Chapter Sixteen
Hari Orang Tersayang
POV: Clara
Aku terlambat empat puluh menit ke Hari Orang Tersayang karena rapat darurat dengan tim hukum, dan aku datang dengan heels sembilan senti.
Bukan karena aku lupa ini acara lomba. Aku ingat. Aku sudah menyiapkan sepatu kets putih di mobil sejak semalam. Tapi rapat itu molor, lalu jalanan macet, lalu Sinta menelepon dengan panik bahwa “lomba estafet ibu-anak dimulai sepuluh menit lagi, Bu, dan Lily sudah menangis karena mengira Ibu tidak datang”. Aku berlari dari parkiran ke lapangan sekolah tanpa sempat membuka bagasi.
Lapangan TK Pelangi Kecil pagi itu berubah menjadi pasar malam. Bendera kertas warna-warni digantung di antara tiang-tiang. Tenda-tenda kecil menjual makanan. Pengeras suara memainkan lagu anak-anak dengan volume yang tidak manusiawi. Anak-anak berlarian dengan balon, dan orang-orang dewasa, ayah, ibu, nenek, om, tante, satu orang sopir yang kukenali sebagai sopir keluarga murid lain, berdiri di pinggir lapangan dengan wajah campuran antara semangat dan kepanikan.
Di tengah lapangan, di garis start lomba estafet, Lily berdiri dengan wajah merah dan mata basah. Di sebelahnya, berjongkok dengan satu tangan di punggungnya, Irvan.
Aku melihatnya dari kejauhan. Dia sedang mengatakan sesuatu pada Lily. Lily menggeleng. Dia mengatakan sesuatu lagi. Lily menggeleng lagi, lebih keras. Lalu Irvan menunjuk ke arah gerbang, dan Lily menoleh.
Lily melihatku.
Wajahnya berubah seperti lampu yang dinyalakan.
“MAMAAAA!”
“Estafet ibu-anak,” kata Bu Ratna dengan pengeras suara. “Peserta, silakan bersiap. Ibu berlari dari garis start ke tiang merah, membawa kelereng di atas sendok. Serahkan sendok ke anak di tiang merah. Anak berlari kembali ke garis finis. Kelereng tidak boleh jatuh!”
Aku menatap sendok di tanganku. Sendok makan biasa, dengan kelereng biru di atasnya. Lalu aku menatap heels hitam sembilan senti di kakiku.
“Bu,” kata Irvan pelan dari sampingku, “sepatunya.”
“Nggak sempat ganti.”
“Lepas aja.”
“Lapangannya kerikil.”
“Saya gendong Lily ke tiang merah biar Ibu...”
“Aturannya ibu yang lari.”
Dia menatapku. Aku menatapnya balik.
“Ibu keras kepala,” katanya.
“Deskripsi pekerjaan.”
Peluit berbunyi.
Aku berlari.
Aku tidak tahu bagaimana perempuan dengan setelan kerja abu-abu arang, rok pensil sampai lutut, dan heels sembilan senti bisa berlari di lapangan kerikil sambil membawa kelereng di atas sendok. Aku hanya tahu aku melakukannya. Rokku membatasi langkahku jadi pendek-pendek dan cepat. Heels-ku menancap di tanah setiap tiga langkah. Sanggulku mulai lepas. Satu helai, dua helai, lalu seluruh rambutku jatuh ke punggung dan jepitnya terlempar entah ke mana.
Kelereng itu bergetar di atas sendok. Aku menahannya dengan tatapan, seolah bisa memerintahnya diam dengan kekuatan pikiran, seperti yang kulakukan pada analis junior yang bicara terlalu lama di rapat.
Di sebelah kiriku, Bu Vanya berlari dengan sepatu olahraga dan pakaian training bermerek. Dia lebih cepat. Dia menoleh padaku sekilas, melihat heels-ku, dan tersenyum.
Lalu kelerengnya jatuh.
Dia berhenti untuk memungutnya. Aku melewatinya.
Di tiang merah, Lily menunggu dengan kedua tangan terulur dan wajah penuh tekad. Aku menyerahkan sendok itu. Kelereng biru masih di atasnya. Lily menerimanya dengan kehati-hatian seorang ahli bom, berbalik, dan berlari kembali ke garis finis dengan langkah kecil-kecil yang lucu, lidah sedikit menjulur karena konsentrasi.
Aku berdiri di tiang merah dengan napas terengah-engah, rambut berantakan, dan heels yang salah satunya haknya sudah bengkok.
Di garis finis, Irvan berjongkok dengan tangan terentang.
“Neng! Sini! Pelan-pelan! Pelan-pelan!”
Lily melewati garis finis. Kelereng masih di sendok. Juara satu.
Irvan menangkapnya dan mengangkatnya ke udara. Lily menjerit gembira, sendok masih di tangan, kelereng biru akhirnya jatuh ke rumput karena Lily melompat-lompat di pelukannya.
Aku berjalan pincang kembali ke garis finis. Satu heels-ku bengkok. Rambutku seperti baru melewati angin topan. Blazerku kotor di ujung. Keringat mengalir di pelipis.
Irvan menurunkan Lily dan menatapku.
Dia tidak tertawa. Aku sudah siap dia tertawa. Aku sudah siap membalas dengan komentar tajam tentang kiper yang kalah tiga-dua. Tapi dia tidak tertawa.
Dia menatapku seperti orang yang baru melihat sesuatu yang tidak akan pernah dia lupakan.
“Ibu lari pakai heels,” katanya pelan.
“Aku tahu.”
“Rambut Ibu lepas.”
“Aku tahu.”
“Ibu...” Dia berhenti. Dia mengangkat tangan, ragu-ragu, lalu menyingkirkan helai rambut yang menempel di pipiku karena keringat. Ujung jarinya menyapu pelipisku dan menyelipkan rambut itu ke belakang telinga. “Ibu kelihatan kayak orang yang menang perang.”
“Aku memang menang.”
“Iya.” Tangannya turun. “Ibu menang.”
Di belakangnya, Oma sudah merekam semuanya dari barisan penonton. Aku tidak perlu melihat untuk tahu.
Lomba berikutnya adalah balap karung.
Irvan berdiri di garis start dengan karung beras bekas Mas Ucup, yang sudah mereka pakai latihan setiap sore selama dua minggu. Di sebelah kirinya Lily, dengan karung kecil yang dijahit ulang Bi Inah supaya pas. Di sebelah kanannya Kenzo, dengan karung yang sama.
Papa Kenzo tidak datang. Lagi. Surabaya. Bu Vanya berdiri di pinggir lapangan dengan tangan terlipat di dada dan wajah yang tidak bisa kubaca.
Aturan lombanya: satu orang dewasa, satu anak, bergantian melompat. Tapi Irvan meminta izin khusus pada Bu Ratna, dan Bu Ratna, yang sejak rapat orang tua menjadi penggemar nomor satu Irvan setelah Oma, langsung setuju. Satu orang dewasa, dua anak. Tiga karung.
“Siap?” tanya Irvan.
“Siap!” teriak Lily dan Kenzo bersamaan.
“Ingat. Lutut ditekuk. Lompatnya kecil-kecil. Jangan buru-buru.”
“Kayak kodok!” kata Kenzo.
“Kayak kodok,” Irvan setuju. “Kodok yang sabar.”
Peluit berbunyi.
Mereka melompat. Irvan di tengah, dengan kaki panjang yang terjebak di karung beras yang terlalu pendek, sehingga setiap lompatannya terlihat seperti belalang kebingungan. Lily dan Kenzo di kiri-kanannya, melompat seperti kodok dengan tekad yang luar biasa.
Mereka tidak menang. Seorang ayah muda dengan anak kembar melaju di depan, melompat dengan kecepatan yang mencurigakan untuk manusia.
Tapi di tengah jalan, Kenzo tersandung.
Dia jatuh ke depan, wajahnya hampir mencium rumput. Sebelum dia menyentuh tanah, tangan Irvan sudah menangkap kerah bajunya, seperti di trotoar tiga bulan lalu. Refleks yang sama. Kenzo tergantung di udara sesaat, lalu diturunkan dengan hati-hati kembali ke dalam karungnya.
“Nggak apa-apa?”
Kenzo mengangguk, matanya lebar.
“Lanjut?”
“Lanjut!”
Mereka melanjutkan. Mereka finis di urutan kelima dari tujuh. Irvan terjatuh tepat di garis finis dengan karung beras melilit lututnya, dan dua anak kecil menimpanya sambil tertawa.
Dari pinggir lapangan, aku melihat Bu Vanya. Tangannya tidak lagi terlipat di dada. Tangannya menutup mulutnya. Matanya berkaca-kaca.
Dia menoleh dan mendapatiku sedang melihatnya. Untuk pertama kalinya, dia tidak mengalihkan pandangan. Dia hanya mengangguk padaku, sekali, kecil. Anggukan antara dua ibu yang sama-sama tahu rasanya menunggu seseorang di jendela pesawat.
Aku membalasnya.
Tarik tambang keluarga. Tim Lily: Irvan, aku, Opa, Oma, Darren, Bi Inah, Pak Karto, dan Sinta. Delapan orang dewasa, satu anak kecil yang posisinya “pemberi semangat” karena Bi Inah takut tangannya lecet.
“Ini tidak adil,” kata Bu Ratna dengan senyum. “Tim Lily orangnya terlalu banyak.”
“Aturannya siapa pun yang disayang boleh ikut,” kata Opa dengan nada datar. “Cicit saya menyayangi kami semua.”
Tidak ada yang bisa membantah Opa. Bahkan Bu Ratna.
Kami menang dalam empat detik. Darren menarik terlalu keras dan tim lawan, lima ayah dari kelas lain, terjungkal ke depan seperti domino. Oma merekam semuanya sambil menarik tali dengan satu tangan. Opa tidak berkeringat sama sekali.
Sesi foto adalah acara puncak.
Seorang fotografer profesional berdiri di depan dinding yang dihias kain putih dan bunga kertas. Satu per satu keluarga maju untuk difoto. Ayah, ibu, anak. Nenek dan cucu. Om dan keponakan. Sopir dan anak majikannya, yang tidak berhenti tersenyum.
Dinding sekolah sudah disiapkan. Satu dinding. Tidak ada yang terpisah.
Giliran kami.
“Seluruh keluarga?” tanya fotografer itu, memandangi rombongan kami yang terdiri dari sembilan orang.
“Dua foto,” kata Opa. “Pertama, kami semua. Kedua...” Dia memandangku, lalu Irvan, lalu Lily. “Kedua, mereka bertiga.”
Foto pertama diambil dengan Opa dan Oma duduk di tengah, Lily di pangkuan Oma, dan semua orang lain berdiri di belakang. Darren memasang wajah serius yang dia pikir keren. Sinta tersenyum seperti sedang difoto untuk laporan tahunan. Bi Inah mengangkat dua jari. Pak Karto terlihat seperti mau menangis.
Lalu semua orang minggir. Tinggal kami bertiga.
Lily di tengah. Aku di kiri, Irvan di kanan. Rambutku masih berantakan karena lomba estafet. Blazerku kotor. Heels-ku bengkok dan sudah kulepas, jadi aku berdiri dengan kaki telanjang di atas rumput. Irvan memakai kaus putih yang basah keringat di punggung, celana training, dan sepatu futsal pemberian Darren. Kacamatanya retak, seperti biasa.
Kami terlihat seperti keluarga yang baru selamat dari bencana alam.
“Papanya,” kata fotografer, “tolong rangkul mamanya sedikit.”
Irvan membeku.
Aku melihatnya dari sudut mataku. Tangannya terangkat setengah, lalu berhenti di udara. Ragu. Seperti tangannya di atas pion hitam di papan catur Opa.
Aku tidak menunggunya.
Aku bergeser ke arahnya. Aku meraih tangannya yang ragu-ragu di udara, menariknya, dan meletakkannya di pinggangku. Tangannya kaku di sana, seolah dia memegang sesuatu yang bisa meledak. Lalu aku menyandarkan kepalaku di bahunya.
Kaus putihnya lembap dan hangat. Wangi sabun batang dan keringat dan rumput. Jantungnya berdebar keras di bawah telingaku, cukup keras untuk kudengar di tengah musik anak-anak dari pengeras suara.
“Bu,” bisiknya.
“Senyum,” bisikku balik. “Kamera.”
Tangannya di pinggangku, pelan-pelan, berhenti kaku. Jari-jarinya melunak. Lalu, dengan sangat perlahan, seperti orang yang takut ketahuan, dia menarikku sedikit lebih dekat.
Lily mendongak ke arah kami dari tengah. Dia melihat kepalaku di bahu Irvan, tangan Irvan di pinggangku, lalu dia tersenyum sangat lebar. Senyum yang tidak dia pelajari dariku. Senyum yang dia pelajari entah di mana, dan bukan dari pria di gedung kaca bersalju.
Jepret.
Foto itu dicetak sore harinya dan ditempel di dinding sekolah. Di tengah, di antara foto nenek dan cucu yatim piatu dan foto sopir dan anak majikannya.
Aku berdiri di depannya lama setelah semua orang pulang.
Di foto itu, rambutku berantakan dan kakiku telanjang. Kepalaku bersandar di bahu seorang pria berkaus keringatan dengan kacamata retak. Tangannya di pinggangku. Di antara kami, seorang anak kecil tersenyum pada kamera dengan gigi susu yang goyang.
Kami tidak terlihat seperti keluarga Moris di majalah bisnis. Kami tidak terlihat seperti direktur, freelancer, dan anak yang disewakan papa.
Kami terlihat bahagia.
Itu data. Aku tidak bisa membantahnya.
Malam itu, Lily menyerahkan selembar kertas padaku sebelum tidur.
“Mama. Gambar baru.”
Aku membukanya.
Rumah dengan atap merah. Matahari di pojok, kali ini dengan sinar yang lebih rata. Seekor kucing oranye dengan koper. Seorang perempuan berambut panjang dengan bibir merah, digambar dengan rambut yang berantakan ke mana-mana, seperti habis tersetrum. Dan kaki perempuan itu tidak memakai sepatu.
Di sebelahnya, seorang anak kecil berkuncir dua.
Dan di sebelah kiri, di ruang yang dulu kosong, ada sosok tinggi. Rambut hitam yang berdiri di dua arah. Kaus putih. Dan di wajahnya, dua lingkaran besar dengan garis penghubung di tengah.
Kacamata. Dengan satu garis kecil miring di pojok kiri bawah lensa kiri.
Retak.
Kali ini dia tidak digambar dari belakang. Wajahnya menghadap ke depan. Dia tersenyum. Satu garis melengkung ke atas, miring ke kiri.
Di atas gambar, dengan huruf besar-kecil yang miring-miring, Lily menulis: KELUARGAKU.
“Om Kacamata nggak dari belakang lagi,” kataku. Suaraku keluar lebih pelan dari yang kumau.
“Soalnya aku udah tahu mukanya,” kata Lily. “Tadi di foto.”
Aku menatap gambar itu. Aku menatap garis kecil miring di pojok lensa kiri. Anakku bahkan menggambar retaknya.
“Mama suka?”
Aku tidak bisa menjawab. Aku hanya menariknya ke pelukanku dan menghirup rambutnya yang wangi stroberi dan rumput dan matahari.
“Mama nangis?” tanya Lily dari dalam pelukanku.
“Nggak.”
“Terus kenapa pundak aku basah?”
“Keringat. Mama tadi lari.”
“Lari tadi pagi. Sekarang udah malem.”
“Keringatnya telat.”
Lily diam sebentar. Lalu dia menepuk punggungku dua kali, pelan, seperti yang Irvan lakukan padanya waktu dia duduk di pangkuannya pertama kali. Dia mempelajarinya dari Irvan. Tentu saja.
“Nggak apa-apa, Ma,” katanya. “Kata Om Kacamata, nangis itu kayak keringet. Keluar kalau hatinya lagi kerja keras.”
Aku memeluknya lebih erat.
Aku tidak menempel gambar itu di dinding. Aku menaruhnya di meja samping ranjangku. Di atas gambar yang lama. Gambar dengan ruang kosong di sebelah kiri.
Sekarang ruang kosong itu sudah terisi. Oleh seseorang yang kontraknya tinggal sembilan bulan lagi.
Aku mematikan lampu dan berbaring dalam gelap, dan untuk pertama kalinya sejak menandatangani kontrak itu, aku menghitung.
Sembilan bulan.
Itu tidak cukup. Itu sama sekali tidak cukup.
- 1 Gambar Tanpa Papa
- 2 Proyek P.A.P.A.
- 3 Om Kacamata
- 4 Laporan Intelijen Sinta
- 5 Tawaran di Bangku Minimarket
- 6 Pasal Sembilan
- 7 Dua Kardus dan Satu Monitor
- 8 Makan Malam Keluarga Moris
- 9 Gerbang TK
- 10 Menantu Idaman Berhoodie
- 11 Skakmat
- 12 Rapat Orang Tua
- 13 Jam Tiga Pagi
- 14 Hampir
- 15 Darren Menantang
- 16 Hari Orang Tersayang reading
- 17 Lily Demam
- 18 Hoodie Abu-Abu
- 19 Pasal yang Mau Kulanggar
- 20 Kacamata Berembun
- 21 Ulang Tahun Opa
- 22 Yang Tidak Setara
- 23 Ciuman Pertama
- 24 Pulang ke Yogya
- 25 Cerita Om Darto
- 26 Kepala Keluarga Sementara
- 27 Perpanjangan Kontrak
- 28 Tamu dari Toronto
- 29 Papa Beneran
- 30 Proposal Kerja Sama
- 31 Dua Kursi di Pentas Seni
- 32 Papa Boleh Dua?
- 33 Pasal Sembilan Berlaku
- 34 Rumah Tanpa Hoodie
- 35 Pergi demi Kebaikan
- 36 Om Darto
- 37 Operasi Jemput Papa
- 38 Belum Beres
- 39 Tanpa Pasal
- 40 Papa
- 41 Epilog — Tugas yang Tak Pernah Beres