Chapter Twenty Five
Cerita Om Darto
POV: Clara
“Angkat tangannya, Nduk. Lurus. Kayak mau terbang.”
Aku berdiri di tengah ruang jahit Bu Wati dengan kedua tangan terentang ke samping, memakai daster batik biru yang dipinjamkan beliau karena kemejaku “terlalu kaku buat diukur”. Daster itu kebesaran di pinggang dan kependekan di lutut. Aku terlihat seperti ibu-ibu kompleks yang siap belanja sayur di pagi hari.
Ruang jahit Bu Wati adalah kamar depan yang disulap jadi bengkel kecil. Dua mesin jahit tua, satu hitam dengan tulisan emas yang sudah pudar dan satu lagi mesin listrik yang lebih baru. Rak-rak kain dari lantai sampai langit-langit, jauh lebih sederhana dari rak kain Pak Liem, tapi disusun dengan ketelitian yang sama. Manekin tanpa kepala dengan kebaya setengah jadi. Papan kayu di dinding dengan puluhan pola kertas yang digantung dengan jepitan jemuran. Wangi kain baru, kapur jahit, dan minyak mesin.
Bu Wati mengukur bahuku dengan pita meteran yang warnanya sudah kuning. Tangannya cepat dan pasti. Jarinya menyentuh tulang bahuku, tulang selangka, lekuk pinggang, dan setiap angka dia catat di buku tulis kecil dengan pensil yang diraut pakai silet.
“Bahu tiga puluh sembilan. Butik Jakarta pasti bikin empat puluh satu.”
“Ibu tahu dari mana?”
“Butik Jakarta selalu bikin lebih gede dua senti. Biar gampang. Biar nggak ada yang protes kesempitan.” Bu Wati mencatat. “Tapi kebaya itu harus pas. Kalau nggak pas, bukan kebaya. Cuma baju.”
Di luar jendela, di seberang gang, aku mendengar tawa Lily dari bengkel. Sejak pagi dia di sana. Om Darto sedang mengajarinya memompa ban sepeda, dan setiap kali ban itu mengembang, Lily menjerit seolah baru saja menyaksikan keajaiban dunia.
Irvan tidak di sana. Irvan pergi ke pasar dengan tetangga sebelah untuk membeli “sesuatu”, katanya. Dia pergi tanpa menatapku. Sejak semalam, sejak lorong gelap dan gambar dengan kata BAPAK, dia tidak menatapku lebih dari dua detik.
“Nduk,” kata Bu Wati tanpa mengangkat kepala dari buku catatannya. “Kamu lihat gambar di lorong semalam, ya?”
Aku menurunkan tangan.
“Angkat lagi, Nduk. Belum selesai.”
Aku mengangkatnya lagi.
“Iya, Bu,” kataku. “Saya lihat.”
Bu Wati mengukur panjang lenganku. Dari bahu ke pergelangan, dengan siku ditekuk. Seperti Pak Liem mengukur Irvan.
“Darto yang bawa gambar itu,” katanya. “Kemarin sore. Sebelum kalian datang.”
Aku tidak bicara.
“Dia simpen di laci bengkel. Dua puluh empat tahun. Di bawah kunci-kunci dan baut-baut. Ibu nggak tahu. Ibu kira udah dibuang.” Bu Wati mencatat angka lagi. “Kemarin sore dia dateng ke sini, bawa bingkai dari tukang pigura. Kayunya murah. Dia bilang, ‘Mbak, pasang di lorong. Aku nggak berani kasih langsung.’”
Pita meteran itu melingkari pergelangan tanganku. Pelan.
“Dia nggak berani,” ulang Bu Wati. “Laki-laki lima puluh lima tahun, bisa bongkar mesin truk sendirian. Nggak berani ngasih gambar ke keponakannya sendiri.”
Bu Wati menyuruhku duduk di kursi kayu di sebelah mesin jahit. Dia menuang teh tubruk dari termos. Dia duduk di kursi mesin jahitnya, dan tangannya mulai bergerak di atas kain brokat biru muda yang sudah dipotong sejak entah kapan. Kain untuk kebayaku, aku sadar. Dia sudah memotongnya sebelum aku datang. Dia menebak ukuranku dari foto yang pasti dikirim Irvan, atau dari cara Irvan bercerita.
Mesin jahit itu berbunyi. Tek-tek-tek-tek. Seperti detak jam, tapi lebih cepat.
“Irvan umur tiga waktu bapaknya pergi,” kata Bu Wati. Dia tidak menatapku. Dia menatap kain di bawah jarum. “Ke Kalimantan. Tambang. Katanya setahun. Nggak pernah kirim kabar. Ibu jahit dari pagi sampai malam buat makan. Irvan dititipin ke Darto. Adik Ibu. Waktu itu Darto umur dua puluh tujuh, belum nikah, baru buka bengkel.”
Tek-tek-tek-tek.
“Darto yang ngajarin Irvan jalan. Maksud Ibu, jalan yang bener. Irvan jalannya bengkok, kakinya O. Darto bikinin sepatu khusus dari ban bekas, disuruh jalan di atas papan tiap sore. Darto yang ngajarin Irvan baca, pakai buku manual motor. Irvan bisa baca kata ‘karburator’ sebelum bisa baca ‘ibu’.” Bu Wati tersenyum kecil. “Darto yang dateng ke sekolah. Tiap rapat. Tiap acara. Tujuh belasan, lomba makan kerupuk. Hari Ayah.”
Gambar di lorong. Pria dengan tangan hitam dari ujung jari sampai siku.
“Irvan manggil Darto ‘Bapak’ di depan temen-temennya. Di rumah dia manggil ‘Om’. Di luar, ‘Bapak’. Darto nggak pernah ngoreksi. Nggak pernah bilang ‘Om bukan bapakmu’. Dia biarin aja.”
Tek-tek-tek-tek. Mesin itu berhenti. Bu Wati membalik kain, merapikannya, lalu mulai lagi.
“Terus waktu Irvan umur sepuluh, bapaknya pulang.”
Aku menggenggam cangkir teh dengan dua tangan.
“Pulang begitu aja. Tanpa kabar. Ngetuk pintu jam sembilan malam, bawa tas dan oleh-oleh. Bilang udah tobat. Bilang mau jadi bapak yang bener.” Suara Bu Wati tetap datar, tetap tenang, tapi tangannya di atas kain berhenti sebentar. “Ibu terima. Irvan butuh bapak. Itu yang Ibu pikir.”
“Om Darto?”
“Darto pergi.” Mesin jahit berbunyi lagi. “Tiga hari setelah bapaknya Irvan pulang. Subuh-subuh. Nggak pamit sama Irvan. Cuma pamit sama Ibu. Dia bilang, ‘Mbak, Irvan udah punya bapak asli. Aku jangan ganggu. Nanti anak itu bingung harus milih siapa. Anak kecil nggak boleh disuruh milih.’”
Cangkir di tanganku bergetar. Teh tubruk hampir tumpah.
Anak kecil nggak boleh disuruh milih.
Di ruang rapatku di lantai dua puluh tiga, dengan kontrak di atas meja dan pena di tanganku. Irvan dengan hoodie pudar dan kacamata retak. Tetap tulis, Bu.
“Darto ke Semarang,” lanjut Bu Wati. “Kerja di bengkel temennya. Tiga tahun. Ibu kirim surat tiap bulan, cerita soal Irvan. Darto nggak pernah bales. Tapi tiap bulan, ada wesel pos dateng. Nggak ada nama pengirimnya. Buat SPP Irvan.”
Tek-tek-tek.
“Bapaknya Irvan bertahan dua tahun. Terus pergi lagi. Kali ini ke Malaysia. Kali ini nggak pernah pulang sama sekali.”
“Dan Om Darto?”
“Darto pulang waktu Irvan umur tiga belas.” Bu Wati mematikan mesin jahitnya. Ruangan tiba-tiba hening. Di luar, Lily tertawa lagi di bengkel. “Tapi Irvan udah beda. Irvan udah nggak mau ngomong sama Darto. Nggak marah. Nggak teriak. Cuma... diem. Kayak Darto itu tetangga biasa. ‘Om’, bukan ‘Bapak’ lagi. Dan Darto terima. Darto pikir, itu hukumannya. Dia yang pergi, jadi dia nggak punya hak balik ke tempatnya.”
Bu Wati melepas kacamata bacanya dan mengelap lensanya dengan ujung daster. Tangannya gemetar sedikit.
“Mereka tinggal sebelahan dua puluh tahun, Nduk. Dua puluh tahun. Gang dua meter. Irvan nggak pernah nanya kenapa Darto pergi. Darto nggak pernah cerita. Irvan pikir Darto pergi karena Darto nggak butuh dia lagi. Karena udah ada yang asli.” Suaranya pecah di kata terakhir. “Darto pikir dia pergi demi Irvan. Demi kebaikan.”
Aku menatap cangkir teh di tanganku. Permukaan tehnya bergetar.
“Dua-duanya salah,” kata Bu Wati pelan. “Dan dua-duanya nggak pernah nanya.”
Aku tidak bisa bicara lama.
Ketika akhirnya aku bisa, suaraku keluar pelan dan serak. “Bu. Irvan nulis sesuatu di kontrak kami.”
Bu Wati menatapku. Dia tidak bertanya kontrak apa. Dia sudah tahu. Irvan pasti sudah cerita semalam, atau Bu Wati sudah menebaknya sendiri, dengan cara ibu-ibu menebak segala hal.
“Pasal sembilan,” kataku. “Dia minta ditambahin. Dia sendiri yang minta. Kalau ayah kandung Lily kembali dan mau ambil peran, dia mengundurkan diri.”
Bu Wati menatapku lama. Kacamata bacanya masih di tangannya, belum dipakai kembali. Matanya, tanpa kacamata, basah.
“Dia tulis itu?”
“Dia tulis pakai pensil. Saya tulis ulang pakai tinta.”
Bu Wati memejamkan mata.
“Ya Allah, Le,” bisiknya. Bukan padaku. Pada seseorang yang tidak ada di ruangan. “Ya Allah.”
Kami tidak bicara lagi soal itu. Bu Wati memakai kacamatanya kembali, menyalakan mesin jahit, dan melanjutkan kebaya biru muda di bawah jarumnya. Aku duduk di kursi kayu dengan teh tubruk yang sudah dingin.
Setelah beberapa lama, tanpa mengangkat kepala, Bu Wati berkata:
“Nduk. Ibu mau minta satu hal.”
“Apa, Bu?”
Tek-tek-tek-tek.
“Jangan biarin dia nulis ulang cerita Om-nya.”
Aku tidak menjawab. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku tidak tahu apakah aku bisa. Aku yang menandatangani pasal itu. Aku yang menulisnya ulang dengan tinta biru, di atas tulisan pensilnya. Dengan tulisan tangan terbaikku.
Mesin jahit berhenti. Bu Wati mengangkat kebaya itu. Separuh jadi. Satu lengan sudah terpasang, satu lagi belum. Brokat biru muda dengan motif bunga kecil yang halus.
“Coba,” katanya.
Aku memakainya di atas daster. Lengan yang sudah terpasang itu jatuh tepat di bahuku. Pas. Tiga puluh sembilan. Bukan empat puluh satu.
Bu Wati mengangguk puas. “Kebaya harus pas,” katanya. “Kalau nggak pas, bukan kebaya.”
Dia menatapku dari balik kacamata yang bingkainya disolder dua kali.
“Orang juga begitu, Nduk. Kalau udah pas, jangan dilepas cuma karena takut kesempitan.”
Irvan pulang dari pasar menjelang sore dengan kantong plastik berisi bakpia, gudeg kering dalam besek, dan satu kotak kecil yang dia sembunyikan di balik punggung.
Dia melihatku di teras dengan kebaya setengah jadi di atas daster, rambut dikepang, tanpa riasan. Dia berhenti di pagar.
“Clara... kenapa pakai daster Ibu?”
“Diukur.”
“Kebayanya...”
“Setengah jadi. Ibumu jahit dari pagi.”
Dia menatap kebaya brokat biru muda itu. Menatap bahuku, di mana jahitannya jatuh tepat. Aku melihat sesuatu di wajahnya, sesuatu yang dia sembunyikan dengan cepat.
“Pas,” katanya.
“Tiga puluh sembilan. Butik Jakarta bikin empat puluh satu.”
Dia tersenyum. Senyum pertama sejak semalam. Miring ke kiri, dengan lesung pipi.
“Itu apa di punggungmu?” tanyaku.
“Nggak ada.”
“Irvan.”
Dia menghela napas dan mengeluarkan kotak kecil itu. Kotak karton sederhana, diikat pita rafia merah. Dia menyerahkannya padaku dengan canggung, seperti anak SD menyerahkan kado ulang tahun untuk teman sekelas yang dia suka.
Aku membukanya.
Di dalamnya ada jepit rambut. Perak, sederhana, dengan ukiran bunga melati kecil di ujungnya. Perak Kotagede. Dibuat tangan.
“Tadi di pasar ada perajin perak,” katanya, menatap lantai teras. “Saya lihat... jepit rambut Clara yang di gala hilang. Waktu lari ke taman. Sanggulnya lepas. Jepitnya nggak ketemu.”
Aku tidak tahu jepit rambutku hilang. Aku tidak memperhatikan. Tapi dia memperhatikan.
“Ini murah,” katanya cepat-cepat. “Nggak kayak punya Clara yang dari Jakarta. Tapi peraknya asli. Saya tanya ke perajinnya. Dia udah bikin perak dari umur dua belas.”
Aku mengeluarkan jepit rambut itu dari kotaknya. Aku melepas karet rambut merah muda milik Lily dari ujung kepanganku, membuka kepangan itu dengan jari, dan memasang jepit rambut perak itu di sisi kiri rambutku, di atas telinga.
“Gimana?”
Dia menatapku. Lama. Seperti waktu dia menatapku di kaki tangga sebelum gala.
“Crash,” katanya pelan.
Malam itu, setelah Lily tertidur di kamar Irvan dengan Pak Mentega versi boneka di pelukannya, setelah Bu Wati masuk ke kamarnya sendiri, setelah bengkel Om Darto menutup pintu rolling-nya, Irvan mengajakku keluar.
“Ke mana?”
“Angkringan. Di ujung jalan. Clara belum pernah makan di angkringan, kan?”
“Pernah.”
“Kapan?”
“Waktu kuliah. Sekali. Di Jakarta.”
“Angkringan Jakarta itu bukan angkringan.” Dia mengambil jaket jins dari kursi. “Itu cuma warung yang pakai gerobak.”
Kami berjalan menyusuri gang-gang sempit Kotagede di bawah lampu jalan yang redup. Rumah-rumah tua dengan pintu kayu dan jendela berteralis. Tembok-tembok tinggi dengan cat yang mengelupas. Bau tanah, bau dupa dari suatu tempat, bau masakan dari dapur-dapur yang masih menyala. Sepi. Hanya suara jangkrik, suara motor di kejauhan, dan langkah kaki kami di atas jalan berbatu.
Angkringan di ujung jalan adalah gerobak kayu dengan terpal oranye, tiga bangku panjang, dan lampu teplok yang cahayanya kuning bergetar. Penjualnya bapak tua yang langsung mengenali Irvan dan memanggilnya “Mas Ir” dengan nada seperti Mas Ucup.
Kami makan nasi kucing, sate usus, dan tempe bacem. Kami minum wedang jahe dari gelas kaca tebal. Irvan mengajariku cara makan nasi kucing yang benar: bungkusnya dibuka seperti membuka surat, jangan disobek. Aku melakukannya dengan salah tiga kali, dan dia tertawa setiap kali.
Di bawah lampu teplok, dengan jaket jins kependekan dan rambut berantakan, dia terlihat seperti dirinya sendiri. Bukan pria dengan tuksedo di ballroom. Bukan Om Kacamata di bangku minimarket. Seseorang yang tumbuh di gang-gang ini, makan di angkringan ini, dan tahu cara membuka bungkus nasi kucing seperti membuka surat.
Aku menyukai dirinya yang ini paling banyak.
Kami berjalan pulang lewat gang yang lebih sempit. Gang di antara dua tembok tinggi, cukup lebar untuk dua orang berjalan berdampingan kalau bahu mereka bersentuhan. Lampu jalan di ujung gang mati. Satu-satunya cahaya datang dari bulan, setengah penuh, di atas tembok.
Irvan berhenti di tengah gang.
“Clara.”
“Hm?”
Dia tidak langsung bicara. Dia menatap tembok di sebelah kanan kami. Di tembok itu, samar-samar dalam cahaya bulan, ada coretan kapur yang sudah hampir hilang. Huruf I dan O, dengan panah di antaranya, mengarah ke sebuah rumah.
“Saya yang nulis itu,” katanya. “Umur sembilan. Pakai kapur jahit Ibu. Panahnya ke bengkel. Biar kalau saya nyasar, saya tahu jalan pulang.”
Aku menatap coretan itu. Huruf I dan O, dengan panah. Sama seperti ukiran di meja belajar kayu.
“Makasih,” katanya pelan.
“Buat apa?”
“Semalam. Di lorong. Clara nggak nanya apa-apa.”
Aku tidak menjawab. Aku tidak bisa menjawab. Karena sore tadi, di ruang jahit Bu Wati, aku sudah tahu semuanya. Semua yang dia tidak ceritakan. Semua yang dia sendiri belum tahu. Aku tahu kenapa Om Darto pergi. Aku tahu soal wesel pos tanpa nama pengirim. Aku tahu soal gambar di laci bengkel selama dua puluh empat tahun.
Aku tahu dari mana pasal sembilan datang.
Dan aku tidak mengatakannya. Karena Bu Wati bilang itu cerita Om Darto. Karena ada pintu yang hanya boleh dibuka dari dalam.
Dan karena, jauh di dalam diriku, di tempat yang tidak ingin kuakui, aku takut. Takut kalau aku membongkar pasal sembilan sekarang, dia akan melihat bahwa aku melakukannya bukan untuk dia. Tapi untuk diriku sendiri. Supaya dia tidak pergi.
“Clara?”
Aku mengangkat kepala.
Dia melangkah mendekat. Dalam gang yang sempit itu, satu langkah sudah cukup. Punggungku menyentuh tembok yang dingin dan kasar di belakangku. Tembok dengan coretan kapur I dan O.
Dia mengangkat tangan dan menyentuh jepit rambut perak di atas telingaku. Ujung jarinya menyusuri ukiran bunga melati kecil itu, pelan. Lalu turun ke pipiku. Lalu ke rahangku. Ibu jarinya berhenti di sudut bibir kiriku.
Di tahi lalat kecil itu.
“Dari hari pertama,” katanya pelan, “yang ini selalu kelihatan.”
Lalu dia menciumku.
Bukan seperti di taman hotel. Di taman hotel, aku yang memulai, dan dia butuh tiga detik untuk membalas. Di sini, di gang sempit Kotagede, di bawah bulan setengah penuh, dia yang memulai. Dan dia tidak ragu.
Bibirnya menekan bibirku dengan pelan pada awalnya, seperti mengetuk pintu. Lalu tidak pelan lagi. Tangannya di rahangku bergerak ke tengkukku, ke rambutku, dan jari-jarinya menyelinap di antara helai-helai yang baru saja kulepaskan dari kepang. Tangan satunya di pinggangku, menarikku menjauh dari tembok, ke arahnya, sampai tidak ada jarak sama sekali.
Aku membuka bibirku.
Dia memperdalamnya.
Aku berpegangan di jaket jinsnya. Kakiku, di atas jalan berbatu, tidak lagi terasa seperti kaki. Wangi wedang jahe di napasnya. Wangi sabun batang di lehernya. Hangat tubuhnya di tengah udara malam yang dingin. Jantungnya berdebar di bawah telapak tanganku, keras, cepat, tidak teratur, dan jantungku sendiri menyamai ritme itu seperti dua mesin yang disinkronkan.
Kacamatanya menekan pipiku. Bingkainya miring. Aku mengangkat tangan dan melepasnya, tanpa melepaskan ciuman, dan menggenggamnya di tanganku yang lain.
Dia menarik napas di bibirku. Sesaat. Lalu dia menciumku lagi, lebih dalam, lebih lambat, seolah dia punya waktu seumur hidup dan berniat memakai semuanya di gang sempit ini.
Aku tidak tahu berapa lama. Bulan bergerak sedikit di atas tembok. Seekor kucing liar melompat dari satu atap ke atap lain. Jauh di ujung jalan, penjual angkringan menyalakan radio, dan suara campursari samar-samar terbawa angin.
Waktu akhirnya dia menarik diri, napasnya terengah. Dahinya bersandar di dahiku. Matanya, tanpa kacamata, tidak fokus dan gelap dan sangat, sangat dekat.
“Clara,” katanya. Serak.
“Hm.”
“Saya nggak bisa lihat apa-apa.”
“Aku tahu. Kacamatamu di aku.”
“Kalau gitu,” dia menarik napas, “saya boleh sekali lagi? Mumpung nggak bisa lihat. Biar nggak malu.”
Aku tertawa. Tawa yang bergetar, di bibirnya.
“Boleh.”
Kami pulang dengan tangan bergandengan. Kacamatanya masih di tanganku. Aku belum mengembalikannya, dan dia tidak memintanya. Dia berjalan setengah buta di gang yang sudah dia hafal sejak kecil, dan setiap kali dia hampir tersandung batu, aku menariknya.
Di teras rumah Bu Wati, dia berhenti.
“Kacamata saya.”
Aku memasangkannya kembali. Dari depan. Pelan. Gagangnya kususupkan di balik telinganya yang panas.
Dia berkedip-kedip, menyesuaikan pandangan, dan menatapku dengan jelas.
“Merah,” katanya.
“Wedang jahe.”
“Fluktuatif?”
“Sangat.”
Dia masuk ke rumah. Aku tetap di teras sebentar, menatap bengkel di seberang gang. Pintu rolling-nya sudah tertutup, tapi ada cahaya kecil di jendela samping. Om Darto belum tidur.
Aku berdiri di sana lama. Di teras rumah kecil dengan cat hijau pucat, dengan jepit rambut perak di rambutku dan bibir yang masih terasa hangat.
Aku tahu dari mana pasal sembilan datang. Aku tahu itu cerita yang sama, ditulis ulang oleh anak laki-laki yang dulu ditinggal pergi demi kebaikannya sendiri.
Aku tahu. Dan aku tidak mengatakannya.
Aku bilang pada diriku sendiri: nanti. Waktu yang tepat. Waktu dia siap. Waktu aku menemukan kata-kata yang benar, bukan pasal, bukan klausul, bukan revisi kontrak.
Aku tidak tahu bahwa aku sedang melakukan hal yang sama persis dengan yang dilakukan Om Darto dan Irvan selama dua puluh tahun.
Menunggu.
Tidak bertanya.
- 1 Gambar Tanpa Papa
- 2 Proyek P.A.P.A.
- 3 Om Kacamata
- 4 Laporan Intelijen Sinta
- 5 Tawaran di Bangku Minimarket
- 6 Pasal Sembilan
- 7 Dua Kardus dan Satu Monitor
- 8 Makan Malam Keluarga Moris
- 9 Gerbang TK
- 10 Menantu Idaman Berhoodie
- 11 Skakmat
- 12 Rapat Orang Tua
- 13 Jam Tiga Pagi
- 14 Hampir
- 15 Darren Menantang
- 16 Hari Orang Tersayang
- 17 Lily Demam
- 18 Hoodie Abu-Abu
- 19 Pasal yang Mau Kulanggar
- 20 Kacamata Berembun
- 21 Ulang Tahun Opa
- 22 Yang Tidak Setara
- 23 Ciuman Pertama
- 24 Pulang ke Yogya
- 25 Cerita Om Darto reading
- 26 Kepala Keluarga Sementara
- 27 Perpanjangan Kontrak
- 28 Tamu dari Toronto
- 29 Papa Beneran
- 30 Proposal Kerja Sama
- 31 Dua Kursi di Pentas Seni
- 32 Papa Boleh Dua?
- 33 Pasal Sembilan Berlaku
- 34 Rumah Tanpa Hoodie
- 35 Pergi demi Kebaikan
- 36 Om Darto
- 37 Operasi Jemput Papa
- 38 Belum Beres
- 39 Tanpa Pasal
- 40 Papa
- 41 Epilog — Tugas yang Tak Pernah Beres