← Papa Pinjaman

Chapter One

Gambar Tanpa Papa

POV: Clara

Rapat dengan investor Singapura selesai pukul tujuh lewat dua belas menit malam. Tiga jam empat puluh menit untuk satu tanda tangan yang sebenarnya sudah kuprediksi sejak minggu lalu.

“Selamat, Bu,” kata Sinta di dalam lift, dengan tablet dipeluk seperti bayi. “Tiga ratus dua puluh miliar. Pak Hendra pasti bangga.”

“Opa nggak pernah bangga. Opa cuma berhenti ngomel.”

“Itu bentuk bangga versi Pak Hendra, Bu.”

Aku tidak membantah. Sinta sudah tiga tahun jadi sekretarisku. Dalam tiga tahun itu, dia belajar dua hal: cara menyusun jadwalku sampai ke hitungan menit, dan cara membaca keluargaku lebih baik daripada aku sendiri.

Dinding lift memantulkan bayanganku. Aku menatapnya sebentar, kebiasaan lama untuk memastikan tidak ada yang lepas dari tempatnya.

Sanggul rendahku masih rapi, hanya satu helai yang lolos di pelipis. Rambutku hitam, panjangnya sampai punggung kalau digerai, sedikit bergelombang seperti rambut Mama dulu. Mataku besar dengan ujung yang sedikit terangkat, dan sepanjang hidup aku diberi tahu mata ini terlihat “menantang” bahkan saat aku sedang mengantuk. Alisku tegas. Bibirku masih berwarna merah bata, lipstik yang sama yang kupakai sejak lulus kuliah, karena warna itu membuat investor tua berhenti memanggilku “Nak”. Tahi lalat kecil di dekat sudut bibir kiriku adalah satu-satunya hal di wajahku yang tidak bisa kukendalikan. Dulu ada orang yang bilang tahi lalat itu tempat paling indah di dunia.

Orang itu sudah lima tahun tidak ada.

Aku tahu aku cantik. Aku tidak mengatakannya dengan sombong. Itu data, sama seperti laporan kuartal. Wajah ini sudah membuka lebih banyak pintu daripada gelarku, dan menutup lebih banyak pintu lagi setelah orang-orang sadar aku tidak datang untuk dipandangi.

Tapi malam ini, di pantulan lift, yang kulihat cuma perempuan tiga puluh tahun dengan bayangan gelap di bawah mata yang tidak bisa lagi ditutupi concealer.

“Bu,” Sinta berdeham, “ada satu hal yang perlu saya sampaikan.”

Nada suaranya membuat punggungku menegang. Sinta hanya memakai nada itu untuk dua hal: harga saham anjlok, atau Lily.

“Lily kenapa?”

“Tidak kenapa-kenapa, Bu. Sehat. Aman. Sudah makan.” Dia mengatur napas. “Tapi hari ini ada acara Hari Ayah di TK.”

Aku menatapnya.

“Undangannya masuk dua minggu lalu, Bu. Saya sudah taruh di jadwal. Tapi rapat Singapura dipindah ke hari ini, dan Ibu bilang, ‘Geser semua yang bisa digeser,’ jadi...”

“Jadi siapa yang datang?”

Sinta menunduk. “Pak Karto yang mengantar, Bu. Tapi Pak Karto menunggu di mobil. Acaranya khusus ayah.”

Pintu lift terbuka di basement. Aku tidak langsung keluar.

Hari Ayah. Tentu saja. Tahun lalu aku mengirim Darren, adikku, dan Lily pulang dengan wajah bingung karena teman-temannya bertanya kenapa papanya masih kuliah. Tahun ini aku bahkan tidak ingat.

“Bu?”

“Aku pulang sendiri. Kamu pulang saja, Sin.”

“Tapi Pak Karto...”

“Aku bisa menyetir.”


Rumah keluarga Moris terlalu besar untuk jam sembilan malam. Lampu taman menyala kuning, air mancur kecil di depan berbunyi pelan, dan jendela lantai dua tempat kamar Opa dan Oma sudah gelap.

Bi Inah membukakan pintu dengan wajah seseorang yang sudah menunggu untuk bicara.

“Non Clara. Aduh, Non. Si Neng belum tidur.”

“Jam segini?”

“Katanya mau nunggu Mama. Bibi udah bujuk pakai susu, pakai cerita kancil, pakai lagu Cicak-cicak di Dinding, tetap nggak mau. Terus tadi...” Bi Inah menurunkan suaranya, dan itu selalu tanda gosip atau tanda bahaya. “Tadi pulang sekolah si Neng nggak ngomong apa-apa. Langsung ke kamar. Makan juga sedikit. Bibi kira sakit gigi.”

Aku menaruh tas di kursi ruang tamu dan melepas heels di anak tangga pertama. Lantainya dingin. Aku naik dengan kaki telanjang.

Pintu kamar Lily terbuka sedikit. Lampu tidur berbentuk bulan menyala, dan di bawahnya anakku duduk bersila di atas karpet, masih memakai piyama kelinci. Di depannya ada selembar kertas dan kotak krayon yang isinya berserakan.

“Lily.”

Dia mendongak. Wajahnya bulat, pipinya besar, dan matanya mirip mataku sampai orang-orang sering bercanda aku mengkloning diri sendiri. Tapi senyumnya bukan dariku. Senyum itu dari orang lain, dan tiap kali melihatnya, sesuatu di dadaku tertarik ke tempat yang salah.

Malam ini dia tidak tersenyum.

“Mama pulang.”

“Mama pulang.” Aku duduk di karpet di sebelahnya. Rokku kusut, dan aku tidak peduli. “Kenapa belum tidur, Sayang?”

“Nunggu Mama.”

“Mama kan sudah bilang, kalau Mama malam, Lily tidur duluan.”

“Tapi aku mau tunjukin ini.”

Dia menyodorkan kertas itu.

Gambar krayon. Rumah dengan atap segitiga merah, matahari di pojok dengan garis-garis sinar yang tidak rata, dan tiga orang berdiri di depan rumah. Yang paling tinggi berambut panjang dengan bibir merah, jelas aku, karena Lily selalu menggambar bibirku merah. Yang paling kecil berkuncir dua dan tersenyum lebar. Yang ketiga seekor kucing oranye yang tidak pernah kami punya.

Di atas gambar, dengan huruf besar-kecil yang miring-miring, Lily menulis: KELUARGAKU.

“Bagus,” kataku. “Ini kucing siapa?”

“Kucing khayalan. Namanya Pak Mentega.”

“Pak Mentega.” Aku hampir tertawa. “Kenapa Pak?”

“Soalnya dia kucing laki-laki.”

Aku menunggu. Lily memainkan ujung kertasnya.

“Tadi di sekolah,” katanya pelan, “Bu Guru suruh gambar keluarga. Terus nanti papanya dateng, terus gambarnya dikasih ke papa.”

Oh.

“Semua papanya dateng, Ma. Papanya Kenzo pakai jas. Papanya Ayu bawa balon. Papanya Rafi gendong Rafi tinggi banget sampai kepala Rafi hampir kena kipas.” Dia menarik napas. “Terus aku kasih gambarnya ke siapa?”

Aku tidak punya jawaban. Aku, yang tadi sore menjawab tujuh belas pertanyaan investor tanpa berkedip, tidak punya satu pun jawaban untuk anak lima tahun.

“Terus aku taruh di tas,” lanjut Lily. “Terus Kenzo lihat. Terus Kenzo bilang...”

Dia berhenti. Bibirnya mulai bergetar, dan dia menggigitnya, persis seperti yang kulakukan kalau tidak mau menangis di depan orang. Aku tidak pernah mengajarinya itu. Dia mempelajarinya sendiri dengan melihatku.

“Kenzo bilang apa?”

“Kenzo bilang aku nggak punya papa karena papaku kabur. Karena aku nakal. Terus mamanya Kenzo ketawa. Terus Kenzo bilang lagi, gambarnya harus ada papanya, kalau nggak ada berarti bukan keluarga.”

Tanganku mengepal di atas lutut.

Bu Vanya. Mama Kenzo. Perempuan yang di grup WhatsApp orang tua murid selalu mengirim foto liburan ke Swiss dengan caption “Alhamdulillah, rezeki anak soleh”. Perempuan yang di acara pentas seni tahun lalu memandang tasku dari atas sampai bawah, lalu berkata, “Wah, Bu Clara hebat ya, bisa semuanya sendiri,” dengan nada seperti sedang mengucapkan belasungkawa.

“Lily nggak nakal,” kataku. Suaraku terlalu keras. Aku menurunkannya. “Lily dengar Mama. Lily nggak nakal, dan yang terjadi sama papa Lily bukan salah Lily. Sama sekali bukan.”

“Terus salah siapa?”

Salah papamu, pikirku. Salah pria yang naik pesawat ke Toronto dengan janji pulang dalam dua bulan, lalu mengirim pengacara setahun kemudian. Salah pria yang tidak pernah melihatmu lahir.

“Bukan salah siapa-siapa yang ada di rumah ini,” kataku akhirnya. Itu jawaban diplomatis. Aku membencinya.

Lily menatap gambarnya lama.

“Ma, kalau aku gambar papa, boleh nggak? Gambar papa khayalan, kayak Pak Mentega?”

Aku harus memalingkan wajah sebentar ke arah lampu bulan.

“Boleh,” kataku. “Lily boleh gambar apa saja.”

“Tapi aku nggak tahu papa mukanya kayak gimana.”

“Gambar saja yang Lily mau.”

Dia mengambil krayon cokelat, berpikir, lalu meletakkannya lagi.

“Nggak jadi deh. Nanti Kenzo bilang itu bohong.”

Kertas itu dia lipat dua dan dia selipkan di bawah bantal, seolah menyimpan sesuatu yang memalukan.

Aku menariknya ke pangkuanku. Dia sudah terlalu besar untuk dipangku, kakinya terjulur ke mana-mana, tapi dia menempel seperti waktu masih bayi. Rambutnya wangi sampo stroberi.

“Ma.”

“Hm?”

“Tadi aku nggak nangis di sekolah.”

“Pintar.”

“Aku nangisnya di minimarket.”

Aku mengerutkan kening. “Minimarket?”

“Yang di sebelah sekolah. Sama Om Kacamata.”

“Om siapa?”

Tapi Lily sudah menguap, lebar sekali sampai gigi susunya yang goyang kelihatan. “Om Kacamata bilang, kalau orang ngejek, itu karena hatinya lagi sempit. Kayak celana yang kekecilan. Jadi dia nyari tempat buat kesel.”

“Siapa Om Kacamata, Lily?”

“Om Kacamata ya Om Kacamata,” jawabnya, seolah aku menanyakan hal paling bodoh di dunia. Matanya sudah setengah tertutup. “Dia punya susu stroberi dua. Satu buat aku.”

“Lily, Mama perlu tahu...”

Napasnya sudah panjang dan teratur. Dia tertidur dengan kepala di bahuku, mulut terbuka sedikit, dan satu tangan masih mencengkeram kerah blusku.

Om Kacamata. Aku menyimpan nama itu di kepala, di laci yang sama dengan hal-hal yang harus kutanyakan ke Pak Karto besok pagi. Mungkin penjaga sekolah. Mungkin karakter kartun baru. Anak lima tahun punya banyak teman khayalan. Buktinya Pak Mentega.

Aku membaringkan Lily di ranjang dan menyelimutinya sampai dagu. Tanganku terulur ke bawah bantal, lalu berhenti.

Aku tetap mengambil gambar itu.


Di kamarku sendiri, aku duduk di tepi ranjang dengan gambar Lily di pangkuan. Rumah atap merah. Matahari tidak rata. Aku, Lily, dan Pak Mentega.

Ruang kosong di sebelah kiri gambar itu terlihat jelas, cukup untuk satu orang lagi. Aku tidak tahu apakah Lily sengaja menyisakannya.

Aku sudah lima tahun berhenti menunggu Reza. Aku berhenti di hari pertama ketika surat pengacaranya datang dan ternyata tanganku tidak gemetar saat menandatanganinya. Aku sudah membangun hidup yang tidak membutuhkan siapa-siapa: perusahaan, rumah ini, jadwal yang terisi sampai tidak ada ruang untuk kesepian.

Tapi Lily tidak membangun hidup itu. Lily cuma hidup di dalamnya. Dan ternyata ada ruang kosong di sana yang tidak bisa kututup dengan rapat investor.

Aku melihat jam. Pukul sebelas lewat tiga puluh delapan.

Aku mengambil ponsel.

Sinta mengangkat pada dering kedua, seperti selalu. Aku curiga dia tidur dengan ponsel diikat ke pergelangan tangan.

“Ya, Bu? Ada apa? Saham? Singapura batal? Pak Hendra masuk rumah sakit?”

“Tidak. Semua baik.”

“Oh.” Terdengar suara sesuatu jatuh, sepertinya bantal, atau Sinta sendiri. “Lalu, Bu?”

“Sin. Aku butuh kamu mencarikan sesuatu.”

“Siap, Bu. Apa? Lokasi kantor baru? Konsultan pajak? Nama pengacara yang lebih galak dari Pak Burhan?”

“Papa.”

Hening.

“Maaf, Bu?”

“Carikan papa.”

Hening lebih panjang. Aku bisa membayangkan Sinta duduk tegak di ranjangnya, rambut dicepol asal, kacamata tidurnya miring.

“Bu,” katanya hati-hati, “papanya Ibu kan... sudah meninggal. Maksud saya, almarhum Pak Richard. Semoga tenang di sisi-Nya. Kalau papanya Ibu yang lain, Pak Hendra itu Opa, bukan papa...”

“Bukan untukku, Sinta. Untuk Lily.”

“Oh.” Jeda. “OH.”

“Lily dibully karena nggak punya ayah. Hari ini dia menggambar keluarga dan menyembunyikannya di bawah bantal karena malu.” Suaraku datar, tapi aku tidak berhasil membuatnya sedatar yang kumau. “Aku nggak bisa mengubah masa lalunya. Tapi aku bisa mengubah hari Seninnya.”

“Ibu mau... menikah?”

“Aku mau menyewa.”

“Menyewa papa.”

“Seseorang yang bisa hadir di acara sekolah. Yang bisa menjemput Lily. Yang membuat anak-anak lain berhenti bertanya. Satu tahun. Kontrak jelas, kompensasi jelas, kerahasiaan jelas.”

Aku mendengar suara ketikan. Di tengah malam, sekretarisku sudah membuka laptop.

“Kriteria, Bu?”

Aku memandang gambar Lily sekali lagi.

“Baik,” kataku. “Sabar. Bisa dipercaya. Tidak mengincar uang keluarga Moris. Tidak mengincar aku.”

“Tidak mengincar Ibu,” ulang Sinta sambil mengetik. “Ini agak sulit, Bu. Secara statistik.”

“Sinta.”

“Maaf, Bu. Maksud saya, siap, Bu. Tidak mengincar Ibu. Dicatat. Tebal. Garis bawah.” Ketikannya berhenti. “Bu, boleh saya kasih nama proyeknya?”

“Terserah.”

“Proyek P.A.P.A.,” katanya dengan kebanggaan seseorang yang baru menamai anak pertamanya. “Pendamping Anak, Pengganti Ayah.”

Aku memejamkan mata. “Kamu memikirkannya dalam dua puluh detik?”

“Lima belas, Bu. Saya sudah siapkan deck besok pukul sembilan. Selamat malam, Bu. Terima kasih atas kepercayaannya. Ini kehormatan terbesar dalam karier saya.”

Dia menutup telepon sebelum aku sempat menyesal.

Aku berbaring tanpa melepas blus, dengan gambar Lily di atas dada. Di luar, air mancur masih berbunyi pelan.

Yang terakhir kupikirkan sebelum tertidur bukan Reza, bukan investor Singapura, bukan Bu Vanya.

Yang terakhir kupikirkan adalah pria asing yang punya dua susu stroberi dan memberikan satu untuk anakku, di hari aku bahkan lupa anakku butuh seseorang.