← Papa Pinjaman

Chapter Twenty Seven

Perpanjangan Kontrak

POV: Clara

Akuisisi Takahashi Holdings ditandatangani Senin pukul sepuluh pagi di ruang rapat lantai tiga puluh dua. Tiga koma delapan triliun. Tuan Takahashi, pria tujuh puluh tahun dengan rambut perak dan jabat tangan sekuat penjepit, membungkuk dalam pada Opa, lalu padaku, lalu, dengan heran semua orang di ruangan, pada Irvan, yang duduk di kursi paling belakang dengan kemeja biru muda dan kacamata retak karena Opa memintanya hadir.

“Pak Gunawan menceritakan akhir pekan Anda,” kata Tuan Takahashi dalam bahasa Inggris beraksen berat. “Di perusahaan saya, orang seperti Anda kami sebut mamorigami.”

“Maaf, Pak?”

“Dewa penjaga.” Tuan Takahashi tersenyum. “Yang tidak terlihat, sampai rumah terbakar.”

Irvan memerah sampai ke rambut. Opa menatapnya dari kepala meja dengan wajah datar, tapi aku melihat jarinya mengetuk meja dua kali. Tanda Opa senang.


Aku menghabiskan tiga hari berikutnya menyiapkan sesuatu.

Opa udah kasih tempat. Sekarang giliranku.

Aku membisikkannya di ruang tunggu lantai dua puluh tiga, dengan kepala di bahunya, waktu dia tertidur. Aku tidak berniat dia mendengarnya. Aku mengatakannya untuk diriku sendiri, seperti membuat janji di depan cermin.

Opa memberinya tempat di meja. Di perpustakaan. Di papan catur, dengan bidak putih. Panggil saya Opa. Aku tidak pernah melihat Opa memberikan sesuatu sebesar itu pada siapa pun di luar darah Moris.

Sekarang aku harus memberikan sesuatu yang lebih besar.

Aku tahu apa yang ingin kukatakan. Aku tahu sejak malam di gang sempit Kotagede, di depan tembok dengan coretan kapur I dan O. Mungkin sejak lebih lama. Tiga kata. Kata-kata yang sama yang pernah kukatakan pada Reza di umur dua puluh tiga, di atap gedung kampus, dengan angin yang membuat rambutku berantakan. Kata-kata yang tidak pernah kukatakan lagi pada siapa pun, kecuali pada Lily, sejak pintu kedatangan bandara.

Aku cinta kamu.

Tiga kata. Sesederhana itu.

Aku tidak bisa.

Aku mencoba mengucapkannya di depan cermin kamar mandi, hari Selasa pagi. Suaraku tertahan di kata kedua. Aku mencoba menuliskannya di pesan singkat, hari Selasa malam, dan menghapusnya tujuh kali. Aku mencoba mengucapkannya di bangku minimarket, hari Rabu jam tiga, dengan susu kotak stroberi di tangan, dan yang keluar malah, “Kamu udah makan?”

Tiga kata. Aku bisa menegosiasikan akuisisi tiga koma delapan triliun dalam bahasa Inggris, dan aku tidak bisa mengucapkan tiga kata dalam bahasa ibuku sendiri.

Jadi aku melakukan apa yang selalu kulakukan ketika kata-kata tidak cukup.

Aku menyiapkan dokumen.


“Bu, ini serius?”

Sinta berdiri di depan mejaku, Rabu sore, dengan draf dokumen yang kuketik sendiri di tangannya. Dia membacanya untuk ketiga kalinya.

ADENDUM PERJANJIAN KERJA SAMA PRIBADI
Perubahan atas Perjanjian tertanggal ...

Pasal 1: Jangka waktu perjanjian diubah menjadi TANPA BATAS WAKTU.
Pasal 6: Kompensasi disesuaikan...
Pasal 7: DIHAPUS.
Pasal 9: DIHAPUS.

“Serius,” kataku.

“Bu, pasal sembilan... pasal yang Mas Irvan sendiri minta...”

“Aku tahu.”

“Dan pasal tujuh...”

“Aku sudah melanggarnya. Nggak ada gunanya dipertahankan.”

Sinta menatapku. Lalu menatap dokumen itu lagi. Wajahnya melakukan sesuatu yang rumit, seperti orang yang ingin mengatakan banyak hal tapi tidak tahu mulai dari mana.

“Bu,” katanya akhirnya. “Boleh saya kasih masukan? Bukan sebagai sekretaris?”

“Boleh.”

“Ini...” Sinta mengangkat dokumen itu sedikit. “Ini bagus, Bu. Maksud saya, isinya bagus. Tanpa batas waktu. Pasal tujuh dan sembilan dihapus. Itu... itu kayak lamaran, Bu. Dalam bahasa Ibu.”

“Itu memang maksudnya.”

“Tapi Bu.” Sinta meletakkan dokumen itu di meja. Pelan. “Mas Irvan nggak bicara bahasa Ibu.”

Aku diam.

“Mas Irvan bicara bahasa... bahasa bangku minimarket. Bahasa susu kotak stroberi. Bahasa ‘tugas Om Kacamata udah beres’.” Sinta menggigit bibir. “Kalau Ibu kasih ini ke dia, dia bacanya bukan lamaran, Bu. Dia bacanya kontrak.”

“Aku akan jelaskan.”

“Ibu akan jelaskan?”

“Aku akan bilang dulu. Baru kasih dokumennya. Dokumennya cuma...” Aku mencari kata yang tepat. “Cuma bukti. Supaya dia tahu aku serius. Supaya ada hitam di atas putih.”

Sinta menatapku lama. Lalu dia mengangguk, pelan, dengan wajah yang tidak yakin.

“Bu,” katanya sebelum keluar. “Bilang dulu, ya. Janji. Kata-katanya dulu. Baru kertasnya.”

“Janji.”


Kamis malam, aku membawanya ke restoran atap di sebuah hotel di Senopati.

Bukan restoran mewah yang biasa kupakai untuk makan malam dengan investor. Restoran kecil di lantai tiga puluh, dengan meja-meja kayu di bawah lampu-lampu gantung kecil dan pemandangan Jakarta yang terbentang ke segala arah. Aku memilihnya karena menunya punya bakso. Bakso wagyu, dengan harga yang membuat Irvan menatap buku menu dengan wajah seperti Mas Ucup melihat ratusan ribu di mesin kasir.

“Bakso seharga ini,” katanya pelan, “harusnya bisa ngomong.”

“Pesan aja.”

“Bakso di Instagram saya harganya lima belas ribu.”

“Aku tahu. Aku udah lihat fotonya. Kuahnya keruh.”

“Kuahnya enak.”

Dia memesan bakso wagyu. Aku memesan hal yang sama. Kami makan di bawah lampu gantung, dengan angin malam yang membuat rambutku bergerak. Aku menggerainya malam ini, dengan jepit rambut perak Kotagede di sisi kiri. Gaun hitam sederhana, lengan panjang, potongan lurus. Lipstik merah bata. Aku ingin terlihat seperti diriku sendiri. Bukan direktur. Bukan putri galak. Perempuan yang akan mengatakan tiga kata.

Dia memakai kemeja putih dan jaket jins milik Darren yang lengannya kependekan. Dan kancing manset perak di pergelangan tangan, yang dia beli sendiri untuk gala.

Aku melihat kancing manset itu, dan jantungku melakukan sesuatu yang tidak masuk akal.

Dia memakainya dengan jaket jins. Kancing manset perak untuk tuksedo, dengan jaket jins kependekan. Tidak cocok sama sekali. Dan dia tidak peduli. Dia memakainya karena itu satu-satunya barang bagus yang dia beli sendiri, dan dia mau memakai sesuatu yang bagus untuk makan malam ini.

Denganku.

“Baksonya gimana?” tanyaku.

Dia mengunyah dengan wajah serius, seperti juri lomba masak. “Enak.”

“Enakan mana? Ini atau yang lima belas ribu?”

Dia berpikir lama. Terlalu lama.

“Yang lima belas ribu,” katanya akhirnya. “Tapi yang ini ada kamunya.”

Aku tersedak kuah bakso.


Setelah bakso, ada pencuci mulut. Setelah pencuci mulut, ada teh. Setelah teh, aku kehabisan alasan untuk menunda.

Aku meletakkan tanganku di atas meja. Tas kecilku di kursi sebelah, dengan map krem tipis di dalamnya. Adendum. Dokumen yang kutulis sendiri tiga malam berturut-turut.

Bilang dulu. Kata-katanya dulu. Baru kertasnya.

“Irvan,” kataku.

“Hm?”

Dia sedang menatap pemandangan kota. Lampu-lampu Jakarta berkilau di bawah kami seperti lautan. Di kejauhan, gedung dengan tulisan MORIS berwarna biru di puncaknya.

Dia menoleh padaku.

Aku membuka mulut. Aku cinta kamu. Tiga kata. Aku sudah menyusunnya di kepala. Aku sudah mengucapkannya di depan cermin. Aku hanya perlu membiarkannya keluar.

Aku menatap wajahnya. Kacamata retak. Rahang yang belum dicukur dua hari. Lesung pipi yang tidak muncul karena dia sedang tidak tersenyum. Dia sedang menunggu. Sabar. Seperti menunggu Lily menyelesaikan kalimatnya di bangku minimarket.

Dan tenggorokanku menutup.

Seperti pintu yang dibanting. Seperti tiga jam di pintu kedatangan bandara, ketika penumpang terakhir keluar dan tidak ada wajah yang kukenal. Seperti foto bayi umur satu hari yang terbaca dan tidak dibalas. Tiga kata itu ada di sana, di ujung lidahku, dan sesuatu yang lebih tua dari keberanian menahannya di sana.

Kalau kamu bilang, dia bisa pergi.

Kalau kamu bilang, kamu nggak bisa tarik lagi.

Kalau kamu bilang, dan dia diam, kamu harus berdiri di pintu kedatangan lagi.

“Clara?”

Tanganku bergerak sendiri. Ke tas. Ke map krem.

Aku mengeluarkannya. Aku meletakkannya di atas meja kayu, di antara cangkir teh kami.

“Aku mau perpanjang kontrakmu,” kataku.

Suaraku datar. Suara rapat direksi. Suara yang kupakai untuk mengumumkan akuisisi tiga koma delapan triliun.

Aku mendengarnya keluar dari mulutku, dan aku tidak bisa menghentikannya.

“Tanpa batas waktu,” lanjutku. “Kompensasi naik. Aku sudah hitung. Pasal-pasal yang... yang nggak relevan lagi, aku hapus.”

Irvan menatap map itu.

Dia tidak menyentuhnya. Dia hanya menatapnya. Lama. Lampu gantung di atas meja berayun sedikit karena angin, dan bayangannya bergerak di atas map itu, maju-mundur.

“Itu pasal berapa?” tanyanya pelan.

Pertanyaan yang sama. Di gerbang TK, dengan tangan yang saling mengunci. Di bangku minimarket, dengan pipinya yang baru kucium. Pertanyaan yang selalu kujawab dengan cepat, dengan senyum, dengan godaan.

“Pasal perpanjangan,” kataku.


Dia tidak bereaksi.

Maksudku, dia tidak bereaksi seperti yang kuharapkan. Tidak ada telinga merah. Tidak ada kacamata berembun. Tidak ada senyum miring ke kiri dengan lesung pipi. Dia hanya menatap map itu, lalu menatapku, dengan wajah tenang yang sangat, sangat tenang.

“Kenapa diperpanjang?” tanyanya.

Ini kesempatanku. Ini pintunya. Aku hanya perlu melangkah melewatinya.

“Karena Lily butuh kamu,” kataku.

Salah. Bukan itu.

“Karena keluarga ini butuh kamu. Opa. Oma. Darren. Bahkan Bi Inah. Kamu dengar sendiri Opa bilang apa. Pak Gunawan juga minta kamu kerja di kantor. Tuan Takahashi bilang kamu dewa penjaga.” Aku berbicara terlalu cepat. Aku tahu aku berbicara terlalu cepat. “Semua orang di rumah itu butuh kamu. Dan aku...”

Aku berhenti.

Dan aku. Dua kata. Hanya perlu satu kata lagi setelahnya. Dan aku cinta kamu. Dan aku butuh kamu. Dan aku nggak mau kamu pergi.

Dia tersenyum.

Senyum kecil. Lembut. Dia meletakkan tangannya di atas tanganku di atas meja.

“Saya ngerti,” katanya.

Aku menatapnya.

“Saya ngerti, Clara.” Ibu jarinya mengusap punggung tanganku. Pelan. Bolak-balik. “Nggak usah dijelasin.”

Lega. Itu yang kurasakan. Lega yang begitu besar sampai bahuku turun beberapa senti. Dia mengerti. Dia sudah mengerti. Aku tidak perlu mengucapkan tiga kata itu. Dia sudah membacanya dari mataku, dari tanganku yang gemetar, dari suaraku yang terlalu cepat. Seperti dia selalu bisa membaca Lily. Seperti dia membaca log server dan menemukan satu kalimat yang tidak cocok.

Dia mengerti.

“Jadi?” tanyaku. “Kamu mau?”

Dia menatap map itu lagi. Dia mengambilnya. Dia tidak membukanya. Dia memegangnya di tangan, merasakan beratnya, seperti menimbang sesuatu.

“Nanti saya pikirkan,” katanya.

Dia memasukkan map itu ke dalam tas selempangnya. Tanpa membukanya.

“Nanti?” ulangku.

“Nanti. Saya baca dulu. Pelan-pelan.” Dia tersenyum lagi. “Kamu kan nggak suka ditolak sama orang yang belum baca proposal.”

Aku tertawa. Aku ingat mengatakan itu. Bangku minimarket, hari kedua. Aku tidak suka ditolak oleh orang yang belum membaca proposal.

“Kamu nggak akan nolak,” kataku.

“Kamu yakin?”

“Aku direktur. Aku selalu yakin.”

Dia tertawa kecil. Lalu dia menoleh lagi ke pemandangan kota, dan kami duduk dalam diam di bawah lampu gantung yang berayun.


Di mobil, pulang, aku menyetir dengan satu tangan dan menggenggam tangannya dengan tangan satunya.

Dia diam. Dia menatap keluar jendela. Lampu-lampu jalan melewati wajahnya satu per satu, terang, gelap, terang, gelap.

“Kamu capek?” tanyaku.

“Sedikit.”

“Rotterdam?”

“Rotterdam.”

Aku tidak mengecek kalender libur Belanda malam itu. Aku tidak bertanya lagi.

Di lampu merah Fatmawati, aku meliriknya. Dia masih menatap keluar jendela. Wajahnya tenang. Terlalu tenang. Dan ada sesuatu di sana, sesuatu yang tidak bisa kubaca, seperti bayangan yang lewat di balik tirai.

Dia tidak tersenyum sepanjang perjalanan. Dan aku baru menyadari, di lampu merah itu, bahwa sejak restoran tadi, senyumnya tidak pernah menampakkan lesung pipi.

Aku bilang pada diriku sendiri dia hanya capek. Dua malam tidak tidur di ruang server. Rotterdam. Singapura. Baru selesai akuisisi. Tentu saja dia capek.

Lampu berubah hijau. Aku menginjak gas.


Di rumah, di depan pintu kamarnya di sayap timur, aku berjinjit dan mencium pipinya. Seperti biasa. Seperti setiap malam sejak aku memutuskan melanggar pasal tujuh.

Dia tidak berkedip. Dia tidak memerah. Dia hanya tersenyum. Senyum kecil, tanpa lesung pipi.

“Selamat malam, Clara.”

“Selamat malam.”

Dia masuk ke kamarnya. Pintu tertutup.

Aku berdiri di lorong sebentar. Lalu aku berjalan ke sayap barat, masuk ke kamarku, dan berbaring di ranjang dengan gaun hitam yang belum kulepas.

Aku menatap langit-langit. Aku memikirkan map krem di tas selempangnya. Pasal satu, tanpa batas waktu. Pasal tujuh, dihapus. Pasal sembilan, dihapus.

Dia akan membacanya malam ini, pikirku. Dia akan membukanya di meja kerja, di bawah lampu yang dinyalakan untuk Pak Mentega, dan dia akan membaca Pasal 9: DIHAPUS. Dan dia akan mengerti. Lebih dari saya ngerti di restoran. Dia akan mengerti bahwa aku tahu soal Om Darto. Bahwa aku tahu dari mana pasal itu datang. Bahwa aku menghapusnya karena aku tidak mau dia menulis ulang cerita Om-nya.

Dia akan mengerti tanpa aku harus mengatakannya.

Aku tersenyum dalam gelap dan memejamkan mata.

Aku pulang malam itu dengan keyakinan penuh bahwa aku sudah mengatakannya.

Aku tidak mengatakannya.

Aku mengatakan Lily butuh kamu. Aku mengatakan keluarga ini butuh kamu. Aku mengatakan Opa, Oma, Darren, Bi Inah, Pak Gunawan, Tuan Takahashi. Aku mengatakan kompensasi naik.

Aku mengatakan dan aku, lalu berhenti.

Dan dia bilang saya ngerti.

Aku tidak bertanya apa yang dia mengerti.