← Papa Pinjaman

Chapter Thirty Five

Pergi demi Kebaikan

POV: Clara

Aku menelepon Reza pukul tujuh pagi hari Senin.

Aku belum tidur. Aku duduk di meja kerja kecil di sebelah kamarku dengan dua map krem dan satu surat tulisan tangan di depanku, dan secangkir kopi hitam tanpa gula yang sudah dingin. Aku tidak menambahkan susu kental manis. Aku tidak sanggup.

“Clara?” Suara Reza serak, seperti baru bangun. “Ada apa? Lily...”

“Lily baik. Aku mau ketemu. Jam sepuluh. Kafe yang kemarin.”

“Oke.” Jeda. “Clara, kamu nggak apa-apa?”

Aku menutup telepon tanpa menjawab.


Kafe Seduh Sembilan pukul sepuluh pagi hari Senin hampir kosong. Pemilik kafe dengan kerudung pastel melihatku masuk dan tidak menyapa dengan riang seperti biasa. Dia menatap wajahku, mata yang bengkak, kulit yang pucat tanpa riasan, rambut yang diikat asal tanpa jepit perak, dan dia hanya mengangguk pelan dan membawakan segelas air putih tanpa diminta.

Reza datang lima menit kemudian. Kemeja putih, tanpa jas. Dia duduk di seberangku dan tidak memesan apa pun.

“Dia pergi,” kataku.

“Aku tahu.”

“Kamu tahu dari kemarin?”

“Dari Minggu lalu. Di dekat air mancur.” Reza menatap tangannya di atas meja. “Aku nggak tahu dia bakal pergi. Aku cuma... dia ngomong kayak orang yang lagi nyerahin sesuatu. Aku baru ngerti kemarin, waktu Lily nggak turun.”

Aku menatapnya. Pria yang dulu kunikahi. Pria yang kutunggu tiga jam di pintu kedatangan. Ayah anakku, dengan senyum yang sama dengan senyum anakku, duduk di kafe kecil dengan kemeja putih dan jam tangan mahal.

“Reza,” kataku. “Aku mau bilang tiga hal. Dan aku mau kamu dengerin sampai selesai.”

Dia mengangguk.

“Pertama. Kamu boleh jadi papanya Lily.”

Dia mengangkat kepala. Matanya melebar sedikit.

“Bukan karena pengacaramu. Bukan karena hak berkunjung. Karena Lily berhak tahu siapa ayahnya. Dia berhak tahu dari mana senyumnya datang.” Aku menahan suaraku supaya tetap datar. “Tapi kamu harus dateng. Setiap kali kamu janji. Kalau kamu bilang Minggu, kamu dateng Minggu. Kalau kamu bilang pentas seni, kamu dateng pentas seni. Kalau kamu nggak bisa dateng, kamu bilang sebelumnya, langsung ke dia, bukan lewat aku, bukan lewat pengacara. Sekali aja kamu nggak dateng tanpa kabar, aku tutup pintunya. Dan kali ini aku nggak akan nunggu di bandara.”

Reza tidak bicara lama. Lalu dia mengangguk. Pelan. “Oke.”

“Kedua.” Aku menatap tangan kirinya. Cincin di jari manis. Emas putih, polos, dengan ukiran tanggal di bagian dalam yang kuingat tanpa perlu melihat. “Lepas itu.”

Dia menatap cincinnya.

“Aku bukan istrimu lagi, Reza. Sudah lima tahun. Aku nggak mau kamu pakai itu di depan Lily. Aku nggak mau dia tumbuh dengan cerita bahwa papa masih nunggu mama. Karena mama nggak nunggu papa.”

“Clara...”

“Aku nggak nunggu kamu, Reza.” Suaraku tidak bergetar. Aku terkejut sendiri. “Aku berhenti nunggu kamu di hari surat pengacaramu datang. Tanganku nggak gemetar waktu tanda tangan. Aku kira itu artinya aku kuat. Ternyata itu artinya aku udah selesai.”

Reza menatapku. Lalu dia menatap cincinnya. Lama.

Dia melepasnya. Pelan. Cincin itu tersangkut sebentar di buku jari, seperti tidak mau lepas, lalu lepas. Dia meletakkannya di atas meja di antara kami. Emas putih di atas kayu.

Dia tidak mendorongnya ke arahku. Dia hanya meletakkannya di sana.

“Ketiga,” kataku. “Proposal Northbridge.”

“Clara, itu nggak ada hubungannya dengan...”

“Aku tahu. Makanya aku bilang.” Aku meneguk air putih. “Proposalmu bagus. Darren bilang angkanya bersih. Opa bilang strategimu tajam. Dewan akan memutuskan berdasarkan angka. Bukan berdasarkan kamu mantan suamiku. Bukan berdasarkan kamu papanya Lily. Kalau diterima, kamu kerja dengan Darren. Bukan dengan aku.”

Reza tersenyum. Pahit. “Kamu masih direktur.”

“Aku selalu direktur.” Aku meletakkan gelas. “Itu masalahku.”


Kami duduk dalam diam. Barista bertato di belakang meja menggiling kopi. Bunyi mesin penggiling mengisi kafe yang sepi.

“Boleh aku bilang sesuatu?” tanya Reza akhirnya.

“Boleh.”

“Di air mancur, minggu lalu.” Reza menatap cincin di atas meja. “Dia kasih tahu aku semuanya. Lampu bintang. Roti segitiga. Wortel diparut. Muka anak ayam. Kucing yang takut gelap. Kasih hormat dua jari di pelipis.” Dia menggeleng pelan. “Dia hafal semuanya, Clara. Semua hal kecil. Hal-hal yang aku nggak tahu, padahal dia anakku.”

Aku diam.

“Aku kira dia saingan,” kata Reza. “Waktu pertama kali aku lihat di gerbang sekolah. Laki-laki pakai kemeja murah, kacamata retak, Lily ngumpet di belakang kakinya. Aku kira, oke, ini orang yang harus aku kalahkan. Aku pinter ngalahin orang.” Dia tertawa pendek. “Aku bawa boneka paling gede. Aku bawa kotak musik dari Kanada. Aku pelajari trik koin tiga malam di hotel. Aku duduk di kursi yang ada tulisan namanya.”

“Kursi yang dia kasih ke kamu.”

“Iya.” Reza menunduk. “Dia ambil kertas namanya dari kursi, lipat, masukin saku, terus bilang, ‘Silakan, Pak.’ Dan aku duduk. Aku duduk, Clara. Aku nggak nolak. Karena aku pikir, oke, satu poin buat aku.”

Dia mengangkat kepala. Matanya merah.

“Terus di air mancur, dia kasih aku semua manual Lily. Tanpa diminta. Tanpa syarat. Dan aku ngerti.” Reza menarik napas. “Itu bukan orang yang kalah. Itu orang yang nyerahin sesuatu yang paling dia sayangi, karena dia pikir itu yang terbaik buat yang dia sayangi. Aku nggak akan pernah bisa sekuat itu. Aku bahkan nggak bisa buka foto bayi.”

Aku menatapnya. Aku tidak tahu harus merasakan apa.

“Aku pergi biar aku layak,” kata Reza pelan. “Buat aku sendiri. Buat egoku. Dia pergi biar Lily nggak perlu milih. Buat orang lain.” Dia memutar gelas air di depannya. Kebiasaan lama. “Alasannya beda. Tapi...”

“Tapi hasilnya sama,” kataku.

Reza mengangguk. “Yang ditinggal tetap ditinggal.”


Aku keluar dari kafe tanpa mengambil cincin itu. Reza memungutnya sendiri dan memasukkannya ke saku kemeja. Aku melihatnya dari balik kaca. Dia tidak memakainya lagi.

Aku berjalan di trotoar. Aku tidak memanggil Pak Karto. Aku berjalan tanpa tujuan, di bawah matahari Jakarta yang terik, dengan tas di bahu dan pikiran yang akhirnya, setelah berminggu-minggu, mulai tersusun.

Pergi biar layak. Reza.

Pergi biar anak kecil nggak disuruh milih. Om Darto.

Pergi biar Lily nggak perlu milih. Irvan.

Tiga pria. Tiga alasan. Semuanya terdengar mulia kalau diucapkan pelan-pelan. Semuanya adalah kebaikan, kalau dilihat dari dalam kepala orang yang pergi.

Dan di ujung ketiga cerita itu, selalu ada seseorang yang ditinggal. Seorang perempuan di pintu kedatangan bandara. Seorang anak laki-laki sepuluh tahun yang bangun di pagi hari dan bengkel sebelah rumahnya kosong. Seorang anak perempuan lima tahun yang duduk di bangku besi di depan kertas bertuliskan DIPESAN, dengan dua susu kotak yang tidak dia minum.

Dua-duanya salah. Dan dua-duanya nggak pernah nanya.

Bu Wati, di depan mesin jahit, dengan kacamata baca yang bingkainya disolder dua kali.

Dan aku. Aku yang tidak bertanya apa yang dia mengerti. Aku yang tahu soal Om Darto sejak Kotagede dan tidak mengatakannya. Aku yang menunggu dia membaca map, supaya aku tidak perlu mengucapkan tiga kata dengan suaraku sendiri.

Aku bukan yang ditinggal dalam cerita ini. Aku salah satu yang membuatnya pergi.


Opa menungguku di perpustakaan sore itu.

Aku tidak tahu dia menunggu. Aku pulang pukul empat, naik ke lantai dua, dan melihat cahaya lampu hijau dari bawah pintu perpustakaan. Aku berdiri di depan pintu itu lama. Lalu aku mengetuk.

“Masuk.”

Opa duduk di kursi kulitnya, di depan papan catur marmer. Bidak-bidak tersusun di posisi awal, rapi, siap untuk permainan baru.

Kecuali satu.

Di barisan kedua, di sisi hitam, di antara tujuh pion hitam yang berjajar rapi, ada satu celah. Satu petak kosong.

Aku berhenti di ambang pintu dan menatap celah itu.

“Duduk,” kata Opa.

Aku duduk di kursi di seberangnya. Kursi yang biasa diduduki Irvan setiap hari Kamis. Kulitnya dingin.

“Pionnya hilang,” kataku.

“Tidak hilang. Saya berikan.”

“Ke Irvan?”

Opa mengangguk. Dia tidak menjelaskan. Dia hanya menatap celah di barisan pion hitam, dengan wajah yang tidak bisa kubaca.

“Clara,” katanya. “Kamu tahu kenapa Burhan yang menyusun kontrak itu?”

Aku membeku.

“Kontrak... yang mana, Opa?”

Opa menatapku dari balik kacamata baca. Tatapan yang sama seperti di atas papan catur. Tatapan yang, sepanjang hidupku, selalu tahu lebih banyak dari yang dia katakan.

“Perjanjian Kerja Sama Pribadi,” katanya pelan. “Pihak Pertama, Clara Florentina Moris. Pihak Kedua, Irvan Oktovan. Sembilan pasal. Pasal enam, kompensasinya dipotong setengah oleh Pihak Kedua sendiri. Pasal tujuh, ditulis tangan oleh Pihak Pertama, para pihak dilarang saling jatuh cinta. Pasal sembilan, diminta oleh Pihak Kedua, ditulis ulang oleh Pihak Pertama dengan tinta biru.”

Aku tidak bisa bicara.

“Sinta minta Burhan menyusun draf. Burhan sudah jadi pengacara saya tiga puluh tahun. Kamu pikir dia menyusun kontrak untuk cucu saya, kontrak yang menempatkan seorang pria asing di rumah saya, tanpa bilang pada saya?” Opa melepas kacamata bacanya dan melipatnya. “Saya tahu dari hari pertama, Clara. Sebelum dia datang dengan dua kardus. Sebelum makan malam pertama. Sebelum Lily bilang ‘main rumah-rumahan’.”

“Opa... tahu. Dari awal.”

“Dari awal.”

“Dan Opa diam?”

“Saya main.” Opa menatap papan catur. “Kamu selalu bilang saya cuma bisa bilang ‘lagi’ atau ‘cukup’. Kali ini saya bilang ‘lagi’. Saya mau lihat pion itu sampai di mana.”

“Kenapa?”

Opa diam lama. Jam dinding antik berdetak.

“Karena Lily tertawa,” katanya akhirnya. “Karena kamu pulang sebelum jam tujuh tiga kali dalam minggu pertama. Belum pernah terjadi dalam lima tahun. Karena Lusiana punya dua juta pengikut dan tidak lagi menelepon saya setiap jam untuk bertanya kenapa cucu kami tidak pernah tersenyum.” Dia berhenti. “Karena Darren memanggilnya Bang. Darren tidak pernah memanggil siapa pun Bang. Bahkan Reza.”

Aku menutup wajah dengan tangan.

“Saya tahu kontrak itu bohong, Clara,” kata Opa. “Tapi yang terjadi di rumah ini tidak bohong. Saya sudah tujuh puluh tujuh tahun. Saya bisa membedakan sandiwara dari hal yang nyata dari jarak sepuluh meter. Sinta benar soal itu.”


Aku menurunkan tanganku. Mataku basah. Aku tidak peduli.

“Opa,” kataku. “Aku kasih dia map.”

“Saya tahu.”

“Aku hapus pasal tujuh dan sembilan. Aku kira...”

“Kamu kira dia akan baca.” Opa mengangguk pelan. “Kamu masih bicara pakai kontrak, Clara.”

Kalimat itu jatuh di antara kami seperti bidak yang dijatuhkan di atas marmer.

“Sejak Richard meninggal,” lanjut Opa, lebih pelan, “kamu belajar bicara pakai kontrak. Karena kontrak tidak bisa pergi. Kontrak tidak bisa kecelakaan di tol jam sebelas malam. Kontrak tidak bisa naik pesawat dan tidak turun. Kontrak itu hitam di atas putih. Pasti.” Dia menatapku. “Saya yang mengajarimu. Saya yang bawa kamu ke rapat dewan waktu kamu tujuh belas, sebulan setelah pemakaman ayahmu, karena saya pikir pekerjaan akan menyembuhkanmu. Saya salah. Pekerjaan tidak menyembuhkan. Pekerjaan cuma mengajarimu cara menyembunyikan luka dengan rapi.”

“Opa...”

“Pria itu tidak bisa membaca kontrak, Clara. Maksud saya, dia bisa. Dia baca kontrak pertama dengan pensil dan anotasi. Tapi bukan itu bahasanya.” Opa menyentuh celah kosong di barisan pion hitam dengan ujung jarinya. “Bahasanya bangku minimarket. Bahasanya susu kotak. Bahasanya dua jari di pelipis. Bahasanya duduk dua jam tanpa bergerak supaya kamu bisa tidur.”

Aku menangis. Lagi. Di depan Opa, yang tidak pernah melihatku menangis sejak pemakaman Papa.

Opa tidak menepuk punggungku. Opa tidak pernah menepuk punggung siapa pun. Dia hanya mengulurkan tangan di atas papan catur dan meletakkannya di atas tanganku. Tangan tua yang kering dan hangat dan sedikit gemetar.

“Saya bilang padanya, set catur ini sudah lima puluh tahun, bisa menunggu,” kata Opa. “Tapi saya sudah tujuh puluh tujuh, Clara. Lutut saya bunyi kalau naik tangga.” Dia meremas tanganku. “Saya tidak mau menunggu lama.”


Malam itu, aku duduk di ranjang dengan hoodie abu-abu dan ponsel di tangan.

Aku membuka folder draf. Pesan yang kutulis di teras lantai tiga puluh dua, tiga minggu lalu. Tiga kata. Belum terkirim.

Aku menatapnya lama.

Aku bisa mengirimnya sekarang. Ponselnya mati, tapi suatu hari akan menyala. Dan pesan ini akan ada di sana, menunggu. Hitam di atas putih. Pasti.

Aku menghapusnya.

Bukan karena aku tidak mau mengatakannya. Karena aku mau mengatakannya dengan suaraku sendiri. Di depan wajahnya. Tanpa layar di antara kami. Tanpa map. Tanpa pasal. Tanpa pensil di pinggir halaman.

Pria itu tidak bisa dijemput pakai surat, kata Bi Inah. Harus dijemput pakai kaki.

Aku berdiri dan berjalan ke kamar Lily.

Dia tidak tidur. Dia berbaring dengan mata terbuka, boneka Pak Mentega di pelukannya, menatap langit-langit. Lampu tidur bulan menyala. Seminggu dia tidak bicara.

Aku berbaring di sebelahnya. Aku tidak bertanya apa pun. Aku hanya berbaring di sana, bahu kami bersentuhan, dan menatap langit-langit bersamanya.

Setelah lama, aku berkata:

“Lily. Mama salah.”

Dia tidak menjawab. Tapi napasnya berubah.

“Om Kacamata pergi karena dia pikir kamu harus milih. Antara dia sama Papa. Dia nggak mau kamu milih. Jadi dia pergi duluan.” Aku menatap langit-langit. “Tapi dia salah. Dan Mama juga salah, karena Mama nggak bilang ke dia kalau dia salah.”

Lily memeluk Pak Mentega lebih erat.

“Mama mau jemput dia,” kataku. “Tapi Mama nggak tahu dia mau pulang atau nggak. Mama udah lama nggak ngomong yang jujur. Mama lupa caranya.”

Hening lama.

Lalu, untuk pertama kalinya dalam tujuh hari, anakku bicara.

Suaranya kecil. Serak. Seperti pintu yang lama tidak dibuka.

“Mama bilang aja,” katanya. “Kayak aku bilang ke Kenzo. ‘Itu Om Kacamata aku.’ Keras-keras.”

Aku menoleh padanya. Dia masih menatap langit-langit. Air matanya mengalir di pelipis, ke telinga, ke bantal.

“Kalau Mama nggak bisa,” bisiknya, “aku yang bilang.”