur. Dia ngajarin gue cara pakai dasi. Waktu gue lulus SMA, dia yang dateng ke wisuda, soalnya Kak Clara lagi ujian dan Opa di luar negeri. Gue pikir dia abang gue.”

Aku diam.

“Terus dia pergi. Gue yang nganterin Kak Clara ke bandara, nunggu pesawat yang katanya dia naikin. Kak Clara berdiri di pintu kedatangan tiga jam. Tiga jam, Bang. Hamil lima bulan. Dia nggak duduk sama sekali.” Darren meremas kaleng sodanya sampai berbunyi. “Pas penumpang terakhir keluar, dia cuma bilang, ‘Oke. Kita pulang.’ Terus dia nyetir sendiri. Nggak mau gue yang nyetir. Nggak nangis sama sekali.”

Aku menatap kolam ikan. Aku membayangkan Bu Clara di pintu kedatangan bandara, hamil, berdiri tiga jam tanpa duduk. Lalu menyetir pulang tanpa menangis.

Seperti dia menyetir dalam badai.

“Dia nggak pernah nangis,” kata Darren. “Lima tahun. Gue nggak pernah lihat dia nangis. Tapi gue lihat dia berhenti ketawa.” Dia menoleh padaku. “Terus lo dateng. Terus dia ketawa lagi. Di meja makan. Di lapangan futsal tadi pagi. Gue denger dia ketawa dari kamarnya jam tiga pagi minggu lalu. Jam tiga pagi, Bang.”

Mi instan. Satu mangkuk. Dua garpu.

“Jadi gue mau bilang satu hal,” kata Darren. Suaranya pelan, tapi tegas, seperti Opa. “Kalau lo mau pergi, pergi sekarang. Mumpung Lily belum manggil lo papa. Mumpung kakak gue belum...” Dia berhenti, lalu melanjutkan dengan susah payah. “Mumpung dia belum nunggu lo di pintu kedatangan.”

Aku memandangi kaleng soda di tanganku. Pasal sembilan berputar di kepalaku seperti kursor yang berkedip.

Apabila ayah kandung anak kembali dan berniat mengambil peran, Pihak Kedua mengundurkan diri.

Darren tidak tahu pasal itu ada. Dia tidak tahu aku sudah menulis rencana pergi sejak hari pertama. Dia tidak tahu aku adalah pion yang sudah memutuskan mundur sebelum sampai di tengah papan.

“Saya nggak bisa janji apa-apa, Dar,” kataku akhirnya.

“Kenapa?”

“Karena saya nggak tahu masa depan.”

“Semua orang nggak tahu masa depan. Tapi semua orang bisa janji.”

“Janji yang nggak bisa ditepati lebih jahat dari nggak janji.”

Darren memandangiku lama. Lalu dia menghela napas panjang dan bersandar ke tiang teras.

“Lo ngomong kayak orang yang pernah dijanjiin terus ditinggal,” katanya.

Aku tidak menjawab. Itu cukup jadi jawaban.

Darren tidak bertanya lebih jauh. Dia mengambil keripik singkong dan mengunyahnya dengan keras. Kami duduk dalam diam, mendengarkan jangkrik dan gemericik air kolam.

“Sepatu futsal gue,” kata Darren setelah lama. “Besok gue taruh di depan kamar lo.”

“Kamu kalah taruhan tiga kali.”

“Gue kalah taruhan satu kali. Dua yang lain gue yang minta rematch.” Dia berdiri dan menepuk celananya. “Sepatu buaya lo buang aja. Gue nggak mau kiper tim gue jatuh gara-gara sol copot.”

“Kiper tim kamu?”

“Liga kantor mulai bulan depan. Lo kiper tetap.” Dia berjalan ke pintu, lalu berhenti dan menoleh. “Dan satu lagi.”

“Apa?”

“Jangan panggil gue ‘kamu’. Gue bukan klien lo.”

“Terus?”

Darren mengangkat bahu, berusaha terlihat tidak peduli, dan gagal total.

“Terserah. Dar. Darren. Adek. Apa aja.” Dia membuka pintu. “Gue panggil lo Bang, kan.”

Pintu tertutup.

Aku duduk sendirian di teras. Kolam ikan berkilau. Jangkrik berbunyi.

Di lantai atas, di sayap barat, lampu kamar Bu Clara masih menyala. Aku melihat bayangan di balik tirai, bayangan yang berdiri di dekat jendela, diam, seperti sedang memandangi taman.

Memandangi teras.

Aku tidak tahu sudah berapa lama dia di sana. Aku tidak tahu apakah dia mendengar percakapan kami.

Bayangan itu mengangkat tangan. Sedikit. Seperti melambai.

Aku mengangkat tangan membalas.

Kali ini tidak ada bola yang menghantam wajahku. Tapi rasanya sama.