Chapter Thirty Three
Pasal Sembilan Berlaku
POV: Irvan
Pukul lima lewat sepuluh pagi, hari Minggu, aku berdiri di balik tirai jendela kamar sayap timur dan melihat Clara pergi.
Langit masih gelap, biru tua dengan garis jingga di ujung timur. Lampu taman masih menyala. Pak Karto menunggu di samping mobil sedan hitam dengan kemeja batik yang disetrika kaku, dan koper kecil Clara sudah di bagasi.
Clara keluar dari pintu depan. Setelan perjalanan berwarna krem, rambut disanggul rendah, jepit rambut perak Kotagede di sisi kiri. Di tangannya, secangkir kopi dalam gelas kertas. Dia berjalan ke mobil. Di anak tangga terakhir, dia berhenti.
Dia menoleh ke atas. Ke jendela sayap timur. Ke jendela kamarku.
Aku tidak bergerak. Tirainya tipis. Aku tidak tahu apakah dia bisa melihatku.
Dia mengangkat tangan. Melambai. Kecil.
Aku mengangkat tangan membalas.
Dia tersenyum. Aku bisa melihatnya bahkan dari lantai dua, dalam cahaya subuh yang redup. Senyum dengan dua sudut bibir. Tahi lalat kecil yang terangkat.
Dia masuk ke mobil. Pintu tertutup. Mobil berjalan pelan melewati air mancur, keluar dari pagar hitam yang terbuka otomatis, dan menghilang di tikungan jalan yang masih sepi.
Aku berdiri di balik tirai sampai pagar tertutup kembali.
Lalu aku mengambil kardus.
Dua kardus bekas mi instan dan satu monitor dua puluh tujuh inci.
Aku datang dengan itu, lima bulan lalu. Aku pergi dengan itu. Isinya hampir sama: lima kaus, dua celana tidur, satu celana jins, satu kemeja batik jahitan Ibu, kabel-kabel, charger, buku catatan. Ada beberapa tambahan. Kemeja biru muda dan celana bahan yang dibeli Sinta. Sepatu kulit cokelat. Sepatu futsal pemberian Darren.
Tuksedo Pak Liem tetap tergantung di lemari. Aku tidak membawanya. Itu bukan punyaku.
Kancing manset perak dan dasi kupu-kupu sutra, aku bawa. Itu punyaku.
Hoodie abu-abuku tidak ada di lemari. Hoodie itu ada di kamar sayap barat, terlipat di kursi meja rias, atau di atas ranjang, atau di tubuh seseorang yang sedang naik pesawat ke Singapura. Aku tidak mengambilnya. Aku tidak masuk ke kamar itu.
Kalau kamu cuma punya satu, berarti satu-satunya yang kamu punya sekarang ada di aku.
Biar di sana.
Aku menulis surat itu tiga kali.
Versi pertama terlalu panjang. Empat halaman. Aku menjelaskan semuanya: Nyonya Santoso, koridor hotel, saya ngerti, Reza di teras lantai tiga puluh dua, senyum yang sama di wajah Lily. Aku membacanya ulang dan menyadari itu terdengar seperti pembelaan. Seperti orang yang menjelaskan kenapa dia pergi, supaya tidak ada yang menyalahkannya.
Om Darto tidak menjelaskan apa pun. Mungkin itu yang benar.
Versi kedua terlalu pendek. Satu kalimat. Pasal 9 berlaku. Terima kasih untuk semuanya. Aku membacanya ulang dan menyadari itu terdengar seperti pegawai yang mengundurkan diri lewat surel.
Versi ketiga, aku tulis tangan. Dengan pena tinta biru yang kupinjam dari meja kerja Clara bulan lalu, dan tidak pernah kukembalikan. Di atas kertas bergaris dari buku catatanku.
Clara,
Pasal 9 berlaku. Papanya Lily sudah kembali, dan dia mau ambil peran. Saya lihat sendiri kemarin. Dia gendong Lily tinggi, lebih tinggi dari yang pernah saya bisa. Lily ketawa dengan senyum yang sama dengan dia. Saya nggak bisa kasih itu. Nggak ada yang bisa.
Lily tanya papa boleh dua nggak. Saya nggak mau dia harus tanya itu lagi. Anak kecil nggak boleh disuruh milih. Jadi saya yang milih, biar dia nggak perlu.
Map yang Clara kasih di restoran saya kembalikan. Terima kasih sudah mau memperpanjang. Tapi Lily sekarang punya papa, dan keluarga Moris nggak butuh papa pinjaman lagi. Kompensasi bulan ini nggak usah ditransfer.
Maaf saya nggak bilang langsung. Kalau saya bilang langsung, saya nggak akan bisa pergi.
Terima kasih untuk bangku minimarket. Untuk roti segitiga. Untuk jam tiga pagi. Untuk hoodie yang nggak pernah dibalikin. Simpan aja.
Irvan.
Aku membacanya dua kali. Aku tidak mengubah apa pun.
Aku berhenti di satu kalimat, terima kasih sudah mau memperpanjang, dan memikirkan apakah aku harus menambahkan sesuatu. Sesuatu tentang dan aku. Tentang jeda tiga detik di restoran atap. Tentang kalimat yang tidak pernah dia selesaikan.
Aku tidak menambahkannya. Dia tidak menyelesaikannya. Aku tidak berhak menyelesaikannya untuk dia.
Aku membuka laci meja kerja. Dua map krem. Yang lama di bawah, yang baru di atas.
Aku mengambil keduanya. Aku menyelipkan surat itu di antara mereka. Aku tidak membuka map yang baru. Aku tidak mau membacanya sekarang. Kalau aku membacanya, dan di dalamnya ada sesuatu yang membuatku ragu, aku tidak akan bisa melakukan ini.
Aku berjalan ke sayap barat. Pintu kamar Clara tidak dikunci. Aku tidak masuk ke kamarnya. Aku berjalan ke ruang kerja kecil di sebelahnya, tempat dia kadang bekerja sampai larut dengan laptop dan teh melati.
Aku meletakkan dua map dan satu surat di atas mejanya. Di tengah. Rapi. Supaya dia langsung melihatnya waktu pulang Senin malam.
Reza datang pukul sepuluh tepat, seperti biasa.
Dia terkejut melihatku di teras depan. Aku yang membukakan pintu. Bi Inah berdiri di belakangku dengan wajah curiga, dan Oma di ujung tangga dengan ponsel di tangan tapi tidak merekam.
“Irvan,” kata Reza. “Clara...”
“Singapura. Pulang Senin.”
“Oh.” Reza menatapku. Lalu menatap tas kertas di tangannya. Buku cerita bergambar untuk Lily, sepertinya. “Aku kira...”
“Lily di ruang keluarga, Pak. Silakan.”
Dua jam itu aku habiskan di teras belakang. Aku tidak masuk ke ruang keluarga. Aku mendengar dari balik pintu kaca: suara Reza membacakan cerita dengan intonasi yang bagus, seperti pembawa acara. Suara Lily yang bertanya-tanya. Suara tawa. Sekali. Dua kali.
Pukul dua belas kurang lima, sebelum dia pulang, aku menunggunya di teras depan.
“Pak Reza. Boleh saya bicara sebentar?”
Reza menatapku dengan hati-hati. Dia mengangguk.
Kami berdiri di dekat air mancur. Matahari terik. Suara air jatuh ke kolam kecil.
Aku tidak tahu harus mulai dari mana. Aku sudah menyusun kalimat-kalimat di kepala sejak jam lima pagi, dan semuanya hilang.
“Lily takut petir,” kataku.
Reza berkedip. “Apa?”
“Lily takut petir. Sejak bayi. Kalau ada badai, dia butuh lampu tidur bintang-bintang. Di kamar Clara. Baterainya harus dicek tiap minggu.” Aku menatap air mancur, bukan dia. “Dia cuma mau makan roti kalau dipotong segitiga. Empat bagian. Dia nggak suka wortel, tapi kalau wortelnya diparut dan dicampur ke telur dadar, dia nggak sadar. Dia takut jarum. Kalau dia harus disuntik, bikin muka anak ayam kebingungan. Kayak gini.” Aku memajukan bibir dan menyilangkan mata. Sekilas. Lalu wajahku kembali normal. “Dia bakal ketawa. Terus nggak sakit.”
Reza menatapku. Wajahnya berubah. Pelan-pelan. Dari sopan, ke bingung, ke sesuatu yang lain.
“Dia punya kucing khayalan namanya Pak Mentega,” lanjutku. “Pak Mentega takut gelap. Kalau Lily ketuk pintu kamar malam-malam bilang Pak Mentega takut, bilang aja Pak Mentega boleh tidur di kamar Bapak. Taruh di bantal. Usap kepalanya. Nyalain lampu meja. Dia bakal percaya.”
“Irvan...”
“Dia manggil Kenzo teman sekarang. Kenzo dulu jahat, sekarang nggak. Jangan biarin Lily lupa itu. Orang bisa berubah.” Aku menarik napas. “Kalau dia lupa dialog, atau bingung, atau takut, cari mata dia. Kasih hormat. Dua jari di pelipis. Dia bakal inget lagi.”
Reza tidak bicara lama. Air mancur terus jatuh ke kolam.
“Kenapa kamu kasih tahu aku ini?” tanyanya akhirnya. Suaranya pelan.
“Biar Bapak tahu.”
“Kamu mau ke mana?”
Aku tidak menjawab.
Reza menatapku. Aku melihat sesuatu di matanya. Bukan kemenangan. Bukan kelegaan. Sesuatu yang lebih rumit, seperti orang yang baru diberi hadiah yang tidak dia yakin pantas dia terima.
“Clara tahu?” tanyanya.
“Senin malam dia tahu.”
“Kamu nggak bilang langsung?”
Aku tersenyum. Tanpa lesung pipi.
“Bapak dulu bilang langsung?”
Reza membeku. Wajahnya memucat sedikit di bawah matahari siang. Dia membuka mulut. Menutupnya lagi.
Aku mengulurkan tangan. Dia menatapnya lama, lalu menjabatnya.
“Jaga dia, Pak,” kataku. “Dua-duanya.”
Opa menemukanku di perpustakaan pukul empat sore.
Aku tidak berniat pamit pada Opa. Aku tahu kalau aku pamit, dia akan menatapku dengan tatapan yang sama seperti di atas papan catur marmer, dan aku tidak akan sanggup. Aku hanya ingin masuk ke perpustakaan sekali lagi. Duduk di kursi kulit sekali lagi. Melihat papan catur sekali lagi.
Bidak-bidak masih di posisi semalam. Pion hitam di baris ketujuh.
Pintu terbuka di belakangku. Aku tidak menoleh. Aku tahu dari bunyi tongkatnya di lantai.
Opa berjalan pelan dan duduk di kursi di seberangku. Lututnya berbunyi. Dia meletakkan tongkat di lengan kursi. Dia menatap papan catur, lalu menatapku.
“Bi Inah bilang ada dua kardus di depan pintu kamarmu,” katanya.
“Iya, Pak.”
“Opa.”
Aku menunduk. “Iya, Opa.”
Opa diam lama. Jam dinding antik berdetak. Satu. Dua. Tiga.
“Kamu pilih mundur,” katanya.
“Pion nggak bisa mundur, Opa. Aturannya begitu.” Aku menatap pion hitam di baris ketujuh. “Makanya saya keluar dari papan.”
Opa menatapku. Aku menunggu dia marah. Aku menunggu dia melarangku. Aku menunggu dia bilang sesuatu yang membuatku duduk kembali dan membongkar kardus-kardus itu.
Dia tidak melakukannya.
“Saya tidak akan menahanmu,” katanya. “Orang yang ditahan tidak pernah benar-benar tinggal. Saya belajar itu dari seseorang yang selalu memilih menteri.”
Aku tidak bisa bicara.
“Tapi saya mau tanya satu hal.” Opa mencondongkan tubuh sedikit ke depan, di atas papan catur. “Kamu sudah tanya Clara?”
“Nggak perlu, Opa.”
“Kenapa?”
“Karena saya udah tahu jawabannya.”
Opa menatapku lama sekali. Lalu dia bersandar kembali ke kursinya, dan dia menghela napas. Napas panjang dan lelah seorang pria tujuh puluh tujuh tahun yang sudah melihat terlalu banyak orang pergi dari rumahnya.
“Semua orang yang pergi dari rumah ini,” katanya pelan, “selalu yakin mereka sudah tahu jawabannya.”
Dia mengulurkan tangan ke papan catur. Dia mengambil pion hitam di baris ketujuh. Dia menatapnya sebentar. Lalu dia meletakkannya di telapak tanganku dan menutup jari-jariku di atasnya.
“Bawa,” katanya.
“Opa, ini set catur...”
“Set catur ini punya saya. Saya bisa kasih bidaknya ke siapa pun.” Dia menepuk tanganku yang tertutup, satu kali. “Pion itu belum sampai ujung papan. Belum selesai. Kalau kamu mau keluar dari papan, bawa dia. Suatu hari, kalau kamu mau, kembalikan dia ke tempatnya.”
Aku menggenggam pion itu. Marmer hitam. Dingin dan berat.
“Kalau saya nggak kembali?”
Opa mengambil tongkatnya dan berdiri. Lututnya berbunyi lagi.
“Set catur ini sudah lima puluh tahun,” katanya dari ambang pintu. “Bisa menunggu.”
Aku tidak pamit pada Oma. Aku tahu Oma akan menangis, dan kalau Oma menangis, aku tidak akan bisa pergi. Aku menulis catatan di kertas post-it kuning dan menempelnya di layar ponselnya, yang dia tinggalkan di meja ruang keluarga waktu tidur siang.
Oma, cara bikin tulisan gerak: pilih video, tekan Aa, pilih Animasi, pilih yang namanya “Ketik”. Jangan lupa buramkan wajah Lily. — Irvan
Aku tidak pamit pada Darren. Darren sedang futsal. Aku meletakkan sepatu futsal pemberiannya di depan pintu kamarnya, bersih dan terbungkus plastik, dengan catatan di atasnya.
Dar, maaf. Kiper tetap cari yang lain ya. Sepatunya bagus. Kakimu yang harus pakai. — Bang
Aku tidak pamit pada Bi Inah. Bi Inah melihatku membawa kardus turun tangga pukul setengah tiga siang hari Senin, dan dia tidak bertanya apa pun. Dia hanya berjalan ke dapur, dan kembali dengan kotak bekal berisi nasi, tempe goreng, dan sambal. Sambal yang tidak terlalu pedas. Sambal yang dia buat untuk Lily.
“Buat di kereta, Mas,” katanya. Suaranya serak.
“Makasih, Bi.”
Dia mengangguk dan kembali ke dapur. Aku mendengar dia menyalakan kran air sangat keras.
Pukul tiga lewat sepuluh, hari Senin, aku duduk di bangku besi depan minimarket untuk terakhir kalinya.
Dua kardus dan monitor ada di bagasi taksi yang menunggu di ujung jalan. Mas Ucup sudah tahu. Dia tidak bicara waktu aku datang. Dia meletakkan dua susu kotak stroberi di meja kecil yang catnya mengelupas, lalu berdiri di pintu minimarket dengan kemoceng, tidak membersihkan apa pun.
Bel sekolah berbunyi.
Lily keluar paling akhir, seperti biasa. Dia berlari ke minimarket, seperti biasa. Tas kelinci memantul-mantul di punggungnya. Dia melihatku di bangku dan wajahnya bersinar.
“OM KACAMATA! Om dateng! Hari Senin!”
“Om dateng.”
Dia memanjat bangku dengan susah payah dan duduk di sebelahku. Dia mengambil susu kotak dan menusukkan sedotan dengan konsentrasi seorang ahli bedah. Dia menyedotnya sampai pipinya kempis.
“Hari ini aku gambar Pak Mentega lagi,” katanya. “Terus Bu Ratna tempel di papan. Terus Kenzo bilang bagus.”
“Pinter.”
“Om kok nggak minum?”
Aku mengambil susu kotakku. Aku menusukkan sedotan. Aku menyedotnya. Manis. Terlalu manis. Rasa buatan. Rasa yang sama setiap hari selama lima bulan.
“Neng,” kataku.
“Hm?”
“Om mau pulang ke rumah Nenek Wati.”
Lily menatapku. “Yang di Yogya? Yang ada bengkel Om Darto?”
“Iya.”
“Kapan?”
“Hari ini.”
“Aku ikut?”
“Nggak, Neng. Om sendiri.”
Lily diam. Dia memegang susu kotaknya dengan dua tangan dan menatapku dengan mata besar. Mata yang mirip mata Clara.
“Terus kapan balik?”
Aku tidak menjawab.
Lily menunggu. Anak lima tahun, di bangku besi dengan kaki yang tidak sampai ke tanah, menunggu jawaban yang tidak datang.
“Neng sekarang punya Papa,” kataku akhirnya. “Papa bisa sulap koin. Papa bisa gendong tinggi. Papa sayang sama Neng.”
“Om juga sayang sama aku.”
“Iya. Om sayang sama Neng.”
“Terus kenapa Om pergi?”
Aku melepas kacamata. Aku mengusap mata dengan punggung tangan. Tanpa kacamata, wajah Lily buram di depanku. Itu membuatku lebih mudah bicara. Sedikit.
“Soalnya,” kataku, “Neng nggak boleh disuruh milih.”
Lily tidak mengerti. Aku bisa melihatnya dari kerutan di keningnya, kerutan yang sama dengan kerutan Opa waktu membaca laporan kuartal. Dia tidak mengerti, dan aku tidak bisa menjelaskannya dengan cara yang bisa dia mengerti.
Aku memakai kacamataku kembali.
Di ujung jalan, mobil hitam Pak Karto muncul di tikungan.
Lily melihatnya. Dia menoleh padaku. Dan dengan wajah polos, dengan kebiasaan lima bulan, dengan permainan yang kami mainkan setiap hari sejak dia hampir tertabrak motor, dia bertanya:
“Om! Tugas Om hari ini udah beres belum?”
Aku menatapnya.
Aku meletakkan dua jari di pelipis. Hormat asal-asalan.
“Tugas Om Kacamata udah beres.”
Lily terkikik. Seperti setiap hari. Seperti itu lelucon baru. Dia turun dari bangku, memelukku di pinggang, cepat, lalu berlari ke mobil Pak Karto dengan tas kelinci yang memantul-mantul.
Dia tidak mengerti.
Dia masuk ke mobil. Dia menjulurkan kepala dari jendela dan melambai dengan dua tangan.
“DADAH, OM KACAMATA! BESOK KETEMU LAGI!”
Aku melambai.
Pak Karto tidak langsung menjalankan mobil. Dia menatapku dari balik kaca depan. Lama. Lalu dia menundukkan kepala. Satu kali. Seperti membungkuk.
Mobil berjalan. Aku berdiri di trotoar dan menatapnya sampai hilang di tikungan. Aku menunggu beberapa detik lebih lama, seperti yang selalu kulakukan, memastikan sesuatu yang berharga benar-benar sudah sampai dengan selamat.
Lalu aku berbalik.
Mas Ucup masih di pintu minimarket. Kemoceng di tangannya gemetar.
“Mas Ir.”
“Mas Ucup.”
“Buku utang susu stroberi.” Suaranya pecah. “Buat Neng, pas Mas Ir nggak dateng. Totalnya...”
Aku mengeluarkan dompet. Aku membukanya. Di belakang KTP, kertas terlipat sebesar kotak korek api. Aku tidak menyentuhnya. Aku mengeluarkan uang dan menyerahkannya pada Mas Ucup.
“Lunas, Mas.”
Mas Ucup tidak menerimanya. Dia menatap uang itu. Lalu dia menatapku. Lalu, dengan gerakan yang sangat tiba-tiba, dia memelukku. Kemoceng masih di tangannya, menepuk-nepuk punggungku dengan bulu-bulu yang berdebu.
“Mas Ir bego,” katanya di bahuku. Suaranya basah. “Mas Ir pinter, tapi bego.”
“Darren juga bilang gitu.”
“Pak Darren bener.”
Dia melepaskanku. Dia mengusap mata dengan lengan seragamnya. Dia mengambil uang dari tanganku dan memasukkannya ke saku tanpa menghitung.
“Bangkunya,” katanya. “Saya nggak kasih siapa-siapa duduk di situ. Saya taruh tulisan. Dipesan.”
“Mas Ucup, itu bangku minimarket.”
“Saya kasirnya. Saya yang atur.”
Taksi membawaku ke Gambir. Kereta ke Yogya berangkat pukul lima sore. Delapan jam.
Aku duduk di kursi dekat jendela. Kursi yang sama yang diduduki Lily waktu kami ke Yogya bersama, dengan dahi menempel di kaca menghitung sapi. Kursi di sebelahku kosong.
Aku mengeluarkan ponsel. Tiga pesan dari Clara, dari Singapura.
Rapat pertama selesai. Membosankan. Aku kangen bangku minimarket.
Makan siang di sini mahal banget dan nggak ada yang seenak tempe Bi Inah.
Besok malam aku pulang. Jangan lupa, kamu duluan yang bicara. Aku udah latihan punyaku.
Aku membaca pesan terakhir berkali-kali.
Aku udah latihan punyaku.
Kereta mulai bergerak. Stasiun Gambir bergeser pelan di balik jendela. Monas. Gedung-gedung. Lalu, di kejauhan, di atas atap-atap rumah dan kabel-kabel listrik, sebuah gedung kaca dengan tulisan biru di puncaknya.
MORIS.
Aku menatapnya sampai hilang.
Lalu aku mematikan ponsel.
Aku membuka tangan kiriku. Di telapak, pion hitam dari marmer. Dingin dan berat. Belum sampai ujung papan.
Aku menggenggamnya sepanjang delapan jam perjalanan, sampai marmernya hangat seperti tanganku sendiri.
- 1 Gambar Tanpa Papa
- 2 Proyek P.A.P.A.
- 3 Om Kacamata
- 4 Laporan Intelijen Sinta
- 5 Tawaran di Bangku Minimarket
- 6 Pasal Sembilan
- 7 Dua Kardus dan Satu Monitor
- 8 Makan Malam Keluarga Moris
- 9 Gerbang TK
- 10 Menantu Idaman Berhoodie
- 11 Skakmat
- 12 Rapat Orang Tua
- 13 Jam Tiga Pagi
- 14 Hampir
- 15 Darren Menantang
- 16 Hari Orang Tersayang
- 17 Lily Demam
- 18 Hoodie Abu-Abu
- 19 Pasal yang Mau Kulanggar
- 20 Kacamata Berembun
- 21 Ulang Tahun Opa
- 22 Yang Tidak Setara
- 23 Ciuman Pertama
- 24 Pulang ke Yogya
- 25 Cerita Om Darto
- 26 Kepala Keluarga Sementara
- 27 Perpanjangan Kontrak
- 28 Tamu dari Toronto
- 29 Papa Beneran
- 30 Proposal Kerja Sama
- 31 Dua Kursi di Pentas Seni
- 32 Papa Boleh Dua?
- 33 Pasal Sembilan Berlaku reading
- 34 Rumah Tanpa Hoodie
- 35 Pergi demi Kebaikan
- 36 Om Darto
- 37 Operasi Jemput Papa
- 38 Belum Beres
- 39 Tanpa Pasal
- 40 Papa
- 41 Epilog — Tugas yang Tak Pernah Beres