← Papa Pinjaman

Chapter Thirty Four

Rumah Tanpa Hoodie

POV: Clara

Pesawat dari Singapura mendarat pukul sembilan lewat dua puluh malam. Aku mengirim pesan dari landasan, sebelum pesawat berhenti sepenuhnya, sebelum pramugari mengumumkan bahwa ponsel boleh dinyalakan.

Udah mendarat. Satu jam lagi sampai rumah. Kamu duluan, ya. Aku gugup.

Centang satu. Abu-abu.

Aku mengirim lagi di ruang pengambilan bagasi.

Kamu tidur? Jangan tidur. Aku udah latihan dua hari.

Centang satu.

Aku menelepon di mobil, di tol bandara, dengan Pak Karto menyetir dan lampu-lampu Jakarta yang melintas di kaca.

Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.

Aku menurunkan ponsel dan menatap Pak Karto di kursi depan. Dia menatap jalan. Lurus. Kedua tangannya di kemudi. Dia tidak bicara sejak menjemputku di terminal. Pak Karto selalu bicara. Soal macet, soal cucu-cucunya, soal cuaca.

“Pak,” kataku. “Irvan ponselnya mati.”

Pak Karto tidak menjawab. Tangannya di kemudi mengencang.

“Pak Karto.”

“Non,” katanya. Suaranya serak. “Nanti di rumah aja, ya, Non.”


Rumah keluarga Moris gelap waktu kami tiba. Hanya lampu taman dan satu lampu di ruang keluarga.

Oma duduk di anak tangga paling bawah dengan daster dan rambut yang tidak digulung, memeluk lutut. Matanya bengkak. Dia melihatku masuk dan tidak berdiri.

“Oma?”

Oma membuka mulut. Tidak ada yang keluar. Dia menggeleng, pelan, dan menutup wajahnya dengan tangan.

Darren berdiri di ambang pintu ruang keluarga. Dia memegang sesuatu. Sepatu futsal, masih terbungkus plastik bening, dengan secarik kertas di atasnya. Wajahnya merah. Bukan merah malu. Merah marah.

“Ruang kerja lo,” katanya. “Di meja.”

“Dar, ada apa...”

“Ruang kerja lo, Kak.”

Aku berjalan melewatinya. Aku naik tangga. Kakiku tahu jalannya, tapi tidak terasa seperti kakiku. Lorong sayap barat. Pintu kamarku. Pintu ruang kerja kecil di sebelahnya.

Aku membuka pintu.

Di atas mejaku, di tengah, rapi, dua map krem. Dan di antara keduanya, menyembul sedikit, selembar kertas bergaris yang dirobek dari buku catatan.

Aku tahu sebelum aku membacanya. Aku tahu seperti aku tahu di pintu kedatangan bandara, lima tahun lalu, ketika penumpang terakhir keluar dan tidak ada wajah yang kukenal. Tubuhku tahu sebelum otakku.

Aku menarik kertas itu keluar.

Tinta biru. Tulisan tangan kecil, rapi, miring ke kanan. Tulisan seseorang yang lebih terbiasa mengetik.

Clara, Pasal 9 berlaku.


Aku membacanya sampai habis. Lalu membacanya lagi. Lalu aku duduk di kursi, karena kakiku tidak lagi bisa menahan tubuhku.

Papanya Lily sudah kembali, dan dia mau ambil peran.

Anak kecil nggak boleh disuruh milih. Jadi saya yang milih, biar dia nggak perlu.

Map yang Clara kasih di restoran saya kembalikan. Terima kasih sudah mau memperpanjang.

Maaf saya nggak bilang langsung. Kalau saya bilang langsung, saya nggak akan bisa pergi.

Untuk hoodie yang nggak pernah dibalikin. Simpan aja.

Pasal sembilan berlaku.

Aku menatap kalimat itu. Tinta biru, dari pena yang pernah hilang dari mejaku bulan lalu dan tidak pernah kucari.

Pasal sembilan berlaku.

Aku mengambil map yang di atas. Adendum. Aku membukanya dengan tangan yang gemetar.

Halaman pertama. Pasal 1: Jangka waktu perjanjian diubah menjadi TANPA BATAS WAKTU.

Halaman kedua.

Pasal 7: DIHAPUS.

Pasal 9: DIHAPUS.

Dan di pinggir halaman kedua, di samping Pasal 9: DIHAPUS, tulisan pensil kecil yang kutulis sendiri di malam sebelum restoran atap. Tulisan yang kusembunyikan di sana, seperti anak kecil yang menyembunyikan pesan di buku harian, berharap seseorang menemukannya.

Kalau kamu baca sampai sini, ketuk pintuku malam ini. Aku mau bilang sesuatu yang nggak bisa aku tulis. — C.

Dia tidak pernah mengetuk.

Dia tidak pernah membacanya.

Kertas-kertas itu masih kaku. Tidak ada lipatan di sudut halaman, seperti kebiasaannya melipat sudut halaman buku yang dia baca. Tidak ada anotasi pensil di pinggir, seperti di kontrak pertama. Tidak ada satu pun bekas jari.

Dia menyimpan map ini lima minggu. Di laci. Di atas kontrak lama. Dan dia tidak pernah membukanya.

Dia pergi dengan pasal yang sudah kuhapus.


Aku tidak ingat berapa lama aku duduk di sana.

Aku ingat suara pintu di belakangku. Aku ingat Darren masuk, dan berdiri di ambang pintu, dan melihatku dengan map terbuka di tangan. Aku ingat dia melihat halaman kedua. Pasal 9: DIHAPUS. Dan tulisan pensil di pinggirnya.

Aku ingat wajah Darren berubah. Dari marah, ke bingung, ke sesuatu yang jauh lebih buruk.

“Kak,” katanya pelan. “Lo... hapus pasal itu?”

“Lima minggu lalu.”

“Dan dia nggak...”

“Dia nggak baca.” Suaraku keluar datar. Suara rapat direksi. Aku tidak tahu bagaimana suara itu masih ada. “Dia nggak pernah buka.”

Darren menatapku. Lalu dia menatap sepatu futsal di tangannya, masih terbungkus plastik. Lalu dia melemparnya ke lantai, keras, dan sepatu itu memantul ke dinding.

“Lo kasih dia map,” katanya. Suaranya naik. “Lo kasih dia map, Kak? Lo mau bilang lo sayang sama dia, terus lo kasih dia dokumen?”

“Dar...”

“Dia orang, Kak! Bukan akuisisi! Bukan Takahashi! Lo nggak bisa kirim proposal ke orang yang takut ditinggal, terus berharap dia baca pasal tiga halaman buat nemu kalimat ‘aku sayang kamu’ yang lo sembunyiin pakai pensil!”

“Darren,” kata sebuah suara dari lorong.

Opa berdiri di belakang Darren. Dengan tongkat. Dengan kemeja batik yang dikancingkan dengan benar, seperti dia belum tidur sama sekali.

Darren berhenti. Dadanya naik-turun. Matanya basah.

“Dia bilang gue kiper tetap,” katanya, lebih pelan. Suaranya pecah. “Liga kantor bulan depan. Dia bilang... gue udah daftarin nama dia.”

Dia berbalik dan berjalan pergi. Aku mendengar pintu kamarnya dibanting di ujung lorong.

Opa tidak masuk. Dia berdiri di ambang pintu ruang kerja dan menatapku. Menatap surat di satu tanganku, map di tangan yang lain.

Dia tidak bicara. Dia hanya menatapku lama, dengan wajah yang tidak bisa kubaca. Lalu dia berbalik dan pergi, dengan bunyi tongkat yang pelan di lantai kayu.


Lily tidak bertanya apa-apa hari Selasa pagi.

Dia turun untuk sarapan dengan seragam kuning-biru dan kuncir dua yang diikat Bi Inah. Dia duduk di kursi tingginya. Dia menatap kursi kosong di sebelahnya.

Roti di piringnya sudah dipotong jadi segitiga. Empat bagian. Bi Inah yang memotongnya.

Lily menatap roti itu. Dia tidak memakannya.

“Om Kacamata masih di Yogya?” tanyanya.

Aku sudah menyiapkan jawaban. Semalaman, di ranjang dengan hoodie abu-abu dan mata yang tidak mau tertutup, aku menyiapkan jawaban. Tiga versi. Versi yang jujur, versi yang lembut, versi yang tidak menghancurkan.

Aku tidak memakai satu pun.

“Iya, Sayang,” kataku. “Masih di Yogya.”

“Kapan pulang?”

“Mama nggak tahu.”

Lily menatapku. Lalu dia turun dari kursi tingginya, tanpa menyentuh rotinya, dan berjalan ke pintu depan.

“Aku mau berangkat,” katanya. “Nanti Om Kacamata nungguin di bangku.”


Om Kacamata tidak menunggu di bangku.

Pak Karto yang menceritakannya padaku malam itu, di garasi, dengan suara yang pecah-pecah. Lily keluar dari sekolah paling akhir, seperti biasa. Dia berlari ke minimarket, seperti biasa. Dia berhenti di depan bangku besi.

Di atas bangku itu ada selembar kertas karton, ditulis dengan spidol hitam oleh Mas Ucup: DIPESAN.

Lily membaca kata itu. Dia bisa membaca. Dia bertanya pada Mas Ucup, dipesan siapa. Mas Ucup berlutut di depannya, dan Pak Karto tidak mendengar apa yang dia katakan. Tapi Pak Karto melihat Mas Ucup memberinya dua susu kotak stroberi.

Lily tidak meminumnya. Dia menaruh keduanya di atas bangku besi, di sebelah tulisan DIPESAN. Lalu dia berjalan ke mobil Pak Karto sendirian.

Di mobil, dia tidak bernyanyi lagu balonku.

Di rumah, dia tidak menggambar.

Di meja makan, dia tidak bicara.

Di kamar, waktu aku membacakan cerita, dia tidak bertanya apa pun. Dia hanya berbaring dengan boneka Pak Mentega jahitan Bu Wati di pelukannya dan menatap langit-langit. Dia tidak tidur. Dia hanya menatap.

“Lily,” kataku.

Dia tidak menjawab.

“Sayang. Ngomong sama Mama.”

Dia memeluk Pak Mentega lebih erat.


Rabu, Lily tidak bicara.

Kamis, Lily tidak bicara.

Bu Ratna menelepon. Lily tidak menjawab pertanyaan di kelas. Lily tidak bermain di jam istirahat. Lily duduk di pojok kelas dengan krayon di tangan dan kertas kosong di depannya, dan tidak menggambar apa pun.

“Kenzo nyoba ngajak main, Bu Clara,” kata Bu Ratna di telepon. Suaranya bergetar. “Kenzo bawain puzzle peta Indonesia. Kenzo bilang, ‘Lily, kamu boleh pegang Sulawesi.’ Lily nggak jawab.”

Jumat, Oma menangis di meja sarapan. Tanpa suara. Air mata jatuh ke piring nasi gorengnya, dan dia terus makan, pelan-pelan, sampai Opa meletakkan tangannya di atas tangan Oma dan Oma berhenti.

Sabtu, Darren tidak pulang. Dia tidur di apartemen temannya. Dia mengirim pesan pada Oma, bukan padaku: Aku nggak bisa di rumah, Oma. Maaf.

Minggu, Reza datang pukul sepuluh.

Lily tidak turun dari kamarnya.

Reza berdiri di ruang tamu dengan buku cerita bergambar di tangan dan wajah bingung. Dia menatapku. Aku menatapnya balik.

“Dia sakit?” tanyanya.

“Dia nggak mau turun.”

“Kenapa?”

Aku tidak menjawab.

Reza menatap tangga. Lalu menatapku lagi. Aku melihat sesuatu berubah di wajahnya. Pelan-pelan. Seperti orang yang baru menyadari bahwa dia datang ke tempat di mana dia tidak ditunggu.

“Irvan,” katanya pelan. “Dia udah pergi?”

“Kamu tahu?”

“Dia ngomong sama aku. Minggu lalu. Di dekat air mancur.” Reza memandangi buku cerita di tangannya. “Dia kasih tahu aku soal lampu bintang-bintang. Soal roti segitiga. Soal wortel yang diparut ke telur dadar. Soal muka anak ayam.”

Aku menatapnya.

“Aku nggak ngerti kenapa dia kasih tahu aku,” kata Reza. “Sampai sekarang.”

Dia meletakkan buku cerita itu di meja. Dia tidak memaksa naik ke kamar Lily. Dia berdiri di ruang tamu sebentar, lalu berjalan ke pintu.

“Minggu depan,” katanya di ambang pintu. Lalu berhenti. “Kalau dia mau.”

Dia pergi.


Malam itu, pukul sebelas, aku turun ke dapur.

Lampu kuning kecil di atas meja. Lingkaran cahaya yang sama. Kursi tinggi kosong. Tidak ada laptop. Tidak ada kopi sachet. Tidak ada remah biskuit kelapa.

Aku membuka kulkas untuk mengambil air.

Di rak paling bawah, sejajar dengan tinggi anak lima tahun, berjajar susu kotak stroberi. Masih banyak. Bi Inah masih membelinya. Setiap hari Senin, seperti biasa. Bi Inah tidak berhenti membelinya.

Dan di depan jajaran itu, terpisah dari yang lain, dua kotak. Ditaruh berdampingan. Dengan sedotan yang masih terbungkus plastik, direkatkan di sampingnya.

Aku mengenali dua kotak itu. Aku yang menaruhnya di sana. Seminggu lalu. Hari pentas seni. Dua kotak yang kuambil dari bangku minimarket, yang tidak dia minum, yang kumasukkan ke tas di sebelah kartu nama Reza.

Aku menaruhnya di kulkas malam itu, sepulang pentas, dan berpikir: besok aku kasih ke dia. Besok, waktu kami bicara soal map.

Besoknya aku ke Singapura.

Aku berdiri di depan kulkas yang terbuka, dengan udara dingin menerpa kaki telanjangku, dan menatap dua kotak susu stroberi yang tidak pernah diminum.

Lalu aku merosot ke lantai dapur.

Aku duduk di lantai ubin yang dingin, bersandar di pintu kulkas yang masih terbuka, dengan hoodie abu-abu yang terlalu besar dan tudung yang jatuh di punggung. Aku menarik lutut ke dada. Aku menarik tudungnya ke atas kepala.

Wangi sabun batang sudah hampir hilang. Berminggu-minggu kupakai setiap malam. Wanginya sudah bercampur dengan wangi vanilaku sendiri, sampai aku tidak bisa lagi membedakan mana yang miliknya dan mana yang milikku.

Aku menangis.

Tidak seperti di taman hotel. Di taman hotel, aku menangis karena seseorang menyebut namaku dua kali, dan tangisan itu terasa seperti es yang mencair. Ini bukan es yang mencair. Ini sesuatu yang retak dari dalam, pelan, tanpa suara, seperti kaca yang retak di pojok kiri bawah lensa dan tidak pernah diganti.

Terima kasih sudah mau memperpanjang.

Dia pikir aku memperpanjang kontraknya. Dia pikir aku menawarkan kompensasi naik. Dia pikir aku mau dia tinggal karena Lily butuh papa, karena keluarga ini butuh penjaga, karena dia berguna.

Dan aku yang membuatnya berpikir begitu.

Aku yang menyebut Lily, Opa, Oma, Darren, Bi Inah, Pak Gunawan, Tuan Takahashi. Aku yang menyebut kompensasi naik. Aku yang berhenti di dan aku. Aku yang mendengar saya ngerti dan tidak bertanya apa yang dia mengerti.

Aku yang menyembunyikan kalimat paling penting dalam hidupku dengan pensil, di pinggir halaman kedua, di dalam map. Seperti anak kecil yang menyembunyikan gambar di bawah bantal karena takut dibilang bohong.

Aku tidak berbeda dari Reza. Reza tidak turun dari pesawat karena takut. Aku tidak mengucapkan tiga kata karena takut.

Aku tidak berbeda dari dia juga. Dia pergi tanpa bertanya karena yakin sudah tahu jawabannya. Aku tidak bertanya apa yang dia mengerti karena yakin sudah tahu jawabannya.

Di lantai dapur, dengan pintu kulkas terbuka dan dua kotak susu stroberi di depan mataku, aku menangis sampai tudung hoodie itu basah.


Seseorang menutup pintu kulkas.

Aku mengangkat kepala.

Bi Inah berdiri di depanku dengan daster bunga-bunga dan rambut yang digulung. Dia tidak bicara. Dia duduk di lantai di sebelahku, pelan, dengan lutut yang berbunyi, dan meletakkan tangannya di punggungku.

Dia menepuk punggungku. Dua kali. Pelan.

Seperti Lily. Seperti Irvan. Seperti semua orang di rumah ini yang, entah bagaimana, belajar cara menepuk punggung dari pria yang sekarang tidak ada.

“Non,” kata Bi Inah akhirnya. “Bibi dulu kerja di rumah ini waktu Non masih SD.”

Aku tidak menjawab.

“Bibi lihat Non jatuh dari sepeda. Bibi lihat Non nangis waktu Papa Non meninggal. Bibi lihat Non di kamar mandi jam dua pagi, abis pulang dari bandara, duduk di lantai, nggak nangis.”

Aku menunduk.

“Lima tahun Bibi nggak pernah lihat Non nangis lagi,” kata Bi Inah. “Terus Mas Irvan dateng. Terus Bibi lihat Non ketawa. Di dapur ini. Jam tiga pagi. Sama mi instan satu mangkuk dua garpu.” Dia menepuk punggungku lagi. “Bibi nggak ngerti soal kontrak-kontrak. Bibi nggak ngerti soal pasal. Tapi Bibi ngerti satu hal.”

“Apa, Bi?”

“Laki-laki yang makan sambal Bibi yang paling pedes tanpa minum, cuma biar Bibi seneng,” kata Bi Inah, “nggak pergi karena dia nggak sayang.”

Aku menatapnya.

“Dia pergi karena dia sayang, Non. Kebanyakan.” Bi Inah berdiri, pelan, berpegangan di pintu kulkas. “Orang yang pergi karena kebanyakan sayang itu nggak bisa dijemput pakai surat. Harus dijemput pakai kaki.”

Dia berjalan ke kompor. Dia menyalakan api. Dia mengambil panci kecil dari rak bawah dan mengisinya dengan air.

“Bibi bikinin mi instan,” katanya tanpa menoleh. “Telurnya satu. Buat Non semua.”

Aku duduk di lantai dapur dan menatap punggungnya. Uap mulai naik dari panci.

Lalu aku berdiri, membuka kulkas lagi, dan mengambil satu dari dua kotak susu stroberi yang tidak pernah diminum.

Aku menusuk sedotannya. Aku menyedotnya.

Manis. Terlalu manis. Rasa buatan.

Rasanya seperti bangku minimarket jam tiga sore, lima bulan lalu, ketika seorang pria dengan hoodie pudar dan celana tidur motif awan menutup laptopnya dan mendengarkan anakku bicara, seolah tidak ada hal lain di dunia yang lebih penting.