← Papa Pinjaman

Chapter Eight

Makan Malam Keluarga Moris

POV: Clara

Minggu pagi, pukul sembilan, kami bertiga duduk di karpet kamar Lily. Irvan bersila dengan punggung tegak seperti sedang ikut ujian lisan. Lily duduk di antara kami, memeluk boneka kelinci, menatap kami bergantian dengan curiga yang sehat.

Ini syarat kedua Irvan: Lily harus tahu.

Aku sudah menyiapkan kalimat pembuka sejak jam enam pagi. Tiga versi. Semua kalimatnya terdengar seperti siaran pers.

“Lily,” kataku. “Mama mau jelasin sesuatu soal Om Kacamata.”

“Om Kacamata mau pergi?” Matanya langsung melebar.

“Nggak. Om Kacamata tinggal di sini. Tapi...”

Irvan menyentuh lututku sebentar. Isyarat kecil, biar saya. Aku menutup mulut.

“Neng,” katanya, “Neng tahu main rumah-rumahan?”

“Tahu. Aku sama Ayu suka main. Aku jadi mama, Ayu jadi kakak, boneka jadi adek.”

“Nah. Mulai besok, kalau di sekolah, Om main rumah-rumahan. Om jadi papanya Neng. Om yang antar, Om yang jemput, Om yang dateng kalau ada acara papa-papa.”

Lily berpikir keras. Keningnya berkerut persis seperti Opa waktu membaca laporan kuartal.

“Tapi Om bukan papa aku beneran?”

“Bukan. Om tetap Om Kacamata.”

“Terus kalau Kenzo tanya?”

“Kalau Kenzo tanya, Neng bilang aja, ‘Itu yang jemput aku.’ Nggak usah bilang papa kalau Neng nggak mau. Om nggak mau Neng bohong.”

Lily memandanginya lama. Lalu dia bertanya dengan suara kecil, “Kalau main rumah-rumahan, sayangnya juga pura-pura?”

Aku menahan napas.

Irvan tidak langsung menjawab. Dia melepas kacamatanya, mengusap mata, lalu memakainya lagi. Kebiasaan itu lagi.

“Nggak,” katanya. “Rumah-rumahannya pura-pura. Sayangnya beneran.”

Lily memeluk kelincinya lebih erat. Lalu dia merangkak ke pangkuan Irvan, begitu saja, seolah pangkuan itu memang sudah disediakan untuknya sejak lama, dan duduk di sana.

“Oke,” katanya. “Tapi Opa jangan dikasih tahu. Opa nggak suka main rumah-rumahan. Opa sukanya catur.”

Irvan menatapku dari atas kepala Lily. Aku tidak bisa membaca ekspresinya. Tapi tangannya, yang ragu-ragu di udara, akhirnya mendarat di punggung anakku dan menepuknya pelan, dua kali, seperti menidurkan bayi.

Aku harus memalingkan wajah ke jendela.


Opa dan Oma tiba pukul lima sore. Darren tiba pukul lima lewat tiga, karena tentu saja adikku harus datang lebih awal untuk “menginspeksi”.

Aku menemukan mereka berdua di ruang keluarga. Darren duduk di lengan sofa dengan jersey futsal yang masih basah keringat, memandangi Irvan dari atas sampai bawah. Irvan berdiri di tengah ruangan dengan kemeja biru muda yang dibeli Sinta kemarin, celana bahan abu-abu, dan... sandal jepit.

“Kak,” kata Darren tanpa menoleh padaku. “Lo serius?”

“Darren.”

“Dia pakai sendal jepit, Kak. Di rumah Opa.”

“Sepatunya kekecilan,” kata Irvan. “Sinta salah beli ukuran.”

“Lo nggak punya sepatu sendiri?”

“Punya. Satu. Sepatu futsal.”

Darren menyipitkan mata. “Lo main futsal?”

“Dulu. Kiper.”

“Kiper.” Darren memandanginya dengan tatapan baru, campuran antara jijik dan tertarik. “Kiper itu posisi buat orang yang nggak bisa lari.”

“Kiper itu posisi buat orang yang tahu kapan harus nggak lari.”

Aku melihat alis Darren berkedut. Adikku dua puluh enam tahun, CFO junior yang lulus dari universitas di Melbourne dengan nilai sempurna dan ego sebesar gedung kantor. Sepanjang hidupnya, dia sudah mengusir tiga pacarku sebelum Reza dan satu calon kencan setelahnya, dengan metode yang sama: meremehkan sampai mereka menyerah. Tidak ada yang pernah menjawabnya dengan tenang.

“Kita lihat nanti,” kata Darren akhirnya, dan pergi ke kamarnya untuk mandi.

Irvan menghembuskan napas panjang.

“Lulus?” bisiknya.

“Tahap satu dari sembilan.”

“Ada sembilan?”

“Opa punya lima sendiri.”

Dia memejamkan mata. “Saya mau pulang ke Bu Haji Romlah.”

“Terlambat,” kataku, dan membetulkan kerah kemejanya yang tertekuk satu sisi. Tanganku di lehernya, sebentar saja. Aku merasakan dia menegang di bawah jariku. Aku merasakan detak nadinya, cepat, di sisi lehernya. “Kamu sudah tanda tangan.”

“Ibu...”

“Clara.”

“...Bu Clara.”

“Kita latihan lagi nanti.” Aku merapikan kerah sisi satunya, meskipun sisi itu sudah rapi. “Setelah makan malam.”


Aku berganti pakaian untuk makan malam. Gaun rumahan berwarna burgundy, lengan pendek, potongan sederhana yang jatuh sampai betis. Rambut kugerai dengan jepit perak kecil di satu sisi. Lipstik merah bata, tentu saja. Kalung tipis dengan liontin mutiara kecil pemberian Mama.

Aku berdiri di depan cermin lebih lama dari biasanya. Aku memeriksa pantulanku dengan mata yang sama yang kupakai untuk memeriksa laporan keuangan: garis leher yang jatuh tepat di bawah tulang selangka, rona di pipi yang tidak perlu blush-on, tahi lalat kecil yang tidak pernah bisa kututupi. Aku tahu aku terlihat baik. Itu data. Tapi malam ini, untuk pertama kalinya dalam lima tahun, aku menyadari bahwa aku memeriksa data itu untuk seseorang.

Itu tidak termasuk dalam kontrak.

Aku mematikan lampu kamar dan turun.

Irvan sudah di ruang makan, berdiri di dekat meja sambil membantu Bi Inah menata piring. Bi Inah membiarkannya, hal yang tidak pernah dia lakukan untuk siapa pun, termasuk Opa. Dia mendongak waktu aku masuk.

Dia berhenti.

Piring di tangannya berhenti di udara, lima sentimeter di atas meja. Matanya bergerak dari rambutku, ke gaunku, ke kakiku, lalu kembali ke wajahku, dan berhenti di bibirku. Lebih tepatnya, di dekat sudut kiri bibirku.

Bi Inah mengambil piring itu dari tangannya dengan gerakan terlatih. “Mas, piringnya jangan dilamunin. Harganya mahal.”

“Maaf, Bi.”

Aku lewat di sampingnya menuju kursiku, cukup dekat sampai lenganku menyerempet lengannya.

“Merah lagi,” bisikku.

“AC,” bisiknya balik. “Fluktuatif.”


Meja makan keluarga Moris bisa menampung dua belas orang. Malam ini kami berenam: Opa di kepala meja, Oma di kanannya, Darren di kirinya, aku di sebelah Oma, Irvan di sebelahku, dan Lily di kursi tinggi di antara aku dan Irvan, karena dia menolak duduk di tempat lain.

Opa Hendra Moris berusia tujuh puluh enam tahun dan masih terlihat seperti patung perunggu di lobi kantor. Rambutnya putih sempurna, disisir ke belakang. Kacamata bacanya bertengger di ujung hidung. Dia tidak bicara selama sepuluh menit pertama makan malam. Dia hanya makan, pelan, sambil sesekali mengangkat mata ke arah Irvan.

Setiap kali Opa mengangkat mata, Irvan menjatuhkan sendoknya.

Setelah sendok ketiga, Oma meletakkan tangan di lengan Irvan. “Nak, santai. Suami saya ini memang wajahnya begitu dari lahir. Waktu kami pacaran dulu, Ibu kira dia marah terus. Ternyata dia cuma sedang mencerna.”

“Lusi,” kata Opa.

“Apa? Benar, kan?”

Opa meletakkan sendok. Dia menatap Irvan dari balik kacamata baca.

“Irvan.”

“Ya, Pak.”

“Kerjamu apa?”

“Backend dan security engineer, Pak. Freelance.”

“Artinya?”

“Saya membangun sistem di balik aplikasi, Pak. Dan menjaga supaya sistemnya nggak dibobol orang.”

“Kliennya?”

“Satu perusahaan logistik di Rotterdam. Satu fintech di Singapura.”

“Nama fintech-nya?”

Irvan menyebutkannya. Opa diam dua detik.

“Kami pernah mempertimbangkan investasi di sana tiga tahun lalu,” kata Opa. “Batal. Sistem keamanan mereka tidak meyakinkan.”

“Itu sebelum saya masuk, Pak.”

Darren tersedak air minumnya. Oma menepuk-nepuk tangannya dengan gembira. Aku menatap piringku dan menahan senyum.

Opa tidak tersenyum. Tapi dia mengangguk sekali. Pelan. Anggukan yang, dalam bahasa Opa, setara dengan tepuk tangan berdiri.

“Orang tuamu?”

“Ibu saya penjahit di Yogyakarta, Pak.”

“Ayahmu?”

Hening sebentar. Aku merasakan Irvan menegang di sebelahku. Aku melirik SOP versi tiga koma dua di kepalaku. Sinta menulis jawaban cadangan untuk pertanyaan ini: Ayah sudah meninggal. Lebih mudah. Lebih bersih. Tidak mengundang pertanyaan lanjutan.

“Nggak ada, Pak,” kata Irvan. “Pergi waktu saya kecil.”

Dia tidak memakai jawaban Sinta.

Opa menatapnya lama. Lalu menatapku. Lalu menatap Lily, yang sedang serius memisahkan wortel dari nasinya.

“Hm,” kata Opa. Hanya itu. Lalu dia kembali makan.

Di bawah meja, tanpa berpikir, aku meletakkan tanganku di atas tangan Irvan. Sebentar. Hanya untuk mengatakan sesuatu yang tidak bisa kukatakan di depan semua orang.

Tangannya berbalik di bawah tanganku. Telapaknya menghadap ke atas. Dan selama tiga detik, jarinya menggenggam jariku.

Lalu dia melepaskannya, dan meraih sendok lagi.


“Nak Irvan,” kata Oma dengan nada seseorang yang baru mendapat ide cemerlang, “kamu ngerti HP, kan?”

“Sedikit, Bu.”

“Ini HP Oma, kenapa ya, nggak bisa kirim video ke grup arisan? Padahal Oma udah rekam joget baru. Bagus banget. Pakai lagu yang lagi viral itu.” Oma menyodorkan ponselnya. “Katanya kebesaran. Kebesaran apanya? Joget Oma juga nggak kebesaran.”

Irvan menerima ponsel itu. Aku melihat jarinya bergerak di layar. Membuka pengaturan, menggeser sesuatu, membuka aplikasi lain, menekan sesuatu, kembali lagi.

“Sudah, Bu. Videonya saya kompres sedikit. Kualitasnya tetap bagus. Terus penyimpanan HP Ibu juga penuh, ada tiga ribu foto yang sama. Saya pindahkan ke cloud. Nggak hilang.”

Oma menatap ponselnya. Mengirim video. Video itu terkirim.

“Dua menit,” bisik Oma dengan takjub. “Darren butuh dua hari buat benerin HP Oma bulan lalu, terus tetap nggak bisa.”

“Oma, itu HP-nya yang error...”

“Darren butuh dua hari,” ulang Oma, lebih keras, dengan mata berbinar ke arah Irvan. “Nak Irvan dua menit.”

Darren menusuk ayam gorengnya dengan dendam.

“Nak Irvan,” Oma menyentuh lengannya lagi, kali ini dengan kehangatan yang biasanya dia simpan untuk cucu-cucunya, “besok ajari Oma bikin video yang ada tulisannya gerak-gerak, ya? Yang kayak anak-anak muda.”

“Boleh, Bu.”

“Panggil Oma.”

Irvan melirikku. Aku mengangkat bahu kecil. Selamat datang.

“Boleh... Oma.”

Oma memekik pelan. Pekikan bahagia seorang nenek yang baru mendapat cucu tambahan. Opa memutar bola mata.


Bi Inah menyajikan sambal terasi di mangkuk kecil. Sambal yang sama yang kemarin dia pakai untuk menguji Irvan, dan kali ini aku bisa melihat biji cabainya lebih banyak.

Irvan mencoleknya dengan sepotong tempe. Makan. Wajahnya tetap tenang.

Tapi di sudut bibirnya, di sisi kanan, tertinggal sedikit sambal merah.

Aku melihatnya. Oma melihatnya. Darren melihatnya dan mulai menyeringai. Irvan tidak melihatnya.

Ini kesempatan. Aku sudah menunggunya sejak di tangga, sejak dia menolak memanggilku ‘Sayang’ karena itu “jatuh cinta” buatnya. Dia bilang itu seolah itu garis batas. Dan aku, sejak kecil, tidak pernah bisa melihat garis tanpa ingin melangkahinya.

Aku mengangkat tangan, pelan, dan menyeka sudut bibirnya dengan ibu jariku.

Irvan membeku. Sendok di tangannya berhenti di udara. Dia menatapku dari balik kacamata, dan di balik lensa yang retak itu, matanya melebar seperti orang yang baru tertabrak sesuatu yang tidak kelihatan.

Kulitnya hangat. Bibirnya lebih lembut dari yang kuduga.

Aku menarik tanganku, menatap ibu jariku yang merah, lalu menatapnya lagi.

“Pelan-pelan makannya,” kataku. Lalu, dengan nada paling ringan yang bisa kukeluarkan, “Sayang.”

Oma menjerit. Bukan pekikan kecil seperti tadi. Jeritan penuh, dengan dua tangan di pipi, seperti penonton konser. “Ya ampun! Ya ampun, Hendra, lihat! Mereka manis sekali!”

Darren menjatuhkan kepala ke meja. “Kak. Gue lagi makan.”

Lily memandang kami bergantian dengan mata bulat. “Mama pegang bibir Om Kacamata!”

“Mama bersihin sambal, Sayang.”

“Om Kacamata juga dipanggil Sayang?”

“Semua orang yang Mama sayang, Mama panggil Sayang.”

Aku mengatakannya tanpa berpikir. Lalu aku mendengar kalimat itu menggantung di udara ruang makan, dan aku sadar aku baru saja melanggar sesuatu. Aku tidak yakin apakah itu SOP Sinta, pasal tujuh, atau sesuatu yang jauh lebih tua dan lebih dalam dari keduanya.

Irvan masih belum bergerak. Telinganya merah. Lehernya merah. Bahkan tangannya, yang masih memegang sendok, entah bagaimana terlihat merah.

Lalu Lily, dengan suara yang sangat keras dan sangat bangga, berkata, “Om Kacamata! Kita kan lagi main rumah-rumahan! Om harus panggil Mama Sayang juga!”

Hening total.

Oma berhenti memekik. Darren mengangkat kepala dari meja. Bi Inah, di pintu dapur, berhenti mengelap piring.

Opa perlahan meletakkan sendoknya dan menatap Lily dari balik kacamata baca.

“Main rumah-rumahan?” ulangnya.

Aku merasakan darah turun dari wajahku. Seluruh SOP Sinta, tiga koma dua versi, puluhan halaman, runtuh dalam satu kalimat anak lima tahun.

Di sebelahku, Irvan menaruh sendok di piring. Pelan. Dia mengusap sudut bibirnya dengan serbet, di tempat yang tadi kusentuh. Lalu dia menatap Lily dengan senyum miring ke kiri dan satu lesung pipi.

“Neng,” katanya, “rumah-rumahannya udah selesai. Sekarang udah rumah beneran.”

Lalu dia menoleh padaku. Dan dengan suara yang sedikit bergetar, sedikit serak, tapi cukup jelas untuk didengar seluruh meja, dia berkata:

“Iya, Sayang. Makasih.”

Aku lupa cara bernapas.

Oma kembali menjerit. Darren kembali membenturkan kepala ke meja. Lily bertepuk tangan dengan gembira tanpa sepenuhnya mengerti kenapa. Bi Inah menghilang ke dapur, tapi aku mendengar tawanya yang tertahan.

Opa tidak bereaksi. Dia hanya memandangi Irvan beberapa detik lebih lama dari yang wajar. Lalu dia melepas kacamata bacanya, melipatnya, dan memasukkannya ke saku kemeja.

“Irvan.”

“Ya, Pak?”

“Kamu main catur?”

“Sedikit, Pak.”

“Kamis malam. Perpustakaan. Jam delapan.”

Itu bukan pertanyaan. Opa berdiri, menepuk bahu Oma sekali, dan meninggalkan meja makan.


Setelah semua orang pergi, aku menemukan Irvan di teras belakang, duduk di anak tangga menuju taman, memandangi kolam ikan yang diterangi lampu kecil.

Aku duduk di sebelahnya. Gaun burgundy-ku tersangkut di tepi tangga, dan aku membiarkannya.

“Kamu bilang ‘Sayang’,” kataku.

“Darurat.”

“Kamu bilang itu jatuh cinta.”

“Buat saya iya.” Dia tidak menoleh. “Makanya tadi saya bilang cepat-cepat. Biar nggak sempat jatuh.”

Aku menatap profil wajahnya dari samping. Rahangnya yang tidak dicukur, kacamata yang retak, rambut yang tetap berantakan meskipun Sinta sudah memaksanya ke tukang cukur kemarin sore.

“Irvan.”

“Hm?”

“Terima kasih. Soal ayahmu. Kamu bisa pakai jawaban Sinta.”

Dia diam lama.

“Lily ada di meja,” katanya akhirnya. “Saya nggak mau dia dengar saya bohong soal papa. Walaupun papanya saya.”

Aku tidak menjawab. Aku hanya duduk di sebelahnya, dengan bahu hampir bersentuhan, dan memandangi ikan-ikan koi berenang pelan di kolam yang terang.

Kami duduk seperti itu sampai Bi Inah memanggil dari dapur bahwa Lily tidak mau tidur kalau Om Kacamata tidak membacakan dongeng.

Irvan berdiri. Lalu, setelah satu detik ragu, dia mengulurkan tangan padaku.

Aku menerimanya. Dia menarikku berdiri.

Dia melepaskan tanganku lebih cepat dari yang kuinginkan.