Chapter Twelve
Rapat Orang Tua
POV: Clara
Undangan rapat orang tua murid TK Pelangi Kecil datang lewat grup WhatsApp pada hari Senin pukul sebelas malam, dikirim oleh Bu Vanya, yang tahun ini menjabat Ketua Komite Orang Tua.
Selamat malam Bapak/Ibu yang terhormat 🙏✨ Mengundang kehadiran Bapak/Ibu dalam Rapat Persiapan Family Day TK Pelangi Kecil, Jumat pukul 16.00 di Aula Sekolah. Mohon kehadiran ORANG TUA LENGKAP (ayah & ibu) karena akan dibahas konsep acara yang melibatkan keluarga inti 💕 Terima kasih 🙏
Aku membaca pesan itu tiga kali. Kata “ORANG TUA LENGKAP” ditulis dengan huruf kapital. Kata “keluarga inti” diberi emoji hati.
Aku tahu persis untuk siapa pesan itu ditulis.
“Kita datang,” kata Irvan keesokan paginya di meja sarapan, setelah aku menunjukkan pesan itu padanya. Dia mengatakannya sambil mengolesi roti Lily dengan selai stroberi, dengan tenang, seperti orang yang sudah memutuskan sesuatu sebelum ditanya.
“Kamu yakin? Ini bukan antar-jemput. Ini rapat. Dengan Bu Vanya sebagai ketua.”
“Saya pernah rapat dengan klien Belanda yang marah karena server mati di hari libur nasional mereka, Bu. Tiga jam. Pakai bahasa Inggris campur Belanda campur makian.” Dia memotong roti itu jadi empat bagian segitiga, karena Lily hanya mau makan roti berbentuk segitiga. “Bu Vanya pakai bahasa Indonesia. Saya masih punya keuntungan.”
Lily mengangkat kepala dari susunya. “Om Kacamata mau ke sekolah?”
“Om mau rapat sama Mama.”
“Rapat itu apa?”
“Duduk lama, dengerin orang ngomong, terus pura-pura setuju.”
“Kayak Opa kalau Oma cerita soal TikTok?”
Opa, di kepala meja, menurunkan koran dan menatap Lily tanpa ekspresi. Lalu dia menaikkan koran lagi. Aku bersumpah aku melihat bahunya berguncang sekali di baliknya.
Aula TK Pelangi Kecil pada Jumat sore adalah ruangan kecil dengan kursi-kursi plastik berwarna-warni yang terlalu kecil untuk orang dewasa, dinding penuh gambar krayon, dan kipas angin di langit-langit yang berputar dengan bunyi berderak. Sekitar empat puluh orang tua sudah duduk ketika kami datang. Sebagian besar ibu-ibu. Beberapa ayah. Beberapa pengasuh yang jelas dikirim sebagai perwakilan.
Kami masuk bersama, dan ruangan itu melakukan hal yang sama dengan gerbang sekolah seminggu lalu: menoleh serentak.
Aku datang langsung dari kantor. Setelan kerja hitam, blus satin berwarna krem, sanggul rendah yang mulai sedikit longgar setelah sembilan jam. Aku memeriksa pantulanku di pintu kaca aula sebelum masuk, kebiasaan, dan pantulan itu mengatakan hal yang biasa: perempuan tiga puluh tahun yang cantik dengan rahang tegas dan bibir merah bata, terlihat sedikit terlalu mahal untuk kursi plastik berwarna oranye.
Irvan datang dari rumah dengan kemeja biru muda yang dibeli Sinta dan celana bahan abu-abu. Dan kali ini, sepatu. Sepatu kulit cokelat. Dia berjalan sedikit pincang karena tumitnya lecet sejak Kamis malam, tapi dia menolak memakai sandal jepit ke “acara resmi”.
Kami duduk di barisan ketiga. Kursi plastik oranye dan kursi plastik hijau. Lutut Irvan hampir menyentuh dagunya.
“Nyaman?” bisikku.
“Saya merasa kayak raksasa di rumah kurcaci.”
“Kamu memang raksasa di rumah kurcaci.”
Dia melirikku. Aku tersenyum ke depan, ke arah panggung kecil tempat Bu Vanya sedang menyiapkan proyektor.
Di sebelah kiriku, seorang ibu muda dengan kerudung pastel berbisik pada temannya, cukup keras untuk kudengar: “Itu cowok TikTok yang viral, kan? Yang menantu idaman?”
“Iya, itu! Aslinya lebih ganteng.”
“Kacamatanya beneran retak, ya ampun.”
Irvan, yang juga mendengar, menatap lurus ke depan dengan telinga yang perlahan berubah warna.
Bu Vanya membuka rapat dengan sambutan yang panjangnya setara pidato kenegaraan. Dia memakai gaun biru elektrik dan kacamata hitam yang dia dorong ke kepala seperti bando. Di belakangnya, di layar proyektor, ada slide bergambar keluarga bahagia dari stock photo: ayah, ibu, dua anak, dan seekor anjing golden retriever, semuanya tertawa di taman.
“Tahun ini,” kata Bu Vanya dengan suara penuh semangat, “komite ingin membuat Family Day yang berbeda. Yang lebih bermakna. Yang benar-benar merayakan keluarga inti.”
Dia menekan clicker. Slide berganti: KONSEP: FAMILY DAY — KELUARGA LENGKAP, KELUARGA BAHAGIA
“Semua lomba akan melibatkan ayah dan ibu. Lomba balap karung ayah-anak. Lomba masak ibu-anak. Dan puncaknya,” dia menekan clicker lagi, “sesi foto keluarga profesional, yang hasilnya akan dicetak besar dan dipajang di dinding sekolah selama satu tahun.”
Slide berikutnya menunjukkan contoh: dinding sekolah yang dipenuhi foto keluarga. Ayah, ibu, anak. Ayah, ibu, anak. Ayah, ibu, anak.
Ruangan bergumam. Sebagian besar terdengar setuju.
Tapi aku melihat ke kiri dan kanan. Aku melihat seorang ibu di barisan belakang yang menunduk. Aku melihat seorang nenek, pasti mewakili cucunya, yang meremas tas di pangkuan. Aku melihat seorang ayah di pojok yang duduk sendirian dan tiba-tiba sangat tertarik pada layar ponselnya.
Dan aku melihat Bu Vanya, dari panggung, melirik ke barisan ketiga. Ke arahku. Senyumnya melebar sedikit.
“Tentu,” tambahnya dengan nada manis, “bagi keluarga yang... belum lengkap, komite akan menyediakan sesi foto terpisah. Supaya tidak ada yang merasa canggung.”
Terpisah.
Aku merasakan kemarahan yang dingin naik dari perutku, kemarahan yang sama yang pernah membuat seorang direktur cabang mengundurkan diri. Aku membuka mulut.
Irvan mengangkat tangan lebih dulu.
“Ya? Bapak di barisan ketiga?” Bu Vanya berkedip. Lalu wajahnya mengenali. “Oh. Pak... Irvan. Silakan.”
Irvan berdiri. Kursi plastik hijau berderit lega di bawahnya.
“Maaf, Bu Vanya. Saya mau tanya satu hal teknis.”
“Silakan, Pak.”
“Datanya berapa?”
Bu Vanya mengerutkan kening. “Data?”
“Iya, Bu. Dari empat puluh tiga murid di TK ini, berapa yang tinggal dengan ayah dan ibu lengkap?”
Ruangan hening.
“Saya... komite belum...”
“Saya boleh bantu hitung?” Irvan tidak menunggu jawaban. Dia berbalik menghadap ruangan. Suaranya tetap tenang, tetap sopan, suara orang yang menjelaskan error sistem pada klien yang panik. “Maaf, Bapak-Ibu. Angkat tangan, yang anaknya tinggal serumah dengan ayah dan ibu kandungnya, dan dua-duanya bisa hadir di Family Day.”
Tangan-tangan terangkat. Ragu-ragu pada awalnya, lalu lebih banyak. Aku menghitungnya dalam kepala. Dua puluh enam.
“Terima kasih,” kata Irvan. “Sekarang yang anaknya tinggal dengan salah satu orang tua saja. Atau ayahnya kerja di luar kota. Atau ibunya kerja di luar negeri. Atau diurus nenek, kakek, om, tante.”
Tangan-tangan terangkat lagi. Lebih pelan. Lebih ragu. Ibu di barisan belakang. Nenek dengan tas di pangkuan. Ayah di pojok. Seorang pengasuh yang mengangkat tangan mewakili majikannya. Dua orang ibu lain yang sebelumnya bergumam setuju pada konsep Bu Vanya.
Tujuh belas.
Aku tidak mengangkat tangan. Irvan tidak menoleh padaku. Tapi dia berdiri di sebelahku, dan dari tempatku duduk, aku bisa melihat tangannya yang terkepal di sisi tubuhnya. Bukan karena marah. Karena gugup. Dia gemetar sedikit.
“Tujuh belas dari empat puluh tiga,” kata Irvan. “Hampir empat puluh persen, Bu Vanya. Kalau fotonya dipisah, dindingnya bakal ada dua bagian. Anak-anak bakal lihat dinding itu setiap hari selama satu tahun.” Dia berhenti. “Anak-anak itu pintar hitung, Bu. Mereka tahu mereka di bagian mana.”
Bu Vanya memandanginya dengan mulut sedikit terbuka.
“Jadi saya mau usul,” lanjut Irvan. “Namanya jangan Family Day. Ganti jadi Hari Orang Tersayang. Siapa pun yang anak itu sayangi boleh dateng. Ayah, ibu, nenek, om, tante, kakak. Supir juga boleh, kalau anaknya sayang sama supirnya.” Dia berhenti sebentar. “Lombanya tetap sama. Fotonya tetap dicetak besar. Tapi satu dinding. Nggak ada yang terpisah.”
Hening.
Lalu nenek di barisan belakang mulai bertepuk tangan. Pelan, dengan tangan keriput yang gemetar. Ayah di pojok ikut bertepuk tangan. Ibu di barisan belakang. Pengasuh. Dan perlahan, lalu cepat, seluruh ruangan bertepuk tangan, termasuk sebagian dari dua puluh enam orang yang tadi mengangkat tangan pertama.
Bu Ratna, yang berdiri di dekat pintu dengan papan klip, bertepuk tangan paling keras.
Irvan duduk kembali di kursi plastik hijau. Kursinya berderit. Wajahnya merah sampai ke rambut.
“Saya salah ngomong?” bisiknya.
Aku tidak menjawab. Aku tidak bisa. Ada sesuatu di tenggorokanku yang terlalu besar untuk dilewati kata-kata.
Di bawah kursi, di antara kursi plastik oranye dan hijau, aku mencari tangannya. Aku menemukannya, dingin dan sedikit gemetar, dan menyelipkan jariku di antara jarinya.
Kali ini tidak ada Bu Vanya di jam dua belas. Tidak ada yang melihat. Tidak ada pasal yang mewajibkan.
Dia menoleh padaku. Dia tidak bertanya pasal berapa.
Pemungutan suara dilakukan dengan mengangkat tangan. Hari Orang Tersayang menang tiga puluh sembilan lawan empat. Bu Vanya menyelesaikan rapat dengan senyum yang sangat kaku dan pengumuman bahwa slide-nya akan “direvisi”.
Aku menunggu di luar aula sementara Irvan diserbu. Nenek dari barisan belakang memegang kedua tangannya dan mengucapkan terima kasih berkali-kali; cucunya yatim piatu sejak bayi. Ayah dari pojok menjabat tangannya dan bilang dia sudah tiga bulan cerai dan hampir tidak datang ke rapat ini. Tiga ibu muda meminta foto bersama. Satu meminta nomornya, dan aku melihat Irvan menggeleng dengan wajah panik sambil melirik ke arahku seperti anak yang minta diselamatkan.
Aku tidak menyelamatkannya. Aku menikmati pemandangan itu terlalu banyak.
Lalu seseorang menarik ujung blazerku.
Aku menunduk. Kenzo.
Bocah itu berdiri di sampingku dengan seragam yang sudah kusut, rambut yang gelnya mulai luntur, dan mata yang merah. Di tangannya ada sesuatu: selembar kertas yang dilipat kecil-kecil.
“Tante,” katanya. “Lily mana?”
“Lily di kelas, sama Bu Ratna. Main puzzle.”
“Boleh aku ke sana?”
Aku ragu. Aku melihat ke dalam aula. Bu Vanya sedang sibuk menggulung kabel proyektor dengan kasar, tidak melihat ke arah kami.
“Kenapa, Kenzo?”
Kenzo membuka lipatan kertas itu. Sebuah gambar krayon. Seorang anak laki-laki berambut berdiri, berdiri di samping seorang perempuan bergaun biru. Di pojok kanan atas, sangat kecil, ada sosok pria dengan jas di dalam kotak. Kotak itu jendela. Jendela pesawat.
“Papa aku nggak dateng lagi,” kata Kenzo. “Tadi pagi mama telepon, katanya papa nggak bisa dateng ke Family Day. Ada kerjaan di Surabaya.”
Aku berjongkok. Rokku kusut. Aku tidak peduli.
“Terus?”
“Terus kata Om Kacamata, di rapat tadi, yang dateng boleh siapa aja yang aku sayang.” Kenzo menatap gambarnya. “Aku mau minta maaf ke Lily. Soal gambarnya yang aku robek. Terus aku mau... aku mau tanya. Boleh nggak aku ikut Om Kacamata lomba balap karung? Soalnya kata Om Kacamata dia nggak ada kerjaan.”
Aku menatap bocah itu. Bocah yang merobek gambar anakku dan bilang Lily tidak diinginkan. Bocah yang belajar kata-kata itu dari seseorang yang sekarang sedang menggulung kabel proyektor dengan marah.
Bocah lima tahun yang ayahnya ada di dalam jendela pesawat.
“Kita tanya Lily dulu, ya,” kataku. “Minta maafnya ke Lily. Soal balap karung, kita tanya Om Kacamata.”
Aku membawanya ke kelas. Lily sedang duduk di lantai dengan puzzle peta Indonesia yang setengah jadi, Pulau Sulawesi di tangannya. Dia melihat Kenzo dan langsung menegakkan punggung dengan waspada, persis seperti Opa waktu melihat Irvan di meja makan pertama kali.
Kenzo berdiri di depannya dengan kertas gambar di tangan. Dia membuka mulut, menutupnya, membukanya lagi.
“Maaf,” katanya akhirnya. “Soal gambar kamu. Yang aku robek.”
Lily menatapnya.
“Terus soal yang aku bilang,” lanjut Kenzo, lebih pelan. “Soal papa kamu kabur karena kamu nakal. Itu kata mama aku. Tapi Om Kacamata bilang papa aku terbang dari Surabaya. Jauh. Capek. Terus aku pikir, papa aku nggak dateng bukan karena aku nakal. Jadi papa kamu juga pasti bukan karena kamu nakal.”
Hening.
Lily meletakkan Pulau Sulawesi di lantai. Dia berdiri, berjalan ke arah Kenzo, dan mengambil kertas gambar dari tangannya. Dia memandanginya lama. Lalu dia menunjuk sosok kecil di jendela pesawat.
“Ini papa kamu?”
“Iya.”
“Kok kecil banget?”
“Soalnya dia jauh.”
Lily berpikir. Lalu dia mengembalikan gambar itu. “Nanti kalau dia pulang, gambar dia gede.”
“Oke.”
“Maaf diterima.”
Kenzo menghembuskan napas lega, napas yang terlalu besar untuk anak lima tahun. Lalu dia bertanya, “Boleh aku pinjam Om Kacamata buat balap karung?”
Lily menyipitkan mata. “Om Kacamata kan punya aku.”
“Pinjam doang. Satu lomba.”
“Hmm.” Lily menoleh padaku. Aku mengangkat bahu, terserah kamu. Lily menoleh ke pintu kelas. Aku mengikuti tatapannya.
Irvan berdiri di sana. Aku tidak tahu sejak kapan. Dia bersandar di kusen pintu dengan kemeja biru muda yang lengannya sudah digulung dan wajah yang masih sedikit merah. Dia memandangi dua anak kecil itu dengan ekspresi yang membuat napasku tertahan.
Aku pernah melihat ekspresi itu di video Oma. Di detik ketujuh.
“Om Kacamata,” panggil Lily. “Kenzo mau pinjam Om buat balap karung. Boleh nggak?”
Irvan masuk ke kelas dan berjongkok di antara mereka berdua.
“Balap karung itu berat, lho,” katanya. “Om harus lompat-lompat. Om udah tua. Lutut Om bunyi.”
“Lutut Om bunyi?” Kenzo terbelalak.
“Kalau jongkok kayak gini,” Irvan menekuk lututnya sedikit lagi. Terdengar bunyi krek pelan. Kedua anak itu terkikik. “Dengar?”
“Kayak kerupuk!”
“Makanya Om harus latihan.” Irvan memandang mereka bergantian. “Om bisa pinjemin diri Om buat satu lomba. Tapi syaratnya, kalian berdua latihan bareng Om. Tiap sore, di depan minimarket. Pakai karung beras bekas Mas Ucup.”
Lily dan Kenzo saling memandang. Lalu, dengan sangat perlahan, keduanya mengangguk.
“Oke,” kata Lily. “Tapi Om tetap punya aku.”
“Om tetap punya Neng.”
“Janji?”
Irvan tidak langsung menjawab. Dia melirik ke arahku, sangat singkat, lalu kembali ke Lily.
“Selama tugasnya belum beres,” katanya.
Bu Vanya menjemput Kenzo dari kelas dengan wajah seperti awan mendung. Dia tidak bicara padaku. Dia tidak bicara pada Irvan. Tapi ketika Kenzo menarik tangannya dan berkata dengan keras, “Ma, aku mau balap karung sama Om Kacamata!”, aku melihat sesuatu retak di wajahnya. Bukan kemarahan. Sesuatu yang lebih lelah.
Aku tidak menyukai Bu Vanya. Tapi untuk pertama kalinya, aku mengerti bahwa mungkin dia juga menunggu seseorang di jendela pesawat.
Di parkiran, matahari sudah turun dan langit berwarna jingga. Irvan menggendong Lily yang tertidur di bahunya. Rapat, puzzle, dan permintaan maaf ternyata terlalu melelahkan untuk anak lima tahun.
Aku membukakan pintu belakang. Dia membaringkan Lily di kursi anak dengan hati-hati, memasang sabuk pengamannya, dan menyingkirkan rambut yang menempel di pipinya yang basah oleh keringat.
Lily setengah membuka mata. “Om.”
“Hm?”
“Tugas Om hari ini udah beres belum?”
Irvan menatapnya. Lalu dia meletakkan dua jari di pelipis dan memberi hormat. Hormat asal-asalan yang sama seperti di depan minimarket.
“Tugas Om Kacamata udah beres.”
Lily tersenyum dengan mata tertutup dan tertidur lagi.
Irvan menutup pintu mobil dengan pelan. Dia berbalik dan mendapatiku berdiri sangat dekat di belakangnya. Terlalu dekat. Dia mundur selangkah dan punggungnya menabrak mobil.
“Bu?”
“Empat puluh persen,” kataku. “Kamu menghitung itu kapan?”
“Nggak ngitung. Saya... nebak. Terus pas orang-orang angkat tangan, ternyata cocok.”
“Kamu menebak di depan empat puluh orang tua murid.”
“Saya kan kerja nyari celah, Bu. Kadang nebak dulu, baru buktiin.”
Aku melangkah maju. Dia tidak punya tempat untuk mundur lagi. Mobil di belakangnya, aku di depannya, dan langit jingga di atas kami.
Aku mengangkat tangan dan melepas kacamatanya.
Dia berkedip. Tanpa kacamata, matanya terlihat lebih besar, lebih lembut, sedikit tidak fokus. Dia mencoba melihatku dan jelas gagal.
“Bu, saya nggak bisa lihat...”
“Aku tahu.”
Aku menarik ujung blus satinku keluar dari rok, sedikit saja, dan membersihkan lensa kacamatanya. Satu sisi, lalu sisi yang lain. Pelan. Hati-hati di bagian retak di pojok kiri.
“Tadi kamu gemetar,” kataku sambil membersihkan. “Waktu berdiri di rapat.”
“Kelihatan, ya?”
“Cuma dari tempatku.”
“Saya takut salah ngomong. Saya takut nanti yang malu Ibu sama Lily.”
Aku berhenti membersihkan. Aku menatap wajahnya yang tanpa kacamata, yang tidak bisa melihatku dengan jelas, dan justru karena itu aku bisa menatapnya selama yang aku mau.
“Irvan.”
“Ya?”
“Aku belum pernah bangga sama siapa pun di depan umum sejak Lily lahir.”
Dia tidak menjawab. Matanya yang tidak fokus mencari-cari wajahku.
Aku memasang kacamata itu kembali di wajahnya. Pelan. Ujung jariku menyusuri gagangnya sampai ke belakang telinga. Telinganya panas.
“Sudah bersih,” kataku.
Dia berkedip beberapa kali, menyesuaikan pandangan, dan akhirnya melihatku dengan jelas. Dan wajahnya, ketika dia melihatku dengan jelas, berubah jadi sesuatu yang membuat perutku jatuh ke lantai parkiran.
“Bu Clara,” katanya pelan. “Ibu... cantik banget sore ini.”
Dia mengatakannya dengan nada yang sama seperti waktu menghitung empat puluh persen. Seperti fakta. Seperti data.
Lalu dia sadar apa yang baru saja dia katakan, dan wajahnya berubah merah dari leher sampai rambut dalam waktu kurang dari dua detik.
“Maksud saya... cahayanya. Cahaya sorenya. Jingga. Bagus. Buat foto.”
“Buat foto,” ulangku.
“Buat... Family Day... eh, Hari Orang Tersayang... nanti fotonya...”
Aku tertawa. Tawa keras yang tidak sempat kututupi dengan punggung tangan, di tengah parkiran TK, di depan pria yang terhimpit di antara aku dan mobil.
“Masuk mobil, Irvan,” kataku sambil berbalik ke kursi pengemudi. “Sebelum kamu bilang sesuatu yang melanggar pasal tujuh.”
“Saya udah melanggar?”
Aku membuka pintu mobil. Di balik atap mobil, aku menatapnya. Rambutnya berantakan lagi, kemeja biru mudanya kusut, dan lensa kacamatanya bersih dan berkilau di bawah langit jingga.
“Belum,” kataku. “Tapi kamu sangat, sangat dekat.”
- 1 Gambar Tanpa Papa
- 2 Proyek P.A.P.A.
- 3 Om Kacamata
- 4 Laporan Intelijen Sinta
- 5 Tawaran di Bangku Minimarket
- 6 Pasal Sembilan
- 7 Dua Kardus dan Satu Monitor
- 8 Makan Malam Keluarga Moris
- 9 Gerbang TK
- 10 Menantu Idaman Berhoodie
- 11 Skakmat
- 12 Rapat Orang Tua reading
- 13 Jam Tiga Pagi
- 14 Hampir
- 15 Darren Menantang
- 16 Hari Orang Tersayang
- 17 Lily Demam
- 18 Hoodie Abu-Abu
- 19 Pasal yang Mau Kulanggar
- 20 Kacamata Berembun
- 21 Ulang Tahun Opa
- 22 Yang Tidak Setara
- 23 Ciuman Pertama
- 24 Pulang ke Yogya
- 25 Cerita Om Darto
- 26 Kepala Keluarga Sementara
- 27 Perpanjangan Kontrak
- 28 Tamu dari Toronto
- 29 Papa Beneran
- 30 Proposal Kerja Sama
- 31 Dua Kursi di Pentas Seni
- 32 Papa Boleh Dua?
- 33 Pasal Sembilan Berlaku
- 34 Rumah Tanpa Hoodie
- 35 Pergi demi Kebaikan
- 36 Om Darto
- 37 Operasi Jemput Papa
- 38 Belum Beres
- 39 Tanpa Pasal
- 40 Papa
- 41 Epilog — Tugas yang Tak Pernah Beres