Chapter Twenty Eight
Tamu dari Toronto
POV: Irvan
Aku tidak membuka map itu.
Malam itu, setelah pintu kamarku tertutup dan langkah Clara menghilang di lorong, aku duduk di tepi ranjang dengan tas selempang di pangkuan. Aku mengeluarkan map krem itu dan meletakkannya di meja kerja, di bawah lampu yang biasa kunyalakan untuk Pak Mentega.
Aku menatapnya lama.
Lily butuh kamu. Keluarga ini butuh kamu. Opa. Oma. Darren. Bi Inah. Pak Gunawan. Tuan Takahashi. Kompensasi naik.
Dan aku...
Dia berhenti di situ. Dia tidak melanjutkan. Dan di jeda itu, di tiga detik antara dan aku dan kalimat yang tidak pernah datang, aku mendengar sisanya. Bukan dari mulutnya. Dari koridor Hotel Mulia, dari balik pintu yang terbuka sedikit, dengan suara yang manis seperti sirup.
Dia butuh status. Buat anaknya.
Namanya juga transaksi.
Aku bilang saya ngerti. Karena aku memang mengerti. Aku mengerti bahwa perempuan yang bisa menegosiasikan tiga koma delapan triliun tidak kehilangan kata-kata di depan pria yang dia cintai. Dia kehilangan kata-kata karena tidak ada kata-kata lain yang bisa ditambahkan setelah daftar itu. Lily, keluarga, Opa, kompensasi. Itu daftar lengkapnya. Itu alasannya.
Dia ingin aku tetap tinggal karena aku berguna.
Dan aku tidak menyalahkannya. Aku berguna. Itu bukan hal yang buruk. Itu bahkan hal yang baik. Aku menyelamatkan Lily dari motor. Aku menghadapi Bu Vanya. Aku menyelamatkan server. Aku jadi papa yang baik, kata perawat di rumah sakit.
Hanya saja, di malam dengan bakso seharga tidak masuk akal dan lampu gantung yang berayun, aku menyadari bahwa aku berharap dia akan mengatakan sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak ada di daftar itu. Sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan kegunaanku.
Aku membuka laci meja kerja. Di dalamnya, map krem yang lama. Perjanjian yang kutandatangani di lantai dua puluh tiga. Pasal satu sampai sembilan, dengan tulisan tangan tinta biru di halaman terakhir.
Aku meletakkan map yang baru di atasnya. Tanpa membukanya.
Aku menutup laci.
Nanti saya pikirkan.
Aku berbohong. Itu pertama kalinya aku berbohong pada Clara.
Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa. Maksudku, di permukaan.
Aku sarapan di meja keluarga Moris. Aku memotong roti Lily jadi segitiga. Clara memotong rotiku jadi segitiga. Opa membaca koran. Oma merekam. Darren mengeluh. Aku mengantar Lily ke sekolah dengan Clara, bergandengan tangan di gerbang, jari yang saling mengunci. Aku duduk di bangku minimarket jam tiga. Clara datang dengan susu kotak stroberi dan mencium pipiku.
Aku tersenyum. Aku tertawa. Aku bilang terima kasih.
Tapi aku berhenti memerah.
Aku tidak tahu kapan tepatnya. Mungkin hari Jumat, waktu dia mencium pipiku di bangku minimarket dan aku menyadari telingaku tidak panas. Mungkin hari Sabtu, waktu dia menyandarkan kepalanya di bahuku di sofa ruang keluarga dan jantungku berdetak normal. Aku menarik sesuatu dari dalam diriku, pelan-pelan, seperti mencabut kabel dari server yang terinfeksi. Satu per satu. Supaya tidak ada yang rusak waktu nanti dimatikan.
Clara tidak menyadarinya. Atau, dia menyadarinya dan menganggapku capek. Aku tidak tahu yang mana.
Setiap malam dia bertanya, di depan pintu kamarku, “Udah dibaca?”
Setiap malam aku menjawab, “Belum. Masih mikir.”
Setiap malam dia tersenyum dan mencium pipiku dan berkata, “Pelan-pelan aja.”
Senin pagi, sepuluh hari setelah restoran atap, kami tiba di gerbang TK Pelangi Kecil pukul tujuh lewat lima belas.
Cuaca cerah. Langit biru tanpa awan, jarang untuk Jakarta di musim hujan. Clara memakai setelan kerja abu-abu arang dan sanggul rendah dengan jepit rambut perak Kotagede di sisi kiri. Dia memakainya setiap hari sejak Yogya. Lily di tengah, dengan kuncir dua dan tas kelinci. Aku di kanan, dengan kemeja biru muda dan sepatu kulit cokelat.
Kami berjalan ke gerbang. Bergandengan. Seperti biasa.
Lalu Clara berhenti.
Dia berhenti di tengah langkah, begitu mendadak sampai Lily tertarik ke belakang dan hampir jatuh. Aku menangkap Lily. Aku menoleh ke Clara.
Wajahnya putih.
Bukan pucat. Putih. Seperti kertas. Seperti semua darah di tubuhnya turun ke kaki dan tidak kembali. Matanya menatap lurus ke depan, ke gerbang sekolah, dan tidak berkedip.
Aku mengikuti tatapannya.
Di depan gerbang, di antara ibu-ibu dan pengasuh dan ayah-ayah muda, berdiri seorang pria.
Tinggi. Lebih tinggi dariku, mungkin lima senti. Mantel panjang berwarna unta, terlalu tebal untuk cuaca Jakarta, seolah dia baru turun dari pesawat dan belum sempat menyesuaikan diri. Kemeja putih di baliknya, tanpa dasi. Celana abu-abu dengan lipatan yang tajam. Sepatu kulit hitam yang mengkilap seperti cermin. Jam tangan di pergelangan kiri yang memantulkan cahaya matahari dan membuat mataku silau sebentar. Aku tidak tahu merek jam tangan, tapi aku tahu jam tangan itu harganya lebih mahal dari tuksedo Pak Liem.
Rambutnya hitam, dipotong pendek dan rapi. Wajahnya tirus, tulang pipinya tinggi. Kulitnya sedikit lebih pucat dari orang Jakarta kebanyakan, seperti orang yang sudah lama tinggal di tempat yang jarang ada matahari.
Di tangannya, seekor boneka beruang raksasa. Cokelat muda, dengan pita merah di leher. Hampir setinggi Lily.
Pria itu melihat kami. Dia melihat Clara. Dia melihat Lily.
Dan dia tersenyum.
Aku kenal senyum itu.
Aku sudah melihatnya setiap hari selama empat bulan. Di bangku minimarket. Di meja sarapan. Di kursi belakang mobil. Di ranjang rumah sakit dengan infus di tangan. Senyum yang lebar, yang membuat mata menyipit di ujung, yang membuat pipi terangkat tinggi. Senyum yang tidak dari Clara.
Senyum Lily.
Di wajah pria dewasa dengan mantel panjang dan jam tangan mahal.
Aku tidak perlu bertanya siapa dia. Aku tidak perlu mendengar Clara menyebut namanya. Aku sudah tahu. Di dalam kepalaku, sebuah dokumen terbuka dengan sendirinya, di halaman terakhir, di bawah pasal delapan.
Pasal 9: Apabila ayah kandung anak kembali...
“Clara,” kata pria itu.
Suaranya dalam dan hangat. Suara yang terbiasa membuat orang merasa nyaman. Suara yang, aku bayangkan, bisa menjanjikan pulang dalam dua bulan dengan meyakinkan.
Clara tidak menjawab.
Pria itu berjalan mendekat. Ibu-ibu di gerbang minggir untuknya, secara otomatis, seperti air membelah untuk kapal. Dia berhenti tiga langkah di depan kami. Dia tidak menatapku. Dia menatap Clara, lalu turun, ke Lily.
Lily melepaskan tangan Clara. Dia melangkah mundur. Satu langkah, dua langkah, sampai punggungnya menabrak kakiku. Dia memeluk kakiku dengan kedua tangan dan mengintip dari baliknya, persis seperti hari pertama dia bertemu Ibu di Kotagede.
Pria itu berjongkok. Mantelnya menyapu paving. Boneka beruang di sebelahnya. Matanya sejajar dengan mata Lily.
“Halo,” katanya lembut. “Kamu Lily, ya?”
Lily tidak menjawab. Dia mencengkeram celanaku lebih erat.
“Lilyana Moris,” kata pria itu. Pelan. Hati-hati. Seperti membaca nama dari kertas yang sudah dia hafalkan. “Umur lima tahun. Suka gambar. Suka kucing.”
Clara mengeluarkan suara kecil. Suara seperti napas yang tercekik.
Pria itu mengulurkan boneka beruang. “Ini buat kamu.”
Lily menatap boneka itu. Lalu menatap pria itu. Lalu mendongak padaku.
“Om,” bisiknya. “Siapa?”
Aku tidak menjawab. Aku tidak bisa menjawab. Itu bukan tempatku untuk menjawab.
Pria itu mendongak. Untuk pertama kalinya, dia menatapku. Dari sepatu kulit cokelatku, ke celana bahan, ke kemeja biru muda, ke kacamata retak. Tatapannya tidak menghitung harga, seperti Nyonya Santoso. Tatapannya lebih buruk. Tatapannya sopan. Ramah. Seperti tuan rumah yang baru menyadari ada tamu yang belum dikenalkan.
Dia berdiri. Mantelnya jatuh rapi. Dia mengulurkan tangan.
“Maaf, saya belum kenalan. Reza.” Senyum Lily lagi. “Ayahnya Lily.”
Aku memandangi tangannya. Jari-jari panjang. Kuku yang rapi. Jam tangan yang memantulkan matahari.
Aku menjabatnya. Genggamannya kuat dan kering.
“Irvan,” kataku.
“Irvan.” Dia mengulang namaku seperti mencatatnya. “Kamu... teman Clara?”
Di sebelahku, Clara akhirnya bergerak. Dia melangkah maju, satu langkah, berdiri di antara aku dan Reza.
“Calon suamiku,” katanya. Suaranya datar. Dingin. Tapi aku mendengar getaran di bawahnya.
Reza menatap Clara. Lalu menatapku lagi. Alisnya terangkat sedikit, sangat sedikit, dengan keterkejutan yang sopan.
“Oh,” katanya. “Selamat.”
Dia tidak terdengar mengucapkan selamat. Dia terdengar seperti orang yang baru mendapat informasi yang tidak dia duga, dan sedang menghitung ulang strateginya.
Dia kembali berjongkok di depan Lily, yang masih bersembunyi di balik kakiku.
“Lily,” katanya. “Tahu nggak aku siapa?”
Lily menggeleng dari balik kakiku.
“Aku papa kamu.”
Hening.
Di sekitar kami, gerbang TK Pelangi Kecil berhenti. Ibu-ibu berhenti bicara. Pengasuh berhenti berjalan. Di pinggir gerbang, Bu Vanya menurunkan kacamata hitamnya sampai ke ujung hidung dan menatap kami dengan mulut terbuka. Di balik kaca minimarket, Mas Ucup menjatuhkan kemoceng.
Lily memandangi pria itu dengan mata bulat. Lama. Lalu dia mengatakan sesuatu yang membuat seluruh gerbang menahan napas.
“Papa aku di pesawat.”
Reza berkedip. “Apa?”
“Kata Kenzo, papa itu kalau nggak dateng, berarti lagi di pesawat. Jauh. Capek.” Lily mencengkeram celanaku lebih erat. “Papa aku di pesawat. Belum turun.”
Reza menatapnya. Aku melihat sesuatu lewat di wajahnya. Sesuatu yang sangat cepat, seperti retakan kecil di permukaan kaca. Lalu senyumnya kembali, sedikit lebih kaku.
“Papa udah turun, Sayang,” katanya. “Papa di sini.”
Lily tidak menjawab. Dia membenamkan wajahnya di celanaku.
“Pergi, Reza,” kata Clara.
Suaranya pelan. Tapi seluruh gerbang mendengarnya.
Reza berdiri. Dia merapikan mantelnya. Dia tidak terlihat tersinggung. Dia terlihat seperti orang yang sudah menduga reaksi ini dan menyiapkan jawabannya.
“Aku ngerti,” katanya. “Aku nggak mau bikin keributan di depan sekolah.”
“Kamu udah bikin.”
“Aku ngerti,” ulangnya. Dia merogoh saku mantelnya dan mengeluarkan sebuah kartu nama. Putih, dengan logo biru dan huruf timbul. Dia mengulurkannya pada Clara. Clara tidak mengambilnya. Dia meletakkannya di atas kepala boneka beruang raksasa, lalu menyandarkan boneka itu di pagar sekolah.
“Aku di Jakarta tiga bulan,” katanya. “Urusan kantor. Tapi aku punya waktu.” Dia menatap Lily yang masih bersembunyi. “Aku punya banyak waktu sekarang.”
Dia berbalik dan berjalan pergi. Mantel panjangnya berayun di belakangnya. Ibu-ibu membelah untuknya lagi. Dia masuk ke sebuah mobil sedan hitam dengan sopir yang menunggu di pinggir jalan.
Mobil itu pergi.
Clara tidak bergerak. Dia berdiri di tengah jalan menuju gerbang, dengan tangan terkepal di sisi tubuhnya, menatap tikungan tempat mobil itu menghilang.
Lily menarik celanaku. “Om.”
Aku berjongkok. “Iya, Neng?”
“Itu beneran papa aku?”
Aku menatapnya. Aku menatap matanya yang besar dan bingung, yang mirip mata Clara. Aku menatap senyum yang tidak ada di wajahnya sekarang, senyum yang tadi kulihat di wajah pria lain.
Aku tidak bohong pada Lily. Itu syaratku sendiri.
“Iya, Neng,” kataku. “Itu papa Neng.”
Lily diam. Lama. Lalu dia bertanya, dengan suara yang sangat kecil:
“Terus Om Kacamata siapa?”
Aku tidak bisa menjawab.
Aku membuka mulut. Tidak ada yang keluar. Aku menatap anak lima tahun yang bertanya siapa aku, dan aku tidak tahu jawabannya. Om Kacamata. Papa pinjaman. Pihak Kedua. Calon suami di depan Bu Vanya. Simpanan berhoodie di depan Nyonya Santoso.
“Om Kacamata,” kata Clara dari atas kami. Suaranya bergetar. “Om Kacamata ya Om Kacamata, Sayang.”
Lily menatap ibunya. Lalu menatapku. Lalu dia melepaskan celanaku dan berjalan ke arah boneka beruang yang disandarkan di pagar. Dia memandanginya lama. Dia tidak menyentuhnya.
Lalu dia berbalik dan berjalan masuk ke sekolah sendirian. Tanpa pamit. Tanpa menoleh.
Dia tidak bertanya apakah tugas Om hari ini sudah beres.
Aku duduk di bangku minimarket sampai jam tiga. Aku tidak pulang. Aku tidak membuka laptop.
Clara pergi ke kantor, karena dia harus, karena ada rapat yang tidak bisa dibatalkan. Sebelum pergi, dia menatapku dari samping mobil dan berkata, “Nanti malam kita bicara.”
Aku mengangguk.
Mas Ucup keluar dengan dua susu kotak stroberi dan duduk di bangku seberang. Dia tidak bicara lama. Dia hanya menusuk sedotan ke dua kotak dan menyodorkan satu padaku.
“Mas Ir.”
“Hm.”
“Itu tadi papanya Neng Lily?”
“Iya.”
Mas Ucup menyedot susunya. Dia memandangi gerbang TK yang sepi, anak-anak yang sedang di dalam kelas.
“Terus Mas Ir?”
Aku menatap susu kotak di tanganku. Merah muda. Terlalu manis. Rasa buatan.
“Papanya pulang, Mas,” kataku.
Mas Ucup diam. Lalu dia bertanya lagi, lebih pelan, seperti orang yang tidak yakin dia boleh bertanya:
“Terus Mas Ir?”
Aku tidak menjawab.
Malam itu, Clara mengetuk pintu kamarku pukul sepuluh. Aku tidak membukanya. Aku bilang dari balik pintu bahwa aku sedang rapat dengan Singapura. Singapura tidak rapat jam sepuluh malam. Clara tahu itu. Dia pasti sudah mengecek kalender.
Dia tidak mengetuk lagi. Aku mendengar langkahnya menjauh.
Aku duduk di depan meja kerja. Lampu untuk Pak Mentega menyala. Aku membuka laci.
Dua map krem. Yang baru di atas, belum dibuka. Yang lama di bawah.
Aku mengambil yang lama.
Aku membukanya ke halaman terakhir. Pasal delapan. Catatan tulisan tangan tinta biru. Aku meminta kamu tetap jadi Om Kacamata, hanya lebih dekat.
Dan di bawahnya, pasal sembilan.
Apabila ayah kandung anak kembali dan berniat mengambil peran, Pihak Kedua mengundurkan diri.
Tulisannya tinta biru. Tulisan tangan Clara, yang terbaik. Di bawahnya, samar-samar, masih terlihat bekas tulisan pensilku. Tidak terhapus sepenuhnya. Seperti hantu.
Aku membacanya sampai hafal. Lalu aku membacanya lagi.
Berniat mengambil peran.
Aku punya banyak waktu sekarang.
Aku menutup map yang lama dan memasukkannya kembali ke laci. Di bawah map yang baru. Map yang baru tetap di atas, belum dibuka.
Waktu itu aku tidak tahu bahwa di dalam map yang baru, di halaman kedua, ada satu baris yang ditulis dengan huruf kapital dan dicetak tebal:
Pasal 9: DIHAPUS.
Aku tidak membukanya.
Aku menutup laci, mematikan lampu Pak Mentega, dan berbaring dalam gelap.
Pak Mentega takut gelap. Aku lupa.
- 1 Gambar Tanpa Papa
- 2 Proyek P.A.P.A.
- 3 Om Kacamata
- 4 Laporan Intelijen Sinta
- 5 Tawaran di Bangku Minimarket
- 6 Pasal Sembilan
- 7 Dua Kardus dan Satu Monitor
- 8 Makan Malam Keluarga Moris
- 9 Gerbang TK
- 10 Menantu Idaman Berhoodie
- 11 Skakmat
- 12 Rapat Orang Tua
- 13 Jam Tiga Pagi
- 14 Hampir
- 15 Darren Menantang
- 16 Hari Orang Tersayang
- 17 Lily Demam
- 18 Hoodie Abu-Abu
- 19 Pasal yang Mau Kulanggar
- 20 Kacamata Berembun
- 21 Ulang Tahun Opa
- 22 Yang Tidak Setara
- 23 Ciuman Pertama
- 24 Pulang ke Yogya
- 25 Cerita Om Darto
- 26 Kepala Keluarga Sementara
- 27 Perpanjangan Kontrak
- 28 Tamu dari Toronto reading
- 29 Papa Beneran
- 30 Proposal Kerja Sama
- 31 Dua Kursi di Pentas Seni
- 32 Papa Boleh Dua?
- 33 Pasal Sembilan Berlaku
- 34 Rumah Tanpa Hoodie
- 35 Pergi demi Kebaikan
- 36 Om Darto
- 37 Operasi Jemput Papa
- 38 Belum Beres
- 39 Tanpa Pasal
- 40 Papa
- 41 Epilog — Tugas yang Tak Pernah Beres