Chapter Thirty One
Dua Kursi di Pentas Seni
POV: Irvan
Malam itu, setelah lantai tiga puluh dua, dia mengetuk pintu kamarku pukul sepuluh lewat lima belas.
Tiga ketukan. Pelan. Lalu jeda. Lalu tiga lagi.
Aku berbaring di ranjang dengan lampu mati dan mata terbuka, dan aku tidak bergerak.
“Irvan,” katanya dari balik pintu. Suaranya pelan. Ada sesuatu di dalamnya yang belum pernah kudengar, sesuatu yang bergetar. “Aku tahu kamu belum tidur. Aku mau bilang sesuatu. Bukan soal Reza. Soal...”
Dia berhenti.
Aku menatap langit-langit. Aku menghitung detak jantungku sendiri. Aku tahu kalau aku membuka pintu itu, dia akan mengatakan sesuatu, dan apa pun itu, aku tidak akan sanggup mendengarnya. Kalau dia bilang Reza cuma masa lalu, aku tidak akan percaya. Kalau dia bilang aku mau kamu tetap tinggal, aku akan mendengar Lily butuh kamu, keluarga ini butuh kamu, kompensasi naik.
Kalau dia bilang sesuatu yang lain, sesuatu yang benar-benar lain, aku tidak akan bisa pergi.
“Irvan?”
Aku menutup mata.
Setelah lama, aku mendengar langkahnya menjauh. Pelan. Kaki telanjang di lantai kayu. Sampai sayap barat. Sampai pintu kamarnya tertutup.
Aku membuka mata lagi dan menatap langit-langit sampai pagi.
Tiga minggu berikutnya, aku menjadi hantu yang sangat sopan.
Reza datang setiap hari Minggu, pukul sepuluh, selama dua jam. Lalu, setelah minggu kedua, Pak Burhan menyetujui tambahan: Reza boleh mengantar Lily ke sekolah setiap Rabu pagi. Clara menandatanganinya dengan wajah datar.
Aku yang menyarankannya. Di meja sarapan, di depan semua orang.
“Rabu pagi saya ada call sama Singapura,” kataku. “Mungkin Pak Reza bisa gantiin.”
Clara menatapku dari seberang meja. Lama. Darren menjatuhkan sendoknya. Oma berhenti mengunyah. Opa tidak menurunkan korannya.
“Singapura nggak ada call hari Rabu,” kata Clara pelan.
“Baru dijadwalin.”
Dia tidak membantah. Tapi dia juga tidak menatapku lagi sepanjang sarapan.
Rabu berikutnya, dari jendela kamar sayap timur, aku melihat mobil sedan hitam Reza berhenti di depan pintu. Aku melihat Lily keluar dengan tas kelinci, ragu-ragu di anak tangga. Aku melihat Reza berjongkok, mengeluarkan koin dari saku kemejanya, dan menghilangkannya di tangan. Aku melihat Lily tertawa.
Aku menutup tirai.
Aku berhenti duduk di bangku minimarket setiap hari. Aku datang hanya hari Senin, Selasa, dan Kamis. Lalu hanya Senin dan Kamis. Lily tidak bertanya kenapa. Dia masih berlari ke bangku besi setiap hari, dan kalau aku tidak ada, Mas Ucup yang menemaninya sampai Pak Karto datang, dengan susu kotak stroberi yang, kata Mas Ucup, “tetap Mas Ir yang bayar, saya catat di buku utang”.
Clara berhenti mengetuk pintuku setelah malam pertama. Dia masih mencium pipiku di depan pintu kamar, setiap malam. Tapi ciumannya singkat sekarang, seperti ciuman orang yang tidak yakin apakah masih diizinkan. Dan setiap malam, sebelum dia pergi, dia bertanya:
“Udah dibaca?”
Dan setiap malam aku menjawab, “Belum.”
Dia tidak bertanya kenapa. Aku tidak menjelaskan.
Pentas seni TK Pelangi Kecil jatuh pada hari Sabtu terakhir bulan itu.
Kelas Lily menampilkan drama pendek. Judulnya, di selebaran yang ditempel di pintu kulkas oleh Bi Inah: KUCING YANG BAWA KOPER.
“Lily yang usul ceritanya,” kata Bu Ratna padaku waktu aku menjemput Lily hari Kamis. Matanya berbinar. “Dia bilang dapat dari Om Kacamata. Kucing oranye yang namanya Pak Mentega, bawa koper isi ikan asin sama sandal cadangan, mau liburan tapi nyasar. Terus ditolong sama anak-anak yang jadi rumah-rumah di sepanjang jalan. Anak-anak suka banget, Mas. Kenzo sampai minta jadi Pak Mentega. Tapi Lily nggak kasih. Lily sendiri yang jadi Pak Mentega.”
Aku tidak tahu harus bilang apa.
“Mas dateng, kan?” tanya Bu Ratna. “Lily bilang kursi depan buat Mama dan Om Kacamata. Dia udah minta ke saya. Dua kursi. Barisan pertama. Ditempel nama.”
Aula TK Pelangi Kecil hari Sabtu dipenuhi kursi plastik warna-warni, balon-balon, dan orang tua yang memegang ponsel siap merekam. Di panggung kecil yang dihias kertas krep, ada latar belakang yang dilukis anak-anak: jalan panjang dengan rumah-rumah di sepanjang tepinya, matahari yang sinarnya tidak rata, dan di ujung jalan, sebuah rumah dengan atap merah.
Di barisan pertama, tepat di tengah, dua kursi plastik biru. Di sandaran masing-masing, selembar kertas yang ditempel dengan selotip.
MAMA.
OM KACAMATA.
Tulisan tangan Lily. Huruf besar-kecil yang miring-miring.
Kami datang bertiga. Maksudku, berempat. Clara, aku, Oma, dan Opa, yang menolak ketinggalan “pertunjukan cicit pertama”. Darren datang belakangan bersama Sinta. Bi Inah dan Pak Karto juga datang, dan duduk di barisan belakang dengan wajah bangga seperti orang tua sungguhan.
Dan Reza.
Dia sudah di sana ketika kami datang. Berdiri di dekat barisan pertama, dengan kemeja putih dan jas biru tua, memegang buket kecil bunga matahari. Dia melihat kami masuk dan tersenyum. Senyum Lily.
“Pagi,” katanya. “Aku dapat undangan dari sekolah. Wali murid.”
Clara berhenti di lorong di antara kursi-kursi. Aku melihat bahunya menegang di balik blus sutra.
Reza melihat dua kursi biru di barisan pertama. Dia membaca kertas yang ditempel di sandarannya. MAMA. OM KACAMATA. Aku melihat wajahnya berubah. Hanya sedikit, sangat sedikit. Seperti orang yang membaca harga di menu dan menyadari dia tidak cukup membawa uang.
Barisan pertama sudah penuh. Semua kursi lain terisi. Barisan kedua juga. Satu-satunya kursi kosong yang tersisa ada di barisan paling belakang, di sebelah Pak Karto.
Aku melihat semua itu dalam lima detik. Aku menghitungnya seperti menghitung empat puluh persen di rapat orang tua murid.
Lalu aku berjalan ke barisan pertama.
Aku mengambil kertas OM KACAMATA dari sandaran kursi biru. Pelan. Selotipnya lepas dengan bunyi kecil. Aku melipat kertas itu dua kali dan memasukkannya ke saku kemejaku.
Aku menoleh ke Reza.
“Silakan, Pak,” kataku.
Reza menatapku. Buket bunga matahari di tangannya bergetar sedikit.
“Kamu yakin?”
“Lily pasti seneng lihat papanya di depan.”
Di sebelahku, Clara mengeluarkan suara kecil. “Irvan.”
Aku tidak menoleh padanya. Aku tidak bisa. Kalau aku menoleh, aku tidak akan bisa berjalan ke belakang.
“Saya di belakang, Clara. Dekat Pak Karto.” Aku tersenyum ke arah kursi kosong di barisan paling belakang. “Dari situ kelihatan juga.”
Aku berjalan ke belakang.
Aku tidak menoleh. Aku mendengar langkah Clara di belakangku, satu langkah, dua langkah, lalu berhenti. Aku mendengar Oma berbisik sesuatu dengan nada tinggi. Aku mendengar Opa berdeham.
Aku duduk di kursi plastik oranye di barisan paling belakang, di sebelah Pak Karto. Pak Karto menatapku dengan mata tua yang basah.
“Mas,” bisiknya. “Kenapa?”
“Kursinya cuma dua, Pak.”
“Tapi itu kursi Mas. Neng yang tempel namanya.”
“Iya, Pak.” Aku menatap panggung. “Makanya saya kasih.”
Pertunjukan dimulai pukul sepuluh lewat sepuluh.
Anak-anak masuk ke panggung dengan kostum kardus. Rumah-rumah kecil dengan jendela yang digambar spidol, atap dari kertas krep. Kenzo menjadi rumah paling besar, dengan cerobong asap dari gulungan tisu dapur. Dia melihatku di barisan belakang dan melambai dari balik kardusnya, sampai atapnya hampir jatuh.
Lalu Pak Mentega masuk.
Lily. Dengan kostum kucing oranye yang dijahit Oma dan Bi Inah selama tiga malam. Telinga dari kain flanel. Ekor dari sarung tangan yang diisi kapas. Kumis yang digambar dengan pensil alis di pipinya. Dan di tangannya, sebuah koper kecil. Koper mainan warna merah, yang aku belikan di toko mainan dekat stasiun sepulang dari Yogya, karena Lily bilang Pak Mentega butuh koper sungguhan untuk pentas.
Aula meledak dengan tepuk tangan dan tawa.
Lily berdiri di tengah panggung, dengan koper merah di tangan dan kumis pensil alis, dan menatap penonton. Matanya bergerak ke barisan pertama. Ke kursi biru yang di sandarannya tertulis MAMA. Clara duduk di sana, dengan senyum yang terlalu kaku, melambai.
Lalu matanya bergerak ke kursi biru di sebelahnya.
Reza. Dengan jas biru tua dan buket bunga matahari. Tersenyum lebar. Melambai.
Lily berhenti.
Seluruh aula menunggu. Bu Ratna di pinggir panggung berbisik, “Lily, ayo, ‘Aku Pak Mentega, aku mau liburan...’”
Lily tidak bicara. Dia menatap kursi biru di barisan pertama. Dia menatap Reza. Wajahnya bingung. Lalu matanya mulai bergerak. Ke kiri, ke kanan. Ke barisan kedua. Ketiga. Dia mencari sesuatu. Seseorang.
Aku melihat bibirnya bergerak. Tanpa suara. Aku bisa membaca bentuknya dari barisan paling belakang.
Om.
Dia mencari. Barisan keempat. Kelima. Koper merah di tangannya mulai bergetar. Bibir bawahnya maju. Matanya berkaca-kaca, di balik kumis pensil alis yang mulai luntur.
Seluruh aula mulai berbisik. Seorang ibu di barisan tengah berkata, “Kasihan, lupa dialog.” Seseorang tertawa kecil.
Aku berdiri.
Di barisan paling belakang, di antara orang tua yang duduk, aku berdiri di depan kursi plastik oranye. Lily melihatku.
Aku meletakkan dua jari di pelipis. Hormat asal-asalan. Yang biasa kuberikan di depan minimarket, di detik mobil Pak Karto muncul di tikungan.
Lily menatapku dari panggung. Air mata yang tadi hampir jatuh berhenti di ujung bulu matanya. Dia menghirup napas panjang, sangat panjang untuk anak lima tahun, dan mengangkat koper merahnya tinggi-tinggi.
“AKU PAK MENTEGA!” teriaknya. Terlalu keras. Suaranya pecah di tengah. “AKU MAU LIBURAN! KOPERKU ISINYA IKAN ASIN SAMA SANDAL CADANGAN!”
Aula tertawa. Tepuk tangan. Lega.
Aku duduk kembali di kursi plastik oranye. Pak Karto menepuk lututku tanpa bicara.
Lily memainkan Pak Mentega dengan seluruh jiwanya. Dia berjalan dari rumah ke rumah dengan koper merah. Dia tersesat. Dia bertanya arah pada Kenzo si rumah besar, yang menjawab dengan suara berat dibuat-buat. Dia menangis di tengah jalan karena kopernya terlalu berat. Lalu semua rumah kardus bergerak mendekat dan membantunya membawa koper, sampai Pak Mentega tiba di rumah beratap merah di ujung jalan.
“Aku sampai!” seru Lily di akhir. “Ternyata liburanku bukan jauh! Liburanku di rumah!”
Dia membungkuk. Kumis pensil alisnya sudah luntur menjadi noda cokelat di pipi. Telinga flanelnya miring.
Aula berdiri dan bertepuk tangan.
Aku ikut berdiri. Aku bertepuk tangan sampai telapak tanganku panas.
Lily melompat turun dari panggung dengan koper merah di tangan. Dia berlari di lorong di antara kursi-kursi. Wajahnya bersinar, mata mencari-cari, dan aku tahu dia mencariku, aku tahu dia akan berlari ke barisan paling belakang dan menabrak kakiku seperti biasa...
Reza berdiri dari kursi biru di barisan pertama.
Dia yang paling dekat. Dia berjongkok di lorong, tepat di jalur Lily, dan merentangkan tangannya. Lily, yang berlari dengan kecepatan penuh, tidak sempat berhenti. Dia menabrak dada Reza.
Reza menangkapnya. Lalu dia berdiri dan mengangkat Lily tinggi-tinggi ke udara, di atas kepalanya, seperti menerbangkan pesawat. Tinggi sekali. Sampai kepala Lily hampir menyentuh balon-balon di langit-langit aula.
Seperti papanya Rafi di Hari Ayah. Gendong Rafi tinggi banget sampai kepala Rafi hampir kena kipas.
Lily menjerit. Lalu tertawa. Tawa yang keluar dari perutnya, dengan kaki menendang-nendang udara dan koper merah hampir jatuh. Tawa dengan senyum yang lebar, pipi terangkat tinggi, mata menyipit di ujung.
Senyum Reza. Di atas kepala Reza.
Di bawahnya, Reza tertawa juga. Senyum yang sama.
Aula bertepuk tangan lagi. Seseorang berkata aww. Seseorang merekam.
Aku berdiri di barisan paling belakang dan menatap mereka.
Dari jarak itu, di antara kepala-kepala orang tua dan balon-balon warna-warni, mereka terlihat seperti gambar yang sudah lengkap. Ayah dan anak perempuan dengan senyum yang sama. Tidak ada ruang kosong di sebelah kiri. Tidak ada yang perlu digambar dari belakang.
Di barisan pertama, Clara tidak bertepuk tangan. Dia berdiri dan menoleh ke belakang. Mencariku.
Aku tidak membiarkannya menemukanku.
Aku keluar dari aula sebelum acara penutupan. Aku berdiri di halaman sekolah, di dekat ayunan yang catnya mengelupas, dan menatap bangku besi di depan minimarket di seberang pagar.
Seseorang menarik ujung kemejaku.
Kenzo. Masih dengan kostum rumah kardus, cerobong asap tisu dapur yang sudah penyok. Wajahnya berkeringat.
“Om Kacamata,” katanya. “Kok Om di belakang?”
“Kursinya penuh, Kenzo.”
“Tadi ada tulisannya. Om Kacamata. Aku lihat.” Kenzo menyipitkan mata. “Om kasih ke papanya Lily?”
Aku tidak menjawab.
Kenzo memandangiku lama. Lalu dia menoleh ke arah aula. Di pintu aula, seorang pria dengan kemeja batik dan wajah lelah sedang mencari-cari dengan mata. Pria itu melihat Kenzo dan melambai dengan kedua tangan.
“Papa aku dateng,” kata Kenzo pelan. “Dari Surabaya. Pesawat pagi.”
“Wah. Hebat.”
“Kata Papa, dia nonton aku jadi rumah. Katanya aku rumah paling bagus.” Kenzo tersenyum lebar, lalu senyumnya memudar sedikit. “Tapi Om.”
“Hm?”
“Waktu balap karung, yang nolongin aku jatuh itu Om. Bukan Papa. Soalnya Papa nggak ada.” Kenzo memainkan tali kardusnya. “Aku seneng Papa dateng hari ini. Tapi aku juga seneng Om dateng waktu balap karung.”
Aku berjongkok. Kacamataku berembun. Aku tidak tahu kenapa. Di luar ruangan, di bawah matahari jam sebelas.
“Dua-duanya boleh, Kenzo,” kataku. “Seneng dua-duanya boleh.”
“Beneran?”
“Beneran.”
Kenzo tersenyum lagi, lalu berlari ke arah papanya dengan kardus yang bergoyang-goyang. Papanya menangkapnya dan memeluknya, kardus dan semua.
Aku berdiri. Aku melepas kacamata dan mengelapnya dengan ujung kemeja. Lensanya tetap buram. Aku mengelapnya lagi.
Aku sadar lensanya tidak buram.
Aku memakainya kembali dan berjalan ke bangku besi di depan minimarket. Aku duduk di sana. Mas Ucup keluar dengan dua susu kotak stroberi. Dia melihat wajahku. Dia tidak bertanya apa pun. Dia hanya meletakkan dua kotak itu di meja dan kembali ke dalam.
Dari seberang pagar, aku mendengar suara orang-orang keluar dari aula. Tawa. Obrolan. Seseorang memanggil nama Lily.
Aku menunggu.
Tidak ada yang berlari ke bangku besi.
Aku duduk di sana dengan dua susu kotak stroberi yang tidak kuminum, dan kertas terlipat di saku kemejaku yang bertuliskan OM KACAMATA dengan huruf besar-kecil yang miring-miring.
Aku mengeluarkannya. Aku membukanya. Aku menatap tulisan itu lama.
Lalu aku melipatnya lagi, lebih kecil, sampai sebesar kotak korek api, dan memasukkannya ke dalam dompet. Di belakang KTP. Di tempat yang tidak akan hilang.
- 1 Gambar Tanpa Papa
- 2 Proyek P.A.P.A.
- 3 Om Kacamata
- 4 Laporan Intelijen Sinta
- 5 Tawaran di Bangku Minimarket
- 6 Pasal Sembilan
- 7 Dua Kardus dan Satu Monitor
- 8 Makan Malam Keluarga Moris
- 9 Gerbang TK
- 10 Menantu Idaman Berhoodie
- 11 Skakmat
- 12 Rapat Orang Tua
- 13 Jam Tiga Pagi
- 14 Hampir
- 15 Darren Menantang
- 16 Hari Orang Tersayang
- 17 Lily Demam
- 18 Hoodie Abu-Abu
- 19 Pasal yang Mau Kulanggar
- 20 Kacamata Berembun
- 21 Ulang Tahun Opa
- 22 Yang Tidak Setara
- 23 Ciuman Pertama
- 24 Pulang ke Yogya
- 25 Cerita Om Darto
- 26 Kepala Keluarga Sementara
- 27 Perpanjangan Kontrak
- 28 Tamu dari Toronto
- 29 Papa Beneran
- 30 Proposal Kerja Sama
- 31 Dua Kursi di Pentas Seni reading
- 32 Papa Boleh Dua?
- 33 Pasal Sembilan Berlaku
- 34 Rumah Tanpa Hoodie
- 35 Pergi demi Kebaikan
- 36 Om Darto
- 37 Operasi Jemput Papa
- 38 Belum Beres
- 39 Tanpa Pasal
- 40 Papa
- 41 Epilog — Tugas yang Tak Pernah Beres