Chapter Twenty One
Ulang Tahun Opa
POV: Clara
Aku butuh tiga hari untuk menemukan jawaban yang benar.
Tiga hari tanpa mengetuk pintu kamarnya. Tiga hari tetap mengirim makan siang, dua porsi seperti janjiku, tapi tanpa catatan bertanda “C.”. Tiga hari duduk di bangku minimarket jam tiga dan bicara soal Lily, soal cuaca, soal Rotterdam, tapi tidak soal apa yang dia katakan di mobil.
Mereka akan lihat...
Dia tidak menyelesaikan kalimat itu. Dia tidak perlu. Aku sudah tumbuh di kalangan itu. Aku tahu persis apa yang akan mereka lihat, karena aku pernah melihatnya sendiri, dari sisi yang lain, di pesta-pesta yang sama, ketika seorang pewaris membawa pasangan yang “tidak selevel”. Bisik-bisik di balik gelas sampanye. Tatapan yang menghitung harga jam tangan dan sepatu. Kata-kata yang diucapkan dengan senyum.
Aku tidak bisa melindunginya dari tatapan itu. Aku tidak bisa membuat seluruh ballroom Hotel Mulia berpikir seperti aku.
Tapi aku bisa berhenti menjadi salah satu hal yang membuatnya merasa seperti barang.
Hari keempat, pagi, aku menemukan dia di dapur dengan kopi sachet dan laptop. Aku meletakkan sebuah kotak kecil di sebelah cangkirnya.
“Apa ini?”
“Buka.”
Dia membukanya. Di dalamnya, di atas beludru hitam, ada sepasang kancing manset perak polos dan satu dasi kupu-kupu hitam dari sutra.
“Pak Liem bilang tuksedonya butuh dua ini,” kataku. “Tuksedonya aku yang bayar. Itu hadiah ulang tahun Opa dariku. Opa minta kamu datang, jadi pakaianmu tanggung jawab tuan rumah.”
“Bu...”
“Tapi ini,” aku mengetuk kotak itu, “belum dibayar. Harganya ada di dalam.”
Dia mengangkat selembar kertas kecil dari bawah beludru. Harganya lebih masuk akal. Masih mahal untuk ukuran seorang freelancer yang hidupnya di minimarket, tapi masuk akal. Seperti membeli satu barang bagus yang akan dipakai bertahun-tahun.
“Ini kamu yang bayar,” kataku. “Ke Pak Liem. Langsung. Bukan ke aku.”
Dia menatap kertas itu, lalu menatapku.
“Kenapa?”
“Karena waktu kamu berdiri di ballroom itu, aku mau ada sesuatu di badanmu yang cuma kamu yang punya.” Aku berhenti sebentar. “Bukan dari aku. Bukan dari keluarga Moris. Dari kamu.”
Dia tidak bicara lama. Dia memutar kancing manset perak itu di antara jari-jarinya, pelan.
“Ini jawaban yang Ibu cari tiga hari?”
“Ini setengahnya.”
“Setengahnya lagi?”
Aku mengambil cangkir kopinya, menyesapnya, meringis karena terlalu manis, lalu mengembalikannya.
“Setengahnya lagi,” kataku, “aku tunjukin Sabtu malam.”
Aku berdandan selama dua jam. Sesuatu yang tidak pernah kulakukan sejak pernikahanku.
Gaunnya dipilih Oma dan Sinta, dan untuk pertama kalinya dalam sejarah, mereka berdua sepakat tanpa berdebat. Satin berwarna merah bata. Warna yang sama dengan lipstikku. Potongannya sederhana: garis leher lurus yang jatuh di bawah tulang selangka, tali tipis di bahu, pinggang yang pas dan rok yang jatuh lurus sampai lantai, dengan belahan di sisi kiri sampai lutut. Tanpa payet. Tanpa renda. Hanya kain yang berkilau lembut setiap kali aku bergerak, seperti permukaan air di bawah lampu.
Rambutku disanggul rendah, tapi tidak serapi biasanya. Penata rambut yang dikirim Sinta sengaja meloloskan beberapa helai di sekitar wajah dan tengkuk. Anting berlian kecil milik almarhumah Mama. Kalung tidak ada. “Leher Ibu sudah cukup,” kata Sinta dengan nada seorang kritikus seni.
Aku berdiri di depan cermin besar di kamarku.
Perempuan di cermin itu cantik. Aku tahu. Aku selalu tahu. Tulang selangka yang tegas di bawah kulit putih langsat. Leher jenjang yang dibiarkan telanjang. Mata almond yang diberi garis hitam tipis di ujung, membuatnya terlihat lebih tajam dan lebih mengantuk sekaligus. Bibir merah bata yang serasi dengan gaun. Tahi lalat kecil di dekat sudut bibir kiri.
Tapi malam ini aku tidak memeriksa pantulanku seperti memeriksa laporan keuangan. Malam ini aku berdiri di depan cermin dan bertanya pada diriku sendiri, dengan kejujuran yang membuatku malu: apakah dia akan menyukainya?
Pintu kamarku terbuka. Lily masuk dengan gaun putih kecil dan pita merah bata di rambutnya, yang dipilihkan Oma supaya “senada”. Dia berhenti di ambang pintu dan menatapku dengan mulut terbuka.
“Mama kayak putri.”
“Terima kasih, Sayang.”
“Putri yang galak.”
Aku tertawa. “Kenapa galak?”
“Soalnya bibirnya merah.” Lily mengernyit. “Tapi cantik. Galak tapi cantik. Kayak Mama kalau lagi ngomel di telepon.”
Irvan menunggu di kaki tangga.
Aku tahu dia menunggu karena Bi Inah memberi tahu lewat pesan singkat: Non, Mas Irvan udah di bawah dari 20 menit. Mondar-mandir. Bibi kasih air putih udah 2 gelas.
Aku turun pelan-pelan. Satu tangan di pegangan kayu. Satu tangan memegang ujung gaun supaya tidak terinjak. Heels merah bata. Lily di belakangku, memegang ujung gaunku seperti pengiring pengantin.
Dia berdiri di bawah, membelakangi tangga, berbicara dengan Darren. Tuksedo hitam, wol Italia, kerah shawl. Aku melihat punggungnya dulu. Bahu yang lebar dalam jahitan Pak Liem yang sempurna, pinggang yang ramping, postur yang tegak. Pak Liem pasti menceramahinya soal punggung lagi di sesi fitting terakhir.
Darren melihatku lebih dulu. Dia berhenti di tengah kalimat dan menepuk lengan Irvan.
Irvan berbalik.
Dan aku lupa bahwa aku sedang menuruni tangga.
Dia bukan Om Kacamata. Dia bukan pria di bangku minimarket dengan hoodie pudar dan celana tidur motif awan. Rambutnya disisir ke belakang dengan rapi, memperlihatkan dahi dan tulang pipi yang selama ini tersembunyi di balik rambut yang berantakan. Rahangnya dicukur bersih untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, dan ternyata rahangnya tegas, tajam, jauh lebih tegas dari yang kubayangkan. Kemeja putih di balik tuksedo. Dasi kupu-kupu hitam dari sutra, yang dia beli sendiri. Kancing manset perak di pergelangan, yang dia beli sendiri.
Dan kacamatanya. Bingkai hitam tipis. Retak kecil di pojok kiri bawah lensa kiri.
Dia tidak menggantinya. Tentu saja dia tidak menggantinya.
Dia terlihat seperti seseorang yang keluar dari film hitam-putih lama, lalu tersesat dan memakai kacamata milik orang lain. Dia terlihat tampan dengan cara yang membuatku marah, karena selama berbulan-bulan dia menyembunyikan semua itu di balik hoodie dan remah roti.
Aku berhenti di anak tangga ketiga dari bawah.
Dia menatapku. Dari sanggulku yang longgar, ke anting berlian, ke leherku yang telanjang, ke gaun merah bata, ke belahan di sisi kiri, ke heels, lalu kembali ke wajahku. Perlahan. Seolah dia sedang membaca kode yang terlalu indah untuk dibaca cepat.
Kacamatanya berembun.
Darren mengerang. “Ya ampun. Gue di sini. Gue ada di sini.”
“Pergi aja, Dar,” kata Irvan tanpa memalingkan pandangan dariku.
Darren menatapnya dengan kaget. Lalu dia tertawa dan pergi ke mobil.
Aku turun tiga anak tangga terakhir. Aku berhenti di depannya. Dia sedikit lebih tinggi dariku, bahkan dengan heels.
“Kamu dicukur,” kataku.
“Pak Liem maksa.”
“Kamu nggak ganti kacamata.”
“Masih kelihatan.”
“Apa yang kelihatan?”
Dia menarik napas. Dia menatapku dari jarak sangat dekat, dari balik lensa yang berembun dan retak.
“Ibu,” katanya pelan. “Ibu... saya nggak punya kata-katanya.”
“Coba.”
“Saya programmer, Bu. Kosakata saya isinya error, debug, sama deploy.”
“Pakai itu.”
Dia berpikir. Lalu, dengan suara yang sangat serius, dia berkata, “Sistem saya crash.”
Aku tertawa. Tawa keras yang tidak kututupi dengan punggung tangan, di kaki tangga rumah Opa, dengan gaun merah bata dan Lily yang memegang ujung rokku.
Aku mengangkat tangan dan membetulkan kacamatanya. Lalu aku merapikan dasi kupu-kupunya, yang tidak perlu dirapikan.
“Setengah jawabanku,” kataku pelan, cukup pelan untuk hanya dia yang dengar, “adalah ini. Malam ini, di ballroom itu, aku nggak akan jalan di depan kamu. Aku nggak akan jalan di belakang kamu. Aku jalan di sebelah kamu. Sepanjang malam. Biar semua orang lihat aku milih ada di sana.”
Dia menatapku. Kacamatanya masih berembun.
Aku mengulurkan tangan. Telapak menghadap ke atas.
Dia menggenggamnya.
Ballroom Hotel Mulia malam itu dipenuhi tiga ratus tamu, lampu kristal sebesar mobil, dan orkes kecil yang memainkan musik jaz lembut di sudut ruangan. Meja-meja bundar dengan taplak putih dan rangkaian bunga anggrek putih yang pasti menghabiskan separuh anggaran pemasaran kami satu kuartal.
Kami masuk bergandengan. Opa dan Oma di depan, Darren di belakang dengan Sinta yang malam ini bertugas sebagai “koordinator operasional”, dan Lily di antara aku dan Irvan, memegang tangan kami berdua.
Ruangan itu menoleh.
Aku sudah terbiasa dengan tatapan. Tapi malam ini tatapannya berbeda. Tatapan-tatapan itu tidak berhenti di aku. Mereka bergerak dari aku ke pria di sebelahku, lalu berhenti di sana. Lama. Dengan pertanyaan.
Siapa dia?
Aku mendengar bisik-bisik. Aku tidak mendengar kata-katanya, tapi aku mendengar nadanya. Penasaran. Terkejut. Beberapa kagum, terutama dari meja-meja yang berisi perempuan muda. Beberapa menilai.
Irvan menegang di sebelahku. Genggamannya di tanganku mengencang.
Aku tidak menoleh ke mana pun. Aku berjalan lurus, dengan dagu sedikit terangkat, dan meremas tangannya kembali.
Pak Wiratmaja menyambut kami di dekat meja utama dengan cucunya, seorang gadis dua puluh tahunan dengan kawat gigi dan mata yang berbinar-binar.
“Clara,” kata Pak Wiratmaja, menjabat tanganku. Lalu dia menatap Irvan dengan mata tuanya yang tajam. “Dan ini... si hoodie.”
“Irvan, Pak.”
“Irvan.” Pak Wiratmaja menjabat tangannya dan menahannya sedikit lebih lama. “Cucu saya ini penggemar beratmu.”
Gadis itu memekik pelan. “Om! Om yang di TikTok! Oma Lusi! Aku follow!”
“Terima kasih,” kata Irvan dengan wajah yang langsung merah.
“Kacamatanya beneran retak!” Gadis itu menunjuk dengan antusias, lalu menoleh padaku. “Tante Clara. Ingat pesanku, ya.”
“Pesan apa?”
“Jangan dilepas.”
Opa berpidato pukul delapan. Pidatonya pendek, seperti Opa sendiri. Terima kasih untuk tamu. Terima kasih untuk rekan bisnis. Terima kasih untuk Lusiana, “yang sudah bertahan dengan saya selama lima puluh empat tahun, meskipun saya tidak pernah mengembalikan jaketnya”. Tawa di seluruh ruangan. Oma memukul lengan Opa di kursinya.
Lalu Opa menatap ke meja keluarga.
“Dan terima kasih untuk keluarga saya,” katanya. “Yang tahun ini bertambah satu.”
Dia tidak menyebut nama. Dia tidak perlu. Tiga ratus pasang mata bergerak ke meja kami. Ke Irvan, yang duduk di sebelahku dengan Lily di pangkuannya, karena Lily menolak duduk di kursinya sendiri.
Irvan membeku.
Aku meletakkan tanganku di atas tangannya di atas meja. Di depan tiga ratus orang. Dan tidak melepaskannya.
Setelah makan malam, orkes memainkan lagu dansa.
Opa dan Oma turun ke lantai dansa lebih dulu, seperti tradisi. Opa berdansa dengan kaku tapi tepat. Oma berdansa seperti sedang merekam TikTok tanpa ponsel. Lalu pasangan-pasangan lain menyusul.
Aku berdiri dan mengulurkan tangan pada Irvan.
“Aku nggak bisa dansa, Bu.”
“Aku tahu.”
“Beneran nggak bisa. Saya bakal injek kaki Ibu.”
“Kakiku kuat. Aku pernah lari pakai heels sembilan senti di lapangan kerikil.”
Dia menatap tanganku. Lalu menatap lantai dansa yang penuh orang-orang yang jelas sudah les dansa sejak kecil. Lalu menatapku.
Dia berdiri.
Kami ke tengah lantai dansa. Aku meletakkan satu tangannya di pinggangku. Tangan satunya kugenggam. Tanganku sendiri di bahunya.
“Ikutin aku,” kataku.
“Ke mana?”
“Ke mana pun.”
Dia menginjak kakiku di langkah pertama. Lalu di langkah keempat. Lalu di langkah ketujuh.
“Maaf. Maaf. Maaf.”
“Berhenti lihat ke bawah.”
“Kalau saya nggak lihat ke bawah, saya injek lagi.”
“Kalau kamu lihat ke bawah, kamu nggak lihat aku.”
Dia mengangkat kepala. Menatapku. Dan dia berhenti menginjak kakiku.
Kami berdansa. Pelan. Tidak benar, tidak indah, tapi pelan. Tangannya di pinggangku semakin tidak kaku. Jarak di antara kami semakin tidak ada. Musik jaz lembut, lampu kristal, wangi anggrek putih, dan tuksedo hitam yang wangi sabun batang di balik parfum yang dipinjamkan Darren.
Aku mendekatkan wajahku ke telinganya.
“Kamu tahu,” bisikku, “tadi di tangga, waktu kamu bilang sistemmu crash...”
“Hm?”
“Itu hal paling romantis yang pernah dikatakan orang padaku.”
Aku merasakan dia menegang. Lalu tertawa pelan, napasnya hangat di leherku.
“Itu cuma istilah teknis, Bu.”
“Aku tahu. Makanya romantis.” Aku menarik diri sedikit, cukup untuk menatapnya. “Semua pria yang pernah mendekatiku pakai kata-kata puisi. Kamu satu-satunya yang crash.”
“Itu... pujian?”
“Iya.”
“Saya nggak yakin.”
“Kamu nggak perlu yakin.” Aku mendekatkan wajahku lagi, sampai bibirku hampir menyentuh telinganya. “Kamu cuma perlu tahu satu hal. Di ruangan ini ada tiga ratus orang. Dan aku cuma lihat satu.”
Dia menginjak kakiku lagi.
Kali ini aku tidak menegurnya.
Musik berakhir. Kami berhenti. Tepuk tangan dari tamu-tamu di sekitar lantai dansa.
Lalu sebuah suara, nyaring dan manis seperti sirup, memanggil dari pinggir lantai dansa.
“Clara, Sayang!”
Aku menoleh.
Nyonya Santoso. Enam puluh tahun, rambut disasak tinggi dengan hairspray yang cukup untuk menahan badai, kebaya brokat emas, dan kalung zamrud sebesar telur puyuh. Senyumnya lebar. Matanya tidak ikut tersenyum.
Lima tahun lalu, perempuan ini menyebarkan kabar bahwa suamiku meninggalkanku karena aku “terlalu dingin untuk jadi istri”. Aku tahu karena teman kuliahku yang mendengarnya langsung di arisan sosialita dan menangis saat menceritakannya padaku.
“Tante Santi,” kataku dengan senyum yang sama sempurnanya. “Selamat malam.”
“Cantik sekali kamu malam ini! Merah! Berani!” Dia memeluk udara di sekitar pipiku tanpa menyentuhnya. Lalu matanya bergerak ke Irvan. “Dan ini... pria dari TikTok itu, ya? Yang heboh itu?”
“Irvan, Tante.”
“Irvan.” Nyonya Santoso mengulurkan tangan dengan jari-jari penuh cincin. Irvan menjabatnya. “Kerja di mana, Nak?”
“Freelance, Bu. IT.”
“Oh, freelance.” Kata itu diucapkan dengan nada yang sama seperti orang mengucapkan pengangguran. “Menarik sekali. Di rumah terus, ya?”
“Kadang di minimarket, Bu.”
Nyonya Santoso berkedip. “Minimarket?”
“Wifinya kencang.”
Aku menahan tawa. Irvan mengatakannya dengan wajah paling polos yang pernah kulihat. Dia tidak sedang melawan. Dia hanya menjawab dengan jujur. Justru karena itu, tidak ada yang bisa dilawan.
Nyonya Santoso tersenyum lagi. Lebih lebar. Lebih dingin.
“Lucu sekali,” katanya. “Clara, Sayang, Tante pinjam sebentar, ya? Ada yang mau Tante kenalkan. Anak teman Tante, baru pulang dari Harvard. Dia penasaran sama portofolio Moris.”
Aku ingin menolak. Tapi ini pesta Opa. Ini kalangan Opa. Aturan tidak tertulisnya jelas: kau tidak menolak Nyonya Santoso di depan orang lain, kecuali kau ingin namamu dibahas di tiga puluh arisan minggu depan.
“Sebentar,” kataku pada Irvan.
“Iya, Bu.”
“Jangan ke mana-mana.”
“Saya di meja.”
Aku berjalan pergi bersama Nyonya Santoso. Di tengah jalan, aku menoleh ke belakang. Irvan berdiri di pinggir lantai dansa, sendirian, dengan tuksedo hitam dan dasi kupu-kupu yang dia beli sendiri, memandangiku.
Dia tersenyum. Miring ke kiri.
Aku tidak tahu itu akan jadi senyum terakhirnya malam itu.
- 1 Gambar Tanpa Papa
- 2 Proyek P.A.P.A.
- 3 Om Kacamata
- 4 Laporan Intelijen Sinta
- 5 Tawaran di Bangku Minimarket
- 6 Pasal Sembilan
- 7 Dua Kardus dan Satu Monitor
- 8 Makan Malam Keluarga Moris
- 9 Gerbang TK
- 10 Menantu Idaman Berhoodie
- 11 Skakmat
- 12 Rapat Orang Tua
- 13 Jam Tiga Pagi
- 14 Hampir
- 15 Darren Menantang
- 16 Hari Orang Tersayang
- 17 Lily Demam
- 18 Hoodie Abu-Abu
- 19 Pasal yang Mau Kulanggar
- 20 Kacamata Berembun
- 21 Ulang Tahun Opa reading
- 22 Yang Tidak Setara
- 23 Ciuman Pertama
- 24 Pulang ke Yogya
- 25 Cerita Om Darto
- 26 Kepala Keluarga Sementara
- 27 Perpanjangan Kontrak
- 28 Tamu dari Toronto
- 29 Papa Beneran
- 30 Proposal Kerja Sama
- 31 Dua Kursi di Pentas Seni
- 32 Papa Boleh Dua?
- 33 Pasal Sembilan Berlaku
- 34 Rumah Tanpa Hoodie
- 35 Pergi demi Kebaikan
- 36 Om Darto
- 37 Operasi Jemput Papa
- 38 Belum Beres
- 39 Tanpa Pasal
- 40 Papa
- 41 Epilog — Tugas yang Tak Pernah Beres