← Papa Pinjaman

Chapter Thirty

Proposal Kerja Sama

POV: Clara

Proposal itu masuk ke meja Darren hari Senin, lewat jalur resmi, dengan kop surat biru dan logo yang sudah kulihat di kartu nama yang disandarkan di atas kepala boneka beruang.

NORTHBRIDGE CAPITAL — PROPOSAL KEMITRAAN STRATEGIS ASIA TENGGARA
Diajukan oleh: Reza Adhitama, Vice President of Strategic Partnerships

Darren membawanya ke ruanganku dengan wajah seperti membawa bangkai tikus.

“Kak. Lo harus lihat ini.”

Aku membacanya. Empat puluh dua halaman. Dana investasi bersama untuk sektor teknologi keuangan di Indonesia, Vietnam, dan Filipina. Northbridge menyediakan modal awal dan jaringan global. Moris menyediakan pengetahuan pasar lokal dan portofolio yang sudah ada. Pembagian keuntungan yang sangat, sangat menguntungkan untuk kami.

Terlalu menguntungkan.

“Angkanya bagus,” kata Darren dengan nada seolah itu penghinaan. “Gue udah minta tim analis cek tiga kali. Angkanya bagus, Kak. Nggak ada jebakan. Nggak ada klausul aneh. Ini deal yang bakal dirampas perusahaan lain dalam seminggu kalau kita tolak.”

“Aku tahu.”

“Dia sengaja, Kak. Dia bikin proposal yang nggak bisa kita tolak secara bisnis.”

“Aku tahu, Dar.”

“Terus?”

Aku menatap nama di halaman pertama. Reza Adhitama. Vice President. Huruf-huruf yang dicetak rapi dan tebal.

“Terus kita undang dia presentasi,” kataku. “Di depan dewan. Hari Kamis.”


Hari Kamis, pukul sepuluh pagi, ruang rapat lantai tiga puluh dua dipenuhi dua belas orang: Opa di kepala meja, aku di sebelah kanannya, Darren di sebelah kirinya, tiga komisaris termasuk Pak Wiratmaja, dan enam kepala divisi. Di ujung meja, dengan laptop dan clicker, berdiri Reza.

Setelan abu-abu arang. Dasi biru tua. Rambut yang dipotong baru. Dia terlihat seperti pria yang lahir untuk berdiri di ujung meja rapat.

Dia memang lahir untuk itu. Aku ingat. Dulu, waktu dia masih jadi manajer junior di divisi strategi Moris, sebelum kami menikah, dia sudah bisa membuat ruangan penuh direktur senior terdiam dengan satu slide. Opa sendiri yang merekrutnya. Opa sendiri yang bilang, di makan malam keluarga sembilan tahun lalu, bahwa Reza adalah “pemuda paling tajam yang pernah saya temui”.

Opa tidak menatapnya sekarang. Opa menatap dokumen di depannya dengan kacamata baca di ujung hidung, dan tidak mengangkat kepala sekali pun selama presentasi.

Reza presentasi selama empat puluh menit. Tanpa catatan. Tanpa ragu. Dia menjelaskan pasar, risiko, proyeksi, dengan suara yang tenang dan meyakinkan. Dia menjawab pertanyaan Pak Wiratmaja soal regulasi Vietnam dengan detail yang membuat komisaris tua itu mengangguk dua kali. Dia menjawab pertanyaan Darren soal struktur modal dengan angka yang membuat Darren, yang datang dengan niat menghancurkannya, diam selama sepuluh detik.

Di akhir presentasi, dia menutup laptop dan menatap ke kepala meja.

“Pak Hendra,” katanya. “Saya tahu saya tidak berhak meminta apa pun dari keluarga ini. Saya datang bukan sebagai mantan menantu. Saya datang sebagai rekan bisnis yang percaya pada Moris Investment. Saya selalu percaya.”

Opa mengangkat kepala.

Pertama kalinya dalam empat puluh menit. Dia melepas kacamata baca. Dia menatap Reza dari kepala meja. Lama. Tatapan yang membuat seluruh ruangan berhenti bernapas.

“Saudara Reza,” kata Opa.

Saudara. Bukan Reza. Bukan Nak.

“Proposalmu bagus,” lanjut Opa. “Angkanya bersih. Strategimu tajam. Kamu masih pemuda paling tajam yang pernah saya temui.”

Reza tersenyum. Sedikit.

“Kamu juga masih selalu memilih menteri,” kata Opa. Dia melipat kacamatanya dan memasukkannya ke saku kemeja. “Dewan akan mempertimbangkan. Terima kasih.”

Opa berdiri. Rapat selesai.

Reza tidak tersenyum lagi.


Setelah semua orang keluar, Reza menungguku di lobi lift lantai tiga puluh dua.

Aku tahu dia akan menunggu. Aku berjalan ke lift dengan tablet di dada dan wajah rapat direksi, berniat melewatinya tanpa berhenti.

“Clara. Lima menit.”

“Aku ada rapat.”

“Rapatmu jam dua. Sekarang jam sebelas empat puluh. Sinta masih nulis jadwalmu di papan putih di pantry. Aku lihat tadi.”

Aku berhenti.

Dia tahu tentang papan putih di pantry. Dia tahu karena dia yang mengusulkan papan putih itu, sembilan tahun lalu, waktu dia masih bekerja di sini. Dia tahu gedung ini. Dia tahu jadwalku. Dia tahu terlalu banyak.

“Lima menit,” kataku.


Kami berdiri di teras kecil di ujung lobi, di balik pintu kaca, tempat para eksekutif kadang merokok diam-diam. Angin lantai tiga puluh dua kencang dan hangat. Jakarta terbentang di bawah kami, abu-abu dan padat, dengan gedung-gedung yang menusuk langit kabur.

Reza bersandar di pagar. Dia menatap kota, bukan aku.

“Opa masih ingat soal catur,” katanya.

“Opa nggak pernah lupa apa pun.”

“Dia bilang aku selalu pilih menteri. Waktu pion sampai di ujung papan.” Reza tersenyum pahit. “Dulu aku pikir itu pujian. Menteri itu bidak terkuat. Pilihan paling pintar.”

“Sekarang?”

“Sekarang aku tahu itu bukan pujian.” Dia menoleh padaku. “Opa pernah bilang padaku, sebelum kita nikah. Dia bilang, ‘Menteri itu kuat, tapi dia tidak pernah melindungi raja. Dia menyerang. Kalau kamu cuma tahu cara menyerang, suatu hari kamu akan meninggalkan rajamu sendirian.’”

Aku diam.

“Aku nggak ngerti waktu itu,” kata Reza. “Aku kira itu cuma soal catur.”


“Kenapa, Reza?”

Pertanyaan itu keluar dari mulutku sebelum aku sempat menahannya. Lima tahun aku menolak menanyakannya. Lima tahun aku menolak memberinya kesempatan menjelaskan, karena aku yakin tidak ada penjelasan yang layak didengar.

“Kenapa kamu nggak turun dari pesawat itu?”

Reza menatapku lama. Lalu dia menatap kota lagi.

“Kamu ingat makan malam keluarga, dua bulan sebelum aku berangkat?” tanyanya. “Waktu Opa ngumumin kamu jadi wakil direktur?”

Aku ingat. Aku umur dua puluh lima. Hamil satu bulan, belum ada yang tahu. Opa mengangkat gelas dan mengumumkan promosiku di depan seluruh keluarga. Semua orang bertepuk tangan.

“Aku masih manajer,” kata Reza. “Manajer di perusahaan keluarga istriku. Di divisi yang direkturnya istriku sendiri. Gajiku dari keluargamu. Rumah kita dari keluargamu. Mobil kita dari keluargamu.” Dia tertawa pendek, tanpa humor. “Di makan malam itu, Tante Santi bilang ke temannya, cukup keras buat aku dengar, ‘Reza itu beruntung, ya. Nikah sama Moris. Seumur hidup nggak usah kerja keras.’”

Aku membeku.

Tante Santi. Nyonya Santoso.

“Aku pulang malam itu dan nggak bisa tidur,” lanjut Reza. “Aku buka email. Ada tawaran dari Northbridge, dari headhunter yang udah ngejar aku setahun. Toronto. Posisi yang bukan dari keluargamu. Gaji yang bukan dari keluargamu.” Dia memutar cincin di jari manisnya. Cincin kawin kami, aku sadar. Dia masih memakainya. Atau dia memakainya lagi. “Aku pikir, dua bulan. Aku buktiin diri. Aku pulang sebagai orang yang layak buat kamu. Buat keluarga Moris. Bukan menantu yang dibiayai.”

“Dua bulan,” kataku.

“Dua bulan jadi enam. Enam jadi setahun. Setiap bulan aku bilang, bulan depan aku pulang. Setelah promosi ini. Setelah proyek itu. Setelah aku punya sesuatu yang bisa kubawa pulang, selain malu.” Suaranya pecah sedikit. “Terus kamu kirim foto dia. Umur satu hari. Dan aku nggak bisa buka. Karena kalau aku buka, aku harus pulang sebagai orang yang ninggalin istrinya hamil demi ego. Dan itu lebih memalukan dari jadi menantu yang dibiayai.”

Angin lantai tiga puluh dua menerpa wajahku. Aku merasakan mataku panas. Bukan karena kasihan. Karena marah. Karena lima tahun, dan alasan yang begitu kecil, begitu manusiawi, begitu bodoh.

“Kamu pergi,” kataku pelan, “biar layak.”

“Iya.”

“Buat aku.”

“Iya.”

“Aku nggak pernah minta kamu layak, Reza. Aku cuma minta kamu pulang.”

Dia menunduk. Dia tidak menjawab.

Dan di tengah kemarahanku, di teras lantai tiga puluh dua dengan angin yang kencang, sesuatu yang lain muncul di kepalaku. Seperti gambar yang tiba-tiba menjadi jelas di layar yang tadinya buram.

Kalau Ibu yang bayar semuanya, saya jadi kayak barang yang didandanin.

Mereka nggak akan lihat Om Kacamata. Mereka akan lihat...

Clara nggak butuh suami. Dia butuh status.

Saya ngerti.

Suara-suara itu datang satu per satu, seperti notifikasi yang terlambat. Di mobil, pulang dari penjahit. Di taman hotel, dengan dasi kupu-kupu yang kusut. Di restoran atap, dengan map krem di atas meja.

Aku tidak mendengarnya waktu itu. Maksudku, aku mendengarnya, tapi tidak mendengarnya.

Pergi biar layak.

Dan di Kotagede, Bu Wati di depan mesin jahit: Pikirnya, kamu butuh yang lebih dari sekadar sayang. Butuh yang asli.

Aku mencengkeram pagar teras. Tanganku dingin.


“Clara,” kata Reza. Dia melangkah mendekat. Tidak terlalu dekat. Dia selalu tahu jarak yang tepat. “Aku nggak minta kamu balik. Aku tahu itu nggak mungkin. Ada laki-laki lain sekarang.”

Aku tidak menjawab.

“Tapi Lily.” Suaranya melembut. “Aku mau jadi papanya lagi. Beneran. Bukan lewat pengacara. Bukan dua jam seminggu dengan pengawasan. Aku mau ada. Aku mau antar dia sekolah. Aku mau datang ke pentas seninya bulan depan. Aku mau dia gambar aku di gambar keluarganya.”

Gambar keluarga. Aku memikirkan gambar krayon di meja samping ranjangku. Sosok berkacamata retak dengan senyum miring ke kiri.

“Dan kalau kamu izinkan,” lanjut Reza lebih pelan, “suatu hari nanti, mungkin... lebih.”

“Lebih?”

“Aku masih pakai cincin ini, Clara.” Dia mengangkat tangannya. “Aku nggak pernah lepas. Lima tahun. Aku...”

Pintu kaca di belakangku bergeser.

Aku menoleh.

Irvan berdiri di ambang pintu.


Dia memakai kemeja biru muda dan celana bahan. Sepatu kulit cokelat. Di tangannya ada map biru dengan logo divisi IT Moris. Aku ingat, tiba-tiba, bahwa Pak Gunawan memintanya datang hari ini untuk menyerahkan laporan audit keamanan yang dia kerjakan setelah serangan ransomware. Pak Gunawan pasti menyuruhnya ke lantai tiga puluh dua. Ke ruanganku.

Dia berdiri di ambang pintu kaca dengan map biru di tangan. Dan dari wajahnya, aku tahu dia sudah berdiri di sana cukup lama.

Cukup lama untuk mendengar aku mau jadi papanya lagi.

Cukup lama untuk mendengar aku masih pakai cincin ini.

Wajahnya tidak menunjukkan apa-apa. Tenang. Seperti permukaan kolam di malam tanpa angin. Kacamatanya, yang retak di pojok kiri, tidak berembun sama sekali.

“Maaf, Bu,” katanya. Bu. Bukan Clara. “Pak Gunawan titip laporan audit. Saya taruh di meja Sinta.”

“Irvan...”

“Maaf ganggu.”

Dia mengangguk sopan pada Reza. Anggukan kecil, formal, seperti pegawai pada tamu atasannya. Reza membalas anggukan itu dengan wajah yang, untuk pertama kalinya, terlihat tidak yakin.

Lalu Irvan berbalik dan berjalan pergi.

Pintu kaca bergeser menutup di belakangnya.

Aku tidak mengejarnya.

Aku ingin. Kakiku ingin. Seluruh tubuhku ingin berlari melewati pintu kaca itu, melewati lobi lift, dan menarik lengannya sebelum dia masuk lift. Tapi Reza masih berdiri di sebelahku dengan cincin kawin kami di jarinya. Dan aku masih direktur Moris Investment yang sedang dalam pertemuan bisnis dengan calon mitra senilai triliunan. Dan dua belas orang di lantai ini bisa melihat kami lewat kaca.

Aku berdiri di teras lantai tiga puluh dua dan menatap pintu kaca yang tertutup.

Di balik kaca, di ujung lobi, pintu lift terbuka. Dia masuk. Dia berbalik menghadap pintu. Untuk sesaat, dari jarak dua puluh meter, melalui dua lapis kaca, mata kami bertemu.

Dia tersenyum.

Senyum kecil. Sopan. Tanpa lesung pipi.

Pintu lift tertutup.

“Clara,” kata Reza pelan di sebelahku. “Itu...”

“Pulang, Reza.”

“Aku cuma...”

“Pulang.”

Dia pergi.

Aku tetap di teras sampai angin lantai tiga puluh dua membuat mataku perih. Aku bilang pada diriku sendiri itu karena angin.

Aku mengeluarkan ponsel dan mengetik pesan untuknya.

Yang tadi kamu dengar. Itu bukan...

Aku berhenti. Bukan apa? Bukan yang dia pikirkan? Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan. Aku tidak pernah bertanya.

Aku menghapus pesan itu dan menulis yang baru:

Mapnya udah kamu baca?

Aku menatap kalimat itu. Lalu aku menghapusnya juga.

Aku menulis tiga kata. Tiga kata yang sudah kucoba ucapkan di depan cermin kamar mandi, di pesan singkat yang kuhapus tujuh kali, di restoran atap dengan lampu gantung yang berayun.

Jariku di atas tombol kirim.

Lalu ponselku bergetar. Sinta.

Bu, Pak Takahashi video call. Urgent. Sekarang.

Aku menatap tiga kata di layar. Aku menyimpannya di draf.

Aku bilang pada diriku sendiri: nanti malam. Aku akan bilang langsung. Di depan pintunya. Tanpa pesan singkat. Tanpa map.

Nanti malam.

Aku masuk ke dalam dan menerima telepon dari Tokyo.